.

.


.

.

"Apa yang kalian lakukan? Eoh? Berciuman, berpelukan? Cinta? Kau rendahan sekali!" tunjukknya pada Minnie yang Jongdae tarik ke belakang tubuhnya. "Kau lupa, jika Jongdae sudah dijodohkan dengan Krystal?"

"Jongdae-yah..." bisik Minnie yang memegang tangan Jongdae erat.

Yixing menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sudah menyangka ini akan terjadi, bodohnya, ia terlalu memikirkan perasaan cemburunya pada Kris yang menemui suaminya sehingga ia sempat melupakan masalah Jongdae yang mencintai Minnie.

Krystal tak henti-hentinya menangis, sedangkan Kyungsoo merasa seperti orang bodoh disini. Ia tidak tahu menahu kenapa tiba-tiba Ryewook berteriak dan marah-marah pada Minnie dan Jongdae yang baru saja pulang. Terlebih dengan kata-kata ciuman, pelukan dan cinta antara kedua kakaknya itu.

"Kau!" tunjukknya pada Minnie "...harusnya bersyukur karena keluarga besar kami mau menampungmu, tapi apa balasanmu kepada kami? Kau mencintai adik angkatmu sendiri! Sungguh memalukkan! Ini akibatnya jika membawah sampah ke dalam rumah keluarga kita!" omelnya.

Kyungsoo yang masih berdiri di tangga dengan Jongin yang berdiri di belakangnya melototkan kedua matanya. Ia semakin bingung namun ia tak berani bersuara mengingat Ryeowook dalam keadaan tidak baik.

"Eommonim!" kali ini Yixing bersuara dengan nada sedikit keras "...Bagaimana bisa kau menyebut cucumu sendiri dengan sampah?"

"Cucu?" tanya Ryewook sarkatis.

Yixing memejamkan matanya sebentar "Tidak, dia anakku!" ralatnya.

"Anak macam apa yang kau besarkan dan sekarang membuat malu keluarga kita, eoh?"

Ini pertama kalinya bagi Jongin melihat ibu dan neneknya tidak sejalan. Ah, tidak, ini sering terjadi jika menyangkut Minnie. Yixing yang selalu membela Minnie, bahkan tidak perduli jika itu mertuanya sendiri yang menjadi musuhnya. Jongin menempelkan kedua tangannya di telinga Kyungsoo. Sengaja menulikan pendengaran Kyungsoo dari adu mulut dua wanita yang berpengaruh di keluarga Kim. Sementara Kyungsoo hanya diam dan menyaksikan kedua wanita hebatnya berselisih pendapat.

"Kau tidak seharusnya mendengar ini, noona!" bisik Jongin pada Kyugsoo.

Kyungsoo masih dengan wajah blanknya hanya mengangguk.

"Dia sama sekali tidak membuat malu, eomma!" bela Yixing "Baiklah, untuk kali ini mereka memang salah, aku yang akan memisahkan mereka! Tak perlu eomma menyumpahi Minnie"

"Eomma!" Kali ini Jongdae bersuara, ia mengeratkan pegangan tangannya pada Minnie. "Tidak ada yang bisa memisahkan kami, aku dan noona saling mencintai"

"Cukup, Kim Jongdae!" bentak Yixing "...cintamu itu hanya akan membuat Minnie menderita! Kalian memang tidak sepantasnya saling mencintai, kalian saudara, kalian kakak adik!" ingat Yixing.

Minnie yang menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Jongdae mulai bergetar, ia tengah mencoba menahan isakannya. Ini tidak seharusnya terjadi, sekalipun terjadi seharusnya tidak secepat ini. Ia masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Jongdae, sekalipun itu hanya sesaat.

"Kami memang kakak adik secara hukum, tapi tidak ada darah yang sama mengalir ditubuh kami, seberapa keras eomma dan haelmonie melarang kami, kami akan tetap bersama!"

"Jangan gila, Kim Jongdae! Bagaimana dengan Krystal?" Ryeowook menunjuk gadis yang tengah terisak.

"Oppa, aku sungguh mencintaimu! Aku memang masih terlalu muda, tapi aku akan segara dewasa beberapa tahun lagi... hiks...hiks...hiks..." Krystal mendongkak dari duduknya.

