Disclaimer : Bleach is Mister Kubo Tite's

Warning : OOC. Rush. Typo.

This story is mine.


LOVE FORCE

Ulquiorra Schiffer – Orihime Inoue

Chapter Fourteen

- Tattoo -

Ulquiorra mulai merasakan sensasi aneh yang menjalari tubuhnya saat jari-jari mungil itu terus membelai kulitnya. Namun ia tetap membiarkan, tak ada usaha untuk menghentikan.


Orihime Inoue telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk berdiri di depan lemari pakaiannya, di pagi hari itu.

Mutiara abunya menangkap keberadaan beberapa set seragam sekolahnya terselip di antara sekumpulan bajunya yang lain, sedang tergantung rapi di dalam sana.

Gadis bermanik hazel itu meraih satu setel pakaian yang terdiri dari rok abu-abu pendek, kemeja putih lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna merah dan blazer abu-abu, lalu menelusurkan jemarinya pelan di atas kain baju-baju itu.

Ia menghela napas singkat. Orihime tidak menyangka bahwa dirinya akan diberi kesempatan lagi untuk memakai seragam sekolahnya.

Beberapa waktu lalu ketika ia akan dibawa pergi ke Hueco Mundo, Orihime berpikir dirinya tidak akan pernah diizinkan untuk menginjak Kota Karakura lagi, apalagi untuk melanjutkan studinya. Namun ternyata, ia kembali diberi kesempatan.

Gadis bersurai senja itu tersenyum lembut.

Rasanya.. sudah cukup lama semenjak Orihime terakhir kali memakai seragamnya. Padahal hanya berselang kurang dari dua minggu saja ia tidak mengenakannya.

Banyak hal telah terjadi belakangan ini, yang telah berhasil mengubah kehidupannya.

Orihime sempat menghela napas pelan, sebelum senyuman di bibir ranum gadis itu mulai mereda saat ia teringat pada hal lain.

Orihime memang merasa sudah tidak sabar ingin mengenakan seragamnya lagi, lalu pergi ke sekolah dan berjumpa dengan teman-temannya lagi. Namun ia tidak bisa meninggalkan Ulquiorra sendirian di rumahnya begitu saja. Bukan berarti Orihime meragukan kemampuan pemuda itu untuk menjaga dirinya sendiri, karena ia yakin Ulquiorra sangat bisa menjaga diri.

Pemuda yang kini telah menjadi suaminya itu memang bisa melakukan banyak hal selama Orihime tidak berada di rumah. Ulquiorra bisa saja menghabiskan waktu untuk membaca buku seharian, atau jika bosan, ia bisa pergi ke perpustakaan kota sekalian jalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan mereka. Dengan begitu, Ulquiorra akan mempunyai alasan untuk berkenalan dan berinteraksi dengan para tetangga. Selanjutnya, mereka akan bisa saling mengenal dan memulai pertemanan. Oh, mungkin jika sudah cukup akrab, Ulquiorra bahkan akan diajak untuk pergi memancing bersama! Atau dimintai tolong dalam berkebun dan ikut berpartisipasi dalam menyiapkan festival tahunan kota, atau bahkan diundang ke pesta barbekyu! Barangkali, pemuda itu akan merasa senang—

Aku tidak melihat ada keharusan bagiku untuk menempatkan diri di antara sampah seperti mereka. Tinggalkan aku sendiri, onna.

—atau tidak.

Orihime berkedip saat benaknya tiba-tiba membayangkan Ulquiorra langsung menepis semua hal yang disarankan olehnya itu dengan memasang raut wajah yang kentara jengkel. Seketika gadis itu terkikik geli.

Memang bukan keadaan Ulquiorra yang seharusnya Orihime cemaskan dalam keabsenan dirinya. Justru orang lain-lah yang harus ia khawatirkan. Pemuda itu punya cara spesialnya sendiri dalam berinteraksi dengan orang lain, yang bisa dibilang cukup berbeda dengan manusia kebanyakan, terutama dalam berhubungan dengan rakyat jelata.

Jika belum mengenal pemuda itu, banyak orang yang akan salah paham dengan sikap dinginnya, dan itu hanya akan menimbulkan masalah. Orihime tidak ingin Ulquiorra merasa tidak nyaman –meski ia cukup yakin pemuda itu tidak akan begitu peduli dengan pandangan orang lain- ketika hidup dengannya di sini.

