Sorry, sorry, sorry. Saya suka cerita yang cute & fluffy buat dibaca, tapi untuk suatu alasan saya tidak bisa menulis yang semacam itu. Don't think, Feel! sepertinya tidak bisa saya aplikasikan.


Disclaimer : Massashi Kishimoto


1

Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Konohamaru dan Moegi keluar dari ruang ujian dan langsung menuju ke kantin. Dan begitu sampai, keduanya langsung menghela nafas panjang setelah meminum segelas air mineral dingin.

Secara fisik mereka tidak lelah, tapi otak mereka sedang kelelahan karena digunakan untuk mengarang jawaban sambil mengingat-ingat apapun yang mendekati jawaban supaya mereka tidak hanya diberi nilai menulis.

Setelah merasa cukup untuk berisitarahat, mereka berempat memutuskan untuk pulang. Lalu sebab Konohamaru dan Moegi tidak membawa apapun untuk persiapan belajarnya, mereka berdua memutuskan untuk pulang dulu sebelum ke rumah Hanabi untuk belajar bersama.

Kelompok itu berpisah menjadi dua, dan tentu saja Sasuke mengikuti Hanabi sampai di depan gerbang rumahnya. Lalu mencoba ikut masuk seakan hal itu adalah perbuatan yang natural.

Hanabi menghentikan langkahnya begitu dia berada di depan pintu rumahnya.

"Tugasmu sudah selesai jadi silahkan pulang."

"Aku masih punya banyak waktu longgar."

"Kalau begitu gunakan untuk hal yang berguna, dan jangan menghabiskan waktumu untuk menguntitku! dan tolong jangan sekali-sekali mengulangi perbuatanku kemarin dengan masuk kamarku tanpa ijin! aku bahkan belum memberimu ijin untuk ke rumah."

"Kegiatanku itu sangat berguna bagi masa depan."

"Masa depan siapa?"

"Masa depanku!."

"Masa depan macam apa yang kau bicarakan?"

"Masa depan di mana ak. . "

Sebelum Sasuke sempat menyelesaikan kata-katanya, Hanabi sudah berhasil membuka kunci pintu rumahnya dan masuk lalu membantingnya di depan wajah Sasuke. Dan dia juga tidak lupa untuk kembali menguncinya lagi.

"Cepat pulaaaang!."

Hanabi tidak langsung meninggalkan pintu dan memastikan dulu kalau Sasuke sudah benar-benar pergi. Dia menempelkan telinganya ke daun pintu lalu mendengarkan suara di luar dengan seksama.

Setelah yakin kalau Sasuke tidak ada Hanabi menghela nafas panjang.

"Mulutku pegal."

Hanabi memegang pipinya lalu memijat dagunya dan juga pipi bagian bawahnya. Sudah jadi rahasia umum kalau Hanabi itu adalah anak yang tidak suka banyak bicara, selain itu dia juga tidak sering menunjukan perasaanya di wajahnya sehingga dia sering dianggap lebih dewasa dari teman-temannya yang lain.

Tapi, ketika ada Sasuke entah kenapa dia tidak bisa bersikap tenang. Untuk suatu alasan, dia tidak bisa terus diam dan membiarkan apa yang Sasuke lakukan begitu saja, sehingga pada akhirnya diapun mulai marah dan jadi banyak bicara. Kemudian, dia juga tanpa sadar jadi selalu bertingkah kekanak-kanakan di depannya.

"Untuk sementara aku akan mandi dulu."

Cuaca yang sudah panas ditambah panas dari adu argumennya tadi dengan Sasuke membuat rasanya jadi semakin panas.

Sekali lagi, sebab sekarang tidak ada orang yang akan memprotes perbuatannya. Hanabi langsung melemparkan tasnya ke sofa dan masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk. Dia melepaskan pakaiannya dan menaruh seragamnya di dalam keranjang di dekat pintu kedua kamar mandinya.

Setelah itu dia masuk dan menyiram tubuhnya dengan air dingin.

"Brrr.r.r.r.r."

Ketika Hanabi sedang menikmati sensasi dingin yang mengalir di atas kulitnya, tiba-tiba dia mendengar ponselnya berbunyi. Awalnya dia mencoba membiarkannya saja, tapi ponsel di saku seragamnya terus-terusan berbunyi. Dan itu membuatnya kesal.

Setelah membasuh tubuhnya untuk menghilangkan busa dari sabun, dia keluar sambil sekali lagi. Hanya mengenakan handuk dan mengangkat ponselnya.

"Halo Hanabi, sedang apa kau?"

"Yukimaru?"

"Eh, kau langsung menenali suaraku, itu berarti kau sangat memperhatikanku."

"Tidak! sama sekali tidak! aku tidak pernah memperhatikanmu! aku hanya masih menyimpan nomormu saja saat kau memperkenalkan dirimu dulu."

"Tsunder!, tsundere!."

"Ha?"

Selain Sasuke, ada orang yang bisa membuatnya untuk suatu alasan selalu merasa terganggu dan orang itu adalah Yukimaru. Meski dia itu dibilang jenius, tapi dia sama sekali tidak kelihatan seperti orang pintar. Malah bisa dibilang kalau jika ada orang yang tidak tahu apa-apa bertemu dengannya, mereka pasti akan menganggap kalau Yukimaru itu bodoh.

Selain berkata bodoh, orang itu juga sering bertindak bodoh. Dan menurut Hanabi, tingkahnya yang sering diimut-imutkan adalah hal yang paling bodoh. Bukan karena tidak cocok atau kelihatan buruk, malah sebaliknya. Karena terlalu cocok dan kelihatan sangat natural sampai-sampai jika dia bilang kalau dia itu seorang gadis, siapapun yang melihatnya pasti akan percaya begitu saja.

Bagaimana kalau ada yang benar-benar jatuh cinta padanya? apa nanti tidak akan ada masalah?

Hanabi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau berani menelponku padahal tidak pernah masuk, ada apa?"

"Sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu."

"Aku juga ingin membicarakan sesuatu."

Jika Hanabi tidak ingin membicarakan sesuatu dia juga tidak akan mengangkat telpon dari orang itu.

"Kenapa kau tidak berangkat? ini bukan urusanku tapi kau akan dapat masalah kalau terus tidak berangkat."

"Aku juga ingin membicarakan tentang hal itu. . . . . . sebenarnya sekarang aku sedang diculik."

Hanabi langsung membelalakan matanya lalu berteriak.

"Lalu kenapa kau menelponku!? cepat telpon polisi!."

"Aku hanya ingat nomor telponmu!."

Ketika Yukimaru melihat ada kumpulan orang mencurigakan yang bergerombol di depan rumahnya. Dia tahu kalau yang buruk yang akan terjadi padanya.

Yukimaru tahu kalau dia tertangkap oleh orang-orang itu, ponselnya pasti akan diambil atau dirusak untuk menghilangkan jejak. Oleh sebab itulah sebelum dibawa paksa oleh para penculiknya dia melepaskan kartu sim ponselnya dan menyembunyikannya di dalam mulut.

Untuk mencoba keberuntungannya, tentu saja dia mencoba kabur. Tapi sayangnya dia tidak beruntung. Dia berhasil dikejar, dikepung, lalu ditangkap dan dibawa ke suatu tempat yang dia tidak tahu letaknya ada di mana.

Untuk menjaga agar kartu simnya tidak tertelan, Yukimaru langsung menyerah begitu dia tahu kalau dia tidak punya kesempatan untuk menang dan menyerah tanpa syarat pada penculiknya.

Semua nomor di kontaknya disimpan di akun cloudnya, sehingga kartu simnya benar-benar kosong. Dan ponsel yang dia gunakan sekarang adalah ponsel model lama berlayar monochrome, yang tentu saja tidak memiliki koneksi internet. Karena hal itu, Yukimaru hanya bisa menelpon orang yang nomornya dia bisa ingat.

"Bagaimana kau hanya ingat nomorku!?"

"Eh. . pertanyaanmu aneh sekali! tentu saja karena aku menyukaimu."

"Bagaimana dengan kedua orang tuamu!?"

"Itu tidak penting!."

"Hoi!."

"Lagipula mereka juga sedang bersamaku sehingga aku tidak kesepian, untuk suatu alasan mereka juga ikut diculik."

"Orang tuamu ikut diculik?"

"Sudah cukup membicarakan tentangku, aku ingin minta bantuan."

"Aku akan mendengarkan."

"Jangan tegang begitu, permintaanku agak berat untuk dilakukan olehmu."

"Aku yang akan memutuskannya berat atau tidak! cepat bicara saja!"

"Gagalpun tidak apa-apa, bahkan jika kau tidak mau melakukannya aku juga tidak memaksa."

"Jangan meremehkanku!."

"Huuff. . . kalau begitu. . Hanabi. ."

"Tunggu dulu. . . ngomong-ngomong, kau dapat ponsel itu dari mana?"

2

Hal pertama yang harus Hanabi lakukan adalah mencari lokasi di mana Yukimaru berada. Hanabi bisa menelpon polisi lalu bilang kalau temannya diculik, tapi jika dia hanya melapor seperti itu saja tindakan yang akan dilakukan hanyalah menempatkan laporannya pada waiting list. Tidak lebih dari itu. Yang pada akhirnya membuat penyelamatan teman sekelasnya itu jadi tertunda.

Jika Hanabi bisa mendapatkan lokasi pastinya, polisi tidak perlu melakukan penyelidikan terlebih dahulu dan membuang waktu lalu bisa langsung bertindak datang saja ke tempat yang Hanabi tunjukan. Dengan begitu tindakan bisa lebih cepat dilakukan.

"Tapi bagaimana aku bisa tahu lokasinya berada?"

Petunjuk yang Yukimaru berikan hanyalah kalau dia tidak berada di bangunan di atas daratan. Kemungkinan besar dia sedang berada di atas kapal sebab dia merasakan goyangan di lantai yang berlangsung terus-menerus selama berhari-hari.

Meski dibiarkan sadar tapi Yukimaru dibawa menggunakan kendaraan tertutup dan sekarangpun dia disekap di dalam ruangan tertutup sehingga dia tidak bisa melihat keluar, dia bahkan tidak bisa mendengar suara dari luar untuk mencari petunjuk lain. Dan tentu saja dia tidak bisa memperkirakan lokasinya ada di mana.

Meski tidak harus berada di pelabuhan, tapi tempat di mana sebuah kapal bisa tetap diam tanpa jadi bahan perhatian adalah pelabuhan. Sama seperti sebuah pohon di tengah hutan yang tidak akan menarik perhatian.

Selain itu Yukimaru juga bilang kalau dia tidak naik kendaraan laut, berdasarkan intuisinya. Jadi bisa disimpulkan kalau kapal di mana dia berada tidak bertempat di tengah laut.

"Tapi di kota ini saja ada dua pelabuhan, dan di kota sebelah juga ada satu pelabuhan lagi."

Jika jaraknya diambil dari rumah Yukimaru, waktu tempuhnya tidak terlalu jauh berbeda. Jadi membandingkan waktu perjalanan saat Yukimaru diculik sama sekali tidak ada gunanya.

"Kalau begini aku harus mendatangi ketiganya satu-persatu."

Menggunakan kendaraan sendiri sudah tidak mungkin, tidak ada kendaraan di rumahnya dan dia tidak bisa mengendarai kendaraan lain selain sepeda. Pilihannya hanyalah angkutan umum yang waktu tempuhnya lama. Tapi selain itu masih ada masalah lain lagi. Meskipun Hanabi sudah sampai di lokasi tujuannya, dia yakin kalau dia tidak akan dibiarkan berkeliaran begitu saja. Pasti ada yang menganggunya atau mengiranya anak hilang.

Awalnya Hanabi jarang keluar jauh sendiri, tapi setelah kejadian di kereta dulu. Entah kenapa rasa takutnya saat keluar sendiri hilang begitu saja. Mungkin sebab dia sudah merasakan ketakutan yang sangat besar sampai-sampai membuatnya jadi kebal dengan ketakutan-ketakutan kecil.

"Aku perlu teman."

Bukan. Bukan teman, tapi seseorang untuk menemaninya. Dan orang yang perlu menemaninya tidak harus temannya.

Konohamaru dan Moegi out. Apa yang mereka bisa lakukan tidak berbeda jauh dengan Hanabi. Kedua orang tuanya juga out. Meski Hanabi menjelaskan situasinya, keduanya tidak akan terlalu perduli dan hanya akan memberikan nasehat saja. Selain itu melaporkan kejadian seperti sekarang pada mereka juga malah hanya akan membuat keadaan semakin rumit.

