Disclaimer : Tite Kubo
Rate : M
Genre : Romance & Friendship
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X0X
TING TONG...
TING TONG...
Seorang pria bersurai biru berdiri didepan apartemen dan sudah lebih dari lima menit ia terus memencet bel pintu namun sang pemilik apartemen belum juga keluar dan membukakan pintu.
"Hime." Panggilnya seraya terus memencet bel.
Sementara itu gadis yang dipanggil saat ini tengah duduk asik mendengarkan musik ditelinganya seraya menikmati sarapan paginya dengan tenang.
CKLEK...
Seorang pria bersurai hitam panjang bergelombang keluar dari kamarnya dan menghampiri sang adik di meja makan.
SRUK...
Orihime menolehkan wajahnya saat headphone yang dipakainya dilepas oleh seseorang.
"Kakak!?" serunya.
"Cepat kau buka pintunya," ucap Tsukishima pelan.
"Tidak mau," tolaknya keras seraya melanjutkan sarapan paginya kembali.
"Jika kau tidak keluar dan menemuinya bisa-bisa pintu rumah kita didobraknya," Tsukishima memperingatkan sang adik.
Dengan perasaan kesal dan terpaksa, Orihime menyudahi sarapan paginya dan membuka pintu.
"Huh! Menyebalkan." Dengusnya.
Tsukishima-pun kembali kekamar dan melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu.
"Huaamm..." Tsukishima menguap dengan lebar.
Dengan perlahan Tsukishima merebahkan tubuhnya kembali keatas kasur dan tak butuh waktu lama untuk kedua matanya terpejam dan pergi kealam mimpi.
Maklum saja kalau pagi ini Tsukishima masih merasa mengantuk, mengingat saat ini dirinya tengah super sibuk sebagai penulis naskah drama berjudul 'Black Rose'.
TING...TONG...
Bel pintu apartemen masih saja berbunyi dan semakin membuat Orihime kesal juga sebal.
"Berisik sekali," gerutu Orihime seraya mempercepat langkahnya menuju pintu depan.
CKLEK...
Orihime membuka pintu apartemennya dengan malas dan memasang wajah super bĂȘte. "Siapa?" tanya Orihime dengan berbasa-basi.
"Selamat pagi Hime," sapa Grimmjow tak lupa tersenyum lima jari pada Orihime.
"Pagi juga." Balasnya ketus.
Sudah hampir sebulan pria tampan bersurai biru nan menawan ini selalu datang mengantar jemput Orihime bekerja bahkan Grimmjow selalu saja muncul dan ada dimanapun Orihime berada.
Ingin rasanya Orihime melempar jauh Grimmjow atau menenggelamkan pria itu kedasar lautan, agar tidak muncul lagi dihapannya namun itu tidak mungkin mengingat Grimmjow adalah pemilik perusahaan besar se-Asia.
Dan pagi ini seperti biasanya Grimmjow sudah berdiri dengan santai didepan pintu apartemennya sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Lagi-lagi pria menyebalkan ini." Batin Orihime.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Grimmjow sambil mengulurkan tangannya.
"Tunggu sebentar aku akan mengambila tas dulu." Ucapnya seraya masuk kedalam kembali.
"Baik, akan kutunggu." Grimmjow masih setia berdiri didepan pintu apartemen.
Setelah mengambil tasnya Orihime pergi bekerja dengan diantar oleh Grimmjow, selama berjalan menuju basement keduanya terlihat diam terlebih Orihime yang terlihat cemberut menandakan ia tidak senang, namun hal ini tidak diperdulikan oleh Grimmjow dan tetap ingin mengantar gadis pemilik iris abu-abu itu untuk bekerja.
"Silahkan masuk, Hime." Grimmjow membukakan pintu mobil untuk Orihime.
"Terima kasih." Ucapnya datar.
Selama berada didalam mobil pandangan mata Orihime juga lurus menatap kedepan, tak sedikitpun gadis cantik bermata abu-abu ini menoleh atau melirik kearah Grimmjow, membuat suasana dan atsmosfir didalam mobil terasa dingin dan kaku tentunya.
Grimmjow bukannya tak merasakan dan menyadari sikap dingin juga ketus dari Orihime. Hal itu menurutnya sangat wajar, mengingat Orihime yang tengah mengalami amnesia dan tak mengenali dirinya sama sekali.
