Chapter 14

Reconciliation


Shinji melihat ke arah cermin di hadapannya. Luka di wajah kirinya sudah kering, dan Shinji melihatnya dengan jelas. Sudah sebulan ia berada di Yokosuka semenjak pertemuan dengan Hakai. Shinji langsung pergi dari Tawi-Tawi satu minggu setelah ditemukan oleh unitnya. Ia memberi perintah kepada Ise untuk memimpin selama dirinya pergi.

Shinji melihat ke arah pintu kamarnya, dan kemudian duduk di kasur. Setelah ia tiba di Yokosuka, ia langsung memohon izin untuk bertemu dengan Laksamana Tinggi di Yokosuka. Permintaan awal ditolak mentah-mentah. Namun, dua minggu kemudian salah satu dari petinggi menemui dirinya. Mereka merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Shinji mengenai hal tersebut. Shinji dengan senang hati menerimanya. Namun, sebagai gantinya dirinya harus memberitahukan semuanya. Tanpa berpikir panjang, Shinji langsung menerima hal tersebut.

Shinji mengetahui sesuatu mengenai tatanan kepemimpinan di markas angkatan laut tersebut. Pemimpin saat ini merupakan keturunan dari Keluarga Ichijo, Junko Ichijo, keluarga yang memiliki masalah dengan keluarga Gurunya. Di tangan kanannya merupakan salah satu keturunan dari Keluarga Saejima yang sangat kental dengan Angkatan Darat, Koichi Saejima dan memiliki relasi dengan Gurunya di masa lalu. Dan orang terakhir merupakan keturunan dari Keluarga Shinonome, Manami Shinonome, yang merupakan teman baik Gurunya dan juga satu-satunya yang dapat membantunya. Mereka bertiga merupakan tiga besar yang menentukan semuanya.

Jika ingin rencananya disetujui, di harus mendapat persetujuan dua dari tiga pemimpin tersebut. Ia tahu, saat ini tidak ada yang dapat membantunya karena Laksamana dari keluarga Shinonome tidak dapat ia hubungi. Masalah utamanya adalah Keluarga Saejima yang tidak percaya dengan dirinya, dan Keluarga Ichijou yang terlihat benci dengan dirinya yang dekat dengan Gurunya.

Shinji kemudian berdiri dan berjalan ke meja di hadapannya. Di sana tergeletak beberapa dokumen yang ia pikirkan untuk menghadapi ketiga orang tersebut. Ia memikirkan semua situasi yang mungkin terjadi di tempat tersebut. Hingga salah satunya adalah ketiganya akan menghadapi dirinya. Ia tahu, Junko Ichijo memiliki pandangan yang cukup tajam, dan sangat peka dengan semua situasi. Dengan kondisinya yang telah menenggelamkan cukup banyak Gadis Kapal, tentu saja akan sulit menghadapinya. Sementara, Koichi Saejima merupakan Laksamana pria yang sangat mudah naik pitam jika tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Untuk Manami Shinonome merupakan yang paling sabar, namun jika tidak sesuai dengan prinsip yang ia bawa dari keluarganya dengan teman-temannya ia tidak segan-segan untuk memberikan kata-kata yang cukup kasar dan tajam.

Selama dua minggu itu, ia memikirkan semuanya. Dan yang selalu menggagalkan semua rencana tersebut adalah Manami Shinonome. Semua rencana miliknya sangat bertolak belakang dengan prinsipnya. Ia harus pandai untuk membawa Manami ke pihaknya. Jika Manami pada akhirnya melawannya, ia akan kalah total.

Ia kembali berpikir. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Ia memiliki waktu tiga jam lagi untuk menghadapi mereka bertiga. Mendadak ia mendapat ketukan dari luar. Pada saat pintu terbuka, seorang gadis dengan rambut hitam panjang masuk ke dalam ruangan. Gadis tersebut mengenakan kacamata, dan membawa secangkir teh. Gadis tersebut adalah Shinano. Shinano langsung berkata,

"Sepertinya kau masih belum menemukan pilihan yang tepat untuk menghadapi mereka semua, ya ?"

"Iya... Mereka bertiga sangat sulit untuk kuhadapi sendirian."

"Fufufufufu..."

"Daripada kau tertawa, sebaiknya kau membantuku..."

"Aku akan memberikanmu saran."

"Saran ?"

"Jika kau ingin membuat dirimu di atas angin, kau harus membuat satu orang setuju dengan dirimu."

"Aku tahu... Maka dari itu, aku ingin membuat Manami-san di pihakku..."

"Siapa mengatakan Laksamana Shinonome yang harus kau ajak ?"

"Eh ?"

"Pihak yang harus ada di sisimu terlebih dahulu adalah Laksamana Koichi Saejima. Ia memiliki cukup banyak relasi di markas ini."

"Itu merupakan orang yang paling ingin kuhindari !"

"Aku tahu ia memiliki masalah dengan sikapnya. Namun, dirinya adalah orang yang paling tepat. Selain itu, dirinya sangat mampu meyakinkan dua orang yang lain dan dirinya yang paling terbuka dari dua orang yang lain."

"..."

"Laksamana Saejima merupakan orang seperti itu. Aku mengetahuinya setelah aku masuk ke unitnya selama tiga misi."