Kemudian, Hanabi juga tidak ingin menyusahkan keduanya.

"Pilihannya tinggal satu."

Di saat seperti ini biasanya Naruto yang akan jadi tempat lari Hanabi. Tapi sekarang dia sedang tidak ada.

Selain kakaknya, sekarang ada orang lain yang bias diminta bantuannya tanpa mengajukan banyak pertanyaan dulu. Dia tidak akan meremehkan omongan Hanabi dan juga tidak akan keberatan kalau diberi masalah.

Sebuah pilihan aman yang tidak membawa resiko.

"Huuufuff."

Nomernya dia sudah simpan sejak lama, tapi hari ini adalah kali pertamanya menghubungi orang itu.

Hanabi menelpon kontak yang dipilihnya lalu menunggu selama beberapa saat. Kemudian. . .

"Halo Sasuke, aku butuh bantuanmu."

Ketika Hanabi perlu berpikir panjang sebelum memutuskan untuk menghubungi Sasuke. Pemuda itu malah tanpa berpikir langsung mengiyakan permintaan Hanabi dan dengan cepat meluncur ke tempat gadis kecil itu berada.

Hanabi sudah menyuruh Sasuke untuk pulang, tapi tentu saja dia tidak langsung pulang dan bersiaga di spot lamanya saat masih diam-diam mengawasi Naruto.

Biasanya Hanabi hanya sendirian di rumahnya, dan kalau dia tidak sendirian yang bersamanya paling hanya dua teman sekelasnya. Moegi dan Konohamaru. Kalau ada masalah tentu saja ketiganya tidak bisa menjaga diri, karena itulah Sasuke terus berjaga.

Biasanya Sasuke hanya akan pulang jika kedua orang tua gadis itu sudah pulang.

Sebab pada dasarnya posisi Sasuke berada tidak terlalu jauh, pemuda itu bisa cepat sampai di depan rumah Hanabi.

". . . . ."

Dan begitu sampai, Hanabi langsung menatap Sasuke dengan pandangan curiga sebab waktu kedatangannya terlalu cepat. Dan untuk mengalihkan perhatian gadis itu, Sasuke mencoba memulai sebuah topik pembicaraan.

"Jadi ada apa Hanabi?"

"Aku akan menjelaskannya sambil jalan."

"Sambil jalan?"

Hanabi tidak lupa untuk mengunci pintu rumahnya, setelah itu dengan buru-buru dia berjalan dan menarik tangan Sasuke. Lalu seperti janjinya, selama mereka berjalan menuju stasiun Hanabi menceritakan semua yang didengarnya dari Yukimaru dan rencananya sendiri.

Jalur perjalanan mereka tidak terlalu panjang, tapi ada yang ingin Hanabi sampaikan sudah berhasil dia beritahukan pada Sasuke dalam tempi sepuluh menit perjalanan mereka.

Hanya saja.

"Hey Sasuke! apa kau mendengarkan apa yang kukatakan?"

Selama Hanabi berbicara panjang lebar, Sasuke hanya melihat ke arahnya dengan tatapan seperti orang yang sedang melamun. Oleh sebab itulah Hanabi jadi ragu kalau Sasuke benar-benar tahu apa yang baru saja Hanabi jelaskan.

"Oh. . . tentu saja aku mendengarkan. . temanmu diculik, kau ingin menemukan lokasinya agar polisi bisa langsung bertindak, setelah itu sebab bergerak sendirian itu susah, kau memutuskan untuk mengajaku."

Hanabi melihat ke arah Sasuke dengan mata marah.

"Kalau begitu kenapa kau memasang muka seperti itu? apa ada yang aneh denganku?"

Sebab dia akan banyak bergerak, Hanabi memutuskan untuk mencari pakaian yang bisa digunakan dengan bebas untuk bergerak. Untuk atasnya dia mengenakan t-shirt putih berlengan panjang untuk menghalangi sinar matahari yang terik dan panas dan juga sebuah rompi biru sebagai tambahannya.

Untuk alasan yang sama dia juga lebih memilih celana panjang daripada rok. Kemudian, juga memakai topi di kepalanya untuk mencegah silau matahari serta panas yang menyengat di kepalanya.

Sebab yang jadi bahan pertimbangan saat memilih pakaian hanyalah fungsionalitasnya saja, kecocokan antar bagian sama sekali tidak dipikirkan. Jika tiba-tiba penampilannya jadi aneh, hal itu sangat normal. Selain itu. . .

"Jika kau ingin komplain tentang penampilanku tolong simpan saja! maaf sekali tapi aku tidak punya bakat dandan."

Sasuke akhirnya sadar kalau tindakannya sudah membuat Hanabi merasa tidak nyaman.

"Buka itu. . . ka-kau. . penampilanmu sama sekali tidak bermasalah. . ma-malah sebaliknya. . kau kelihataaaan sangat caaanti. . .ik."

Sasuke menampar wajahnya sendiri dengan keras. Niatnya adalah memberikan pujian dengan tenang agar bisa terlihat keren. Tapi begitu dia mulai bicara malah dia jadi gagap dan mempermalukan dirinya sendiri.

Jika Naruto ada di tempatnya dia pasti bisa memuji Hanabi dengan mudah dan natural, sebab selain sudah kenal lama dan juga adalah bagian dari keluarga. Naruto juga menganggap posisi Hanabi sebagai gadis kecil yang imut. Dengan kata lain Hanabi adalah seorang anak kecil.

Tapi sayangnya standart dewasa Sasuke berbeda dengan Naruto sehingga Hanabi baginya adalah seorang gadis, tanpa tambahan kecil. Lawan jenis.

" . . ."

Hanabi bingung harus menjawab bagaimana. . . . jika pujian yang didapatnya sama seperti pujian yang dilontarkan Naruto, biasanya dia akan merasa marah. Tapi kali ini dia bingung harus bereaksi bagaimana.

Penampilan Hanabi sekarang sama sekali tidak bisa dibilang seperti seorang anak perempuan. Tapi meski begitu bukan berarti penampilannya tidak menarik. Malah bisa dibilang kalau penampilannya sekarang mengeluarkan daya tarik Hanabi yang lain.

Jika penampilan yang biasa memberikan kesan tenang dan statis, penampilan boyishnya yang sekarang memberikan kesan ceria dan dinamis. Walau padahal ekspresi di wajahnya masih jarang terbentuk.

"Terima kasih."

Akhirnya Hanabi bisa mengeluarkan reaksi normal yang biasanya sama sekali tidak bisa dia gunakan. Sebab orang-orang di sekitarnya selalu saja abnormal.

"Kak Naruto yang memilihkannya."

"Naruto?"

Sasuke sama sekali tidak menyangka kalau Naruto punya selera fashion yang tinggi? bagaimana dia bisa memilihkan pakaian yang sangat cocok dengan orangnya? sesekali ingin berkonsultasi. Dengan skill itu, hobinya mengambil foto orang lain bisa ditambah kualitasnya.

"Sekarang kita akan ke mana dulu?"

Hanabi melihat peta jalur kereta yang akan mereka tumpangi.

"Apa kau tidak punya informasi tambahan Sasuke? aku ingin melakukan eliminasi."

"Informasi tambahan ya? pelabuhan peti kemas sedang tidak bisa dipakai karena banyak mengalami kerusakan jadi tidak ada kapal besar yang boleh memasuki areanya."

Dan penyebab kerusakan itu adalah ledakan dari doll besar yang Naruto dan Hinata dulu pernah hadapi. Alasan dari penutupan memang kerusakan, tapi sebenarnya kerusakannya sendiri tidak terlalu parah. Yang membuat tempat itu harus ditutup adalah karena di sana ada banyak material berharga yang berceceran dan perlu diteliti.

Material itu adalah serpihan dari doll yang harusnya baru ada tiga tahun lagi di masa depan.

Kota tempat Hanabi tinggal berada di ujung pulau. Sehingga pelabuhan yang dimilikinya ada lebih dari satu sebab ada sangat banyak yang keluar masuk dari dan ke pulau lain. Dan selain di kota ini, di kota sebelahnya juga ada satu pelabuhan lagi.

Dengan rumah Yukimaru sebagai poin utama, jika ketiga pelabuhan itu ditarik dengan garis lurus di atas peta. Maka huruf Y dengan bagian kanannya yang paling panjang akan terbentuk.

"Haahh. . . ."

Hanabi mengela nafas.

Meski ketiga pelabuhan itu jaraknya tidak terlalu berbeda jauh jika diukur dari rumah Yukimaru, tapi dari tempat tinggal Hanabi pelabuhan peti kemas yang Sasuke sebutkan adalah yang paling dekat. Dan tentu saja, kalau bisa Hanabi ingin memeriksa tempat yang paling dekat dengannya terlebih dahulu.

Lokasinya tidak terlalu jauh, dari atap sekolahnya bahkan tempat itu bisa kelihatan jelas. Lingkungannya lumayan Hanabi kenal, jarak tempuhnya hanya satu jam jalan kaki atau kurang lebih lima menit dengan kereta.

"Kalau begitu sisanya tinggal yang di ujung kota dan yang ada di kota sebelah."

Hanabi kembali melihat peta jalur kereta yang ada di depannya.

"Kita akan ke kota sebelah dulu."

Dia tidak pernah keluar kota sendirian, dan jelas dia tidak tahu daerah itu dengan baik. Tapi dari stasiun tempatnya berada sekarang, pelabuhan di kota sebelah jauh lebih dekat. Selain itu jalur kereta juga memutar dari sana ke arah pelabuhan di ujung kotanya dan kembali lagi ke stasiunnya sekarang. Dengan begitu dia bisa mengurangi biaya untuk perjalanan kembali karena tidak harus memutar balik dan berganti kereta.

"Apa kau yakin Hanabi ingin ke sana?"

"Kenapa aku harus ragu?"

"Karena. . "

Tidak menunggu jawaban Sasuke, Hanabi langsung masuk ke gerbang tiket otomatis lalu menunggu keretanya. Dan seakan semuanya sudah diatur terlebih dahulu, kereta yang ditunggunya langsung datang dan pintu masuknya langsung berada tepat di depan Hanabi yang sedang berdiri.

Dan begitu keduanya sudah berhasil naik lalu kereta berjalan, Hanabi akhirnya paham kenapa tadi Sasuke khawatir. Hanabi tidak tahu Sasuke tahu dari mana, tapi yang jelas sepertinya pemuda itu tahu kalau Hanabi mempunyai sedikit trauma dengan kereta yang sedang mereka tumpangi sekarang.

Lebih tepatnya bukan keretannya, tapi jalur yang dilewatinya. Sebuah jalur di yang berada di atas struktur setinggi tiga puluh meter.

Hanabi tidak ingin mengingatnya, tapi ingatan itu datang sendiri. Dan begitu rasa takutnya mulai keluar, tanpa sadar tangannya bergerak mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan supaya dia bisa merasa sedikit lebih aman.

". . . . ."

Dan tentu saja sebab yang paling dekat dengannya adalah Sasuke, yang jadi pegangan adalah jari-jari tangannya. Persis seperti bayi yang sedang berlatih menggegam sesuatu. Sasuke kelihatan biasa saja dari luar, tapi sebenarnya dia sedang berteriak tanpa bersuara.

Sasuke menggenggam balik jari-jari Hanabi dengan kekuatan yang tidak terlalu besar.

Perjalanan mereka berlangsung selama kurang lebih empat puluh lima menit. Jika mereka berdua turun di stasiun selanjutnya dan berganti kereta, keduanya akan bisa sampai di stasiun yang menuju ke rumah Sasuke. Dan meski Sasuke sangat ingin membawa gadis kecil yang sedang memegangi tangannya itu ke rumahnya, dia tidak bisa melakukannya.

Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran-pikiran tidak perlunya.

"Duduklah Hanabi."

Ada banyak orang yang mulai berdiri dan berjalan mendekati pintu untuk bersiap turun di stasiun di depannya, oleh sebab itu ada beberapa kursi yang kosong karena ditinggal oleh penumpangnya.

