-Sequel of ChikinChikin-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Don't read this story if you don't like my story

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

.

.

.

Still You

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

Chapter 14

My Lovely

Previous chapter

Tn. Kim, ayah Jongin, sudah kembali ke Amerika sejak 4 bulan lalu. Karena Tn. Kim merasa Jongin sudah bisa bekerja tanpa bimbingannya lagi, juga pekerjaannya di Seoul sudah selesai. Keadaan ini semakin mempermudah Jongin untuk menjauhi Kyungsoo. Kyungsoo terus menunggu Jongin. Jongin tidak membalas pesan yang Kyungsoo kirim. Tanpa terasa Kyungsoo tertidur di sofa. Kyungsoo sudah tidak kuat lagi untuk memaksakan matanya untuk tetap terjaga.

Alarm di handphone Kyungsoo berdering. Itu tandanya sudah pagi. Alarm di handphone Kyungsoo sudah Kyungsoo setel di pukul 5 pagi. Kyungsoo sadar kalau dia tertidur di sofa semalam. Jongin. Kyungsoo teringat dengan Jongin. Kyungsoo lalu dengan cepat menuju kamarnya di lantai dua untuk melihat Jongin. Tidak ada. Jongin tidak tidur di kamar. Lalu Kyungsoo memeriksa kamar di lantai bawah. Tidak ada juga. Jongin tidak ada.

"Apa dia tidak pulang?".

"Dia tidak pulang. Apa halmeoni tahu Jongin tidak pulang?".

.

.

.

.

Kyungsoo merapikan rumah dengan pikiran yang entah kemana. Kyungsoo terus memikirkan Jongin yang tidak pulang semalam. Kyungsoo tidak menyangka Jongin semarah ini padanya. Jongin menghindar, tidak mau bicara dengan Kyungsoo bahkan Jongin sampai tidak pulang ke rumah. Kyungsoo kembali mencoba menghubungi Jongin. Kyungsoo ingin tanya, dimana semalam Jongin, suaminya tidur. Apa sebelum tidur Jongin sudah makan malam? Apa Jongin tidur di tempat yang nyaman? Tapi kali ini handphone Jongin tidak aktif. Kyungsoo semakin sulit menghubungi Jongin. Sekarang Kyungsoo semakin khawatir. Semarah itukah Jongin? Sebenci itukah Jongin?

Kyungsoo mengerjakan semua pekerjaan dengan pikiran yang tidak tentu. Kyungsoo bahkan tak yakin masakannya ini enak atau tidak. Halmeoni keluar dari kamarnya saat Kyungsoo sedang memasak.

"Selamat pagi, halmeoni", sapa Kyungsoo membungkukkan badannya memberi salam.

"Pagi... Jongin belum bangun?", tanya halmeoni.

"Jongin?", Kyungsoo balik bertanya.

"Iya, Jongin. Kim Jongin, suamimu".

"Jongin sudah pergi pagi-pagi sekali halmeoni, dia sedang banyak pekerjaan. Jadi tidak ikut sarapan pagi ini".

"Begitu? Apa begitu banyak pekerjaannya sampai dia tidak sempat pamit padaku?".

"Jongin takut halmeoni masih tidur, jadi Jongin memintaku untuk mengatakan ini pada halmeoni".

Kyungsoo terus merutuki dirinya sendiri. Terus mengucapkan maaf pada halmeoni dalam hati, karena sudah berbohong pada halmeoni. Mungkin akan lain ceritanya jika Jongin tidak pulang saat belum menjadi suami Kyungsoo. Tapi sekarang, Jongin adalah suami Kyungsoo. Jongin yang tidak pulang karena marah pada Kyungsoo akan menjadi masalah besar jika halmeoni tahu tentang ini. Kyungsoo selesai memasak sarapan. Cemas menunggu komentar halmeoni tentang rasa masakannya yang tidak sempat Kyungsoo cicipi. Bukan tidak sempat, sebenarnya Kyungsoo lupa.

"Bagaimana, halmeoni? Apa rasanya aneh?".

"Tidak. Masakanmu baik-baik saja. Tetap enak seperti biasanya".

"Syukurlah..."

"Kenapa? Kau tidak cicipi ini dulu?".

"Sudah. Aku hanya takut saja rasanya aneh".

