:: The Omega ::

~HunHan~

.

.

.

.


Pagi ini aku melakukan senam lagi, ini menjengkelkan dan semakin menjengkelkan ketika nenek menontonku. Nenek jadi seperti seorang bodyguard-ku, maksudku nenek tak membiarkanku lepas dari penglihatannya, dari saat aku bangun sepertinya dia sudah ada di kamarku sejak subuh. Ini gara-gara aku mengatakan pergi ke hutan, seolah itu sangat darurat nenek langsung menelpon ayah dan ibuku lalu Sehun.

Tentang hutan itu, Nenek menceritakan tentang roh-roh suci di hutan yang meminta bayaran disetiap rentang sepuluh tahun. Suatu pesta akan diadakan di dalam hutan, Alpha dan Omega yang tak saling terikat akan dikumpulkan dan saat itu juga tak sedikit dari mereka yang menemukan takdir mereka. Lalu setelah itu ada hal yang menurutku mengerikan, jika ada diantara Omega yang disatukan oleh roh hutan mengandung dia harus memberikan bayinya.

Serius itu mengerikan.

Tapi itu sudah menjadi kewajiban di desa ini karena mereka dilindungi oleh roh-roh hutan, Lima puluh persen populasi di desa ini adalah ras Alpha, Omega, dan Beta, dengan klan yang dipimpin seorang Alpha kuat seperti pada zaman dahulu dimana ras ABO hidup secara terpisah dengan ras manusia normal, memperebutkan wilayah dan memerangi ras manusia untuk kesejahteraan klan dan ras kami.

Kenapa mereka memerangi manusia normal? manusia tak ingin ras kami berada di atas, ras kami adalah ras manusia super yang seharusnya memimpin dunia. Wow sekarang aku berpikir belajar sejarah itu menyenangkan.

Karena sudah demokrasi semua hidup rukun dan damai tanpa ada diskriminasi ras, pemerintah bahkan memberi hak istimewa yang seharusnya memang milik kami, karena kemampuan memimpin Alpha mereka bisa menjadi presiden, mentri, dan pejabat-pejabat penting negara. Tapi hingga saat ini tak pernah sekali pun seorang Alpha menjadi pemimpin negara, lalu mereka menjadi ragu terhadap pemerintah sehingga membentuk klan kembali.

Populasi ras kami yang banyak membuat klan yang dipimpin oleh kakek menjadi klan yang besar, klan kakek mengelola sumber daya alam, menjaga lahan agar tak jatuh pada orang yang tak semestinya dan banyak lagi yang dilakukan kakek dan klannya. Mereka adalah pribumi jadi mereka tentu saja menguasai desa ini dan sangat di segani. Mereka sejahtera di sini, memiliki kasta yang tinggi, sosial yang sangat bagus dengan masyarakat yang lain, dan lebih dapat dipercaya mengelola desa, semua rakyat di desa sudah setuju dengan itu.

Bisa dikatakan desa ini hampir bebas dari pemerintah dan itu cukup membuatku merasa khawatir dengan konflik yang akan semakin membesar, hei aku cinta damai! Mungkin masih ada cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk mendinginkan dan membuat ras kami kembali percaya? Pasti ada, tapi jika memang pemerintah menginginkan perdamaian dan tidak menyingkirkan ras kami.

"Apa kau tahu untuk apa gerakan-gerakan ini?" Pelatih Kim bertanya.

Dengan malas aku menjawabnya. "Untuk membuatku sehat."

"Tapi kurasa dengan minum vitamin itu cukup untuk membuatku sehat." Tambahku dengan suara yang pelan, siapa memangnya yang ingin pelatih Kim mendengarnya?

Pelatih Kim terkekeh. "Ini agar persalinanmu berjalan dengan lancar, tanpa operasi itu baik." Katanya.

Aku melotot, maksudnya melahirkan lewat 'sana'? Operasi jauh lebih baik aku rasa. Tidak, tidak siapa yang ingin melahirkan lewat sana? Aku akan mati!