"Mianhae, Krystal-ssi" lirih Jongdae.

Mendengar permohonan Jongdae, Krystal semakin menjadi. Ia beranjak dari duduknya dan berlari menuju tangga. Melewati Jongin dan Kyungsoo yang sebagai penonton saat itu.

"Kau sungguh keterlaluan, Jongdae-yah!" kata Ryeowook .

"Minnie-yah, dengar eomma, sayang!" panggil Yixing yang mendekat ke arah Jongdae dan Minnie. "Eomma, mohon! Jangan kau buat sulit keadaan ini, mari kita lupakan kejadian ini, sebelum appa kalian datang, eoh?" pintanya.

"Eomma!" bentak Jongdae lagi yang kini menjauhkan Minnie dari eomma-nya "Jika hubungan kami membuat kalian malu, aku memiliki keputusan sendiri untuk memperbaikinya, biarkan kami pergi dari sini!" Jongdae mundur beberapa langkah dengan masih menyeret Minnie.

"Jongdae-yah..." lirih Minnie mencoba mencegah "Kita tidak perlu berbuat sejauh ini,..."

"DIAM!" bentak Jongdae membuat Minnie bungkam seketika. Ia sempat meringis karena pegangan Jongdae yang semakin mengerat di pergelangan tangannya "Jangan pernah merubah perasaanmu, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu!" bisiknya.

"Tidak! Kalian tidak bisa pergi dari sini!" balas Yixing. "Baiklah, Jongdae-yah! Kita bisa bicarakan ini baik-baik, appa pasti akan mencari jalan keluarnya," Yixing mulai melemah.

"Kami tidak butuh jalan keluar apa pun, eomma! Kami hanya butuh restu kalian, jika kalian tidak merestui kami, kami siap meninggalkan kalian..." ancam Jongdae. Jelas itu keputusan Jongdae bukan Minnie.

Ryeowook mendecih "Kau tidak akan bisa pergi dari kehidupan mewahmu, Jongdae-yah! Joonmyeon sudah memanjakan kalian dengan kemewahan. Kalian tidak akan bisa hidup tanpa itu diluar sana..." oloknya.

"Haelmonie salah! Aku bisa hidup tanpa sepeserpun uang dari appa!"

"Ini tidak benar, jika memang harus ada yang pergi, maka itu Minnie bukan kau!"

"Eomma, sudah berapa kali ku katakan tidak ada yang bisa pergi dari sini! Baik Jongdae ataupun Minnie" potong Yixing.

"Kau selalu saja membelanya! Membela sampah yang terus menerus mempermalukan keluarga kita,"

"Dan aku tidak akan membeiarkan halmonie tinggal bersama sampah!" lirih Jongdae "Aku benar-benar akan membawa noona pergi dari sini!" Jongdae melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu utama.

Yixing membelalakan matanya "Andwe! Berhenti Kim Jongdae, Kim Minseok!" panggilnya namun sayang Jongdae sengaja menulikan pendengarannya.

"Oppa!" panggil Kyungsoo tiba-tiba, ia berlari mengejar Jongdae yang sudah di ambang pintu.

Jongdae menghentikan langkahnya, menatap Kyungsoo yang juga menatapnya dengan pandangan bingung.

"Jangan pergi" rengek Kyungsoo.

Jongdae mendekat ke arah adiknya "Tidak, Kyungsoo-yah! Kau ingat oppa pernah berkata apa padamu?" mengelus pipi kyungsoo yang basah karena tangisannya "...korbankan hal yang paling dekat dengan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan?"

Kyungsoo mengangguk.

"Kali ini oppa akan mengorbankan apa yang paling dekat oppa untuk keinginan oppa! Mengerti?" tanyanya.

Kyungsoo mengangguk "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan keluarga kita, dengan Minnie eonnie, tapi percayalah.. aku mendukung apa yang oppa lakukan..."

Jongdae tersenyum "Gadis pintar... oppa janji akan menceritakan semuanya! Jaga eomma dan appa ne... jangan jadi anak pembangkang seperti oppa!"

"Jongdae-yah! Aku tidak mungkin meninggalkan Kyungsoo dan eomma... kita..."

Jongdae mendelik ke arah Minie yang baru saja bersuara. Mendapat tatapan seperti itu membuat Minnie bungkam.