"Eh ?"

"Fufufufu... sepertinya kau sangat terkejut."

"Tentu saja... Dia tidak terlatih dalam memimpin kapal induk."

"Namun, dia mau belajar."

Shinji langsung terdiam. Shinano langsung duduk di atas kasur dan kemudian berkata,

"Sepertinya ada yang mengganjal di hatimu. Apakah itu ?"

"..."

"Apakah ini mengenai Hakai ?"

"Iya."

"Kau sudah mengatakannya... Dia sudah bukan kakakmu lagi."

"Namun, sebagian dari hati kecilku ingin menyelamatkan dirinya."

Shinano langsung menghela nafas. Ia kemudian berkata,

"Jika kau berbicara di hadapan Laksamana Saejima, sebaiknya kau menunjukkan wajah yang sangat yakin."

"Kau kira wajahku..."

"Wajahmu menunjukkan dirimu memiliki pemikiran lain di kepalamu. Bertolak belakang dengan rencana dirimu."

"..."

"Percaya saja pada diriku. Jika kau sudah mendapat kepercayaan dari Laksamana Saejima, kau pasti akan lebih mudah lagi."

"Baik... Aku akan percaya."

"Aku yakin... Dia akan mengajakmu berbicara empat mata dengan dirimu."

"..."

"Pada saat itu... Jujurlah pada dirinya."

"Jujur..."

"Katakan semuanya... Termasuk pada saat pertemuanmu dengan Hakai."

"Baik... Shinano."

"Fufufufufu... Aku senang dirimu akhirnya dapat mengerti."

Shinji langsung berjalan ke arah Shinano dan kemudian memeluk dirinya. Shinano sangat terkejut dengan hal tersebut. Shinji langsung berkata,

"Semua ini kulakukan untuk melindungi semua Gadis Kapal dan manusia..."

"Aku tahu..."

"Namun, yang paling utama adalah melindungi dirimu."

"Eh ?"

"Aku tidak ingin dirimu dihancurkan oleh pria itu. Aku tidak ingin kau menjadi lawanku... Seperti Zuikaku."

"Zuikaku..."

"Dia ada di pihak lawan... Kita akan menghadapinya..."

"..."

Shinji kemudian melepas pelukannya, dan kemudian mengambil tangan Shinano. Ia menaruh sesuatu di telapak tangan Shinano dan kemudian berkata,

"Zuikaku memberikan diriku ini..."

"Apakah itu..."

"Kau akan mengerti... Aku hanya akan memberikan ini kepada seseorang yang penting saja bagi diriku..."

"Eh... Ini..."

"Jaga... Benda ini... Aku yakin... Kita mampu."

"Shinji..."

Shinano langsung memeluk Shinji dan mencium keningnya. Shinji tersenyum ke arah Shinano. Shinano menitikkan air mata tanda dirinya sangat berbahagia. Shinano langsung berkata,

"Berarti kita..."

"Sudah terikat satu sama lain."

"Zuikaku..."

"Merestuinya..."

"Aku bahagia..."

"Begitu pula dengan diriku."

Tidak berapa lama terdengar suara seorang wanita dari pintu.

"Maaf, mengganggu waktu intim kalian..."

"Ah... Laksamana Shinonome."

Shinji sangat terkejut melihat seorang wanita dengan rambut coklat yang diikat kuncir kuda. Wanita tersebut cukup tegap dan membawa sebuah katana. Ia mengenakan sebuah kacamata dan memiliki penanda pangkat yang tinggi. Wanita tersebut adalah Manami Shinonome.

Manami langsung berkata,

"Shinji... Jangan memanggilku 'Laksamana Shinonome'... Ingat itu ?"

"Ahahahaha... Aku lupa..."

"Haaahhh... Dan sebaiknya kalian tahu tempat dan waktu."

"Uuuuhhhh..."

"Sudahlah... Shinji, kita harus berjalan ke tempat rapat sekarang."

"Eh ? Sekarang ?"

"Semua sudah siap. Rapat dimajukan karena apa yang akan kau bicarakan sepertinya akan mengarahkan semua keputusan kita."

"..."

"Apakah kau siap ?"

"Tentu saja."

"Aku akan mendengarkan semua rencamu di sana. Sekarang, angkat pantatmu dan mulai berjalan ke tempat pertemuan."

"Siap."

Manami langsung berjalan. Shinji melihat ke arah Shinano dan tersenyum. Shinano langsung berkata,

"Semoga beruntung, Shinji."

"Pasti. Tunggu aku di sini, Shinano."

"Aku akan selalu menunggumu, Shinji."

Shinji kemudian berjalan keluar ruangan mengikuti langkah dari Manami.


Shinji tiba di sebuah ruangan dengan meja bundar di tengahnya dengan empat kursi mengelilingi meja tersebut. Di sana Minami sudah duduk di salah satu kursi yang tersedia. Di kursi lain, seorang pria dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Mata kanan pria tersebut buta dengan sebuah luka pisau melintang melewati matanya. Ia mengenakan pakaian Laksamana putih seperti umumnya. Ia adalah Koichi Saejima. Satu-satunya Laksamana pria yang menjabat sebagai petinggi saat ini.

