Hujan mengguyur sangat deras, meninggalkan jejak basah yang bahkan orang-orang kenal. Di ruangan itu sangat dingin, tidak ada siapapun disana selain dia dan seorang pria lainnya. Dia menggigil tidak kentara merasakan kedinginan disekujur tubuh tegapnya. Jangankan bersuara, mengerangpun enggan, matanya kosong sinarnya tak ada disana, meredup dihapus oleh guyuran hujan.

"Aku perlu mengingatkan Kyungsoo untuk mengangkat jemurannya." Gumamnya sangat pelan, namun siapa yang akan peduli dengan suara itu, suara pelan dengan keputusasaan. Pelatuk itu tarasa mulai tertarik, dan lewat alat bantu pendengarannya dia mampu mendengar suara debuman itu.

'Kyungsoo, peluru ini boleh saja menembus kepalaku, tapi kupastikan kau tak terbawa pergi bersama peluru itu.'

Dia pikir dirinya mati, karena itu tubuhnya melemah setelah sekian banyak pukulan yang diterimanya. Kai ambruk, beberapa orang mendekatinya seiring dengan pandangannya yang memburam.

"Orang sepertimu, hanya bisa dilawan oleh kelicikan!" Itu suara atasannya, Hyuk Jae. Sesaat Kai mencoba membuka matanya , dan dia menemukan Hyuk Jae tengah memborgol orang yang menjadikannya tawanan. Kai meraba kepalanya, dan tak menemukan bekas tembakan, dia amat bersyukur karena dirinya masih hidup.

Setelah mafia itu dibawa ke mobil polisi, Hyuk Jae menghampiri Kai. Dia berdecak melihat kondisi yang dialami pria malang itu.

"Ck. Seharusnya sebagai calon ayah kau menjaga dirimu dengan lebih baik." Kai tekekeh, Hyuk Jae benar, dia adalah seorang pria keras kepala yang bertindak seorang diri.

"Jongin, kalau kau ingin menang dari penjahat yang licik, kau juga harus bermain dengan kelicikan. Jangan menyerahkan dirimu begitu mudah." Kini Hyuk Jae sudah mengangkat tubuhnya, membantu dia untuk berdiri dan menghampiri rekannya yang lain.

"Bagimana yang lain?" Hyuk Jae mengendikan bahu, " Ya, kurasa luka terparah diterima Chanyeol. Dia mendapatkan dua peluru di lengannya."

"Chanyeol? Kurasa dia tak akan semudah itu melukai dirinya." Kai masuk kedalam mobil yang akan membawanya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan menyusul teman-temannya yang lain.

"Tanyakan itu pada Oh Sehun, dia slelau bertindak sendiri seperti yang sering kau lakukan. Jika kupikir lagi kalian berdua cocok berteman." Tersimpan nada kesal dbalik kalimat yang Hyuk Jae katakan.

"Ya, kami masih perlu belajar."

"Itu pemikiran bagus, kuharap kau memberitahukan pada Sehun juga."

.

Luhan mengangkat ponselnya yang bordering, dia melihat nama Kai tertera pada layarnya.

"Ya, halo Kai."

"Apa Kyungsoo sudah operasi?" ada kecemasan dibalik pertanyaan itu Luhan tahu.

"Segera. Dokter sudah membiusnya dan sebentar lagi mungkin dia akan keruang operasi."

"Luhan, bisakah kau berikan ponsel pada Kyungsoo? izinkan aku bicara sebentar."

"Tapi dia sudah hampir kehilangan kesadaran, Kai."

"Tidak apa, sebentar saja. Kuharap dia dapat mendengarku." Luhan mengaktifkan speaker pada ponselnya kemudian mendekatkannya di telinga Kyungsoo.

"Hai Kyungsoo, apa kau baik-baik saja?" tidak ada jawaban, dan Kai cukup mengerti untuk hal itu. "Aku dalam perjalanan, aku akan datang secepatnya." Kai mematikan panggilan mereka, dan Luhan meramalkan dia akan terburu-buru datang kerumah sakit.