"Untuk kasusku mungkin aku harus operasi, aku Omega pria ingat?" Jelasku.

Pelatih Kim menghentikan gerakannya dan tentu aku mengikutinya. Siapa yang ingin berinisiatif berdiri dengan satu kaki lebih lama agar pelatihmu memuji? Tentu saja buakn aku. Kami duduk di atas mantras, aku melirik nenek dan ternyata dia sudah pergi dari sana. Aku menghela nafas, syukurlah.

"Kau pikir seberapa besar lubang yang wanita miliki?"

Hah apa?

Aku mengerjap. "Aku... aku tidak tahu! Apa kau pikir aku pernah melihatnya!" Wajahku terasa panas karena pertanyaan pelatih Kim yang cukup vulgar, aku rasa.

"Kau sangat manis," Dia tertawa. "Jawabannya tidak ada bedanya dengan milikmu, kau adalah Omega dan jelas kelenturan otot milikmu hampir menyerupai bahkan lebih elastis lagi karena milik Alpha akan membuat orang biasa pingsan."

Sial, kenapa pelatih Kim bisa dengan santai mengatakan itu? Siapa wanita di sini? Bahkan dia tidak memerah sedikit pun di saat aku sudah seperti tomat?

Pelatih Kim mengulurkan tangannya, menyentuh perutku lalu membelainya dengan lembut. "Aku ingin mengandung," Dia menatap perutku dengan nanar.

"Seorang Beta akan sangat sulit mengandung." Lanjutnya.

"Maksudmu kau seorang Beta?" Tanyaku.

Pelatih Kim hanya tersenyum getir, aku merasa tidak enak sekarang. "Maafkan aku." Lirihku menyesal.


.

.

.


Ayah dan ibuku tidak bisa datang, tentu saja ini bukan akhir pekan mereka masih sangat sibuk. Terkecuali jika aku sakit, ibuku akan rela tak bekerja untuk mengurusku, jadi kesimpulannya aku harus sakit untuk menarik perhatian mereka. Aku meniup helaian rambut di keningku menunggu dengan bosan nenek yang sedang bersiap, nenek ingin aku ikut bersamanya.

Menggunakan sepatu kets, kaus putih sederhana dengan brand Guc** dan ukurannya dua kali lipat dari ukuranku lalu jaket milik Sehun yang tertinggal kemarin. Seharusnya ini gaya berpakaian yang keren untuk berkumpul, Tao akan berkomentar bagus tentang barang bermerk yang aku kenakan dan Baekhyun akan iri karena dia miskin, tapi aku bulat jadi ini tidak terlihat keren sama sekali, dan aku bersyukur sekarang aku jauh dari teman-teman yang hobi mengatai-ngatai.

Nenek akhirnya keluar, aku segera menghampirinya ketika dia tersenyum padaku. Nenekku selalu nampak cantik, dengan hanya sedikit keriput di wajahnya nenek nampak seperti kakak ibuku. Mereka bilang Alpha dan Omega itu spesial karena mereka akan selalu nampak awet muda. Jadi kenapa aku sempat benci dengan rasku yang Omega? Semua orang pantas iri pada ras kami, Minki memang benar kami itu spesial.

Kami berjalan keluar, aku menutup pintu lalu meletakan kuncinya di dalam vas bunga besar berjaga-jaga jika Sehun datang dan ingin masuk ke dalam. Apa kau tahu Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh nenek dan kakek? Mereka terbiasa tenang tanpa pelayan yang berlalu lalang kecuali seorang juru masak yang menetap hingga pukul sembilan malam. Lalu bagaimana mereka membersihkan dan mengurus Rumah ini? Setiap satu minggu sekitar sepuluh wanita dan sepuluh pria datang untuk mengurus Rumah, bahkan terkadang jika memiliki waktu kakek sendiri yang akan mengurusi taman dan halaman belakang untuk ditata lalu membetulkan sesuatu yang rusak.