Di sudut lain kamar, Ulquiorra Schiffer akhirnya memindahkan fokusnya dari sebuah buku yang sedang ia baca, pada sosok gadis yang sedari tadi masih betah berdiri di depan lemari, tepat ketika ia mendengar suara tawa bersumber dari gadis itu.

Si pemuda menautkan alis.

Setelah menyaksikan berbagai tingkah unik Orihime di setiap pagi, seharusnya Ulquiorra sudah bisa lebih terbiasa melihat kelakuan konyol gadis itu. Imajinasinya selalu diluar batas wajar orang normal. Namun tetap saja pemuda itu berhasil dibuat heran. Pikiran aneh apa lagi yang sedang diputar dalam otak gadis itu sekarang sehingga bisa membuatnya asik terkikik sendirian di depan sana?

"Onna."

Akhirnya Ulquiorra memutuskan untuk memanggil. Dilihatnya, Orihime menoleh.

"Aku yakin seharusnya kau telah selesai bersiap-siap dengan penampilanmu sejak tadi." ujarnya, melirik singkat ke arah jam digital di atas nakas.

"Oh!" pekik Orihime pelan saat hazelnya mengikuti arah pandang pemuda itu.

Tetapi bukannya merasa kaget, takut telat, atau menyesal, si gadis hanya menyeringai lebar tanpa dosa sebelum mulai berlari kecil ke arah kamar mandi, hendak membenahi diri.

Ulquiorra hanya menatap datar pada sosok yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi itu. Meski harus ia akui, selalu ada rasa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali ia melihat senyum sumringah yang belakangan ini sering dilempar oleh gadis itu, padanya, ditujukan untuknya.

Perubahan apa yang mulai terjadi pada dirinya?

Nampaknya, Ulquiorra masih belum bisa terbiasa melihat senyum bahagia atau pun tawa senang Orihime. Gadis itu memang selalu tampak ceria ketika berada di Las Noches dulu, meski begitu Ulquiorra tetap bisa merasakan ada ketegangan dan kekhawatiran dalam sikapnya di sana.

Tetapi sesaat setelah Orihime menginjak rumahnya sendiri, sikapnya langsung berubah menjadi jauh lebih rileks dan ekspresinya menjadi lebih bebas.

Tentu saja Ulquiorra tak biasa dengan perilaku lepas dimana seseorang bisa tersenyum lembut padanya, berbicara tanpa ada beban dan kekhawatiran dengannya, atau menyentuhnya dengan seenak hati. Tak pernah ada yang berani.

Tetapi gadis itu melakukannya dengan mudah dan tanpa beban, seolah mereka telah mengenal lama satu sama lain, seakan-akan Ulquiorra tak pernah bersikap dingin padanya... dengan penuh pengabaian.

Dan anehnya, Ulquiorra sama sekali tidak merasa terganggu atau pun keberatan dengan semua tingkah yang ditunjukkan Orihime.

Banyak hal yang masih belum ia mengerti mengenai gadis itu. Terutama tentang penerimaan Orihime atas pernikahan ini, dan kedatangannya ke sini. Tidak. Ulquiorra yakin jika ini ada hubungannya dengan perintah Aizen-sama yang juga tidak bisa ditolak gadis itu, seperti dirinya. Mau tidak mau, Orihime harus menerima keberadaannya dalam kehidupannya.

Ulquiorra mendesah panjang, yang mana merupakan suatu kegiatan yang baru ia lakukan belakangan ini, hanya ketika dirinya sedang tenggelam dalam pikirannya. Pemikiran yang membuatnya lelah karena tak segera menemukan jawaban atas semua hal yang dipertanyakannya.

Setelah cukup lama memperhatikan pintu kamar mandi yang terus tertutup, Ulquiorra kembali menarik lehernya. Namun ia tidak segera mengembalikkan emeraldnya pada buku yang tengah ia baca, alih-alih menempatkan sepasang manik hijau itu pada pemandangan luar jendela di samping tempatnya duduk.

Melanjutkan renungannya.

