Langkah-langkah kaki yang berpijak memasuki lantai paling tertinggi di Dunia Langit, itu bisa dirasakan oleh pemuda berambut kuning jabrik. Pemuda ini bersama dua orang lelaki, menaiki dan memasuki tempat paling terahasia. Sekeliling lantai 17, yang ada hanyalah dinding beton berwarna putih di sebelah kiri, dan di sebelah kanan merupakan bentuk sebuah galaksi terindah yang pernah dilihat lelaki bernama Naruto ini.

Menurut Naruto, tempat ini tidak pernah dimasuki kecuali para Petinggi Langit sendiri. Sejak kecil, Naruto selalu mendengar apa yang ada di dalam tempat ini. Biasanya tempat ini memiliki sebuah hadiah yang diinginkan sang pemasuki, istilahnya yang bisa menuntaskan semua masalah yang sang pemasuki hadapi.

"Tempat ini sangat keren!" ucap Naruto setengah berteriak. Mata biru langitnya memandangi langit-langit berupa benih-benih galaksi. "Apa kita berada di luar angkasa?"

Gaara mendengus, pemilik rambut merah yang sekarang mendampingi Naruto. "Lebih tepatnya, seperti itu. Kenapa? Suka?"

"Aku tidak pernah datang ke tempat ini. Aku hanya mendengar dari mulut orang-orang saja," sahut Naruto masih belum berkedip memandangi tempat menakjubkan ini. "Kenapa rasanya tempat ini tidak terlalu asing bagiku, ya?"

Gaara dan Bee bisa merasakan pikiran Naruto soal tempat ini. Siapa yang tidak menyangka, tempat ini adalah tempat di mana Naruto lahir dari luar angkasa terindah itu. Yang menemukan Naruto ialah Sang Petinggi Langit itu sendiri. Makanya Rikudo tidak ingin Naruto diambil oleh orang lain dan bertindak ceroboh.

"Ini tempat kamu lahir, Naruto." Gaara menengadah ke atas langit-langit yang membentuk awan putih dan langit biru. "Sisi kanan dan sisi kiri adalah bentuk dirimu yang betul-betul kami inginkan selama ini. Begitulah yang di atas."

Naruto mengangkat kepalanya melihat awan putih dan langit biru yang indah. Naruto kagum pada arsitektur lantai 17 ini. Tetap memandangi, tahu-tahu mereka telah sampai di depan pintu besar berwarna emas putih.

"Kita sudah sampai."

Naruto menurunkan kepalanya, melihat pintu besar berwarna emas putih. Dirinya tiba-tiba jadi tegang, bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdebar seakan-akan mau lepas. Gaara bisa mengetahui ketegangan yang dimiliki Naruto.

"Kamu tegang?"

"Sangat!" Naruto meloncat kecil. "Aku sangat menantikan apa yang ada di dalam sana."

"Tempat ini adalah tempat di mana kamu menginginkan sesuatu buat peperangan ini. Untuk jadi kekuatanmu. Untuk jadi tenaga apabila kamu kesulitan. Dialah tempatmu beristirahat dan menyimpan seluruh kekuatanmu, Naruto." Gaara tersenyum kecil, lalu bersikap biasa lagi. Dilirik Bee di samping Naruto, "Bee, tolong kamu buka pintu ini."

"Baik, Master."

Bee maju dan mengeluarkan kunci besar sebesar telapak tangan, memasukkan ujung kuncinya ke lubang kunci dan memutarnya. Setelah itu, pintu didorong sekuat tenaga menimbulkan suara engsel pintu yang memekakkan telinga.

Keluarlah sebuah cahaya bikin sakit mata. Naruto dan Gaara harus menutupi sebelah matanya agar terhindar dari cahaya itu, dan sebelahnya lagi mengintip bagian-bagian di dalam pintu ini.

Cahaya itu menghilang seraya pintu itu terbuka semakin lebar dan berhenti. Langkah kaki mereka masuk ke dalam pintu. Ruangan itu sangat besar, dan berwarna putih. Langit-langit dan lantai menunjukkan pemilik tempat ini, sebuah pemandangan tidak terhingga dan dunia bawah air menampakkan hewan-hewan air yang indah.

