Not Just Babysitter
Chapter 14 Final
Main Casts : Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Oh Haowen (OC)
Support Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Family, Romance
Length : Multichapter
2016©Summerlight92
Yifan tersenyum geli melihat penampilan Sehun. Rambut berantakan, wajah dan tubuh bermandikan keringat, serta napas yang terengah-engah. Calon adik iparnya itu tampak kelelahan meladeni tantangannya.
Siapa yang menduga jika Yifan ternyata memberikan tantangan bertanding basket?
Berlokasi di lapangan basket yang memang dijadikan fasilitas olahraga di kawasan perumahan tempat tinggal orang tuanya, Yifan menantang Sehun untuk bertanding basket one-on-one. Mereka hanya memakai setengah lapangan dan pertandingan berlangsung selama 30 menit.
"Sudah lelah, eoh?" ejek Yifan mengabaikan lirikan tajam Sehun padanya. Sungguh, ia sangat menikmati momen ketika mengerjai calon adik iparnya.
Terkesan kejam memang, apalagi Sehun sedang dalam kondisi terdesak lantaran ingin secepatnya menemui Luhan setelah mendapatkan kebenaran soal Yifan. Sayang, justru Yifan yang terlanjur menyambut kedatangan Sehun di rumah orang tua Luhan lebih dulu. Mau tak mau, Sehun kembali harus meladeni tantangan yang diajukan pria berambut pirang itu.
Chanyeol yang menjadi wasit dalam pertandingan itu, sesekali melirik Sehun yang memang sudah terlihat kelelahan. Bahkan semenjak pertandingan baru berjalan 10 menit. Ia merasa iba terhadap kondisi pria itu, terlebih setiap kali mengingat pengakuan Sehun sebelum pertandingan dimulai.
Flashback
"Basket?"
Chanyeol menyadari perubahan ekspresi wajah Sehun. "Ada masalah, Sehun?" tanyanya penasaran.
Sehun mengangguk kecil, "Aku tidak jago bermain basket."
"Jinjja?" wajah Chanyeol berubah was-was. Ia melirik Yifan yang sudah terlihat melakukan pemanasan dengan bola basket. "Yifan-hyung sangat jago bermain basket. Dia sudah menekuni olahraga itu sejak bangku sekolah dasar. Kau yakin bisa mengalahkannya?"
"Aku tidak tahu."
Plak! Chanyeol menepuk dahinya dramatis. "Sehuuuun ..."
Sehun tertawa kecil. "Jangan khawatir, Yeol. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Akan kubuktikan bahwa aku layak untuk menjadi pendamping Luhan," ucapnya dengan sorot mata penuh keyakinan.
Chanyeol terdiam melihat wajah semangat Sehun. Ia tersenyum lega, lantas menepuk pelan bahu pria itu.
"Berjuanglah. Semoga kau bisa mengalahkan Yifan-hyung."
Semangat Sehun kian bertambah usai mendapat dukungan dari Chanyeol.
Flashback off
"Sehun, kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol memastikan.
"Aku tidak apa-apa," Sehun menjawab dengan napas terengah-engah, "Tinggal sedikit lagi, Yeol."
Chanyeol mengangguk kecil. Score keduanya saat ini seimbang, meski permainan sudah berjalan 20 menit dari waktu 30 menit yang sudah ditentukan. Baik Sehun maupun Yifan sudah memasukkan bola sebanyak 7 x.
Harus Chanyeol akui, ia kagum dengan semangat Sehun meski tak memiliki kemampuan bermain basket sebaik Yifan. Akan tetapi, pria itu mampu memasukkan bola. Bahkan kini menyamai score Yifan. Satu-satunya yang menjadi kelemahan Sehun adalah daya stamina dan pertahanan pria itu yang tidak sebaik Yifan.
"Sudah menyerah?" tanya Yifan sengaja memancing emosi Sehun.
"Tidak. Aku tidak akan menyerah sebelum memenangkan pertandingan ini," seru Sehun tanpa mau kalah.
"Kalau begitu, rebut bolanya dariku jika kau bisa," ejek Yifan lagi dan mulai menggiring bola basket.
Sehun tak membuang kesempatan yang ada. Ia berlari menghampiri Yifan yang dengan lihai memainkan bola basket. Beberapa kali ia hampir terjatuh lantaran Yifan sangat pandai mengecoh pergerakannya.
"Sial!" Sehun mengumpat kecil ketika Yifan berhasil lolos dan bersiap memasukkan bola.
Yifan tersenyum bangga saat ia sudah melompat. Hanya tinggal melakukan lay up untuk memasukkan bola—
SRET!
—sebelum tarikan kuat di kaki kanan menghentikan aksinya. Hampir saja Yifan terjatuh jika ia tidak buru-buru menapakkan kaki kirinya di lapangan.
"YA!" Yifan berteriak murka, bersiap untuk memaki si pelaku usil namun urung saat melihat sosok wanita setengah baya yang sudah berdiri di belakangnya.
"E-Eomma ..."
Tidak ada yang tahu, sejak kapan Nyonya Haneul sudah berada di arena pertandingan sambil berkacak pinggang.
"Akh!" Yifan merintih kesakitan ketika sang ibu tiba-tiba menjewer telinganya, "Eomma, hentikan!"
"Dasar anak nakal!" Nyonya Haneul semakin bernafsu menjewer telinga Yifan. "Tega sekali kau menjahili calon menantuku!"
"EOMMAAAA~"
Mata Sehun mengerjap bingung atas pemandangan yang tersaji di depannya. Ia kaget atas kemunculan Nyonya Haneul. Reaksi kontras diperlihatkan Chanyeol. Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut. Kapan lagi ia bisa mendapat kesempatan melihat Yifan takluk pada ibunya.
"Sehun, kau baik-baik saja?"
Suara lain membuyarkan lamunan Sehun. Pria itu menoleh, lantas tersenyum kikuk pada sosok wanita berperawakan jangkung dengan mata pandanya yang sangat imut.
"Namaku Huang Zitao, aku kekasih Yifan," Zitao melirik sekilas pada Yifan yang masih mendapat hukuman dari Nyonya Haneul. "Maafkan sikap kekasihku, ne? Dia memang jahil sekali."
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Sehun, selain anggukan kecil. Sehun hendak bertanya, namun urung saat melihat sosok pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari posisi Zitao.
"Yeobo, hentikan!"
Spontan Sehun membungkuk pada sosok pria yang ia yakini ayah Luhan. "Ahjussi ..."
Mengetahui Sehun menyapanya, Tuan Shuhuan tersenyum ramah. "Panggil aku abeoji, Sehun. Tak lama lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami," ucapnya.
Sehun mengangguk kecil kemudian mengikuti arah pandang Tuan Shuhuan. Ia nyaris melompat karena kaget melihat Nyonya Haneul tahu-tahu sudah berlari mendekat dan langsung menangkup wajahnya.
"Aigo, wajah tampan calon menantuku dibanjiri keringat." Nyonya Haneul mengusap wajah Sehun penuh perhatian. Ia merengut lalu melirik tajam pada Yifan. "Kau sudah keterlaluan!"
Yifan enggan merespon karena terlalu fokus mengusap telinganya yang baru saja dijewer Nyonya Haneul.
"Kau baik-baik saja, Sehunnie?"
Sehun terkejut mendengar cara Nyonya Haneul memanggilnya, sama seperti Luhan. Tak terkecuali ekspresi wajah mereka.
"Ne, aku baik-baik saja ah—"
"Eomonim. Panggil aku eomonim, arraseo?"
Sehun berdeham pelan dan tersenyum, "Ne, eomonim."
"Aish, eomma benar-benar menyebalkan!" Yifan merengek sambil melempar bola basket ke sembarang arah. Beruntung Chanyeol lebih cepat menangkapnya sebelum bola itu menghilang entah ke mana.
