Mian telat update... Gomapta ya yang udah baca dan support Saki...
"Cavalier blue," jawab Yunho, sambil mengangguk pada Jaejoong. "Aku perlu kendaraan pribadi selama di sini. Kurasa, yang kubutuhkan kendaraan jenis pickup seperti ini. Bagaimana cara membawa mobil ini dan pesawat terbangnya kembali ke Jepang, itu yang belum aku tahu."
Semua tertawa. Perasaan Jaejoong luluh ketika memandang Yunho, melihat rambutnya yang tertiup angin dan sorot matanya yang berseri-seri.
"Aku lapar sekali. Makan malamnya sudah siap?" Yunho melingkarkan satu tangan ke bahu Jaejoong dan tangan lainnya ke pundak Sungmin. "Mari kutemani ke ruang makan."
Sebelum mereka mencapai teras rumah, Boa muncul di ambang pintu dan berseru, "Jaejoong, Yunho! Syukurlah kalian sudah di sini. Dokter rumah sakit menelepon. Kondisi Siwon memburuk. Dokter bilang sebaiknya kalian segera ke rumah sakit."
.
.
Hanya satu lampu kecil redup yang menerangi ranjang kamar Siwon di rumah sakit. Semacam lampu sorot. Sinar lampu diarah-kan ke bawah, sehingga cahayanya tepat me-ngenai wajah pria yang tengah menderita ke-sakitan itu. Perawat sedang membungkukkan badan di dekat Siwon ketika Yunho dan Jaejoong memasuki kamar.
Dengan tangan yang ditusuk selang, Siwon mengibaskan tangan, menyuruh perawat itu keluar dari kamarnya.
"Cepat keluar dari sini, tinggalkan aku. Tak ada yang kau kerjakan di sini."
"Tetapi Tuan Jung..."
"Nawa!" bentaknya kasar. "Aku ingin bicara dengan istri dan putraku." Kata istri dan putra, kedua kata itu, diucapkan Siwon dengan nada mengejek.
.
.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
.
Perawat itu pun segera meninggalkan kamar. Sol sepatunya yang terbuat dari karet berderit pedahan saat melangkah di lantai yang berlapis vinyl. Jaejoong mendekati ranjang Siwon dan memegang tangannya. "Kami langsung ke sini begitu dokter menelepon."
Mata Siwon yang hitam, bak peluru, menatap Jaejoong bagai moncong senapan yang ditodongkan. Air muka Siwon jelek sekali. Bayang-bayang kehidupan yang hancur terpancar dari mukanya, bukan secara fisik tetapi spiritual. Kehancuran yang menggerogotinya selama bertahun-tahun dari dalam, yang baru sekarang muncul ke permukaan.
"Kuharap aku tidak membuat kalian terpaksa harus meninggalkan sesuatu yang lebih penting," kata Siwon sinis dan menarik tangannya dari genggaman Jaejoong.
Jaejoong tidak mau terpancing. Dengan tenang ia menanggapi, "Tentu saja tidak, Siwon. Kau tahu aku datang ke sini untukmu."
Siwon tersenyum sinis. "Agar kau segera tahu aku sudah mati? Supaya kau langsung tahu, kau sudah bebas dariku?"
Tubuh Jaejoong tersentak seperti orang yang ditinju keras di kepala. "Mengapa kau berkata seperti itu? Apa kau pikir aku ingin kau meninggal? Bukankah aku sejak dulu mendorongmu segera memeriksakan diri ke dokter? Tak ada alasan kau meragukan pengabdianku padamu.
"Itu karena kau tidak punya kesempatan saja." Tatapan Siwon bergeser ke Yunho, yang berdiri di ujung ranjang, mukanya tanpa ekspresi.
"A..apa maksudmu mengatakan begitu?"
Jaejoong tergagap, membuat mata Siwon kembali tertuju padanya.
"Maksudku, karena pria yang begitu kau dambakan kini tinggal satu atap denganmu. Kau bisa tergoda untuk tidak setia pada suamimu, yang kau katakan untuknya kau abdikan hidupmu."
Jaejoong merasa napasnya mau putus. Tanpa mampu berkata-kata ia menatap suaminya. Seringai licik mengembang di bibirnya. Matanya berapi-api seperti nyala api neraka.
"Maksudmu, Yunho?" tanya Jaejoong, menegaskan.