"Pikirkan Kyungsoo, Jongdae-yah! Jangan pergi..." kini Yixing kembali bersuara.

"Maaf eomma! Kali ini aku ingin egois.." sinis Jongdae yang kemudian menarik Minnie dan berjalan keluar dari rumah besar Kim.

.

.


.

.

Kini Kyungsoo mengerti setelah semalaman ia tidak tidur memikirkan nasib Jongdae dan Minnie. Ia mulai menghubungkan kejadian-kejadian kecil yang terjadi di rumahnya antara Minnie dan Ryeowook. Kini ia mengerti kenapa Ryeowook begitu sinis dengan Minnie hanya karena Minnie bukan anak kandung Joonmyeon dan Yixing. Kyungsoo belum berani mengorek asal muasal Minnie pada eomma-nya. Karena Yixing saat ini benar-benar dalam keadaan kacau. Ia meracau tidak jelas di telponnya. Ia juga mengerahkan semua orang terpercaya Joonmyeon untuk mencari Jongdae dan Minnie. Mengenai Krystal, ia kembali ke Jepang sejam setelah kepergian Jongdae dan Minnie. Dan saat ini Joonmyeon yang baru datang dari China tengah duduk menikmati teh hangatnya di ruang keluarga. Mengabaikan Yixing yang mondar-mandir dengan telpon wireless-nya.

Ryeowook bersikap acuh tak acuh berbeda dengan Yixing yang panik dengan menghilangnya kedua anaknya itu.

"Jadi kau menghubungiku hanya karena masalah ini?" meletakkan cangkir di atas meja, menatap istrinya dalam.

Yixing berhenti dari aktivitasnya "Hanya? Joonmyeon-ssi, dua anakku menghilang dan menjalani hubungan terlarang, kau bilang hanya?" omel Yixing.

Jonmyeon menarik nafasnya dalam-dalam "Mereka sudah dewasa, sayang!"

"Dewasa? Lalu bagaimana pandangan keluarga kita yang lain? Pandangan rekan kerja mu? Mereka tidak boleh bersama, Joonmyeon-ssi" Yixing menyenderkan punggungnya disandaran sofa, "Anni, ini tidak benar! Aku akan minta bantuan polisi untuk mencari mereka" lanjutnya.

"Jangan berlebihan dulu, Yixing-ah! Jika aku diposisi Jongdae, aku pun akan melakukan hal yang sama"

Sontak Ryeowook dan Yixing memandang ke arah Joonmyeon "Apa maksudmu?" tanya Ryeowook "Kau mendukung mereka? Joomyeon-ah! Kau harus ingat jika kita sudah menjodohkan Jongdae dengan Krystal"

"Dan eomma juga harus ingat jika Jongdae sudah menolak perjodohan itu beberapa kali, jika dipaksakan pun itu akan menyakiti Krystal, kalian tidak lupa perlakuan kasar Jongdae pada Krystal kan?"

Yixing menarik nafasnya dalam-dalam "Lalu bagaiamana denga Minnie? Kitakan sudah merencanakannya akan menjodohkannya dengan Changmin?"

Joonmyeon menggaruk kepalanya yang entah mengapa tiba-tiba gatal "Oh soal itu, kurasa aku lupa memberitahumu, em... Minnie secara personal menemuiku dan menolak dengan perjodohan itu. Dan, ku harap kita berhenti untuk menjodoh-jodohkan anak-anak kita nantinya, mereka berhak untuk memilih kebahagiaannya"

Ryeowook mendecih "Bagaimana bisa kau mengabaikan tradisi keluarga kita, kau pikir kau bisa menikah dengan Yixing itu bukan dari hasil perjodohan? Jika aku membiarkanmu memilih untuk mencari kebahagiaanmu sendiri dulu, apa kau bisa hidup seperti sekarang? Bersama anak-anakmu?" sindirnya.

"Eomma, bisakah kau tidak mengungkit masalalu itu sekarang?" sela Yixing "Kedua anakku hisup diluar sana, kenapa kalian bisa setenang ini sih?"

"Istriku sayang..." rayu Joonmyeon "Beri aku waktu satu minggu, maka mereka sudah berada di rumah bersama kita lagi, asal dengan syarat..."

"Apa?"

