Hai! Akhirnya aku update lagi hehehe, untuk chapter kali ini, aku akan membahas topik yang sempat hilang, dan aku harap kalian teringat dan menikmatinya. Well, langsung aja ya, selamat membaca ya, sori kalau banyak typo hehehehe.

.

.

.

.

"Hmm… jadi begitu…" ujar Yukiko sambil berdiri menghadap kaca luar melihat suasana perkotaan di New York. Saat ini, dirinya sedang di hotel dan berteleponan dengan anaknya Shinichi. Anaknya itu mengatakan semuanya. Mengenai kehamilan Kazuha yang disebabkan oleh Shinichi, lalu bagaimana perkembangan hubungan mereka, dan konflik yang terjadi antara Ran dan Heiji.

"Lalu bagaimana dengan Ran-chan? Apa reaksinya?" tanya Yukiko. Ia cukup khawatir dengan Ran yang mempunyai emosi yang cukup mudah terguncang.

"Dia benar-benar marah sekali dan menangis…" ujar Shinichi pelan.

"Ya… aku yakin Ran-chan pasti sedih sekali…" ujar Yukiko, "Tapi ya mau bagaimana, kadang sesuatu yang kita perkirakan bisa realitanya tidak terjadi seperti itu…"

"Iya bu, aku juga tidak tahu akan seperti ini…." ujar Shinichi dari balik telepon, "Tapi aku… bahagia, aku senang Kazuha sekarang bisa berada di sisiku, dan aku ingin sekali menjaga dirinya serta anakku yang masih ada di kandungannya itu…"

"Wah, aku mendengar kata 'anakku' dari puteraku sendiri, rasanya aneh sekarang kau menjadi seorang ayah, Shinichi…" Yukiko tertawa kecil, namun ia terdiam, "Tunggu sebentar, berarti aku sekarang adalah nenek?! Aku punya cucu?!" Ia sendiri tidak menyangka dirinya yang masih awet muda bak 20 tahunan itu sebentar lagi akan menjadi seorang 'grandma'.

"Aduh ibu, bisa-bisanya ibu mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini.." ujar Shinichi yang tidak habis pikir dengan ibunya, "Tapi… apa ibu setuju kalau kami berdua menjalin hubungan?"

"Ya, ibu sih tidak terlalu berpikir yang aneh-aneh selama dirimu sendiri juga senang dan bisa bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil…" ujar Yukiko lalu meneguk teh di cangkir, "Lagipula… Kazuha itu anak yang baik, dan dia… sangat manis dan ceria, sejak kecil dia seperti memberikan angin segar pada orang di sekitarnya…"

"Eh? Ibu tahu Kazuha dari kecil?" Yukiko mendadak terdiam. Ia seperti salah berbicara. Akhirnya ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Eh? Ehm… ya, dia terlihat seperti itu kan? Dia bukan gadis lemah dan tidak berdaya seperti gadis pada umumnya,"

"Ehm iya juga sih, bisa dibilang seperti itu…" ujar Shinichi tertawa ragu.

"Kalau begitu, apa Kazuha ada di sampingmu? Ibu ingin bicara…"

"Eh? Dia baru saja pulang ke Osaka, mungkin lusa dia ke Tokyo, atau aku yang ke Osaka menghampirinya, belum tahu sih rencananya."

"Hmmm… ya sudah, mungkin aku bisa bicarakan pada ayahmu tentang hal ini, dan semoga minggu ini ibu bisa pulang ke Jepang ya,… oke…. Kalau begitu kututup teleponnya ya,"

Yukiko mematikan teleponnya lalu meletakkan pada meja kecil, ia menghempuskan nafasnya. Untung saja Shinichi tidak lagi curiga pada kata-kata bahwa dirinya seperti mengenal Kazuha dari saat ia kecil. Walaupun sebenarnya itu benar. Dirinya mengenal sekali almarhum ibu Kazuha. Dan… mengenal masa lalu gelap Kazuha yang begitu dikunci dan dijaga agar tidak terdengar lagi.

