Chrome merasakan kedua pipinya memanas dan memalingkan pandangannya ke bawah, Mochida yang akhirnya menyadari dengan apa yang baru saja dikatakannya ikut-ikutan merona seperti kepiting rebus, 'Whoa whoa whoa! Apaan tadi?! Gila gombal banget!'

"Terima kasih. Seperti apa yang Mukuro-sama bilang, sepertinya aku bisa mempercayaimu." Dengan senyuman hangat Chrome pun menyusul Mukuro dengan hilang dibalik kabut tebal. Mochida masih bengong dengan mulut terbuka lebar seperti ikan, ia pun berniat untuk mengukir momen tadi dalam di hatinya. Kapan lagi Chrome tersenyum seperti itu kepadanya. Ia merasa seperti pria paling beruntung sedunia.

Malam itu Mochida menghabiskan waktunya memakan kari ayam yang sudah dingin.

.

Disclaimer: Amano Akira-sama.

.

People Can Change In 10 Years

Chapter 14

.

By: Miharu Midorikawa

.

Mochida sedang menunggu seseorang di tepian danau yang berada di belakang gedung Vongola tempat ia bekerja. Bukan – ia bukan sedang menunggu seorang wanita. Melainkan seorang pria. Eits – jangan berpikir terlalu jauh bahwa dia adalah seorang homo atau gay. Mochida berani bersumpah kalau dia bukan seorang gay, rasa debaran yang ia dapat ketika bertemu Tsuna adalah sekedar debaran kagum. Ya. Pasti itu yang ia rasakan.

Matanya tak sabar melirik kesana kemari sambil sesekali melihat jam tangan yang dipakai sambil mengeluh tentang sudah banyak waktu yang terbuang sejak Mochida menunggu seseorang itu. Helaan nafas panjang keluar dari kedua mulutnya dengan sesekali melihat jam tangannya. Matahari pagi masing menyinari dunia dengan cahaya yang lembut dan baik untuk tubuh, tapi tetap saja Mochida lebih memilih diam di ruangan ketimbang harus bermandikan sinar matahari. Lagipula ini sudah jam sepuluh lebih, sebentar lagi sinar matahari akan menjadi ganas dan membuat kulitnya menghitam gak jelas.

Tiba-tiba suara teriakkan seseorang terdengar dari kejauhan – akhirnya orang yang Mochida tunggu datang juga. Sesosok pria dengan hanya baju kemeja putih dan celana hitam ber-jogging ke arahnya dengan kecepatan stabil, rambut putih pendeknya menempel pada dahi yang dipenuhi oleh keringat hasil ia berolahraga.

"YOOO! MOCHIDAA!" Teriak pria itu sambil mengayunkan tangannya tinggi-tinggi ke atas langit, Mochida menghela nafas dan menahan hasrat untuk segera pergi dari tempat itu untuk kembali ke dalam menikmati wifi yang tersedia. Tapi kalau bukan suruhan Bos-nya - Sawada Tsunayoshi, mana mau ia berdiri di sini sambil menunggu si Sun Guardian yang tengah berolahraga. Mochida sedang dalam proses cari muka pada atasannya, siapa tahu dapat kenaikan gaji. Walaupun gaji yang diterimanya sekarang bisa di bilang jauh lebih baik dari sebelumnya yang hanya menjadi Salesman.

Sasagawa Ryohei memperlambat langakahnya lalu berhenti tepat di depan Mochida yang sedang menyandarkan punggungnya ke sebuah pohon, "Sedang apa kau di sini? Ayo jogging bareng!" Ucap Ryohei dengan penuh semangat, Mochida mulai lelah dengan semangat Ryohei yang sepertinya tidak ada habisnya.

"Menunggumu. Dan tidak, aku gak mau jogging."

"Lho kenapa? Jogging bagus untuk tubuhmu!"

"Pokoknya gak." Mochida mengangkat tubuhnya dan sekarang sudah tidak menyandarkan punggungnya kepada pohon lagi, "Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?"

Ryohei ngicep.

"Kata Tsuna kau baru saja selesai memberikan pertolongan kepada salah satu anggota dengan kekuatanmu dan dia menyuruhku untuk bertanya bagaimana keadaanmu sekarang karena dia sedang sibuk." Butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang baru saja Mochida katakan padanya.