"Tapi, aku perhatikan sejak kemarin kau memasak untukku tapi kau tidak makan. Kenapa?".

"Nafsu makanku sedikit berkurang akhir-akhir ini, halmeoni".

"Kenapa? Kau sakit? Pencernaanmu tidak baik?".

"Tidak. Tidak apa-apa. Nanti juga aku akan makan".

"Kau harus makan. Jangan mengikuti keinginanmu. Jangan sampai sakit".

"Iya, halmeoni".

Pekerjaan rumah Kyungsoo sudah selesai. Kyungsoo sudah bersiap untuk pergi ke restoran. Kyungsoo sampai di restoran setelah Taeyong lebih dulu datang.

"Noona kau sakit?".

"Tidak. Memang kenapa?".

"Wajahmu pucat sekali".

"Aku baik-baik saja".

"Noona istirahat saja dulu, biar aku yang kerjakan".

"Aku tidak apa-apa. Jangan mulai cerewet seperti Junmyeon dan Jong-".

Kalimat Kyungsoo berhenti. Kyungsoo kembali teringat dengan Jongin. Kyunngso lalu pamit pada Taeyong untuk pergi melihat Jongin.

"Taeyong-ah, aku akan ke kantor Jongin sebentar".

"Iya, noona".

Kyungsoo pergi ke kantor Jongin untuk melihat Jongin. Kantor tempat Jongin bekerja ada di lantar 5 di gedung ini. Meskipun Kyungsoo adalah istri dari salah satu karyawan di perusahaan ini. Meskipun Kyungsoo menantu dari salah satu pimpinan di perusahaan ini. Itu tidak membuat Kyungsoo bisa begitu saja masuk. Kyungsoo bertanya pada wanita cantik yang berdandan rapi, berdiri di balik meja receptionist.

"Maaf, apa aku bisa bertemu dengan Kim Jongin?".

"Baik. Tunggu sebentar".

Wanita cantik dengan name tag yang terpasang di dada sebelah kanannya bertuliskan Kim Hye Bin, menelepon bertanya pada seseorang di telepon tentang Jongin. Tak lama Kyungsoo menunggu dia sudah mendapat kabar apa Kyungsoo bisa menemui Jongin atau tidak.

"Bagaimana?".

"Maaf, semua tim sedang tidak bisa ditemui. Termasuk Tn. Kim Jongin".

"Begitu? Baiklah. Terima kasih".

Kyungsoo berjalan lemas kembali ke restoran. Di pikirannya terus memikirkan kemana Jongin.

"Kim Jongin. Kau ini benar-benar menghindar dariku? Bahkan sekarang handphonemu tidak aktif. Lalu bagaimana aku tahu kau ada dimana? Aku sudah meminta maaf padamu. Apa itu belum cukup?".

.

.

.

.

Sudah waktunya untuk restoran tutup. Kyungsoo masih belum bersiap untuk pulang. Taeyong sedang membereskan dapur.

"Noona, kau tidak akan pulang?".

"Sebentar lagi".

"Aku lihat sejak siang noona belum makan".

"Nanti aku akan makan".

"Baiklah. Noona menunggu Jongin hyung?".

"Hmmm".

"Mau aku temani?".

Kyungsoo mulai kesal mendengar dan menjawab pertanyaan Taeyong.

"Aiisshh, jika kau ingin pulang, pulanglah. Tidak perlu khawatir padaku".

"Kau ini. Aku hanya khawatir. Baiklah, kalau begitu, aku pulang".

"Eoh... pulanglah".

"Aigu... ada apa denganmu hari ini. Seperti ibu-ibu hamil saja begitu sensitif".

"Apa? Ibu-ibu hamil? Kau ini. Cepatlah pulang, jangan semakin membuatku kesal padamu".

"Baiklah. Baiklah, sajangnim. Aku pulang. Hubungi aku jika ada apa-apa".

Taeyong pulang setelah mendapat sedikit omelan dari Kyungsoo. Kyungsoo tanpa sadar memikirkan apa kata Taeyong. Ibu-ibu hamil?

"Apa aku terlihat seperti ibu-ibu hamil hanya dari omelanku?", gumam Kyungsoo.