Kereta berhenti lalu banyak orang mulai turun, setelah itu Sasuke dan Hanabipun meneruskan perjalanannya. Setelah sepuluh menit berlalu, pemandangan di luar kereta mulai berubah. Gedung-gedung mulai jarang terlihat, dan di belakang gedung-gedung yang jumlahnya sudah sedikit itu. Terlihat dengan jelas laut dengan warna biru jernih.

Pemandangan di dalam kota tempat Hanabi tinggal memang indah, tapi kebanyakan keindahan itu berasal dari dekorasi buatan manusia. Kemudian, tata kota yang indah serta dekorasi yang tepat itu disuguhkan dengan cara yang juga tidak biasa.

Semua pemandangan itu dibuat untuk dilihat dari ketinggian tiga puluh meter di atas tanah.

Jalur kereta yang mereka gunakan tadi di tengah kota bukan hanya dibangun berdasarkan fungsionalitasnya saja, malah bisa dibilang fungsionalitasnya adalah nomor dua sedangkan nilai keindahannya adalah yang pertama.

Jika kota itu dipotret dari atas, jalur kereta itu akan kelihatan seperti tembok bagian paling luar dari colloseum.

Tapi.

". . . . ."

Bagi Hanabi, keindahan seperti itu tidak terlalu menarik. Dia lebih suka pemandangan alami yang tidak diatur dan dihitung-hitung nilai keindahannya. Dan keindahan seperti itu membuatnya merasa lebih tenang.

Hanabi sering bertingkah seakan dia sudah lebih dewasa dari umurnya, tapi kali ini dia tidak melakukannya. Hanabi melepaskan pegangannya dari tangan Sasuke. Lalu seperti anak kecil yang baru pertama kali jalan-jalan ke luar, dia memutar badannya ke arah jendela lalu naik ke atas kursi dan menggunakan kedua lututunya untuk jadi penyangga.

Setelah itu dia melihat ke luar sambil memasang wajah senang.

Dua puluh menit kemudian, kecepatan kereta mulai sedikit demi sedki menurun. Dan Hanabi, dengan muka kecewa menyambut sebuah stasiun yang ditujunya. Dia turun dari kursi dan mulai merapikan dirinya lagi.

Agar transportasi jadi lebih mudah, lokasi stasiun kereta dibuat dekat dengan pelabuhan. Oleh sebab itulah, dari stasiun ke pelabuhan hanya dibutuhkan lima menit jalan kaki untuk bisa sampai.

Dan begitu keduanya sampai. .

"Uwwaaa ramai sekali."

Ketika Hanabi memutuskan untuk datang ke tempat itu, dia sudah mempersiapkan diri kalau-kalau tempat yang harus dijelajahinya sangat luas. Tapi sepertinya persiapannya kurang, selain luas tempat itu juga ramai dengan orang-orang yang sedang melakukan berbagai macam hal. Dan yang lebih parahnya lagi adalah sebagian orang itu adalah pedagang yang juga membawa barang, yang jelas membuat jalan juga jadi semakin ramai dan sempit.

"Tentu saja ramai, sebab pelabuhan peti kemas utama di tempatmu tidak bisa dipakai kapal yang harusnya ke sana di alihkan ke dua pelabuhan lain, selain itu dari awal pelabuhan ini adalah bukan cuma pelabuhan tapi juga pasar."

Setiap pelabuhan di sana memiliki fungsi yang dispesialisasikan untuk menghindari overload dan management yang rumit. Pelabuhan di dekat tempat tinggal Hanabi hanya mengurus peti kemas barang industri, pelabuhan di mana sekarang mereka berada, kota tempat Sasuke tinggal, digunakan untuk mengurusi barang domestik untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk pelabuhan terakhir, tempat itu adalah sarana rekreasi.

"Apa kau tahu banyak tentang tempat ini Sasuke?"

"Lumayan."

Setidaknya, beberapa minggu sekali Sasuke akan datang ke tempat ini untuk membeli stok bahan makanan sebab di tempat ini apapun yang dijual bisa jadi lebih murah daripada di super market di dekat rumahnya.

"Kalau begitu kau jadi pemandu."

Apa yang mereka berdua cari adalah kapal mencurigakan, tapi sebab jalur perjalanan mereka tidak bisa lurus karena adanya barang-barang dari pelabuhan. Mereka harus bolak-balik dari ujung ke ujung untuk memeriksa satu kapal.

Selain itu, sebab mereka harus tetap bersama perjalanan mereka jadi semakin lambat. Kemudian, pemeriksaan mereka juga tidak berjalan dengan mulus. Mereka sering tidak diberi ijin untuk naik, jadi mereka harus melakukan pengawasan selama beberapa saat.

Hanya saja.

"Ugh. . . aku melakukan kesalahan."

Hanabi mulai merasa tidak sabar, dan ketidasabarannya mulai memuncak ketika dia sadar kalau dia sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat dasar.

"Aku tidak tahu kalau memeriksa kapal-kapal ini akan bisa selama ini."

Yang pertama adalah dia salah memberikan estimasi waktu karena dia belum punya pengalaman sebelumnya. Jika dia bersama Naruto, mereka tidak akan membuang-buang waktu seperti itu sebab kakaknya punya tendensi untuk cepat menyerah dan langsung mencoba dengan cara lain.

Sedangkan Sasuke adalah orang yang punya rasa tanggung jawab sangat tinggi, jadi dia lebih suka untuk melakukan pekerjaan yang diserahkan padanya dan menyelesaikannya dengan baik apapun yang terjadi. Gampangnya, dia tidak bisa berpikir flexible.

"Aaaa aku benar-benar bodoh."

Persis seperti orang yang ingin pergi belanja, yang harus dipikirkan dulu bukanlah ke mana mereka harus pergi terlebih dahulu tapi menentukan apa yang akan mereka beli terlebih dahulu. Meski sudah jelas dan harusnya tidak perlu diberitahukan lagi, tapi hal paling penting dalam mencari barang itu bukanlah mengetahui tempat di mana barang itu berada. Tapi barang macam apa yang sedang mereka coba cari.

Mereka datang ke sini untuk mencari kapal mencurigakan, tapi memangnya kapal yang mencurigakan itu kapal yang seperti apa? Hanabi bahkan tidak tahu kapal seperti apa yang dikategorikan normal. Semua kapal yang diperiksanya sampai saat ini tidak punya kesamaan yang berarti selain penampilan.

Dan tentu saja dia tidak diijinkan masuk ke lambung kapalnya untuk memeriksa isi di dalamnya sehingga dia tidak tahu apa yang kapal-kapal itu bawa.

"Aku terlalu percaya diri. . . ."

Hanabi sering dipuji pintar, tapi sekarang dia sadar kalau kepintarannya di bidang akademik tidak terlalu berguna kalau tidak bisa diubah menjadi kecerdasan di dunia nyata. Sudut pandangnya masih terlalu sempit dan dia masih belum bisa melihat the Big Picture.

"Kalau begini kita tidak bisa memeriksa pelabuhan satunya lagi."

Sasuke sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu, tapi dia tahu seberapa besar rasa menyesal yang dirasakan Hanabi sekarang. Mengetahui apa yang salah dari dirinya sendiri juga adalah bagian dari jadi dewasa, tapi tetap saja mengetahui kalau apa yang sedari dulu dipercayainya ternyata hal yang salah masih lumayan menyakitkan.

"Jangan khawatir aku akan meminta bantuan, kebetulan temanku ada yang rumahnya di sekitar tempat itu."

"Kau punya teman?"

"Geh."

Sasuke sendiri tahu kalau Hanabi tidak memandang dirinya tidak terlalu tinggi, tapi dia baru sadar kalau di mata Hanabi dia sampai serendah itu posisinya.

"Bu-bukan begitu maksudku, hanya. . . kau kelihatan orang yang suka menyendiri."

"Haha. . . . kau tidak terlalu salah, aku ini lone wolf, keren kan?"

"Lone wolf itu bukan status, dan itu sama sekali tidak keren."

"Aneh. . . padahal aku yakin kalau jadi lone wolf itu keren."

Berdasarkan pengalamannya membaca ratusan novel dan manga serta menonton anime, salah satu syarat jadi karakter keren adalah jadi penyendiri.

"Kalau kau belum jadi penyendiri kau tidak perlu jadi penyendiri, kau itu sudah keren."

"Yeeeyyyy. . ."

Tiba-tiba Sasuke mengangkat tangannya dan berteriak.

"Kenapa kau?"

Setelah itu dia pura-pura mengelap air mata yang tidak ada di kelopak matanya dengan ekspresi berlebihan.

"Usahaku tidak sia-sia."

Yang dimaksud dengan usaha adalah usahanya untuk menarik perhatian Hanabi. Meski mereka sudah sering bersama selama berhari-hari, tapi yang sering sering keluar dari mulut Hanabi hanyalah komentar-komentar pedas. Ini adalah kali pertamanya Sasuke mendapat pujian. Meski Hanabi sendiri tidak bermaksud memuji dan mengatakan opini publik tentang Sasuke.

Sasuke adalah orang yang kemampuannya diakui oleh banyak orang, dan diapun sudah punya banyak pengalaman di dalam medan pertempuran dengan menggunakan senjata. Tapi ketika tidak memegang senjata dia hanyalah orang biasa, dan ketika dia sedang berada di depan Hanabi. Dia itu hanyalah seorang idiot.

"Berhenti berteriak seperti itu! kau membuatku malu, dan kau tadi menawarkan bantuan kan? aku menerimannya , sekarang hubungi temanmu dan minta dia ikut membantu."

"Ok."

Meski memang temannya bisa tidak banyak, dan sebagian dari mereka tidak terlalu dekat dengannya. Tapi ada beberapa orang yang bisa dia mintai tolong dengan mudah. Mereka adalah teman-temannya dari sekolah militer.

Dan kebetulan sekali ada dari mereka yang bertempat tinggal di daerah di dekat pelabuhan yang rencananya akan mereka datangi terakhir. Berhubung sekarang Sasuke dan Hanabi sudah jelas akan kehabisan banyak waktu di tempatnya sekarang, meminta bantuan adalah keputusan yang paling tepat.

"Neji, aku butuh bantuan."

Meski isi dari kurikulumnya berbeda, tapi sekolah militer di mana Neji dan Lee belajar punya peraturan yang sama tentang masalah hari libur. Setelah mereka selesai melaksanakan ujian, akan punya waktu kosong selama hampir sebulan.

Tapi, meski mereka punya waktu kosong bukan berarti mereka mau begitu saja mau mendengarkan permintaan tolong Sasuke.

"Kau mungkin berpikir kalau aku ini punya banyak waktu luang, tapi akan kukatakan dengan jelas! aku ini sibuk!."

"Ya. ya. aku tahu kau sedang sibuk main Monster Hunter."

"Ok, aku memang sedang main game tapi tiga jam yang lalu aku sedang belajar."

"Um, tiga jam yang lalu."

Sasuke sudah bisa membayangkan prosesnya. Awalnya Neji ingin belajar lalu membuka buku, setelah itu dia bingung lalu memutuskan untuk browsing. Gara-gara dia tidak menemukan jawaban yang dia inginkan, dia memainkan game dengan alasan untuk refresing. Lalu setelah itu dia lupa kenapa dia main game dan keterusan sampai sekarang.

Sasuke bisa tahu karena dia juga punya modus yang sama.

"Kalau kau tidak ada keperluan jangan menelponku! aku tidak mau ditelpon oleh seseorang yang bukan gadis cantik kalau isi pembicaraannya tidak ada yang serius!."

Dari isi pembicaraannya, Hanabi bisa merasakan kalau kedua orang itu memang punya hubungan yang dekat sebagai teman. Tapi sayangnya, kadang kedekatan semacam itu bisa membuat masalah. Dan masalah yang dihadapi oleh Sasuke saat ini adalah kata-katanya dianggap tidak memiliki berat dan tidak dianggap penting.

Jika seperti itu, akan lebih mudah kalau penjelasan diberikan oleh orang yang bahkan tidak kenal.

Hanabi menarik t-shirt Sasuke.

"Aku yang akan bicara."

Sasuke juga mulai merasa kalau pembicaraannya dengan Neji tidak mengalami kemajuan. Selain itu, jika Hanabi yang berbicara sudah dijamin kalau Neji akan mau merespon dengan baik. Seperti yang sudah orangnya sendiri katakan, jika yang menelponnya adalah gadis cantik dia akan bersedia mendengarkan meski topiknya tidak penting.

Sasuke memberikan ponselnya kepada Hanabi, dan Hanabipun mulai bicara.