"Kau yang menyebalkan, pabbo!" Zitao ikut menimpali. "Adikmu sakit dan berulang kali memanggil nama Sehun. Kau justru menahan penyembuhnya dengan tantangan konyolmu itu."
"Luhan sakit?!"
Semua orang memaklumi reaksi Sehun yang tampak terkejut atas kondisi Luhan. Tak terkecuali Chanyeol yang hanya bereaksi dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Hanya sedikit demam dan dehidrasi," tutur Zitao.
Penjelasan Zitao malah semakin menambah kekhawatiran Sehun terhadap Luhan.
"Abeoji, Eomonim, izinkan aku menemui Luhan. Aku tahu aku melakukan kesalahan padanya, tapi—" kalimat Sehun terputus saat ujung jari Nyonya Haneul berada di bibirnya.
"Kami sudah memaafkan kesalahanmu." Nyonya Haneul mengusap bahu Sehun, "Lagipula, kau sudah mendapatkan restu dari kami, Sehun. Kami menerimamu sebagai calon pendamping Luhan."
"Eomonim," Sehun memeluk erat Nyonya Haneul, sebelum beralih memeluk Tuan Shuhuan dan Zitao.
"Ya, ya, ya! Apa yang kau lakukan?!" Yifan menarik paksa Zitao yang masih berada di pelukan Sehun.
"Ma-maaf, Hyung. Aku hanya terlalu senang," balas Sehun dengan cengiran polos.
"Ck! Bilang saja kau mencuri kesempatan! Kulaporkan pada Luhan baru tahu rasa!"
PLETAK!
"Eomma!" Yifan kembali protes saat sang ibu memukul telak kepalanya.
"Sudah, jangan dengarkan ucapan anak ini. Pergilah temui Luhan," titah Nyonya Haneul yang segera diangguki Sehun penuh semangat. Semua orang terkekeh geli melihat kelakuan Sehun, kecuali Yifan yang masih sibuk mengusap kepalanya.
"Aneh. Dari mana kalian tahu kalau kami sedang bertanding basket?"
Yifan melirik Chanyeol yang tiba-tiba berubah kaku layaknya robot.
"Kau yang memberitahu mereka?!" selidik Yifan dengan nada meninggi.
Chanyeol meringis lebar dengan wajah polos, kemudian mengangguk kecil. Wajah Yifan berubah murka dan bergegas mengejar Chanyeol yang siap siaga menghindari amukannya.
"Ya! Ke sini kau, yoda jelek! Jangan harap bisa kabur dariku!"
"Ampun, Hyung!"
Zitao menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ajaib sang kekasih. "Kadang aku berpikir, mimpi apa aku bisa mempunyai kekasih seperti Yifan," tuturnya tanpa sadar jika ada calon mertua yang ikut mendengarkan.
"Bukan hanya kau saja," Nyonya Haneul ikut berpendapat, "Eomma juga bingung, dulu mengidam apa sampai memiliki anak seperti Yifan."
Tawa Tuan Shuhuan pecah, disusul tawa Zitao. Ketiga orang itu tertawa bersama-sama, apalagi saat melihat Yifan masih sibuk mengejar Chanyeol yang entah sudah melarikan diri ke mana.
Dalam hati mereka mengucap syukur. Masalah yang terjadi sepertinya akan terselesaikan dengan baik. Tentu ini menjadi harapan agar kebahagiaan segera menghampiri kehidupan keluarga mereka.
..
..
..
Mengikuti petunjuk Hyejin, Sehun melangkah kamar Luhan yang berada di lantai 2. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang masih berantakan setelah menerima tantangan bertanding basket dengan Yifan. Satu-satunya yang ada di kepalanya sekarang hanya Luhan. Sehun ingin secepatnya menemui wanita itu.
Sehun berhenti di depan kamar yang diyakini milik wanita itu, menarik kenop pintu lantas membukanya secara perlahan.
"Lu ..."
Sehun bergumam lirih, memanggil si pemilik kamar sampai ia mendapati sosok wanita yang terbaring lemah di atas ranjang. Hati Sehun mencelos, tidak kuasa menahan kesedihan melihat kondisi Luhan yang tidak terlalu baik. Pipi sedikit tirus dan wajah pucat pasi dengan butir-butir keringat di bagian pelipis.
Sehun menyesali egonya, hingga berakibat fatal pada orang-orang yang paling berharga dalam hidupnya, Luhan dan Haowen.
Tak ingin membuang waktu lagi, pria itu melangkah dengan tergesa-gesa mendekati ranjang tempat Luhan berbaring. Ia duduk di tepi ranjang, meraih tangan kanan Luhan, kemudian sedikit terkejut ketika merasakan suhu tubuh wanita itu yang terasa hangat. Kondisi yang tak jauh berbeda dengan Haowen.
"Apa yang sudah kulakukan ... ?" runtuk Sehun penuh penyesalan.
"Hiks ... Sehunnie ..."
Lirihan kecil yang lolos dari bibir Luhan membuat Sehun terkesiap. Pria itu menoleh, memandangi mimik wajah Luhan yang seolah sedang mengalami mimpi buruk karena terus-menerus memanggil namanya.
"Sehunnie ... kau harus percaya padaku ... hiks ..."
"Lu ..." Sehun mengusap lembut wajah Luhan, menghadiahi kecupan di setiap jengkal wajah wanita itu demi menyalurkan kerinduannya yang mendalam, "Bangunlah, Sayang. Aku di sini ..."
Layaknya sebuah mantra, perlahan mata rusa Luhan terbuka secara sempurna, hingga bertemu dengan mata elang Sehun yang menatapnya dengan sorot penuh kerinduan bercampur penyesalan.
"Se-Sehunnie?"
Menyadari reaksi tak percaya Luhan, Sehun mencium kening wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Ne, ini aku," Sehun membelai pipi Luhan yang terlihat sedikit tirus, "Maaf, aku datang terlambat."
"Hiks ... Sehunnie ..." Luhan menggenggam tangan Sehun dengan erat, "Aku percaya ... kau pasti datang ..."
Sehun tak kuasa lagi menahan air matanya yang mulai turun secara dramatis. Ia menundukkan kepala, kembali menciumi setiap jengkal wajah Luhan sambil merapalkan permintaan maaf berulang kali.
"Maaf, aku sudah meragukan perasaanmu ..." Sehun berujar lirih dengan penuh penyesalan, "Maaf, aku tidak percaya padamu ... maafkan aku ... maaf ..."
Luhan menggeleng kencang. Ia menangkup wajah Sehun dan menyeka cairan bening yang membasahi pipi pria itu.
"Bukan salahmu, Sehunnie." Luhan dengan sengaja menarik Sehun agar semakin merunduk, hingga bibirnya mampu menjangkau bibir pria itu. "Salahku yang harus mengikuti permainan konyol oppa ..."
Bibir Sehun melengkung sempurna, "Jadi kau memaafkanku?" tanyanya sambil membelai wajah Luhan, sekaligus menghapus jejak air mata sang kekasih.
Luhan mengangguk, "Aku tak pernah marah padamu, Sehunnie. Sejak awal, ini resiko yang harus kutanggung setelah menyetujui permainan oppa."
"Bagaimana jika seandainya aku tetap tidak datang menemuimu?"
"Aniya, aku percaya kau pasti akan datang menemuiku," Luhan menatap Sehun penuh arti, "Tidak peduli berapa lama harus menunggu, aku percaya kau akan datang setelah menemukan kebenarannya."
Hati Sehun tersentuh mendengar penuturan Luhan yang menurutnya kelewat polos. Ia mencium bibir semerah cherry yang amat ia rindukan, "Seandainya saja aku mendengarkan penjelasanmu lebih awal, hal ini tidak perlu terjadi. Aku merasa bersalah karena sudah membuat kau dan Haowen jatuh sakit seperti sekarang."
"Haowen sakit?!"