"Apa kau sudah sarapan Hime?" tanya Grimmjow mencoba memecahkan suasana dingin dan kaku saat ini.
"Sudah," jawab Orihime dengan singkat. Pandangan matanya masih tetap lurus melihat kedepan.
Grimmjow tersenyum miris melihat sikap Orihime yang seperti ini. Akan tetapi ini lebih baik dari pada Orihime pergi menjauh darinya lagi. Dirinya tak sanggup jika harus kehilangan Orihime dan melepaskannya lagi.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit akhirnya mereka berdua sampai dicafe tempat Orihime bekerja yang merupakan milik dari Ulquiorra.
"Terima kasih atas tumpangannya Tuan." Orihime membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Sama-sama Hime. Nanti siang aku akan datang kesini." Grimmjow langsung menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Haah~~" Orihime menghela nafasnya pelan.
Orihime masih diam berdiri didepan cafe, memandangi mobil Grimmjow yang semakin lama semakin menjauh.
"Hati-hati dijalan Tuan." Gumamnya pelan.
Orihime masuk kedalam cafe dan berjalan kearah loker untuk mengganti pakaiannya dengan seragam cafe dan memulai pekerjaan.
Sebelum cafe buka Orihime dan para karyawan cafe lainnya sudah mulai merapihkan meja dan kursi karena cafe akan buka jam sembilan pagi.
Setiap hari Orihime selalu bekerja selama tujuh jam dan selalu dibayar setiap bulannya. Karena ia adalah karyawan tetap dicafe ini, akan tetapi jika pekerja part time mereka akan dibayar setiap seminggu sekali dengan upah perjamnya yang sedikit lebih rendah dari karyawan cafe.
Tak lama setelah cafe dibuka, para pelanggan sudah mulai banyak datang dan jam-jam makan siang adalah waktu yang sangat sibuk dan ramai sekali dicafe ini. Karena banyak karyawan kantor ataupun mahasiswa yang akan makan siang atau sekedar bersantai dicafe ini.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Orihime ramah seraya memperlihatkan senyuman terbaiknya.
"Mari saya antarkan ke meja anda."
.
.
.
Pagi ini saat Grimmjow datang ke kantor, ia dikejutkan oleh kedatangan sang ayah, Aizen ke perusahaannya. Tanpa berbasa-basi atau bersikap ramah pada sang ayah karena ia tahu kalau kedatangan sang ayah ke Jepang dan menemuinya pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
"Apa maumu pak tua?" tanyanya ketus.
Aizen tersenyum kecil mendengar pertanyaan sang anak, "kau to the point sekali Grimmjow,"
"Berbasi-basi denganmu bukanlah keahlianku," sahutnya sinis.
Kali ini Aizen tertawa kecil melihat sikap Grimmjow namun tak lama wajahnya langsung berubah serius bahkan terlihat dingin.
"Ayah ingin kau bertunangan den..."
"Cukup!" potong Grimmjow dengan berteriak.
"Aku tidak mau bertunangan dengan siapapun dan aku bukanlah pion atau boneka hidupmu untuk mencapai keinginannmu." Grimmjow menatap dingin dan penuh kebencian pada sang ayah.
"Ayah tidak perduli, kau harus tetap bertunangan dengan gadis pilihanku. Maka..."
"Apa yang akan kau lakukan?" Grimmjow meneraik kerah jas sang ayah dan menatapnya tajam.
"Ayah akan menghabisi gadis yang kau cintai." Ucap Aizen dingin.
Kedua iris birunya melebar dan tak lama darahnya terasa mendidih.
BUAGH...
Grimmjow memukul wajah sang ayah hingga jatuh tersungkur dan tanpa sengaja kejadian itu dilihat oleh Nnoitra yang datang masuk membawakan kopi untuk Aizen.
Pria tinggi bersurai hitam ini langsung berlari dan berusaha menghentikan perbuatan sang Tuan muda pada sang ayah.
Grimmjow-pun mengusir sang ayah dan memintanya untuk tidak datang lagi kehadapannya. Ia juga tidak perduli dengan ancaman sang ayah karena kini dirinya bukan lagi anak kecil yang tak bisa berbuat apa-apa.
Suasana diruangan Grimmjow terasa menegang dan dingin setelah kedatangan Aizen kesini.
