Pertemuan Badai

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 12 : Tentang Rasa

Bel istirahat pertama berbunyi nyaring ke penjuru Konoha Gakuen. Sakura, Ino, Tenten, Naruto dan Kiba berjalan keluar dari kelas diselingi dengan Naruto dan Kiba yang bertengkar –dan selalu dipisahkan dengan jitakan Sakura di masing-masing kepala.

"Aw! Sakura-chan, ittai!" Ini ringisan dari Naruto dan Kiba yang ketiga kalinya setelah dijitak oleh Sakura yang tersenyum puas ke arah mereka.

"Makanya jangan ribut kalian ini!" sahut Ino. "Nanti Madam Jidat marah-marah ke kita." Tenten dan Ino tertawa keras, diikuti Kiba dan Naruto. Sakura? Mengumpat dalam hatinya akan meninju tepat di ulu hati Ino sepulang sekolah nanti.

"Hei!" sahut Naruto, "Jidat-jidat begitu, Sakura-chan pintar, tahu! Nggak macam kalian, udah tingkat 3 tapi nggak tahu bahasa inggrisnya gomen!"

"Ngawur kau, Naruto!" Tenten membungkuskan lipatan jari-jarinya hingga membuat Naruto memiliki cepol dua seperti Tenten, bukan di belakang tapi di depan, tepat di dahi.

"Udah, ah! Nanti ke kantinnya nggak jadi!" ujar Ino diikuti oleh yang lainnya yang kesal dengan Naruto-Kiba-Sakura-Tenten yang sedari tadi bertengkar hanya karena Naruto dan Kiba.

"Tadi ke gym kenapa, Nar?" tanya Sakura di sela perjalanan, "Dipanggil karena buat masalah lagi atau semacamnya?"

"Ih, mentang aku dicap trouble maker sama anak-anak klub majalah jadi dibawa-bawa deh!" ujar Naruto kesal, "Aku diikutkan lomba dodge ball lawan sekolah lain nanti."

"Bagus, dong!" seru Sakura senang. "Akhirnya kau ikut lomba juga." Naruto menoleh ke arah Sakura yang tersenyum menyemangatinya. "Ganbatte!"

"Arigato, Sakura-chan," ujar Naruto. Cengiran rubahnya ia tunjukkan, membuat guratan tiga garis di kedua belah pipinya melengkung ke atas. Akhirnya mereka sampai di kantin yang penuh dengan anak-anak. Padat. Kalau ibarat Naruto, sepadat jalinan mi ramen.

"Kalau begitu," ujar Ino, "bagaimana kalau sang tuan dodge ball ini mentraktir kita makan di kantin untuk perayaannya sebagai anggota tim inti dodge ball, hm?" Kiba dan Tenten mengangguk antusias.

"Mau banget, tuh! Udah mulai menipis, nih, dompetku, Nar! Kasihan!" dukung Kiba. Sakura tertawa kecil. "Tuh, Sakura sama Tenten aja setuju, kok!"

"Weits, belum, kok!" bela Naruto. Ia menoleh ke Sakura yang heran melihat mereka. "Nggak setuju, kan, Sakura?" Sakura tersenyum manis.

"Kalau semuanya setuju, aku setuju saja." Bagai petir di siang hari, Naruto jatuh terjungkal ke depan. Kiba tertawa puas mendengarnya. Tiga wanita tadi?

"Kau benar-benar bodoh, Naruto. Ck."

"Makanya jangan kepedean dulu, Nar!"

"Lho? Kok pada ketawa?" Yang terakhir pasti Sakura, yang kini tengah kebingungan melihat teman-temannya tertawa.

"Ternyata," bisik Tenten ke Ino, "Sakura yang pintar bisa lemot juga. Pantas saja dia nggak masuk ke kelas 3-1." Ino manggut-manggut. Berita baru, batinnya.

"Kalian ngomongin Sakura-chan, ya?" tanya Naruto ke arah Ino dan Tenten dengan pandangan curiga. Sakura makin heran, sedangkan Kiba malah tergelak.