Sehun mengangguk, lantas meraih kedua tangan Luhan, "Tenanglah, kondisinya sudah membaik. Haowen terkena demam dan gangguan pencernaan. Salahku karena sudah memisahkan Haowen dari ibunya. Aku bahkan juga membuat ibunya jatuh sakit seperti ini. Maafkan aku ..."
"Berhenti menyalahkan dirimu Sehun. Kau tahu, orang yang paling bertanggung jawab atas semua ini adalah Yifan-oppa!"
Ekspresi kemarahan Luhan yang selalu membuatnya tampak lucu mengundang tawa Sehun.
"Dia hanya bermaksud menguji cintaku padamu, Sayang." Sehun membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di samping Luhan. Ia kembali terkekeh kala menyadari gerakan kecil yang ditimbulkan wanita itu saat mulai memeluk nyaman tubuhnya. "Kau tidak keberatan dengan penampilanku, hm?"
"Apapun itu, aku selalu menyukai aromamu, Sehunnie." Luhan tertawa kecil, "Tapi, kenapa kau berkeringat banyak sekali? Apa kau sakit?"
"Aniya, aku tidak sakit. Hanya ..." Sehun membelai kepala Luhan, "Aku baru saja selesai bertanding basket dengan kakakmu. Dia menantangku untuk berduel satu lawan satu sebelum aku datang menemuimu."
"MWO?!" Mata Luhan melotot horor, "Yifan-oppa ... menantangmu bertanding basket?"
"Ne," Sehun melesakkan kepalanya di ceruk leher Luhan, "Score kami seri dan pertandingan berhenti setelah ibumu menarik kaki Yifan-hyung yang berniat memasukkan bola ke dalam ring. Beruntung kakakmu tidak terjatuh karena berhasil menahan keseimbangan."
"Jinjja? Ish, seharusnya aku ada di sana."
"Kenapa? Kau 'kan sedang jatuh sakit?"
"Supaya aku bisa membantu eomma menarik kaki Yifan-oppa yang satunya lagi. Dengan begitu, oppa akan terjatuh dan aku akan tertawa puas melihatnya," jawab Luhan santai dengan mata mengerjap imut.
Tawa Sehun pecah. Kini ia mengerti dari mana sifat jahil Yifan maupun Luhan menurun.
Rupanya dari sang calon ibu mertua.
..
..
..
Setelah melepas rindu satu sama lain, Sehun menyuapi Luhan dengan hidangan bubur, mengingat wanita itu tidak makan dengan baik selama beberapa hari belakangan ini. Pria itu sudah mengganti penampilannya dengan setelan kasual, hasil dari meminjam pakaian calon kakak iparnya. Tentu dengan paksaan Luhan yang menuding Yifan orang yang paling bertanggung jawab karena sudah membuat Sehun kelelahan.
Melihat Luhan begitu lahap menyantap bubur buatan Zitao, Sehun sesekali tertawa kecil.
"Woah, kenyang sekali~" Luhan menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. "Sehunnie haus~"
Sehun mencubit gemas pipi Luhan. Meski selalu tampak dewasa, Sehun sangat menyukai sisi manja wanita itu yang jarang diumbar di depan umum.
"Minum pelan-pelan," ujar Sehun sembari membantu Luhan meneguk minumannya.
"Sehunnie, setelah ini kita ke rumah sakit, ne? Aku ingin melihat keadaan Haowen," pinta Luhan sambil memasang puppy eyes.
"Kau masih harus beristirahat, Sayang."
"Aniya, aku sudah merasa lebih baik setelah makan dan minum," Luhan beringsut memeluk Sehun, "Dan juga setelah kau datang menemuiku."
"Aigo, sejak kapan aku mempunyai rusa kecil yang sangat manja, hm?"
Luhan tertawa kecil, lantas duduk di pangkuan Sehun. Menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku rindu sekali dengan Haowen, Sehunnie."
"Aku tahu." Sehun mengusap punggung Luhan, "Haowen pun sangat merindukanmu."
"Bagaimana dengan ayahnya? Apa dia juga merindukanku, hm?" tanya Luhan sembari mengedipkan sebelah mata dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun.
"Tak perlu kau tanyakan lagi."
Cup!
Mata Luhan mengerjap polos.
"Aku sangat merindukanmu, Sayangku," bisik Sehun seduktif di telinga Luhan, kemudian beralih mencium tengkuk wanita itu. "Aku benar-benar kesal karena ternyata seluruh anggota keluargaku sudah tahu siapa Yifan-hyung."
"Haowen juga!"
"Ya, Minseok-noona dan Jongdae-hyung juga!" Sehun semakin bersemangat menggoda Luhan, "Aish, kalian tega sekali padaku."
"Hentikan! Kau membuatku geli, Sehunnie~"
Sehun mengabaikan protesan Luhan, malah semakin melesakkan kepalanya di leher Luhan.
CKLEK!
"EHEM!"
Menyadari seseorang yang baru saja datang, secepat kilat Luhan melompat dari pangkuan Sehun. Sementara pria itu langsung bangkit dari ranjang. Pasangan kekasih itu meringis lebar kala mendapati Yifan sudah berdiri di dekat kusen pintu lengkap dengan wajah garang dan tangan bersedekap di depan dada.
"Aku hanya ingin mengingatkan jika kalian belum resmi menikah," nada peringatan yang penuh amarah itu meluncur dari bibir Yifan yang bersungut-sungut. "Kau benar-benar sudah mengubah rusa kecilku menjadi rusa liar yang mesum, Tuan Oh."
"Oppa!"
Luhan memekik protes dengan wajah merah padam. Sementara Sehun hanya tersenyum lebar tanpa dosa.
"Apa? Aku memang benar 'kan?" Yifan menggelengkan kepalanya, "Coba kalian bayangkan jika aku tidak segera datang, sudah pasti kau habis diterkam serigala mesum seperti dia!"
PLETAK!
"Ouch!" Yifan meringis kesakitan lantaran ada seseorang yang memukul bagian belakang kepalanya. Ekspresi kemarahan yang sempat tergambar di wajah, perlahan berubah menjadi rengekan manja khas anak kecil.
"Zizi, kenapa kau memukul kepalaku?"
Zitao memutar bola matanya jengah, lalu sekilas mengumbar senyum pada Sehun dan Luhan sebelum beralih kembali pada sang kekasih.
"Kau mengatai Sehun mesum, memangnya kau sendiri tidak?"
"Pfft~"
Yifan melotot pada Luhan yang menahan tawa di atas ranjang. "Apa yang kau tertawakan?!"
"Hihi, Oppa benar-benar lucu sekali." Luhan meraih tangan Sehun, "Lihatlah, Sehunnie. Kurasa kita sudah menemukan pawang yang bisa mengendalikan naga jahil dan mesum ini."
Ucapan Luhan yang begitu polos sukses membuat tawa Sehun pecah. Namun secepat kilat ia menutup mulutnya rapat-rapat kala mendapat pelototan tajam dari Yifan.
"Kalian memang—akh!" Yifan kembali memekik kesakitan, "Apa yang kau lakukan, Zi? Lepaskan tanganmu! Kau membuat telingaku sakit!"
"Ini hukuman dariku karena kau sudah sangat berlebihan mengerjai calon adik iparku!" Zitao menyeret paksa Yifan untuk keluar, tanpa peduli pria berperawakan jangkung itu merengek seperti anak kecil. Lagi-lagi Yifan harus merelakan telinganya mendapat jeweran manis. Jika sebelumnya dari sang ibu, sekarang dari kekasihnya sendiri.
Beberapa detik selanjutnya, Zitao kembali muncul di kamar Luhan dengan senyuman lebar.
"Ah, aku hampir saja lupa. Sebaiknya kalian pergi ke ruang tengah," Zitao melirik Sehun, "Anggota keluargamu sudah datang, Sehun."
"Anggota keluargaku?"