"Tuan muda," panggil Nnoitra.
"Nnoitra aku mohon tinggalkan aku sendirian saat ini." Grimmjow duduk dikursinya seraya memejamkan kedua matanya.
"Baik Tuan muda." Nnoitra-pun pergi dari ruangan Grimmjow dan meninggalkan sang Tuan muda untuk menenangkan diri.
"Hime," panggil Grimmjow lirih.
"Apapun yang terjadi aku akan melindungimu." Gumam Grimmjow sendu.
Setelah hampir satu jam Grimmjow berdiam diri diruangannya, pemuda bersurai biru ini-pun memanggil Nnoitra dan bekerja kembali mengurus perusahaannya.
*#*
Seorang pria bersurai biru terlihat duduk didekat jendela sebuah cafe dan didepannya ada seorang pelayan cafe bersurai oranye kecokelatan yang menanyainya.
"Anda ingin memesan apa Tuan?" tanyanya seramah mungkin pada pria bersurai biru didepannya saat ini, yang tak lain dan bukan adalah Grimmjow Jaegarjaques.
"Seperti biasa, Hime." jawab Grimmjow lembut.
"Kalau begitu mohon tunggu sebentar karena pesanan anda akan tiba beberapa menit lagi," Orihime pergi meninggalkan meja Grimmjow.
Beberapa menit kemudian Orihime datang membawakan pesanan dari Grimmjow dan menaruhnya dimeja.
"Tuan ini pesanan anda,"
Grimmjow terlihat diam dan masih menatap diam pemandangan diluar cafe dari jendela cafe.
Orihime merasa sedikit bingung dengan sikap Grimmjow yang tak biasanya, padahal ia pria yang cukup bawel karena banyak bertanya padanya.
"Tuan, Tuan..." panggil Orihime dengan sedikit mengguncangkan tubuh Grimmjow.
"Ada apa Hime?" tanya Grimmjow dengan kaget.
"Apa anda sedang ada masalah Tuan?" Orihime memandangi wajah Grimmjow yang terlihat sedikit kusut.
Pria bersurai biru ini tersenyum tipis menatap Orihime, "duduklah, Hime. Temani aku sebentar."
Orihime-pun menurutinya dan langsung duduk didepan Grimmjow menemeninya menikmati kopi dan kue keju pesanannya.
"Hime,"
"Ya,"
"Hari minggu nanti kau mau menemaniku berjalan-jalan?" tanya Grimmjow tiba-tiba.
"Hah!" serunya kaget.
Orihime diam dan meremas erat nampan yang tengah dipangkunya.
"Ak..."
Grimmjow menantikan jawaban dari Orihime dengan perasaan sedikit cemas.
"Baiklah Tuan, jam sepuluh ditaman bermain dipusat kota." Ucap Orihime yang langsung membuat wajah Grimmjow terlihat ceria kembali.
"Terima kasih." Grimmjow tersenyum lebar menatap Orihime.
Blush...
Ada sedikit rona merah jambu kedua pipi Orihime saat melihat senyum lebar Grimmjow yang membuatnya terlihat tampan dan manis.
Diam-diam tanpa mereka berdua sadari kalau sejak tadi Ulquiorra terus memandangi keduanya dari kejauhan. Ada perasaan marah, benci juga cemburu dihatinya saat dengan mudahnya Grimmjow mendekati Orihime bahkan bisa membuat gadis bermata abu-abu itu merona malu.
Ulquiorra meremas erat gelas minuman ditangannya, "tidak akan kubiarkan kalian berdua bersatu. Dia milikku selamanya, Grimmjow."
.
.
.
Hari ini cafe sangat ramai sekali dan tak henti-hentinya para pelanggan dating membuat semua karyawan cafe ini sedikit kewalahan melayani para tamu yang datang. Terlebih Orihime yang hari ini harus bekerja dari pagi hingga malam, menggantikan Nana yang tidak masuk bekerja karena mengalami kecelakaan motor.
"Akhirnya tutup juga." Orihime merebahkan kepalanya diatas meja.
Dirinya merasa lelah setelah seharian ini ia melayani para tamu yang datang.
"Lelahnya hari ini." Keluh Syazel yang merasa seluruh badannya terasa sangat pegal sekali melayani para pelanggan yang tak ada habisnya.