"Kau bisa lihat aku baik-baik saja! Malah aku butuh berolahraga sejenak untuk menjaga pikiranku jernih."

"Hmm... Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, bukannya kau punya pekerjaan sebagai boxer?"

Ryohei menghela nafas panjang dan berteduh di bawah pepohonan yang terletak di pinggiran danau itu, seketika Ryohei tak kuat melihat cahaya matahari yang terpantul di atas danau itu. Ia tahu arah pembicaraan ini, jujur saja ia sudah muak dengan topik satu ini. Ryohei bukan lagi sosok yang sama sepertio sepuluh tahun yang lalu, ia tak membuang-buang waktunya tanpa keinginan berubah sedikitpun.

"Aku punya profesi sebagai Boxer dan juga Sun Guardian dari Vongola Family ini." Seketika aura di sekitarnya menjadi tenang, mata si Sun Guardian itu penuh melankolis sambil bercerita kepada Mochida yang bertanya, "Dua hal yang ku tekuni ini memang sangat berat, dan aku tahu bahwa Tsuna menyuruhmu untuk menanyakan hal ini, bukan?" Ryohei melirik ke arah Mochida yang berdiri di sampingnya.

"Memangnya kenapa?"

"Tak apa, padahal sudah kubilang beberapa kali tapi dia masih saja menanyakan hal itu. Aku menganggap kedua hal ini adalah suatu yang sangat beharga dan aku tahu benar resiko apa yang akan datang nanti. Aku sudah membulatkan tekadku dari dulu, dan aku sangat menikmati keadaan sekarang. Jadi jangan khawatir!" Ryohei berhenti bercerita dengan senyuman lebar di mukanya. Mochida tersenyum kecil lalu mulai berjalan kembali ke dalam gedung untuk bertemu dengan Tsuna.

"Sampai jumpa." Kata Mochida datar sambil mengayunkan tangannya seraya ia berjalan tanpa menatap Ryohei.

"Dadah, Mochida!"

...

Tiga ketukan ke dua pintu mahogani dengan ukiran emblem Vongola terasa sangat sering ia ketuk belakangan ini cukup untuk mendapakan jawaban dari orang yang berada di baliknya, tanpa mengucapkan permisi atau lainnya Mochida membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Tsuna."

Sang Bos Vongola ke-sepuluh itu langsung memalingkan badan yang tadinya membelakangi Mochida dan menatap sayu ke luar jendela, "Ah, Mochida. Ayo sini." Ucap Tsuna sembari menarik kursi yang di belakang meja kerjanya dan duduk dengan nyaman di sana. Mochida lalu berjalan santai mendekati Tsuna.

"Jadi, soal Ryohei."

"Mm-hm, bagaimana keadaannya?"

"Yah, dia ceria dan bersemangat seperti biasanya." Mochida mengambil jeda, "Jadi menurutku tidak ada hal yang harus kau khawatirkan darinya, memangnya kenapa? Harusnya kau lebih tahu tentang dia daripada aku."

Tsuna bergerak sedikit untuk menemukan posisi yang lebih nyaman di kursinya lalu menghela nafas kecil, "Begini, aku menyuruhmu karena pasti Ryohei akan agak segan bercerita dengan sesungguhnya kepadaku. Pasti dia akan menjawab dengan santai dan senyuman. Tapi mana aku tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan, bukan?"

Mochida mengangguk.

Seketika kedua bola cokelat karamel Tsuna berubah agak kelam, "Aku... terkadang merasa bersalah karena sudah menariknya ke dalam dunia mafia yang berbahaya ini. Padahal aku tahu sangat impiannya adalah menjadi seorang Boxer."

"Tapi bukannya dia sekarang sudah menjadi seorang Boxer?"

"Memang. Tapi kini beban yang ia harus tanggung menjadi lebih banyak, sebagai Boxer dan sebagai Sun Guardian Vongola Family. Kalau di suruh memilih mana yang lebih penting, aku harap dia memilih Boxing ketimbang dunia ini."

Pria newbie Vongola itu terdiam mendengarkan cerita Bos-nya.

