kota saya belakangan panasnya luar biasa. makanya saya suka ngayal andai aja Indonesia ada musim dinginnya.
makasih untuk semua yang udah review di fict sebelumnya.
*bow*
RedCasperrr, wah! salam kenal Kasper! Kazuma imnida! terimakasih udah mau balas mampir di fict saya! ^^


"Pulangku, hanya dalam dekapmu..."

pertengah musim dingin.

ada hal-hal yang selalu musim dingin bawa bersamanya. seperti secangkir coklat hangat, pemanas ruangan yang rusak, hujan yang tak kunjung reda, salju pertama, serta cinta yang tak sabar untuk dihangatkan.

Namjoon berada di antara semuanya. malam ini dia hanya mampu menghangatkan tubuh jangkungnya dengan secangkir coklat hangat dan selimut, sebab pemanas ruangannya rusak. dan di luar sana salju turun sejak pagi.

Namjoon memeriksa ponselnya setiap dua menit sekali. ada janji yang sudah sejak tadi dia tunggu, tapi tak kunjung datang.

"hallo," Namjoon cepat-cepat mengangkat panggilan telfonnya saat ponselnya bergetar. "kau dimana?" lalu hening. "aku akan segera ke sana."

Namjoon melempar comforternya begitu saja. meninggalkan coklat hangat yang masih tinggal setengah cangkir. tergesa-gesa dia memasang sepatu dan menyambar coatnya di gantungan, kemudian berlari meninggalkan apartemennya yang masih saja terasa dingin.

XXX

hanya sekali dalam hidup Namjoon, dia mencintai seseorang sekeras ini. mencintai seseorang hingga membuatnya merasa sejuk di musim panas, merasa bunga-bunga bersemi indah di musim gugur, merasa musim semi lebih indah dari sebelumnya, merasa hangat meski salju tak kunjung berhenti. membuatnya rela melakukan apa saja.

hanya sekali, hanya pada satu nama. Jin.

"aku tidak apa-apa," kata Jin pelan. dia tersenyum tipis lalu meringis. merasakan perih dari luka di sudut bibirnya.

Namjoon diam saja. mengolesi antiseptik di luka yang lain. kali ini di siku Jin, ada luka goresan di sana.

"Namjoon-ah, jangan marah," kata Jin, dengan nada seperti anak berumur lima tahun yang takut dimarahi ayahnya.

Namjoon menatap Jin, lalu menghela nafas. tanpa berkata apa-apa, dia kembali mengobati luka-luka Jin yang lain.

kali ini lebih banyak. luka di siku Jin lebih besar dari sebelumnya, entah karena apa kali ini. ada beberapa lebam di wajah Jin. lalu luka di sudut bibirnya. di lutut Jin juga. Namjoon menatap luka-luka itu dalam diam.

"buka bajumu," kata Namjoon.

Jin diam, tertunduk. "Namjoon-ah..."

"aku tahu dia juga meninggalkan luka di sana, Jin. buka bajumu atau pergi saja dari sini," perintah Namjoon, dingin.

Jin menatap Namjoon tepat di matanya. mencari kesungguhan dari ucapan lelaki itu. lalu lega hatinya saat tak menemukan itu di mata Namjoon.

"buka bajumu, Jin," kata Namjoon, kali ini lebih lembut.

Jin membuka sweatshirt warna merah muda yang sudah terlihat kumal itu pelan-pelan. takut-takut. tepat saat tubuh atasnya sudah tak berbalut apa pun, Jin melihat kemarahan di mata Namjoon. cepat-cepat diraihnya lelaki itu dalam dekapannya.

"jangan marah, Namjoon-ah. aku berjanji aku akan menyelesaikan ini secepatnya. aku mohon jangan marah," bisik Jin, bergetar suaranya menahan takut dan tangis.

Namjoon mendesis menahan amarah. tubuh Jin bahkan lebih parah. lebam mulai dari dada hingga perut. dari dalam pelukan Jin, Namjoon bisa melihat punggung lelaki itu penuh luka bacutan. ada yang sudah menjadi bekas, ada yang masih memerah.

"beri aku waktu lagi, Namjoon. aku berjanji setelah ini aku akan pergi darinya," bisik Jin lagi. "aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu..."