"Jangan ada yang mengahalangi hubungan mereka, baik kau atau eomma"

"Ba-.."

"Jika tidak, aku tidak bisa menjamin mereka mau kembali kesini atau tidak" potong Joonmyeon.

Yixing mendengus "Baiklah..."

Ryeowook berdiri dari duduknya "Kau sama saja dengannya, astaga kenapa aku tinggal bersama keluarga yang rumit ini! Uruskan keberangkatanku ke Jepang besok, aku benar-benar tidak tahan berada disini..." kemudian berlalu dari anak dan menantunya.

"Joonmyeon-ssi, keputusan mu akan membuat keberadaan Minnie semakin tidak dianggap" Yixing kembali bersuara setelah Ryeowook benar-benar tidak bersama mereka.

"Mereka tidak menganggap Minnie karena Minnie menjadi bagian keluarga kita, bagaiamana jika dia benar-benar menjadi orang asing bagi keluarga kita? Aku lebih memilih untuk menerima Minnie sebagai menantuku daripada aku harus kehilangannya. Dengan begitu dia akan tetap menjadi anakku, kita hanya perlu mengubahnya dimata hukum" jawabnya. "kau pasti terkejut dengan kejadian ini, bukan?"

Yixing mengangguk.

Joonmyeon berpindah posisi yang kini ia sudah berada di saming istrinya "Kau sudah melalui banyak masalah, jadi kejadian ini jangan kau anggap masalah besar! Cinta mereka tidak salah" Joonmyeon mengeratkan rangkulannya di pundak istrinya.

.

.


.

.

"Argh... aku merindukan Minnie eonnie dan Jongdae oppa" keluh Kyungsoo yang kini menenggelamkan kepalanya diatas meja belajarnya. Rambutnya acak-acakan, seragam sekolahnya pun belum terlepas dari tubuhnya. Tas gendongnya ia lemparkan ke arah tempat tidur.

Sejak kejadian semalam hingga sore ini ia masih berfikir keras tentang silsilah keluarganya. Minnie hadir bukan sebagai kakak kandungnya, tetapi anak angkat. Hubungan Minnie dengan Ryewook tidak semanis hubungan dirinya dengan Ryeowook. Hanya karena Minnie bukan anak kandung Joonmyeon dan Yixing, sikap Ryeowook begitu dingin yang belum bisa diterima oleh akal sehat Kyungsoo. Hanya.

Jongin sudah menceritakan semuanya tadi siang saat jam istirahat sekolah. Ia merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri. Hanya ia yang tidak tahu perihal Minnie. Ia ingin menuntut versi ibu nya. Namun, melihat keadaan Yixing yang sangat kacau membuat Kyungsoo mengurungkan niatnya.

Kyungsoo menoleh ke arah pintu ketika Jongin membukanya dan menongolkan kepalanya "Kau tidak turun? Haelmonie akan Jepang hari ini, ia akan tinggal lama disana" katanya.

"Jepang? Lagi?" Kyungsoo beranjak dari duduknya dan menghampiri Jongin. Keduanya lalu menuruni anak tangga dan menuju halaman rumah.

Disana sudah ada Ryeowook yang sudah siap untuk naik ke dalam mobil.

"Haelmonie?" pekik Kyungsoo.

"Oh, cucuku.."

"Mau pergi lagi?" tanya Kyungsoo sambil memegang tangan Ryeowook.

Ryeowook mengangguk "Keadaan keluarga ini sedang kacau, dan penyakitku bisa kambuh jika aku masih tetap disini.." jawabnya.

"Bagaimana denganku?" tanya Kyungsoo lagi.

"Kau tetap cucuku sayang, jika kau merindukanku aku akan datang kemari atau kau yang menemuiku ke Jepang, mengerti"

Kyungsoo mengangguk "Ne, hati-hati dijalan, haelmonie.."

Keduanya berpelukan. Meski enggan, namun Jongin ikut memeluk Ryeowook setelah Kyungsoo.

Mobil hitam itu kini pergi meninggalkan halaman. Meninggalkan pertanyaan dibenak Kyungsoo yang belum sempat ia tanyakan pada Ryeowook.