Langkah Naruto berhenti, mata birunya berpusat pada apa yang ada di depan. Gaara dan Bee bisa mengetahuinya, menatap lurus-lurus di depannya.

"Dialah orang yang kamu inginkan untuk pertempuran ini, Naruto."

Di sanalah muncul sosok gadis berambut biru panjang mengenakan gaun berwarna putih sebatas bawah lutut dan dia juga mengenakan celana panjang putih sebagai pengalasnya untuk bertarung nantinya. Wajahnya yang manis menggoda Naruto. Inilah orang diinginkan Naruto untuk peperangan ini, membantunya melawan Raja Tengu bersama Sakura dan Sasuke.

"Hinata…"

..oOo..

.

LONG Distance

.

.

Disclaimer: Naruto belong to Kishimoto Masashi

Warning: : OOC, AU, AH, AT, deskripsi seadanya, percakapan kalimat Bold dan Italic adalah kalimat para iblis, percakapan kalimat Italic adalah kalimat para malaikat, yang biasa adalah manusia, sisanya adalah isi hati menggunakan text Italic.

..oOo..

Chapter 13: War Part I

Di Dunia Bawah yang sepi karena tidak ada penghuninya, ini bisa diandalkan karena ada beberapa orang memasuki tempat ini tanpa diketahui pemiliknya. Di antaranya orang-orang dicari Sai tadi. Mereka melewati berbagai tempat-tempat dengan susah payah dan akhirnya menemukan tempat ini, Dunia Bawah.

Dimulai dari tempat di luar kota sana yang tidak sengaja mereka temukan. Sudah tiga dua malam mereka mencari tanpa mengabari siapa pun. Mereka bisa mengetahui dari orang-orang yang menyamar jadi manusia kalau peperangan ini telah dimulai.

Gorong-gorong, saluran pembuangan air, saluran bawah tanah dan masih banyak lagi yang mereka jelajahi. Tempat itu memang sangat baud an tidak enak buat dicium, tetapi mau bagaimana lagi, mereka harus melakukannya demi keutamaan dunia ini dan tiga dunia lain.

Mereka terus berlari hingga memasuki tempat-tempat hewan milik Akatsuki sekarang telah tewas dibunuh entah itu siapa dalangnya. Namun, kecurigaan mereka berpusat pada anak-anak Sasuke dan Sakura sekarang lahir dan tumbuh jadi anak luar biasa.

Waktu di taman hiburan, mereka dibuat tertidur oleh orang-orang tidak dikenalnya. Padahal sebenarnya mereka mengetahuinya kalau mereka adalah Akatsuki. Tetapi, mereka tetap harus menyamar demi kepentingan Sakura dan Sasuke suatu saat nanti. Semenjak pasangan itu diculik, di bawa pergi ke mansion Uchiha, mereka tiba-tiba menghilang begitu saja.

Alasan mereka menghilang adalah mencari cara agar Sojoubo berhasil dikurung dan tidak pernah keluar lagi seumur hidup. Dan hasil itu mereka temukan, ada sebuah kunci yang ditinggalkan oleh Akatsuki di tanah tandus milik keluarga Uchiha. Itu merupakan sebuah kunci yang cocok sebanding dengan kunci milik Master mereka.

Mereka ini bukanlah manusia selayaknya manusia di Dunia ini. Mereka adalah penjaga kunci, tinggal di salah satu tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun kecuali para Manusia Langit. Mereka orang-orang yang mengatur segalanya apabila keadaan genting seperti ini.

Keempat orang terengah-engah, berlari tiada henti-hentinya. "Kita sudah berlari seperti ini, tapi belum menemukan pintu masuk Dunia Bawah ini."

"Tenanglah, Ino. Kita bisa menemukannya dan langsung mencari Sai," sahut seseorang berambut putih pucat dan giginya yang tajam.