Namjoon terdiam. terpejam matanya, lalu didekapnya kepala Jin yang bersandar diadanya sedikit erat. "aku sudah bilang, aku tidak takut apa pun asal membuatmu keluar dari sana."

Jin menggeleng. "tapi aku takut. aku takut jika terjadi sesuatu padamu. aku mencintaimu, Namjoon. aku mencintaimu."

XXX

Namjoon bertemu Jin setahun lalu di sebuah swalayan 24 jam tak jauh dari apartemennya. malam kelewat larut hari itu. Namjoon baru pulang dari studio musik tempatnya bekerja. sosok Jin yang tertidur di kursi depan swalayan itu menarik perhatiannya. sebab wajahnya tampan, namun penuh luka. Namjoon membeli sekaleng soda, lalu duduk di hadapan Jin yang tertidur hingga lelaki itu terbangun dan terkejut bukan main. mereka berkenalan dengan canggung. dua minggu setelahnya, mereka bertemu lagi di tempat yang sama. kali ini dengan kepala Jin yang terluka dan diperban asal-asalan. Namjoon panik dan membawanya ke klinik terdekat.

untuk pertama kalinya Namjoon peduli pada orang yang baru dia temui dua kali.

sebab mungkin, Namjoon telah jatuh cinta sejak awal pada Jin.

setelahnya mereka bertemu lebih sering. terkadang di swalayan yang sama, terkadang di apartemen Namjoon. dengan luka pada Jin yang tak kunjung hilang, kadang justru bertambah. dan Namjoon yang mengobati luka Jin setiap kali mereka bertemu.

lalu beberapa bulan setelah pertemua pertama itu, dengan dua kaleng bir dan sekotak fried chicken di ruang TV apartemen Namjoon, Namjoon tak tahan untuk bertanya tentang luka-luka pada tubuh Jin.

'kekasihku. dulu dia tidak begini. baru beberapa bulan belakangan. aku tidak bisa meninggalkannya, aku berhutang budi banyak. sejak ayah dan ibu meninggal, dia yang membiayai hidupku. aku ingin pergi, tapi aku tidak bisa.'

Jin bercerita sambil tersenyum sendu. Jin bilang kekasihnya yang lebih tua belasan tahun itu mulai berubah sejak keadaan bisnisnya mulai memburuk. dia memukuli Jin setiap kali dia pulang dalam keadaan mabuk. Jin melawan, tapi tak bisa berbuat banyak.

malam itu Jin menangis saat bercerita lebih dalam. malam itu juga Namjoon memberanikan diri mencium Jin di bibir. mengatakan dia jatuh cinta pada Jin sejak melihat Jin tertidur di depan swalayan waktu itu. dia tidak bisa melihat Jin terus saja terluka setiap kali mereka bertemu. dia ingin melindungi Jin.

Jin terisak semakin kuat dalam pelukan Namjoon di malam yang sama. Jin mengatakan dia ingin pergi dari lelaki itu. dia ingin bersama Namjoon saja.

XXX

Namjoon menepuk-nepuk pelan bahu Jin, berusaha membuat lelaki dalam dekapannya itu tertidur. malam semakin larut. salju sudah berhenti, namun udara masih tetap terlalu dingin.

"maaf," bisik Jin. dia menenggelamkan wajahnya semakin dalam pada ceruk leher Namjoon. mencari kehangatan di sana.

Namjoon hanya menjawab dengan dengungan. sebab dia tak tahu harus menjawab seperti apa. sudah beberapa bulan sejak malam Namjoon mencium Jin di bibir untuk pertama kali, namun belum ada tanda-tanda Jin benar-benar akan pergi. Namjoon tentu akan sabar menunggu Jin, tapi jangan minta dia sabar lebih lama lagi melihat Jin yang terus terluka.

"apa kita akan menikah, jika nanti aku berhasil pergi?" tanya Jin.

Namjoon menatap Jin, lalu tertawa kecil. "tentu saja."

Jin tersenyum. "Namjoon-ah," bisiknya. Namjoon menjawab dengan dengungan lagi. "kau harus tahu. bahwa bagiku dekapmu adalah tempat yang paling menenangkan. kelak, dekapmu adalah tempatku pulang. aku berjanji akan pergi darinya, dan pulang padamu."

Namjoon menatap Jin yang juga menatapnya. dikecupnya kening lelakinya itu lama-lama. "aku mencintaimu, Jin."