Mengapa? Mengapa begitu membenci Minnie? Apa salah jika ia mendapat kasih sayang dari Joonmyeon dan Yixing? Bagaimana jika seandainya, dirinyalah yang diposisi Minnie?

.

.


.

.

"Sudah bangun?" tanya Jongdae sambil membawa nampan berisi makanan ke arah Minnie yang tertidur setelah menangis semalaman.

"Jam berapa ini?" tanya Minnie sambil mengucek kedua matanya, ia duduk dan sebagian tubuhnya masih terbalut selimut tebal.

"Jam lima sore," Jongdae meletakkan nampan diatas nakas, ia duduk di kursi yang menghadap ke arah Minnie.

Minnie mendelik ke arah Jongdae, "Jam lima? Yak, aku harus ke kantor!" ucap Minnie yang beranjak dari duduknya dengan tampangnya yang panik.

Jongdae berdiri dan menahan pergerakan Minnie "Kau pasti pusing karena menangis, jernihkan pikiranmu dan ingat apa yang sedang terjadi!"

Minie memandangi sekeliling ruangan yang sangat berbeda dengan kamarnya yang mewah. Disudut jendela sana ada sebuah beranda, "Aku dimana?" tanyanya polos.

Jongdae kembali duduk, namun ia duduk di smaping Minnie, ia mengangkat nampan kembali dan meletakkannya di pangkuannya, "Aku yakin kau pasti lelah karena menangis semalaman, makan dulu"

"Kita dimana?" ulang Minnie.

Jongdae menghela nafas panjang "Kita berada di appartement yang ku beli diam-diam. Aku sudah merencanakan ini semua jauh-jauh hari. Untuk kita"

Minnie menunduk, ia ingat jika ia sudah menerima perasaan Jongdae. Dan ini salah. "Kita pulang sekarang, eomma pasti sedang pusing mencari kita.." ucap Minnie lirih.

Jongdae merangkul Minnie, "Itu tidak mungkin, kita sudah melangkah sejauh ini. Sudah cukup selama puluhan tahun aku mengalah sebagai adikmu, dan sekarang aku tidak akan mengalah untuk menjadi milikmu. Biarkan mereka yang mengalah untuk hubungan kita"

"Jongdae-yah!" Minnie melirik ke arah Jongdae.

Jongdae melepas rangkulannya, ia meletakkan nampan diatas kasur dan berdiri, "Baiklah! Semua terserah padamu, noona! Jika kau ingin kembali, kembalilah sendiri. Aku tidak akan pernah kembali kesana tanpa memilikimu. Aku tidak pernah menyesal untuk berakhir, karena setidaknya aku pernah bahagia memeliki keluarga seperti mereka. Kau! Sesuatu yang benar-benar aku perjuangkan sekarang. Pilihanmu adalah, kembali atau kehilangan diriku!" kata Jongdae yang melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Minnie yang terpaku.

"Jongdae-yah!" lirih Minnie.

.

.


.

.

Makan malam berlangsung seperti biasa, Joonmyeon yang tenang. Jongin yang seolah tak peduli. Kyungsoo yang terlihat tidak nafsu makan, dan Yixing yang begitu gelisah. Makan malam pertama yang mereka lalui tanpa Minnie, Jongdae, dan Ryeowook.

"Bagaimana kau bisa makan setenang itu, sementara kita tidak tahu bagaiaman keadaan Jongdae dan Minnie di luar sana!" bentak Yixing pada Joonmyeon.

Joonmyeon, Jongin, dan Kyungsoo terkejut.

Joonmyeon meletakkan sendoknya, menghabiskan kunyahan terakhir dimulutnya, "Sayang! Aku yakin mereka akan baik-baik saja! Kita semua tahu mereka sudah besar kan?" balasnya dengan tenang.

Yixing menghela nafas "Bagimu mereka mungkin sudah besar, tapi bagiku mereka adalah anak-anak yang tidak bisa hidup tanpa diriku. Aku harus memastikan kesehatan Minnie dan Jongdae, pola makan mereka dn jam istirahat mereka..." sambung Yixing lagi.

Jika sudah begini, Jongin tidak bisa menenangkan eommanya. Sedikit kata yang keluar, maka bom akan meledak. Begitu menurutnya jika ia bersuara disaat yixing sedang berapi-api.