Setelah Yusaku pulang kerja, Yukiko menceritakan semuanya. Dan Yusaku yang bersikap liberal hanya bisa mengangguk mengerti, namun ia teringat sesuatu.

"Kazuha… itu anak sahabatmu itu kan?"

Yukiko mengangguk lemah, "Ya, sudah lama sekali, sejak kejadian di hari itu, aku tidak bertemu dengan putri maupun suaminya, dan sejak Shinichi mengalami hal yang sulit dan menjadi Conan, aku bertemu dengan anak itu, dan… sifat dan semangatnya mirip sekali dengan ibunya…"

Mata Yukiko seperti ingin mengalirkan air mata. Hatinya seperti ngilu. Ia hanya menatap ke jendela, namun Yusaku merangkulnya dari belakang.

"Apa kau masih memikirkan kejadian di hari itu?"

"Hari di mana ibunya meninggal, Kazuha seperti masuk terperosok ke jurang yang dalam, dan dirinya dijadikan kambing hitam oleh orang di sekitarnya…" ujar Yukiko, "Andai saja waktu itu aku…" Yukiko hanya bisa menangis. Yusaku pun berusaha menghiburnya.

"Keiko. Sepertinya putrimu memang ditakdirkan untuk berada di dalam keluargaku… dan mungkin, itulah caranya supaya dosaku bisa kau ampuni…"

.

.

"Ran! Cepat buka pintunya!" Eri menggedor-gedorkan pintu kamar anaknya yang dikunci, "Kalau kau tidak mau keluar, maka ibu akan mendobrak pintu ini." Kogoro yang melihat istrinya terus memaksa untuk masuk berusaha membuat istrinya melembut. Muka Eri terlihat sangat khawatir namun tetap galak.

"Sudah Eri… jangan—" ujar Kogoro menahannya, namun Eri berbalik memarahinya.

"Kau tidak lihat sendiri Ran bersikap aneh, sejak ia mampir terus ke rumah Kudo, ia semakin terlihat sedih, dan sekarang, ia mengurung di kamar, apa bisa kau diam saja melihat anakmu seperti itu…" Eri begitu merasa emosi, namun saat ia ingin menggedor pintu, Ran pun membuka kunci dan keluar dari kamarnya, sehingga gerakan Eri berhenti.

"Aku sudah keluar, jadi jangan hancurkan pintu ini," ujar Ran dengan nada pasrah.

Eri melihat anaknya, kondisinya, terlihat seperti zombie. Mata Ran seperti bengkak dan merah habis menangis, mukanya pun muram sekali, "Ada apa denganmu hah? Apa yang terjadi?" tanya Eri. Kogoro pun tak kalah khawatirnya.

"Aku… lapar, bisakah ibu siapkan makan?" ujar Ran singkat tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya.

.

Ran duduk di meja makan, lalu ibunya menyiapkan nasi dan sayur dan daging di meja. Dengan pelan, ia mengangkat sumpit, menyuap nasi beserta lauk, lalu makan. Ayah dan ibunya hanya duduk di depannya memandang anaknya itu makan namun seperti tidak nafsu.

"Ibu… ayah…" ujar Ran pelan.

"Ada apa Ran?" ujar Kogoro berusaha mendengarkan.

"Kurasa aku… tidak jadi masuk ke Universitas Tokyo…" ujar Ran. Eri dan Kogoro sontak terkaget. Ia tidak percaya, padahal beberapa hari yang lalu Ran dinobatkan sebagai calon mahasiswa pilihan yang unggul dan merayakan keberhasilannya bersama teman-temannya.

"Hah? Jangan berkata yang tidak masuk akal seperti itu… Kau bercanda ya?" ujar Eri dengan bingung.

"Mungkin Sabtu nanti, aku akan datang ke Universitas untuk mengurus pembatalan untuk masuk ke sana…" ujar Ran yang tetap melanjutkan mengunyah.

"Ran… sebenarnya apa yang ada di dalam pikiranku… kau sudah berjuang untuk belajar terus, tapi sekarang setelah kau masuk, kau malah membuang impianmu begitu saja, jelaskan pada ibu, apa yang terjadi?" tanya Eri dengan penuh ketidaktahuan akan sifat anaknya yang tiba-tiba aneh.