Sebelumnya, pemuda berambut ebony itu memang telah sengaja membuat sebuah sudut baca di dalam kamar mereka dengan menempatkan sebuah meja baca, lengkap dengan kursi dan lemari buku kecil di satu sisi dekat jendela ruangan tersebut. Semacam ruang privasinya, barangkali.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Ulquiorra di kehidupannya yang sekarang, memang. Maka, setelah menemukan beberapa buku bacaan di rumah Orihime, ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan membaca.

Terutama di saat rumah yang sedang ia tinggali ini akan berubah sepi sesaat setelah gadis itu pergi meninggalkannya sendiri.

Hn? Pemuda itu berkedip. Sejak kapan ia merasa perlu ditemani? Selama ini Ulquiorra telah menjalani hari-harinya dalam kesendirian tanpa merasa bosan.

Lagi-lagi perubahan dalam dirinya berulah.

Ulquiorra kembali membuang napas singkat seraya mata hijaunya menatap datar pemandangan luar. Barangkali, karena ia tidak pernah memiliki waktu luang sebanyak ini sebelumnya. Yakin pemuda itu.

Beberapa waktu terlewat, suara air shower mulai berhenti terdengar. Tak lama kemudian, Orihime mulai berjalan keluar dari kamar mandi. Gadis itu melihat Ulquiorra belum juga beranjak dari tempat dan posisi duduknya yang semula. Kepalanya masih fokus tertunduk pada buku di tangannya, tenggelam pada bacaannya.

Orihime berjalan menghampiri pemuda itu, berharap si pemuda akan mulai memberi perhatian padanya. Benar saja, Ulquiorra mendongak tepat ketika gadis itu berjalan mendekat.

Tubuh Orihime sudah terbalut oleh busana yang langsung bisa dikenali oleh Ulquiorra sebagai seragam sekolah. Ia ingat gadis itu juga mengenakan pakaian tersebut ketika pertama kali mereka bertemu. Jika tidak diingatkan oleh penampilan yang sedang dipakai Orihime saat ini, Ulquiorra hampir saja lupa bahwa sebenarnya gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya itu adalah seorang siswi yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Orihime mendadak merasa gugup, saat sepasang mata hijau terus dilekatkan tajam pada tubuhnya. Meyakini Ulquiorra hanya sedang merasa penasaran dengan penampilannya, ia bergumam. "Um, ini adalah seragam sekolahku." Perlahan Orihime memutar badannya. "Apa terlihat aneh?"

Kali ini Ulquiorra mengalihkan tatapannya pada wajah ayu gadis itu. Alisnya menaut. Tak ada yang aneh dengan penampilan si gadis.

"Kau terlihat cocok sekali dalam busana itu." Komentar Ulquiorra, jujur. Pakaian yang identik dengan keremajaan tersebut tampak segar dikenakan oleh gadis itu, terlebih bentuk tubuh dengan lekuk sempurnanya telah sukses memberi kesan dewasa.

Mungkin itu hanya pujian biasa, yang bahkan tidak dimaksudkan untuk memuji, terutama oleh orang semacam Ulquiorra.

Tapi entah mengapa, ucapan Ulquiorra itu mampu membuat pipi Orihime menghangat. Meski mendadak sedikit grogi, gadis itu tetap bisa terkikik. "Terima kasih." Ucapnya, satu tangan terangkat untuk menyelipkan seikat rambut ke belakang telinganya.

Sedikit menunduk karena penasaran apa yang sedang dibaca Ulquiorra sedari tadi, Orihime agak kecewa ketika menyadari buku itu sedang tersembunyi di antara genggaman tangan pemuda itu. Namun Orihime tak bermaksud bertanya lebih jauh, alih-alih hanya menunjuk pada benda tersebut. "Apa kau sudah selesai membaca?"

Ulquiorra menunduk sejenak untuk melirik singkat benda yang di maksud. Ia mengangguk.

"Oh, jika begitu kita bisa lanjut untuk sarapan." Ujar Orihime, kali ini Ulquiorra memberi respon dengan mulai beranjak dari kursinya. Paham bahwa ini sudah waktunya untuk keluar kamar.

"Jadi," Orihime lanjut berkata. "Aku akan menyiapkan makanan selagi kau mandi. Bagaimana?"