"Bukannya kita telah sampai?" ujar seorang lelaki bertinggi besar berambut senja ini. Dia mengacungkan jari telunjuknya mengarah pintu yang ada di depan matanya. "Di sanalah pintunya."

"Cepat, kita masuk. Waktu kita tidak banyak!" sela seorang wanita berambut merah berkacamata terus menggerakkan kedua kaki untuk mencapai pintu tersebut.

Mereka membanting tubuh mereka ke pintu itu, lalu bisa merasakan aroma tidak enak di hidungnya. Lelaki sok cerewet menutup hidungnya rapat-rapat dengan buku-buku jarinya. "Oh, ya ampun… Mereka ini tidak pernah mandi atau apa, sih?"

"Aku tidak menyangka, Master tinggal di tempat seperti ini." Wanita berambut pirang berkuncir mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyingkirkan bau tidak sedap itu. "Lalu, selanjutnya apa?"

"Kita cari Sai dan membantunya mencari anak-anak Sasuke dan Sakura selagi masih banyak waktu!" jawab lelaki bertubuh besar nan tinggi. "Kita mulai ke tempat milik Kisame."

"Pikiranmu benar-benar jitu, Juugo." Lelaki di sampingnya mengangkat bahu, menggeleng. Wanita berkacamata menggetok kepala lelaki yang seenaknya bicara. "Adauw! Apa yang kamu lakukan, Karin?!"

"Ini pukulanmu yang sok bicara, sok mengetahui segala." Kepalan tangan masih diangkat sejajar dengan wajahnya yang kesal. "Jangan kamu pikir, kita susah-susah datang ke sini hanya untuk bersenang-senang, he? Asal kamu tahu, aku eneg berada di sini. Aku mau urusan ini cepat selesai. Kamu mengerti, Suigetsu?"

"Ya, ya! Aku mengerti, cerewet." Urat nadi di kening wanita bernama Karin berbentuk hingga lelaki yang mengatainya cerewet harus bersembunyi di punggung lelaki bernama Juugo. "Ampun, Karin. Aku akan menutup mulut."

"Bagus!"

"Nah, kita akan ke tempat disebutkan Juugo. Bagaimana? Setuju?" saran wanita yang memiliki nama Ino, melirik satu-satu di antara mereka. Mereka tidak berucap apa-apa, hanya mengangguk. "Baiklah, kita ke sana sekarang."

Mereka mendorong tubuh mereka ke depan, dan berlari seperti seekor hewan paling lincah dalam berlari. Tidak tanggung-tanggung, mereka melewati berbagai tempat-tempat bikin mereka harus menutup hidung dan mata agar tidak terpengaruh apa yang didengar maupun dilihat.

Meskipun solusinya untuk membantu Sai, tetap saja mereka berharap anak-anak Sasuke dan Sakura tetap selamat tanpa terluka sedikit pun. Dua sahabat mereka itu mereka telah anggap seperti saudara, karena merekalah mereka mau tinggal di Dunia Manusia.

.

.

.

.

Dua kelompok berhadapan satu sama lain, seraya menunggu dua Petinggi mereka di depan saling berbicara sesama orang yang tidak pernah bertemu. Rasa tegang, takut, gugup, sedih bercampur jadi satu diaduk seperti adonan di dalam perut. Sesungguhnya mereka tidak mau bertarung seperti ini, tetapi inilah keputusan orang yang berkuasa di dunia mereka saat ini, Sojoubo.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Sojo-chan." Rikudo terkikik geli mengucapkan kata itu dengan embel-embel chan. Tentu saja, Sojoubo meringis mendengarnya.

"Hentikan panggilan itu, Rikudo! Kita ini bukan anak kecil lagi, mengerti?!"

Rikudo mengangkat bahu, "haruskah aku bilang wow untuk soal beginian, Sojo-chan? Padahal kita ini teman sehati sebelum kamu berubah jadi mengerikan."