"Lagi pula tahu dari mana dia kalau ibu-ibu hamil sensitif seperti aku?", Kyungsoo kembali bergumam pada dirinya sendiri.

Kyungsoo akan menunggu sampai Jongin pulang. Handphone Jongin tidak aktif. Jadi ini satu-satunya cara Kyungsoo bisa bertemu Jongin. Karyawan perusahaan lain yang perusahaannya berada di gedung itu satu per satu mulai meninggalkan gedung untuk pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Kyungsoo masih menunggu Jongin.

Tik... tok... tik... tok...

Satu jam...

Dua jam...

Kyungsoo masih belum melihat Jongin keluar dari lift. Lagu yang yang ada di handphone Kyungsoo sudah berputar entah berapa kali. Sudah lebih dari 3 gelas coklat panas Kyungsoo habiskan. Tubuh Kyungsoo mulai terasa dingin. Kyungsoo tidak merencanakan untuk menunggu Jongin hingga sore seperti ini. Selain itu Kyungsoo juga tidak tahu kalau malam ini akan sangat dingin dari biasanya. Kyungsoo tidak memakai pakaian tebal. Tangan Kyungsoo mulai tidak bisa merasakan apapun.

"Jam berapa ini? Kenapa Jongin belum juga pulang?".

Kyungsoo duduk sambil terus mengusap-usapkan kedua telapak tangannya. Berharap tubuhnya bisa terasa sedikit lebih hangat. Kyungsoo ingin pulang tapi Kyungsoo takut Jongin akan menghindarinya lagi.

.

.

.

.

"Aku pulang".

"Eoh... kau baru pulang sejak tadi pagi? Kau pasti lelah. Cepatlah mandi dan kita makan malam".

"Sejak pagi?", tanya Jongin.

"Iya, Kyungsoo bilang kau pergi pagi hari sekali karena sedang banyak pekerjaan di kantor. Sampai kau tidak pamit padaku", jelas halmeoni.

Jongin mematung sesaat. Pergi sejak pagi? Itu artinya halmeoni tidak tahu kalau Jongin tidak pulang semalam. Halmeoni melihat ke arah pintu. Seperti mencari sesuatu.

"Ada apa halmeoni?", tanya Jongin.

"Kau tidak pulang bersama Kyungsoo?".

"Kyungsoo belum pulang?".

"Jika sudah, aku tidak akan bertanya padamu. Lagi pula kenapa kau bertanya seperti itu? restorannya berada di tempat yang sama dengan kantormu".

"Aku tidak bertemu dengannya hari ini. Lalu handphoneku habis baterai dan aku lupa membawa charger dan power bank".

"Aigu, kau ini bagaimana. Cepat hubungi dia tanya dia dimana, ini sudah hampir makan malam. Istrimu itu sejak kemarin aku belum melihatnya makan".

"Aku pinjam handphone halmeoni. Menunggu handphoneku terisi baterai akan lama. Aku akan jemput Kyungsoo".

"Baiklah. Hati-hati".

Jongin yang baru saja datang, bahkan belum sempat mengganti pakaian, menyimpan tas kerjanya langsung kembali pergi untuk mencari Kyungsoo. Jongin coba menghubungi Kyungsoo tapi tak juga ada jawaban.

.

.

.

.

Kyungsoo masih duduk di salah satu kursi di restorannya. Menunggu Jongin. Udara semakin dingin. Sekarang tak hanya tangannya yang tidak merasakan apapun karena dingin. Tapi sekarang seluruh tubuhnya membeku. Gedung tempat restoran Kyungsoo semakin sepi. Bahkan mungkin sudah tidak ada siapapun. Tapi Kyungsoo belum melihat Jongin turun dari kantornya. Jadi Kyungsoo tetap akan menunggu Jongin. Mungkin Jongin masih belum selesai dengan pekerjaannya, begitu pikir Kyungsoo. Seorang pria paruh baya memakai seragam dengan emblem dan topi bertuliskan SECURITY menghampiri Kyungsoo.

"Nona, maaf. Ada yang sedang anda tunggu? Tapi sepertinya semua orang sudah pulang".

"Eoh... ajushi".

"Kyungsoo? Kenapa masih disini?".