Ulquiorra mengangguk untuk kedua kalinya, lalu tanpa berkata apa pun ia segera memutar tubuh untuk berjalan menuju kamar mandi.

Orihime memandanginya sejenak, lalu ia tersenyum simpul. Meski Ulquiorra tetap tidak berbicara banyak, juga masih bersikap diam dan dingin, namun kini Orihime tidak lagi merasa begitu kaku saat berada di sekitarnya.

Gadis itu pun memutar tubuhnya ke arah lain, lalu meninggalkan kamar menuju dapur sambil bersenandung.

.

.

"Ulquiorra~ kau sudah selesai?" Orihime mengintip ke dalam kamar saat pintu mulai terbuka dari arah luar. "Makanannya sudah siap." Ucapnya riang.

Gadis itu mengerutkan dahi ketika tidak menemukan keberadaan pemuda itu. Apa si pemuda masih belum keluar dari kamar mandi?

Lantas ia melangkah memasuki kamar. "Ulquiorra?"

"Sebentar lagi, Onna." Sahut si pemuda pada akhirnya.

Orihime memelankan langkahnya saat melihat satu daun pintu lemari sedang terbuka, barangkali tengah menyembunyikan pemuda itu di baliknya.

Orihime terkikik pelan karena tadi tidak menyadari itu. Maka ia terus berjalan menghampiri lalu melongok ke balik pintu tersebut. "Apa ada yang per— ah!"

Gadis itu seketika berhenti dan langsung terkesiap saat menemukan Ulquiorra sedang berdiri di sana... dengan masih bertelanjang dada. Hazelnya sempat melebar ketika melihat kulit putih pucat di sepanjang bahu tegap pemuda itu, baru pertama kali melihat Ulquiorra dalam kondisi setengah telanjang seperti ini.

Sementara Ulquiorra menoleh untuk memandangnya, menemui tatapan kaget si gadis.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud..." Orihime hendak memutar badan, ketika satu lengan Ulquiorra segera menahannya.

Gadis itu melonjak sesaat, lalu kembali menengok. Hazelnya menatap canggung, dan penasaran.

"Aku tidak bisa menemukan kausku." Ujar si pemuda.

"O-oh.." gumam Orihime. Dilihatnya Ulquiorra sedang menatapnya bingung. "Biar aku... yang mencari." Tambah gadis itu, menyadari dirinya lah yang telah menyimpankan baju kaus yang kemarin mereka beli.

Dengan agak ragu, Orihime mengambil langkah maju mendekati kolom lemari sementara dilihatnya Ulquiorra mengambil satu langkah mundur untuk memberi ruang padanya. Entah mengapa jantung gadis itu mulai berulah.

"Um, kurasa di sekitar sini." Ucap Orihime, berusaha fokus pada apa yang sedang dicarinya, mencoba mengabaikan kondisi –menggoda iman- suaminya tersebut.

Sesaat kemudian, tanpa ada kesulitan gadis itu menarik sebuah baju berbahan kaus berwarna biru navy. "Yang ini?" tanyanya, berbalik ke arah si pemuda.

Dengan sedikit canggung, Orihime menyerahkan baju tersebut.

Ulquiorra meraihnya. "Yang mana pun."

Orihime sempat memperhatikan pemuda itu menilik kaus yang sedang dipegangnya. Lalu pandangan gadis itu beralih pada yang lain. Hazelnya kembali menatap bahu lebar Ulquiorra. Sepertinya, pipi gadis itu akan mulai memerah jika matanya semakin berulah.

Cepat-cepat Orihime menurunkan pandangannya ke bawah. Namun itu tidak banyak membantu. Kini si gadis malah tepat melihat ke arah abdomen si pemuda. Gadis itu menggigit bibir bawahnya saat manik abunya mulai menjelajahi kulit seputih susu di sekitar sana. Otot perut milik pemuda di depannya itu terbentuk dengan sangat baik.

Orihime berusaha untuk memindahkan tatapannya lagi. Namun jarak mereka yang begitu dekat, dengan posisi tepat berdiri berhadapan seperti sekarang, membuat gadis sulit untuk melihat ke arah lain.