Ran menatap ibunya, lalu mengangkat alisnya, "Impianku? Ya, mungkin itulah impianku, tapi… aku melakukannya semua atas dasar karena seseorang…"

Kogoro berusaha menebak apa alasan yang muncul dari keputusan putrinya itu, "Kau… apa ada masalah dengan Kudo? Dia yang membuatmu seperti ini?"

Ran menghentikan kunyahannya dan mengigit bibirnya, "Aku rasa… aku benar-benar dibuat gila sekarang…"

"Aku… sudah melakukan yang terbaik untuk setia menunggunya, walaupun tidak jelas kabarnya, dan saat ia sudah kembali… ia malah…" Ran menahan tangisnya dari matanya yang sembab.

"Ibu, ayah, apa aku… tidak bisa bersamanya… aku… takut sekali…" Ran menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau kehilangan dirinya lagi, aku tidak bisa menahan lagi, aku lelah dan aku ingin ia mengetahui kalau aku selalu menjadi orang yang tidak pernah menyerah dalam mendapatkan cintanya…" Ran memegang dadanya, dan mulai menangis. Kini di meja makan keluarga Mouri, tumpahlah air mata Ran yang begitu terasa mendesaknya. Dan melihat keadaan anaknya yang begitu down, mereka sepertinya harus bertindak sedikit, setidaknya untuk kebahagiaan anak mereka.

.

Ran masuk ke dalam kamarnya. Ia sehabis makan kembali lagi untuk beristirahat. Dirinya seperti dibuat berlari mengejar Shinichi namun ia tidak mendapatkan hasil. Ia melihat teleponnya, dan menghubungi seseorang.

"Ran-chan?" Suara dari balik telepon membuatnya merasa emosinya bangkit kembali. Tangannya mengepal menahan dirinya tidak menghajar apapun di sekelilingnya.

"Kazuha, aku ingin kita bicara, berdua saja," tanya Ran.

.

.

Esoknya, Ran dan Kazuha bertemu. Ran dengan rela datang ke Osaka untuk bertemu dengan Kazuha. Kini mereka berada di kafe. Keduanya bertemu dengan rasa canggung.

Kazuha menghela napas pelan, "Kau tidak perlu mendatangiku sampai ke Osaka, Ran… aku bisa datang menghampirimu,"

"Apa? Ke Tokyo? " ujar Ran lalu melebarkan mata, "Kau ingin bertemu Shinichi lagi?".

Kazuha hanya diam mendengar ujaran Ran karena memang dirinya akan datang dan menginap di rumah Shinichi beberapa hari lagi.

Melihat reaksi Ran yang hanya tidak berkutik, tatapan Ran terlihat lirih karena kekecewaan yang begitu dalam dan menghela napas, "Bagaimana bisa…" gumam Ran, lalu menatap lekat Kazuha.

"Kau… sebenarnya apa yang kau pikirkan? Dari awalnya, semua yang terjadi seharusnya tidak seperti ini, tapi kenapa kau malah…"

"Aku tidak tahu apakah dengan aku minta maaf, aku cukup tidak layak dimaafkan, jadi aku tidak akan minta maaf…" ujar Kazuha, "Tapi aku… tetap ingin agar kau tidak terlalu terpuruk seperti ini… Ran… setidaknya aku bisa menenangkanmu…"

"Hah?" ujar Ran, "Kau pikir setelah yang terjadi kemarin, dimana aku melihat kau dan Shinichi berbuat kotor di depanku dan Hattori, aku bisa tenang?!" suara Ran menggelegar di satu ruangan restoran, sehingga semua orang langsung menengok ke sumber suara itu.