Sebuah mobil sudah ada di depan Rumah, seorang pria keluar dari dalam mobil lalu membungkuk sopan dan tersenyum pada kami. Pria itu berperawakan kecil, tidak lebih tinggi dariku dan terlihat masih muda.

"Selamat pagi nyonya, tuan muda," Sapanya.

"Tuan Jaesik ingin anda dan tuan muda Luhan pergi ke Utara, ada pertemuan yang harus kalian hadiri." Katanya.

Nenek mengangguk kecil, berjalan pada mobil lalu pria itu segera membukakan pintu untuknya. "Kita jemput Jeonghan terlebih dahulu." Katanya sebelum masuk ke dalam mobil.

Kami berkendara menuju desa dengan jalan besar satu-satunya yang kami miliki, kiri dan kanan sepanjang kami berkendara adalah pepohonan. Aku membuka jendela lalu menikmati angin menerpa wajah dan rambutku, hari ini cuacanya mendung setelah matahari menyinari sampai pukul delapan pagi, untungnya aku sempat menikmati matahari pagi bersama pelatih Kim.

Mataku akhirnya bosan melihat jalanan dan langit secara bergantian, mataku menatap pohon-pohon yang berbaris dan melewatiku dengan tenang lalu menghitungnya dengan dungu, kuharap nenek tidak mendengarnya. Dari celah pepohonan yang berbaris aku melihat rusa, seharusnya itu adalah hal biasa namun disetiap celah pohon rusa satu persatu keluar dan... ya sepertinya mereka menatapku.

Aku mengalihkan wajahku dari luar jendela, menoleh pada nenek lalu beliau meresponku dengan menatapku bertanya. "Rusa," Kataku dengan suara yang sangat pelan.

"Di luar ada rusa." Lanjutku dengan suara yang kubesarkan, kupikir nenek tak mendengarnya.

Nenek tersenyum seolah itu adalah hal yang biasa, memang biasa jika yang kulihat hanya satu atau beberapa. Aku menunjuk keluar jendela. "Rusa, di luar banyak ru—"

Aku dan nenek tersentak ketika tuan Taeil tiba-tiba saja berhenti. Pria yang bekerja sebagai supir nenek itu menoleh ke belakang, menatap nenek lalu mengatakan apa yang terjadi sehingga dia menginjak remnya. "Kawanan rusa menghalangi jalan."

Aku terbelalak lalu segera melihat ke depan, seekor rusa dengan tanduk yang panjang dan bercabang indah menatap ke dalam mobil dan aku merasa hewan itu melihat padaku. Tuan Taeil keluar untuk mengusir rusa-rusa itu.

"Mereka menyeberang jalan untuk ke sisi lain hutan, mencari makanan." Nenek menjelaskan.

Aku kembali melihat keluar jendela setelah nenek menjelaskan kenapa rusa-rusa itu bisa ada di sana. Tuan Taeil berusaha mengusir kawanan rusa itu namun hewan-hewan itu seperti tak ingin berpindah sedikit pun, aku menjadi penasaran. Aku membuka pintu lalu keluar dan menghampiri tuan Taeil.

"Wow itu rusa yang..."

Itu bukan kawanan, mereka lebih dari kawanan dan terus keluar dari hutan seolah mengepung kami.

"Banyak." Lanjutku setelah berada di dekat tuan Taeil.

Aku tersentak ketika ratusan rusa itu secara bersamaan melihat padaku, aku diam di tempatku merasa terintimidasi oleh rusa-rusa itu. Apa aku punya salah pada mereka? Mereka menghalangi jalan kami dan mengepung mobil kami.

"Kenapa mereka berprilaku seperti ini?" Aku menoleh dan menemukan nenek sudah keluar dari dalam mobil, dia masih berada di samping pintu mobil karena beberapa rusa menghalangi jalannya untuk menghampiri kami.

"Mungkin mereka terusik oleh sesuatu hingga seluruh kawanan keluar dari hutan dan menghalangi jalan." Jawab tuan Taeil.