Saat Ulquiorra mengangkat kedua tangannya untuk memasukkan lubang leher kaus pada kepalanya, Orihime semakin bisa melihat kulit bahu dan dada pemuda itu dengan lebih jelas. Si gadis mencoba mengabaikan apa yang sedang dilihatnya, namun tidak begitu berhasil.

Benaknya pun mengingatkan diri untuk segera beranjak dari tempat itu sekarang juga, namun entah mengapa, tubuhnya seperti tidak mau menurut. Mengapa otot-ototmu yang biasanya atletis sekarang mendadak kaku dan susah digerakan, Orihime? Rutuknya.

Barangkali karena ia masih kaget, baru kali ini melihat Ulquiorra bertelanjang dada. Apalagi tepat berada di depannya. Rasanya canggung sekali. Tapi pemuda di depannya itu, malah tampak kalem-kalem saja.

Kemudian, gadis itu berkedip saat matanya kembali menangkap sesuatu. "Ah," gumamnya.

Ulquiorra menghentikan kegiatannya, menempatkan emeraldnya pada Orihime lagi. Dilihatnya, gadis itu tengah menunjuk ke arah dada kirinya.

"Apa itu... sebuah tato?" tanya Orihime. Matanya mengkilat dengan penuh keingintahuan.

Ulquiorra telah berhasil meloloskan baju itu melalui kepalanya. Kaus tersebut kini sedang bertengger di sekitar lehernya. Si pemuda menunduk, mengikuti arah pandang gadis itu. "Ya."

"Apa tatonya permanen?" tanya Orihime lagi, suaranya pelan mendekati bisikan namun masih dipenuhi rasa ingin tahu.

Ulquiorra mulai meloloskan tangannya pada lengan baju satu per satu, namun kausnya itu tetap tersingkap di atas dada, belum diturunkan. Ia tahu Orihime masih memandangi tubuhnya yang sedang terekspos dengan penuh minat, terutama pada bagian tato di dadanya. Namun anehnya, ia sama-sekali tidak merasa terganggu. Jika orang lain yang memperhatikannya seperti demikian, Ulquiorra pasti sudah merasa jengkel dan mengusir orang itu semenjak tadi.

"Tentu saja." Jawab si pemuda. Lagipula, untuk perlu apa dirinya mentato tubuh secara temporer?

"Oh..." Belum berhenti merasa penasaran, gadis itu malah menjulurkan satu tangannya ke depan.

Tak disangka oleh si pemuda, dengan polosnya Orihime menempatkan jemarinya tepat di depan dadanya. Menyentuh kulitnya. Menyapu singkat tato angka empat berwarna hitam yang tersemat kontras di kulit putih pucatnya itu.

Tubuh Ulquiorra sedikit berjengit saat merasakan sentuhan tiba-tiba tersebut. Ditatapnya segera wajah Orihime dengan tidak pecaya. Gadis itu sedang tersenyum dengan polosnya, sepasang mata abu masih menatap lekat ke depan dengan penuh konsentrasi dan perhatian.

"Ini terlihat indah." Komentarnya.

Sepasang jade milik si pemuda segera melebar. Baru kali ini ia mendengar komentar semacam itu. Dirasakannya, jemari si gadis mulai menyusuri sebelah dadanya, mengikuti bentuk angka empat tatonya. Ulquiorra semakin menundukkan kepala, lanjut memandang wajah elok Orihime ketika gadis itu terus melakukan kegiatannya. Ekspresi Orihime tulus, penuh kekaguman.

Ulquiorra mulai merasakan sensasi aneh yang menjalari tubuhnya saat jari-jari mungil itu terus membelai kulitnya. Ketidaknyamanan kah? Bukan.

Setengah dari dirinya memang masih tidak menginginkan gadis itu seenaknya menyentuh tubuhnya seperti ini. Namun disamping keengganannya itu, Ulquiorra tetap membiarkan saja. Tidak ada usaha untuk mencoba menghentikan... apa yang sedang diperbuat Orihime padanya sekarang.

Barangkali ia sedang terlalu terkejut. Tak pernah sebelumnya tubuhnya disentuh dengan lembut dan penuh kehati-hatian seperti demikian. Merasakan jemari tangan Orihime menggelitiki kulitnya, seolah mampu membuat adrenalin Ulquiorra meningkat jumlah. Tubuhnya terasa memanas secara perlahan-lahan. Mengapa demikian?