Sementara itu, di salah satu sisi lainnya duduk seorang wanita dengan rambut hitam yang dibiarkan terurai. Ia mengenakan kacamata. Dan dapat dilihat usianya hampir sama seperti Shinji. Nama wanita tersebut adalah Junko Ichijo, pemimpin tertinggi dari angkatan laut.

Shinji menundukkan badannya kepada semua orang yang hadir di pertemuan tersebut. Setelah mengangkat tubuhnya, ia merasakan tatapan yang tajam dari Junko dan Koichi. Ia melihat sebentar ke arah Koichi yang terlihat jengkel dengan kehadiran dari Shinji. Shinji berkata di dalam hati,

"Shinano... Apa yang kau berikan itu... Sangat sulit... Mustahil mendekati pria ini untuk di pihakku."

Junko melihat ke arah Shinji, dan langsung berkata,

"Laksamana Kawano, kau diijinkan untuk duduk di kursi yang tersedia."

"Terima kasih banyak, Laksamana Ichijo."

Shinji langsung duduk dan mempersiapkan seluruh dokumen yang telah ia persiapkan. Junko kemudian berkata,

"Bagaimana rasanya kembali ke markas angkatan laut Yokosuka, Laksamana Kawano ?"

"Sebuah kehormatan bagi diri saya untuk diijinkan tinggal sementara dari Yokosuka."

"Ahahahaha... Sepertinya dirimu sudah cukup jenuh dengan udara panas di Tawi-Tawi."

"Tidak juga. Saya cukup rindu dengan suasana di Jepang."

"Tentu saja. Jarang sekali seorang Laksamana diijinkan kembali ke Yokosuka tanpa persetujuan dari kami."

"Karena masing-masing memiliki kewajiban yang telah diberikan di tempat masing-masing."

"Kau mengetahuinya."

Shinji tidak menyangka semua akan berjalan secepat itu. Ia sama sekali tidak siap. Koichi langsung berkata,

"Apakah kau tahu mengenai Laksamana yang menghilang akhir-akhir ini ?"

"Saya mendengar kabar tersebut, namun saya sama sekali tidak mendapatkan informasi mengenai siapa saja yang menghilang."

"Maafkan keterlambatan kami dalam memberitahukan siapa saja yang menghilang. Apa perlu saya memberitahukan kepada dirimu siapa saja yang menghilang ?"

"Silakan. Semua informasi tersebut sangat penting, terutama jika salah satunya adalah teman baikku."

"Baiklah. Mereka adalah Laksamana Yamazaki Isamu, Nakajima Daichi, Sakamoto Hisao, dan Matsumoto Tadashi."

"Tadashi ?!"

"Sepertinya kau sangat terkejut mendengar hal tersebut."

"Ini merupakan berita yang cukup berat bagi diriku."

Koichi langsung mendengus saja mendengar apa yang dikatakan oleh Shinji. Mendadak Manami berkata,

"Laksamana Kawano, pada saat kau tiba di Yokosuka kembali, kau berkata ingin menemui kami. Apakah itu benar ?"

"Iya."

"Kemudian, kau berkata akan memberitahukan kami apa yang terjadi pada dirimu pada saat kau menghilang selama dua minggu."

Shinji langsung terkejut mendengar itu. Ia berpikir,

"Dua minggu ?! Aku menghilang dua minggu ? Mustahil..."

Ia disadarkan dengan pertanyaan dari Manami,

"Laksamana Kawano, apakah anda baik-baik saja ? Sepertinya dirimu sangat pucat."

"Tidak... Tidak apa-apa..."

Shinji langsung merasakan tekanan dari dua orang yang lainnya. Ia berusaha memalingkan wajahnya, namun ia ingat ia memiliki satu tujuan kemari. Manami langsung berkata,

"Kau berkata ingin memberitahukan kepada kami apa yang terjadi pada dirimu saat menghilang. Benar ?"

"Iya."

"Apa yang terjadi ?"

"Aku bertemu dengan dirinya."

"Dirinya ?"

"Laksamana yang memimpin Abyssal. Abyssal yang telah menghancurkan banyak Gadis Kapal dari Tawi-Tawi. Hakai."

Ketiga orang tersebut terkejut mendengar hal tersebut. Junko langsung berkata,

"Hakai... Menganggap dirinya Laksamana ?! Dia itu salah satu Abyssal... Mustahil ia adalah Laksamana."

"Namun, apa yang saya lihat dari dirinya... Semua Abyssal menaruh hormat kepada dirinya. Dan menganggap dirinya sebagai Laksamana untuk menghadapi kita semua."

Junko dan Koichi langsung terdiam, sementara Manami terlihat antusias mendengar hal tersebut. Shinji langsung berkata,

"Pria tersebut... benar-benar sudah jatuh ke dunia sana. Pria yang menjadi idolaku dahulu."

"Apa maksudmu ?"

"Hakai. Dia adalah kakakku. Dia adalah Kawano Ichirou... Tidak, sekarang dia tidak ingin menggunakan nama keluarga Kawano lagi. Nama dia adalah Hakuno Ichirou."

Semua orang di dalam ruangan tersebut langsung terdiam. Mereka semua terlihat memiliki pendapat berbeda saat mendengar nama Hakuno. Manamilah yang paling pertama berkomentar.