Kyungsoo telah terbaring tak sadarkan diri, tempat tidurnya bergerak membawanya menuju ruang operasi. Cahaya lampu dan orang-orang berpakaian hijau adalah pemandangan yang lumayan mengerikan, namun untungnya, Kyungsoo yang sedikit jera pada ruang operasi ini sudah kehilangan kesadaran. Luhan menunggu di luar dengan was-was, memikirkan adiknya yang bertarung nyawa didalam, setelah sebelumnya Kyungsoo benar-benar kesakitan dan dokter baru membiusnya, dia hampir tak sanggup untuk tetap berada disamping Kyungsoo, meyaksikan bagaimana penderitaan yang dirasakan adiknya itu. Belum lagi suaminya yang sampai sekarang belum berkabar padanya, apa pria itu benar selamat dari mafia bom itu. Bagaimanapun, Kai cukup menjadi pembelajaran untuk siapa saja, apalagi anggota polisi seperti Sehun.

Luhan memperhatikan Baekhyun sejak tadi, anak laki-laki yang biasanya begitu berisik dan tak bisa diam kini dia terduduk di kursi tunggu. Luhan duduk disampingnya, sejak dulu, meskipun dia tahu bahwa Kyungsoo dan Baekhyun jarang akur dan sering bertengkar, mereka tak akan bisa jika berjauhan dalam waktu yang lama, dan itu yang Luhan khawatirkan. Bagaiamana jika semua berjalan tidak lancar, atau mungkin Kyungsoo meninggal, selain dia kehilangan Kyungsoo, mungkin saja dia juga kehilangan senyuman Baekhyun. Luhan mengusap pelan pundak adiknya itu.

"Jangan berlebihan Baek, Kyungsoo baik-baik saja."

"Bohong!" Luhan terdiam, sebenarnya dia juga tak yakin apa kata-katanya benar. Luhan hanya bisa terdiam sekaligus menenangkan perasaannya sendiri, ada banyak orang yang dia khawatirkan.

Suara langkah sepatu memenuhi koridor menuju ruang opereasi, Kai berlari kencang. Wajahnya yang sebelumnya penuh darah kini telah dibersihkan menyisakan goresan luka dan lebam di wajah tampan itu, tubuhnya yang sebelumnya kotor oleh debu kini telah dibersihkannya, atas saran Hyuk Jae dia membersihkan seluruh tubuhnya terlebuh dahulu sebelum berangkat kerumah sakit, dengan alasan rumah sakit tak akan memberikan dia masuk melihat Kyungsoo, karena ruang operasi begitu steril. Dia melihat Luhan dan Baekhyun duduk disana.

"Dimana Kyungsoo?" Luhan menunjuk ruang operasi, dan Kai masuk begitu saja mengabaikan Luhan yang memanggil namanya. Semua mata terarah padanya orang-orang sedang mempersiapkan operasi, dan Kai menunduk berkali-kali untuk meminta izin menemani Kyungsoo selama operasi, setelah mendapat persetujuan dan mensterilkan diri sesuai perintah sang dokter, dia langsung mendekati Kyungsoo. wajah itu terlihat begitu damai, seperti orang tertidur. Kai mengecup bibir dingin itu sebentar.

"Tuan, operasi akan dilaksanakan." Kai mengangguk, dia hanya tetap diam menyaksikan wajah Kyungsoo. Kai tak pernah mau melihat bagiamana perut Kyungsoo di belah atau hal semacamnya, dia mungkin saja akan membayangkan banyak hal yang akan terjadi pada Kyungsoo, maka dari itu, di ruang operasi yang ada begitu banyak orang, Kai maish merasa sangat takut, disana dia menyatukan tangannya berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk memeberikan Kyungsoo dan bayinya keselamatan, tidak ada hentinya dia memohon.