Joonmyeon mengelap mulutnya dengan tissu, kemudian ia mengeluarkan kertas dari dalam saku kemejanya. "Aku sudah mengatakan padamu, beri aku satu minggu untuk membuat mereka kembali kesini kan? Ini..." ia menyodorkan kertas kecil tersebut. "Ini alamat appartement Jongdae, tanpa sepengetahuan kita dia membeli appartement. Aku yakin dia sudah memperkirakan kejadian ini. kemungkinan besar Jongdae membawa Minnie kesana!" kata Joonmyeon.

Yixing meraih kertas tersebut, senyum mengembang dibibirnya. "Aku akan kesana besok!"

"Ingat kesepakatan kita. Jangan membuat keadaan semakin rumit!" Joonmyeon memperingati.

"Arraseo!" jawab Yixing.

"Eomma, aku ikut yah?" tawar Kyungsoo.

Yixing megangguk, "Boleh, kita berangkat besok!"

Joonmyeon tersenyum melihat Yixing kembali seperti biasa.

.

.


.

.

Minnie membuka pelan pintu kamar yang ia huni semalaman. Di sofa panjang depan televisi ia melihat Jongdae yang tertidur berbalutkan selimut. Minnie melangkah pelan menghampiri Jongdae. Ia berjongkok di depan kepala Jongdae dan tersenyum. Jemari lentiknya ia gerakkan untuk mengusap poni Jongdae di area matanya.

"Jongdae-yah!" lirih Minnie, ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut yang ia tekuk "Aku memikirkannya semalam. Maafkan aku..." katanya pelan.

Jongdae masih asik dalam dunia mimpinya padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.

"Kau benar! Kita sudah mengalah pada perasaan kita masing-masing selama ini. Untuk kali ini aku akan ikut bersamamu, aku tidak akan mengalah lagi pada mereka. Aku mencintaimu, Kim Jongdae" lirih Minnie. "...dan aku akan bersamamu, bahkan jika kau menyuruhku pergipun, aku akan tetap bersamamu. Aku tidak ingin kau pergi..." lanjutnya.

Tanpa Minnie sadari, Jongdae mendengar semua perkataan Minnie pagi itu.

"Tapi aku takut... aku takut menghadapi eomma dan appa. Hiks...hiks... untuk menyakiti mereka tidak pernah terlintas dalam pikiranku" Minnie mulai terisak. Ia benar-benar bingung dengan situasinya sekarang. Ia mencintai Jongdae tapi ia tidak ingin menyakiti hati Yixing.

Minnie menunduk. ia lelah menangis sejak dua malam lalu. Bahkan tangisnya yang sekarang pun sangat sedikit air matanya yang keluar.

Jongdae membuka matanya, ia duduk dan mengusap kepala Minnie.

Minnie mendongkak mendapati Jongdae yang membungkuk untuk mengelus kepalanya.

"Gwenchana!" kata Jongdae lembut, "Semua akan baik-baik saja, noona! Kau bilang kita tidak boleh mengalah kan? Dengan kita bersama, kita akan mengalahkan mereka. Percayalah, semua baik-baik saja.." ucap Jongdae menenangkan kemudian ia menjajarkan tubuhnya dengan tubuh Minnie dan memeluknya.

Minnie memeluk Jongdae erat. "Gomawo!" bisik Minnie di dalam pelukan Jongdae.

.

.


.

.

Jongdae meletakan piring berisi nasi di depan Minnie, kemudian ia duduk di depannya.

"Makanlah.." ucap Jongdae

Minnie menatap Jongdae, "Jongdae-yah, sampai kapan kita akan seperti ini? maksudkku sampai kapan kita akan melawan mereka?" tanya Minnie.

Jongdae yang sudah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mengunyanyah pelan lalu meletakkan peralatan makannya, "Kau sudah tidak nyaman? Ini belum ada sehari dari perlawanan kita, noona!"

Minnie tersenyum miris, "Kau benar, perlawanan kita belum ada setengahnya. Kita membutuhkan waktu yang panjang. Maafkan aku.. ayo lanjutkan makannya"

"Kau tidak akan menyerah dan merubah pikiranmu kan?"