"Ya! Kita memang teman sehati sejak dulu, tapi bukan berarti kamu menyebut aku begitu. Panggil aku Sojoubo. Jangan ditambah-tambah lagi dengan sebutan chan!" jerit Sojoubo. Di belakangnya, Akatsuki terperangah melihat tingkah laku Master mereka yang kekanakkan. Mereka langsung pucat pasi, menghela napas.

"Baru kali ini aku melihat sifat asli orang itu. Kedengarannya seperti anak kecil," ucap Deidara pucat pasi, berkeringat dingin terus menatap perdebatan soal nama antara Rikudo dan Sojoubo.

"Namanya juga anak kecil, Dei." Sasori mendesah pelan agar tidak terdengar oleh Sojoubo.

Pertengkaran kecil ini terus berlanjut. Alasan sederhana dari Rikudo adalah supaya anak-anak Sakura segera dikeluarkan dari Dunia Bawah hingga mereka bisa terbebas rasa bersalah. Rikudo malah berkacak pinggang, tidak peduli.

"Asal kamu tahu, Sojo-chan. Kita dulu pernah main ayun-ayunan, luncur-luncuran, dan beberapa mainan lagi." Sojoubo menganga total, Akatsuki terkikik geli mendengarnya. "Dan kamu juga harus tahu, aku punya gambar soal kamu bermain sama boneka perempuan, lho."

"A-apa?! I-itu…"

Akatsuki menahan tawanya. Para Manusia Langit juga begitu, menahan tawa agar tidak menyinggung perasaan Sojoubo dan memulai sebuah peperangan tidak pasti.

"Aku punya rekaman saat kamu pentas nyanyi di salah satu siaran swasta. Ibumu dan Ayahmu sangat kagum padamu, lho. Itu waktu usiamu sekitar…" Rikudo mengetuk dagunya dengan buku-buku jarinya. "… 7 tahun. Keren, bukan?"

Sangat keren! Dan sangat lucu! Wuahahaha! Jeritan batin dari dua kelompok ini membuat suasana tadinya canggung berubah santai. Mereka bisa mengetahui dan merasakannya. Rikudo memang sengaja alias mengungkapkan masa lalu supaya Raja Tengu kembali ke tempatnya yang dulu.

"Lalu…"

"Berhenti!" Sojoubo terengah-engah, mengangkat tangan di depan Rikudo terus berbicara. "Kita memang teman, tapi bukan berarti buka aib orang! Lalu, kenapa wajahmu begitu?"

Rikudo pucat pasi, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya memang sangat berubah dari yang dulu Raja Tengu lihat. Sojoubo terkekeh geli, memahami sesuatu.

"Jangan-jangan kamu diisengin oleh anak buahmu, makanya wajahmu berubah seperti orang merubah diri lewat operasi plastik, 'kan? Biasanya 'kan wajah setua kita tidak bisa lagi berbentuk." Rikudo gemetaran karena rahasianya diketahui. "Begini-gini, aku tahu sifatmu yang suka banget operasi plastik dan berharap mirip penyanyi Korea. Iya, 'kan?"

Rikudo tidak berbicara apa pun. Para Manusia Langit pucat pasi pada perkataan Sojoubo begitu saja dituangkan ke minyak tadinya dingin berubah jadi panas. Sojoubo memang dari dulu ingin mengejek Rikudo yang suka banget mengejek orang. Inilah hasilnya: SERI!

"Su-sudah, deh. Ke-kenapa kamu membuka aib orang, sih?" Rikudo masih memalingkan muka, tidak mau bertatap muka pada Sojoubo yang menyeringai.

Dua kelompok langsung sweatdrop melihat pemandangan langka ini. Mereka terlalu kekanakan banget! Bisa-bisa ini sampai pagi, deh!

"Hahaha! Makanya jangan mulai duluan, dasar bodoh! Huh!" cibir Sojoubo. Rikudo menatap tajam ke arahnya, menusuk seperti pisau. Rikudo menunjuk-nunjuk Sojoubo, siap bertarung.