"Kenapa… kenapa setelah kejadian itu kau tidak memberitahu aku semuanya, kalau kau memberitahuku, kedekatanmu dan Shinichi tidak akan terjadi…" Ran menghela napas dan berusaha memijat ubun-ubunnya yang terasa begitu pening, lalu melanjutkan kata-katanya, "Kau… benar-benar orang yang jahat, Kazuha… Aku mungkin nantinya bisa menerima kenyataan bahwa ada kecelakaan sehingga kau… mengandung anak Shinichi… tapi… dengan melihat kalian berdua tiba-tiba menjalin hubungan, itu benar-benar membuatku merasa terkhianati…" ujar Ran dengan emosi yang cukup tinggi. Kazuha menatap Ran dengan perasaan bersalah, namun diselimuti rasa takut.

"Aku… menurutmu setelah aku mengandung anak ini, apakah aku harus diam saja?" tanya Kazuha.

"Hah?" ujar Ran.

"Aku, juga melakukan apa yang terbaik untuk anak ini… aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa anak ini juga mempunyai ayah," tanya Kazuha.

Ran merasakan rahangnya mengeras, ia seperti merasakan kecemburuan karena sahabatnya ini mempunyai sesuatu yang berharga yang ia tidak miliki, "Tapi… jika seperti itu… sudah cukup kan? Kau tidak usah menggoyahkan hati Shinichi…"

"Ran…"

"Jika seperti itu, aku tidak akan merasa semenyedihkan ini… Tolong Kazuha… mengertilah, kau tahu kan semua yang sudah kulalui untuk menunggunya kembali padaku." Ujar Ran yang berusaha dengan nada memohon.

Kazuha menggenggam tangannya sendiri, "Ran… aku sangat mengerti semuanya… tapi… aku mencintainya… dan aku juga ingin menjaga Shinichi,"

"Apa? Tidak, aku tidak bisa melepaskan Shinichi dan memberikannya kepadamu… kau orang yang selalu mendukungku dan menjadi temanku, aku tidak mau terjadi perpisahan antara kita, Kazuha…" ujar Ran.

Kazuha merasakan seperti Ran terus menariknya ke dalam lubang, ia tahu bahwa keputusannya dan Shinichi sudah bulat, dan hal itu tidak mudah diganggu, awalnya dimana dirinya merasa tidak ada pembelaan, namun ia mulai harus mempertanyakan sesuatu, Kazuha pun terdiam lama, lalu mengatakan apa yang ada di pikirannya sekarang.

"Kau… kenapa bersikap seperti ini? Kenapa memaksakan perasaan pada seseorang yang sudah tidak mencintaimu? Lagipula Shinichi bukan barang, tidak bisa seenaknya kau mengambil tanpa melihat apa yang diinginkan… Itu hanya membuat semuanya terluka Ran… kau tahu? Shinichi juga menderita sudah mengatakan yang sebenarnya kepadamu, itu bukan keputusan yang mudah baginya untuk mengatakan yang jujur padamu, Ran…"

Ran memincingkan matanya, tangannya mengepal dengan keras, "Jadi, ini salahku? Salahku yang berusaha agar perasaan kami satu sama lain tidak saling menghilang?"

"Bukan, bukan itu yang aku maksud," ujar Kazuha sambil menggeleng pelan, "Rasamu pada Shinichi, itu bukan cinta yang sesungguhnya, kau hanya ingin Shinichi hanya mencintaimu, itu bukan sebuah rasa cinta yang benar… kau posesif,"

"Kazuha, hentikan…" ujar Ran yang sudah mulai merasa geram. Matanya memperlihatkan kemarahan yang memuncak.

"Ran, mungkin ini hal yang harus kusampaikan…" ujar Kazuha, "Jika pada akhirnya kita tidak bisa berteman lagi, aku hanya ingin agar kau tahu, kalau sikapmu yang memaksa seperti itu, Shinichi akan merasa sedih, bukan karena dia tertekan… tapi… karena ia menyesal telah kehilangan teman masa kecilnya yang begitu ia sayangi…" Ran melebarkan matanya, Kazuha mengambil tali tasnya lalu mengalungkan di pundaknya, "Kalau begitu aku pulang, jaga dirimu,"

Kazuha beranjak dari kursinya, lalu pergi, meninggalkan Ran yang mulai menangis termangu di meja, dengan air mata yang juga mengalir setelah ia tahan-tahan. Bagaimana pun juga, Ran adalah teman yang selalu berada di sisinya apapun yang terjadi. Sehingga konflik yang terjadi antara mereka berdua ini sangat membuat mereka sedih.