"Halo, ini Hanabi, kalau kakak?"

Hanabi sudah tahu kalau orang di sebrang sana bernama Neji, tapi dia belum pernah berkenalan jadi posisinya masih sebagai orang asing. Dan sebagai orang asing tentu saja tidak sopan untuk langsung meminta bantuan pada seseorang yang tidak dikenal. Oleh sebab itulah dia memulai pembicaraan dengan memperkenalkan diri.

"Aku Neji."

"Apa kau kenal kak Naruto? aku adiknya."

Sekarang Neji dan Hanabi sudah saling kenal, tapi hubungan mereka hanyalah sekedar temannya teman dengan medium Sasuke. Kalau bisa setidaknya Hanabi ingin mendapatkan posisi yang sedikit lebih dekat. Dan dia merasa kalau adiknya teman itu jauh lebih dekat daripada temannya teman.

"Ah. . tentu saja. . . Naruto itu terkenal jadi kami semua kenal dengannya."

Kami semua? terkenal? Hanabi tidak tahu apa yang Neji bicarakan tapi dia tidak ingin menanyakannya sekarang. Sekarang bukan waktunya.

"Dan kau juga sama terkenalnya dengan kakakmu."

"Ha?"

Bagaimana dia bisa jadi terkenal?

Ada yang bilang kalau orang yang tertekan akan menunjukan sifat aslinya. Dan meski sifat asli yang diperlihatkan Naruto lewat dari kamera di atas drone pengawas dan juga kalimat yang dikatakannya dan didengar oleh sangat banyak orang lewat alat komunikasi sama sekali tidak bisa dibilang baik.

Tapi apa yang diperlihatkannya adalah sebuah kejujuran yang benar-benar murni.

Yang dilakukan Naruto adalah mengumpat, menghina, dan menyalahkan orang lain. Selain itu dia juga mengatakan dengan jelas kalau dia ingin menyerah serta tidak perduli dengan teman-temannya, orang-orang di kota, negara itu, dan bahkan dunia.

Semua yang dikatakannya bisa dibilang adalah keburukan. Tapi di antara semua keburukan itu, ada sebuah perasaan yang sangat murni. Perasaannya untuk tidak menyerah melindungi adik perempuannya.

Melihat bagaimana Naruto mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan bantalan adiknya saat keduanya jatuh ke reruntuhan, melihat Naruto menahan rasa sedihnya agar tidak keluar, dan melihat seberapa keras Naruto berusaha untuk menolong adiknya itu membuat banyak orang bahkan secara tidak sadar mulai setuju dengan apa yang Naruto katakan.

Mereka mulai berpikir kalau memang melindunginya dan hanya melindunginya saja adalah hal terpenting di dunia ini.

Setelah masalah dengan Trident berakhir, banyak yang mulai penasaran dengan siapa sebenarnya si Hanabi itu. Siapa sebenarnya gadis kecil yang Naruto anggap sebagai harta karun paling berharga sedunia itu.

Karena itulah Hanabi menjadi terkenal. Terutama di kalangan teman-teman seangkatannya.

"Mungkin aku tidak sopan, tapi aku sedang dalam masalah kalau bisa aku ingin minta bantuan."

Kali ini Neji benar-benar mendengarkan. Setelah itu Hanabi mulai menceritakan semua yang sudah terjadi dari awal. Dan begitu dia selesai bercerita, entah kenapa.

"Ok! aku berjanji akan membantumu! akan kulakukan tugas itu dengan sepenuh hati!."

Tiba-tiba Neji jadi sangat bersemangat.

Melihat Neji sudah paham dengan situasinya, Sasuke kembali meminta ponselnya dan membicarakan langkah selanjutnya. Dia meminta Neji untuk mengajak teman-temannya yang lain dan juga menghubungi Shikamaru untuk mencari informasi lebih lanjut tentang kasus yang sedang dia dan Hanabi tangani.

Setelah itu pencarian mereka berlanjut. Dan begitu mereka sampai di ujung pelabuhan di mana tidak ada lagi kapal yang bisa diperiksa. Langit sudah berwarna oranye menandakan sebentar lagi malam akan datang.

Pencarian mereka belum membuahkan hasil.

Hanabi sadar kalau pencariannya tidak efektif, tapi berhubung hanya lokasinya yang jadi petunjuk mau tidak mau dia tetap mencoba sambil berharap menemukan petunjuk lain.

". . . ."

Dan ketika suasana di jadi agak berat, ponsel Sasuke berbunyi.

"Kudengar kau sedang mencari kapal yang mencurigakan."

Yang menelponnya adalah Shikamaru.

"Apa kau menemukan sesuatu."

"Aku tidak tahu apakah aku menemukan yang kalian cari, tapi setidaknya aku menemukan sesuatu yang mencurigakan."

Shikamaru bukanlah hacker yang bisa mencari informasi dari tempat-tempat rahasia milik pemerintahan, tapi meski begitu dia adalah orang yang teliti. Dan setelah meneliti gambar-gambar yang dia dapatkan dari log foto-foto yang berasal dari fasilitas mesin pencari di internet.

Dia menemukan sesuatu yang aneh dari salah satu kapal di tempat itu.

"Dan yang kau maksud dengan mencurigakan?"

"Benda itu punya bendera negara lain, selain itu jelas sekali kalau kapal yang kumaksud bukan kelasnnya ada di situ."

Yang Shikamaru lihat bukanlah kapal penumpang untuk transportasi umum maupun kapal barang, tapi kapal turis dengan ukuran sedang.

"Dan anehnya di mana?"

"Pelabuhan itu hanya digunakan untuk keperluan domestik kau sudah tahu kan?"

Fungsi dari pelabuhan peti kemas yang sedang tidak bisa dipakai dialihkan ke dua pelabuhan lain, dan kedua pelabuhan itu diberi tugasnya masing-masing. Untuk pelabuhan di ujung kota yang digunakan sebagai sarana hiburan, mereka bisa menerima kapal dari luar negri. Tapi tempat di mana Sasuke sekarang berada hanya boleh menerima kapal lokal sebab bisa di bilang tempat itu adalah sarana ekonomi yang sangat penting.

"Aneh kan? sebab kapal itu dibuat untuk memuat barang kesimpulan yang tersisa tinggal satu."

Kapal itu digunakan untuk memuat orang.

"Akan kujelaskan sedikit."

Sasuke memindahkan mode speakernya agar Hanabi juga bisa mendengar penjelasan Shikamaru. Sebab mendengarkan sambil berdiri tidak terasa nyaman, Sasuke mengambil sebuah kotak kayu lalu duduk di atasnya.

Hanabi mengikuti apa yang Sasuke lakukan di duduk di sampingnya. Sasuke bisa meletakan ponselnya di antara Hanabi dan dirinya, tapi suara yang keluar jadi tidak terdengar jelas, selain itu suara ramai dari belakang mereka juga membuat keduanya kesusahan mendengar apa yang dikatakan oleh Shikamaru meski volume ponselnya sudah dibuat paling tinggi.

Oleh sebab itu Sasuke memutuskan untuk memegang ponselnya di depan dadanya, dan tanpa berpikir Hanabi langsung mendekat dan membuat jarak keduanya tidak ada lagi. Dan meski sekarang dia sudah menempelkan tubuhnya pada Sasuke, dia masih belum mendapatkan kualitas suara yang dia inginkan.

Hanabi mengeluarkan kebiasaan lamanya, tanpa sadar dia sudah menyandarkan tubuhnya pada Sasuke.

"Tanganmu bergetar Sasuke."

"Aaa. . . apa iya?"

Jika Naruto yang berada di posisi Sasuke sekarang, bisa dipastikan kalau Naruto akan membuka tangannya dan langsung memeluk Hanabi dengan alasan kontak fisik sesama saudara. Meski akhirnya Naruto akan dihajar, tapi setidaknya dia bisa melampiaskan keinginannya.

Hanya saja posisi Sasuke tidak mengijinkannya untuk melakukan hal semacam itu. Jika dia benar-benar berani melakukannya, resiko yang didapatkannya tidak akan seringan mendapatkan pukulan tapi dia akan dibenci untuk selama-lamanya.

Dan dia tidak menginginkannya.

"Gah. ."

Tapi menahan dirinya sendiri sangat susah.

Udara di sekitarnya harusnya panas, dan menerima panas tambahan harusnya membuat pemuda itu tidak nyaman. Tapi entah kenapa rasa hangat yang dia dapatkan dari kontaknya dengan tubuh Hanabi terasa nyaman. Selain itu, tubuh gadis kecil itu terasa sangat lembut. Kedua hal itu sudah cukup untuk membuat Sasuke ingin meremas Hanabi yang sedang duduk di sampingnya.

Tapi bukan hanya keinginan itu yang harus dia tahan sebab daya tarik Hanabi masih belum berhenti di situ.

Setelah bisa sedekat itu, Sasuke semakin menyadari kalau kalau Hanabi itu benar-benar manis.

Mata besarnya yang bening dipadu dengan bulu matanya yang lentik kelihatan sangat indah, jika harus dibandingkan mungkin perbandingannya adalah sungai yang jernih dengan pepohonan di sampingnya. Menenangkan.

Hidung kecilnya serta kedua pipinya yang halus juga kelihatan sangat nyaman untuk dipegang. Dan bibir pinknya yang mungil jadi kelihatan berkilau ketika ada sinar matahari yang mengenainya. Lalu yang terakhir, mungkin karena tidak tahan dengan udaranya yang panas. Sekarang Hanabi mengikat rambutnya jadi dua, memberikan boost tambahan pada daya tariknya. Dan tidak lupa juga, mara Sasuke beberapa kali teralihkan oleh leher seputih salju Hanabi.

Di dalam hati Sasuke sedang mengutuk dirinya sendiri. Dia juga sangat ingin memukul wajahnya sendiri lalu menghajar dirinya sendiri sampai sekarat karena sudah melihat ke seorang gadis kecil yang masih polos dengan mata mesum.

Tapi dia tidak bisa berhenti. Jika ada yang memukulnya dia akan berhenti, tapi sekarang tidak ada yang bisa melakukannya. Selain itu Hanabi juga tidak sadar kalau dia sedang diperhatikan dengan sangat teliti oleh pemuda di sampingnya.

". . .ei. . . .Heiii! kau melamun lagi Sasuke!."

Pikiran Sasuke kembali.

Sasuke mengehela nafas panjang.

Sejak kapan dia punya perasaan aneh seperti itu pada Hanabi?

Apakah hanya karena penampilannya yang sangat imut dan manis?

Mungkin, awalnya ketika dia diberikan tugas untuk mengawasi Naruto dia langsung tertarik pada keimutan Hanabi dan mulai mengambil fotonya secara diam-diam. Tapi jika memang dia hanya tertarik pada keimutan Hanabi dia juga pasti tertarik pada gadis imut yang lain.

Bukannya ingin membanding-bandingkan, tapi jika sekedar gadis imut dia sudah banyak melihatnya. Selain itu, salah satu teman Naruto yang bernama Amaru juga sangat imut. Jika dia hanya tertarik dengan keimutan Hanabi maka harusnya dia tertarik pada keimutan Amaru.

Apakah karena dia berkali-kali memberikan tubuhnya untuk diambil alih oleh dirinya dari masa depan?

Ketika dirinya dikendalikan oleh pikirannya yang dari masa depan lewat time loop, yang terbawa bukan hanya pikiran tapi juga perasaan. Ketika dirinya yang dari masa depan mengambil alih tubuhnya, pikirannya sendiri akan ditekan sampai ke tara di mana dia tidak sadar.

Tapi ada saat-saat di mana dia tetap sadar meski dirinya yang dari masa depan sedang menggunakan tubuhnya. Meski kabur dan seperti hanya mimpi dan ketika tubuhnya dikembalikan semua seperti hilang, tapi dia yakin kalau dia bisa melihat ingatannya dari masa depan. Dan dia juga bisa merasakan perasaan yang dimiliki oleh dirinya yang dari masa depan.

Rasa lega setelah lolos dari maut, rasa nostalgia bisa kembali lagi ke masa lalu, rasa susah karena harus buru-buru. Dan juga rasa sukanya pada seseorang.

Bisa saja Sasuke yang di masa depan jatuh cinta pada Hanabi yang sudah lebih dewasa dan perasaan itu dibawa ke tubuhnya yang di masa lalu, kemudian untuk suatu alasan tetap tertinggal dan mempengaruhi dirinya yang sekarang.