Zitao mengangguk, "Cepatlah. Jangan membuat mereka menunggu terlalu lama," ucapnya mengingatkan sebelum keluar dari kamar Luhan.
"Sehunnie, apa terjadi sesuatu?"
Luhan bertanya dengan wajah kebingungan. Namun ia hanya mendapati kekasihnya itu menggelengkan kepala.
"Sebaiknya kita segera temui mereka. Kajja."
Sehun dengan cepat menarik Luhan keluar meninggalkan kamar. Hatinya berdebar-debar. Kira-kira ada tujuan apa anggota keluarganya mendatangi rumah orang tua Luhan?
..
..
..
"Ah, mereka datang ..."
Sambutan hangat Tuan Shuhuan membuat Sehun dan Luhan yang baru tiba di ruang tengah semakin bingung. Terlebih mereka mendapati keberadaan orang tua Sehun bersama Yunho dan Jaejoong, sedang mengobrol akrab bersama anggota keluarga Luhan.
"Sehunnie ..."
"Aku tidak tahu mereka akan datang ke sini," bisik Sehun, lantas menggandeng Luhan untuk duduk di sofa yang kosong.
Luhan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Sehun ketika menyadari semua orang secara kompak memandang ke arahnya. Refleks, ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun yang mengundang pekikan heboh para wanita.
"Kalian membuatnya malu," tutur Sehun sambil menghela napas, "Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?"
"Tentu saja untuk membahas rencana pernikahanmu dengan Luhan," jawab Yunho santai.
Sehun terdiam, begitu pun Luhan yang sontak menatap Yunho dengan sorot mata bertanya.
"Apa maksudmu, Oppa?" tanya Luhan bingung.
Yunho melirik orang tuanya, lalu beralih pada Jaejoong. Ketiga orang itu sama-sama menganggukkan kepala, seolah memberinya izin untuk menjelaskan perihal kedatangan mereka ke rumah orang tua Luhan.
"Kami akan menjelaskan semuanya, tapi kuminta pada kalian untuk mendengarkan sampai tuntas tanpa menyela. Arraseo?"
Sehun dan Luhan mengangguk kompak.
"Begini ... aku dan Jaejoong tidak jadi menikah minggu depan. Kondisi ayah Jaejoong sedang tidak stabil dan beliau harus menjalani pengobatan di Jepang. Hal ini membuat pernikahan kami terpaksa ditunda sampai kondisi ayah Jaejoong pulih sepenuhnya," ucap Yunho lantas memandangi Jaejoong yang segera diangguki wanita itu.
"Kami tidak bisa membatalkan kerjasama dengan berbagai pihak yang sudah turut membantu untuk acara pernikahan kami. Mengingat persiapan sudah mencapai 95% dan sesuai rencana semula akan diadakan minggu depan. Setelah berbicara dengan Yifan, kami sepakat jika yang akan menikah minggu depan adalah kalian berdua," lanjut Jaejoong.
"MWO?!"
Semua orang terkikik geli melihat reaksi Sehun dan Luhan yang sudah mereka perkirakan.
"Ka-kalian bercanda?" Sehun menatap tak percaya pada semua orang, "Aku dan Luhan menikah minggu depan?"
"Ne. Kalian tidak perlu memikirkan masalah busana pengantin karena aku sudah menyiapkannya untuk kalian berdua. Termasuk undangan yang sudah kami perbaharui dengan nama kalian," Jaejoong menyodorkan sebuah amplop dengan warna perak ke hadapan Sehun dan Luhan. Pasangan sejoli itu tampak takjub saat melihat isi undangan—tepatnya nama mereka yang sudah tertera di sana dengan tulisan yang amat cantik.
"Wow, aku tidak percaya," Sehun masih terlihat linglung dengan kejutan yang baru saja ia terima, "Bagaimana bisa kalian menyiapkan ini semua?"
"Kau masih ingat saat aku menyuruhmu menemani Kyungsoo menemui pihak wedding orginizer beberapa waktu lalu?" tanya Yunho mengingatkan. Ia tersenyum melihat reaksi polos Sehun yang mengangguk kecil.
"Mungkinkah waktu itu—"
"Ne. Kyungsoo yang sudah menyampaikan pada mereka bahwa nama pasangan yang akan menikah diganti," Yunho memandangi semua orang sejenak yang tampak tersenyum bahagia, "Oh Sehun dan Xi Luhan."
Sehun tak kuasa lagi menahan rasa bahagianya. Ia langsung memeluk Luhan dengan sangat erat. Wanita itu meneteskan air mata bahagia atas kejutan manis yang baru saja mereka peroleh.
"Sehunnie ..."
"Kau bahagia?" tanya Sehun sembari menangkup wajah Luhan.
"Eung, aku sangat bahagia." Luhan membelai wajah Sehun, "Benarkah kita akan segera menikah?"
"Ne, kita akan segera menikah, Sayangku."
Sehun berniat mencium bibir Luhan setelah mendapati mata wanita itu terpejam. Kalau saja—
"Kami masih ada di sini jika kalian tidak lupa."
—Yifan tidak mengeluarkan suara sumbang yang berhasil mencegah aksi ciumannya.
Sehun dan Luhan bersikap kikuk ketika semua orang memandangi mereka dengan seringaian jahil. Terutama Yifan yang berkoar pertama kali.
"Kau tidak boleh protes pada calon kakak iparmu, Sehun," ucap Yunho mengingatkan. "Kalian harus berterima kasih padanya karena dialah yang sudah memberikan ide agar kalian menikah minggu depan. Juga sebagai bentuk kejutan manis untuk kalian berdua."
Senyum mengembang di bibir Sehun. Ia menoleh pada Yifan, "Terima kasih, Hyung."
Belum sempat melihat anggukan Yifan, semua orang dikejutkan dengan sikap Luhan yang tiba-tiba sudah berlari menghampiri pria itu, lantas mencubit pipi Yifan tanpa ampun.
"Apa yang kau lakukan?!" protes Yifan sambil mengusap pipinya yang memerah.
"Ini hukuman karena kau sudah mengajak Sehun duel bertanding basket."
Cup!
Semua orang melongo melihat Luhan mencium pipi Yifan yang memerah.
"Dan ini hadiah karena kau sudah memberikan kejutan manis untuk kami," bisik Luhan sambil terkekeh geli.
Gelak tawa memenuhi seisi rumah. Mereka tidak sanggup menahan rasa gemas kala melihat Luhan begitu imut duduk kembali di pangkuan Sehun.
Nyonya Haneul tersenyum bahagia, lantas mengusap lengan Zitao yang duduk di sebelahnya.
"Inikah yang kau maksud dengan kejutan yang sudah disiapkan Yifan?"
Zitao mengangguk, "Apa Eomonim suka?"
"Sangat. Aku tidak menyangka putri kecilku akan segera menikah," Nyonya Haneul mengusap sudut matanya yang nyaris meneteskan air mata, "Tapi, bagaimana denganmu? Tidak apa-apa membiarkan Sehun dan Luhan menikah lebih dulu?"
"Ini sudah keputusan Yifan. Kami sama sekali tidak keberatan, Eomonim." Zitao beralih memandangi Yifan yang kembali berbuat jahil pada Luhan, tapi beruntung berhasil dilindungi oleh Sehun. Alhasil kekasihnya itu malah menjahili pasangan kekasih yang akan segera mengingat janji suci pernikahan mereka minggu depan.
"Lagi pula, Sehun pantas menerima hadiah ini setelah berhasil meyakinkan Yifan bahwa dia layak menjadi pendamping hidup Luhan," lanjut Zitao seraya tersenyum. Membuat Nyonya Haneul semakin bahagia dan lekas menghambur dalam pelukan sang suami.
Chanyeol yang sedari tadi melihat pemandangan dua keluarga yang sedang berbahagia itu tampak mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan sebuah pesan yang akan dikirim untuk Baekhyun.