"Yunho." Siwon mengulangi, menirukan Jaejoong. "Yunho, Yunho. Tentu saja dia! Sudah pasti yang ku maksud Yunho."
Jaejoong membasahi bibir. "Tetapi Yunho dan aku... kami tidak punya... kami tidak pernah..."
"Jangan bohong padaku." Siwon duduk dan membentak Jaejoong. Ia seperti iblis yang ber-wajah seram, terikat selang-selang plastik di ran-jang. "Jangan coba berpura-pura di hadapanku, Nona Cilik. Aku tahu semua cerita tentang dirimu dan Yunho."
.
.
Jaejoong menjauhkan diri dari Siwon, bahunya condong ke depan, tangannya dilipat di perut. Matanya mencari-cari Yunho. Yunho bergeming. Ia tetap berdiri kaku di ujung ranjang ayahnya yang sekarat. Matanya menyorotkan kebencian yang dalam. Dialah yang memecah keheningan yang menakutkan di ruangan itu.
"Kau tahu soal Jaejoong pada malam kau memberitahuku tentang Ahra yang hamil, bukan?"
Siwon ambruk di bantal, Napasnya terdengar seperti bunyi lembaran kertas yang dilipat-lipat. Secara fisik, jelas tenaganya banyak tersedot untuk mengungkapkan pesan kemenangannya. Namun air mukanya berbinar memancarkan kepuasan ketika ia menatap putranya dengan sorot mata penuh kedengkian.
Siwon tertawa. "Aku tahu. Semuanya," katanya sinis.
"Kau harusnya sadar, tak mungkin kau pergi menyelinap ke hutan setiap hari tanpa membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku akan mengagumi kecerdikanmu, bila kau bersikap lebih cerdik."
"Jadi kau pernah membuntutiku dan melihat kami bersama," tanya Yunho dengan suara tetap tenang dan rendah.
"Hah, tentu saja tidak!" jawab Siwon, senang. "Aku tak mau merepotkan diriku ikut campur urusanmu. Aku hanya penasaran, kenakalan apa yang kaulakukan. Cukup kusuruh begundal-begundal mengikutimu. Mereka memberikan laporan yang sangat menarik. Kau menemui gadis miskin di tepi sungai setiap hari."
Jaejoong terisak memilukan hati. Namun Siwon sama sekali tidak memedulikannya. Yang jadi sasarannya adalah putranya, seperti biasanya. Selama ini Jaejoong hanya diperalatnya.
"Gadis yang kau temui setiap hari secara sembunyi-sembunyi hanya gadis di bawah umur, kata anak buahku, tetapi tubuhnya sangat menggiurkan." Siwon membasahi bibirnya. Jaejoong memejamkan mata, dan berusaha meredam perasaan muak. Tubuh Yunho agak gemetar karena berusaha mengendalikan kemarahan yang menyergapnya. "Kami tertawa geli ketika tahu yeoja pujaanmu ternyata putri Kim Hyunjoong." Siwon mengedipkan mata pada Yunho. "Tetapi aku kagum akan seleramu pada yeoja, anakku. Ia yeoja ingusan, tetapi waktu itu kau berani menanggung risikonya, bukan?"
"Mari kita luruskan permasalahannya," sela Yunho. "Kau tahu yang dikandung Ahra bukan anakku, bukan?"
"Kurasa, bayi itu mungkin saja anakmu atau anak laki-laki lain, dan kau tidak bisa membuktikan sebaliknya. Setiap orang di kota tahu Ahra bisa diajak tidur siapa saja."
"Bukan anakmu?"
Yunho menoleh, melihat Jaejoong menatapnya. Suaranya terdengar parau, menyiratkan ketidak percayaan dan... perasaan lain. Gembira? Matanya berkaca-kaca.
"Bukan, Jaejoong," jawab Yunho. "Bayi itu bukan anakku."
"Tetapi kau pernah tidur dengan Ahra, bukan?" Siwon bertanya dari ranjang.
Mata Yunho tetap tertuju pada Jaejoong ketika menjawab pertanyaan Siwon, "Ya. Tetapi itu terjadi jauh sebelum ia hamil. Aku tidak pernah kencan dengan yeoja lain selama musim panas itu setelah mengenal Jaejoong. Junsu bukan anakku."