"Kyungsoo, aku disini. Berjuanglah!" bisik Kai ditelinga Kyungsoo.

.

Luhan lupa bertanya pada Kai, bagaiamana dengan Sehunnya, apa pria itu baik-baik saja. Sehun tak membawa ponselnya, maka dari itu Luhan tak dapat menghubunginya. Sementara Baekhyun masih sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Hei Baek, mau ke gereja? Ayo, berdoa untuk Kyungsoo." Baekhyun mengangguk, dan mereka berdua pergi ke gereja. Jika dulu saat kecil mereka akan pergi ke gereja berempat. Luhan, Baekhyun, Kyungsoo dan Kai, namun sekarang hanya mereka berdua yang pergi, mendoakan dua orang yang harusnya berhak juga mendapatkan kebahagiaan. Luhan harus bicara pada Tuhan, mereka perlu bicara bahwa Kyungsoo harus tetap hidup. Adiknya itu orang yang baik, dia menemani Baekhyun setiap saat dan membanggakan Kyungsoo , dan Tuhan perlu tahu bahwa mereka, adalah keluarganya.

Luhan membiarkan Baekhyun tidur di pangkuannya, selama satu jam ini dia tertidur, sementara Luhan belum dapat berbuat apapun.

"Baek, ayo kembali kerumah sakit?" Baekhyun mengerjap, dan sang kakak mengiring adiknya kembali menunggu kabar keadaan Kyungsoo.

.

Kai tetap disana, bagai seseorang yang tak punya rasa lelah dan bosan. Dia tetap menunggu, nyawa Kyungsoo ada pada tangan-tangan lincah yang kini tengah menyelamatkan bayinya dan tentu saja terlepas dari kenyataan dan realita, ada tangan lain yang menentukan hidup kedua insan harapan Kai. Dia sesekali bangkit berdiri hanya untuk memastikan dokter bekerja dengan baik, atau mungkin dia juga tak mengerti apa yang sedang orang-orang itu kerjakan. Xiumin disana, sedang berkonsentrasi, dan dia telah mengatakn berkali-kali pada sepasang suami istri ini bahwa, operasi akan sedikit rumit karena Kyungsoo seorang laki-laki. Tapi satu hal yang pasti sampai sekarang, bahwa, Kai masih disana, dengan wajah lelah luka lebam dan goresan panjang di wajahnya, belum terhitung untuk bagian tubuh yang tak terlihat dan pikiran yang tak tenang.

Dibandingkan dengan yang lainnya, hal yang paling melelahkan sekarang adalah menuggu kata berhasil dari dokter dan Kyungsoo dalam keadaan baik-baik saja. Dia sebelumnya sudah cukup tau, betapa rumitnya program Kyungsoo ini, tidak bisa dipungkiri bahwa dia memang menginginkan keturunan, tapi ketika dia melihat Kyungsoo lagi dengan semua rasa sakitnya, Kai ingin sekali membatalkan semuanya, Kai menyesal menampakan wajah tersebut pada kunjungan mereka saat Krystal melahirkan, dan ternyata Kyungsoo terlalu peka untuk semua itu. Kai harus meminta ampun pada suami kecilnya itu ketika bangun nanti, dia akan bilang bahwa dia tak akan menginginkan hal macam-macam, atau hal yang memberatkan hidup Kyungsoo. ini sudah cukup, dan ini untuk yang terakhir kalinya.

Sebuah tangisan sampai ketelinganya, Kai dapat melihat dokter tengah memotong tali pusarnya. Naluri, Kai mendekat, merentangkan tangannya untuk dapat menggendong bayi itu. Masih merah dan penuh darah, tangan Kai menggapai-gapai seperti meminta bayinya untuk kepelukannya.

