Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort

[Semi M]

Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won (Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, JB (Im Jae Bum), Cho Kyuhyun, Park Tae Jun {Ulzzang}, Wong Jong Jin {Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)

DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.

WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

Chap 14

.

.

Author POV

.

"Dengarkan aku Kyu! Kumohon! Ini semua tak seperti apa yang kau pikirkan!" dengan kekuatan yang ia punya, Sungmin berusaha untuk menahan tubuhnya agar Kyuhyun dapat berhenti menariknya secara kasar. Mendengar itu, Kyuhyun menghentikan langkahnya seraya menolehkan pandangannya ke arah Sungmin.

"Apa kau tuli, eoh? Siapa yang menyuruhmu bicara?!" Sungmin menatap Kyuhyun dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Menyadari bahwa matanya kini terasa basah, Sungmin buru-buru menundukkan kepalanya agar Kyuhyun tak dapat melihat lelehan air matanya. Meskipun begitu, usahan Sungmin untuk menutupi lelehan air matanya terasa sia-sia bagi Kyuhyun karena namja jangkung itu tau betul seperti apa gerak-gerik namja manis di hadapannya.

"Hah..." Kyuhyun menggerak-gerakkan bola matanya kesal. Kemudian ia kembali menarik pergelangan tangan Sungmin secara kasar dengan langkahnya yang panjang dan cepat. Susah payah Sungmin berusaha menyeimbangi gerak kaki Kyuhyun mengingat kakinya lebih pendek dari kaki Kyuhyun.

Kyuhyun mendorong tubuh Sungmin secara kasar agar namja manis itu cepat masuk ke dalam apartement saat pintunya berhasil terbuka. Setelahnya ia pun ikut masuk ke dalam dan mengunci pintu apartementnya agar tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya.

"Ikut aku!" perintah Kyuhyun dengan nada datarnya. Sungmin hanya mampu menurut saat Kyuhyun kembali menarik pergelangan tangannya yang kini malah memerah.

.

.

'Ppali Lee Hyukjae! Kau hanya perlu melompat dan semuanya akan berakhir!' kalimat demi kalimat Eunhyuk rapalkan dalam hatinya. Pikirannya berusaha keras untuk mendorong syaraf-syaraf dalam otaknya agar menggerakkan otot-otot tubuhnya. Namun sudah lebih dari satu jam, Eunhyuk tak bisa menggerakkan kakinya untuk segera melompat dari lantai teratas gedung kampus ini.

'Jongjin hyung akan menghabisimu jika kau tak segera melompat Lee Hyukjae!' Eunhyuk kembali merapalkan kalimat pendorong aksi bunuh dirinya. Matanya kembali terpejam rapat seraya menghirup nafasnya dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Rasanya berat, ia tak bisa. Bahkan hanya untuk menelan air ludahnya saja ia tak bisa. Semuanya terasa berat.

"Hhh~" helaan nafas lelah keluar dari bibir cherry itu untuk yang kesekian kalinya. Tangannya beralih mengambil sebuah lollipop dalam saku celananya dan membuangnya begitu saja. Mencoba untuk mengetahui seberapa tinggi gedung ini. Tiga puluh detik sudah berlalu dan belum terdengar apa-apa dari bawah sana. Benarkah gedung ini sangat tinggi?

Pluk!

Satu menit tiga puluh delapan detik, jika ia tak salah menghitung. Suara lolliponya baru terdengar dengan sangat jelas. Apa benar ia harus melompat? Apa kehidupannya hanya sampai di sini? Dan semua itu berakhir hanya karena seorang bajingan yang sudah menghancurkan hidupnya? Haruskah ia benar-benar mengakhiri hidupnya?

"Hah!" Eunhyuk tersenyum bodoh atas pemikirannya. Kenapa ia harus mengulur waktu kematiannya? Andaikata ia bertahan dan kembali hidup seperti biasa pun, pasti Jongjin akan membunuhnya secara perlahan.

"Hahaha~" Eunhyuk tertawa pilu. Sebuah tawa yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri. Jika memang pada akhirnya ia harus mati di tangan Jongjin, tunggu apa lagi? Bukankah seharusnya ia telah melompat sedari tadi?

"Eomma!" dengan suaranya yang serak ia berteriak, kepalanya mendongkak, menatap langit yang kini mulai berubah warna dari orange menjadi biru gelap.

"Bogoshipo..." lirih Eunhyuk nyaris seperti sebuah bisikkan. Kaki kanannya mulai terangkat, kedua telapak tangannya mengepal kuat. Inilah saatnya Eunhyuk mengakhiri permainan Tuhan.

"ANDWAE!"

.

.

"Ternyata selama ini aku salah menilaimu!" seru Kyuhyun tak percaya setelah selesai membaca semua inbox dan outbox yang berada dalam ponsel Sungmin. Namja psycho itu melemparkan ponsel Sungmin ke atas meja tanpa takut barang itu akan rusak atau sebagainya. Lain halnya dengan sang empunya ponsel yang hanya mampu diam tak melawan.

"Kupikir sikap manismu selama ini benar-benar tulus karena kau ingin melakukannya..." Kyuhyun menjeda kalimatnya, ia menghirup nafasnya dalam sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "...ternyata semua itu hanya akal-akalan Taejun hyung!"

"Kyu—"

"Aku pikir kata-kata manismu benar-benar tulus kau ucapkan dari hatimu..."

"Ak—"

"...tapi ternyata aku salah menerka!" Sungmin menundukkan kepalanya, sebisa mungkin menutupi tangisan nya dari Kyuhyun.

"Aku pikir kau benar-benar menaruh hati padaku seperti aku menaruh hati padamu, namun aku salah..."

"Kyu!"

"Bodohnya aku! Bisa-bisanya aku tertipu oleh sikap manis dan wajah polosmu itu!"

"Kyuhyun-ah..."

"Seharusnya aku sadar dari awal bahwa tak akan ada orang yang mau menerimaku apa adanya."

"Cho Kyuhyun!"

"Seharusnya aku tau bahwa semua ini hanyalah sandiwara..." lirih Kyuhyun, terdengar menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.

Sungmin memutuskan untuk mendongkakkan kepalanya, menatap wajah kesal Kyuhyun yang kini sedang menatapnya. Tatapan marah, kecewa, kesal dan sendu yang bercampur menjadi satu. Sungmin tak mampu melawan tatapan mata itu, terlalu menyakitkan.