Itu juga mungkin.

Dan kemungkinan yang ketiga adalah.

Dia hanya itu seorang pedo yang suka dengan anak kecil.

Sasuke sangat yakin kalau dia tidak pernah melihat anak kecil sebagai love interest maupun menilai anak kecil yang berpakaian terbuka sebagai menggoda. Tapi kemungkinan ini tidak bisa dibuang.

Kalau ada es dia ingin menempekannya di keningnya sebab sekarang kepalanya terasa agak panas.

Sasuke mengalihkan pandangannya dari Hanabi tanpa menjawab kata-kata gadis itu, tapi dia memberi tanda kalau dia juga sedang ikut mendengarkan penjelasan Shikamaru.

"Penjelasannya mudah sekali."

Dengan santai Shikamaru mulai bicara.

Mari kita anggap kalau ada seseorang yang datang ke kota Hanabi atau Sasuke dengan maksud untuk menculik seseorang dan ingin membawanya ke luar negri. Jalur yang akan digunakan adalah, pertama datang ke pelabuhan sementara sebagai kapal barang industri dari luar negri, setelah dari sana menyamar jadi turis dan menyewa kapal lokal untuk datang ke pelabuhan ini sebab satu-satunya peraturan untuk masuk ke pelabuhan ini adalah kapalnya milik orang lokal atau kapalnya untuk urusan lokal.

Dan tentu saja kunjungan turis juga dikategorikan urusan lokal. Jadi meski tidak membawa barang domestikpun mereka masih tetap diijinkan untuk masuk pelabuhan.

"Sekarang aku akan menghubungi Neji dan yang lainnya untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk, kalian periksa kapal yang sesuai dengan deskripsiku! tapi ingat untuk hati-hati."

Jika mereka benar-benar organisasi penculik yang bahkan punya biaya untuk menggunakan kapal internasional, maka mereka juga akan punya uang untuk sekedar mempersenjatai orang anggotanya.

"Ini bukan main-main lagi."

Jika senjata sudah dilibatkan tentu saja bahaya juga akan ikut terlibat. Dan begitu Sasuke mengarahkan pandangannya pada Hanabi, dia melihat gadis kecil itu mengangkat tangan kanannya.

"Aku tahu! kau tidak perlu mengatakannya! tapi aku juga tidak mau mendengar kalimat pahlawan! jadi nanti kau juga harus ikut pulang bersamaku!."

Mereka bergerak menuju dan kapal yang dimaksud oleh Shikamaru.

Setelah itu Hanabi menggunakan ponselnya sendiri untuk menelpn polisi dan menjelaskan kalau temannya diculik beberapa hari yang lalu dan sekarang dia secara kebetulan menemukan tempat di mana dia berada. Dia sengaja tidak memberitahukan tentang penyelidikan sukarelanya maupun kemungkinan tentang adanya sindikat internasional.

Jika dia berbicara terlalu banyak malah kemungkinan besar omongannya tidak akan dipercaya, oleh sebab itulah setting yang dia gunakan dirubah.

"Polisi akan datang, tapi mungkin mereka akan lama sampainya sementara kurasa lebih baik kita mengawasi pergerakan mereka dari jarak aman."

Adalah apa yang Hanabi rencanakan, tapi sebelum mereka berhasil menuju jarak aman tiba-tiba ada dua pria besar yang menghentikan perjalanan keduanya.

"Dari tadi kalian terlihat berputar-putar di sekitar sini? kalian sedang mencari apa?"

Tidak ada nada mengancam dan salah satu dari mereka berbicara dengan ramah, tapi insting Sasuke mengatakan kalau keduanya berbahaya. Dan tentu saja Hanabi juga merasa curiga sebab sejak dua jam yang lalu, meski mereka berjalan-jalan ke sana-ke mari tidak ada yang mau repot-repot menanyai keperluan mereka.

Dan orang itu menspesifikan pertanyaannya pada kata 'mencari'.

Dengan kata lain mungkin keduanya sudah diawasi sejak lama.

Sasuke merangkul Hanabi lalu mendekatkan tubuh gadis kecil itu pada dirinya sendiri.

"Ahahah. . . kami tidak sedang mencari apa-apa? adiku bilang ingin jalan-jalan ke sini jadi aku mengantarnya."

Sasuke ingin bilang kalau mereka sedang kencan, tapi melihat jarak umur di antara keduanya alasan itu kedengaran aneh. Tentu saja kalau Naruto yang ditanya dia akan menjawab tanpa malu kalau dia sedang kencan dengan Hanabi.

"Kalau begitu apa kalian mau melihat matahari terbenam di di kapal kami? pemandangannya sangat indah! aku yakin kalian tidak akan menyesal."

Awalnya dua orang di depan Hanabi dan Sasuke juga menganggap kalau keduanya hanya berjalan-jalan tanpa tujuan, tapi kebetulan saat mereka sudah dekat mereka mendengar kata polisi dari mulut Hanabi. Oleh sebab itulah mereka dapat masalah.

"Kami harus pulang sebelum makan malam, jadi maaf."

Kali Hanabi yang menjawab.

Pembicaraan mereka tidak mengalami kemajuan. Argumen Sasuke dan Hanabi selalu bisa ditepis oleh lawan mereka. Dan mereka juga tidak bisa langsung pergi begitu saja takut kalau lawan mereka akan melakukan tindakan ekstrim jika mereka bertingkah lebih mencurigakan lagi.

Kalau bisa mereka ingin sedikit menarik perhatian dan membawa beberapa orang lain di sekitar mereka berdua, tapi mereka tidak punya alasan untuk beteriak maupun punya cara menarik perhatian yang lain.

"Bagaimana . . apa kalian mau mampir."

". . ."

Sasuke dan Hanabi kehabisan alasan dalam waktu yang bersamaan, entah sejak kapan arah pembicaraan mereka dibelokan oleh lawan mereka dan mereka dipaksa memberikan jawaban yang diinginkan oleh lawan bicara mereka.

Siapapun orang itu, dia jelas punya banyak pengalaman menipu orang.

". . ."

Sasuke memposisikan Hanabi di belakangnya.

Kalau situasinya seperti ini mereka berdua tidak punya pilihan lain lagi kecuali memancing perhatian orang lain.

Menyadari kalau situasinya buruk, kedua lawan mereka langsung bergerak.

Yang ingin Hanabi lakukan adalah berteriak.

Tapi jelas dia tidak akan dibiarkan begitu saja.

"Tolo. . . . "

Salah satu lawan mereka maju, tapi dengan mudah Sasuke bisa menjatuhkannya dengan aikido. Lalu, selagi Sasuke bersiap untuk menjatuhkan lawan keduanya. Hanabai tidak bisa meneruskan teriakannya.

Lawan keduanya sudah meletakan talapak tangannya yang besar di mulut Hanabi dan memegangnya dengan sangat keras sehingga gadis kecil itu tidak lagi bisa bersuara.

Semua kejadian itu berlangsung hanya sekitar kurang dari tiga detik.

"Tolong jangan melakukan hal yang tidak perlu."

Musuh pertama yang menyerang Sasuke hanyalah pancingan untuk mengalihkan perhatian pemuda itu sementara musuh kedua yang di belakangnya bersiap menggagalkan teriakan Hanabi.

Dan begitu teriakan Hanabi gagal. Tindakan ekstrim yang Sasuke takutkan terjadi.

"Aku paham."

Orang tadi menodongkan sebuah pistol kecil pada Hanabi. Sebuah pistol yang cukup kecil untuk bisa disembunyikan dan tak terlihat dari jarak beberapa meter. P-32.

Sebagai warga sipil, memiliki senjata api itu ilegal. Tapi memiliki rompi anti peluru itu diperbolehkan. Dan sekarang Sasuke sekarang sedang mengenakan rompi anti pelurunya. Jika dia yang ditodong dia tidak akan ragu untuk menjatuhkan orang yang menodongnya, tapi yang ditodong adalah Hanabi.

"Sial."

Dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kalau begitu silahkan jalan duluan."

Sebab ditakutkan melakukan sesuatu, Sasuke disuruh untuk berjalan di depan dengan dijaga dari belakang. Sedangkan Hanabi berada di belakangnya lagi. Dengan begitu mereka berdua ditangkap.

3

"Maafkan aku Hanabi."

"Harusnya aku yang minta maaf padamu karena sudah membuatmu kena masalah."

"Tidak, aku yang harus minta maaf karena tidak bisa menajagamu padahal aku sudah berjanji pada Naruto."

"Tidak, tidak, aku yang harus minta maaf karena tidak hati-hati saat bicara."

Mendengar kata-kata maaf yang tidak ada akhirnya, orang yang berada di sekitar keduanya mulai merasa geram dan tidak bisa menahan diri.

"Kalian berisik sekali!."

Dan keduanyapun hanya bisa bilang.

"Maaf."

"Maaf."

Mereka berdua tidak dibawa ke sebuah tempat gelap dengan teralis, kaki dan tangan mereka tidak ditahan dengan apapun, dan di sekitar mereka juga tidak ada orang-orang menyeramkan yang menodongkan senjata. Di sekitar keduanya, yang ada hanyalah sekitar dua puluh orang lain yang punya nasib sama dengan mereka berdua.

Diculik atau dipaksa masuk.

Rentang umurnya beragam, orang-orang yang berada di sana terdiri dari sebagian besar orang dalam umur produktif. Yang tidak ada dalam kategori itu hanya Hanabi, Sasuke, dan juga seorang nenek tua yang tadi memarahi keduanya.

"Apa kita bisa kabur Sasuke?"

Hanabi bertanya dengan hati-hati, dia tidak mau mengulangi kesalahannya yang sebelumnya.

"Kalau aku sendirian mungkin, tapi kalau bersama dengan semua orang tidak mungkin."

Menghadapi orang bersenjata bukanlah hal baru baginya, jika dia sendiri dia percaya kalau dia bisa kabur. Salah satu alasannya adalah karena dia punya banyak pengalaman melarikan diri dari orang bersenjata, tapi alasan utamanya adalah dia mampu menahan rasa sakit.

Peluru meluncur dalam kecepatan kurang lebih sama dengan kecepatan suara, dan tentu saja kecepatan seperti itu bukanlah kecepatan yang bisa ditangkap dengan mata. Saat kabur atau terdesak, dia bisa mengorbankan bagian tubuhnya untuk kabur. Jika ada yang membuka bajunya, orang itu akan menemukan beberapa bekas luka di tubuh Sasuke.

Tapi jelas cara seperti itu tidak cocok untuk semua orang.

"Padahal tempat aman hanya beberapa ratus meter dari sini."

Jika mereka bisa mencapai keramaian Sasuke yakin kalau para penculik tadi tidak akan berani membuat keributan. Tapi beberapa ratus meter itu jadi terasa sangat jauh sekarang.

Selain itu, dari luar tempat mereka disekap hanya seperti sebuah kabin kapal biasa sehingga tidak memancing kecurigaan orang yang melihatnya. Kabin tempat mereka berada juga memiliki pendingin ruangan dan bahkan makanan yang bisa disantap oleh siapapun.

Perbedaannya hanya bisa dilihat dari dekat dan juga dari dalam, di pojok-pojok ruangan ada orang-orang bersenjata. Di setiap sudut ada kamera pengawas. Kaca kabinnya setebal tembok sehingga ruangan itu kedap suara. Tempatnya sendiri nyaman, tapi meski begitu secara mental tidak ada yang merasa nyaman.

"Kalau begitu kita cuma bisa menunggu polisi datang?"

Hanabi tidak punya rencana hanya punya satu rencana tapi rencana itu tidak bisa dieksekusi dalam situasi ini. Harapannya sekarang adalah hanya jika mereka tetap di tempat ini, polisi yang ditelponnya tadi harusnya bisa sampai dan menolong mereka.

"Kurasa kita tidak akan bisa bebas semudah itu."

Meski polisi datangpun tidak ada jaminan kalau mereka akan selamat, malah bisa dibilang kalau kesempatan mereka untuk terluka akan jadi semakin besar karena adanya kepanikan. Kalau bisa mereka ingin bisa kabur sebelum ada yang memulai baku tembak.

"Jika mereka ada di sini kurasa kita bisa membalik keadaan."