"Laki-laki tuan." Seorang suster memberikan bayi kecil itu, tidak peduli darahnya mengotori baju hijau milik rumah sakit yang Kai pakai, dia tertawa sedikit matanya yang terpejam dan mulutnya yang menganga menangis sangat menggemaskan di matanya. Tangisan itu terdengar begitu keras, menggema di ruangan itu hingga Kai merasa begitu pusing dan telinganya berdengung. Kai melepaskan alat bantu pendengaran dengan tangannya yang bebas, namun dengung itu tak kunjung berhenti, dia hampir kehilangan keseimbangan dalam kondisi menggendong bayi. Ada suara 'tak' dikedua telinganya, bayi itu masih menangis sangat keras.

Tunggu, Kai melihat alat bantu ditangannya, namun tangisan bayi dalam gendongannya, dia juga mampu mendengarkannya dengan jelas. Berkali-kali dia meyakinkan bahwa pendengarannya kembali. Dia kini bahkan menempelkan telinga kanannya pada mulut bayi tersebut untuk menguji pendengarannya. Ini bukan main, Kai ternganga saat itu juga. Setelah suara 'tak' di telinganya tadi, pusingnya hilang dan digantikan dengan suara riuh tangisan anak baru lahir ini. Keajaiban bukanlah hal yang kebetulan, dia harus mengabarkan ini pada Kyungsoo nanti, bahwa tangisan anak mereka membuat pendengarannya kembali. Kai mendekat ke telinga Kyungsoo, membawa serta tangis bayi mereka.

"Kyungsoo, adik bayi sudah lahir. Mirip denganku, sangat mirip." Kata Kai, beberapa saat kemudian seorang perawat mengambil alih bayi mungil itu untuk dibersihkan. Denga sedikit tidak rela, Kai akhirnya menyerahkan anaknya itu.

"Operasinya sudah selesai, semuanya normal dan baik-baik saja sejauh ini, kita bisa terus melihat perkembangannya. Dia akan bangun beberapa jam lagi, jika kau perlu bantuan, perawat akan datang 30 menit sekali untuk memastikan keadaannya." Jelas dokter pada Kai.

Seperti dia berhasil melepaskan batu berat didadanya, Kai menghela nafas lega, dia bahkan telah mengecup kening Kyungsoo.

"Seorang laki-laki melahirkan itu luar biasa. Kau memang luar biasa, Soo."

"Maaf tuan, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap, dan bayinya akan segera menyusul nanti setelah dibersihkan. Jangan khawatir." Kai hanya mengangguk, senyum terkembang di bibirnya, dia mengikuti ranjang Kyungsoo ke kamarnya.

Bukan Luhan dan Baekhyun namanya jika mereka hanya duduk diam melihat Kyungsoo keluar ruangan. Baekhyun langsung mendekat keranjang yang di dorong oleh perawat tersebut.

"Kyungsoo bangun, yak Pabo!" katanya berusaha membangunkan pria itu. "Baek, dia masih pengaruh bius. Mungkin bangun beberapa jam lagi." Jelas Kai yang mengikuti di sebelah ranjang.

"Kai, bagaimana?" Tanya Luhan lebih dulu.

"Semuanya baik-baik saja."

Mereka berdua mengehla nafas lega, "Syukurlah," katanya berbarengan.

"Bagaimana dengan bayinya?"

"Laki-laki, dia sehat dan terlihat nakal." Kekeh Kai.

"Syukurlah, aku akan jadi paman sekarang. Kai, dimana Sehun? Apa dia baik-baik saja?"

"Sehun menemani Chanyeol di ruang anggrek."

"Ada apa dengan Chanyeol?" Baekhyun, dengan wajah panik berdiri di depan Luhan.

"Dia mendapat dua luka tembak di lengannya."

"Beritahu aku jika Kyungsoo sudah sadar," Baekhyun langsung berlari setelah Kai memberitahu nomor kamarnya. Luhan dan Kai menggeleng kepalanya bersamaan.