"Hikss..." Sungmin sudah tak bisa menahan lagi isakannya. Biarlah Kyuhyun tau bahwa kini ia sedang menangis. Biarlah Kyuhyun tau bahwa dirinya memanglah sosok yang sangat lemah.

"Kenapa kau menangis?" tanya Kyuhyun dengan nada datarnya membuat Sungmin membelalak kan matanya tak percaya.

"Kyu~" panggil Sungmin dengan suara seraknya. Kyuhyun berdiri dari duduknya, kemudian ia berjalan menghampiri Sungmin dan memilih berjongkok di hadapan namja manis itu. Perlahan namun pasti, Kyuhyun menggerakkan tangannya, mengangkup kedua pipi Sungmin yang basah karena air mata.

"Apakah tangisan ini termasuk sandiwara? Apakah air mata ini air mata buaya?"

Deg!

Demi semua hal menyakitkan di muka bumi ini, Sungmin berani bersumpah bahwa pertanyaan Kyuhyun barusan adalah yang paling menyakitkan.

"Kyuhyun-ah... kumohon! Percayalah padaku!" jerit Sungmin disela isakannya.

"Apa yang harus aku percayai dari penipu manis sepertimu, hmp?"

"Aku mencintaimu! Sungguh!" seru Sungmin jujur apa adanya. Mata rubahnya menatap wajah Kyuhyun yang kini ikut basah oleh tetesan air matanya yang jatuh mengenai wajah Kyuhyun.

"Dengarkan aku Kyuhyun-ah..." pinta Sungmin balas menangkup wajah Kyuhyun. Kyuhyun diam, memberikan kesempatan pada namja manis itu untuk mengatakan apa yang ingin ia ungkapkan.

"Pada awalnya aku memang melakukan semua ini karena aku ingin menolong sahabatku, Lee Hyukjae. Kemudian, pertemuanku dengan Taejun hyung memaksaku untuk menolong seseorang agar bisa terlepas dari lubang hitamnya." Jelas Sungmin seraya mengusap tetesan air matanya yang jatuh membasahi wajah Kyuhyun.

"Perasaan berdebar saat kau berada di dekatku, perasaan malu saat kau menyentuhku, perasaan gugup saat wajahmu tepat di hadapan wajahku, perasaan senang saat kau memakan dan menyukai masakan buatanku, dan perasaan takut saat aku membayangkan bahwa kau akan meninggalkan ku sewaktu-waktu, kupikir... semua perasaan itu bukanlah sesuatu yang seharusnya kurasakan." Sungmin menatap Kyuhyun sendu. "Namun lambat laun aku tau jika semua perasaan itu memang seharusnya kurasakan karena aku sadar..."

"...bahwa aku, mencintaimu!" mendengar itu, Kyuhyun hanya mampu mengusap pipi Sungmin lembut.

"Apakah ini bagian dari akal-akal Taejun hyung lagi?" Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya tak setuju, isakannya semakin menjadi mendengar pertanyaan konyol Kyuhyun yang mampu membuat hatinya serasa di cabik-cabik puluhan serigala.

"Kyuhyun-ah~ hikss..."

"Bolehkah aku melihat naskah yang Taejun hyung berikan padamu, chagiya?"

"CHO KYUHYUN!" jerit Sungmin furstasi. Ia tak tau harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Kyuhyun bahwa ia benar-benar mencintainya dengan tulus.

"Sebaiknya kau cepat pergi dari hadapanku, sebelum aku semakin benci, kesal, dan kecewa terhadapmu, Lee Sungmin..." ucap Kyuhyun dengan nada datarnya yang sukses membuat Sungmin bagai jatuh kedalam jurang yang tak memiliki dasar.

.

.

Dengan tangan yang sedari tadi memegang gelas kecil berisikan soju, matanya menatap namja yang duduk di hadapannya dengan tatapan tajam. Lain hal nya dengan namja yang sedari tadi di tatap tajam hanya mampu menghindari tatapan tajam itu dengan cara menatap keadaan di sekelilingnya.

"Shipal!" satu kata umpatan keluar begitu saja dari bibr cherry yang terlihat manis itu. Hoya yang sedari tadi diam kini terkejut mendengarnya. Kata umpatan itu baru saja keluar dari mulut hyung tirinya yang secara otomatis di tujukan kepadanya mengingat hanya ada mereka berdua di meja ini.

"Hyung..."

"Imma!" satu kata umpatan baru keluar dari bibir Eunhyuk. Matanya masih setia menatap Hoya tajam, mengabaikan gelas kecil soju yang sedari tadi menunggu untuk diminum sang empunya.

"Hyung, a—"

"Neo inma!" potong Eunhyuk cepat. Hoya balas menatap Eunhyuk dengan tatapan kesal. Lima detik, hanya sampai lima detik Hoya mampu membalas tatapan tajam Eunhyuk. Setelahnya ia kembali membuang wajahnya seraya menenggak soju dalam gelas kecilnya.

Hoya menghirup nafasnya susah payah, sebisa mungkin ia berusaha menahan amarahnya agar tak terjadi keributan. Hoya kembali menatap Eunhyuk, namun kini dengan tatapan yang sangat lembut. Eunhyuk yang melihat tatapan Hoya seperti itu terkejut bukan main, namun ia bersikap sewajar mungkin dan mempertahankan tatapan tajamnya pada Hoya agar ia tak terlihat seperti namja bodoh yang mampu terpengaruh hanya dengan sebuah tatapan mata.

"Jangan lakukan itu lagi hyung..." ucap Hoya pelan. Matanya menatap Eunhyuk penuh harap. Namun Eunhyuk malah membuang wajahnya ke arah lain, tak ingin menatap Hoya. Melihat itu, Hoya berinisiatif untuk memegang tangan Eunhyuk yang masih setia memegang gelas kecil soju. Eunhyuk membelalakan matanya terkejut, kemudian menatap tajam tangan Hoya yang kini semakin erat menggenggam tangannya.

"YA!"

"Kumohon~ jangan pernah melaukan hal gila seperti tadi!"

"Lee Howon!"

"Hampir saja aku kehilangan hyungku..." lirih Hoya sedih nyaris seperti sebuah bisikan.

"Jangan tinggalkan aku hyung~" pinta Hoya. Eunhyuk terdiam, terlalu malas untuk membalas. Karena jujur saja, perubahan sikap Hoya masih terasa janggal dalam sudut pandangnya.

"Mianhae... selama ini aku telah melakukan banyak kesalahan terhadapmu, kumohon maafkan aku hyung!" pinta Hoya dengan suaranya yang sedikit serak.