"Hakuno... Nama yang sudah lama tidak kudengar setelah mereka berdua meninggal."

"Apakah anda mengetahui sesuatu mengenai nama keluarga Hakuno ?"

"Keluarga Hakuno adalah..."

Belum sempat Manami selesai berbicara, Junko langsung menyelak,

"Keluarga pengkhianat yang memihak kepada Abyssal semenjak pertama kali Abyssal muncul. Merekalah yang telah melepas Abyssal, dan membunuh kakekku."

"..."

"Dan tidak kusangka... Keluarga Hakuno membuat masalah kembali sekarang."

"Dia..."

"Dan jika dia adalah keluarga Hakuno... Maka dirimu pun adalah keluarga Hakuno juga. Hakuno Shinji."

Shinji ingin membalasnya. Namun, diselak oleh Manami yang berkata,

"Keluarga Hakuno memang merupakan keluarga yang telah menurunkan masalah Abyssal ini. Namun, ada sebagian dari mereka yang telah membayar kesalahan mereka dengan membantu kita."

"Maksudmu... Hakuno Kazuki ? Pria yang telah membunuh kakekku ?"

"Walaupun demikian... Dia menghadapi Abyssal dan membantu kita semua agar tercapai kedamaian sementara !"

"Bah ! Itu semua hanya ilusi yang diceritakan oleh ibumu dan kedua temannya. Aku ingat mereka bertiga juga sudah dicap sebagai pengkhianat."

"Mengapa kau membenci mereka semua ?!"

"Mudah saja. Mereka semua yang bertanggungjawab atas kematian kakekku, dan juga keluarga Hakuno yang telah membunuh ibuku ! Abyssal brengsek itu... Semuanya harus kumusnahkan !"

"Tapi... Mereka dapat kita ajak berbicara demi kedamaian dunia ! Kau tidak tahu apa yang dilakukan oleh ibuku bersama teman-temannya ? Membuat aliansi dengan Abyssal untuk menghadapi Abyssal lain !"

"Itu hanya segelintir Abyssal saja."

"Namun, itu menunjukkan kita mampu !"

Shinji langsung terdiam mendengar semua itu. Mereka berdua terlihat saling membalas satu sama lain. Dari pembicaraan tersebut Shinji dapat menangkap satu hal. Junko Ichijo sangat membenci dirinya yang merupakan keturunan dari keluarga Hakuno, ditambah dilindungi oleh gurunya dulu. Namun, tujuan dari Junko sama seperti dirinya. Sementara itu, Manami Shinonome sangat melindungi dirinya karena statusnya sebagai keluarga Hakuno. Namun, tujuan darinya sangat bertolak belakang dengan tujuannya. Yang diinginkan oleh Manami adalah kedamaian dan dapat hidup berdampingan satu sama lain. Shinji sempat berpikir demikian, namun mengingat apa yang dikatakan oleh Hakai dahulu, ia sadar hal tersebut sangat mustahil.

Sementara itu, Shinji sama sekali tidak membaca apa yang ada di dalam pikiran dari Koichi Saejima. Pria lain di dalam ruangan itu selain dirinya. Ia dari tadi diam saja sembari memperhatikan Manami dan Junko yang saling berdebat. Shinji sama sekali tidak mengetahui apa tujuan dari pria tersebut.

Mendadak Koichi melihat ke arah Shinji dengan tatapan yang cukup tajam. Namun, Shinji tahu satu hal. Koichi ingin berbicara dengan dirinya secara empat mata tanpa mereka berdua. Shinji menarik nafas panjang dan kemudian mengangguk. Koichi tersenyum kecil dan kemudian melihat ke arah dua wanita yang masih berdebat. Ia tidak melakukan apapun. Shinji sedikit bingung dengan hal tersebut.

Dan lima belas menit kemudian, perdebatan antara Manami dan Junko semakin panas. Koichi menarik nafas panjang dan kemudian memukul meja dengan keras. Manami, Junko dan Shinji sangat terkejut dengan hal tersebut. Koichi langsung berkata,

"Sampai kapan kalian berdua akan bertengkar satu sama lain ? Aku sudah meluangkan waktu berhargaku untuk menghadiri pertemuan ini... BUKAN untuk melihat kalian berdua yang bertengkar satu sama lain !"

"..."

"Daripada kita biarkan ini berlarut-larut, kita beristirahat saja dahulu. Orang-orang laknat seperti kalian seharusnya tidak pantas menjadi petinggi Angkatan Laut melihat sikap kalian."

"..."

"Satu jam. Aku akan kembali ke ruangan ini. Aku harap kalian sudah tenang."

"Baiklah."

"Namun, aku akan membawa Laksamana Kawano. Aku yakin jika dia tetap di sini, kalian berdua akan mempengaruhi apa yang ada di dalam pikirannya."

"..."

Shinji melihat ke arah Koichi yang menatap ke arah dirinya. Koichi langsung berkata,

"Laksamana Kawano, berdiri sekarang dan ikuti diriku."

"Siap !"

Shinji berdiri dan keluar dari ruangan tersebut mengikuti Koichi yang berjalan di hadapannya.