Orihime sendiri, mungkin belum menyadari apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia terlalu fokus memandangi keberadaan tato yang baru diketahuinya itu. Sepenuhnya terpana.

Orihime merasa sangat penasaran dengan maksud dibalik tato angka empat yang diukir elegan di dada kiri pemuda itu. Mengapa ditato di sana? Mengapa harus angka empat? Apa itu angka kesukaannya?

Dan, mengapa terlihat memesona?

Ada banyak pertanyaan memenuhi otaknya.

Tapi Orihime sama sekali tidak berniat menanyakan apa arti dibalik lukisan di tubuh Ulquiorra tersebut sekarang. Atau Ulquiorra akan merasa kesal. Gadis itu hanya mengagumi bentuk tato tersebut yang tampak melekat sempurna pada tubuh si pemuda.

Orihime baru berhenti ketika satu tangan Ulquiorra menangkap lengannya, dan tangannya yang lain mulai menurunkan kain bajunya sampai menutupi seluruh perutnya. Jika tidak segera dihentikan, bisa-bisa benak Ulquiorra akan mulai kesulitan, menahan keinginan untuk balik menyentuh Orihime saat itu juga.

Si gadis mendongak, seketika menahan napas ketika akhirnya ia menyadari apa yang barusan dilakukannya.

"Maaf." Ucap Orihime spontan, nadanya dipenuhi syok. Ia segera menarik lengannya, dan melangkah mundur sampai punggungnya nyaris menabrak kolom lemari.

Nampaknya, gadis itu masih berada di bawah kesan bahwa menyentuh Ulquiorra adalah hal yang tabu. Dan pemuda itu akan segera memasang raut jengkel karena Orihime telah berani menyentuh tubuhnya tanpa izin sampai melebihi batas wajar kedekatan mereka.

Tetapi Ulquiorra hanya berdiri dalam diam, dengan raut tak menunjukkan ekspresi yang barusan dibayangkan Orihime.

Untuk beberapa detik selanjutnya, mereka hanya berpandangan. Orihime tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan, sadar bahwa tadi ia telah berbuat kurang ajar. Ia hanya bisa menatap sepasang emerald di depannya dengan hazel yang masih melebar.

Namun kemudian, Ulquiorra hanya berkata, "Aku yakin kau hendak menyampaikan sesuatu tadi." Ia dapat melihat pipi si gadis berangsur memerah. Entah karena apa.

Orihime mengerjap. "Ah! Sarapannya pasti sudah mulai dingin sekarang." jeritnya. "Apa kau sudah selesai?"

"Ya." jawab Ulquiorra singkat.

Orihime tersenyum kikuk, "Ayo." Ajaknya, sebelum cepat-cepat membalik badan, mengisyaratkan pada Ulquiorra untuk mengikutinya.

Si pemuda melakukannya, mulai ikut melangkah di belakang sana.

Diam-diam gadis itu meringis pelan sambil menghela napas singkat, merutuki kelakuannya barusan.

. . .

Hari sudah semakin siang selagi keduanya menyantap sarapan.

Meski acara makan pagi itu diawali dengan kecanggungan, namun Orihime mulai melupakan kekikukan sebelumnya saat ia asik bercerita mengenai keadaan sekolahnya dan teman-temannya. Menyatakan seberapa rindunya ia pada tempat tersebut.

Meski Ulquiorra sama sekali tidak menampakkan secuil pun ketertarikan, tetapi pemuda itu tetap diam mendengarkan. Orihime sudah hampir terbiasa ucapannya tidak banyak mendapat respon, begitu pula dengan intensnya tatapan tajam yang berasal dari pupil hijau gelap milik pemuda itu ketika menatapnya. Juga ekspresi datar Ulquiorra. Pemuda itu memang tidak punya wajah tersenyum. Namun Orihime sudah mulai paham bahwa maksud dari sikapnya, tidak selalu sedingin kelihatannya.

Ditemani seperti ini saja, sudah membuat Orihime merasa senang.

Orihime terus berceloteh meski makanan mereka telah habis sedari tadi, membuat Ulquiorra menautkan alisnya.