.

.

Siang hari, Shinichi membolak-balikkan berkas yang cukup tebal yang berada di tangannya, ia melihat-melihat kasus yang sedang dalam proses investigasi di kantor kepolisian Beika. Takagi pun duduk di meja komputernya sambil merapikan beberapa berkasnya.

"Hmm… tabrak lari ya… akhir-akhir ini memang cukup marak, tapi kalian yakin bahwa penabraknya merupakan orang yang sama?" ujar Shinichi.

Takagi mengangguk pelan, "Ya… kalau kau lihat dari kertas yang kau pegang, semua titik tabrak yang terlihat dari luka korban hampir sama, dan caranya cukup unik,"

"Hmmmm…" Shinichi menutup kertasnya dan mengangguk, "Baiklah, kalau begitu, aku ikut dalam pemeriksaan ya…" Shinichi membawa kertasnya.

"Shinichi, melihatmu di sini, aku jadi penasaran, kau tidak ada ketertarikan masuk ke akademi kepolisian?" tanya Takagi. Shinichi mengangkat alisnya, dan melihat Takagi dengan terkejut.

"Tentu saja aku tertarik," ujar Shinichi mengangguk,
"Bagaimanapun juga, menyelidiki sebuah kasus adalah kesukaanku, dan berkontribusi di dunia kepolisian akan lebih efektif,"

"Iya, setidaknya itu yang kami lakukan dengan Pak Mouri. Dia juga bekerjasama dengan kami," ujar Takagi dan Shinichi hanya bisa mengangguk. "Oh ya, tentang pak Mouri, tadi dia ada di sini, kau tidak melihatnya?"

Shinichi merasa dadanya seperti meloncat. Ayah Ran? Ada di sini?

Takagi yang awalnya duduk tiba-tiba melihat sosok orang di belakang Shinichi, lalu berdiri dan membungkuk memberi salam.

"Anda sudah di sini," ujar Takagi.

Shinichi perlahan ingin melihat orang itu, dan ketika ia berbalik, ia menemukan Kogoro Mouri berdiri di depannya, menatapnya dengan tajam.

"Ehm… paman…." Ujar Shinichi dengan gugup. Ia tahu sepertinya ayah dari Ran ini akan siap menghajarnya.

.

Kogoro menyodorkan minuman kaleng cola pada Shinichi, ia membuka minuman kaleng jus jeruk, duduk di sebelahnya. Mereka berdua duduk di teras di minimarket terdekat. Shinichi melihat kaleng minumannya, meminumannya dengan pelan, sekaligus mengintip ke arah Kogoro yang tidak berbicara sejak tadi.

Kogoro meneguk langsung minumnya, dan menelannya,

"Shh… kalau dipikir-pikir sudah lama sekali ya aku tidak minum bir, minuman ini… terlalu manis untukku… tapi yah… aku cukup menyukainya," ujar Kogoro sambil melihat setiap sisi kaleng minumannya. Shinichi melirik melihat Kogoro, dan cukup kaget dengan sikapnya yang biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.

"Jadi… ada apa… tiba-tiba paman mengajakku minum?"

"Kau, pasti tahu kan aku akan membahas tentang apa?" mendengarnya dari Kogoro dengan nada yang santai, Shinichi berusaha menelan minumannya dengan pelan. Ia diam, lalu menghela napas, Shinichi merasa seperti takut karena ia dihadapkan dengan seorang ayah dari gadis yang ia lukai hatinya.