Ajushi penjaga gedung ini kenal dengan Kyungsoo. Dia tidak pernah melihat Kyungsoo masih berada di restoran hingga malam hari. Jangankan hingga malam hari, bahkan hingga sore hari pun ajushi ini tidak pernah melihat Kyungsoo masih berada di restoran.

.

.

.

.

Jongin yang tidak tahu Kyungsoo berada dimana, terus mencari Kyungsoo. Restoran lama Kyungsoo sudah tutup saat Jongin datang untuk mencari Kyungsoo. Junmyeon pun sudah pulang. Lalu Jongin hubungi Yuri. Karena di handphone milik halmeoni hanya ada nomor Yuri, orang terdekat Kyungsoo.

"Yeobeoseyo, halmeoni. Ada apa?".

"Noona, ini aku, Jongin".

"Jongin? Ada apa?".

"Apa Kyungsoo menghubungi noona?".

"Tidak. Memang ada apa?".

"Tidak ada apa-apa, noona. Baiklah kalau begitu. Jika Kyungsoo menghubungi noona, tolong hubungi aku, terima kasih, noona".

Jongin semakin panik saat mendengar Kyungsoo tidak menghubungi Yuri, kakaknya. Jongin mengutuk dirinya sendiri karena tidak menghafal nomor Junmyeon, Baekhyun, atau siapapun yang sering bertemu dengan Kyungsoo. Jongin sebenarnya bisa datang ke tempat tinnggal Baekhyun, tapi saat panik seperti ini, hal itu sama sekali tidak terpikir oleh Jongin. Jongin hanya terpikir untuk pergi ke restoran Kyungsoo yang berada di gedung yang sama dengan kantor Jongin. Jongin memarkirkan mobilnya di depan gedung kantornya. Jongin tidak memikirkan tentang mobilnya yang terparkir di tempat yang dilarang untuk digunakan parkir. Jongin langsung berlari masuk. Jongin lega saat melihat Kyungsoo sedang duduk dengan menundukkan kepalanya di atas meja. Dengan cepat Jongin menghampiri Kyungsoo.

"Ya, Do Kyungsoo. Apa yang kau lakukan disini?".

Kyungsoo tak langsung menjawab. Kyungsoo angkat kepalanya, melihat ke sumber suara yang ia dengar dan Kyungsoo tahu suara siapa itu. Seulas senyum muncul saat Kyungsoo melihat siapa yang sedang berada di sampingnya. Jongin. Itu Kim Jongin.

"Jongin-ah...", panggil Kyungsoo pelan.

"Kau ini. Apa yang kau lakukan disini? Kau bahkan tidak menggunakan pakaian hangat. Kau ingin mati karena kedinginan? Lihat tanganmu begitu dingin. Ayo sekarang kita pulang".

Jongin lalu membantu Kyungsoo untuk berdiri dan menuju mobil.

"Kau tidak marah lagi padaku?".

"Kita bicarakan lagi nanti setelah sampai rumah".

Kyungsoo masuk ke dalam mobil, disusul dengan Jongin. Jongin lalu menyalakan pemanas di mobilnya. Membantu Kyungsoo mengembalikan lagi suhu tubuhnya. Kyungsoo yang menggigil terus menatap Jongin yang berada di sampingnya. Melihat Jongin datang menjemputnya sudah cukup buat Kyungsoo sekarang ini. Bukan. Hanya melihat wajahnya saja Kyungsoo sudah begitu senang. Akhirnya mereka sampai di rumah. Halmeoni yang biasanya sudah masuk ke dalam kamarnya, masih menunggu di ruang tengah. Menunggu Jongin yang pulang bersama Kyungsoo. Akhirnya yang halmeoni tunggu datang. Jongin dengan hati-hati membantu Kyungsoo mesuk ke dalam rumah.

"Aigu... aigu... ada apa? Kenapa Kyungsoo begitu pucat?", tanya halmeoni khawatir.

"Halmeoni, apa aku bisa minta tolong untuk buatkan teh untuk Kyungsoo?".

"Eoh... eoh... aku akan buatkan. Bawa Kyungsoo ke kamar. Hati-hati".

Jongin membawa Kyungsoo yang menggigil ke lantai atas menuju kamar. Tubuh Kyungsoo masih sama dinginnya dengan saat Jongin pertama bertemu dengan Kyungsoo. Jongin membaringkan Kyungsoo dan langsung menyelimuti tubuh Kyungsoo dengan selimut tebal.