Teman-temannya di sekolah militer khusus diijinkan menggunakan senjata jika memiliki alasan yang tepat. Tentu saja mereka akan diberi hukuman berat jika menggunakan senjata yang dimilikinya pada orang sipil, tapi jika mereka bertemu penculik dan mencoba membebaskan sanderanya mereka akan diberi keringanan. Meski pada akhirnya memang masih tetap dihukum.

Tidak ada yang diijinkan untuk membunuh untuk alasan apapun, tapi mereka masih diberi ijin untuk melumpuhkan target. Selain itu mereka juga punya peralatan yang diperlukan untuk melakukan perlawanan terhadap musuh bersenjata.

Rencana mereka berdua untuk menunggu bala bantuan tidak menghasilkan apapun. Mereka berharap kalau kapal yang digunakan untuk menyekap mereka bisa tetap diam dan membiarkan dirinya untuk ditemukan polisi. Tapi mungkin sebab mereka merasa khawatir, sepuluh menit kemudian kapal itu mulai bergerak.

Sambil tetap membawa Hanabi, Sasuke, dan semua orang di dalam kabin.

Tanpa ada satu orangpun yang merasa curiga.

Hanabi tahu kalau orang-orang sekarang tidak terlalu perduli dengan lingkungan sekitarnya, tapi kali ini dia sadar kalau sifat itu ternyata punya efek yang sangat gelap.

". . . . . . . . ."

Sejak keberangkatannya dari pelabuhan, waktu sudah berlalu sekitar setengah jam. Kecepatan kapal tidak tinggi dan perjalanannya stabil. Dari perkirakaan Sasuke, mereka akan menuju ke pelabuhan internasional untuk dioper ke kapal lain.

Jika jam biologisnya benar, kemungkinan besar mereka akan sampai sepuluh menit lagi.

Sasuke, tentu khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya. Tapi saat ini ada hal yang lebih membuatnya khawatir. Keadaan Hanabi yang membuatnya ingin bertanya 'apa yang sedang terjadi padanya?'.

Hanabi terus duduk dan menunduk diam.

"Ada apa Hanabi?"

"Tidak ada apa-apa."

Tidak seperti biasanya, jawaban yang Sasuke dapatkan terdengar lemah dan tidak bertenaga.

"Apa kau mabuk laut?"

"Tidak."

Meski suaranya masih sama tidak meyakinkannya, tapi Sasuke percaya kalau penyebab gadis kecil di sampingnya jadi pendiam bukan karena sakit.

"Maaf."

Hanabi itu sudah dewasa. Adalah apa yang Sasuke katakan pada gadis kecil itu. Dan memang begitulah yang dia benar-benar pikirkan saat mengatakannya. Tapi meski begitu, anggapan itu hanyalah miliknya sendiri.

Mungkin memang Hanabi itu hanya anak kecil biasa. Dan masalah yang menimpanya terlalu berat untuk dipikulnya.

Setengah hari yang lalu dia hanyalah seorang anak SMP biasa, dimanja di rumah, belajar di kelas bersama temannya, lalu bermain dulu sebelum benar-benar pulang adalah kegiatan normalnya. Dan mungkin ketika bosan dia ingin melakukan sesuatu yang lebih menantang seperti pura-pura jadi detektif.

Meski dia memang pintar, bertingkah lebih dewasa dari umurnya dan juga paham akan hal-hal yang normalnya anak kecil tidak tahu. Tapi tetap saja agenda kewajibannya adalah untuk bermain lalu jadi senang dan dilindungi dari bahaya. Bukannya membahayakan diri, diculik orang tidak dikenal, di bawa ke tempat yang jauh lalu entah diapakan lagi setelahnya.

"Sial."

Di saat seperti ini yang bisa Sasuke lakukan hanya menyesali perbuatannya.

Dia dibutakan oleh perasaanya sendiri dan membuat dirinya tidak bisa membuat keputusan yang benar. Keputusan normal yang seharusnya sudah dia ambil bahkan tanpa perlu berpikir. Hanya karena ingin mengambil simpati gadis kecil di sampingnya, dia melupakan hal dasar yang tidak boleh dia lupakan.

Tugasnya adalah melindunginya, bukan menuruti semua keinginannya.

Apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan itu sering berbeda. Dan karena ingin menuruti keinginan Hanabi dia dengan mudahnya setuju untuk membawa Hanabi ke sini dan membiarkannya menghadapi bahaya.

Membuktikan kalau kau menyayangi seseorang itu bukan dengan menuruti semua keinginannya secara buta. Jadi toleran itu penting, tapi tetap saja yang namanya batas itu perlu.

"Kurasa pengalamanku belum cukup banyak."

Naruto sangat menyayangi Hanabi, semua orang sudah tahu itu. Pemuda itu tergila-gila dengan gadis kecil itu, semua orang sudah tahu. Dan pemuda itu akan melakukan apapun untuk gadis kecil itu juga sudah seperti hal normal baginya.

Tapi meski begitu dia bisa membuat batas, sebuah batas yang tidak boleh dilewati.

Dan ketika batas itu dilewati dia akan menentang adik perempuannya itu. Meski dia harus dibenci sebagai akibatnya.

"Aku tidak seberani dia."

Sasuke menarik nafas.

Dan gara-gara ketidakberaniannya itu, sekarang Hanabi akan dipaksa jauh dari kota tempatnya tinggal. Dipaksa harus meninggalkan orang-orang yang dia sayangi, orang tuanya, kakaknya, teman-temannya, semuanya tidak akan bisa dia temui lagi hanya karena kesalahan kecil yang Sasuke perbuat.

"Baiklah. . . . ."

Penyesalannya dia singkirkan. Rasa bersalahnya masih ada. Tapi sebuah penyesalan hanya ada untuk membuatnya tahu apa kesalahannya. Dan setelah dia sudah tahu kesalahannya, dia sudah tidak lagi memerlukan penyesalan itu. Yang dia perlukan sekarang adalah perbaikan dan tekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Jika setelah ini dia masih melakukan kesalahan yang sama. Maka dia itu lebih bodoh bahkan dari binatang.

"Hanabi. . ."

Suara yang dia gunakan kali ini untuk memanggi gadis kecil di sampingnya terdengar lebih keras, lebih berisi tekanan, dan juga lebih berisi tekad.

"Aku akan menyelamatkanmu."

Menyelamatkan semua orang mungkin tidak mungkin, tapi setidaknya kalau Hanya Hanabi dia mungkin bisa melakukannya. Tidak! dia pasti bisa melakukannya. Dia harus bisa melakukannya. Kesalahannya tidak bisa diperbaiki, tapi setidaknya dia bisa menebusnya dengan menyelamatkan Hanabi.

Apapun yang terjadi dia akan menyalamatkan gadis kecil itu. Apapun yang terjadi! apapun taruhannya.

". . ."

Hanabi memperlihatkan wajahnya pada Sasuke, dia tidak bicara apa-apa tapi dia tersenyum.

Dan setelah beberapa saat.

"Yang bisa keluar bukan hanya aku, tapi kita semua."

"?"

Ngomong-ngomong, cara bicara dan suaranya jadi agak sedikit berbeda.

Sasuke tidak tahu apa yang Hanabi maksud.

4

Shikamaru yang sedang mengawasi dari jauh menemukan kalau dia tidak bisa lagi melihat Hanabi maupun Sasuke, setelah itu dia juga tidak bisa lagi menemukan kapal yang tadi dia bilang mencurigakan.

Ada dua kemungkinan yang muncul di pikirannya, yang pertama Hanabi dan Sasuke pulang lalu kapal itu pergi dan yang kedua Sasuke dan Hanabi masuk ke kapal itu dan pergi. Gambar-gambar yang didapatkannya tidak real time dan hanya diambil dalam selang waktu satu atau dua jam sekali. Jadi dia tidak bisa memastikan.

Tapi.

Tanpa banyak dipikirpun, kesimpulan kedua jauh lebih memungkinan daripada kesimpulan pertama. Walaupun dua-duanya sama-sama masih belum ada yang bisa dikonfirmasi.

"Saatnya konfirmasi."

Shikamaru mencoba menghubungi nomor Sasuke dan tidak mendapatkan itu saja sudah cukup untuk membuatnya mempromosikan kesimpulan terburuk sebagai pilihan pertama untuk ditindak.

"Ok. . sekarang ke mana mereka akan pergi?."

Tujuan kapal itu sudah jelas, kapal itu akan ke pelabuhan di ujung kota lalu menurunkan muatannya dan memuatnya lagi ke kapal yang lebih besar. Yang jadi masalah adalah 'kapal yang mana yang akan digunakan untuk keluar dari negara ini?'.

Shikamaru kembali memeriksa gambar-gambar yang di dapatkannya dengan teliti, tapi dia tidak menemukan apa-apa.

"Gambarnya belum di update."

Sekarang Shikamaru melihat jam di pojok kanan atas komputernya.

Perjalanan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain paling hanya memakan waktu empat puluh menit. Sedangkan gambar yang membuatnya tahu kalau kapal yang diawasinya tidak ada lagi baru saja di update, untuk mendapatkan update selanjutnya masih diperlukan waktu satu jam.

Dan sebab Shikamaru tidak bisa memastikan keberangkatan kapal turis tadi dari pelabuhan awal, maka dia sudah mengasumsikan kalau kemungkinan besar jika kapal tadi sudah sampai di pelabuhan tujuannya.

"Sial."

Waktu yang dimiliki oleh mereka mungkin setengah jam sebelum update selanjutnya bisa didapatkan, tapi waktu sebanyak itu bisa digunakan untuk banyak sekali hal. Dan jika para penculik itu menutupi jejaknya dengan rapi, Shikamaru tidak akan lagi bisa melanjutkan observasinya.

Shikamaru memutuskan menelpon Neji.

"Halo Neji, apa kau sudah sampai?."

"Sudah, lumayan lama malah."

"Kalau begitu cepat pergi ke bagian peti kemas, cari kapal yang mencurigakan."

"Kapal yang mencrigakan seperti apa?"

"Kapal ukuran sedang dengan banyak orang di dalamnya, orang-orangnya turun dan menuju kapal besar."

Kapal besar memang banyak orangnya, tapi bukan orangnya sendiri yang sering naik turun kapal melainkan barangnya. Dan biasanya yang mengurusi barangnyapun tidak terlalu banyak sebab kebanyakan urusan angkat-mengangkat diserahkan pada mesin.

Jika ada sekumupulan orang yang bergerombol masuk ke dalam kapal angkutan barang industri, harusnya pemandangan seperti itu mudah untuk ditemukan sebab tidak normal.

"Ok aku paham."

Neji mempercepat jalannya lalu melihat ke sekitarnya dengan lebih teliti.

"Panggil juga yang lainnya, aku tidak yakin kalau Sasuke bisa dilumpuhkan dengan tangan kosong, kau paham kan?"

Saat melawan Hinata yang punya kekuatan berlipat-lipat darinyapun dia masih bisa tenang dan malah menguasai keadaan. Jika lawannya hanya manusia biasa harusnya dia tidak akan mendapat masalah.

"Aku akan mengabarimu lagi kalau sudah menemukannya."

Setelah itu Neji langsung berlari sambil terus memeriksa sekitarnya. Dan meski sebenarnya kesempatannya untuk menemukan kapal yang digunakan Sasuke dan Hanabi sangat tipis karena jarak antara sampainya informasi dan peristiwa sebenarnya mempunyai lag yang lumayan lebar.

Tapi entah karena mereka sedang sial atau Neji yang sedang beruntung, atau mungkin hanya kebetulan saja. Orang-orang yang akan dibawa masuk ke dalam kapal tidak kooperatif dan membuat proses pemindahannya jadi lama dan berlarut.

Dan sebab para penculik itu tidak ingin terlalu menarik perhatian, mereka tidak asal menarik senjata. Jika mereka di dalam ruangan mungkin mereka tidak akan ragu, tapi sebab mereka berada di luar ruangan di mana ada banyak orang yang bisa jadi saksi mereka mencoba menahan diri.

Pada akhirnya keadaan jadi agak keruh. Memanfaatkan keadaan keruh itu, Neji mulai mendekati kapal itu sambil bertingkah setidak mencurigakan mungkin. Bencana mereka adalah keberuntungan baginya.

Hanya saja, apa yang Neji anggap sebuah keberuntungan sama sekali bukan sebuah keberuntungan belaka. Melainkan kesempatan yang dibuat oleh Hanabi.

