Setelah cerita sebelumnya Canon, Author kembali dengan trivia… Aku berpikir bagaimana andai Sanji dan Nami pernah bertemu saat mereka masih kecil? Keinspirasi dari beberapa fanart. Cukup banyak lho yang melukiskan mereka bersama waktu kecil.
Title #14: Tangerine Meet Tobacco
Words: 843
Type: Fanon Flashback/Trivia
*Setting: Sanji 10 years old (1 year after his flashback of meet Zeff), Nami 9 years old (1 year before her flashback of Bellemere killed)
*Hint: Short range between Baratie and Kokoyashi, tangerine and tobacco can be combined to be Ethanol
Genre: Romance
Summary: Sanji kecil ikut Zeff cari supply bahan makanan untuk Baratie, kebetulan mereka ke Kokoyashi dan membeli jeruk. Inilah pertemuan pertama Sanji dan Nami sebenarnya.
"Bajingan Kecil," kata Zeff. "Kau bisa ikut aku?"
"Ke mana?" tanya bocah beralis keriting.
"Aku akan ke pulau untuk membeli supply makanan. kau bantu aku mengangkutnya. Lagipula, mungkin kau bisa belajar bagaimana seharusnya memilah-milah bahan berkualitas tinggi di pasar," lanjut Zeff.
"Kukira tugas Koki hanya memasak di dapur saja."
"Banyak hal yang kau belum tau, Bocah Tengik."
Sanji baru berusia 10 tahun. Saat itu, Baratie belum sebesar sekarang. Dan Zeff masih terpaksa pergi ke pulau untuk berbelanja secara langsung. Ia juga kadang memilih calon supplier yang bisa diajak membuat kontrak untuk rutin mengirimkan bahan makanan ke Baratie. Saat ia pergi, Baratie diserahkan pada Patty. Zeff dan Sanji pun pergi ke sebuah pulau yang tidak terlalu jauh. Mereka lalu berjalan-jalan di pasar. Dan, Zeff pun mengajari Sanji banyak hal.
"Jeruknya bagus-bagus, Pak," kata seorang pedagang.
"Oh ya?" kata Zeff terpancing.
"Tentu saja," jawab pedagang itu.
"Kemari, Keparat kecil," panggil Zeff. "Coba, kau pilih jeruk yang bagus!"
Sanji pun menurutinya. Zeff lalu menilai hasil kerjanya.
"Apa-apaan kau?" kata Zeff. "Ini tidak bagus semua."
"Tapi yang ini kulitnya sangat mulus. Yang ini kulitnya tidak ada bercaknya," kata Sanji.
"Sudah kuduga, kau pasti akan salah. Dengar, kebalikan dengan apel, justru jeruk yang bagus itu yang kulitnya tidak terlalu mulus dan ada sedikit bercaknya. Sekarang tancapkan kuku ibu jarimu ke bagian tengah buah."
"Hah?"
"Turuti kataku!"
"Baik." Sanji pun melakukannya.
"Bagaimana?"
"Mmm, terlalu lunak."
"Itu juga tidak bagus. Kita tinggalkan pedagang ini."
Mereka berdua kembali berkeliling mencari jeruk yang bagus. Dan, akhirnya di sudut pasar, mereka pun menemukannya.
"Nak, jerukmu bagus-bagus," kata Zeff.
"Jeruk dari kebun Bellemere paling bagus di seluruh pasar ini!" jawab gadis kecil berambut orange itu.
"Sayang sekali, banyak orang tak melihatnya," lanjut Zeff. "Kau tak berkios. Kau hanya membawa dua gendongan. Bahkan, kau masih terlalu kecil untuk berjualan di tempat seramai ini."
"Aku harus membantu Bellmere memasarkannya."
Zeff merasa empati. Sepertinya, anak itu sangat miskin. "Kubeli semua jerukmu."
"Sungguh, Pak Tua?"
"Ya, sudah kubilang kualitas jerukmu bagus. Ibumu pasti rajin sekali merawat kebunnya."
"30 Berry per ons," kata Gadis itu. "Kalau semua, 1200 Berry."
"Kau bahkan memiliki bakat bisnis," kata Zeff. "Harga yang sebanding dengan kualitas jerukmu."
"Benarkah? Padahal semua orang bilang hargaku terlalu mahal."
"Merekalah yang tidak bisa menilai."
Gadis itu senang sekali dengan kemurahan hati Zeff. Sanji pun mengamatinya senyumnya. Sepertinya mereka seumuran atau mungkin beda sedikit. Apalagi, ia manis sekali saat ceria seperti itu meski bajunya agak dekil.
"Di mana rumahmu?" tanya Sanji pada gadis cilik
"Di luar desa. Memangnya kenapa?"
"Aaa, aku ingin membuatkanmu serbet jeruk yang enak," katanya bersemangat.
Zeff geleng-geleng. "Di mana pun kau selalu merayu cewek ya?"
"Kau kan yang mengajariku?" sergah Sanji.
"Aku mengajarimu untuk bersikap gentleman bukan untuk merayu cewek." Zeff merasa salah mengajarkan hal itu terlalu dini pada anak kecil karena salah diartikan. Ia pun bermaksud menyeret Sanji. "Sudah, ayo pulang. Bawa sekarung jeruk ini!"