Shinji tiba di dalam ruang kerja milik Koichi. Ruangan tersebut sangat rapi jika ia bandingkan dengan ruangan milik Manami. Shinji langsung dipersilahkan duduk oleh Koichi. Kemudian Koichi berkata,

"Maafkan kami menunjukkan sifat seperti tadi."

"Itu bukan masalah. Seharusnya dirikulah yang meminta maaf."

Shinji langsung melihat ke arah Koichi yang tersenyum. Koichi langsung berkata,

"Ada apa ? Merasa tidak nyaman di dalam ruangan seperti ini ? Maaf jika sedikit berantakan."

"Tidak... Tidak... Hanya saja... Ruangan ini..."

"Aku sedikit tertular dari kebiasaan pamanku yang berkerja di Angkatan Laut sebelum meninggal pada penyerangan Abyssal dahulu bersama dengan Kakek dari Laksamana Ichijo."

"Ah... Itu..."

"Iya... Itu dikarenakan oleh ayahmu pada saat itu, Shinji."

"Maaf."

"Sudahlah, itu kejadian dahulu. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian masa itu."

"Eh ?"

"Ada apa ?"

"Aku kira kau akan sedikit marah dengan statusku sebagai..."

"Aku memperlihatkan sisiku yang mudah marah untuk menunjukkan kemampuanku. Sebenarnya, aku hanya menunjukkan itu jika aku bersama mereka berdua saja."

"Begitukah..."

"Dan pada saat penerimaan Laksamana baru tentunya Ahahahahaha."

Koichi kemudian berjalan dan bersiap-siap untuk menyajikan minuman kepada Shinji. Ia menawarkan teh kepadanya. Setelah itu, Koichi berkata,

"Mereka berdua... Memang selalu seperti itu... Haaahh..."

"Aku justru terkejut... Mana... Maksudku... Laksamana Shinonome..."

"Tidak apa-apa... Saat ini kita dalam keadaan bebas."

"Baik..."

Koichi kemudian membuka jendela ruang kerjanya dan kemudian melihat ke arah Shinji. Ia langsung berkata,

"Shinji..."

"Baik, saya akan mulai..."

"Tidak. Sebelum kau menceritakan semua hal yang kau alami selama hilang, sebaiknya kau memberitahu diriku dahulu. Apa tujuanmu ?"

"Tujuan ?"

"Tujuanmu mengadakan pertemuan ini..."

"Tujuan utamaku... Adalah menghancurkan seluruh Abyssal yang akan menyerang kita semua."

"Hooh... Bagaimana caranya ?"

"Caranya..."

"Sepertinya itu tujuan utama dari pertemuan ini ya ?"

"Iya."

"Selain itu ?"

"Eh ?"

"Wajahmu mengatakan masih ada hal lain yang ingin kau lakukan. Dapatkah kau memberitahu diriku ?"

"..."

"Apakah ini mengenai kakakmu ?"

"Tidak."

"Berarti mengenai salah satu Abyssal di sana ya..."

"..."

"Sebelum itu, aku bertanya... Apakah di sana ada Shigure ?"

"Eh ?"

"Di tempat tersebut ada Shigure ?"

"Ada..."

"Sehat ?"

"Dapat dikatakan iya."

"Baguslah. Apakah dia bahagia di sana ?"

"Iya."

"Hehehe... Tentu saja. Mustahil di bawah Laksamana yang tidak peduli dengan orang lain seperti diriku dapat membuat Shigure bahagia."

"Koichi-san..."

"Sudahlah. Aku yakin ini mengenai istrimu, Zuikaku. Dan aku yakin ini juga menyangkut masalah kakakmu."

"Iya."

Koichi langsung tertawa kecil dan kemudian meminum teh yang telah ia seduh. Terdapat keheningan sementara antara mereka berdua. Tidak berapa lama, Koichi berkata,

"Dan sepertinya kau ingin mengetahui rencana dariku, benar ?"

"Iya. Jika saya..."

"Yang saya inginkan hanya kehancuran dari Abyssal. Namun, saya tahu hal itu mustahil. Mungkin kita dapat melakukan yang telah dilakukan ibu angkat dari Manami. Membuat aliansi dengan mereka."

"Namun, hal tersebut mustahil dapat dilakukan !"

"Oh... Mengapa ?"

"Hakai... Dia... Tidak ingin membuat aliansi dengan kita semua. Yang dia inginkan hanya... Kehancuran kita..."

"Karena keluarga Ichinomiya dia akhirnya membenci seluruh dunia... Tidak kusangka..."

"Eh ?"

"Aku salah satu yang terlibat dalam pengembalian Gadis Kapal di lini depan bersama keluarga Ichinomiya. Lebih tepatnya, saya yang memberitahu mereka mengenai proyek Gadis Kapal terdahulu yang digunakan oleh Angkatan Laut."

"..."

"Dan aku tahu, Ichirou... Tidak... Hakai disekap di salah satu sel yang paling penting. Sebagai percobaan untuk Gadis Kapal... Tidak, pria untuk menjadi seperti Gadis Kapal. Sama seperti ayahmu dahulu, Shinji."

"Eh ?!"

"Kemungkinan besar... Darah Abyssal sudah cukup kental di dalam Ichirou... Sehingga ia menerima sisi tersebut..."

"..."

