-Chapter 12-


Charas; EXO OTP-12
Genres; Suspense, Crime
Rating; R (Restricted)
Views; AU (Alternate Universe)
Warnings; Psychological-effect | Kleenex-warning | Suspense-scenes | Two-faced!Kris


Disclaimer

I own nothing but this crack trans. Original fiction belongs to 辛辛息息. No profits taken!

.

.

.

.

.


Baekhyun terduduk di lantai toilet. Seutas tali rapia putih melilit lehernya dengan kuat. Sebelah tangannya masih memegang tubuh Tao yang berdiri di sampingnya dengan erat.

Dia terbaring di lantai; tidak bernapas.

Chanyeol berjongkok, memandang tali rapia tersebut dan seakan-akan nampak coba memfokuskan indera penglihatan dan pendengarannya.

"Apa yang terjadi?" Jongin menyorot Tao, dingin. Wajah Tao pucat, pandangannya dipalingkan. Luhan bersandar ke dinding, hening.

"Luhan ..." Chanyeol memungut tali panjang itu, membalikkan badan ke arah Luhan. "Apa ini gulungan tali yang kauambil dari brankas?"

Melirik Chanyeol, Luhan ingin membantunya berdiri dari lantai. Namun dia ditolak. "Kenapa kau tak membicarakannya dulu dengan kami?!" teriak Chanyeol. Dia menangis sesenggukan.

Tangan yang didorong, mengayun di udara. Luhan menurunkan pandangannya, menarik tangannya.

"Apa ini?" Jongin bangkit, ragu-ragu menghampiri cermin, "Mandarin?" menoleh ke belakang perlahan-lahan, memandangi kami berempat.

"Kau hanya membunuh kami yang orang Korea dan bukan orang Cina. Apakah ini persekongkolan di antara kalian?" Dia memelototi kami dengan tatapan mengancam, mendorong dada Tao sekuat tenaga. Tao tidak membalas.

"Kau salah paham." Kutahan tangannya yang digunakan untuk mendorong Tao.

"Benar ... Bagaimana bisa aku lupa. Kau, dan dia!" Jongin menunjuk Yixing, "kalian berdua ada di sebelah ruangan ini, mana mungkin kalian berdua sampai ke sini lebih lama dari kami?!"

"Kubilang padanya untuk jangan mendekat,"

Pandangan Tao menusuk Jongin dengan provokatif.

Detik selanjutnya, yang ada dalam memoriku hanyalah Jongin dan Tao yang saling menyerang dalam perkelahian.

Jongin yang meratap dan berteriak merupakan pemandangan langka. "Tanpa seijinku, bagaimana bisa kau membunuh Baekhyun!"

Menginjak dan menghabisi Jongin dengan kakinya beberapa saat, Tao berujar dalam bahasa Cina, "Persetan! Jangan kira hanya kau yang bernyali!"

"Ah!" Jongin menyerang Tao—yang jauh lebih tinggi dibanding dirinya—dengan brutal. Matanya membara dengan emosi menggila. Tao meladeninya hingga ke ruang tamu dan memukul wajahnya, sikunya menghantam lutut lawannya. Jongin berlutut; Tao menghajar pinggang Jongin dengan kakinya dan Jongin menampakkan ekspresi tersiksa.

"Berhenti berkelahi!" Luhan menarik Tao dari belakang, tapi Tao kelihatan seolah-olah tak dapat mengendalikan dirinya. Dia tidak berhenti, hanya sampai kukerahkan segenap kekuatan untuk mendorongnya keras dari belakang.

Di tengah-tengah kesunyian, Luhan melepas tangannya yang menggenggam Tao dengan erat. Tao berbalik, Chanyeol menghampiri Jongin yang terluka, namun kulihat Jongin (yang matanya memerah) bangkit lalu menyambar botol alkohol di atas meja. Dia berjalan terhuyung ke arah punggung Tao.

Seingatku, waktu menjadi lambat.

"Tao!" seru Yixing pada Tao. Sungguh mengerikan. Tao menghadap Yixing dan sempat menyadari sosok Jongin memukulkan botol padanya. Dia bergerak natural menggunakan tangan sebagai tameng; botol tersebut terhantam ke lengannya lalu hancur. Minuman keras mengguyur rambutnya.

Saat Tao menggunakan tangannya menghindari matanya terpercik alkohol. Saat Tao menggunakan tangannya—

—jam dinding berdetak.

Tao membelalakkan matanya ke Jongin. Traumatis. Dia menunduk lagi, matanya menatap botol yang pecah menusuk perutnya. Sekujur tubuhnya tersentak hingga dia menabrak dinding di belakangnya.

Saat itu, segalanya seperti ditulikan. Instingku pecah berkeping dalam kepalaku. Hanya ada ekspresi kosong dan kewalahan Tao, serta perutnya yang berdarah banyak.