Minnie memegang tangan Jongdae, tersenyum dan menggeleng "Sudah ku katakan bukan jika aku akan tetap bersamamu, maaf jika pertanyaanku membuatmu ragu"

Jongdae membalasnya dengan mengelus punggung tangan Minnie, "Secepatnya aku akan menemui appa dan eomma, jika mereka tidak merubah pikiran mereka maka kita juga tidak akan merubah pikiran kita"

"Aku percaya padamu" balas Minnie lalu menarik tangannya dan meraih sendok dan sumpit.

Keduanya kembali sibuk dengan sarapan mereka, hingga beberapa detik kemudian bel berbunyi.

"Sepertinya ada yang datang?" lirih Minnie heran.

"Mungkin Luhan, ah aku lupa menceritakan sesuatu padamu, bahwa kita segedung dengan appartement Luhan yang baru. Mereka membeli appartement disini belum lama... aku akan membukakan pintu .." balas Jongdae sambil beranjak dari duduknya.

Minnie mengangguk.

.

.


.

.

"K-K-Kyung!, eomma?" tanya Jongdae tak percaya jika yang berdiri di depannya adalah adik dan ibunya.

Kyungsoo yang mengenakan seragam sekolahnya tengah membenarkan tas gendongnya, "Annyeong, oppa!" sapanya.

"Bagaimana kalian bisa berada disini?" tanya Jongdae.

"Kau lupa siapa appa-mu? Kim Joonmyeon!" jawab Yixing, "Bersembunyi disini rupanya anak nakal eomma?" sindir Yixing.

"Jongdae-yah! Kenapa...?" Minnie yang berdiri di belakang Jongdae tak lagi melanjutkan pertanyaannya ketika ia melihat Yixing dan Kyungsoo diambang pintu sana.

Yixing tersenyum, "Omo! anak gadisku" seru Yixing yang langsung menerobos masuk melewati Jongdae dan menghampiri Minnie.

Minnie masih sama terkejutnya dengan Jongdae.

GREP!

Yixing memeluk Minnie.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yixing

Minnie mengangguk dalam pelukan Yixing, "Ne, eo-eomma" balasnya terbata.

Kyungsoo ikut masuk melewati Jongdae.

Yixing melepas pelukannya, ia mengusap kepala Minnie, "Kau sungguh baik-baik saja? Eoh?" tanyanya lagi.

Minnie mengangguk. Ia senang melihat Yixing namun ia takut jika Yixing datang dan memisahkan mereka.

Jongdae yang juga berfikiran sama dengan Yixing langsung menutup pintu dan menghampiri dua wanita yang masih saling berpegangan. Jongdae menarik tangan Minnie dan membawa tubuh Minnie ke balik tubuhnya.

"Oppa? Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo yang heran dengan sikap kakaknya yang merusak moment ibu dan anak yang sedang melepas rindu.

Jongdae tidak menanggapi pertanyaan Kyungsoo, "Jika eomma kemari untuk memisahkan kami. Itu akan sia-sia, aku dan noona tidak akan berpisah!"

Yixing tersenyum "Kau ini aneh, bagaimana bisa aku memisahkan hubungan kakak beradik kalian?"

Minnie meremas baju bagian punggung Jongdae.

"Eomma!" rengek Jongdae.

"Mianhae" lirih Yixing membuat Minnie menongolkan kepalanya dari punggung Jongdae, "Eomma kemari hanya menyampaikan pesan dari appamu"

"Pesan? Pesan apa?" tanya Jongdae cetus.

"Mereka meminta kalian pulang"

"Tidak, kami tidak akan pulang" tolak Jongdae

"Ini perintah appa, Jongdae-yah"

"Eomma, kami tidak akan pulang jika kalian meminta kami untuk berpisah" tegas Jongdae.

Yixing menarik nafasnya dalam-dalam, "Appa meminta kalian pulang untuk membahas pernikahan kalian"

"Mwo?" teriak Jongdae dan Minnie bersamaan.

Sementara Kyungsoo dan Yixing tersenyum melihat ekspressi terkejut Minnie dan Jongdae

Minnie berdiri disamping Jongdae, "Apa maksud eomma?"

"Minnie-yah" Yixing meraih kembali tangan Minnie "Appa tidak melarang hubungan kalian, appa meminta agar kalian pulang dan membahas hubungan kalian selanjutnya"

"Ini serius?" tanya Jongade.