"Cih! Kau pikir hanya dengan meminta maaf seperti ini aku akan benar-benar memaafkanmu, eoh? Memaafkan kesalahan kau dan wanita jalang itu begitu saja dan membiarkan hidupku hancur seperti ini? Tsk! Yang benar saja?" jelas Eunhyuk dengan emosinya. Mendengar Euhnyuk yang mulai menghina eomma tercintanya, refleks Hoya melepaskan genggaman tangannya dari tangan Eunhyuk.

"YA! Kau tak berhak mengatai eomma ku seperti itu! Sebenci apapun kau terhadap eomma ku, di tetap eomma mu juga!"

"Dia bukan eomma ku! Eomma ku sudah meninggal! Aku tak punya eomma! Sampai kapan pun yeoja jalang itu tak akan pernah menjadi eomma ku!" seru Eunhyuk marah.

"YA! Saekkia! Apa kau tak pernah berpikir betapa sakitnya hatiku saat kau menghina eomma ku, eoh? Apa kau tak pernah menyadari betapa kasar dan tajamnya mulutmu saat menghina eomma ku? Tak pernahkah kau merasakan, atau setidaknya membayangkan jika kau berada di posisiku, menerima dan membiarkan seseorang menghina eomma kandungku dengan kurang ajarnya, dan membiarkan rasa sakit yang terus menyiksa dan menyayat hatiku dan hati eomma ku secara perlahan?! Apa kau tak pernah berpikir seperti itu? Apa yang ada di otakmu itu?" marah Hoya meluapkan segala kekesalannya. Nafasnya terdengar memburu dengan tatapan mata tajam yang kini di tujukan kepada hyung tirinya. Eunhyuk diam tak merespon, ia menatap Hoya tak percaya.

"Tsk, kenapa kau hanya diam? Apa kau tak bisa membalas kekesalanku, eoh?" tanya Hoya dengan nada kesalnya.

"Baiklah, akan kubuat kau membalas kekesalanku." Ucap Hoya membuat Eunhyuk menatapnya tak mengerti.

"YA! Katakan pada yangkee yang telah meninggal itu untuk mendidikmu dengan baik! Tanyakan padanya, apa saja yang michin nyeon yeoja itu ajarkan kepadamu selama ia hidup, eoh? Apa jalang itu hanya mendidikmu untuk mengumpat? Menghina seorang yeoja tua yang bahkan tak mempunyai salah sedikitpun terhadapmu? Katakan dan tanyakan pada bitch itu!"

PRANK!

Mulut yang sedari tadi mengumpat itu kini terdiam, Hoya mengatupkan bibirnya rapat. Ia menahan nafasnya seraya menggigit bibir bawahnya. Seorang yeoja paruh baya yang notabene pemilik kedai soju ini hanya mampu menganga tak percaya atas percakapan dua orang namja yang duduk di meja tengah.

"Beraninya kau!" geram Eunhyuk menahan marah tanpa memperdulikan botol soju yang baru saja ia pecahkan.

"Wae? Kau marah? Kau kesal? Kau geram? Kau ingin merobek mulutku? Mencabik-cabik mulut kotorku ini, eoh?" tanya atau lebih tepatnya tantang Hoya.

"Kau!"

"Itulah yang aku rasakan hyung..." ujar Hoya pelan dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.

"Aishh... jinja!" Eunhyuk mengacak-ngacak rambutnya kasar, melampiaskan amarahnya yang harus ia tahan.

"Aku tau sebenarnya kau orang yang sangat baik hyung." Ucap Hoya melembut. Eunhyuk diam tak merespon, ia tak tau apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia perbuatan.

Satu jam berlalu dengan keheningan. Tak ada satupun diantara mereka yang berani mengeluarkan suara. Bahkan, ahjuma pemilik kedai soju ini pun tak berani mengusik mereka berdua.

"Sudah lewat jam makan malam, sebaiknya kita pulang." Ajak Hoya.

"Kita?" tanya Eunhyuk memastikan bahwa ia tak salah dengar dengan kata keramat yang terucap dari mulut Hoya.

"Hum... kita harus segera pulang ke apartement Hae hyung. Appa dan eomma pasti khawatir!"

"Kau saja yang pulang, mereka hanya khawatir padamu." Ucap Eunhyuk pelan.

"Aishh... apa yang kau bicarakan? Appa dan eomma mengkhawatirkan kita berdua hyung!"

"Jika memang mereka khawatir, seharusnya mereka sudah meneleponmu sedari tadi!"

Dddrrtt... ddrrtt...

Hoya merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya. Sang empunya ponsel tak langsung menjawab panggilan, ia malah menatap layar ponselnya kemudian menatap Eunhyuk yang kini sedang menatapnya.

"Yeoboseyo?"

"Howon-ah?" suara seorang yeoja yang mampu membuat hatinya tenang kini terdengar dengan jelas.

"Ne eomma! Wae?" Eunhyuk kembali membuang wajahnya ketika mengetahui siapa yang tengah menghubungi Hoya. Lain halnya dengan Hoya yang kini menekan tombol loud speake pada layar ponselnya kemudian menempatkan benda berbentuk persegi panjang itu tepat di hadapan wajahnya.

"Kau dimana chagi?" Eunhyuk melirik Hoya sekilas. Mencoba untuk menerka-nerka apa maksud Hoya men-loud spekaer kan panggilan dari eomma nya.

"Aku—"

"Kau tak lupa kan jika malam kemarin eomma menyuruhmu untuk mencari hyung mu? Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya? Eomma benar-benar khawatir pada hyungmu..."

"Geokjeongmal~ aku dan Hyukkie hyung sedang dalam perjalanan pulang!"

.

.

CEKLEK!

"Eunhyuk-ah?" Jiae berlari kecil menuju pintu depan tatkala gendang telinganya mendengar suara pintu terbuka.

"Aigo~ kau kemana saja, hmp? Kenapa pergi tak bilang-bilang? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Jiae seraya meraba-raba tubuh Eunhyuk. Memastikan bahwa putranya baik-baik saja.

Eunhyuk merasa bahwa hatinya tiba-tiba saja menghangat. Matanya menatap Jiae lekat. Donghae yang berada di samping Hoya hanya mampu diam. Lain halnya dengan Hoya yang kini merasa iri atas Eunhyuk. Ia masih tak percaya jika eomma nya lebih mengkhawatirkan orang lain di bandingkan dengan darah dagingnya sendiri.