"Tunggu," pinta Sanji pada Zeff. Ia mengambil satu buah dari karung dan memberikan ke gadis itu. "Kurasa kau harus menyimpan satu untuk dirimu."
"Tapi, di kebun masih banyak dan aku bisa menjualnya lagi besok."
"Aku tahu. Tapi, anggap ini hadiah dariku."
"Kau aneh."
"Atau ini," Sanji merogoh kantongnya dan mengeluarkan rokok. "Kulit jeruk sebaiknya tak dibuang karena bisa dimaanfatkan. Tambahkan tembakau ini, ini bisa digunakan sebagai bahan penghasil enzim pemecah kulit jeruk yang kemudian dijadikan bahan bakar ramah lingkungan. Mungkin bisa membantu menghemat pengeluaran minyak tanahmu."
"Aku tak tahu hal itu. Padahal Bellemere juga perokok."
"Oh ya? Kalau begitu, sampaikan saja."
Gadis itu menerima pemberian Sanji. "Terima kasih ya?"
Muka Sanji memerah. "Ah, Tidak apa-apa. Terima kasih sudah memberi kami jeruk yang bagus."
Sanji dan Zeff pun pulang. Di kapal, Sanji sempat berteriak menyesal karena ia lupa menanyakan nama gadis cilik itu. Dan, tanpa sepengetahuan Sanji, Zeff pergi ke Kokoyashi kembali seminggu kemudian untuk mengadakan kontrak dengan petani jeruk itu. Sanji tidak bertemu dengan gadis cilik itu lagi sampai akhirnya 9 tahun kemudian giliran gadis itu yang mengunjungi restorannya.
.
.
Nami tengah membawa pohon muda ke atas Merry. Sanji melihatnya itu terlalu berat untuk dibawa wanita. Ia pun mengulurkan tangan. "Biar kubantu menanamnya, Nami-san."
"Eh, terima kasih," jawab Nami.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sanji.
"Kamu ini bagaimana sih? Kau lupa kau merayuku di Baratie?"
"Bukan, bukan yang itu. Ini tentang jauh sebelumnya."
"Kurasa tidak."
"Tapi kecintaanmu pada jeruk mengingatkanku pada seseorang."
"Oh ya?"
"Apa dulu waktu kecil kau pernah berjualan jeruk?"
"Hanya sesekali. Biasanya Nojiko bahkan Bellmere sendiri yang lebih sering menjualnya. Aku sibuk menggambar peta dan belajar di rumah. Lagipula setelah diancam Arlong, aku sibuk berkelana."
"Apa kau dulu pernah menerima sebuah jeruk dan sebungkus rokok dari seorang bocah?"
Nami mencoba mengingatnya. Rasanya potongan rambut yang menutupi mata kiri dan alis keriting itu tak asing. "Apa itu kau?"
Sanji mengangguk.
"Aku nyaris melupakannya," kata Nami.
"Aku juga."
"Berarti ada satu janjimu yang terlupakan."
"Apa itu?"
"Buatkan aku cemilan dan minuman berbahan jeruk setiap hari, oke? Kau pernah berkata demikian kan?"
"Tentu saja," jawab Sanji bahagia. "Aku akan melakukan apapun untukmu, Nami-swaaaan."
Nami tersenyum, ia pun memeluknya. Mungkin saja benar bahwa pertemuan mereka tersebut telah ditakdirkan.
End
Duh, idenya bagus tapi aku nulisnya gaje hehehe… Apalagi ending-nya Nami OOC tau2 peluk Sanji. Menurut SBS, Zeff-lah yang mendidik Sanji menjadi pria gentleman. Bahkan Oda menyebut Zeff sebagai "pria di antara pria." Meski ini Fanon flashback, seperti biasa aku tetap berusaha serelevan mungkin dalam mempertemukan mereka:
1. Klo kubaca berdasarkan timing Canon-nya, sepertinya jarak Baratie dengan Kokoyashi ga jauh karena ga makan waktu sehari semalam. Bandingkan dengan jarak desanya Ussop ke Baratie itu 3-4 hari pelayaran. Kupikir bisa az Zeff dan Sanji sempat ke sana.
2.Flashback Sanji bertemu Zeff itu ia berusia 9 tahun. Flashback Nami yang bertemu Arlong itu ia 10 tahun. Kupikir 1 th setelah flasback Sanji dan 1 th sebelum flashback Nami, atau dengan kata lain Sanji tengah berusia 10 tahun dan Nami 9 tahun, bisa dijadikan moment yg tepat dalam timeline Canon-nya.
Info soal cara memilih jeruk yang segar dapet dari internet. Info yang campuran kulit jeruk dan tembakau itu juga dari internet. Jadi, Ethanol yang diciptakan dari produk limbah jeruk dan campuran tembakau ini lebih murah dan ramah lingkungan daripada ethanol yang selama ini banyak diciptakan dari tebu, jerami, serta fermentasi jagung yang bahkan bisa mengurangi stok makanan. Aku penasaran ma Oda, kira-kira dia bikin karakter Bellemere yg perokok dan berkebun jeruk itu karena hal ini bukan ya? Kan Jepang udah maju, siapa tahu az bahan bakar ini sudah banyak diproduksi di sana. Berarti, jeruk ma rokok cocok dong! Kalau Sanji dan Nami ciuman, pasti menghasilkan ethanol di mulut tuch hahaha...