"Apalagi kadang Ryohei ikut serta dalam tim medis." Mochida ngicep, "Nah itu yang aku bingung. Kenapa Ryohei bisa ikut-ikutan di tim medis? Aku percaya pasti Vongola punya dokter-dokter yang sangat handal – kenapa harus dia?" tanya Mochida dengan nada penuh penasaran.

"Karena luka yang kita dapatkan bukanlah luka biasa. Kita bertarung menggunakan dying will flame, dan luka yang di sebabkannya pun cukup rumit untuk di sembuhkan. Jadi kami terkadang membutuhkan seseorang dengan kekuatan Sun Flame – dengan kata lain kekuatan penyembuhan, dan di sini yang mempunyai Sun Flame paling kuat adalah Ryohei."

"Begitu ya..."

Tsuna perlahan meraih secangkir kopi di sampingnya yang kini sudah hangat lalu menyesapnya kemudian tersenyum dengan agak pahit. Tentu, sebenarnya Tsuna mana tega merebut masa depan sahabatnya yang cerah begitu saja dan menyeretnya ke dunia mafia yang penuh darah ini – rasanya ia ingin sekalian memundurkan waktu. Jika saja ia tak bertemu Ryohei, semua ini tak akan terjadi.

BLAM!

Tanpa si brunet sadari Mochida sudah hilang dari hadapannya dengan membanting pintu keras-keras.

...

Mochida keluyuran sana-sini mencari sosok sang Sun Guardian. Sempat ia bertemu dengan Gokudera dan Lambo di jalan, tapi sepertinya mereka tak tahu juga. Pria itu terus berjalan cepat dengan hentakkan kaki cukup keras. Ia sedang marah entah kenapa. Begitu melihat raut muka Tsuna yang murung seperti itu, rasanya ia harus melakukan sesuatu tentang Ryohei terlebih dahulu. Makanya dia sekarang sedang mencarinya mati-matian.

'Yang belum kucari... tinggal lantai satu ya...' Pikirnya sambil menuruni tangga yang langsung tersambung dengan pintu utama gedung. Seperti biasa keadaan ramai-ramai saja, banyak anggota Vongola sedang berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka dan ada pula yang sedang berbincang-bincang di ujung ruangan.

Tetapi semua keadaan berubah.

"TOLONG! SESEORANG CEPAT PANGGILKAN TIM MEDIS!"

Refleks semua orang termasuk Mochida melirik ke sumber suara yang datang berasal dari pintu utama.

Lima orang pria sedang berusaha menyelamatkan rekan mereka yang sedang terluka berat, padahal luka keempat orang lainnya tak kalah buruk. Jalan bekas darah dari pintu utama sampai tempat mereka sekarang berada sangat banyak dan kemudian menggenang di lantai tempat pria yang terluka parah itu.

Keadaan langsung panik.

"ADA APA INI?!" Ryohei yang muncul entah dari mana langsung mendekati kelima orang pria itu dan jongkok untuk melihat pria yang tergeletak lemas di lantai bermandikan darah. Ryohei terlihat terkejut saat mendapati pisau yang tertancap di dadanya mengeluarkan Cloud Flame. Darah terus menerus keluar dari tempat itu.

"Cepat siapkan ruang operasi. Ares, arahkan yang lain untuk mengobati empat orang lainnya." Seorang pria dengan rambut merah dan berkacamata bernama Ares yang sekaligus adalah anak buah langsung dari Ryohei itu mengangguk dengan mantap lalu memberikan arahan-arahan kepada tim medis lain yang sudah sampai di tempat.

Mochida yang merasa penasaran tapi takut, menuruni tangga sampai selesai lalu berjalan perlahan mendekati mereka. Tandu datang dan Ryohei mengangkat tubuh pria malang itu ke tandu dan ia pun di bawa ke ruang operasi. Mochida terkesima sekaligus kaget karena baru pertama kali dia lihat ekspresi si Sun Guardian yang begitu serius dan tenang.

...

"..."

Mochida bingung sendiri dengan keadaannya, sekarang ia sudah berada di dalam ruang operasi bersama Ryohei dan yang lainnya. Dia duduk di pojok sebagai pengamat, tentu saja penampilannya sudah sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Suhu dingin yang menusuk tubuh, bau obat-obatan terasa tidak nyaman menyeruak ke hidungnya yang walaupun sudah ditutupi masker. Suasana di dalam ruang operasi begitu tegang – atau itulah apa yang Mochida rasakan saat ini.