"Ma… maafkan aku, paman, aku sudah membuat Ran menjadi sedih…"

"Kau dengan mengatakan seperti itu… itu membuatku merasa ingin marah…bahkan Eri sangat marah sekali dan ingin menghajarmu…" ujar Kogoro, dan membuat Shinichi bergidik ngeri, "Tapi aku tahu, kau adalah orang yang sangat masuk akal, aku mengenalmu saat kau tinggal di rumah kami sebagai Conan, dan aku melihat kau bukan orang yang seenaknya bertindak, kau malah terlalu hati-hati…"

Kogoro menengok ke arah Shinichi, "Jadi katakanlah semuanya, apa yang membuat sampai putriku sampai menderita seperti itu?"

Shinichi dengan pasrah akhirnya berusaha membuka diri dan menceritakan semuanya. Kogoro pun tidak jauh dari reaksinya yang terkaget mendengarnya, ia seperti merasakan ada letupan api dari dalamnya, namun di sisi lain ia melihat Shinichi yang begitu terlihat frustasi.

"Jadi… kau, dan sahabat Ran dari Osaka itu… sekarang pacaran?" tanya Kogoro.

"Kami memutuskan untuk bersama," jawab Shinichi. Namun ia mendengar bunyi sesuatu, seperti kaleng yang diremas oleh Kogoro. Sontak Shinichi langsung terdiam kaku melihatnya. Wah, mati aku, ujar Shinichi dalam hati.

"Semudah itu?" tanya Kogoro dengan nada yang meninggi, "Kau tahu sendiri kan anakku itu benar-benar menaruh hati padamu? Kenapa kau tidak menolaknya dari awal?"

"Ehm… maaf paman, saat itu, aku tidak tahu, perasaan yang kumiliki berbeda dengan perasaan Ran padaku, dan aku merasa bersalah telah membuat dia salah paham dan terluka…"

Kogoro bangkit berdiri, membuat Shinichi sedikit terperanjat dari tempat duduknya, Kogoro membuang kaleng minumannya ke dalam tong sampah, "Kau… tahu tidak, apa yang putriku lakukan?"

Shinichi menatap Kogoro dengan khawatir. Apa yang terjadi pada Ran? "Ada apa dengan Ran, paman?"

"Ran membuang semua formulir universitasnya, dia membuang semua impiannya, karena kau," ujar Kogoro dengan tajam.

Shinichi melotot, "Apa?"

Kogoro mengepalkan tangannya dan meninju ke arah perut Shinichi, sehingga dirinya meringis kesakitan.

"Akh!"

"Hei, bocah tengik, sebagai ayah, inilah yang aku bisa lakukan untuk putriku. Aku tidak tahu, apa yang membuat Ran begitu menyukaimu sampai rela membuang semuanya, tapi, aku hanya minta satu, kembalikan Ran untuk bersikap masuk akal seperti dulu, aku melihat dirinya kemarin seperti orang gila…" ujar Kogoro.

"Tapi aku, sudah mencoba, namun tidak bisa," ujar Shinichi. Kogoro menggaruk kepalanya, ia seperti ingin menghajarnya lagi, namun ia berusaha menghentikannya.

"Mungkin ini salah aku dan Eri yang tidak maksimal memberikan kasih sayang padanya, akhirnya dia benar-benar menaruh harapan padamu…" ujar Kogoro dengan nada sedih.

Shinichi tidak tahu harus berkata apa melihat Kogoro yang begitu pasrah. Kogoro berusaha mengendalikan amarahnya, dan hanya bisa berharap pada Shinichi, agar Ran kembali ceria.

"Lalu juga, hari ini, Ran pergi ke Osaka, sepertinya ia ke sana untuk bertemu dengan kekasihmu itu,"

"Eh?" Shinichi mengerutkan alisnya, "Apa?"

.

.

"Jadi? Kau sudah menepati janjimu?" tanya Sonoko dari balik telepon kepada Kazuha, Setelah perayaan syukuran dan Sonoko mengetahui hubungan mereka berdua, Sonoko terus mempertanyakan kepada Kazuha, dan ia terus berusaha memastikan.

"Mmm. Semuanya sudah kuceritakan pada Ran. Dari yang kau lihat waktu itu, sampai pada hal yang belum kau ketahui." Jawab Kazuha sambil terduduk di sofa ruang tamunya.