"Onna, aku tidak mengerti." Sanggahnya.

Orihime menelengkan kepalanya. Merasa antusias mendengar kalimat lengkap yang pertama kali diucapkan pemuda itu semenjak mereka menduduki meja makan, selain anggukan, gelengan atau jawaban iya dan tidak. Berharap Ulquiorra akan terus memulai percakapan.

"Hm?" Orihime mengangkat pelipisnya.

Ulquiorra melirik jam dinding yang tergantung di tembok ruangan itu, sebelum mulai bicara lagi. "Aku yakin ini sudah melewati waktu dimana kau seharusnya pergi ke sekolah." Pemuda itu kembali menatap gadis di depannya. "Tetapi kau tidak menunjukkan tanda-tanda untuk beranjak dari tempatmu duduk."

Orihime hanya membalas dengan senyuman lebar. Sambil mengapitkan rambut jingganya di telinga, ia berujar. "Well, aku memang belum bermaksud untuk berangkat sekolah pagi ini."

Ulquiorra mengerutkan dahi. "Jelaskan apa maksudmu."

Manik hijau si pemuda menatap tajam ke arah seragam yang masih dikenakan gadis itu, merasa yakin Orihime sudah berniat untuk pergi dari sejak pagi tadi. Jika pun tidak, ia meminta alasan dan penjelasan mengapa gadis itu repot-repot memakainya. Tingkah konyol lain yang tidak ia pahami?

Orihime menyadari isyarat tersebut. "Aku hanya ingin mencoba pakaian ini sebelum benar-benar kupakai nanti." Ia menyeringai sambil ber-hehe pelan.

Pemuda di depannya merengut semakin dalam. Maka Orihime melanjutkan, "Aku belum bisa meninggalkanmu sendirian. Masih ada banyak hal dan banyak tempat yang harus kutunjukkan padamu."

Ulquiorra lanjut memandang Orihime tanpa ada ekspresi. "Aku bisa mengurusi diriku sendiri." Ia mengingatkan. Bukankah itu sudah sangat jelas?

Orihime mengangguk tanpa ada ragu. "Namun tetap saja aku masih bertanggung jawab atas proses adaptasimu di sini."

"Kau hanya membuat alasan untuk memperpanjang keabsenan sekolahmu." Komentar Ulquiorra.

Kali ini Orihime yang merengut. "Jangan mengatakannya seperti itu." pintanya. "Aizen-sama telah mempercayakanmu padaku. Jadi, aku tidak bisa pergi begitu saja sementara kau masih belum bisa menyesuaikan diri sepenuhnya."

Ulquiorra kembali melengkungkan mulutnya ke bawah. Ia hendak membuka mulut untuk menyangkal, namun Orihime segera menambahkan. "Kau bahkan masih memerlukan bantuanku untuk menemukan bajumu."

Pelipis si pemuda berdenyut. Gadis ini...

Ulquiorra yakin kalimat terakhir itu semacam sindiran. Si gadis memang selalu mencoba memojokkannya, entah disadarinya atau tidak. Entah Orihime memang berniat untuk mengoloknya atau itu dilakukan tanpa sengaja, masih merupakan misteri bagi Ulquiorra.

Terlebih, saat gadis itu masih menatapnya dengan sejumlah ekspektasi, membuat Ulquiorra merasa agak tidak nyaman.

"Oke." Ujar si pemuda pada akhirnya.

Ia menyetujui bukan berarti dirinya mengakui ketidakmampuannya dalam menjaga diri, namun ini dilakukan sebatas untuk mengakhiri perdebatan sepele yang belakangan sering terjadi di antara mereka. Ia sudah cukup hapal bahwa gadis yang kini telah menjadi istrinya itu memang bisa sangat keras kepala.

Seketika Orihime menepukkan kedua tangannya sambil tersenyum sumringah. Sementara Ulquiorra tampak sedikit kesal, tapi pemuda itu tidak bersuara lagi. Tetap membiarkan Orihime berada dalam euforianya sendiri.

Melihat senyum lebar yang terpatri di wajah ayu Orihime, membuat ketidaknyamanan Ulquiorra bertambah lima kali lipat. Pemuda itu mencoba menenangkan diri, baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Berhasil dipojokkan untuk kesekian kalinya oleh seorang gadis.