"Kau benar," sambung Ryota yang ikut duduk disebelah Syazel.
"Orihime, apakah kau mau pulang bersamaku?" tanya Syazel yang menawarkan tumpangan untuk Orihime karena kebetulan arah rumah mereka sama.
"Terima kasih, Syazel-san. Aku dijemput," tolak Orihime dengan halus.
"Pacarmu yang tampan itu?" goda Syazel.
"Dia bukan pacarku kok," sergah Orihime dengan kedua pipi sedikit merona merah.
Orihime tidak menyangka kalau orang-orang akan berfikir kalau mereka berdua berpacaran. Tak heran jika teman-temannya berpfikir seperti itu, melihat kedekatan mereka berdu juga Grimmjow yang selalu menempel pada Orihime.
Setelah membersihkan dan merapihkan cafe bersama teman-temannya, Orihime pergi keloker untuk mengganti pakaiannya.
Saat Orihime tengah mengganti pakaiannya, tiba-tiba saja lampu padam.
"Aaaaa!" jerit Orihime ketakutan.
Dengan meraba-raba dinding ia mencari pintu lokernya dan mengambil ponselnya untuk penerangan, namun tiba-tiba saja ada orang yang memeluknya dari belakang.
GREP...
"Siapa kamu?" teriak Orihime dengan panik.
Bukannya menjawab perkatannya, orang itu langsung menciumnya tepat dibibir. Orihime membelakkan matanya dan meronta, berusaha melepaskan ciumannya yang sangat dalam.
"Hmph..." Orihime berusaha keras melepaskan bibirnya dari pagutan pria ini namun tenaganya kalah besar dari pria ini.
Setelah memagut bibir Orihime selama dua menit pria itu melepaskan bibir Orihime.
Bisa pria itu dengar deru nafas Orihime yang sedikit terengah-engah, baru juga Orihime bernafas lega, lagi-lagi orang ini menciumnya.
Kali ini ia ini memasukkan lidahnya kedalam mulut Orihime dan mulai menjelajah mulut Orihime juga mengabsen setiap deretan gigi Orihime.
Orihime menangis ketika orang ini menciumnya seperti ini. Tiba-tiba saja sekelabat kenangan tentang kejadian seperti ini terlintas dikepalanya layaknya sebuah proyektor didalam kepalanya.
Tes...
Orihime menitikan air matanya tak kala pria itu mulai menarik bajunya hingga robek dan menampilkan dadanya yang masih tertutupi oleh bra.
"Ulquiorra-sama," tiba-tiba saja Orihime berteriak memanggil nama bosnya.
Orihime tahu kalau orang yang saat ini tengah menyerangnya adalah Ulquiorra.
Wangi parfume yang sama juga cara menciumnya yang sama, lembut namun memaksa membuat otak dan tubuh Orihime tidak bisa melupakan sentuhan dari Ulquiorra. Terlebih bagi Orihime sendiri, kejadian itu menimbulkan trauma padanya.
"Apakah kau mulai mengingatku, Nona?" batin Ulquiorra.
Ulquiorra berhenti sejenak dari aktifitasnya dan memandangi Orihime dalam kegelapan. Jika saja saat ini keadaan tengah terang, Orihime bisa melihat wajah Ulquiorra yang tengah tersenyum lembut dan penuh cinta padanya.
"Apakah kau tahu Nona. Aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri," gumam Ulquiorra dalam hatinya dan masih setia membelai wajah Orihime dengan lembut.
"Aku mohon lepaskan aku." Pinta Orihime dalam ketidak berdayaannya saat ini.
Bukannya melepaskan Orihime, pria bermata Emerald ini malah mencium dan menggigit leher Orihime dan menimbulkan bekas kemerahan akibat ciumannya tadi.
"Tidak akan pernah kulepaskan kau Hime, selamanya kau milikku." Bisik Ulquiorra seraya mengigit cuping Orihime yang membuatnya melenguh pelan.
Tiba-tiba lampu menyala dan keadaan loker yang tadinya gelap kini terang.
Orihime membelakkan kedua bola matanya saat melihata Ulquiorra tengah memandanginya dengan penuh arti.
"Pandangan mata itu," Orihime terlihat sangat ketakutan sekali melihat Ulquiorra saat ini.
Tiba-tiba saja Ulquiorra melepaskan gespernya lalu mengikat kedua tangan Orihime.