"Aku juga mau melihat Sehun, kabari aku jika Kyungsoo sudah siuman." Kai mengangguk dan mereka berpisah di koridor yang berbeda.

.

Baekhyun langsung mendobrak pintu kamar rawat itu, memebuat orang didalamnya tersentak kaget. Lengannya terbalut perban berwarna putih yang diikat pada bagian lehernya.

"Chanyeol!"

"Astaga, aku baru saja akan tidur, kau mengagetkanku!" geram Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun pasti akan berteriak sekarang setelah dia memarahi Baekhyun. Namun dugaannya salah, Baekhyun menunduk merasa bersalah, Chanyeol pikir mereka akan bertengkar seperti biasa.

"Maafkan aku." Sesal Baekhyun menundukan kepalanya, pria itu masih diam didepan pintu yang kemudian di buka lagi dan menghadirkan sosok Luhan.

"Dimana Sehun?" katanya heran, dia tidak melihat kehadiran pria pucat itu di kamar rawat Chanyeol.

"Dia bilang akan mencarimu, kupikir kalian sudah bertemu?" Luhan menggeleng sebagai jawaban, dibalas dengan Chanyeol yang mengendikan bahu tidak tahu.

"Aku akan mencarinya." Kemudian pintu tertutup lagi, sementara Baekhyun masih disana sejak tadi. Chanyeol mengehela nafas, semuanya menjadi tidak seru karena Baekhyun tidak berteriak.

"Sedang apa kau disana? Kemarilah, duduk disini" Chanyeol menepuk pinggiran tempat tidurnya menyuruh Baekhyun duduk disana. Baekhyun menurut, Chanyeol dengan posisi bersandar pada kepala ranjang memperhatikannya, dan merasa aneh karena Baekhyun tampak pendiam.

"Bagaimana Kyungsoo?" buka Chanyeol setelah Baekhyun duduk di dekatnya.

"Kai bilang dia baik-baik saja." Chanyeol menghela nafas.

"Syukurlah, dia hampir jadi janda." Baekhyun mengernyit bertanya. "Kai hampir mati tadi, untunglah dia masih hidup sampai sekarang." Baekhyun mengangguk.

"Ah… aku tidak akan bisa tidur kalau begini."

"Apa yang harus kulakukan agar kau kembali tidur?"

"Kau akan melakukannya?" Baekhyun mengangguk, "ya." Jawabnya singkat.

"Kalau begitu elus rambutku." Chanyeol kembali merebahkan dirinya mengambik posisi tidur. Sedikit ragu namun Baekhyun tetap melakukannya. Chanyeol memejamkan matanya ketika merasakan jari lentik itu menyentuh rambutnya, ketika membuka matanya dia menemukan kedua bola mata Baekhyun yang menatapnya. Mata Baekhyun terlihat begitu indah jika dia memperhatikannya dari dekat.

"Baek…"

"Hmm?"

"Cium aku."

.

"Sehun!" panggil Luhan ketika dia melihat namja albino itu di koridor, mereka berdua saling menghampiri . "Hallo sayang." Sehun mengamit tangan Luhan untuk di genggamnya.

"Kau tidak apa-apa?" Sehun menunjuk luka lebam di pipinya memberitahu Luhan bahwa dia kena pukul dengan manja.

"Kau terlihat baik-baik saja, aku sudah melihat wajah Kai dan luka Chanyeol, lukamu tidak sebanding dengan mereka."

Sehun mendecak, "Susah sekali mencari perhatianmu. Baiklah, lain kali aku akan terluka lebih serius agar kau perhatikan." Sehun ngambek, dia hendak pergi, sementara Luhan mendecak. Memang susah berhadapan dengan anak kecil.