To : My Baekkie
Rusa kesayangan kita akan segera menikah dengan serigala mesum
..
..
..
"Kau yakin ingin ikut ke Seoul?"
Luhan mengangguk mantap, "Aku ingin bertemu Haowen, Sehunnie."
"Mintalah izin dulu pada abeoji dan eomonim," kata Sehun mengingatkan.
Mendengar ucapan Sehun. Luhan menoleh dan memandangi orang tuanya yang berdiri di dekat pintu. Semula mereka berniat mengantar kepulangan Sehun dan Chanyeol, sementara anggota keluarga pria itu sudah pulang lebih dulu usai makan malam.
"Appa, Eomma~"
Sekali lagi, Luhan mengandalkan sorot mata layaknya puppy yang selalu terbukti ampuh meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Meski kami larang kau akan tetap memaksa pergi 'kan?" Nyonya Haneul berdecak kesal, "Baik, kau boleh ikut. Tapi janji setelah itu harus beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat. Ingat, minggu depan kau akan menikah dengan Sehun."
"Yeay! Eomma yang terbaik!" Luhan melompat gembira dan segera memeluk ibunya erat.
"Bagaimana dengan appa?"
Luhan terkikik geli, "Appa juga yang terbaik," serunya gembira.
"Lu—"
"Aku tahu!" Luhan memotong ucapan Yifan yang memanggil namanya. "Oppa dan Zitao-eonni juga terbaik! Kalian semua yang terbaik!"
Semua orang tertawa kecil melihat tingkah laku Luhan yang berubah seperti anak-anak.
"Sehun?"
Sehun yang tengah membantu Luhan masuk ke dalam mobil, menengok ketika merasakan tepukan Yifan di bahunya. Ia terharu melihat pria itu tersenyum tulus padanya.
"Jangan rusak kepercayaanku padamu. Kau harus bisa membahagiakan dan melindungi adikku," tutur Yifan.
Sehun mengangguk, "Aku mengerti. Terima kasih, Hyung."
Yifan kembali tersenyum lantas mundur ke belakang. Tepatnya ke sisi Zitao yang langsung memeluknya.
"Kami pergi dulu," pamit Sehun usai membalas pelukan Tuan Shuhuan dan Nyonya Haneul. Ia duduk di samping kemudi yang nantinya akan dipakai Chanyeol.
"Berhati-hatilah," ucap Nyonya Haneul mengingatkan.
"Ne, Ahjumma." Chanyeol membungkuk sopan, sebelum menyusul Sehun dan Luhan yang sudah berada di dalam mobil. Perlahan kendaraan beroda empat itu mulai melaju meninggalkan kediaman keluarga Xi.
.
.
Chanyeol tidak bisa menemani Sehun dan Luhan menemui Haowen yang sedang dirawat. Ia harus secepatnya pulang karena tak tega membiarkan Baekhyun sendirian di apartemen mereka. Sebelum Chanyeol pergi, pasangan kekasih yang sedang bahagia itu mengucapkan terima kasih pada Chanyeol karena sudah mengantar mereka kembali ke Seoul.
"Oppa, Eonni ..."
Kemunculan Sehun bersama Luhan di rumah sakit membuat pasangan Jongin dan Kyungsoo terkejut. Keduanya tidak mengira jika Sehun akan datang bersama Luhan. Sebab mereka sudah mendapat kabar dari Yunho jika Luhan masih pemulihan lantaran kondisinya sempat menurun.
"Eonni, bukankah kau sedang sakit?" tanya Kyungsoo memastikan.
"Aku baik-baik saja, Kyungie," jawab Luhan usai membalas pelukan Kyungsoo. "Kalian di sini untuk menjaga Haowen?"
Jongin dan Kyungsoo mengangguk kompak.
"Bagaimana kondisi Haowen?" tanya Sehun was-was.
"Sudah membaik, Hyung. Meskipun nafsu makannya belum pulih sepenuhnya. Paling tidak dia sudah mau makan dan meminum obat sesuai anjuran dokter," tutur Jongin. "Oh iya, saat Haowen sadar tadi, dia beberapa kali menanyakan keberadaan kalian. Khususnya kau, Noona."
Wajah Luhan berubah sedih mendengar penuturan Jongin. Sehun yang melihatnya pun refleks memeluk Luhan.
"Terima kasih sudah menjaga Haowen," Sehun melirik sekilas pada Kyungsoo, "Kau juga, Kyungie. Terima kasih sudah turut andil untuk rencana pernikahan kami."
Jongin maupun Kyungsoo sama-sama tersenyum menanggapi pernyataan Sehun.
"Ini memang sudah tugasku, Oppa." Kyungsoo menggenggam tangan Sehun dan Luhan, "Kudoakan semoga kalian hidup bahagia."
"Kyungie~" Luhan tak kuasa lagi menahan air mata haru dan segera memeluk Kyungsoo.
"Aigo, jangan menangis, Eonni." Kyungsoo mengusap punggung Luhan kala mendengar isakan kecil wanita itu. "Aku tidak percaya, akhirnya kau benar-benar akan menjadi kakak iparku."
Luhan tertawa geli mendengar ucapan Kyungsoo, lantas melepas pelukan mereka dan kembali ke sisi Sehun.
"Kalian boleh pulang dan beristirahat. Sekali lagi, terima kasih sudah menjaga Haowen," Sehun menepuk bahu Jongin, "Sampaikan salamku untuk Taeoh."
"Kurasa dia sekarang sedang merengek karena tidak ada Kyungsoo saat jam tidurnya," Jongin tergelak membayangkan reaksi Taeoh yang sedang dititipkan sementara waktu di rumah ibunya. "Baiklah, kami pergi dulu, Hyung."
Sehun mengangguk, "Hati-hati di jalan," ucapnya sambil melambaikan tangan pada pasangan itu yang mulai melangkah meninggalkan kamar rawat Haowen.
Luhan dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil yang sedang terkulai lemah di atas ranjang pasien. Wanita itu berjalan mendekati sisi ranjang, menarik sebuah kursi untuk ia duduki. Luhan meraih tangan Haowen dan mengusap kepala anak itu dengan penuh kerinduan.
"Hiks ... Eomma ..."
Luhan melirik Sehun yang sedari tadi ikut diam. Dua orang dewasa itu merasa bersalah dan tidak tega atas apa yang dialami Haowen hanya karena pertengkaran mereka.
"Sehunnie ..."
"Tak apa. Biar aku saja, Lu." Sehun mengambil alih posisi Luhan, kemudian mengusap lembut wajah sang putra. "Haowen?"
Luhan meremas kedua tangannya yang tertaut sempurna di depan dada. Sambil menggigit bibir, ia menunggu reaksi Haowen yang hendak dibangunkan Sehun.
"Haowen?"
Merasakan sesuatu menyentuh kulitnya, Haowen mulai membuka mata dan sedikit memiringkan kepalanya. "Appa ..."
"Ne, ini appa." Sehun tersenyum manis, "Apa Haowen menginginkan sesuatu?"
Haowen mengangguk, "Haowen ingin Eomma ... Haowen rindu Eomma ... hiks ..."
Sehun melirik Luhan yang berusaha mati-matian menahan air matanya. Lantas kembali memandangi Haowen yang tampaknya belum menyadari keberadan wanita itu.
"Haowen, appa minta maaf sudah bersikap buruk selama beberapa hari terakhir." Sehun membelai kepala Haowen, "Haowen mau 'kan memaafkan appa?"
Haowen mengangguk kecil. Sehun tersenyum melihatnya.
"Haowen memang anak yang baik," Sehun mengecup kening putranya cukup lama, "Lihat, appa punya kejutan untuk Haowen."
Mata Haowen mengerjap lucu. "Kejutan?"
Sehun menoleh ke samping. Haowen mengikuti arah pandangan Sehun, hingga ia menemukan sosok wanita yang terlihat mengusap kedua matanya yang terlanjur meneteskan air mata.