"Tidak. Lepaskan aku Tuan," ronta Orihime saat Ulquiorra mengikat kedua tangannya.
SRAK...
Ulquiorra merobek baju depan Orihime dan menampilkan bra berwarna merah yang tengah dipakainya saat ini. Orihime benar-benar sangat takut sekali dan tidak menyangka kalau Ulquiorra akan berbuat sejahat ini padanya.
"Akan kujadikan kau milikku selamanya, Hime." Ulquiorra mulai menciumi leher Orihime sambil meremas keras payudaranya dengan kencang.
"Aaahhh," desah Orihime tanpa sadar akibat perbuatan Ulquiorra.
Setelah menciumi leher Orihime dan meninggalkan bekas kemerah-merahan dilehernya. Ulquiorra mulai turun dan menciumi payudara Orihime juga membuka paksa bra yang menutupi dada indah milik Orihime.
"Ah..Ah..ja-jangan...Aaaaaaa..." Orihime berteriak kencang ketika payudaranya dihisap oleh Ulquiorra.
Orihime menangis ketika dengan paksa dan kejamnya Ulquiorra menyentuh tubuhnya. Ia bertanya-tanya apa salahnya padanya hingga, Ulquiorra tega melakukan ini padanya.
*#*
Entah mengapa hari ini pekerjaan sangat banyak dan menumpuk sekali dimeja. Grimmjow juga hampir lupa untuk menjemput Orihime. Jika saja Nnoitra tidak mengingatkannya.
Saat Grimmjow melihat jam ditangannya, ternyata sudah hampir jam sebelas malam.
"Pasti ia sedang menungguku." Grimmjow melajukkan mobilnya dengan kencang menuju cafe tempat Orihime bekerja.
Saat diperjalanan tiba-tiba saja perasaannya tidak enak dan terus memikirkan Orihime. Ia berharap kalau ini bukan pertanda buruk.
BRUMM...
Mobil Grimmjow berhenti tepat didepan cafe dan saat turun dari mobil tanpa sengaja ia melihat Syazel yang hendak pulang dan mengunci cafe.
"Hei tunggu," teriak Grimmjow mencegah Syazel untuk tidak pergi.
"Ada apa? Bukannya kau pacar Orihime?" tanya Syazel dengan bingung.
"Apakah Orihime sudah pulang?" Grimmjow bertanya balik pada pria berkacamata ini.
Syazel menjadi bingung dengan pertanyaan dari Grimmjow. Karena Syazel pikir kalau Orihime sudah pulang dari tadi. Mengingat kalau hanya ia karyawan cafe yang pulang paling terakhir.
Deg...Deg...Deg...
Tiba-tiba saja jantung Grimmjow berpacu dengan cepat dan perasaannya semakin tidak enak. Buru-buru ia masuk kedalam cafe yang belum terkunci dan berlari mencari Orihime kemana-mana dengan Syazel yang mengikuti dibelakangnya.
BRAK...
Grimmjow menendang keras pintu loker wanita yang terkunci dari dalam. Betapa terkejutnya Syazel juga Grimmjow, saat melihat pemandangan didepannya.
Orihime tergelatak tak beradaya dibawah lantai dengan tubuh telanjang butal dengan Ulquiorra yang pakaiannya berantakan.
"Astaga!" Syazel menatap kaget melihat pemadangan didepannya saat ini.
"Hai," Ulquiorra tersenyum penuh kemenangan pada Grimmjow.
Ulquiorra merasa sangat senang melihat wajah teruka, sedih dan marah dari Grimmjow. Bagaimanapun yang menang kali ini adalah dirinya dan yang akan memiliki Orihime seutuhnya dan selamanya adalah dirinya bukan Grimmjow.
Setelah kejadian ini Ulquiorra akan menikahi Orihime dan menjadikannya miliknya selamanya.
Grimmjow mengepalkan kedua tangannya menahan amaran dan gejolak emosinya pada Ulquiorra. Ingin sekali Grimmjow membunuh Ulquiorra, pria yang sudah berani menodai Orihime, gadis yang dicintainya.
BUAGH...
"Brengsek!" Grimmjow memukul Ulquiorra dengan keras hingga mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya.
"Hahahaha..." Ulquiorra hanya tertawa saat Grimmjow memukulnya.