XXX

keesokannya saat Namjoon bangun, Jin sudah tak ada disampingnya. yang tertinggal hanya wangi tubuhnya dan secarik kertas bekas yang di tulis tangan.

'aku pergi, Namjoon.
aku berjanji akan pulang.
karena kau tahu,
pulangku hanya dalam dekapmu.' - J

Namjoon termenung sepanjang pagi di atas tempat tidurnya hari itu. Namjoon mencoba menghubungi Jin, tapi nomornya tak lagi bisa dihubungi. Namjoon menyesal tak pernah memaksa Jin untuk memberitahu dimana tempat tinggalnya dari dulu.

lalu Namjoon pikir, mungkin sebaiknya dia menunggu. Jin tidak akan ingkar janji. dia percaya pada Jin. dia percaya pada hatinya.


musim dingin sudah dipenghujung.

Jin tidak datang. Jin tidak pulang. hidup Namjoon sudah kacau sepanjang waktu yang dia gunakan untuk menunggu Jin. sehari menjadi dua, lalu tiga, lalu lima, lalu seminggu. seminggu pun berganti dua, tiga, hingga sabar Namjoon sudah pada batasnya.

dia mencari informasi tentang Jin dimana saja. meski tak banyak cara yang dia punya. lalu Namjoon ingat, dia tak kenal siapa pun dalam hidup Jin. tidak satu pun. Namjoon mulai mencari Jin lewat media sosialnya. dan berakhir sama, nihil. tak ada informasi apa pun tentang Jin.

Namjoon merasa, tidakkah hidup terlalu berlebihan padanya? pertama kali dia mencintai seseorang sekeras ini, haruskah hatinya juga dihempaskan sama kerasnya? jujur saja, sudah berharap banyak dia pada Jin. sudah banyak impian bersama Jin yang dia bangun dalam pikirannya. tapi jika Jin tak kunjung pulang, Namjoon harus bagaimana?

XXX

salju sudah mulai mencair hari itu. sudah tak terlalu dingin, cenderung hangat. mungkin musim dingin akan segera berhenti dalam dua tiga hari.

Namjoon berada di titik terlelahnya hari itu. fisik dan hatinya. dia bersiap untuk pulang lebih awal sebab tak ada satu pun musik yang dia selesikan beberapa waktu belakangan. sahabatnya mengatakan lebih baik Namjoon libur saja, tapi Namjoon bilang dia butuh bekerja untuk pengalih perhatian. sebab pelan-pelan Namjoon sudah menyerah.

mungkin dia dan Jin memang dipertemukan untuk kemudian dipisahkan. mungkin Jin lebih memilih lelaki itu. sebab sejak awal lelaki itu sudah ada dalam hidup Jin. meski begitu Namjoon tidak akan menyalahkan siapa-siapa. mungkin, memang sudah seharusnya seperti ini.


malam itu Namjoon kembali ditemani secangkir coklat panas dan selimut. Namjoon terlalu malas menghidupkan pemanas ruangannya yang baru. matanya terfokus pada TV yang menayangkan acara tahun baru.

lalu fokusnya terpecah saat ponselnya bergetar. sebuah nomor baru.

"hallo?"

"bisa tolong kau bukakan pintu, Namjoon-ah?"

Namjoon tak menjawab. jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. pelan-pelan dia melempar comforter yang menyelimutinya. berjalan pelan dia menuju pintu. sedikit ragu, dibukanya pintu perlahan

"kau mengganti passwordnya?"

Namjoon terdiam. lalu mata keduanya bertemu pandang.

"Namjoon-ah, aku pulang..."

Jin memeluk Namjoon setelahnya. membuat tas besar dalam genggamannya terjatuh ke lantai begitu saja.

"Jin-"

"aku pulang, Namjoon. maaf membuatmu menunggu lama," bisik Jin.

Namjoon menghela nafas, melepaskan beban dalam hatinya. tanpa ragu, dipeluknya Jin erat-erat. meyakinkan hatinya bahwa ini adalah Jin. lelakinya.

"jangan pergi lagi, Jin. aku mohon... aku mohon..."

Jin mengangguk dalam dekapan Namjoon. "tidak akan lagi. aku tidak akan pernah pergi lagi."

XXX