"Eomma ..." mata Haowen mulai berkaca-kaca, terlebih saat mendapati senyuman Luhan yang sangat ia rindukan.
"Ne, Sayang?"
"Hiks ... Eomma ... " Haowen mengulurkan tangannya pada Luhan, "HUWAAAA ... EOMMA~"
Secepat kilat Luhan segera duduk di tepi ranjang berseberangan dengan Sehun. Ia meraih tubuh Haowen. Anak itu masih menangis kejer walau sudah berada dalam pelukan Luhan.
"Ssshh ... sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, ne?" bujuk Luhan seraya mengusap punggung Haowen yang masih bergetar hebat.
"Hiks ... Eomma jangan pergi lagi ... hiks ..."
"Ne, eomma tidak akan pergi lagi, Sayang," Luhan beralih mengusap kepala Haowen.
"Haowen rindu sekali sama Eomma ..." cicit Haowen lengkap dengan isakan tangis yang masih tersisa.
Luhan tersenyum penuh haru. "Eomma juga rindu sekali sama Haowen," balasnya sambil mengecup pucuk kepala Haowen, lantas sedikit memposisikan diri agar mereka saling menatap satu sama lain.
Luhan memandangi tangan Haowen yang dipasangi selang infus. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Haowen kesakitan karena alat tersebut. Tanpa sadar air matanya kembali menetes.
"Eomma jangan menangis," tangan Haowen mengusap cairan bening yang membasahi wajah Luhan.
"Apa ini sakit?" tanya Luhan sembari menunjuk tangan Haowen yang dipasangi selang infus.
Haowen menggeleng lantas tersenyum lebar, "Sudah tidak lagi. Karena sekarang ada Eomma di sini," jawabnya polos.
Luhan ikut tersenyum, kemudian mengusap jejak air mata Haowen. Ia kembali mencium kening Haowen dan membuat anak itu tertawa kecil.
Sehun yang sedari tadi melihat interaksi keduanya tak kuasa menahan air mata bahagia.
"Apa Haowen senang dengan kejutan dari appa?"
"Eung, Haowen senang sekali, Appa~" Haowen memberi isyarat pada Sehun agar mendekat, kemudian mencium pipi sang ayah, "Terima kasih sudah membawa Eomma pulang ..."
Sehun terkekeh dan balas mencium pipi Haowen, "Tak lama lagi keinginan Haowen akan segera terwujud," ucapnya dan sukses memunculkan kerutan samar di kening anak itu.
"Minggu depan appa dan eomma akan menikah, Sayang," lanjut Luhan disertai senyuman.
"JINJJA?!" Sesuai dugaan, Haowen langsung duduk tegak setelah bermanja ria di pangkuan Luhan. Melihat kedua orang dewasa itu mengangguk kompak, Haowen pun berteriak gembira.
"HOREEE!" Haowen mengangkat kedua tangannya, "Appa dan Eomma akan menikah!"
Cepat-cepat Luhan menurunkan tangan Haowen supaya darah tidak masuk ke selang infus. Sehun tertawa kecil melihat luapan kegembiraan putranya.
"Jadi, Appa dan Eomma bisa secepatnya memberikan Haowen adik?"
Desahan kecil lolos dari bibir Luhan. Astaga, Haowen tampaknya benar-benar sudah tidak sabar ingin segera mempunyai adik.
"Ne, secepatnya kami akan memberikan adik untuk Haowen," jawab Sehun sembari menaik-turunkan alisnya saat melihat wajah datar Luhan.
"YEAY!" Haowen melirik Luhan yang sedari tadi masih betah membisu. "Eomma, bolehkah jika Haowen meminta adik kembar?"
Mata Luhan berkedip-kedip. "Adik kembar?"
"Eung, satu laki-laki dan satu perempuan," tiba-tiba Haowen melirik sekilas pada Sehun yang tengah menyeringai lebar, "Tapi Haowen mau wajah adik kembar nanti mirip Eomma semua."
"Eh, kenapa?" Sehun menoleh kaget, "Wajah appa 'kan tampan."
"Aniya, Haowen lebih tampan dari Appa," sahut Haowen polos.
"YAH!"
Tawa Haowen pecah dan seketika anak itu menghambur ke pelukan Luhan. Menyadari sang anak sedang menggodanya, Sehun membalas dengan gelitikan yang membuat anak itu menggeliat kegelian.
"Hahahaha ... Appa, stooooop!"
"Sehun!"
Pria berkulit pucat itu baru berhenti setelah mendengar suara peringatan Luhan yang menurutnya sangat menggemaskan. Tanpa ragu, Sehun mendaratkan satu kecupan singkat di bibir wanita itu. Membuat Luhan hanya mengedip-ngedipkan matanya polos sebelum berganti dengan wajah garang. Untung saja Haowen tidak melihat lantaran wajahnya tersembunyi di balik pelukan Luhan.
"Ish, kau memang senang mencuri kesempatan dalam kesempitan," desis Luhan sembari melotot tajam.
"Mau bagaimana lagi, bibirmu itu terlalu menggoda jika dibiarkan begitu saja," balas Sehun santai.
Luhan mendelik, tapi setelahnya tertawa kecil melihat raut bahagia Sehun. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Sementara tangannya mengusap punggung Haowen yang perlahan mulai tertidur nyaman di pangkuannya.
"Hari ini aku belum mengatakannya," Sehun kembali mencium bibir Luhan, "Saranghae ..."
"Nado saranghae, Sehunnie," balas Luhan sembari menyamankan posisinya dalam pelukan Sehun. "Sebelum kita menikah, aku ingin pergi ke suatu tempat."
Sehun menoleh dengan kedua alis tertaut sempurna, "Kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Ne," Luhan menyamankan posisinya dalam rangkulan Sehun. Bisikan wanita itu membuat tubuh Sehun menegang.
"Aku ingin bertemu dengan Hanna ..."
..
Not Just Babysitter
..
Dua hari Haowen menjalani perawatan di rumah sakit. Ia sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan sehat oleh dokter. Sesuai rencana, Sehun berniat membawa Luhan dan Haowen pergi mengunjungi makam Hanna.
Sebelumnya, Sehun mengajak keduanya pergi menemui orang tua Hanna terlebih dahulu. Berniat mengantarkan undangan pernikahan sekaligus meminta restu. Luhan bersyukur orang tua Hanna menerimanya sebagai pendamping hidup Sehun, sekaligus meneruskan tanggung jawab Hanna untuk membesarkan Haowen.
"Sehun tidak salah memilih pasangan. Kau pantas untuk menjadi istrinya dan juga ibu bagi cucu kami, Haowen. Hanna pasti senang atas kedatangan kalian."
Itulah yang diucapkan ibu Hanna setelah cukup lama mengobrol untuk mengenal kepribadian Luhan lebih dekat lagi.
Sepanjang perjalanan, Haowen duduk manis di pangkuan Luhan. Beberapa kali anak itu melempar lelocan yang membuat Sehun dan Luhan tertawa.
Membutuhkan waktu sekitar 30 menit, mereka akhirnya sampai di area pemakaman yang berada di pinggiran kota Seoul. Luhan tampak menggandeng Haowen, sementara Sehun membawakan buket bunga anyelir putih yang merupakan bunga kesukaan Hanna. Ia meraih sebelah tangan Haowen sebelum mengulum senyum pada Luhan. Ketiganya berjalan beriringan menyisiri deretan batu nisan yang berjejer rapi di area pemakaman.
Mereka berhenti di depan batu nisan yang bertuliskan nama 'Kim Hanna'. Sehun meletakkan buket bunga tersebut, lantas melakukan penghormatan untuk mendiang istrinya. Haowen mengikuti gerakan ayahnya, diikuti Luhan sesudah mereka.