Yunho kembali menghadap ke wajah ayahnya. "Dan kau tahu soal itu. Waktu itu kukatakan padamu bayi itu bukan anakku, karena hampir setahun aku tidak tidur dengan Ahra. Tetapi kau memaksaku menikahinya juga. Wae?"
"Senang aku mengetahui kau lupa bahwa kau sendiri yang memilih menikahinya."
"Karena kau mengancamku akan memasukkan Sungmin ke panti asuhan bila aku menolak mengawini Ahra!" teriak Yunho, mengeluarkan kemarahan menggelegak yang sejak tadi diredamnya.
.
.
"Ya tuhan!" Jaejoong menutup muka dengan tangan. Akankah mimpi buruk ini tidak pernah berakhir? Siwon memaksa Yunho menikahi gadis yang mengandung anak laki-laki lain? Bagaimana ia bisa melakukan hal itu?
"Mengapa kau memaksaku menikahi Ahra Mengapa kau tidak menyangkal pernyataan ayah Ahra bahwa aku bukanlah ayah bayi itu dan mengusirnya dari rumah? Aku yakin kau bukan orang yang takut menanggung akibat skandal ini. Kau bukan orang yang peduli norma masyarakat. Dan aku tahu si tua Go itu tidak mengancammu. Mengapa kau memaksaku mengawininya?" Suara Yunho meninggi, pertanyaannya itu terasa seperti tetap menggema di dalam ruangan setelah keluar dari mulutnya.
"Uang," jawab Siwon, pendek. "Ayahnya punya banyak uang. Aku lagi butuh uang. Sesederhana itu masalahnya. Aku menjualmu, anakku, senilai dua puluh lima ribu dolar."
Yunho terpaku. Kendati sudah tahu kebrengsekan ayahnya, sama sekali tak terlintas dalam benaknya bahwa uang menjadi penyebab pemaksaan itu.
"Tetapi kau tidak mencegahku bercerai setelah Junsu lahir," kata Yunho.
"Itu tidak termasuk dalam kesepakatan. Si Bangka Go hanya menginginkan suami untuk putrinya yang malang dan ayah untuk cucunya. Ia ingin nama keluarga terhormat menempel di belakang nama cucunya, tercetak di akte kelahirannya."
"Terhormat," lanjut Siwon sambil menatap langit-langit. "Kita suka yang berbau kehormatan, bukan?"
"Selain itu," lanjut Siwon, "itu cara yang lebih bagus untuk menyelamatkanmu dari kesalahan besar."
"Kesalahan apa?"
"Mengawini gadis miskin, itulah maksudku." Siwon mengarahkan pandangannya ke arah Jaejoong.
"Jangan libatkan dia dalam masalah ini," kata Yunho mengancam. "Soal ini tak ada sangkut pautnya dengan Jaejoong."
Siwon tertawa geli, mengejek. "Semuanya terkait dengan Jaejoong. Aku tidak mau kau menghamili yeoja seperti Jaejoong, bukan? Segalanya bisa jadi sangat kacau balau."
"Bukan itu masalahnya." Yunho mengucapkan kata-kata itu sambil mengertakkan gigi.
"Dari apa yang dilaporkan informanku, hubungan kalian makin intim. Mereka bilang kau sulir mengendalikan keinginanmu untuk tidak menyentuhnya." Siwon menyipitkan mata memandang putranya. Bibirnya mencemooh. "Dasar anak bodoh. Tahu kau betapa sulit bagiku untuk menahan rasa geli ketika kau bilang sudah menemukan gadis yang ingin kau nikahi?"
Jaejoong terkejut, matanya tertuju pada Yunho. Yunho meliriknya sekilas, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk menanggapi tatapan mata hitam kelam Jaejoong yang penuh tanda tanya itu.
Siwon melanjutkan kata-katanya tanpa perasaan. "Ahra memang gadis binal. Ia membiarkan lelaki mana saja merayap di antara kedua kakinya. Tetapi paling tidak, ia datang dari keluarga terhormat." Mata Siwon dialihkan pada Jaejoong. "Paling tidak, ia bukan putri pemabuk."
.
.
"Lalu, mengapa kau menikahi aku?" tanya Jaejoong, memecah kebisuannya akhirnya.