"Kau sudah makan?" bukannya menjawab sang eomma, Eunhyuk malah membuang wajahnya. Dan saat itu pula, Eunhyuk menemukan bahwa Donghae kini tengah menatapnya.

"Hyukkie-ah? Gwaenchana?" Eunhyuk tetap menatap Donghae. Lain halnya dengan Hoya yang menatap Donghae yang sedang balas menatap Eunhyuk. Menyadari itu, buru-buru Donghae pergi meninggalkan Eunhyuk bersama eomma dan namdongsaeng tirinya.

BLAM!

Eunhyuk berani menebak bahwa Donghae baru saja masuk ke dalam kamarnya. Tanpa berpikir panjang, Eunhyuk langsung menyusul kepergian Donghae tanpa memperdulikan tatapan kecewa Jiae dan tatapan kesal Hoya.

CEKLEK!

Eunhyuk sedikit menyembulkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam kamar sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar.

"Kenapa kau selalu mengabaikan eomma mu?" pertanyaan tiba-tiba Donghae membuat Eunhyuk buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya cepat agar tak ada yang bisa sembarang masuk ke dalam kamar mereka.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya balik Eunhyuk seraya duduk di pinggiran ranjang yang berlawanan dengan Donghae, sehingga posisi mereka kini duduk saling membelakangi dalam satu ranjang yang sama.

"Cukup jawab pertanyaanku Lee Hyukjae!" balas Donghae ketus. Eunhyuk sedikit melirik kebelakang, merasa asing pada Donghae yang kini berada di belakangnya.

"Aku tak tau..." jawab Eunhyuk seadanya karena ia benar-benar tak tau kenapa ia mengabaikan pertanyaan eomma tirinya. Jujur saja, setiap kali Eunhyuk mencoba untuk menjawab, entah mengapa lidahnya terasa kelu dan bibirnya selalu sulit untuk ia gerakkan.

Kamar yang semula selalu hening, kini semakin hening dengan berubahnya atmosfer diantara mereka berdua. Suara detikan jam terus mengalun seolah mengisyaratkan kedua insan itu untuk membuka suara mereka.

"Hae.../Hyuk!"

Deg!

Baik Donghae maupun Eunhyuk, kini mereka sama-sama merasakan debaran tak biasa. Eunhyuk ingin menolehkan kepalanya kebelakang, namun ia tak bisa. Donghae ingin mengubah posisinya menjadi duduk di samping Eunhyuk, namun kakinya sulit ia gerakkan. Akhirnya, dengan keberanian yang ia punya, Donghae memutuskan untuk kembali membuka suaranya tanpa mengubah posisinya.

"Apa yang ingin kau ucapkan?" tanya Donghae masih dengan nada datarnya. Eunhyuk menggigit bibir bawahnya kuat mendengar nada bicara Donghae yang masih tak berubah dan terdengar menyakitkan baginya.

"W-wae...?" Donghae menaikkan sebelah alisnya heran. Ia tak mengerti apa yang Eunhyuk tanyakan.

"Wae?" tanya balik Donghae tak mengerti. Tak ada balasan, Donghae berani menerka bahwa kini Eunhyuk tengah terdiam.

"Hhh..." hanya terdengar helaan nafas, setelahnya Donghae merasakan bahwa ranjangnya bergerak menandakan bahwa Eunhyuk pasti—

"Aku lelah..." ujar Eunhyuk seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tepat saat Donghae menolehkan kepalanya kebelakang. Eunhyuk tidur dengan posisi miring yang otomatis membelakanginya. Melihat itu, Donghae pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Eunhyuk dengan pandangan lurus ke atas menatap langit-langit kamar ini. Kedua tangannya ia simpan di bawah kepala sebagai alas.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Eunhyuk tiba-tiba tanpa mengubah posisinya. Donghae sedikit menyunggingkan bibirnya menyadari bahwa Eunhyuk belum tertidur.

"Apa Choi Siwon selalu menjadi tempat pelarianmu?" Eunhyuk mendecih pelan mendengar pertanyaan Donghae.

"Sebenarnya, tidak selalu... karena terkadang aku melarikan diri pada In Guk." Jawab Eunhyuk jujur.

"Darimana kau tau? Apa selama ini kau memata-mataiku?" tanya balik Eunhyuk membuat Donghae tersenyum pilu.

"Hmm..." Eunhyuk membalikkan badannya menghadap Donghae, begitupun dengan Donghae yang ikut mengubah posisinya menghadap Eunhyuk.

"Jawab yang benar, apa selama ini kau memata-mataiku?" tanya Eunhyuk sekali lagi. Donghae tak menjawab, ia malah menatap Eunhyuk intens. Kemudian matanya bergerak perlahan menatap bibir cherry Eunhyuk yang sedikit terbuka. Tanpa berbasa-basi lagi, Donghae langsung mencium bibir cherry yang sedari tadi menggodanya itu membuat sang empunya kini membulatkan matanya tak percaya.

"HHMPH!" Donghae menahan tengkuk Eunhyuk saat namja manis itu mencoba untuk melepaskan ciumannya.

"Mmmphh! Nngghh..." Eunhyuk meremas bahu Donghae kuat dengan mata yang terpejam.

Perlahan namun pasti, Donghae mengubah ciuman ringannya menjadi sebuah lumatan panas. Donghae menekan tengkuk Eunhyuk dan melumat bibir cherry Eunhyuk dengan kuat. Dihisap nya bibir bawah Eunhyuk dan menggigitnya sampai sang empunya bibir mengerang kesakitan.

"A-ahhh..." Donghae segera melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Eunhyuk saat bibir cherry itu berhasil terbuka. Donghae meliuk-liukkan lidahnya untuk merasakan hangat nan manis rongga basah Eunhyuk. Lidahnya melilit lidah Eunhyuk dan mengajaknya bermain bersama. Namun Eunhyuk tak membalas permainan Donghae di dalam rongga mulutnya. Ia membiarkan Donghae mencumbui bibir cherry nya secara menyeluruh.

Tangan kirinya bergerak memukul-mukul kecil bahu Donghae. Meminta namja itu agar berhenti mencumbinya karena Eunhyuk merasa tak nyaman atas lumatan yang Donghae berikan. Namun Donghae tak memperdulikannya dan malah menelusupkan tangan kanannya ke dalam baju yang Eunhyuk kenakan.