"Hanna, aku datang ..." Sehun tersenyum seraya memandangi batu nisan yang bertuliskan nama mendiang istrinya. "Kali ini aku datang bersama Haowen, dan ... seseorang yang akan melanjutkan tugasmu. Dia akan mendampingiku seumur hidup dan juga menjaga Haowen, putra kita."
Luhan tak kuasa menahan air matanya ketika Sehun meliriknya, memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.
"Senang bertemu denganmu, Hanna," Luhan sesekali menghela napas dan mengusap air matanya, "Namaku Xi Luhan. Mulai sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi pada Sehun dan Haowen. Aku akan melanjutkan tugasmu. Aku berjanji akan selalu berada di sisi mereka untuk selamanya."
Sehun merangkul Luhan dan mengusap punggung wanita itu.
"Haowen, ayo beri salam pada eomma," titah Sehun yang segera diangguki Haowen.
"Eomma, ini Haowen. Sekarang Haowen sudah tumbuh besar dan lebih tampan dari Appa," kekeh Haowen di akhir kalimat yang mengundang senyuman Sehun dan Luhan.
"Eomma tidak perlu khawatir lagi. Sekarang ada Luhan-eomma yang akan menemani Appa dan Haowen. Oh iya, nanti ada adik Haowen juga yang akan menemani. Jadi Haowen tidak kesepian lagi. Hihi~"
Sehun mengusap gemas kepala Haowen. Ketiganya pun bangkit berdiri dari posisi mereka, masih menyelami suasana area pemakaman yang terasa tenang dengan semilir angin yang mulai menerpa kulit tubuh mereka.
"Kami pergi dulu. Semoga kau tenang di sana, Hanna ..." ucap Sehun sebagai tanda berpamitan.
"Appa, Haowen mau pipiiiis~"
Suasana berubah kocak karena teriakan polos Haowen. Secepat kilat Sehun menggendong Haowen dan terpaksa sedikit berlari meninggalkan area pemakaman. Luhan tertawa kecil melihat tingkah polos Haowen dan wajah panik Sehun.
"Terima kasih ..."
Langkah Luhan terhenti ketika ia mendengar suara bisikan lembut di sekitarnya. Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada siapapun di sana. Luhan kembali berjalan menyusul Sehun dan Haowen yang sudah cukup jauh di depannya.
"Kutitipkan Sehun dan Haowen padamu, Luhan ..."
Tepat saat kalimat itu bermuara di telinganya, Luhan menoleh ke belakang. Ia terperangah saat melihat sosok tak kasat mata di dekat makam Hanna. Wanita dengan gaun panjang warna putih. Rambutnya yang panjang warna hitam legam terurai bebas, ditambah wajah yang luar biasa cantik dan senyuman yang sangat mempesona.
Luhan tahu betul siapa sosok wanita itu, karena ia sudah melihat fotonya saat mengunjungi orang tua Hanna.
"Tolong jaga mereka untukku ..."
Luhan mengangguk kecil. Dibandingkan rasa takut, ia justru terharu bisa bertemu dengan Hanna. Meskipun melalui visual sosok tak kasat mata dan sedikit aura mistis.
"Aku berjanji akan menjaga mereka untuk selamanya," sahut Luhan lirih.
Perlahan bayangan sosok Hanna menghilang bersama sapuan angin yang sedikit kencang namun tetap terasa lembut. Sebelum menghilang, Luhan bisa melihat senyum penuh kelegaan di wajah wanita itu.
"EOMMA!"
Seruan Haowen membuyarkan lamunan Luhan. Ia menoleh, mendapati Haowen dan Sehun melambaikan tangan kepadanya. Luhan tersenyum dan bergegas menyusul keduanya.
Ia bergumam dalam hati, akan merahasiakan pertemuannya dengan Hanna barusan dari siapapun.
"Terima kasih, Luhan. Semoga kau bahagia bersama Sehun ..."
..
Not Just Babysitter
..
Hari pernikahan Sehun dan Luhan akhirnya tiba.
Ketegangan mendominasi wajah Luhan yang baru saja selesai dirias. Wanita itu mencengkeram kuat buket bunga yang ada di tangannya, sambil membiarkan dua asisten Jaejoong merapikan busana pengantin yang sudah ia kenakan. Jaejoong yang sejak tadi menunggu dan mengawasi prosesi persiapan Luhan di ruang pengantin wanita, tak kuasa menahan rasa geli.
"Kau terlihat gugup sekali, Lu ..." ucapnya pelan lantas tersenyum pada Zitao dan Kyungsoo yang baru saja masuk.
"OMO!" Kyungsoo sedikit berlari menghampiri Luhan, "Astaga, kau benar-benar cantik sekali, Eonni!"
"Jinjja?"
Ketiga wanita itu tertawa mendengar pertanyaan polos Luhan.
"Kami tidak bohong. Kau benar-benar cantik seperti bidadari," Zitao mengusap bahu Luhan, "Jaejoong-eonni tidak salah memilih gaun pengantin untukmu."
Jaejoong tersenyum, "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sehun nanti setelah melihat dirimu," bisiknya genit.
"Oh, sudah pasti oppa tidak sabar ingin segera membawa Eonni ke kamar," celetuk Kyungsoo yang disambut tawa Zitao dan Jaejoong.
"Kyungie!"
Kyungsoo terkekeh pelan seraya mengangkat dua jarinya membentuk v-sign.
"Woah, aku tidak menyangka akhirnya bisa melihatmu memakai gaun pengantin, Lulu!"
Luhan menoleh lantas memekik heboh melihat kedatangan Baekhyun. Ia memeluk wanita itu dengan senyuman bahagia. Terlebih saat ia melihat pasangan Jongdae, Minseok, dan Daeul yang datang menyusul Baekhyun.
"Selamat atas pernikahanmu, Lu." Minseok memeluk Luhan kemudian tersenyum pada lainnya.
"Terima kasih, Eonni." Luhan menatap gemas pada Daeul yang berada dalam gendongan Jongdae. "Aigo, Daeul tampan sekali. Seperti ayahnya."
Jongdae terkekeh, "Sepertinya kau harus bergegas, Lu. Sehun sudah menunggumu di altar bersama Yunho-hyung dan Yifan-hyung."
"Jinjja?"
Belum sempat Jongdae menjawab, pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini memperlihatkan Nyonya Haneul yang datang bersama Tuan Shuhuan, Haowen, dan Jiyoon.
Perhatian Luhan langsung tertuju pada dua anak yang tampil mempesona dalam balutan jas dan gaun warna putih. Haowen dan Jiyoon rencananya akan menjadi pengiring saat Luhan memasuki altar. Keduanya terlihat tampan dan cantik. Sangat serasi.
"Luhan-ssaem cantik sekali," puji Jiyoon dengan mata berbinar-binar. Haowen yang berdiri di sebelahnya mengangguk setuju.
"Ne, Eomma cantik sekali," Haowen melirik Jiyoon, "Jiyoon juga, hehe~"
Wajah Jiyoon tersipu malu mendengar pujian Haowen, "Haowen juga tampan. Sama seperti Sehun-ahjussi."
"Aniya, Haowen lebih tampan dari appa, Jiyoonnie ..."
Semua orang dewasa terdiam mendengar percakapan polos Haowen dan Jiyoon. Terlebih melihat bagaimana interaksi kedua anak itu yang terkesan malu-malu, tapi sangat menggemaskan.
"Aigo, kurasa keponakanku sudah menemukan cinta pertamanya," ucap Kyungsoo cukup keras dan mengundang senyuman semua orang.
"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Tuan Shuhuan.
"Ne, Appa," Luhan berdiri dibantu Zitao dan Jaejoong. Lantas berjalan pelan menghampiri ayahnya.
Nyonya Haneul tak kuasa menahan haru melihat penampilan Luhan yang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin.
"Putri kecil eomma sebentar lagi akan menikah," tutur Nyonya Haneul.
"Eomma ..." Luhan tanpa sadar meneteskan air mata dan buru-buru diusap oleh ibunya.