"Lebih baik kita bertarung saja, siapa yang lebih kuat. Yang menang, boleh menyuruh orang yang kalah. Bagaimana?" tantang Rikudo menegakkan dagu. Sojoubo mengangkat bahu, menyeringai.

"Boleh, boleh saja. Kita mulai sekarang!"

Posisi mereka bukan lagi posisi santai. Mereka memasang siaga pertarungan. Dua kelompok yang melihatnya juga memainkan posisi pertarungan. Ronde dimulai setelah petir menggelegar. Loh, sejak kapan ada petir?

Ah, biarkan saja. Rikudo dan Sojoubo mendengar suara petir itu pun langsung menerjang satu sama lain. Para Manusia Langit dan Akatsuki maju ke tengah lapangan, tanah tandus yang kosong milik keluarga Uchiha.

Penjaga Kunci meminta Sakura untuk tunggu di sini bersama Penjaga Kunci yang lainnya. Begitu pula di seberang sana, Pein meminta Sasuke menunggu selagi mereka bertarung. Jika sudah waktunya, Sasuke bisa membantu.

Sekarang, Sasuke memiliki mata kosong. Ingatannya campur aduk antara mengingat masa lalunya dan perintah Sojoubo kepada dirinya, memastikan membunuh orang-orang yang menghalangi langkah Raja Tengu.

Hal ini terus bermuara tidak jelas di mana ujungnya perdamaian ini. Perkelahian satu lawan dua atau tiga bikin Akatsuki merengek dan meminta hewan-hewan miliknya ikut andil dalam bagian ini. Walaupun sebagian hewan-hewan milik mereka, terbunuh begitu saja di tangan Hana.

Dimulai dari Deidara yang melawan Chouji dan Shizune. Sasori beserta boneka kayunya di sekitarnya melawan Asuma, Kiba dan Akamaru. Kisame melawan Tsunade, Iruka dan Shino. Kakuzu melawan Shikamaru. Hidan melawan Tenten dan Yamato. Nagato melawan sebagian orang-orang Langit. Pein melawan Mei Terumi, Kakak Bee dan Master Kage lainnya. Orochimaru… loh, Orochi ke mana?

Di tempat yang tidak ditketahui orang lain, Orochimaru menatap pertarungan di sampingnya dan menoleh kepalanya kepada orang dikenalnya, Kimimaro.

"Bagaimana? Mereka telah kamu temukan?"

Kimimaro membungkuk hormat, setengah menundukkan kepala. "Mereka ada di Dunia Bawah tengah mencari Sai, Hana dan Menma. Jika pertarungan ini bisa dilamakan, mereka bisa naik ke atas tanpa membutuhkan waktu yang lama."

"Bisakah Shion mengunci semua waktu ini?" tanya Orochimaru. Kimimaro mengangguk sambil tersenyum di balik wajahnya yang datar.

"Tentu saja, Master. Dia siap kapan pun mereka mau." Kimimaro melirik seorang wanita berambut pirang setengah dikuncir. Merasa diamati, Shion menganggukkan kepalanya dengan kepastian di benaknya.

Shion mengangkat telapak tangannya, ada sebuah bunga indah di sana memunculkan sebuah kunci berbentuk jam. Dipegang kunci tersebut, Shion berjongkok dan mengeluarkan sebuah jam weker. Ujung kunci berbentuk jam tersebut, menusuk jam weker. Tiba-tiba waktu mereka terhenti.

Burung-burung yang di atas kepala mereka berhenti, tidak bergerak. Yang bergerak hanyalah orang-orang terlibat pertempuran ini. Sakura dan Hiro merasakan aliran waktu benar-benar berhenti. Mereka tersenyum, semoga saja ini tidak didapatkan oleh Hana dan Menma di bawah sana.

"Mereka tidak terkena waktu, nona Sakura. Saya bisa menjamin itu semua." Shion meninggalkan kunci yang ditusuk ke jam weker, melirik lewat bahunya sambil menyunggingkan sebuah senyuman. "Karena mereka bukan manusia selayaknya manusia di dunia ini."