Eunhyuk merasakan sakit pada kepalanya saat Donghae mulai mengusap punggungnya secara seductive. Ia merasa bahwa Donghae malah terlihat seperti namja yang ia takuti selama ini. Eunhyuk memejamkan matanya rapat, tak ingin melihat wajah Donghae yang mungkin saja bisa berubah menjadi wajah Jongjin. Eunhyuk menggeliat-geliatkan tubuhnya resah. Kakinya menendang-nendang kecil untuk mendapatkan kebebasan. Namun Donghae malah mengapit kedua kaki Eunhyuk, mengunci pergerakan namja manis itu agar tak terlalu banyak bergerak. Dan apa yang telah Donghae lakukan sukses membuat Eunhyuk kembali merasakan tekanan yang dulu pernah ia rasakan.

"Aaahh~" Eunhyuk mendesah di sela-sela lumatan nya. Tangannya masih terus berusaha untuk mendorong tubuh Donghae, meskipun ia tau jika itu sia-sia. Eunhyuk mencoba memutuskan lumatan Donghae dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun Donghae tak sebodoh yang Eunhyuk kira. Tangannya bergerak menangkup kedua pipi Eunhyuk agar namja manis itu tak dapat memutuskan lumatannya.

"Ahhh.. hahh... hikss.." isakan sukses keluar di sela desahannya. Namun Donghae tak memperdulikannya dan tetap melumat bibir atas dan bawah Eunhyuk secara bergantian.

"Nngghh... Haehh..." dan saat itu pula, Donghae kembali mendapatkan akal sehatnya saat merasakan sesuatu yang asin pada mulutnya. Dan ia yakin bahwa itu adalah air mata Eunhyuk.

"Eunhyuk-ah?"

"Hikkss... Jangan sentuh aku!"

"H-Hyukkie-ah?"

"SHIREO!" Donghae menatap Eunhyuk panik. Pasalnya ia sudah tak menyentuh Eunhyuk sedikitpun. Dan saat itu pula, Donghae kembali teringat perkataan Jiae tentang Eunhyuk saat beberapa hari yang lalu.

.

.

Malam semakin larut, langit semakin gelap, udara semakin dingin, dan orang-orang sudah malas untuk berkeliaran di sekitar apartement sehingga kini suasana semakin sunyi. Saking sunyinya, suara hembusan nafas sekecil apapun dapat terdengar. Seperti hembusan nafas seorang namja yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena tak ingin menatap namja yang duduk di sebuah sofa yang bersebrangan dengannya.

CEKLEK!

Suara pintu terbuka sukses mengalihkan perhatian dua orang namja yang sedati tadi sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Namja bertubuh atletis yang baru saja keluar dari sebuah kamar kini berjalan menghampiri dua orang namja yang sedari tadi menunggu di ruang tengah.

"Bagaimana?"

"Eunhyuk hyung sudah tidur!" jawab namja bertubuh atletis itu.

"Nah, kau! Siapa namamu?" tanya Siwon pelan namun tegas.

"Nae—"

"Dia Lee Howon, atau biasa di panggil Hoya. Namdongsaeng tiri Hyukkie hyung!" potong In Guk cepat membuat Hoya melotot ke arah namja asing yang paling di bencinya setelah Eunhyuk. Tunggu! Kalian pasti heran kan kenapa Eunhyuk, Hoya dan In Guk bisa berada disini? Jawabannya mudah saja, setelah kejadian tak terduga dalam kamar Donghae, Eunhyuk langsung pergi melarikan diri ke apartement Siwon di ikuti oleh Hoya. Lain halnya dengan In Guk yang memang sudah sedari tadi berada di apartement Siwon karena ia berpikir bahwa Eunhyuk akan kembali pulang ke apartement ini.

"Ne? Dari mana kau tau?" tanya Siwon tak percaya. In Guk sedikit menyunggingkan senyum nya saat menyadari bahwa ia kembali unggul satu point dari Siwon. Di sisi lain, Siwon yang mengerti arti sunggingan senyum itu hanya mampu menatap In Guk malas.

"Kami..." In Guk menjeda kalimatnya seraya menatap Hoya sebentar, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "...pernah atau mungkin lebih tepatnya sudah beberapa kali bertemu."

"Jinja?" tanya Siwon menatap Hoya memastikan. Hoya hanya mampu mengangguk membenarkan perkataan In Guk karena apa yang diucapkan namja bermata sipit itu memang benar adanya. Siwon balas mengangguk sebagai respon bahwa ia percaya.

"Na'ah~ sekarang, bisakah kau jelaskan semuanya terhadap kami?" tanya Siwon kembali pada tujuan awalnya.

"Ne?" tanya balik Hoya tak mengerti.

"Aishh... jinja! Biar aku saja yang bertanya!" seru In Guk mengambil alih.

"Dimana kalian tinggal?" pertanyaan pertama sukses In Guk lontarkan.

"Kalian?" tanya balik Hoya pura-pura tak mengerti.

"Jangan berpura-pura seperti itu! Aku tau kau bukan seseorang yang bodoh." Balas In Guk ketus.

"Kami tinggal di apartement Hae hyung." Jawab Hoya.

"Hae hyung?" In Guk menatap Siwon heran. Mereka melakukan contact eyes untuk menerka-nerka siapa pemilik nama yang baru saja di sebutkan Hoya. Pasalnya, mereka merasa asing dengan nama yang baru saja di sebutkan Hoya. Apakah 'Hae hyung' yang baru saja di sebutkan Hoya adalah saudara tiri Eunhyuk yang lain? Atau... siapa?

"Lee Donghae, namja pindahan dari Inggris yang kini pindah ke Korea dan berada satu kampus dengan kita. Lebih tepatnya, satu kelas dengan Eunhyuk hyung dan kau!" jelas Hoya sambil menunjuk Siwon menggunakan dagunya. Siwon terlihat berpikir, atau lebih tepatnya mengingat-ngingat seseorang yang berada satu kelas dengannya.

"Aa~ namja itu! Aku tau siapa dia!" seru Siwon setelah ingat siapa namja yang Hoya maksud.

"J-jadi... kalian menumpang di rumah namja itu?" tanya In Guk tiba-tiba.

"Ne! Wae? Hae hyung sendiri yang menyuruh kami untuk tinggal di apartement nya!" jawab Hoya dengan santainya.

.

Flashback On

.

"Ayo! Ceritakan pada kami kemana saja kau selama ini?" tanya In Guk tak sabaran.