"Aku akan ambilan teh hangat".

Kyungsoo yang sudah lemas menahan Jongin dengan menarik celana Jongin. Jongin yang mengerti maksud Kyungsoo langsung tersenyum dan meminta Kyungsoo melepaskan tangan Kyungsoo yang memegang celana Jongin.

"Sebentar, aku hanya akan membawa teh saja, hmmm".

Jongin kembali dengan membawa segelas teh hangat untuk Kyungsoo. Lalu Jongin membantu Kyungsoo untuk bangun.

"Minum ini. Agar tubuhmu hangat".

"Jongin-ah...".

"Aku masih marah padamu. Bahkan sekarang sangat marah".

"Maafkan aku", ucap Kyungsoo yang mulai menangis.

"Aku marah. Sangat marah. Karena kau lagi-lagi tidak peduli pada dirimu sendiri. Bagaimana bisa kau diam disana dengan pakaian tipis, hingga tubuhmu membeku seperti ini. aku dengar dari halmeoni kau bahkan belum makan sejak kemarin. Kau tidak kasihan pada Bongbong-i?".

Kyungsoo yang menangis sambil tertunduk langsung mengangkat kepalanya saat memdengar Jongin menyebut Bongbong-i.

"Bongbong-i?", tanya Kyungsoo heran.

"Anak kita, yang ada di dalam perutmu".

"Maafkan aku".

"Kemarin, atasanku memintaku untuk pergi ke Jeju dengan semua pimpinan tim untuk hadir ke acara rapat dengan semua relasi. Aku tidak sempat untuk memberi kabar padamu karena aku terlalu sibuk. Aku juga minta maaf, karena tidak memberimu kabar. Lalu pagi tadi baterai handphoneku habis dan aku lupa membawa charger dan juga power bank, jadi handphoneku mati. Sepulang dari Jeju aku langsung pulang ke rumah", jelas Jongin.

"Jangan tinggalkan aku". Kyungsoo lalu memeluk Jongin.

"Tapi aku tetap marah padamu. Jangan lakukan ini lagi. Kau sudah tahu tubuhmu tidak bisa menahan dingin, tapi kau paksakan diri untuk menunggu disana".

"Aku disana karena menunggumu. Kalau kau mau membalas pesanku, menerima teleponku, aku tidak akan menunggumu seper-"

CHU~

Jongin mengecup bibir Kyungsoo. Membuat Kyungsoo berhenti mengomel.

"Kenapa selalu berujung dengan kau yang mengomel padaku jika aku kesal padamu".

"Maafkan aku".

"Mulai sekarang, jangan ada lagi yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak akan melarangmu untuk mengurus restoranmu asalkan kau menjaga kesehatanu dan Bongbong-i. Juga, jangan lakukan lagi apa yang kau lakukan hari ini, mengerti?".

Kyungsoo mengangguk dan kembali memeluk Jongin.

"Hmmm... aku janji, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi".

Lalu tiba-tiba terdengar suara perut lapar. Jongin melepaskan pelukan Kyungsoo dan menatap istrinya sambil tersenyum.

"Kau ini jahat sekali. Membiarkan Bongbong-i kelaparan seperti itu".

"Aku lupa kalau aku belum makan apapun. Ini semua karena ka-"

"Ckk... berhenti mengomel. Kau ini senang sekali mengomel padaku. Kau ingin makan apa? Bongbong-i... kau ingin makan apa?", tanya Jongin sambil bicara pada perut Kyungsoo.

Kyungsoo tidak menjawab. Kyungsoo malah menarik Jongin dan meminta Jongin berbaring.

"Aku dingin", kata Kyungsoo yang langsung mendekatkan tubuhnya pada Jongin.

Jongin lalu mendekap tubuh Kyungsoo dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut.

"Baiklah. Aku akan membuatmu hangat".

"Jangan pergi sampai aku yang memintamu pergi".

"Baiklah tuan putri, aku akan disini. Memastikanmu hangat dan tertidur".

.

.

.

.

Pagi-pagi Kyungsoo sudah bangun seperti biasanya. Membereskan rumah, menyiapkan sarapan, membangunkan Jongin. Semua sudah kembali seperti semula. Kyungsoo menuju kamarnya untuk membangunkan Jongin.