Dan dia pun mulai berpikir.

Kenapa dia bisa berada di dalam kerumunan orang ini.

Mochida mencoba flashback – setelah dia berjalan mendekati si pria yang terluka itu, Ryohei yang kemudian langsung menghampiri memberikan beberapa perintah yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya itu. Kemudian Ryohei menyadari bahwa Mochida berdiri terdiam di sebelahnya dengan mata penuh penasaran sekaligus ketakutan.

"Mochida, ayo ikut denganku!" ujar Ryohei sambil memegang erat lengan pria itu kemuadian menyeretnya dengan paksa ke ruang operasi. Setelah Mochida di bantu oleh beberapa orang ahli untuk membuatnya memenuhi syarat agar dapat memasuki ruangan – ia akhirnya menjadi seperti ini.

"Kau pasti bisa, bertahanlah!" Ujar Ryohei dengan muka serius sambil mulai bekerja, peluh keringat mulai mengucur dan bergelimang di bawah silaunya lampu operasi. Sesekali asistennya mengelap keringat yang mengucur itu. Tak lama kemudian, Ryohei berhasil mencabut sebuah pisau yang anehnya masih mengeluarkan Cloud Flame dengan intens. Mochida mengerutkan dahinya dan menatap kepada sebilah pisau yang berlumuran darah bercampur api ungu itu.

Ryohei dengan perlahan meletakkan pisau itu ke sebuah nampan silver, lalu berganti menggenggam scapel dengan pegangan yang mantap. Ia menutup matanya sejenak kemudian membukanya di saat api kuning menyilaukan muncul di ujung scapel itu. Walaupun Mochida berada agak jauh darinya, tapi ia bisa merasakan kehangatan yang dipancarkan Ryohei.

'Jadi ini adalah tekad Ryohei... Hangat.'

...

Operasi berlangsung selamaempat jam.

Dan Mochida tak benar-benar merasakannya setelah ia mencoba berdiri dari kursi yang ia tempati di pojok. Ia hampir jatuh ke lantai karena kakinya yang kaku tak berkutik sejak empat jam yang lalu. Member Vongola yang berhasil menjalani operasi itu langsung di bawa ke ruangan yang lain, sementara Ryohei dan beberapa orang asistennya tetap diam di tempat sekedar membersihkan tempat dan menghirup udara lega.

Si boxer sekaligus Sun Guardian itu melepas maskernya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, "Kau tak apa, Mochida? Kakimu keram ya? Hahahahaha."

"Ya-Ya... sepertinya..." Ungkap pria itu sambil memijit-mijit kakinya. Kemudian Ryohei berjalan mendekati Mochida dan menepuk (memukul) punggungnya dengan keras, "OW! Apa-apaan?!" Ryohei kemudian merangkul pria berambut hitam itu dan tersenyum dengan lega, Mochida hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik si Sun Guardian itu.

"Syukulah..."

Mendengar suara Ryohei yang lega seperti itu Mochida pun hanya bisa ikut tersenyum.

...

Tok tok tok

"Masuk."

Tsuna mengalihkan padangannya dari dokumen yang sedang ia baca lalu menatap kearah Ryohei yang baru saja masuk ke ruangan dan dengan melangkah mendekati dirinya, "Jadi, bagaimana?"

Ryohei mengeluarkan sebuah tabung kecil dari saku jasnya, "Ini adalah serpihan senjata yang bisa kuambil tadi." Sekilas terlihat seperti pecahan kaca hitam, tetapi anehnya serpihan itu tetap mengeluarkan cloud flame. Tsuna menghela nafas panjang dan berat lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Kita harus bersiap-siap untuk yang terburuk."

To Be Continued

A/N:

Hai semua, masih ingat tentang janji saya bahwa saya tidak akan pernah mengabaikan fanfiction saya yang manapun.

Dan syukurlah chapter kali ini bisa diselesaikan, walaupun memang memakan waktu yang sangat panjang. Passion saya untuk menulis sempat hilang beberapa bulan kebelakang – karena ga tau harus gimana, akhirnya saya kabur menggambar.

Terima kasih telah setia menunggu fanfiksi saya, sampai jumpa lagi~!