"A-aku... ada saja di rumah!" dusta Eunhyuk yang dapat di tebak oleh Siwon dan In Guk.

"Rumah? Rumah yang mana?" heran Siwon.

"Bukankah rumah mu sudah habis terbakar?" celetuk In Guk membuat Eunhyuk harus kembali berpikir memikirkan jawaban atau mungkin lebih tepatnya dustaan yang tepat dan masuk akal.

"Jadi, selama beberapa hari belakangan ini, aku... dan 'yang lainnya' mencari rumah sewaan. Dan setelah dapat rumah sewaan yang murah, k—ka—kam—k—kami... menata rumah bersama-sama..."

.

Flashback Off

.

"Aisshh... nappeun namja!" umpat In Guk kesal atas kebohongan yang diberikan Eunhyuk padanya.

"YA! Howon-ah!" panggil Siwon.

"Hm?"

"Jelaskan pada kami, apa saja yang terjadi selama ini?"

"Ne, jelaskan se-detail mungkin apa saja yang Eunhyuk hyung sembunyikan dari kami!"

Siwon dan In Guk menatap Hoya dengan tatapan menyelidik. Lain hal nya dengan Hoya yang kini tengah menyeringai setan dalam hatinya.

.

.

"Apa kita benar-benar akan menunggunya sampai terbangun?" tanya Hoya sambil sesekali melirik jam tangannya.

"Hm, wae?" tanya balik In Guk tanpa menatap Hoya.

"Lalu bagaimana dengan kelas pagi kita? Bukankah kita semua memilik kelas pagi hari ini?!"

"Jika kau tak ingin melewatkannya, pergilah!" jawab Siwon tegas. Hoya menghela nafasnya lelah. Sebenarnya ia sangat ingin pergi ke kampus meninggalkan hal konyol yang akan terjadi sebentar lagi karena pendidikan adalah prioritas pertamanya. Namun untuk kali ini, ia harus mencoba untuk menjadi seseorang yang egois. Karena jika tidak, maka semua yang telah ia rencanakan akan hancur begitu saja.

CEKLEK!

"Eoh?" Eunhyuk keluar dari kamar Siwon dengan mata yang masih setengah terbuka. Ia mengucek-ngucek matanya sambil menutup pintu kamar Siwon rapat.

"YA! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Eunhyuk setelah sadar bahwa ada seseorang yang seharusnya tak berada di tempat ini.

"YA! Hyung!" Siwon berdiri dari duduknya, kemudian berjalan pelan mendekati Eunhyuk. Eunhyuk menatap Siwon bingung yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tak seharusnya kau melakukan semua ini pada kami hyung..."

"Ne?" Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Kemudian ia sedikit menjinjitkan kakinya untuk melihat In Guk dan meminta penjelasan atas apa yang telah di katakan Siwon barusan. Namun In Guk yang semula menatap Eunhyuk kini malah membuang wajahnya tak ingin menatap Eunhyuk dan lebih memilih untuk menatap karpet di bawahnya.

Melihat itu, Eunhyuk mengalihkan pandangannya ke arah Hoya yang tengah menundukkan kepalanya. "YA! Lee Howon! Pergi dari si—"

"Kau anggap kami apa selama ini hyung?" tanya Siwon lagi dan sukses membuat Eunhyuk bertambah bingung.

"Tsk, sahabat..." celetuk In Guk, terdengar sedikit ambigu di telinga Eunhyuk.

"...kupikir kata sahabat itu benar-benar memiliki makna tertentu bagimu, tapi ternyata semua itu hanya sebuah formalitas."

"YA! Seo In Guk!"

"Apa gunanya kami selama ini hyung? Bisa-bisanya kau menyembunyikan masalah yang seharusnya kami ketahui!" Eunhyuk menarik nafasnya dalam. Ia mengerti, ia tau arah pembicaraan ini setelah Siwon mengatakan kata 'masalah' dalam kalimatnya. Eunhyuk menundukkan kepalanya tak ingin melihat wajah orang-orang yang kini tengah meng-intograsinya.

"Dasar bodoh! Kau pikir apa yang telah kau lakukan itu hyung?" tanya In Guk dengan volume yang sedikit di naikkan.

"Cih, menjual tubuhmu pada namja bernama Lee Donghae itu hanya untuk melunasi hutang pada si bajingan Cho itu?! Hah! Yang benar saja!" In Guk tertawa menyindir. Eunhyuk merasa bahwa perkataan In Guk benar-benar menusuk hatinya. Lain halnya dengan Hoya yang kini tengah berusaha menahan tawanya.

"Hyung, kenapa kau tak pernah bilang pada kami? Jika saja kau mau sedikit berbagi masalah hidupmu pada kami, mungkin sekarang kau tak akan terlalu terikat seperti ini! Bukankah kita ini sahabat?"

"YA! Choi Siwon! Bukankah tadi sudah kubilang jika kata sahabat itu hanyalah sebuah formalitas belaka?"

"Seo In Guk-sshi! Bisakah kau berhenti memojokkan hyung ku?" tanya Hoya tak terima. In Guk menatap Hoya kemudian mendecih kesal.

"Bukankah kalian sudah berjanji tak akan melakukan apa-apa terhadap hyungku?!" teriak Hoya. Mendengar itu, Eunhyuk membulatkan matanya tak percaya. Kemudian ia pergi dari hadapan Siwon dan berjalan mendekati Hoya.

Tangannya tiba-tiba saja mencengkram kemeja bagian depan yang Hoya kenakan, memaksa namja yang berstatus sebagai namdongsaeng tirinya itu untuk berdiri. Hoya hanya bisa menurut dan menatap Eunhyuk takut.

"Ah~ jadi kau yang melakukannya, eoh?" Hoya meneguk air ludahnya susah payah. Eunhyuk benar-benar mencengkramnya dengan sangat kuat sampai-sampai untuk bernafas pun rasanya susah.

Entah refleks atau apa, In Guk berdiri dari duduknya kemudian menghempaskan tangan Eunhyuk membuat Hoya bernafas lega. Mata Eunhyuk menatap In Guk tak percaya. Sekarang Eunhyuk benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan disaat orang-orang yang ia anggap sebagai sahabat tak berada di pihaknya.

"Jangan sakiti namdongsaeng mu! Dia tak bersalah!" seru In Guk tak suka atas tindakan Eunhyuk.

"Kami yang memaksanya agar menceritakan semuanya." Tambah Siwon. Eunhyuk kembali menundukkan kepalanya. Ia bingung dan takut.