"Aku tahu. Terima kasih."

"Sama-sama."

Di seberang sana, Sasuke menatap tajam orang yang mempergunakan waktu seenaknya. Merasakan dendam tidak terkira ke wanita berambut merah muda yang sengaja menyuruh orang itu menghentikan waktu. Sasuke meloncat ke atas diiringi suara pertarungan yang memekakkan telinga.

Wanita berambut merah muda merasakan bayangan di atasnya, mengangkat kepalanya dan menemukan Sasuke menghampiri dirinya. Dia tersenyum, tetapi senyumnya berubah setelah melihat wajah Sasuke menatap tajam pada dirinya yang tidak tahu apa-apa.

"KAMU!" teriakan Sasuke menggema, tetapi tidak terdengar oleh siapa pun akibat pertempuran ini. Lelaki itu melayang di udara, mengeluarkan cakaran yang tidak biasa. Wujudnya berubah jadi seorang Iblis yang mengerikan, berkulit abu-abu pucat.

Sakura tidak bisa berbuat apa-apa, kakinya terpaku di tanah. Cakaran Sasuke menuju ke muka Sakura, Sakura pun menutup mata dan berharap itu tidak melukai wajah juga hatinya, nantinya. Tetapi, hal itu tidak terjadi. Sakura membuka mata dan mendapati Hiro mencengkram tangan penuh cakaran panjang.

"Mau apa kamu anak kecil?! Jangan ganggu aku!" Sasuke menarik tangannya dari Hiro, namun cengkraman tangan Hiro begitu besar sehingga dirinya tidak bisa menariknya.

Hiro menatap tajam pada Sasuke, sedih dan serius. "Di mana dirimu yang dulu? Kemarin kamu berbaik hati menyelamatkan kami, tapi sekarang…" Hati Hiro kalut, tidak percaya pada apa dilihatnya. Sasuke telah berubah. Beda dari sebelumnya. "… kamu tidak mengetahui siapa aku dan Ibuku! Kamu kejam!"

Sasuke menghirup napas dalam-dalam, mengucap suatu jurus lalu menyemburkannya ke Hiro. Merasakan firasat tidak enak, Hiro mendorong tubuh Sakura darinya. Shion menangkap tubuh Sakura untuk menjauh, menekan pundak Sakura dan melompat ke belakang terhindar dari serangan Sasuke yang menyemburkan api besar dari mulutnya. Hiro pun jadi korbannya.

Sakura terperangah melihat apa yang ada di depannya, Hiro terbakar. "Tidaaak! Hirooo!"

Tubuh Hiro termakan api besar pun ambruk. Sasuke menyeringai keji dan tertawa terbahak-bahak melihatnya. Namun, itu berubah sepersekian detik. Saat api itu menghilang, tubuh Hiro tidak ada. Sasuke kaget dan mengamati sekelilingnya. Akhirnya Hiro menggunakan serangan listrik yang menyengatkan lewat jari telunjuknya setelah mengucapkan sebuah nama jurus.

Listrik statis itu menghantam Sasuke, Sakura meringis dan memalingkan muka. Tidak percaya ini akan jadi pertempuran ayah dan anak padahal dirinya tidak menginginkan hal seperti ini. Air matanya mengalir begitu saja, mengintip Hiro dan Sasuke yang tengah melawan satu sama lain.

"Kenapa jadi seperti ini?"

Di samping itu, Hidan tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat rantai besi dari gadis bercempol dua dan kurungan kayu jati dibuat oleh Yamato. Hidan tidak bisa menggunakan kekuatannya sementara ini dikarenakan matahari begitu kuat menghantamnya dari atas.

Tenten menarik kuat-kuat rantai besinya, menatap tajam pada lelaki berambut putih tersebut. "Kembalikan Menma dan Hana, Akatsuki!"

"Kenapa kamu menyalahkan orang?!" Hidan terlihat jengkel, karena dituduh menculik dua anak kecil. "Bukan kami yang membawanya!"