Dari jauh, Neji bisa melihat kalau Sasuke dan Hanabi dipisahkan dari kerumunan dan didorong dengan kasar ke tempat lain.

"Sial."

Dia melihat ada orang yang membawa senjata, dan orang bersenjata itu bukan hanya ada satu. Dari yang bisa dia lihat ada enam orang lain yang berjaga di atas kapal, dan kemungkungkinan besar mereka juga memiliki senjata.

"Jika kapal itu terus dijaga selama dua puluh empat jam berarti musuh kami itu sangat banyak, aku kekurangan orang."

Neji mengambil ponselnya dan menelpon bantuan.

Total orang yang harus mereka hadapi mungkin sekitar dua puluh empat. Angka ini didapat dari perhitungan tempat itu dijaga dalam empat shift oleh orang yang jumlahnya sama. Sekarang mungkin hanya ada enam yang terlihat, tapi di dalam mungkin masih ada lebih banyak lagi.

"Hey Lee, aku butuh bantuan, tolong telpon yang lain juga dan jangan lupa untuk membawa peralatan tingkat C."

Setelah itu Sasuke terus menelpon teman-temannya yang mungkin bisa membantu.

"Untuk jaga-jaga aku juga akan menelpon polisi."

Sementara Neji sedang bersiap dan menunggu teman-temannya yang lain, Sasuke dan Hanabi dibawa ke bagian lambung kapal lalu dimasukan ke sebuah tempat yang benar-benar punya teralis. Kali ini mereka berdua akhirnya merasa benar-benar seperti diculik.

"Apa-apaan kau Hanabi, bukankah tadi itu kesempatan besar kita untuk kabur."

"Tapi gara-gara itu sekarang kita jadi bisa berdua sendirian."

"Hah?"

Rencana awal Sasuke adalah kabur saat mereka berdua dipindahkan ke kapal lain. Di saat itu dia akan melumpuhkan satu atau dua penjaga, mengambil senjatanya, lalu lari sekuat tenaga ke arah keramaian.

Tapi sebelum dia berhasil melakukan langkah awalnya, Hanabi mulai bertingkah histeris.

Gadis itu mulai menunjukan rasa takutnya, dia bicara kalau dia tidak ingin dibawa sambil menangis, lalu berteriak-teriak seperti anak anak umur di bawah lima tahun yang mainannya direbut saudaranya.

Hal itu membuat semua orang yang dari awal menahan diri dan mencoba berpikir tenang jadi sadar akan keadaan mereka. Mereka sedang diculik, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka bisa saja dijual dan dijadikan budak di suatu tempat, diambil organnya lalu dibiarkan mati,

Semua orang mencoba menekan rasa takutnya, tapi begitu mereka melihat Hanabi yang menangis ketakutan. Rasa takut mereka semua kembali, dan begitu rasa takut mereka kembali, semua orang sadar kalau situasi yang dihadapinya sangat berbahaya. Serta mereka tidak punya harapan.

Gara-gara hal itu, semua orang jadi panik dan mulai bertingkah mengikuti instingnya dan keributanpun pecah.

Lalu sebelum ada yang mulai menyerang tanpa takut mati ke arah orang-orang bersenjata yang menculik mereka, penyebab keributan itu dipisahkan dari gerombolan lainnya. Sasuke yang bermaksud memanfaatkan keributan itu untuk membebaskan Hanabi juga langsung ditodong. Dan pada akhirnya keduanya dimasukan ke sebuah tempat seperti kandang binatang di lambung kapal.

Kali ini mereka benar-benar terkurung.

Tidak seperti sebelumnya. Di sekeliling mereka gelap, dan mereka tidak bisa melihat keluar, lalu udara di sana juga pengap dan juga lembab serta panas. Berbeda jauh dengan kabin kapal sebelumnya.

Jika mereka terus berada di tempat itu mereka tidak akan tahu apa yang terjadi di luar, waktu di luar, dan bahkan keduanya bisa mati lemas karena dehidrasi.

"Sial, sekarang bagaimana lagi."

Penyebab rencana kaburnya gagal adalah Hanabi, jika gadis kecil itu tidak membuat keributan mungkin dia masih punya kesempatan untuk kabur walau tidak besar. Tapi tidak mungkin Sasuke bisa mengomeli Hanabi yang sedang ketakutan. Lagipula ini semua bukan hanya salahnya, tapi salah Sasuke juga.

Begitulah yang dipikirkan Sasuke.

"Sasuke."

"Ada apa Hanabi?"

Hanabi masih menunduk. Tapi dia tidak lagi menangis.

"Apa ada yang mengawasi kita? apa ada kamera? atau apapun."

Sasuke mengawasi sekitarnya.

"Kurasa tidak."

Sejauh yang dia lihat tidak ada benda semacam itu.

"Baguslah, untuk berjaga-jaga mendekatlah ke sini."

"Mendekat?"

Sasuke mendekati Hanabi.

"Kurang dekat, dan kau terlalu tinggi."

"Ok. . "

Sasuke menurunkan badannya lalu menggunakan kedua lututunya untuk berdiri di depan Hanabi.

"Jangan terlalu di tengah! dan kau masih kurang dekat."

Kurang dekat?

Hanabi duduk lalu mundur dan menyandarkan tubuhnya ke belakang, tepat di bagian pojok tempat seperti kandang itu. Setelah itu dia menarik Sasuke untuk mendekatinya.

"Eeehh. . .?"

Apa-apaan keadaan ini?

Sasuke jelas lebih berat dari Hanabi, jadi saat Hanabi menarik Sasuke dan dia masih belum mau berkooperasi malah dia yang tertarik sendiri. Membuatnya sekarang jadi berada pada posisi setengah tidur terlentang dan setengah duduk. Dan Sasuke yang baru saja di tarik saat belum siap sedang dalam posisi yang sepertinya berada di atas Hanabi, sambil memegang teralis di kanan dan kirinya.

"Um . . . . . ."

"Ada apa Sasuke? kau kelihatan tidak sehat."

"Aa-a-aaku baik-baik sajaa."

"Kenapa kau berteriak?"

"Maaf."

"Aku tahu kalau hal semacam ini akan terjadi, jadi aku sudah bersiap."

"Bersiap? apa yang kau persiapkan?"

"Di belakangku ada kotak-kotak ponsel, ambil salah satunya."

"Hah? kotak ponsel?"

"Aku mendengar dari Yukimaru."

Yukimaru bilang kalau dia mendapatkan ponsel untuk menelpon Hanabi dari tempat di sekitarnya. Sepertinya kapal yang digunakan sebagai tempat menyekapnya disamarkan sebagai kapal pembawa ponsel dari luar negri. Sebab kargo aslinya akan diganti isinya dengan manusia, tentu saja barang aslinya harus ditaruh di tempat lain.

Jika kapal yang dimaksud oleh Yukimaru adalah kapal yang sama maka ada kemungkinan kalau benda yang sama bisa dia temukan. Tentu saja Hanabi tidak akan menyerahkan kesempatannya untuk kabur pada kebetulan.

Dia sudah mempersiapkan ponsel cadangan berupa jam tangan yang dulu pernah diberikan kepadanya sebagai hadiah, gelangnya sudah dilepas sehingga ukurannya jadi sangat kecil. Tapi untunglah dia tidak perlu memakainya. Sebab dia malu kalau harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanannya.

"Lalu kenapa kita harus ada dalam posisi seperti ini."

"Badanmu besar jadi kau bisa menutupiku saat aku melakukan sesuatu, kau memang bilang tidak ada yang mengawasi tapi hati-hati tidak pernah mencelakakan siapapun."

Tapi kalau begini malah aku yang dikira sedang melakukan sesuatu.

Adalah apa yang dipikirkan Sasuke.

Sasuke maju dan sedikit menekankan dadanya pada wajah Hanabi agar dia bisa lebih jauh merenggangkan tangannya untuk mencapai kotak di belakang Hanabi. Dan dia melakukannya engan sangat hati-hati, di belakang Hanabi adalah besi teralis. Dan jika seseorang menekankan kepalanya pada benda semacam itu rasanya pasti akan sakit.

"Ok, aku sudah dapat sekarang kartunya?."

Sasuke membongkar kotak ponsel di tangannya, setelah itu dia mengulurkan tangannya pada Hanabi.

"Aku yang akan memasangnya."

"Kenapa? aku akan lebih cepat melakukannya."

Dalam posisinya sekarang Hanabi kelihatan kesulitan dalam bergerak, karena itulah akan lebih cepat kalau Sasuke yang memasangkannya.

"Kartunya kotor."

"Aku tidak tidak perduli."

Sasuke mencoba mengambil secara paksa.

"Aku perduli!."

Dan Hanabi langsung menampar telapak tangan Sasuke.

Yang paling penting dalam sebuah perencanaan adalah bukan membuat sebuah rencana yang pasti berhasil, tapi membuat banyak perencanaan supaya jika satu rencana gagal masih ada rencana cadangannya.

Karena itulah dia memisahkan kartu sim dan ponsel jam tangannya. Jika ponselnya diambil dia masih punya kartu sim dan tinggal mencari ponsel lain, jika kartu simnya diambil dia masih punya ponsel dan tinggal mencari kartu sim lain. Keduanya berisi kontak dengan nomor yang sama.

Hanabi membuka mulutnya dan mengambil sesuatu dari belakang gigi gerahamnya,

Cara menyembunyikan kartu sim yang dilakukan Hanabi ditiru dari cara yang digunakan Yukimaru, menyembunyikan di dalam mulutnya.

"Maafkan aku."

Sasuke menurut dan memberikan ponselnya pada Hanabi.

Meski Sasuke sendiri tidak keberatan tapi Hanabi pasti merasa malu, karena itulah Sasuke mengalah. Sambil menunggu Hanabi selesai memasangkan kartu sim ke dalam ponsel di tangannya, sesekali Sasuke melirik ke arah mulut Hanabi.

Dia baru sadar kalau ternyata Hanabi punya taring kecil yang sedikit lebih panjang seperti seekor kucing. Dan entah kenapa taring kecilnya itu kelihatan imut.

Sasuke menampar dirinya sendiri.

"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal seperti itu."

Hanabi memasang baterainya lalu menyalakan ponsel itu, setelah itu dia mencari kontak dari orang yang dia akan telpon.

"Kurasa kita akan lama di sini, apa aku harus menelpon polisi lagi?"

Di antara semua kontak yang tersimpan di kartu sim Hanabi dia merasa kalau nomor polisilah yang paling berguna sekarang.

"Jangan, terlalu lama! telpon saja teman-temanku, masalah polisi biar mereka yang mengurusnya."

"Siapa yang ingin kau telpon?"

"Neji."

"Apa kau ingat nomornya?"

"Geh. . . tidak."

"Sudah kuduga, tapi tenang saja aku masih ingat nomor kak Neji dan kak Shikamaru! aku sempat melihatnya di layar ponselmu."

"Kalau kak Sasuke?"

"Aku tidak mau mengingatnya."

Hanabi mulai mengetikan nomor dari pemuda yang beberapa jam yang lalu baru dia kenal itu. Setelah berhasil tersambung Hanabi langsung menyerahkannya pada Sasuke.

"Halo Neji! akku ingin. . . ."

"Aku sudah tahu keadaannya dari Shikamaru, aku juga sempat melihatmu tadi! sekarang kau cukup memberitahukan di mana lokasimu di kapal itu."

"Bagaimana dengan bala bantuan?"

"Aku sudah mengurusnya, jumlah mereka lumayan banyak jadi kami juga harus menambah jumlah dulu! kalau kau tahu informasi yang tidak kutahu kirimkan saja langsung! akan kuforward ke semua orang."

"OK, apa berarti kami bisa percaya diri kalau kalian akan berhasil?"

"Percaya tidak percaya kami akan datang dan menyelamatkan kalian!."

"Baiklah kalau begitu, jangan lupa bawa pemotong besi."

Setelah menutup telpon Sasuke segera mengirimkan beberapa informasi yang mungkin dibutuhkan teman-temannya. Tempat mereka berada, tempat orang-orang lain kemungkinan berada, jenis senjata yang digunakan oleh para penculik serta lokasi-lokasi yang mungkin digunakan para penculik untuk bersembunyi.

"Sekarang yang perlu kita lakukan hanya menunggu."

Mendengar pembicaraan Sauske, Hanabi jadi semakin bingung.

"Sebenarnya kau itu siapa Sasuke? dan mereka itu?"