"Jujur saja hyung, aku benar-benar kecewa padamu!" ucap Siwon dan In Guk berbarengan.

"Rasanya aku ingin mencekik lehermu!/Rasanya aku ingin membencimu!" ungkap In Guk dan Siwon dalam waktu yang bersamaan.

"Tapi aku tak bisa..." ujar In Guk jujur apa adanya.

"...karena aku mencintaimu, hyung!" tambah Siwon membuat Eunhyuk merasa bahwa kini matanya terasa panas dan mulai berkaca-kaca.

"Hikss..." sebuah isakan sukses keluar dari bibir cherry yang sedari tadi bungkam itu membuat In Guk kini berani untuk memeluk tubuh Eunhyuk dan membiarkan namja manis itu menangis dalam pelukannya.

Entah mengapa, melihat In Guk yang kini tengah memeluk Eunhyuk di hadapannya, Hoya refleks membuang wajahnya tak ingin melihat. Ingin sekali rasanya Hoya memukul-mukul dadanya yang kini benar-benar terasa sakit. Namun ia tak bisa, karena ia tak tau apakah rasa sakit ini murni karena suatu penyakit, atau malah... karena hal yang lain.

.

.

Incheon Airport 14:30

.

Helaan nafas lelah kembali keluar dari mulutnya. Air mata yang semula sudah berhenti kini kembali mengalir membasahi pipinya. Beberapa orang yang berlalu lalang dan menyadari keadaan Sungmin hanya mampu menatap namja manis itu iba.

Tangannya bergerak meremas dadanya yang terasa sakit. Kepalanya menunduk menatap lantai, kemudian menutup matanya rapat. Membiarkan tetesan air matanya jatuh membasahi celana bagian pahanya.

Sungmin masih belum percaya, dan ia tak akan bisa percaya bahwa semalam Kyuhyun mengusirnya begitu saja. Memberikannya sebuah koper berisikan uang dan sebuah tiket pesawat untuk pulang. Namun ia hanya mengambil tiketnya saja, membiarkan koper berisikan uang itu untuk Kyuhyun ambil kembali karena ia tak membutuhkannya.

Perkataan Kyuhyun semalam masih dapat Sungmin ingat dan bahkan kini mulai terngiang di gendang telinganya. Kyuhyun memang mengusirnya secara baik-baik, namun dengan cara seperti itulah Sungmin merasa bahwa kini dirinya tak jauh berbeda dengan sebuah sampah.

"Sungmin-ah!"

.

.

19:28

Taejun menuntun tubuh Sungmin menuju sebuah kamar. Tangannya melepaskan tubuh Sungmin sebentar untuk menutup pintunya rapat. Kemudian ia kembali menuntun tubuh namja manis itu untuk setengah berbaring di atas ranjang. Dengan telaten Taejun menempatkan sebuah bantal untuk menjadi sandaran Sungmin. Setelah dirasa beres, Taejun mengintruksikan tubuh Sungmin untuk bersandar pada sebuah bantal yang telah ia siapkan. Tangannya bergerak mengangkat kedua kaki Sungmin, kemudian meluruskan kedua kaki itu agar Sungmin merasa nyaman.

"Seharusnya kau tak perlu memberitahu apapun padaku..." Taejun menghentikan pergerakannya yang sedang menyelimuti kaki Sungmin selama beberapa detik. Kemudian ia kembali menyelimuti Sungmin sampai sebatas pinggang.

"Sungmin-ah..." Taejun duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi Sungmin, dengan kedua tangan yang ditautkan satu sama lainnya. Matanya sesekali melirik ke arah belakang, melihat keadaan Sungmin yang mungkin saja berubah tanpa sepengetahuannya.

"Mianhae..." ucap Taejun pelan.

"Tak ada yang perlu minta maaf dan dimaafkan karena semuanya telah terjadi." Balas Sungmin cepat.

"Aku benar-benar menyesal, Sungmin-ah..."

"Tak ada yang perlu di sesali karena kini sudah terlambat." Ucap Sungmin pelan.

"Hikss... kenapa semua ini harus terjadi padaku?" tangis Sungmin kembali pecah. Buru-buru Taejun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati alat pewangi ruangan dengan aroma therapy lalu menyalakannya. Taejun sengaja menyalakannya agar Sungmin bisa lebih menenangkan pikiran dan jiwanya. Setelah dirasa aroma therapy mulai menguar, Taejun kembali duduk di pinggiran ranjang.

"Hyung..." panggil Sungmin di sela isakannya yang terdengar pilu. Taejun sedikit membalikkan badannya agar bisa menatap Sungmin. Tangannya bergerak menyentuh kedua tangan Sungmin yang tengah meremas selimut, kemudian mengusapnya secara perlahan.

"Aku benar-benar jatuh cinta bajingan Cho itu... Kau harus bertanggung jawab hyung!"

.

.

"Mwo? Ahjumma tak tau aku siapa?" tanya Jb tak percaya. Yeoja paruh baya yang baru saja membukakan pintu itu hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan karena ia memang tak tau siapa Jb sebenarnya.

"Aisshhh... jinja!" Jb menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian kembali menatap ahjumma di hadapannya sembari berkacak pinggang.

"Naega, Lee Jae Bum! Nam-dong-saeng Lee Donghae! Neo molla?" jelas dan tanya Jb dengan sedikit penekanan pada kalimatnya.

"Ah~ jeongmalyo?" Jiae menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedikit terkejut atas pengakuan namja di hadapannya.

"Kajja! Masuklah!" seru Jiae mempersilahkan. Jb pun masuk begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih atau sebagainya. Ia membusungkan dadanya angkuh seraya melihat-lihat keadaan apartement Donghae seiring kakinya melangkah masuk lebih dalam.

"Uhuk!" Jb sengaja membuat dirinya terbatuk, bermaksud untuk menegur seorang ahjussi yang sedari tadi asyik menonton televisi dengan kedua kaki yang diangkat ke atas meja.

"Aigo!" Tuan Lee terkejut saat menyadari keberadaan Jb yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengetuk-ngetukkan sebelah kakinya pada lantai.

"Siapa kau?" tanya Tuan Lee menyelidik.

"Dia Jb, namdongsaeng Donghae." Jawab Jiae.

"Silahkan duduk!" ujar Jiae mempersilahkan. Jb mengangguk paham, kemudian ia duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tengah ini.