Luhan meraih wajah Sehun, menyentuh lebam itu. "Baiklah, mari kita obati nanti. Hmm? Jangan marah lagi, oke?" Sehun tergelitik lucu mendapatkan ekspresi Luhan yang seperti guru TK yang menganggapnya anak kecil, tapi itu bukan masalah, Sehun suka sebagai anak kecil yang paling Luhan sayangi. Ya, maksudnya selain Baekhyun dan Kyungsoo, setidaknya dia masuk tiga besar.

"Kyungsoo sudah melahirkan Sehun, dia baik-baik saja." Ucap Luhan senang.

"Ya, Kyungsoo melahirkan dan aku lapar." Luhan memberi wajah kaget pada Sehun, kemudian dia mendekatkan telinganya ke perut Sehun.

"Oh ternyata anakku lapar, eoh?" Luhan mengelus perut Sehun seperti yang sering Kai lakukan ketika Kyungsoo sedang hamil.

"Luhan! aku seme!" protes Sehun.

"Aku juga seme! Aku manly!" Sehun sangat bosan mendengarnya.

"Jangan mulai."

"Kalau nanti kau menginginkan anak, kau yang hamil Sehun!"

"Aku belum menginginkan anak, aku menginginkanmu! Berhenti membandingkan. Aku lapar, dan ayo kita makan. Jika aku belum kenyang, maka kau juga akan kumakan!" Sehun menarik tangan Luhan yang diprotes oleh pria cantik mengaku manly dibelakangya.

.

Kai sedang menimang bayinya yang tertidur setelah meminum susu formula yang diberikan rumah sakit tadi. Kyungsoo masih belum tersadar sampai sekarang setelah operasi, wajahnya terlihat begitu kelelahan. Berkali-kali Kai mengecup pipi imut manusia baru itu, bahkan sejak perawat datang membawanya Kai sama sekali tak melepaskannya dari gendongan.

"Kai," suara Kyungsoo membuat Kai menolehkan kepalanya memandang suaminya itu.

"Kau sudah sadar?" Kai membawa bayi itu mendekat pada Kyungsoo, dan dengan mata berbinar pria bermata bulat itu merentangkan tangannya untuk menggendong, namun Kai menggeleng beralasan bahwa Kyungsoo masih lemah, dia akhirnya menidurkan bayi itu disamping Kyungsoo.

"Yatuhan, terimakasih. Dia sangat tampan sepertiku!" bangga Kyungsoo.

"Kau tidak tahu saja, berapa dokter dan perawat yang mengatakan dia sangat mirip aku."

"Ya, dia terlihat nakal. Mirip denganmu." Kai terkekeh mengelus surai Kyungsoo, dan mencium bibirnya gemas. Tangan Kyungsoo terulur untuk meraih wajah Kai, menyentuh luka-luka yang Kai dapat tadi. "Kau terluka?" Kai menggeleng, dalam posisi duduk, dia merebahkan kepalanya pada lengan Kyungsoo yang bebas, mengistirahatkan tubuhnya yang sejak tadi tegang. "Kai, kau sudah mengobatinya?" Kyungsoo mengelus surai Kai sayang, Kai mendongak memandang Kyungsoo.

"Cium aku, maka semuanya akan sembuh." Kyungsoo tertawa pelan, perutnya masih terasa kaku namun itu bukan masalah. Kedua tangannya meraih wajah Kai dan mencium semua bekas luka dan lebam Kai. "Semuanya akan sembuh dengan cepat." Kai tertawa senang seperti anak TK yang mendapat permen, sedangkan Kyungsoo menggeleng heran, "jangan katakan aku harus mengurus dua Taeoh ckckck."

"Taeoh?"

"Ya, nama adik bayi. Pembaca pasti sudah tahu nama adik bayi jauh sebelum dia lahir."

"Kim Taeoh."

Setelah ini apalagi yang akan terjadi?

TBC

Fanfiction ini udah kepanjangan chapter kek sinetron, dan saya sudah mulai buntu hehehe. Tenang aja, bentar lagi mungkin ini bisa tamat. Hwating! ^^