Siwon harus mempertanggung jawabkan semua sakit hati yang dideritanya. Selama ini ia pikir Yunho menghamili Ahra dan tetap menemui dirinya. Siasat Siwon berhasil dilaksanakan dengan baik. Ia berhasil meraih apa yang di inginkan dengan sengaja menghancurkan kehidupan mereka berdua, dirinya dan Yunho. Jaejoong merasa takkan kehilangan apa pun bila melawan Siwon sekarang.
"Aku menikahimu karena ingin membuat investasi yang menguntungkan," jawab Siwon singkat.
"Apa maksudmu?" Perasaan Jaejoong galau, membuatnya tidak ingin tahu lebih jauh kelanjutannya. Namun ia harus tahu. Rahasianya harus tersingkap malam ini. Ia tidak yakin akan mampu bertahan bila harus menghadapi hal seperti ini lagi lain kali. Lebih baik ia tahu segalanya sekaligus. "Investasi apa?"
"Terkutuklah aku," kata Yunho perlahan, ketika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Kau bisa menebaknya, kan?" tanya Siwon sambil tawa terkekeh.
"Tolong jelaskan padaku, salah satu dari kalian, apa duduk persoalannya?" teriak Jaejoong.
"Kurasa, kau tinggal dengan penolong misteriusmu, Jaejoong," kata Yunho pelan.
Jaejoong menatap Yunho sampai awan ketidak mengertian menguap, memahami segalanya bila saja ia menyelidikinya.
"Soal beasiswa?" Jaejoong bertanya dengan suara parau, sambil menatap Siwon.
"Aku harus menjauhkan dirimu dari kota, menjaga kalau-kalau Yunho suatu hari bercerai, kemudian memutuskan kembali padamu."
"Kau yang membiayai semua sekolahku?" Jaejoong mencoba menyimpulkannya. "Sebegitu pentingnyakah, hanya demi menjaga reputasi dan nama keluargamu?"
"Oh, bukan hanya itu," jawab Siwon. "Kau harus dipersiapkan untuk menyempurnakan seluruh rencananya."
"Rencana apa?" tanya Jaejoong
"Bahwa kau harus menjadi Nyonya Jung, Nyonya Jung Siwon."
Dengan tetap melipat tangan di perut, Jaejoong agak membungkukkan badan. Perasaan terhina memenuhi dirinya.
"Kau merencanakan semua ini sejak bertahun-tahun lalu? Kau berhasil mewujudkannya?"
"Coba pikir, bagaimana kau bisa dapat pekerjaan di bank itu begitu lulus dari univesitas? Apa kau pikir hanya kebetulan aku bertemu denganmu di bank itu? Sudah kusiapkan pekerjaan untukmu di pemintalan bila waktunya tiba. Ingin mendengar cerita selanjutnya?"
"Tetapi mengapa?" teriak Jaejoong. "Mengapa?"
Siwon tidak menjawab, ia hanya melirik Yunho, Yunholah yang memberi jawaban atas pertanyaan Jaejoong. "Karena aku menginginkan dirimu. Dan Siwon tahu itu. Dan ia akan melakukan apa pun, dengan cara paling licik sekalipun, termasuk bila harus menikahimu, agar aku tidak memilikimu."
"Kau memang anak cerdas," kata Siwon sambil melirik.
"Kau juga menyuruh Sungmin menulis surat padaku bahwa Jaejoong sudah menikah."
"Itu kan pekerjaan yang mudah dilakukan. Sungmin mau melakukan apa pun yang ia tahu bisa membuat aku senang dan melupakannya dalam waktu beberapa jam. Kau harus banyak belajar soal pengabdian dan kehormatan dari yeodongsaengmu yang babo itu, nae adeul."
"Kehormatan." Yunho mengumpat kata itu.
"Bertahun-tahun lamanya kau memanipulasi kehidupan kami hanya karena dendammu terhadap Yunho?" kata Jaejoong, yang masih tidak percaya ada pria yang bisa terobsesi rasa benci seperti itu. "Kau anggap aku tidak pantas bersanding dengan Yunho, tetapi kau menikahiku. Kau berikan nama keluargamu padaku, membawaku tinggal di Jung Mansion ini. Aku tak mengerti."