"Mian sedikit berantakkan." Ucap Jiae seraya membereskan lembaran koran yang berantakan serta mengambil beberapa bungkus makan ringan yang berceceran di lantai.

"Lain kali tolong jangan sampai seperti ini." Ucap Jb mengingatkan membuat Tuan Lee memicingkan matanya ke arah Hoya.

"Ne, mianhae..." Jiae berjalan menjauh dari ruang tengah dengan beberapa sampah di tangannya.

"Apa benar kau adik Donghae?" tanya Tuan Lee sambil menatap Jb dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Tentu!" jawab Jb mantap.

"Ah~ jeongmal? Tapi kenapa kalian tak mirip?" celetuk Tuan Lee. Jb hanya mampu menggigit bibir bawahnya dengan mata yang menatap Tuan Lee kesal.

"Ah, mian Jb-ah... jangan dengarkan perkataan ahjussi ini, ne!" seru Jiae seraya menyimpan secangkir kopi yang masih panas di atas meja.

"Kuharap kau suka kopi." Ucap Jiae dengan senyumannya. Setelahnya, ia kembali ke arah dapur dengan sebuah nampan di tangannya.

"Apa kau ada perlu dengan Donghae? Dia belum pulang sedari tadi." tanya dan jelas Tuan Lee mencoba membuat sebuah percakapan dengan Jb agar suasana tak terlalu canggung. Jb tak langsung menjawab, ia lebih memilih untuk sedikit menyesap kopi yang telah di sediakan.

"Aniya. Aku hanya ingin mampir saja." Jawab Jb seadanya. Menyadari Jb yang sepertinya typical orang yang tak begitu ramah seperti Donghae, Tuan Lee kini kembali fokus pada televisi di hadapannya.

"Ahjussi!" panggil Jb tiba-tiba.

"Ne?"

"Kau... appa Lee Hyukjae kan?"

"Ne, wae?"

"Aniya... hanya bertanya." Jb kembali menyesap kopinya.

"Darimana kau tau?" tanya balik Tuan Lee.

"Hae hyung banyak bercerita tentang kalian." Dusta Jb, memulai akal busuknya.

"Ah~ geureyo?" Tuan Lee menatap Jb tak percaya.

"Ne!" jawab Jb cepat.

"Ahjussi..." bisik Jb. Tuan Lee menatap Jb penasaran. Jb merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit miliknya.

"Ada baiknya kau segera mencari pekerjaan." Bisik Jb seraya menyodorkan sebuah kartu yang entah apa itu karena Jb menyodorkan kartu itu dengan keadaan terbalik. Tuan Lee tak langsung mengambil kartu itu, ia malah menatap kartu itu dengan tatapan menyelidik.

"Appa ku membuka sebuah restaurant baru di Korea. Dan disana..." Jb sengaja menjeda kalimatnya saat menyadari raut wajah ahjussi di hadapannya yang terlihat tak sabaran.

"...sedang di butuhkan seorang kasir." Sambung Jb.

"Aku yakin, dengan kemampuan kerjamu saat di sebuah perusahaan beberapa tahun yang lalu, kau pasti dapat dengan cepat mengalami kenaikan pangkat." Tambah Jb. Tuan Lee hanya diam mendengarkan, ia juga masih enggan untuk mengambil kartu yang sedari tadi terbalik di atas meja.

"Jangan merasa malu dengan posisi awalmu, ahjussi! Cobalah~ datang ke restaurant itu. Alamatnya ada dalam kartu itu. Dan datanglah hari kamis depan. Karena pada hari itu, appa ku akan mendatangi restaurant untuk memeriksa keadaan." Jelas Jb. Setelahnya, Jb bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi.

"Hhh~ Sampai kapan kau akan menumpang disini? Apa kau tak malu terus-terusan menganggur dan menafkahi keluargamu menggunakan uang orang lain?" Tuan Lee mengepalkan tangannya kuat. Sindiran Jb benar-benar sukses mengenai hatinya.

"Jika aku jadi kau, aku akan cepat-cepat mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk membelikan keluargaku sebuah rumah baru dan memulai kehidupan baru." Tambah Jb membuat Tuan Lee semakin mengepalkan tangannya.

"Pastikan tak ada yang mengetahui ini. Terutama Lee Donghae!"

.

.

.

TBC/END?

.

.

.


Gimana chapter ini? Memuaskan ngga?

Sedikit pemberitahuan, dalam chapter ini Naka sedikit menggunakan kata-kata umpatan yang biasa ada dalam drama Korea. Mungkin beberapa orang disini sudah tau apa arti dari kata umpatan itu, tapi Naka bakal kasih tau lagi karena siapa tau aja ada yang sering denger tapi ngga tau artinya.

Ket :

Siphal (시팔) artinya Fuck U

awas! Kata umpatan ini jangan sampai ketuker sama kata ssi pal (씨팔) yang artinya sial!

Imma (인마)artinya brengsek

Neo inma artinya sialan kamu

Saekkia(새끼) artinya U anjing

Atau mungkin bisa juga pakai kata gaesaekki (개새끼) yang artinya dasar binatang / jahanam kau / bangsat

Yangkee (양긔) artinya pelacur

Michin nyeon (미친년) artinya jalang gila


Nah, itu adalah arti dari kata umpatan dalam ff ini. Setau Naka sih, artinya gitu. Tapi, kalo emang ada yang salah tolong di koreksi ya~ ^_^

Dan sebenernya, masih banyak kata umpatan/makian yang Naka tau. Cuma, kalo semua kata kasar itu Naka masukin ke ff ini... hadoh~ kayaknya ff ini jadi ngga layak baca xD

Hehe...

Mungkin ini adalah update-an tercepat yang Naka bisa xD Semoga kalian suka :D dan mian kalo masih terdapat kesalahan dalam ff ini karena ini ngga di edit sedikitpun. Mian juga karena chapter ini lebih pendek dari pada chapter 13 kemarin #bow

Tapi, meskipun agak pendek semoga kalian tetap suka sama ff Naka yang satu ini :)

Yosh! Jeongmal gomawoyo bagi readers yang masih setia meluangkan waktunya untuk membaca dan memberikan REVIEW barang satu/dua patah kata untuk ff ini. Review yang kalian berikan selalu Naka baca dan menjadi sumber penyemangat disaat Naka frustasi untuk melanjutkan ff ini atau tidak. Dan untuk SIDERS... Naka ngga tau harus ngomong apa lagi sama kalian :)

Akhir kalimat, wanna REVIEW AGAIN please~?