"Kiba gila, ah! Ketawa mulu!" sahut Naruto. "Kapan makannya ini? Lapar!" Naruto memegangi perutnya yang mengerang-erang minta diisi. Sakura tertawa kecil.

"Hari ini giliranku ambil di kantin," ujar Sakura, "mau pesan apa?"

"Sakura-chan masih keibuan seperti dulu, baik lagi!" Kiba dan Naruto bergumam riang.

"Aku pesan ramen saja!" ujar Naruto. Sakura mencatat dalam ingatannya. "Minumnya jus jeruk."

"Aku pesan salad saja, terus makanan anjing untuk Akamaru di kelas." Lho? Pantas saja Akamaru tak menyalak-nyalak sedari tadi. Biasanya, Akamaru akan melerai Naruto dan Kiba saat bertengkar dengan gigitan di kedua tangan mereka –bisa dibayangkan?

"Aku pesan kamabako sama Tenten." Ino mewakilkan Tenten yang tengah berbincang dengan Kiba mengenai Akamaru.

"Jadi, Akamaru kau tinggal di kelas?" tanya Tenten tak percaya. "Siapa yang jaga nanti?"

"Tenang," ujar Kiba santai, "Akamaru itu anjing pintar, mana mungkin hilang!"

"Kita lihat saja nanti!" gumam Naruto. "Aku akan membuat Akamaru menjadi anjing yang bodoh!"

"Anjing yang bodoh, ya. Aku tidak sudi Akamaru setingkat denganmu, Nar!" sahut Kiba. Tenten dan Ino tertawa kecil.

"Apa? Kamu nyamain aku sama anjing bodoh?" tanya Naruto tersinggung. "Kalau aku anjing, kau apa, dong? Rubah?"

"Hei, yang cocok jadi rubah itu kau, Nar!" sahut Ino. Sakura hanya memejamkan mata sejenak melihat riuh rendah di kantin yang sudah menjadi makanan sehari-harinya, lalu…

GEBRAK!

"BERHENTI!" Sekali gebrak, Sakura sudah membuat seisi kantin terdiam. Bagaimana tidak terdiam, kalau gebrakannya itu sampai terdengar ke lantai 3 Konoha Gakuen? "Kalau ribut lagi aku tak segan-segan akan menggebrak tanah." Sakura tersengal-sengal. Nafasnya terputus-putus. Habis sudah kekuatannya untuk sekali gebrak. Mungkin Sakura akan banyak makan setelah ini.

"Kyaa! Nanti akan ada gempa bumi, dong!" sahut Ino ngeri. "Bisa dibayangkan…" Tenten manggut-manggut, di dalam pikirannya terlihat Konoha hancur berserakan hanya karena gebrakan Sakura. Sakura tahu, itu menyebalkan dan berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kekuatannya.

"Udah, aku mau beli makan!" ujar Sakura lalu meninggalkan meja nomor 15 langganan trouble maker kelas 3-2. "Yang ribut nggak aku belikan makan!"

"Yaah, Sakura-chan pelit!" rengut Naruto. Sakura memukul bahunya. "Aw!"

"Hanya bercanda, rubah!" ujar Sakura. "Mana tega aku melihat wajah-wajah orang tua kalian yang marah-marah karena anaknya nggak makan di kantin hari ini?" Air muka Naruto berubah ceria. "Mungkin aku hanya akan membawa yang tidak ribut saja. Yang ribut? Ambil sendiri."

Sakura melenggang pergi meninggalkan Naruto yang bersungut-sungut seraya tertawa lepas. Seisi kantin bergidik ngeri saat sang hime tengah berjalan menuju kantin. Ino dan Tenten merasakan aura mengerikan menguar dari tubuh belakang Sakura, dan hal itu sudah jadi hal biasa bagi mereka yang sering melihat Naruto dan Kiba bertengkar.