"Apa yang tidak kau ketahui?" tanya Sonoko penasaran. Maklum, Sonoko adalah orang yang serba ingin tahu.

"Mungkin Ran akan memberitahumu," ujar Kazuha, "Sonoko, apa aku bisa mengatakan sebuah permintaan kepadamu?"

Sonoko mengernyitkan matanya, "Hah? Permintaan? Apa lagi yang kau inginkan?" ujar Sonoko dengan nada ketus. Ia masih kesal dengan Kazuha, karena menganggap gadis Osaka itu berkhianat.

"Kumohon, habis ini, kau temui dan hampiri Ran. Dia begitu terguncang, aku yang sekarang tidak mungkin berada di posisi untuk menghiburnya. Dan bila ia mengatakan segala kemarahan, kebenciannya padaku, biarkan saja, aku tidak mempermasalahkannya jika Ran semakin tidak suka padaku." Ujar Kazuha.

"Hanya saja, jangan memojokkan Shinichi. Shinichi bukan orang yang sejahat itu, aku tidak mau orang di sekitar mereka berdua jadi memojokkan Shinichi. Karena di sini, tidak ada yang salah…"

Sonoko menghela napas. Ia mendengarkan permintaan Kazuha yang tidak masuk akal, "Ya kalau menghiburnya, tentu saja aku akan lakukan. Tapi… Shinichi, bukankah kau ingin agar mereka berdua tidak bersama lagi? Kenapa kau takut Shinichi dijauhi oleh Ran?"

Kazuha menutup matanya, "Karena…" dan membuka matanya, "Ran dan Shinichi adalah teman, pertemanan yang rusak itu sangat tidak enak dirasakan, dan juga aku tahu rasanya dipojokkan dan dipersalahkan karena sebuah kecelakaan. Dan perasaan itu… aku tidak ingin Shinichi merasakannya…"

Sonoko pun terdiam. Biasanya ia akan tetap mengomel karena tidak setuju dengan apa yang ia pikirkan, tapi mendengar dari suara Kazuha, ia semakin lama semakin mengerti, apa yang membuat Shinichi jatuh cinta padanya. Ran mungkin sudah dari kecil mempunyai perasaan cinta pada Shinichi, tapi perasaan Kazuha yang ia lihat, seperti lebih besar, dan tulus, seakan-akan Kazuha tetap semampunya untuk melindungi Shinichi.

Sonoko menutup teleponnya. Ia seperti belajar, apakah perasaannya kini tulus pada Makoto? Sama seperti Kazuha pada Shinichi?

.

.

Besoknya, Kazuha duduk di bangku stasiun, ia kini sudah sampai ke Tokyo, dan menunggu Shinichi menjemputnya. Ia terdiam memandangi orang yang lalu lalang di depannya. Dan matanya pun tiba menangkap dua orang pasangan menggandeng seorang anak kecil di tengahnya. Kelihatannya mereka seperti keluarga kecil. Anak itu berjalan kegirangan, sepertinya mereka akan melakukan perjalanan liburan, dan kedua orangtuanya juga memberikan kehangatan dengan senyumannya. Melihat kebahagiaan mereka, tentu membuat Kazuha juga ingin merasakannya dan mengalaminya.

Kazuha meraba perutnya. Ia merasakan perutnya semakin membuncit. Sudah tiga bulan setengah ia lewati. Anak itu semakin terasa hidup di dalam dirinya. Sekelibat perasaan takut karena kehidupan remajanya tidak bisa normal seperti anak remaja lainnya, namun ia juga merasakan rasa cinta yang hanya bisa dimiliki oleh seorang ibu.

"Kazuha," Kazuha mendengar suara laki-laki yang begitu ia rindukan memanggilnya dari jauh. Ia menengok ke arah suara itu, dan menemukan Shinichi sedikit terengah-engah, namun akhirnya ia tersenyum pada Kazuha. Kazuha pun tersenyum lebar dan berdiri. Sementara itu, Shinichi berjalan menghampiri Kazuha.

"Kau sudah lama menunggu?" tanya Shinichi.