"Aku seorang murid SMU biasa."

". . . ."

Hanabi hanya bisa memandang skeptis Sasuke.

"Aku jujur."

5

"Halo-halo, apa semuanya bisa mendengarku dengan jelas?"

"Jelas."

Serempak enam orang menjawab pertanyaan Shikamaru.

Sekarang Shikamaru sedang berada di pelabuhan dan bergabung dengan teman-temannya yang lain. Yang sedang bersama dengannya sekarang adalah Neji, Lee, Kiba, Shino, Sai dan Chouji. Semua temannya dari sekolah militer.

Yang dia ajak untuk datang bukan hanya mereka saja, tapi cuma mereka saja yang bisa datang.

"Semuanya sudah mendengar outline rencananya kan? kita akan mulai bergerak saat petang di mana pandangan paling kabur! kalian semua ingat peraturannya kan?"

Semuanya mengangguk.

Gunakan seminimal mungkin senjata.

Usahakan tidak ada korban dari orang yang ingin mereka selamatkan.

Tidak ada yang boleh membunuh.

Tidak ada yang boleh terbunuh.

Semua orang harus pulang hidup-hidup.

Semuanya menunggu sampai petang, lalu secara serentak mereka mendekati kapal dari poin-poin yang sudah ditentukan sebelumnya. Semua orang kecuali Shikamaru. Dia sedang menggunakan remote control untuk menerbangkan drona hasil tabungannya selama delapan bulan.

Drone yang dia gunakan digunakan untuk membawa kamera untuk mengawasi bagian atas kapal yang akan mereka sergap, dengan bantuan benda itu dia akan memberikan arahan dan memantau situasi pada teman-temannya yang lain.

"Setelah kalian sudah cukup dekat, serang secara bersamaan dengan aba-abaku."

Jika mereka punya ijin untuk membunuh, maka mereka hanya perlu menjaga jarak dan menyerang dengan senjata yang sudah diberi peredam suara. Tapi sayangnya mereka tidak punya kebebasan seperti itu, oleh sebab itulah mereka perlu melakukan pertarungan jarak dekat untuk bisa melumpuhkan lawannya.

Dan sebab mereka tidak boleh menarik perhatian maupun memancing kepanikan, mereka harus melumpuhkan semua penjaga dalam waktu bersamaan.

Shikamaru melihat ke tablet di tangannya, setelah memastikan kalau semua orang sudah dalam posisi dia segera memberi perintah.

Dalam waktu yang sama semua orang berlari dengan sekuat tenaga ke target masing-masing, dan sebelum targetnya ada yang sadar dengan yang terjadi semua penjaga kapal sudah dijatuhkan ke lantai kapal.

Dan mereka semua dijatuhkan dengan cara yang sama. Kakinya dijegal, lehernya ditarik ke belakang, setelah mengganti posisi si target langsung lehernya dipegang dan dijatuhkan ke lantai. Setelah menjatuhkan musuh, teman-teman Shikamaru langsung melompat dan menginjak kedua persendian di lengan targetnya agar tidak bisa melawan balik. Yang terakhir mereka meletakan benda seperti spone ke mulut masing-masing target.

Setelah beberapa saat perlawanan berakhir dan target mereka diikat kaki dan tangannya serta mulutnya disumpal.

"Sai ke ruang kendali dan lumpuhkan siapapun yang ada di sana, Lee ke ruang mesin dan sabotase mesinnya supaya merkea tidak bisa kabur sebelum polisi datang, sisanya cari penghuni kapal lain dan membebaskan Sasuke serta Hanabi."

Begitu masuk, matanya yang berada di langit tidak akan berguna lagi. Yang bisa dia lakukan adalah mengawasi keadaan di luar dan melaporkan apapun yang kira-kira akan jadi masalah dalam misi mereka.

"Polisi akan datang sepuluh menit lagi."

Polisi sering tidak tahu masalah sebelum benar-benar melihat masalahnya sendiri, dan yang paling mengganggu adalah sirine yang mereka sering sekali pasang. Membunyikannya sama dengan mengumumkan kedatangannya, dan di saat seperti itu lawan bisa melakukan persiapan untuk melakukan penyambutan atau pelarian.

Jika lawannya tidak bersenjata dan tidak memiliki banyak sandera mungkin semuanya akan baik-baik saja, tapi mereka punya banyak sandera yang lokasinya masih belum diketahui. Jika tiba-tiba mereka dibuat panik bisa saja mereka akan melakukan tindakan yang mengancam keselamatan sanderanya.

Jika derama seperti sudah dimainkan biasanya polisi dan para penculik itu akan berada pada posisi stalemate. Polisi tidak bisa maju sembarangan karena ada sandera, para penculik itu bisa menggunakan sandar dengan mudah. Bahkan jika mereka mebunuh satu sandera mereka masih punya banyak lagi sandera.

Dan pada waktu seperti itu, penculik bisa menjalankan kapalnya untuk kabur dan menahan siapapun untuk naik ke kapalnya.

Kalau sudah begitu jelas polisi adalah dalam posisi tidak menguntungkan. Jika para penculik itu berhasil lolos, kapal perangpun tidak akan bisa menghentikannya sebab jika kapal itu diserang maka orang di dalamnya juga akan terluka.

Masalah masih belum menyangkut teritori internasional. Jika ada kapal militer negara ini menyebarang tanpa ijin ke teritori lau milik negara lain, makan akan ada masalah politik.

Kesimpulan dari pikiran panjang Shikamaru adalah, lumpuhkan penculiknya, jangan biarkan mereka kabur, temukan lokasi sandra, pergi dari tempat kejadian, dan biarkan polisi mengurusi semuanya. Setelah itu, bulan depan dia akan menyuruh semua orang yang terlibat dalam misi ini membantunya menulis laporan dan juga ribuan lembar surat permintaan maaf.

"Semuanya, kita tidak punya banyak waktu."

Suara Shikamaru terdengar jelas lewat intercom.

"Ini Sai, ada yang ingin membunyikan alarm tapi aku berhasil melumpuhkannya."

"Ini Neji, aku sudah menemukan Sasuke dan Hanabi sekarang aku sedang membebaskan mereka berdua."

"Ini Lee, sabotase berjalan lancar."

"Couji, Kiba dan aku sedang menyisir ruangan kapal satu-persatu! kami perlu sedikit waktu lagi tapi kami sudah melumpuhkan empat orang."

Shikamaru mengrenyitkan dahinya.

Enam ditambah satu ditambah empat, baru sebelas. Masih banyak sisa.

"Aneh."

Perlawanannya terlalu lemah.

"Lee cepat kembali ke atas, aku melihat ada yang mencoba kabur, kau boleh melumpuhkannya dengan senjata."

Ini lebih aneh lagi. Kenapa mereka kabur padahal mereka punya kelebihan dalam masalah jumlah? selain itu mereka juga punya sandera yang tidak sedikit. Jika mau mereka bisa melawan balik dan memojokan balik.

"Mereka akan kabur Lee!."

Kenapa mereka mencoba kabur?

Semua penculik yang tidak berhasil dilumpuhkan kabur menggunakan speedboat yang datangnya entah dari mana, setelah itu Lee mencoba menghentikannya tapi senjatannya tidak bisa digunakan untuk menyerang target dari jarak jauh. Mereka lolos dan misipun selesai.

"Terlalu anticlimatic! ada yang aneh! semuanya terlalu mulus! ada yang tidak benar."

Tentu saja Shikamaru tidak mau kalau misinya penuh masalah, tapi masalah itu sudah natural akan muncul jika yang dihadapi adalah manusia. Malah lebih aneh kalau semuanya sesuai rencana. Dia tidak tahu apa, tapi dia yakin ada yang tidak beres dengan tindakan mereka.

"Aku sudah menghitungnya, semua orang yang bersenjata sudah tidak ada lagi di kapal, yang tersisa hanya pekerja kapal saja jadi semuanya sudah aman! misi sudah selai."

Shikamaru menyuruh teman-temannya untuk segera pergi dari kapal itu dan mengecek kapakah sandranya masih ada di sana. Dan mereka menemukannya dengan mudah.

"Aku belum puas dengan tapi semuanya kuserahkan padamu Sasuke."

Suara sirine berbunyi dengan keras, setelah itu ada banyak polisi yang keluar dari kendaraannya. Begitu mereka semua naik ke kapal, teman-teman Sasuke sudah tidak terlihat lagi. Bersama Hanabi Sasuke membantu orang lain yang juga jadi korban penculikan untuk keluar.

Bisa dibilang masalah mereka terselesaikan dengan baik.

"Ini aneh."

Atau tidak.

"Ini aneh."

Hanabi dan Sasuke berbicara bersama.

"Apa mereka benar-benar kriminal?"

Bagi Sasuke keanehan yang dia temukan adalah kenyataan kalau semua penculik hanya memiliki senjata untuk melakukan pertahanan diri seperti pistol compact. Tujuan penculikan memang bukan membunuh, tapi tetap saja hal itu aneh. Sebab orang yang mereka culik itu banyak, jika ada yang memulai keributan dan ingin membalik keadaan mereka akan kalah masalah jumlah.

Dan jumlah tidak bisa dikalahkan dengan hanya pistol, setidaknya mereka perlu SMG untuk bisa mengontrol masa sebanyak orang-orang yang sudah mereka culik. Pertahanan mereka terlalu lemah, jika semua orang bersatu dan melawan pasti para penculik itu yang kalah.

Yang kedua adalah skill mereka dalam bertarung dan menggunakan senjata, selain orang yang pertama menghadapinya semua orang bisa dengan mudah disergap dari belakang oleh teman-temannya. Kemudian cara menembak mereka juga kelihatan benar-benar tidak normal.

Bisa dibilang mereka itu amatiran.

"Apa mereka itu cuma orang sipil?"

Kalau iya kenapa mereka menyewa orang sipil? mereka punya uang banyak yang bahkan cukup untuk menyewa kapal besar. Selain itu mereka juga punya banyak sandra yang mungkin nilainya kalau ditotal triliunan.

Kenapa mereka menyuruh orang tidak berpengalaman untuk menjaga uang mereka? apa mereka tidak serius untuk mencari uang? kalau tidak serius kenapa mereka membuang-buang uang mereka?

Dan bahkan para penculik itu kabur tanpa memperdulikan tugasnya.

"Menurutmu Hanabi?"

Sasuke melihat ke arah kirinya, tapi di sana tidak ada siapa-siapa.

"Hanabi!."

Hanabi sedang berlari ke sana-ke mari untuk mencari seseorang, dia sudah melihat ke banyak orang yang diculik keluar dari dalam kota-kota besi yang harusnya tempat ponsel. Tapi dari semua tempat itu tidak ada orang yang sedang dia cari.

"Ada apa Hanabi."

Sasuke berlari mengejar Hanabi dan menghentikan gadis kecil itu.

"Yukimaru tidak ada, aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi dia tidak kutemukan! dia tidak ada di kapal ini!."

"Apa kau serius?"

"Memangnya aku kelihatan bercanda!? kargo ini tidak dibuat untuk mengangkut orang dan jika orang dipaksa masuk ke dalamnya mereka tidak akan bertahan lama! aku tidak tahu masalah harga tapi pasti semua orang akan sakit jika dibiarkan dalam lingkungan seperti itu selama berhari-hari! dari awal orang yang diculik dan di bawa ke sini tidak pernah ditujukan untuk dikirim ke luar negri."

"Kalau begitu."

Kapal ini hanya sebuah double, cuma sebuah dummy. Kapal besar berisi ratusan orang yang diculik ini hanya sebuah dummy, kalau ini hanya sebuah dummy di mana yang asli. Berapa banyak yang diangkut oleh yang asli? orang seperti apa yang diangkut oleh aslinya? siapa orang yang cukup berharga untuk dibawa lebih dari uang triliunan?

"Sial."

Sasuke sadar kalau masalah itu masih jauh dari yang namanya selesai.


Semuanya akan jadi clear di ark terakhir, tapi di part selanjutnya maupun ark selanjutnya masalah ini masih berlanjut. Something big is coming, tapi untuk sekarang semua orang, entah itu Naruto, Hanabi, maupun Sasuke hanya bisa melihat gambar kecilnya saja.

Uwaaa. . . berlebihan sekali promo saya, Maaf.


Thanks for reading. Semoga bisa update cepet part terakhirnya dari ark ini.