Yixing berlari menghampirinya. Putus asa menjauhkan Jongin yang tertegun. Tao merosot ke dinding, meninggalkan garis merah tua di sana. Aku terseok menghampirinya. Kupikir aku terjatuh dua kali. Kepala Tao miring ke samping. Tatapan matanya serupa dengan yang kulihat pertama kali.

"Gege. Sakit ...," ujarnya. Kata-katanya terputus-putus.

Apakah aku mengatakan sesuatu, atau sebaliknya? Aku tak bisa mengingat lagi. Ingatan itu berupa garis putih—mungkin sistem imun tubuhku telah membuyarkannya.

Setelahnya, Tao tertidur. Tak bergerak sama sekali. Tubuhnya mendingin seiring detik demi detik.

Bayangan hitam menutup mataku dan telingaku menjadi tuli. Aku berdiri, mengambil sebotol alkohol. Menghancurkannya di sisi meja teh. Dan terhuyung menghampiri Jongin di sudut ruangan.

Dia masih berdiri di sana. Benar-benar tercengang. Di sampingnya ada Chanyeol yang dengan susah-payah mencoba menariknya bangun, tapi semuanya telah terlambat.

Kaulihat, lehermu tampaknya sangat rentan. Segalanya akan berakhir dalam sekejap.

Apakah Chanyeol ingin menghampiriku untuk bicara? Kuerat kerahnya dan mengguncangnya ke lantai.

Kau tampak terpengaruh. Kau tidak berniat membalas. Apakah ini karena pertama kalinya kau membunuh seseorang? Kau sangat hina. Lihat saja dirimu; kau akan dibunuh oleh orang lain secepatnya. Kuangkat sedikit botol kaca yang pecah, membalikkannya dengan perlahan. Kim Jongin, temani Huang Zitao-mu!

Wajah Luhan menghalangi sebelum lenganku kuturunkan.

Alarm berbunyi nyaring dalam kepalaku. Tanganku berhenti sejenak. Kuturunkan kepala, kulihat Luhan menyempil di sela diriku dan Jongin.

"Apa yang kaulakukan?" tanyaku lewat pandangan.

"Biarkan aku melepaskan diriku dulu." Kepalanya terkulai. Rambutnya menjuntai menutup mata.

Selama beberapa detik, otakku berhenti bekerja. Aku tak mengerti alasannya. Mataku liar menatap Jongin—yang tengah diseret di lantai atas oleh Chanyeol. Kubiarkan Luhan dan mengejar mereka. Sekali lagi, pandanganku dialihkan. Tubuhnya menghalangi tangga dan telapak tangannya menepuk dinding.

Tampaknya seperti akal sehatku menghilang. Bagaimana bisa aku lupa bahwa Luhan tergabung dalam regu lain?

"Apa kaupikir aku tidak berani membunuhmu?" ucapku padanya.

"Bunuh aku kalau begitu." Dia menantang.

Sungguh tidak tahu malu. Aku mundur dua langkah. Bagaimana bisa aku melupakan persahabatan antara anggota Cina dan Korea. lagipula, Luhan memang lambang persahabatan paling top. Akan tetapi aku bukan Zhang Yixing. Aku kebal dengan persahabatan yang akrab. Jangan coba mengambil keuntungan dariku. Kau telah mengira terlalu tinggi terhadap kebaikanku dan kepandaian emosionalmu sendiri.

Entah bagaimana, wajahnya dipukul keras hingga hidungnya berdarah. Luhan tersungkur. "Pergi dari sini!" Kulirik belakang dan melihat Yixing berteriak padanya.

Luhan bergegas menaiki tangga dan tidak melirik lagi.

Kurasa, tahun-tahun persahabatan kami hancur pada hari yang ditentukan itu. Tapi aku tak punya kewenangan atau hak untuk memaki. Aku harus menjadi seperti dia. Petarung yang sempurna. Mengambil keuntungan dari segalanya dan semua pihak. Dan mencari ide untuk tetap bertahan hidup. Apabila dilihat dari perspektif ini, kami semua kurang luwes dibandingkan dengannya.


to-be-continued ...


[A/N]

Kris banyak bermonolog di chap ini. Tebak siapa yang dia maksud 'nya' di paragraf terakhir? :D

Yaah, beginilah kira-kira khaos orang yang hidupnya hitung mundur waktu. Korbankan orang lain atau dahulukan mereka tapi ujung-ujungnya termakan nafsu setan. Ketakutan adalah emosi paling primitif yang dimiliki manusia; jadi perilaku mereka di sini memang terhitung manusiawi. Pernah baca artikel ttg percobaan mengurung beberapa orang tahanan yang dilakuin sama ilmuwan Rusia di jaman abad pertengahan dulu? Kurang lebih isinya sama tapi lebih kejam dari isi fanfik ini. Dan itu nyata, loh. :o

Oke, takut ntr malah ngalor-ngidul udahin aja; review please? #puppyeyes.