Orihime segera bangkit dari kursinya, berdiri dengan penuh antusias. Ia tahu sedikit tidak adil jika dirinya harus terus meminjam nama Aizen-sama untuk meyakinkan Ulquiorra, namun Orihime meyakinkan diri bahwa ini adalah saat urgent dimana dirinya diperbolehkan untuk melakukan itu.

"Baiklah. Aku akan berganti baju dulu, lalu kita bisa segera pergi. Tempat itu seharusnya sudah buka sejak tadi." Ujar si gadis.

Ulquiorra menaikkan alis. Jelas ide ini baru didengarnya. "Tempat apa?"

"Perpustakaan!" jawab gadis itu dengan riang. "Bukankah tadi kubilang, masih ada banyak banyak tempat yang belum ku tunjukan padamu? Karena tampaknya kau suka membaca, aku yakin kau akan menyukai tempat itu."

Ulquiorra hanya mendesah pelan. Benar jika pemuda itu mempunyai wawasan luas dari membaca. Namun ia melakukannya hanya disaat waktu luang. Mencuri-curi waktu dikala bosan, lebih tepatnya. Sebetulnya ia baru rutin melakukan kegiatan itu belakangan ini. Di tugas-tugasnya yang sebelumnya, Ulquiorra tak begitu punya banyak waktu untuk bersantai membaca sebuah buku sambil ditemani secangkir minuman hangat. Seperti tugasnya yang sekarang.

Melihat respon Orihime yang tampak begitu antusias, Ulquiorra tidak berminat untuk menjelaskan atau menyanggah. Jadi, ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan saja.

"Oke." Ulquiorra mengulang kata itu untuk kedua kalinya.

Lagipula, bayangan gadis itu akan merajuk seharian jika ia menolak... akan mengganggu pikirannya. Dan hal terakhir yang diinginkan Ulquiorra adalah tetap diam di rumah mendengarkan celotehan kecewa Orihime, atau ajakan beruntunnya untuk mendatangi tempat lain.

Perpustakaan terdengar aman.

Orihime kembali tersenyum cerah. Entah mengapa senyuman tersebut mampu menghapus segala ketidaknyamanan yang dirasakan Ulquiorra sebelumnya.

Gadis itu mulai meraih piring dan gelas kotor mereka sekaligus, berniat menyimpannya di bak cuci piring.

"Tunggu sebentar. Aku janji tidak akan lama." Ujar Orihime sambil berlalu, sekali lagi menoleh ke arah Ulquiorra seakan cemas pemuda itu akan cepat berubah pikiran.

Ulquiorra hanya membuang napas –lagi- sambil menatap sebuah vas bunga yang menjadi hiasan di meja makan. Benaknya sibuk bertanya-tanya, keheranan, mengapa dirinya bisa semudah itu menyetujui keinginan si gadis?

Namun sekali lagi, Ulquiorra sama sekali tidak merasa jengkel, atau pun keberatan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya?

.

.

.

Bersambung . . .


Ulala~ Orihime udah berani sentuh-sentuh LOL

Bayangkan suamimu punya tato angka 4 di dadanya (percis kaya punya ulqui), siapa yang hatinya tak akan resah (pengen nyubit)?

Terimakasih banyak telah setia menunggu dan masih bersedia baca.

Aku akan terus berusaha untuk meneruskan cerita ini, mumpung momen-momen mereka mulai bergentayangan lagi di otakku~


-Kolom balas review reader yang tidak login-

Febriyanti : ini febri ya? aku udah pernah menjelaskan mengenai ini kan yaaa~

Koalasabo : iyaa ini ulquihime buatanku wkwk asiik makasih yaa koala-chan udah baca dan review jg, moga lanjut seterusnya XD sampai suka bleach sepenuhnya, ramee kook tonton yah hehe

himechan : makasiih semangatnya, okeey diusahakan lanjut terus~

febri : apakah aku harus menjawab ini disini? haha biarlah menjadi misteri (?)

asha : haloo asha-chan salam kenal juga yaa, makasih udah baca dan suka sama ulquihime :) :)

Terimakasih bagi semua yang sudah review :)

See you in next chap.


Updated : 17/03/2017