"Kita harus memanggil pemadam kebakaran." Saranku.

"Sayang kembali ke dalam mobil."


.


Apa kau tahu kerusuhan akibat rusa itu menghabiskan waktu empat puluh lima menit untuk kami bisa lewat? Oh sebenarnya itu bukan kerusuhan karena hewan itu hanya diam di jalan menghalangi kami dan kendaraan lain yang hendak lewat juga, rusa-rusa itu tak mau pergi dan petugas pemadam kebakaran terpaksa harus menyemprot mereka menggunakan air untuk membuat mereka menyingkir dan membiarkan mobil kami lewat.

Hal yang aneh terjadi setelah kami berhasil menjauh dari kerumunan rusa, mereka kembali ke dalam hutan dengan sendirinya tanpa digiring oleh pemadam kebakaran. Aku melihatnya, aku terus melihat ke belakang sampai kami benar-benar jauh dari mereka. Apa mungkin benar salah satu dari kami memiliki kesalahan pada hewan itu? Atau bahkan itu aku? Rusa-rusa itu selalu melihat padaku terlebih rusa dengan tanduk yang paling indah dari semua rusa itu. Aku tidak tahu, aku merasa bingung.

Kami mengunjungi seorang yang nenek ingin dia ikut dengan kami, seorang gadis cantik berambut sebahu dengan poni cantik yang mulai memanjang dan terbelah dua. Wow dia benar-benar cantik dan juga sangat manis, aku terpesona untuk sesaat setelah turun dari mobil. Apa ini wajar aku seorang Omega dan bahkan sedang hamil terpesona pada seorang gadis desa yang cantik? Sehun ampuni aku, sungguh itu bukan keinginanku mungkin ini keinginan bayi.

"Selamat siang, anda datang terlambat apa ada masalah?"

Setelah beberapa saat merasa senang karena melihat gadis ini tiba-tiba aku seperti dihantam sesuatu dan membuatku terpental jauh, gadis ini memilki suara seperti laki-laki?!

"Kami terjebak oleh kawanan rusa yang sedang menyeberangi jalan." Jawab nenek.

Aku mulai ragu jika dia seorang gadis. Dia melirikku sejenak, menelitiku dengan waktu yang sangat singkat lalu kembali pada nenek. "Cucuku, Luhan, kau sudah tahu kan dia sedang hamil," Jelas nenek.

"Aku khawatir jadi aku memintamu untuk ikut. " Lanjut nenek.

Dia mengangguk lalu tersenyum benar-benar cantik, aku harap perasangka negatifku hanya sekedar perasangka. Kumohon.

"Ya tentu saja, suatu kehormatan dapat menjaga cucu anda."

Aku tak sempat bertukar sapa dengannya, si 'gadis' itu, kami langsung masuk kembali ke dalam mobil tanpa masuk ke Rumahnya untuk minum teh, nenek sedang buru-buru. Jeonghan ikut bersama kami, dia duduk bersama tuan Taeil. Ya namanya adalah Jeonghan, nama yang sangat pria.

Ini tidak sopan aku tahu itu tapi saat kami masih di luar aku selalu mencuri pandang pada dada Jeonghan, dia tidak memiliki payudara. Dia mungkin memilikinya tapi sangat kecil atau dia sebenarnya adalah pria, tolong apa ini karma jika dia memang benar seorang pria? Aku jadi pusing.

Kami kembali ke dalam mobil untuk pergi ke Utara, dengan semua orang yang benar-benar suka ketenangan yang menurutku agak canggung. Aku tidak mengerti, mereka bisa menyalakan radio kan? Aku tidak suka ketenangan yang canggung ini demi tuhan!


Di tempat yang bernama Utara ini terlihat seperti gereja, maksudku tidak secara harfiah gereja ini hanya gambaran sederhana yang kupikirkan tentang Utara. Lapangan luas yang terawat dan cantik dengan bunga dan tanaman-tanaman yang tak pernah kulihat milik bangunan tingkat dua menyerupai gedung di perkotaan ini perpaduan yang unik antara keindahan alam dengan modernisasi. Aku menyukainya, mungkin aku dan Sehun bisa menikah di sini?