Syazel hanya bisa diam terpaku melihat semua kejadian yang ada didepan matanya saat ini. Dirinya tak mengira kalau bosnya, bisa berbuat sehina ini pada Orihime. Karena tak mau terlibat lebih jauh, Syazel memutuskan untuk segera pergi dari cafe dan bergegas pulang.
Dengan perlahan Grimmjow berjalan kearah Orihime yang saat ini tak sadarkan diri. Grimmjow melepaskan ikatan ditangan Orihime dan menutupi tubuhnya dengan jas yang tengah dipakainya lalu menggendongnya.
"Hime," Grimmjow memandang sendu wajah damai Orihime. Bisa ia lihat dengan jelas banyaknya kiss mark ditubuh Orihime, yang pasti itu adalah hasil karya dari Uquiorra.
"Dia akan menjadi milikku Grimmjow." ucap Ulquiorra dengan menekankan kata 'milikku' pada Grimmjow.
Akan tetapi Grimmjow tidak menggubris perkatan Ulquiorra sama sekali dan langsung pergi membawa Orihime kedalam mobilnya.
Setelah Grimmjow pergi Ulquiorra tertawa dengan puas tak pernah sekalipun Ulquiorra akan tertawa seperti ini.
"Hahaha! Aku menang Grimmjow."
"Brengsek. Sial!" Grimmjow melajukan mobilnya dengan cepat sekali.
Saat Grimmjow pulang kerumah para pelayan menatap heran dan bingung padanya karena menggendong seorang gadis asing yang tak pernah mereka lihat sama sekali.
"Tuan. Ada apa dengannya?" tanya Nnoitra dengan bingung dan cemas tentunya saat melihat penampilan Orihime.
"Tolong kau siapkan air hangat juga pakaian untuknya, lalu bawakan kekamarku segera," ujar Grimmjow dengan tegas.
Dari nada suara yang dikeluarkan olehnya terdengar sekali kalau Grimmjow terlihat sangat marah sekali.
"Baiklah Tuan." Nnoitra langsung mengerjakan permintaan Grimmjow.
Tak lama para pelayan membawakan apa yang diminta dengan perlahan Grimmjow membersihkan tubuh Orihime dari sisa cairan menjijikan dari Ulquiorra.
"Maafkan aku Hime. Karena tak bisa menjagamu dengan baik." Grimmjow memeluk tubuh Orihime dengan erat sekali.
Tes...
Tanpa sadar ia menitikan air matanya, Grimmjow merasa benar-benat terluka karena gadis yang sangat dicintainya telah dinodai dan disentuh oleh Ulquiorra.
*#*
Saat Orihime terbangun dan membuka kedua matanya dirinya tengah berada didalam sebuah ruangan bernuansa biru laut dengan ornament yang sangat indah sekali. Sesaat Orihime berfikir kalau tengah berada didalam surga sampai ia mendengar suara seorang wanita didekatnya.
"Orihime. Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita cantik bersurai hitam dengan cemas.
"Anda siapa? Dan aku ada dimana?" tanya balik Orihime dengan bingung.
Orihime merasa seluruh tubuhnya sakit, terlebih dibagian bawahnya. Sesaat ia kembali teringat tentang kejadian tadi malam yang dilakukan oleh Ulquiorra.
Tes...
Gara-gara mengingat hal itu air mata Orihime mulai jatuh.
Gadis cantik ini memeluk tubuh Orihime dengan sangat erat. Dan ia merasa mendapatkan ketenangan saat ia dipeluk seperti ini.
"Tenanglah Orihime. Semua akan baik-baik saja percayalah." Ujar wanita cantik ini dengan lembut.
Andaikan saja Orihime tidak mengalami amnesia, mungkin ia akan merasa sedikit tenang dan senang saat bertemu kembali dengan Rukia yang merupakan sahabatnya dulu.
Rukia langsung datang kerumah Grimmjow ketika mendengar kejadian yang menimpa Orihime juga memarahi pria bersurai biru itu karena tidak memberitahukan padanya kalau sudah menemukan keberadaan Orihime, temannya yang sudah menghilang enam tahun.
CKLEK...
Grimmjow datang dengan membawakan sarapan untuk Orihime. Wanita cantik bersurai hitam ini langsung melepaskan pelukkanya dan beranjak pergi meninggalkan Orihime, berdua dengan Grimmjow.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Grimmjow cemas.
