.

.

.

.

.

Semalaman, Kyuhyun dan Sungmin tidak bisa tidur. Malam itu adalah malam terakhir Kyuhyun ada di flat ini. Sungmin dan Kyuhyun sama-sama duduk bersandar di dinding pembatas kamar mereka, merenung di kamar masing-masing.

Pagi ini, Kyuhyun sudah siap untuk berangkat ke stasiun sementara Sungmin masih ada di kamarnya. Dia bercemin dan mendapati wajah muramnya. Sungmin menghela nafas, mencoba untuk tersenyum. Sungmin tidak boleh terlihat sedih. Sungmin harus terlihat kuat.

Setelah yakin dengan senyumnya, Sungmin keluar kamar dan mendapati Kyuhyun sedang memakai sepatu. Seketika Sungmin ingin menangis, tetapi ditahannya.

Kyuhyun menoleh dan sekali melihat Sungmin, dia tahu Sungmin juga tidak tidur sepertinya. Sungmin tersenyum melihat Kyuhyun.

"Keretanya berangkat jam 8?" tanya Sungmin. Kyuhyun mengangguk. Setelah selesai mengikat tali sepatunya, dia berdiri.

"Masih ada waktu," ujar Kyuhyun setelah melirik jam tangannya. "Ke atas?"

Sungmin mengangguk, lalu mengikuti Kyuhyun naik ke atas. Melihat punggung Kyuhyun, Sungmin merasa hatinya seperti tertusuk-tusuk. Seolah Kyuhyun akan pergi dan tidak akan kembali lagi.

"Sungmin," kata Kyuhyun sambil berbalik. Dari ekspresi Kyuhyun yang tampak serius, Sungmin tahu akan ada pembicaraan yang tidak menyenangkan. "Kau tahu bukan, aku akan kembali lagi."

Sungmin mengangguk pelan. Kyuhyun menghela napas, lalu bersandar pada pagar.

"Semalam aku berpikir... ternyata aku menyedihkan," kata Kyuhyun. "Tidak ada satu pun dari diriku yang bisa dibanggakan. Aku sama sekali tidak berguna."

"Itu tidak benar," sanggah Sungmin. Kyuhyun menggeleng.

"Aku memang tidak berguna, Sungmin. Dan, aku yang seperti sekarang ini tidak akan punya kepercayaan diri untuk ada di sampingmu," kata Kyuhyun lagi. Kyuhyun menatap Sungmin dalam-dalam. "Sungmin, aku akan meraih cita-citaku."

Sungmin mengerjapkan matanya tak percaya.

"Kalau aku sudah menjadi sutradara, dan kau sudah menjadi penulis best seller, ayo kita bertemu lagi," kata Kyuhyun lagi, dan setitik air mata jatuh ke pipi Sungmin. Sungmin mengusap air mata itu, lalu tersenyum.

"Kalau begitu, kita janji, ya? Kalau kita sudah sama-sama meraih cita-cita kita, kita akan bertemu lagi," ujar Sungmin sambil mengancungkan jari kelingkingnya. Kyuhyun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Sungmin. Kyuhyun tersenyum dan meregangkan tubuhnya.

"Uaah... Aku pasti akan merindukan tempat ini," kata Kyuhyun, lalu mengernyit saat melihat sebuah taksi berhenti di depan flat-nya.

"Ah, taksi pesanan Imo," kata Sungmin. "Katanya dia yang membayar untuk mengantarkanmu ke stasiun."

"Hah? Kenapa harus pesan taksi segala?" tanya Kyuhyun bingung.

"Tanya saja pada Imo," kata Sungmin. "Ng... Aku antar ke stasiun ya?"

Kyuhyun menatap Sungmin, dan mengacak rambutnya. "Tidak perlu. Aku tidak ingin melihat wajah jelekmu waktu menangis," kata Kyuhyun menbuat Sungmin cemberut.

"Siapa juga yang akan menangis?" balasnya membuat Kyuhyun tertawa lepas. Sungmin sendiri terdiam sambil memainkan jarinya. "Kyuhyun... Nanti jangan melupakanku ya."

"Dasar bodoh," Kyuhyun menjentik dahi Sungmin. Kyuhyun melepas headphone dari lehernya, memakaikannya pada Sungmin lalu menyerahkan iPod-nya. Sungmin menerimanya dengan tampang bingung. "Ini, pegang. Nanti aku akan mengambilnya lagi, jadi jangan kau rusak."

Sungmin menatap iPod di tangannya. "Benar tidak apa-apa, Kyuhyun? Bukannya ini penting?"

"Iya ini penting, ini suara hatiku," kata Kyuhyun sambil tersenyum. "Makanya aku meminjamimu. Nanti harus kau dengarkan, mengerti?."

Sungmin mengangguk. Tak berapa lama, Ahjumma flat memanggil dari bawah. Kyuhyun dan Sungmin segera turun. Ternyata di bawah semua orang sudah menunggu. Kyuhyun menatap ibu flat beserta suami dan anaknya, Gary, dan SooHyun yang sudah tersenyum padanya.