"Satu masalah clear," gumam Sakura seraya tersenyum puas. "Ayame-san, aku ingin ramen dan dua kamabako. Lalu, salad dan semangkuk krim sup. Minumnya jus jeruk dua, jus wortel satu, jus apel satu dan jus tomatnya satu."

"To-Tomat?" tanya Ayame, pekerja kantin, memastikan, "Ya-Yakin, Sakura-san? Bu-Bukannya Sakura-san sangat tidak suka to-tomat?" Ayame melihat ke arah langit, memastikan langit tak runtuh menumpahkan badai lagi hari ini. Cukup banyak badai dalam tiga hari ini. Lalu, ia kembali memandang Sakura lurus. Sakura kini tengah heran memperhatikan sikapnya yang aneh.

"Hm, hanya ingin menyembuhkan mataku yang mulai rabun sekarang, Ayame-san." Seisi kantin yang sayup-sayup mendengar percakapan Ayame-Sakura terbelalak kaget. Sakura… makan tomat? "Ada apa, sih, Ayame-san? Kok semuanya jadi aneh hari ini?"

"Ng, nggak kenapa-kenapa, kok. Mungkin hanya baru pertama kali dengar Sakura-san minum jus tomat," jawab Ayame seraya mempertahankan senyum sopannya, "bukannya ini pertama kalinya?" Sakura mengangguk.

"Tapi kenapa? Bukannya minum jus tomat juga bergizi?" tanya Sakura heran. Ayame bergeming. Ia tetap tersenyum ke arah Sakura. "Ada jus tomatnya?" Ayame berbalik lalu berjalan ke dapur, lalu kembali lagi.

Ayame menggeleng. "Jus tomat semuanya sudah dipesan oleh anak kelas 3-1." Ayame menjawab, "Bagaimana dengan jus lain, Sakura-san?" Sakura mengepul.

"Nggak mau! Aku maunya jus tomat!" seru Sakura keras kepala. "Siapa, sih, yang udah pesan jus tomat sebegitu banyaknya?"

"Tuan Uchiha di meja nomor 34 itu, Sakura-san." Ayame menunjuk ke arah barat tubuh Sakura. "Ia memang maniak tomat." Sakura membelalak mendengarnya.

"U-Uchiha?" tanya Sakura. Ia mengikuti arah telunjuk Ayame ke meja nomor 34, tempat sang tuan Uchiha dan salah satu lagi temannya. Temannya yang berambut sama sepertinya, hitam eboni, namun tidak mencuat seperti miliknya. Mereka sontak mengundang mata yang menatap percakapan Sakura-Ayame menjadi menatap ke arah mereka yang anteng-anteng saja sedari tadi.

Sakura geram. Ia menghampiri meja itu. Ayame ingin menahannya, namun terlambat.

"Kau!" ujar Sakura, "Aku tahu kau maniak tomat, tapi jangan habiskan tomatnya!" Sakura menyentuh bahu belakang si Uchiha, dan memperlihatkan wajah Sasuke yang ditemuinya tadi pagi, datar. "Uchi.. ha?"

"Hai."

oOo

"Ino, Tenten, aku mau ke toilet dulu. Lama banget, sih, Sakura-chan," ujar Naruto. Ino dan Tenten mengangguk seraya melihat ke arah Sakura yang menggeram. Mereka menatapnya dengan bosan, namun kedua ouji di hadapan Sakura mengundang perhatian mereka.

Naruto berjalan pelan menuju toilet, lalu melihat sekilas ke belakang. Ino dan Tenten memandang penuh takjub ke arah meja nomor 34 yang ditempati sang ouji. Naruto bahkan jijik untuk mengakuinya.

"Tch!" desisnya pelan. Ia berbalik lalu berlari menuju toilet sekolah yang tak jauh dari kantin. Ia teringat dengan buku hitam pucat bertuliskan nama Hinata di atasnya dengan rapi. Buku harian, lebih tepatnya. "Oh iya, buku Hinata-chan masih di aku." Naruto menepuk dahinya. Dasar pikun.