"Dengan kata lain, saya pun salah satu yang bersalah atas lepasnya Hakai ke dunia ini. Aku sama sekali tidak menyangkanya. Kawano Ichirou adalah keturunan dari Hakuno Kazuki, sang Abyssal yang telah menyatukan Abyssal dengan Angkatan Laut pada saat itu. Bersama dengan gurumu."

"..."

Shinji langsung mengepalkan tangannya sedikit kesal mendegar apa yang dikatakan oleh Koichi. Shinji melihat ke arah Koichi dan kemudian bertanya,

"Koichi-san... Apakah kau membenci diriku ?"

"Dengan alasan apa ?"

"Selama ini... Kau terlihat curiga dengan diriku... Dan tidak ingin mendekati diriku..."

"Itu dengan alasan yang sangat mudah. Itu semua karena apa yang telah kulakukan pada kakakmu itu. Lagipula apa alasanku membenci dirimu ?"

"Karena aku dari keluarga Hakuno..."

"Sebaliknya, aku akan bertanya seperti ini. Apakah kau menganggap dirimu sendiri sebagai keluarga Hakuno ?"

"Eh ?"

"Siapakah dirimu ? Hakuno Shinji atau Kawano Shinji ?"

Shinji melihat ke arah Koichi yang menatap dengan tajam. Ia sadar saat ini dirinya yang harus bertanya pada diri sendiri. Ia melakukan ini semua untuk apa. Apakah untuk menyelamatkan kakaknya sebagai keluarga Hakuno. Atau menyelamatkan gadis yang dicintainya.

Shinji langsung menunduk. Ia sama sekali tidak dapat berkata apa-apa. Koichi langsung berkata,

"Jika kau memilih untuk menghadapi Abyssal, kau tidak dapat menyelamatkan mereka yang tenggelam. Namun, bukan berarti kita dapat menyelamatkan cukup banyak orang. Tidak."

"..."

"Akan cukup banyak Gadis Kapal yang tenggelam. Kekuatan dari Hakai jauh di atas yang kami perkirakan."

"Aku mengetahui hal tersebut."

"Namun, jika kau memilih menyelamatkan kakakmu itu, sama saja. Akan memakan cukup banyak korban juga. Baik dari Manusia maupun Gadis Kapal."

"..."

"Jadi... Siapakah dirimu ? Kau harus menentukan sikap dari sekarang."

"Aku..."

"Jika kau masih kesulitan, aku akan menunggu hingga kau siap. Lagipula kita masih memiliki waktu tiga puluh menit dari sekarang."

Koichi tertawa sedikit meledek Shinji. Ia mengetahui hati Shinji masih berkemelut. Hingga akhirnya, Shinji melihat ke arah cermin dan melihat wajahnya sendiri. Luka yang diberikan oleh Hakai dan apa yang dikatakan oleh Hakai. Ia langsung mengingat semuanya. Akhirnya, Shinji berdiri. Koichi langung berkata,

"Kau sudah menentukan jawabanmu ?"

"Sudah."

"Heh... Cepat sekali. Dan jika aku melihat dari matamu... Lawan utamamu adalah Manami."

"Aku tahu."

"Heheheheh... Aku penasaran dengan apa yang terjadi di pertemuan nanti."

"Apakah anda..."

"Tidak. Saya tidak tertarik mendengar ceritamu. Yang ingin kutahu adalah tujuan utamamu. Aku melihat dirimu masih belum menentukan pilihan tadi. Sekarang aku yakin akan membantumu. Lagipula, kami membutuhkan seseorang yang akan memimpin Gadis Kapal ini."

"Siap."

"Waktu masih lama. Mari kita berbincang-bincang ringan saja."

"Baik."

Setelah itu, mereka berdua menceritakan semua hal yang mereka alami sebagai Laksamana di sana.


Satu jam sudah berlalu, Manami, Koichi, Junko dan Shinji sudah berkumpul kembali di dalam ruangan tersebut. Tanpa menghabiskan cukup banyak waktu, Shinji langsung menceritakan semua hal yang telah ia alami selama bertemu dengan Hakai. Semuanya terdiam mendengar hal tersebut. Hingga akhirnya, Koichi berkata,

"Sekarang... Apa yang kau inginkan dari kami bertiga ?"

"Sangat mudah... Memberikan tampuk kekuasaan untuk memimpin seluruh Gadis Kapal dalam menghancurkan seluruh Abyssal."

Manami dan Junko sangat terkejut mendengar hal tersebut. Koichi hanya tertawa saja mendengarnya. Junko langsung berkata,

"Kau gila ! Kau kira aku akan membiarkan dirimu memimpin di lini depan hah ?"

"Mengapa anda berpikir demikian ?"

"Kau adalah keluarga Hakuno. Adik dari pemimpin..."

"Hentikan dari sana."

"Eh ?"

"Namaku adalah Kawano Shinji. Saya tidak memiliki sangkut paut dengan pemimpin dari Abyssal tersebut."

"Eh ?"

"Dia sudah tidak menggunakan nama Kawano lagi, maka dia bukan kakakku. Dia adalah orang lain yang harus dibasmi demi keselamatan seluruh manusia di bumi ini."