Orihime hanya diam dan membelakangi tubuh Grimmjow. Ia tidak sanggup menatap wajah Grimmjow saat ini. Orihime masih menangis dalam diam. Ia menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh Grimmjow.
"Lihat aku Hime," Grimmjow memegai wajah Orihime dengan kedua tangannya.
Orihime hanya diam dan menangis menatap Grimmjow.
"A-aku..."
GREP...
Grimmjow memeluk tubuh Orihime dengan sangat erat sekali karena tidak sanggup dan tahan melihat wajah terluka dari Orihime.
"Tenanglah Hime. Aku ada disini," Grimmjow membelai rambut Orihime dengan perlahan. Sesekali ia mencium rambut Orihime.
Grimmjow jadi teringat kembali dengan kejadian enam tahun yang lalu. Saat itu Orihime terpaksa dipenjara karena tanpa sengaja melukai Ulquiorra, saat diperkosa. Kini kejadian itu terulang kembali pada Orihime, akan tetapi saat ini Ulquiorra berhasil menodai Orihime.
"Hiks...hiks...hiks...hiks..." Orihime terus menangis dalam pelukkan Grimmjow.
Grimmjow berjanji tidak akan diam dengan masalah ini dan akan membalas perbuatan Ulquiorra. Mungkin dulu enam tahun yang lalu, Grimmjow masih seorang anak kecil dan hanya murid SMA biasa.
Namun kini ia bukanlah anak kecil lagi, dan telah menjelma menjadi orang yang hebat. Tak hanya itu saja Grimmjow juga memiliki kekuasaan dan kekayaan sama seperti Ulquiorra.
"Ulquiorra Schiffer. Akan kubalas perbuatanmu." Ucap Grimmjow dengan penuh kebencian.
TBC
A/N : Hore akhirnya bisa lanjutin cerita ini lagi. Maaf jika kelanjutan ceritanya seperti ini. Tapi tenang aja cerita ini bakalan Happy Ending kok. Soalnya Inoue ga suka dengan akhir cerita yang Sad Ending. Apalagi yang jadi tokoh utamanya adalah Orihime Inoue hehehe^^.
Guest : Maaf Inoue baru bisa melanjutkan fic ini. Semoga senang dengan kelanjutan ceritanya.
Ulquihime lovers : Ini udah Update, kalau GEE tadinya minggu ini mau Updatenya. Tapi karena seseuatu harus Inoue undur dari janji yang sudah Inoue katakan keseseorang. Semoga tidak kecewa dengan kelanjutannya ^^
Oryahaara maia : Inoue jadi terharu banget baca Riview kamu. Makasih ya udah seneng sama cerita Inoue, maaf banget kalau Inoue ngaretttt dan lama Updatenya. Semoga kamu tidak kecewa dengan kelanjutannya. Ikutin terus ya ceita ini. Sebentar lagi juga udah mau tamat hehehe^^
Kertas hvs : Ini udah Inoue lanjutkan ceritanya jadi jangan lempar Inoue pake sandal ma digigit ya hehehe^^,,Pengennya sih Updatenya langsung banyak chapter tapi lagi-lagi semuanya tergantung Mood juga ide yang ada didalam otak Inoue yang kadang-kadang lagi encer atau mentok hehehe ^^.
Inoue juga mau banyak-banyak berteima kasih pada : Hitsugaya Bintang Zaoldyeck, Karin Ryodai, Kn Fujoshi, Riri seu, Vipris, jenny eun-chan, Kim Ri Ha, Rosachi-hime, hormonal granny.
Terima kasih banyak karena sudah mau memfav sama memfolow cerita ini. Inoue juga mau mengucapkan banyak terima kasih pada fayiyong senpai yang sudahmemberikan saran buat saya.
Inoue Juga berterima kasih buat yang sudah meriview cerita ini dari awal hingga sekarang.
Jika ada yang berkenan RnR Please ^^
Untuk kelanjutan cerita ini, Inoue tidak bisa janji dekat-dekat ini dipublish karna Inoue juga masih punya hutang fic yang lainnya.
Sampai jumpa dikelanjutan fic ini ya, Semoga kalian suka dengan ceritanya.
Inoue Kazeka ^^