"Jangan ada air mata, Sayang. Ini hari bahagiamu," balas Nyonya Haneul seraya tersenyum.
Luhan mengangguk kemudian memposisikan tangannya memeluk lengan kiri Tuan Shuhuan. Sementara Haowen dan Jiyoon bersiap di depan mereka. Jaejoong memberikan keranjang kecil berisi taburan bunga kepada Jiyoon.
"Kajja, kita temui calon suamimu," bisik Tuan Shuhuan. "Berpeganganlah pada appa ..."
Luhan tersenyum lantas mengangguk kecil. Ia ikuti sang ayah yang menuntunnya menuju gerbang kehidupan barunya bersama Sehun.
Aku datang, Sehunnie ...
..
..
..
Sehun berulang kali menghela napas, sambil sesekali melirik ke arah Jongin yang memangku Taeoh dan duduk bersebelahan dengan Chanyeol. Sementara orang tuanya berada di deretan depan dan terus mengumbar senyum. Nyonya Nayoung duduk bersebelahan dengan Nyonya Haneul, sementara Tuan Seunghwan duduk di dekat orang tua Hanna yang turut melempar senyuman bahagia kepadanya.
Perlahan Sehun mulai melihat beberapa anggota keluarga dan kerabatnya masuk ke dalam hall gedung pernikahan yang sudah didesain sedemikian rupa untuk acara pernikahannya dengan Luhan.
"Kau gugup?" tanya Yunho memastikan.
Sehun mengangguk, "Meskipun ini kedua kalinya, tetap saja aku merasa gugup, Hyung."
Yifan tertawa kecil mendengar jawaban Sehun. Ia melihat Zitao dan Jaejoong baru saja duduk di deretan kursi khusus anggota keluarga. Ia pun melirik Yunho yang segera dibalas anggukan pria itu.
"Kami akan duduk sekarang. Tunggulah dengan sabar dan hilangkan rasa gugupmu," Yifan menoleh pada pintu utama hall yang mulai terbuka, "Lihat, wanitamu sudah datang."
Tepat saat ucapan Yifan terdengar, Sehun menatap ke depan dengan wajah bahagia. Ia mendengar decakan kagum semua orang yang menyaksikan pemandangan di dekat pintu. Bukan hanya pengantin wanita yang menjadi pusat perhatian, melainkan sepasang anak kecil yang terlihat serasi dan mulai berjalan beriringan memasuki hall.
Haowen memasang wajah datar khas milik Sehun. Ia berjalan dengan tegap, menguarkan aura ketampanan yang setara dengan ayahnya. Sementara Jiyoon yang berjalan di sebelah Haowen terlihat senang menaburkan bunga sepanjang jalan menuju altar. Sesekali ia bergelayut manja di lengan Haowen yang membuat semua orang memekik gemas, tak terkecuali orang tuanya.
Puas memandangi putranya yang sedang menjalankan ritual sebagai pengiring pengantin wanita, Sehun beralih memandangi Luhan. Wanita itu terlihat cantik dengan gaun panjang warna putih bertaburan mutiara. Rambutnya disanggul rapi ditambah hiasan veil yang menutupi wajahnya. Luhan tampak anggun saat melangkah bersama Tuan Shuhuan.
Sehun melangkah maju kala Tuan Shuhuan dan Luhan mulai mendekat. Ia membungkuk pada ayah mertuanya yang segera mendapat balasan tepukan ringan di lengan.
"Kuserahkan putriku padamu," Tuan Shuhuan tersenyum haru memandangi Sehun. "Jaga dia baik-baik."
"Ne, Abeoji." Sehun mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Luhan. Keduanya berjalan mendekati podium di mana pendeta sudah menunggu untuk memimpin upacara pernikahan mereka. Sesekali keduanya saling menatap dengan wajah berseri-seri.
"Kau terlihat cantik sekali," bisik Sehun sebelum upacara dimulai.
"Kau juga terlihat tampan, Sehunnie," balas Luhan dengan wajah tersipu. Sehun terkekeh melihatnya. Wajah Luhan seratus kali lipat lebih menggemaskan, membuatnya tak sabar ingin segera membawanya masuk ke kamar.
Suasana khidmat mulai memenuhi suasana hall. Mereka menantikan momen di mana kalimat 'Aku bersedia' terucap dari bibir Sehun dan Luhan. Tentu ini menjadi momen yang paling ditunggu kala dua insan mengucap janji suci pernikahan di hadapan Tuhan dan disaksikan oleh semua orang.
"Kau boleh mencium pasanganmu," ucap sang pendeta yang dibalas anggukan Sehun. Suara siulan mulai memenuhi seisi hall, khususnya milik Jongin dan Chanyeol yang paling keras di antara lainnya.
Sehun membuka veil yang menutupi wajah Luhan. Hingga ia bisa melihat wajah istrinya yang luar biasa cantik, meskipun hanya dipoles make up sederhana yang selalu menjadi ciri khas penampilan Luhan. Tanpa menunda lagi, mata Luhan mulai terpejam bersamaan wajah Sehun yang mendekat. Bibir keduanya pun menyatu sempurna diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan yang hadir menyaksikan momen sakral upacara pernikahan mereka.
"APPA, JANGAN MAKAN BIBIR EOMMA!"
Suasana penuh haru berubah kocak kala teriakan keras Haowen terdengar. Semua orang tertawa melihat pasangan pengantin baru itu buru-buru mengakhiri ciuman mereka saat Haowen turun dari pangkuan kakeknya, dan berjalan menuju keduanya.
"Aish, dia benar-benar perusak suasana," desis Sehun kesal yang dibalas kekehan ringan milik Luhan.
"Appa~ Eomma~"
Hup!
Haowen langsung melompat ke pelukan Sehun. Pria itu menggendongnya, memposisikan Haowen berada di tengah-tengah mereka. Haowen dengan semangat mencium pipi Sehun dan Luhan secara bergantian. Sebelum akhirnya Sehun dan Luhan secara bersama-sama mencium pipi Haowen.
Semua orang pun berlomba-lomba mengabadikan momen membahagiakan tersebut. Mereka merasa beruntung, terpilih menjadi saksi atas penyatuan dua insan yang kini siap menyambut kehidupan baru yang sudah menanti di depan mata.
THE END
27 Oktober 2016
A/N : Satu hutang FFku lunas. Yeay!
Aku minta maaf semisal ending kurang memuaskan. Sudah mentok idenya untuk chapter final ini. Apalagi ini aku kebut dalam waktu dua hari, supaya tidak lewat bulan Oktober huhu *deep bow*
Soal duel Yifan-Sehun memang tidak aku ceritakan secara detail, karena itu selingan konyol yang sengaja diciptakan Yifan. Tahu sendiri wataknya emang super jahil, jadi ya harap maklum kkkk~
Ending memang sampai momen HunHan nikahan doang. Malam pertama mereka silakan kalian bayangkan lewat imajinasi masing-masing hehe *nyengir kuda*
Setelah ini nanti rencananya akan ada epilog. Kalian mau? Tapi kapan diposting jangan tanya ya, aku tidak bisa menjanjikan ^^v
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Termasuk buat yang sudah favorites/follow sampai review :)
I love you all *muach*
p.s : Untuk FF HunHan selanjutnya antara Glass Mask atau King's Lover. Mau yang mana dulu? Aku sebenarnya masih nunggu hasil vote tapi ternyata hanya sedikit yang masuk. Mungkin di antara kalian ada yang kesulitan buka FFn lewat web karena keblokir, jadi tidak bisa melakukan voting. Sedikit tips (kebetulan dapet dari dedek-dedek kesayangan hehe), yang pakai Mozzile Firefox bisa install annonymoX, dan yang pakai Google Chrome bisa install ZenMaster. Katanya semacam app antivirus untuk browser itu sendiri, bisa melindungi dari akun yang blokir situs.