Junko langsung terdiam mendengar hal tersebut. Koichi langsung berkata,

"Laksamana Ichijo, kau masih menganggap anak ini keluarga Hakuno ?"

"..."

"Dia sudah mengatakannya sendiri. Dia bukan keluarga Hakuno."

"Tapi..."

"Apakah kau masih mempertanyakan dia berada di sisi mana ?"

"Hmmm..."

"Jadi, bagaimana Laksamana Ichijo ?"

"Tidak kusangka, dirimu akan membantu dirinya... Koichi."

"Hehehehehe... Ini adalah keputusanku. Tujuan dia menarik."

Junko langsung melihat ke arah Shinji. Junko langsung berkata,

"Apa yang ingin kau lakukan terlebih dahulu jika kau mendapatkan posisi tersebut ?"

"Aku tidak akan menyerang Hakai lebih dahulu..."

"Seperti dugaanku, kau masih..."

"Hal ini dikarenakan kekuatan kita sebagai satu bagian tidak akan mampu menghadapi monster tersebut."

"Eh ? Jangan bilang kau..."

"Ya. Aku akan membuat aliansi dengan seluruh angkatan laut di dunia yang telah memberdayakan Gadis Kapal sebagai kekuatan utama mereka."

"Apakah mereka akan setuju ?"

"Dengan Amerika mungkin yang paling mudah. Aku yakin keberadaan Hakai sudah terdengar hingga telinga mereka. Merekalah yang pertama kali akan membuat aliansi dengan kita."

"Mereka pasti akan meminta yang imbalan yang sangat besar."

"Tidak juga."

"Eh ?"

"Jika mereka tidak setuju dan masih meminta imbalan besar, maka kita tidak akan memberikan kepada mereka informasi yang telah kita miliki mengenai Hakai. Jika kita benar-benar ingin membuat aliansi, kedua belah pihak harus terbuka satu sama lain."

"..."

Junko langsung menutup matanya. Manami terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Shinji. Junko kemudian berkata,

"Jadi dapat dikatakan Hakai merupakan target terakhir kita, benar ?"

"Iya."

"Bagaimana jika dia menyerang kita terlebih dahulu ?"

"Tidak akan."

"Eh ? Darimana kau yakin ?"

"Dari nada bicaranya pada saat ia mengatakan akan menyerang kita. Dia berbohong. Dia tidak akan menyerang kita tanpa persiapan yang cukup."

"Dan menurutmu, apakah dia siap ?"

"Tidak. Dia belum siap karena dia seperti menyiapkan sesuatu hal yang lain."

Ruangan tersebut menjadi hening. Akhirnya Manami angkat berbicara,

"Laksamana Kawano, kau berkata akan menghancurkan seluruh Abyssal, benar ?"

"Iya."

"Mengapa tidak menggunakan kesempatan ini..."

"Hal tersebut tidak dapat dilakukan karena apa yang dikatakan oleh Hakai sudah final. Ia sama sekali tidak ingin membuat aliansi atau berunding dengan kita. Pada kesempatan selanjutnya kita bertemu dengan dirinya, dia akan menghancurkan kita."

"Darimana kau yakin dengan hal tersebut ?"

"Matanya. Semua gerak-geriknya pada saat ia menceritakannya kepada diriku. Ia sama sekali tidak ingin berbicara dengan kita."

"Mengapa kau..."

"Dia... adalah musuh manusia. Dia berbeda dengan ayahku yang mungkin masih memiliki sisi manusia. Dia tidak. Dia sudah membuang sisi tersebut."

"..."

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dari konflik ini. Namun, aku yakin satu hal. Ia ingin mencium darah kita semua. Jika kita tidak melawan, dia akan menghancurkan kita."

"Tetapi, setidaknya berikan kesempatan..."

Shinji langsung memukul meja dan kemudian berkata,

"Ingin berapa banyak lagi korban yang jatuh di pihak kita dengan membuat pertemuan tersebut ? Sudah cukup banyak korban !"

"Namun, sama saja dengan pertempuran dengan Abyssal ! Jika kita membuat aliansi dengan mereka, kita tidak perlu memberdayakan Gadis Kapal sama sekali !"

"Memang hal tersebut sangat manis. Harapan itu terlalu manis jika dapat kukatakan ! Lihat realita ini, Manami !"

"..."

"Kita dapat bermimpi untuk membuat kedamaian dengan Abyssal. Namun, hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh kita."

"Namun, ibuku..."

"Dia mampu karena ayahku masih memiliki sisi manusia. Aku sudah mengatakannya kepada dirimu jika..."

Koichi langsung menyelak Shinji dan berkata,

"Shinji. Hentikan. Kau hanya akan menekannya saja. Dia tidak akan berpikir secara normal."

"Ah... Maaf."

Koichi yang berbicara selanjutnya,

"Laksamana Shinonome, aku tahu masa lalu itu sangat indah. Namun, realita yang saat ini kita hadapi berbeda dengan masa lalu. Mereka sama sekali tidak ingin kompromi dengan kita."

"Itu..."

"Itulah kenyataan yang saat ini kita hadapi."

"Hal itu memang benar..."

"Sekarang apa yang akan kau lakukan ? Tetap percaya dengan hal tersebut ?"

"Aku masih percaya dengan hal tersebut. Karena aku masih yakin..."