"Oohh… mau melawan, ya?" Yamato menekan tanah yang kuat di bawah sana sehingga sulur-sulur kayu berwarna cokelat menjulur ke atas, siap menghajar Hidan kapan pun. "Kalau begitu kita perang!"

"Siapa takut, Manusia Langit!"

.

.

.

.

Empat bayangan muncul di balik gedung bisa melihat arena pertempuran di bawah sana, tempat tinggal keluarga Uchiha yang tandus. Di sana banyak sekali manusia-manusia Langit melawan beberapa orang Akatsuki dan pengikutnya. Entah dari mana mereka bisa memanggil beberapa orang untuk membantu melawan orang-orang dari mereka.

Lelaki berambut kuning jabrik menggandeng seorang gadis berambut biru panjang. Mereka saling berpandangan sambil tersenyum seolah-olah dunia ini milik mereka. Di samping mereka, Bee dan Gaara tersenyum.

Sebentar lagi mereka bisa mengundang sebuah kebahagiaan setelah peperangan ini. Sebentar lagi Naruto (merupakan namanya) bersanding penuh bahagia dengan gadis di sampingnya tanpa ada apa pun halangan yang datang. Sebentar lagi Naruto bisa membayar kesalahannya yang dulu kepada Hinata, meninggalkan beberapa tahun silam.

"Apa kalian siap?"

"Kapan pun kita siap, tentu saja." Gaara menyahut sambil tersenyum. Mata bening hazel-nya berbinar-binar, tangannya sudah gatal untuk menghabisi orang-orang jahat di bawah sana.

"Ini tidak apa-apa 'kan, Naruto?" Hinata menggenggam erat tangan Naruto hingga mencengkram buku-buku jarinya yang kekar dan kuat. Ketakutan Hinata sangat tidak beralasan, karena ini menyangkut umat manusia dan juga dirinya.

"Tidak apa-apa. Kamu bukan seorang manusia lagi setelah ini, Hinata. Kamu bagian dari kita-kita juga." Naruto sengaja menghibur Hinata agar tidak terlalu takut apa pun terjadi. "Selama kamu berada di sisiku, kamu baik-baik saja."

"Aku percaya padamu."

Naruto tersenyum memandangi Hinata yang tersenyum ceria bersedia mendampinginya di saat genting seperti ini. Biarpun banyak rasa pahit bagi keadaan mereka, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan baik dan bertemu di tempat ini. Setelah peperangan ini, mereka akan menikah dan hidup bahagia bersama.

Tiba saatnya bagi mereka mengambil kebahagiaan yang dirampas oleh Raja Tengu dan membuat dunia ini aman dan damai dari kejahatan berupa kekuasaan yang tidak lazim dibuat Raja Tengu dulu.

To Be Continued…

..oOo..

A/N: Apakah masih kangen sama fict ini? Ini telah mencapai chapter 13. Susah-susah gampang. Saya bukan seorang penulis yang membuat cerita sesempurna mungkin, karena saya butuh pembelajaran lagi, lagi dan lagi. Saya beda sama author senior sangat hebat dalam apa pun. Walaupun saya silent reader, sih. Fufufu…

Reply review (Previous Chapter):

Setsuna F Sele: Thank you so much for reading my story. See review from you, I can only smile. ^^
Thanks to the review…

Hotaru Keiko: Terima kasih sudah menunggu beberapa bulan, Keiko-san. Maaf telat update lagi. Ini saya suguhkan chapter 13. Semoga Keiko-san menyukainya. Terima kasih atas review-nya… ^^

Tsurugi De Lelouch: ckckck (ikut-ikutan). Benar-benar mereka itu… Fu fu fu…
Di chapter ini tidak diperlihatkan sosok mereka. Yang ada hanyalah Hiro.
Terima kasih atas review-nya… ^^

Blue-senpai: Update-nya jadi kelamaan. Jangan marahi saya, ya. Semoga minggu depan tidak begitu lagi. #peace
Terima kasih sudah me-review… ^^

Signature,

Zecka S. B. Fujioka

Makassar, 17 November 2013