"Kau mudah dibujuk, Sayangku. Aku tahu itu karena latar belakangmu. Keluarga kami, nama keluarga Lancaster dan rumah Jung Mansion akan mewujudkan mimpi yang tak pernah bisa kaudapat. Rumah dan nama keluarga adalah umpan yang sulit kau tolak, bukan? Meskipun rumah dan nama keluarga itu milik kekasih yang sangat kaurindukan. Sebetulnya, aku harus berterima kasih padamu karena membuat segalanya menjadi mudah. Kau pandai bicara dan jujur, itu kelebihanmu. Kau beradab. Hanya Tuhan yang tahu mengapa kau punya sifat seperti itu, tetapi yang jelas itu suatu keuntungan. Wajahmu yang cantik, menarik untuk dipandang, membuat orang yakin orang tua busuk seperti aku ini bisa terpesona olehmu. Yah, Jaejoong, terima kasih, kau membuat segalanya menjadi mudah."
Jaejoong berbalik karena malu. Ia diperalat dengan cara yang paling memalukan. Tetapi anehnya, ia malah menyalahkan dirinya sendiri ketimbang akal busuk suaminya. Andai ia tidak terlalu polos... Andai ia tidak terlalu cepat menjatuhkan tuduhan pada Yunho. Andai ia tidak terlalu ambisius. Andai, andai, andai... Apa yang dilakukan Siwon untuk menyakiti hatinya yang lebih daripada ia menyakiti dirinya sendiri?
.
.
Kitahara Saki
.
.
Sorot mata lelaki yang sekarat itu tampak berbinar-binar, ditujukan kepada mereka berdua. "Bagaimana rasanya tinggal di bawah satu atap? Tersiksa? Minggu ini minggu paling menyenangkan, melihat kalian berdua menggeliat. Kalian pikir tak ada yang tahu, bukan? Oh, betapa menyenangkannya melihat kalian berusaha menyembunyikannya, melihat kalian berdua berusaha tidak saling pandang dan menjauhkan diri."
Mata Siwon tertuju pada Yunho. "Kau mulai menginginkannya kembali, bukan, anakku? Kau hampir tak dapat menahan gairah di antara kedua kakimu, bukan? Pernah kau bayangkan Jaejoong di ranjang bersamaku dan apa yang kami lakukan di sana?"
Jaejoong berbalik, murka dan merasa terhina. "Hentikan, Siwon!"
"Lihatlah dia, anakku. Tubuhnya indah sekali, bukan?"
"Diam!" teriak Yunho.
"Yeoja sempurna. Setiap sentimeter sangat mulus, sangat yeoja."
"Jangan bicara seperti itu tentang dirinya, brengsek!"
Siwon tertawa mengejek. "Aku tidak mengatakan apa yang tidak terpikir olehmu. Pernahkah terpikir olehmu bagaimana rasanya menciumnya? Memeluknya? Melepas pakaiannya? Menidurinya? Kau pernah merindukan istri ayahmu, anakku?"
"Oh, Tuhan." Dengan perasaan remuk redam, Jaejoong lari keluar dari kamar.
Siwon tertawa ketika melihat Jaejoong pergi.
"Kau bajingan!" maki Yunho kepada ayahnya dengan suara tenang mematikan.
"Aku memang bajingan." Dengan susah payah Siwon berusaha bangkit dan menopang tubuhnya dengan siku. "Aku akan terpanggang di api neraka, tapi aku menikmati setiap detiknya karena hidupmu lebih tersiksa lagi di dunia ini. Sejak kau dilahirkan, kau selalu membuat masalah denganku."
"Karena yang kulihat hanya kebobrokan dalam dirimu. Karena kau membunuh ibuku, layaknya menembakkan peluru ke otaknya."
"Mungkin. Mungkin. Ia yeoja lemah. Tidak penah melawanku. Tetapi kau selalu menantangku. Kau selalu menantangku. Aku tak tahan melihat sorot matamu yang menatapku dengan sorot mata kebenaran. Makin tambali usiamu, kau makin menyiksaku. Kau menegur hati nuraniku dan aku tidak ingin menjadi manusia yang punya hati."
Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar diarahkan kepada Yunho. "Ya, aku mendapatkan kembali anakku, putraku. Memang makan waktu lama untuk mendapatkannya, tetapi aku berhasil. Kau tak bisa lagi memiliki yeoja itu sekarang, Yunho. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Jung takkan merelakan dirimu memiliki Jaejoong."
Siwon berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Jaejoong istriku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali!"
.
.
.
.
To Be Continued