Rencananya, istirahat ini Naruto ingin memberikannya ke Hinata. Namun, teman-temannya langsung menariknya –tepatnya Kiba yang mencekik lehernya lalu membawanya bergumul dengan para trouble maker di kelas 3-2. Sakura ikut termasuk? Entahlah, yang jelas predikat pintarnya itu diikuti dengan cap trouble maker karena ikut rombongan Naruto yang menakjubkan. Hinata juga ikut diseret oleh rombongan klub majalah sekolah.

"Hinata-chan selalu sibuk, ya…" gumam Naruto, "Coba saja kalau ia tak sibuk, aku pasti bisa mengembalikan-"

BRUKK!

"A-Aduh, gomen!" seru gadis yang menabrak Naruto, lagi. Ketiga kalinya Naruto mendapatkan kontak fisik menyakitkan hari ini. Benar-benar hari sialan, batinnya kesal. "Kau ta-tak apa-apa?" Suara lembut ini.

"Hi-Hinata-chan?" tanya Naruto. Ia berdiri seraya menepuk-nepuk celana hitam kotak-kotaknya yang kotor. "Nggak apa-apa, kok."

"A-Ah, ma-maaf, Naruto-kun," ujar Hinata seraya menunduk malu. Wajahnya merona berat. "A-Aku masih banyak sekali urusan. Se-sekali lagi maaf." Hinata kembali melewatinya. Melewati Naruto yang mengangguk sekilas. Ia menganga, memperhatikan kesibukan Hinata.

Hinata Hyuuga, gadis itu memang selalu sibuk. Ia memang idaman para calon suami, termasuk dirinya yang ingin sekali memiliki gadis Hyuuga itu. Wajahnya yang terbingkai rapi dengan mahkota indigo, permata lavender yang berkilau sayu serta senyum lembut melelehkan miliknya hanya sejumput keindahan fisik milik Hinata Hyuuga yang dapat dijabarkan oleh Naruto.

Intinya, ia sangat menyukai Hinata dengan caranya sendiri, menubruknya berulang-ulang.

Hanya itu cara Naruto menyentuh Hinata, hanya dengan kontak fisik menyakitkan itu.

"Padahal," gumam Naruto. Ia mulai berjalan sambil menunduk, "aku ingin menceritakan semuanya dan mengembalikan buku hariannya." Naruto memegang saku kanan celananya yang cukup menampung buku besar itu. "Apakah ia sesibuk itu, Kami-sama?"

Naruto bertekad lagi dalam hatinya. Ia hanya bisa melakukan satu, selalu memasang senyum gembira.

Karena, hanya senyum itulah yang bisa ia berikan untuk Hinata.

Dan, hanya senyum itulah yang membuat hati Hinata terpaut dengannya –dan ia tak tahu akan hal ini.

TO BE CONTINUED

.

.

.

AN: hari ini aku update 2 fic sekaligus, dan itu sangat melelahkan, you know? Ahahah #ketawa garing Saatnya balas review! #malas-malasan

harappa: hahaha memang bukan, ai! XDD Lihat saja nanti siapa temen masa kecilnya Saku Ah, soal hime-ouji itu aku kebayang kalo GaaSaku itu sering main kerajaan pas kecil #kayak Author yang sering main sama tetangga Author dulu #berharap dipertemukan #amin Hahaha, gak maksud bikin Sasuke OOC di side-story 2, ai. Itu hanya yang terpikirkan #angel smirk #slap Thanks for review!

Luthfiyyah Zahra: hohoho, douitamasihte, Zahra-san ^o^ Dengan senang hati akan kutambahkan adegan GaaSaku yang lebih nyesek hahaha XD

Sasuke: Maunya sih aku cium Sakura

Sakura: *blush*

Sasuke: Tapi karena ulah Author bego jadi begini

Author: *slapped by SasuSaku* Th-Thanks for review!

Thanks for reviews! Review, onegaai?

240512 -kags