Ada banyak orang di Utara ini, mereka mengobrol dengan satu sama lain dan bahkan ada yang tengah merawat bunga-bunga dan sekitar, wow mereka semua rajin.

Nenek meninggalkan aku dan Jeonghan, beliau bilang dia perlu menemui kakek di dalam gedung semantara aku masih tetap ingin berada di luar karena di sini sangat cantik dan indah. Aku belum pernah datang ke sini, aku bersumpah bahkan ketika aku kecil.

"Apa anda yakin tidak ingin masuk ke dalam? Di sana anda bisa beristirahat." Ucapnya dengan formal.

Aku menggeleng. "Aku perlu udara segar," Aku tersenyum.

"Lagipula aku suka bunga." Lanjutku.

Tak ada lagi percakapan kami hanya diam, aku duduk di bangku kayu dengan ukiran yang indah bersama dengan Jeonghan sembari melihat ke sana kemari karena aku benar-benar baru pertama kali datang kesini. Aku membelai perutku lalu tersenyum, aku bisa merasakan bayiku menyukai tempat ini sama sepertiku.

Aku bahkan lupa untuk menanyakan apa Jeonghan ini seorang gadis yang agak tomboy atau seorang lelaki dengan rambut panjang dan paras cantik, semuanya lenyap karena aku menikmati tempat ini dan seolah terhipnotis. Tapi ketika sebuah mobil yang sangat tidak asing masuk aku bereaksi cukup berlebihan sehingga Jeonghan khawatir. Ugh, aku tiba-tiba berdiri dan itu harusnya terasa sakit tapi untungnya aku tak merasakan apapun.

"Hati-hati—"

"Sehun!" Jeritku.

Mungkin jeritanku terlalu keras sehingga semua orang melihat kepadaku tapi aku tidak peduli, yang terpenting aku sudah memberitahu Sehun bahwa aku ada di sini. Sehun telah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia, oh apa aku sudah bilang tempat ini juga punya tempat parkir untuk sekitar lima mobil?

Dia melambai padaku sembari tersenyum dan aku dengan semangat membalasnya dan sekali lagi dengan berlebihan, seolah aku terdampar dan membutuhkan pertolongan. Sial aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa seberlebihan Baekhyun.

"Sehun!" Aku menghambur kepelukannya setelah sedikit berlari untuk segera memeluknya, aku merindukannya kau tahu?

"Luhan apa kau sadar kau berlari seperti wanita obesitas?"

Aku melotot. "Apa?!"

"Sehun kenapa kau menghinaku?" Protesku.

Tiba-tiba Sehun meletakan jari telunjuknya di bibir lalu mendesis. "Sst..."

"Semua orang terganggu dengan suaramu—"

"Tuan Luhan bisa anda pelankan suara anda?" Jeonghan tiba-tiba saja berada di sampingku memotong dengan wajah yang agak panik, kupikir.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar dan benar saja semua orang melihat kepadaku, dan... Oh tidak ada apa dengan wajah mereka? Apa mereka melihatku dengan sinis? Suaraku benar-benar mengganggu ya? Aku memeluk pinggang Sehun, aku mulai merasa takut dan tidak enak karena telah mengganggu mereka, lalu perlahan aku bersembunyi di ketiak Sehun.

Aku benar-benar takut sekarang.

"Maaf, mengganggu." Sehun meminta maaf dengan suara yang terdengar dingin, lalu kurasakan dia sedikit membungkuk.

Ini salahku.


.

.

To be continued...

.

.


[]

Hai! selamat menunaikan ibadah puasa ya bagi umat muslim!

Sebenarnya saya bertanya2 apa peminat fiksi ini masih menunggu dan penasaran? Oh ya, ada perubahan marga Luhan ya, dari Xi menjadi Kim.