"Benar oppa, tadi pagi di meja makan appa dan eomma mengumumkan berita ini" jawab Kyungsoo "Ah.. eomma, aku sudah kesiangan kesekolah. Ayo kita berangkat" rengek Kyungsoo sambil melirik jam tangannya.

"Baiklah, eomma harus mengantar Kyungsoo ke sekolah! Jongin sudah berangkat lebih dulu tadi. Eomma dan appa menunggu kalian malam ini... kami pergi" ucap Yixing kemudian ia mengecup sayang pipi Minnie.

"Eomma, kenapa kau hanya mencium noona? Bagaimana denganku?" protes Jongdae ketika Yixing sudah bersiap untuk meninggalakan appartement Jongdae.

Yixing dan Kyungsoo yang sudah berdiri di ambang pintu hanya menoleh "Tidak ada kecupan untuk anak nakal sepertimu yang berani membawa kabur anak gadis orang, kajja Kyungsoo, kita pergi!" katanya sambil tersenyum mengejek.

Kyungsoo dan Minnie ikut tersenyum

"Kau puas?" tanya Jongdae pada Minnie.

"Uuh, aku puas! Kau lucu ketika cemburu begitu" olok Minnie.

.

.


.

.

Yixing merenggangkan otot-ototnya ketika lift membawa dirinya dan Yixing ke lobbi. Ibu dan anak itu berjalan beriringan.

"Akhirnya, masalah mereka terselesaikan eomma! Akh, aku lega!" kata Kyungsoo.

"Belum sayang! Masih ada haelmonie mu" balas Yixing, aku dan Joonmyeon harus bekerja ekstra untuk melindungi mereka.

"Benar juga! Haelmonie sangat susah dijinakkan"

"Kau ini, memangnya haelmonie itu apa sampai kau menggunakan kata jinak?"

Kyungsoo tersenyum, "Hehe.. maafkan aku eomma" balas Kyungsoo.

Keduanya saling pandnag dan tersenyum sehingga Kyungsoo tidak menyadari keadaan sekitar. Dan itu menyebabkan dirinya menabrak bahu seseorang.

"Ah, josonghamida!" balas Kyungsoo sambil membungkuk pada orang yang ditabraknya.

"Ah, ne! Maafkaan saya juga..." balas orang tersebut.

"Hah? Huang ahjumma?" pekik Kyungsoo ketika menyadari jika orang yang ia tabrak adalah guru wushunya.

Wanita yang seumuran dengan Yixing pun sama terkejutnya, "K-Kyungsoo-yah?"

"Ne, ahjumma! Annyeonghaseo" Kyungsoo membungkuk.

"Ah ya ya..." balas Huang ahjumma.

"Ahjumma, ini eommaku.. kami baru saja mengunjungi oppa yang kebetulan tinggal disini.." Kyungsoo menarik tangan Yixing.

Huang ahjumma yang semula tersenyum menjadi menampakkan wajah datarnya ketika hendak menyapa Yixing.

"Eomma, dia guru wushu ku " kata Kyungsoo mengenalkan Huang ahjumma kepada Yixing.

Yixing pun sama, memasang wajah yang sangat sulit ditebak ketika saling beratap dengan Huang ahjumma.

Huang? Huang Zi Tao? Kenapa kita bertemu lagi? Bukankah kau berjanji akan pergi jauh-jauh dari kehidupanku dan...

.

.

.

To Be Continue!

.

.

.


Hello...Hello...Hello...

Kita bertemu lagi... udah lama yah... ada yang lupa sama jalan ceritanya? Baca dari ulang lagi deh yah, maafkan aerii yang laaaaammmma banget up nya, hem... dua bulan kayanya...

Yang ngarapin moment KaiSoo-nya di chap ini,pending dulu yah... semoga ada di chapchap selanjutnya...

Ada yang seneng gak sih aerii muncul lagi? Seneng kan? Masih mau setia sama ff ini hingga END kan?

Terimakasih yang udah mau nunggu, dan gak masalah buat yang milih ninggalin karena kelamaan up-nya.. aerii memaklumi kok, karena menunggu itu tidakkk uuueeeeeeennnakkk, kan? Kan? Kan?

aerii tunggu kritik dan saran-nya yah... see you next chap

XOXO

aerii