"Kita dengar kalau hari ini kau akan pindah," kata Gary. "Kenapa cepat sekali, Kyuhyun? Aku belum sempat mengajakmu keliling Ilsan."

"Lain kali saja kalau aku ke sini lagi, Hyung," kata Kyuhyun.

"Kau akan ke sini lagi, Kyuhyun?" tanya SooHyun. Kyuhyun mengangguk mantap.

"Lain kali kalau ke sini lagi, kau harus makan bersama kami, atau kalau tidak kau tidak boleh masuk," ancam suami Ahjumma membuat Kyuhyun tersenyum.

"Terima kasih, Ahjussi," kata Kyuhyun.

"Wah, baru kali ini kita melihat Kyuhyun tersenyum," goda Ahjumma flat yang dibenarkan oleh semua orang. Kyuhyun melirik Sungmin yang sudah tersenyum lebar.

"Ya sudah, itu taksinya sudah menunggu. Sungmin ikut mengantar tidak?" tanya Ahjumma flat.

"Tidak Imo, tidak dibolehin sama Kyuhyun," adu Sungmin sementara Kyuhyun tersenyum kaku pada Ahjumma flat yang bingung.

"Ahjumma, terima kasih untuk taksinya, harusnya Ahjumma tidak usah repot-repot," kata Kyuhyun.

"Tidak apa-apa, Kyuhyun. Lagian uang flatmu kan masih sisa," canda Ahjumma flat yang membuat semua orang tertawa. Kyuhyun lalu memasukkan tasnya ke bagasi taksi.

"Semuanya, terima kasih karena sudah menerimaku dengan baik," kata Kyuhyun, lalu mengerling melirik Sungmin. "Saya pasti akan ke sini lagi."

Semua orang mengangguk sambil tersenyum. Kyuhyun masuk ke taksi dan membuka jendelanya. Kyuhyun menatap Sungmin yang sudah tidak tersenyum. Berat rasanya bagi Kyuhyun untuk meninggalkan gadis itu.

"Awas ya, jangan sampai bukumu tidak juga terbit," ancam Kyuhyun membuat Sungmin semakin manyun.

"Kau juga, jangan sampai filmnya tidak jadi-jadi," balas Sungmin membuat Kyuhyun terkekeh. Kyuhyun terdiam sebentar.

"Sungmin, jaga dirimu ya," kata Kyuhyun kemudian.

"Kau juga. Jaga kesehatan ya. Minum obat yang teratur," ujar Sungmin. Kyuhyun mengangguk.

Kyuhyun menatap Sungmin sebentar, lalu menghela napas. Sudah saatnya bagi Kyuhyun untuk pergi. Kyuhyun menatap ke sopir, memberi sinyal untuk berangkat.

"Byyeeee!" seru Jion, anak Ahjumma flat, membuat semua orang serentak melambai pada Kyuhyun. Kyuhyun balas melambai singkat, lalu menatap Sungmin yang memaksakan senyum padanya.

Taksi sudah bergerak perlahan, tetapi Kyuhyun belum menutup jendelanya. Sungmin menatap taksi yang bergerak menjauh, lalu tanpa disadarinya, Sungmin sudah berlari mengejar taksi itu. Kyuhyun melihatnya melalui kaca spion, dan dia langsung melongok dari jendela.

"Kyuhyuunnn!" seru Sungmin sambil terus berlari. "Kita pasti akan bertemu lagi, kan?"

"Pasti!" sahut Kyuhyun, membuat Sungmin berhenti berlari. Sungmin melambai-lambai sambil tersenyum dengan air mata berlinang sementara taksi yang ditumpangi Kyuhyun berbelok.

Kyuhyun mengempaskan punggungnya ke jok. Kyuhyun tidak tahu apa yang diperbuatnya ini benar, tetapi Kyuhyun percaya Sungmin akan bertahan.

"Pacar?" tanya supir taksi menyadarkan Kyuhyun. Kyuhyun menatapnya bingung sebentar, lalu mengangguk.

Supir taksi itu ikut mengangguk-angguk.

"Pacaran jarak jauh?" tanyanya lagi, dan Kyuhyun mengangguk lagi. "Tenang saja, nak. Kau kan bisa menghubunginya setiap saat, apa pentingnya sih tagihan telfon jika itu masalah hati."

Kyuhyun hanya tersenyum simpul tanpa menjawab. Kyuhyun tidak akan menghubungi Sungmin, karena kalau dia melakukannya, Kyuhyun akan melupakan semuanya dan kembali pada Sungmin. Kyuhyun akan menahan diri sampai dia benar-benar mencapai cita-citanya. Dengan begini, dia akan lebih bersemangat dan lebih cepat untuk bertemu dengan Sungmin.

Kyuhyun berharap Sungmin akan melakukan hal yang sama dengannya. Namun, yang lebih Kyuhyun inginkan adalah, Sungmin mendengarkan iPod-nya.

.

.

.

-ToBeContinue-

.

.

.