"Jongin-ah, bangunlah".

Jongin menggeliat dari balik selimut. Tapi matanya masih enggan untuk terbuka. Kyungsoo kembali membangunkan Jongin dengan menggoyang-goyangkan tubuh Jongin.

"Sebentar lagi, mataku tidak mau terbuka".

"Nanti kau telat bekerja, Kim Jongin. Cepat bangun".

"Kalau begitu, kemarilah...".

Jongin menarik Kyungsoo hingga Kyungsoo sekarang berada di pelukan Jongin. Jongin lalu menggeser posisinya memberi tempat untuk Kyungsoo yang dipaksa untuk berbaring.

"Ya! Aku sedang memasak. Jika halmeoni lihat bagaimana?".

"Bisakah kau tidak mengomel dengan apapun yang aku lakukan?".

"Kau ini. Lepaskan aku. Cepat!".

"Bongbong-i kau lihat ibumu jahat padaku. Nanti kau jangan galak seperti ibumu, hmmm".

"Menurutmu aku galak? Lalu kenapa kau terus menempel padaku? Cepat lepaskan aku".

Kyungsoo lalu memukul lengan Jongin berkali-kali agar Jongin melepaskan pelukannya.

"Aahhh... ahhh... Iya. Iya. Berhenti memukulku".

"Cepat bangun!".

Jongin pun berhenti bermain-main dan memaksakan tubuhnya bangun. Saat akan pergi mandi Jongin memegang pipi Kyungsoo. Sedikit memaksa memang. Lalu Jongin mencium bibir Kyungsoo.

"Morning kiss", ucap Jongin sambil langsung berlari menuju kamar mandi sebelum mendapat omelan Kyungsoo.

"Ya! Isshh... kau baru saja bangun sudah menciumku seenaknya, Kim Jongin!", kesal Kyungsoo.

Kyungsoo kembali ke dapur setelah membereskan ranjang di kamarnya.

"Aigu... apa tidak bisa kalian setiap pagi tidak perlu saling berteriak? Di rumah ini yang bangun tidur dengan tenang hanya aku", ujar halmeoni pada Kyungsoo yang sedang berjalan turun dari lantai atas.

"Jongin yang selalu memulainya halmeoni".

"Kalian sama saja. Aku sampai lupa bagaimana rasanya pagi hari yang normal tanpa ada teriakan dan omelan".

Kyungsoo hanya menanggapi perkataan halmeoni dengan senyum lebarnya. Memang seperti ini. Sejak Kyungsoo dan Jongin menikah, pagi hari di rumah halmeoni tidak pernah tenang. Jongin akan berbuat jahil atau apapun pada Kyungsoo dan membuat Kyungsoo kesal. Lalu Kyungsoo akan mengomel pada Jongin. Itu yang selalu halmeoni dengar setiap pagi.

Sarapan sudah siap. Halmeoni sudah duduk di meja makan. Kyungsoo masih menyiapkan mangkok nasi untuk halmeoni dan Jongin. Tak lama, Jongin turun membawa tas kerjanya, jas dan coat sambil berusaha memakai dasi di lehernya. Begitu Jongin mendekat, Kyungsoo langsung membantu Jongin memakaikan dasi itu.

"Good morning, halmeoni", sapa Jongin.

"Hmmm...".

"Good morning, istriku... good morning Bongbong-i", sapa Jongin pada Kyungsoo sambil bicara menghadap perut Kyungsoo.

Halmeoni yang merasa aneh dengan nama yang Jongin panggil langsung menatap Jongin.

"Bongbong-i? Siapa?".

"Aku lupa. Halmeoni belum berkenalan dengan Bongbong-i", ucap Jongin semangat.

Jongin lalu membalikan badan Kyungsoo untuk berdiri menghadap halmeoni.

"Halmeoni, kenalkan, di dalam sini ada calon anakku dengan Kyungsoo, Bongbong-i".

Halmeoni tak langsung merespon. Beberapa detik halmeoni tatap kemana jari Jongin menunjuk. Perut Kyungsoo. Halmeoni masih belum mengerti.

"Calon anak? Bongbong-i?".

Dan akhirnya halmeoni mengerti.