Kazuha memincingkan matanya, "Ya, sangat lama sekali, sampai aku merasakan begitu rasa lapar, tahu tidak?" ujarnya dengan nada dibuat marah.

"Wah, kau yang lapar, ataukah," Shinichi membungkukkan badannya, dan melihat ke perut Kazuha, dan menunjuknya, "Anak kita yang lapar?" Kazuha merasa begitu senang mendengar kata 'anak kita' yang dikumandangkan oleh Shinichi.

"Iya, dua-duanya, kau harus tanggung jawab ya!" ujar Kazuha.

Shinichi membalikkan posisi berdirinya, ia tertawa, dan mengangguk.

"Baiklah kalau begitu, ayo kita makan siang," ujar Shinichi dan berbalik untuk jalan ke parkiran mobilnya, diikuti oleh Kazuha.

Mereka jalan berdampingan keluar dari stasiun, dan saat berjalan, tangan mereka bersentuhan, sehingga membuat keduanya seperti mendapat aliran listrik. Kazuha yang dengan malu-malu, tangannya berusaha mendekati tangan Shinichi, lalu mengenggamnya.

Shinichi yang terhenti menatap Kazuha, yang kini tersenyum malu-malu padanya, dan dirinya pun tanpa sadar juga memperlihatkan semburat merah. Akhirnya mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, seperti pasangan kekasih pada umumnya.

.

.

Saguru Hakuba beranjak dari tempat duduk kedai ramen dan hendak membayar makanannya. Ia memakai kacamata hitamnya karena di luar begitu terik dan Saguru masih belum terbiasa. Setelah ia kembali dari London tadi, dirinya tidak langsung pulang, karena ia malas bertemu dengan ibunya. Sekitar sejam yang lalu ibunya terus mengomel padanya lewat telepon.

"Apa? Kau menolak anak Presdir Grup JM itu? Kenapa Saguru? Dia gadis yang cantik, baik, santun, tapi kenapa kau malah tidak mau dengannya?" ujar ibunya dari balik telepon.

"Well, she is a princess, aku melihat dirinya terlalu bersikap seperti putri kerajaan, aku tidak suka, tidak menarik," jawab Saguru.

"Lalu, apa yang kau inginkan? Gadis seperti apa? Kau tahu tidak, kakekmu terus memojokkan ibu, agar ia mempunyai cicit," ujar ibunya dengan nada kesal.

"Apa? Cicit? Bu, aku saja baru berumur 18 tahun, aku masih terlalu muda untuk menikah," ujar Saguru dengan heran dan tertawa, "Ya sudah, aku akan menyetir, kututup teleponnya ya,"

"Hei, Saguru!" suara teriakan ibunya dari telepon langsung dimatikan olehnya.

Ia menghela napas kencang, dirinya tidak suka berada di dalam hubungan yang rumit. Saguru pun jalan ke kasir, "Jadi berapa semuanya?" Saguru membayar makanannya, dan keluar dari restoran, hendak membuka pintu, namun ternyata dari arah luar, ada pengunjung yang masuk.

Ia berhenti jalan dulu, dan menunggu pengunjungnya masuk dulu, dan setelah ia keluar, ia terhenti.

Tubuhnya seperti diam memaku. Orang yang tadi ia lihat, ia merasa begitu familiar. Gadis itu… mirip sekali dengannya. Dia seperti sosok yang begitu membekas dalam pikirannya.

Dia menengok ke arah belakang, masa iya yang ia lihat itu… dia… "Kazuha?"

.

.

.

.

.

Nah, bagaimana? Untuk chapter kali ini emang rada banyak dialognya sih, hehehe, dan apakah kalian menemukan kejanggalan, ataupun benang merahnya? Aku bener2 mengharapkan kritik dan saran dari kalian, kalau misal, ceritanya terlalu centered pada Kazuha, ya mungkin, atau terlalu bertele-tele, kalian bisa tulis di review, aku akan cek lagi hehehe.

So, jangan lupa ya, comment, follow dan favorite yesss, hehehe, makasihh :3