"..."

"Koichi-san..."

"Jika kau menolaknya, itu bukan masalah. Kau bebas berpendapat. Setelah selesai pertemuan ini, kita semua akan mengikuti hasilnya..."

"Kau benar..."

Manami melihat ke arah Shinji yang menatap ke arah Junko. Junko lantas berkata,

"Kau tadi menyebutkan mengenai mereka ingin melakukan hal lain... Apakah kau mengetahui hal tersebut ?"

"Sayangnya saya tidak tahu."

"Mungkin itu adalah menyerang kita."

"Tidak. Mereka akan melakukan hal lain. Karena, jika ia menyerang manusia maka ia akan mengatakannya."

"Mengapa kau yakin ?"

"Karena dia Abyssal yang cukup eksentrik."

"Heh... Kau ada benarnya, seperti pada saat pernyataannya saat itu melalui mekanik tersebut."

"..."

Junko melihat ke arah Koichi dan Manami. Junko kemudian berkata,

"Mari kita mulai pembicaraan mengenai... semua rencanamu, Shinji. Aku sangat ingin mendengarnya."


Empat jam berlalu, dan pertemuan tersebut telah berakhir. Shinji langsung berjalan ke arah kamarnya. Dan setelah itu, ia langsung merebahkan diri di kasurnya. Ia langsung berkata,

"Tidak kusangka... Pembicaraan ini... Akan sangat alot..."

Shinji langsung melihat ke arah langit-langit dan kemudian berkata,

"Semua sudah sesuai dengan rencana. Setelah ini, aku harus ke RRC, Korea Selatan, Russia, dan Indonesia untuk memperkuat pertahanan di daerah sini dari Abyssal. Setelah itu bertemu dengan setidaknya satu Laksamana Amerika agar dapat bertemu dengan pemimpin mereka."

Tidak berapa lama, ia mendengar suara ketukan dari luar. Shinji langsung mempersilahkan masuk. Di ambang pintu, ia melihat Shinano yang masuk membawa secangkir teh. Shinji langsung menerimanya dengan senang hati.

Shinano langsung duduk di sebelah Shinji dan kemudian berkata,

"Shinji... Bagaimana hasil pertemuan tersebut ?"

"Semuanya diterima dengan baik."

"Begitukah ? Itu sangat baik."

"Namun, aku tidak dapat kembali ke Tawi-Tawi dalam waktu dekat."

"Eh ?"

"Sebagai gantinya, aku harus ikut mereka untuk membuat aliansi dengan beberapa Angkatan Laut."

"Ehehehehe... Itu memang cocok untuk dirimu."

"Haaahh... Namun, hari ini sangat melelahkan. Untung saja, Koichi-san dapat membantuku. Terutama dalam menghadapi Manami-san."

"Ehehehehe... Lihat, Laksamana Saejima dapat diandalkan untuk situasi ini ?"

"Iya."

Shinano langsung tersenyum. Shinji yang melihat itu langsung mencium kening dari Shinano. Shinji langsung berkata,

"Terima kasih banyak atas sarannya, Shinano."

"Ehehehehe..."

Shinji kemudian berdiri dan kemudian berkata,

"Setelah itu semua, aku yang akan memimpin langsung semua pertempuran menghadapi Abyssal. Terutama jika Hakai terlihat di radar."

"Itu... Sangat berat."

"Aku tahu. Namun, itu yang harus kulakukan."

Shinano langsung berdiri dan memeluk Shinji dari belakang. Shinano berkata,

"Dan... Aku akan membantumu di segala situasi... Pasti..."

"Tentu saja... Aku mengharapkan yang terbaik darimu, Shinano."

"Iya."

Mereka berdua berciuman. Setelah mereka berbincang-bincang, Shinano mohon undur diri. Shinji tersenyum dan melihat tubuh Shinano pergi keluar dari kamarnya. Ia kemudian berdiri di depan jendela dan berkata,

"Ichirou... Kami tidak akan takut menghadapi dirimu... Lihat saja... Semua hal yang akan kami lakukan untuk menghadapi dirimu... Aku... Akan menghancurkan dirimu dengan tangan ini !"


*Hohohohohoho Dia bermaksud menghancurkan diriku... Sini ayo
HK : KEMBALI KAU KE MARKASMU SEKARANG JUGA... INI BAGIANKU MENGERTI
*Baik Baik

Ehem...

HakunoKazuki di sini...
Saya... Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk keterlambatan dari chapter ini... Ahahahahahahahaha
Sudahlah...

Well... entahlah apa kalian akan setuju dengan semua yang kukatakan di sini, namun itu yang ada di dalam pikiranku !
*Jika tidak setuju mungkin aku akan
HK : STOP RIGHT THERE ! DON'T DO ANYTHING STUPID, OK ?

Haaah... Ok

Dapat dikatakan sebentar lagi... Ya... Sebentar lagi

Sudahlah... Saya sendiri kurang tahu apakah ini sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Namun, saya sih sudah senang Ahahahahaha

Baiklah, Saya HakunoKazuki mengucapkan selamat menikmati chapter ini

Dan... Mohon direview ye. Bye.

*Notes : Chapter berikutnya akan kembali ke Hakai. Tenang saja.