"Maksudmu Kyungsoo hamil? Di dalam sini ada calon cicitku?".

"Iya, halmeoni".

"Aigu... aigu... aigu...".

"Umurnya sudah 8 minggu halmeoni", ujar Kyungsoo dengan senyum yang tak pernah lepas.

"Benarkah? Bongbong-i... calon cicitku..."

"Jadi halmeoni, jika dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya marahi saja", kata Jongin.

"Iya, benar. Mulai sekarang kurangi pekerjaanmu. Lalu apa yang lain sudah diberitahu?".

"Belum halmeoni, nanti aku hubungi mereka", jawab Kyungsoo.

"Baiklah kalau begitu. Aigu... aku senang sekali mendengar kabar ini. Ingat, kau jangan terlalu lelah".

"Iya, halmeoni..."

.

.

.

.

3 bulan kemudian

Perut besar Kyungsoo mulai terlihat. Umur kehamilan Kyungsoo sudah memasuki bulan ke 5. Kyungsoo menjadi manja? Jawabannya tidak. Kyungsoo tetap menjadi Kyungsoo yang seperti biasa. Tidak ada yang berubah sedikit pun dengan Kyungsoo yang sedang hamil. Seperti biasa Kyungsoo bangun pagi hari setelah alarm di handphonenya berbunyi. Kyungsoo merapikan rumah. Menyapu. Mengepel. Membersihkan debu. Tak lupa menyiapkan sarapan untuk dua orang tercinta yang tinggal bersamanya. Ya, halmeoni, dan juga suami menyebalkan tapi begitu Kyungsoo cinta, Kim Jongin.

"Jongin-ah... bangun. Kau tidak akan pergi bekerja?".

"Hmmm...", sahut Jongin yang menggeliat di atas ranjang.

"Cepatlah. Nanti kau terlambat".

Jongin menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian Jongin merentangkan kedua tangannya. Membangunkan Jongin menjadi pekerjaan yang juga selalu Kyungsoo lakukan dipagi hari.

"Peluk aku", ucap Jongin dengan suara manja.

"Hentikan. Telingaku geli mendengar suaramu seperti itu. Cepat bangunlah".

Jongin menyerah. Dia hentikan apa yang dia lakukan pada Kyungsoo. Karena Jongin memaksa pun Kyungsoo tidak akan membalas sikap manjanya. Jongin bangun dan memposisikan tubuhnya duduk bersila di atas ranjang.

"Kau benar-benar tidak bisakah romantis saat membangunkan suamimu?".

"Tidak. Cepatlah mandi", jawab Kyungsoo santai.

"Ne, sameonim", sahut Jongin kesal.

Jongin lalu bangun menuju kamar mandi. Saat Jongin sudah berada di depan pintu kamar mandi, Jongin kembali berlari menghampiri Kyungsoo yang sedang membereskan ranjang. Jongin lalu memegang pipi Kyungsoo.

CHU~

Jongin mencium Kyungsoo dengan paksa. Kyungsoo diam? Tentu saja tidak.

"Ya!".

"Thank you untuk morning kiss darimu", Jongin tersenyum lebar lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Halmeoni menunggu Kyungsoo selesai menyiapkan sarapan. Kyungsoo mengerjakan semua sendiri. Sebenarnya halmeoni dan Jongin sudah sering melarang Kyungsoo untuk mencari seseorang yang membantunya untuk membereskan rumah. Tapi bukan Do Kyungsoo jika dia menerima begitu saja permintaan halmeoni dan suaminya, Jongin.

"Kyungsooya, cepatlah cari orang untuk membantumu mengerjakan semua ini".

"Iya, halmeoni".

"Kau sejak dulu hanya menjawab iya dan iya. Lihat perutmu sudah mulai membesar".

"Jika aku sudah tidak sanggup mengerjakan semua ini aku akan mencari orang untuk membantuku halmeoni".

"Aigu... cicitku Bongbong-i... kau pasti lelah, kan?", ucap halmeoni sambil mengelus-elus perut Kyungsoo.

"Yang bekerja itu aku, halmeoni. Aku yang lelah", timpal Kyungsoo.

Jongin turun dari lantai atas. Sudah rapi. Jongin melihat halmeoni kembali mengomel pada Kyungsoo.

"Ada apa ini? Sepagi ini halmeoni sudah mengomel".

"Hanya ada dua penyebab aku mengomel pagi-pagi seperti ini. Pertama kau dan kedua istrimu".

Jongin tertawa kecil, "apa lagi yang kau lakukan, sayang?".

Kyungsoo hanya tersenyum pada Jongin.

"Turuti keinginan halmeoni, Kyungsooya".

"Dengar apa kata suamimu".

"Iya. Nanti akan aku cari".

"Kau lihat istrimu itu?".

"Biarkan saja halmeoni".

Semua sudah selesai dengan sarapannya. Jongin belum juga pergi bekerja. Kyungsoo sedang membereskan meja makan dan dapur.

"Kau belum pergi?", tanya Kyungsoo yang sedang sibuk mencuci piring.

"Aku menunggumu".

"Pergilah. Aku bisa naik taksi atau bus".

"Aku akan tetap menunggu".

"Lagi pula aku akan ke restoran lamaku".

"Eoh, ada apa?".

"Junmyeon tidak bisa masuk hari ini".

"Kenapa tidak Taeyong saja yang pergi kesana? Jika kau pergi ke restoran lamamu itu artinya kau akan pulang malam".

"Aku tidak apa-apa, sayang".

"Kyungsooya, harus berapa ratus kali aku katakan padamu. Jangan terlalu memaksakan dirimu dengan pekerjaan".

"Aku tidak memaksakan diri. Aku baik-baik saja dan kau tidak perlu khawatir, hmmm".

.

.

.

.

6 bulan

Kyungsoo yang sedang menikmati tidurnya harus bangun karena suara tangisan bayi yang begitu kencang. Semakin Kyungsoo membiarkannya suara bayi itu terdengar seperti sedang menangis tepat di telinganya. Kyungsoo membuka matanya yang sejujurnya tidak ingin untuk terbuka. Kyungsoo lihat Jongin yang tertidur dengan pulas di sampingnya.

"Kau ini ayah macam apa? Anakmu menangis begitu kencang kau masih tertidur pulas?".

Kyungsoo bangun dari posisinya. Menghampiri sumber suara tangisan bayi itu. Begitu sampai Kyungsoo lalu menghampiri box bayi dari kayu berwarna ungu. Dengan langkah yang sedikit malas Kyungsoo mendekat. Lalu menggendong bayi perempuan yang sedang menangis. Kyungsoo lalu menenangkan bayi itu sambil menepuk-nepuk punggung bayi itu dan bersenandung.

"Diamlah, sayang. Biarkan ibumu ini untuk tidur dengan layak, hmmm".

Bayi itu masih menangis. Kyungsoo kembali menenangkan.

"Berhentilah menangis, putriku... Baiklah... baiklah, menangislah sampai kau tenang, jika itu bisa membuatmu membiarkan ibumu untuk kembali tidur. Ibu akan menemanimu".

.

.

.

.

1,5 tahun

"Jongin-ah... tidak bisakah kau bermain sebentar dengan Bongbong-i. Aku harus menyiapkan makan malam".

"Gendonglah dia di punggungmu", sahut Jongin santai.

"Bantulah aku, hmmm".

"Itu sudah kewajibanmu sebagai ibu dan istri", sambil terus membolak-balikan lembaran koran yang sedang ia baca.

"Jongin-ah..."

.

.

.

.

5 tahun

"Bongbong-i! berhenti berlari-lari seperti itu", teriak Kyungsoo dari dalam dapur di restorannya.

"Bongbong-i! jangan menganggu orang lain", Kyungsoo kebali berteriak.

"Bobong-i! Jangan ganggu ibumu. Duduklah dengan tenang dan habiskan makananmu itu".

"Bongbong-i!"

"Bongbong-i!"

"Bongbong-i!"

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Done for this chapter ^^, #clapclapclap

Bingung? Ga ngerti? Atau aneh dengan chapter ini?

Aku pun begitu.. *plak

Mianhae...

Tunggu next chapter kalau mau tau ada apa ^^,

Always and always waiting your review uri redear~~

Remember, don't be silent reader yes... give me your precious review~

Thank you...

Chuchuchuchu~

*tebarkisseu*

*kisshug*

*XOXO*