Well, hello there guys, writer nyasar dari Fictionpress tiba-tiba nongol di sini (?)
Gak lah, ini Percy, writer kedua yang jauh lebih rendah pangkatnya dari si Kemon#plakplak
Tapi jujur loh, dia ini emang lebih dewa daaan *mulut dibekap*
Okeh, saya males banyak ngoceh, dan saya nulis author's corner ini gara-gara berkali-kali si kemon minta, so here's my special edition #plak
Daripada saya kebanyakan bacod sampe-sampe author's corner lebih panjang daripada ceritanya, check this out!
Lost Saga Online
A LostSaga Fanfiction
by Kdramon and Percyhood
Chapter 13: Palace War
"MENGHINDAR!" Alph memberi instruksi pada Chrono, namun Chrono menghiraukannya.
Sang Desperado yang bernama Tenma itu melakukan lompatan berputar sambil menembaki kedua sasarannya tersebut. Namun hal itu bukan apa-apa bagi Chrono, dengan mudah ia menangkis setiap peluru dengan wolf-swordnya.
"Bodoh! Sudah kukatakan menghindar! Kau tidak tahu siapa orang ini? Dia-" kata-kata Alph terpotong.
"Iya, aku tahu, anggota lain dari Tower of Heaven kan? Maka dari itu aku tak mau menghindar. Aku akan menyelesaikan ini, once and for all." Belum sempat memasang kuda-kuda, sabit tajam melintas tepat dihadapannya. Chrono memejamkan matanya, bekas luka tercipta di pipinya.
"Jangan sombong, yang melawanmu bukan hanya dia, bodoh, HAHAHA!" Beberapa sabit kembali dilempar oleh Saber. Ditambah dengan peluru-peluru yang dilontarkan Tenma, tidak mungkin bagi Chrono untuk hanya menangkisnya, ia harus menghindar.
Namun Chrono dan Alph tak menyadari bahwa serangan bertubi-tubi yang mereka terima hanyalah membuat mereka semakin jauh dari Sky dan Evory.
Chrono berlari kearah Alph yang terdiam, sedang mempersiapkan skillnya.
"Sudah kukatakan menghindar... tunggu, sayatan itu...?" Alph ingin menyentuh pipi Chrono yang terluka, yang tentu saja tidak mungkin ia lakukan.
"Saber, dan mereka mengincar kita, tepatnya, aku," Sabit lain menembus jubah Chrono. Melihat rivalnya sedang mencoba untuk menyakiti temannya itu, Alph tidak dapat tinggal diam.
"Jangan sentuh dia." Kata-kata itu keluar dari mulut Alph. Palu raksasanya sudah siap untuk memberikan pukulan home run kepada siapapun yang menghiraukan kata-katanya.
Saber tersenyum, sementara Tenma hanya berjalan perlahan, sembari mereload kedua revolvernya dengan cepat.
"Ha-ha-ha" tawa Saber terputus-putus, memberi kesan penghinaan terhadapa kata-kata Alph. "Mustahil aku tak menyentuh bocah werewolf itu, khususnya aku pernah berjanji untuk membunuhnya, dan aku tak akan menarik kata-kataku kembali! HAHAHA!"
"Saber, itu bukan tujuan utama kita, bodoh," Tenma mengingatkan dengan datar.
"Aku sudah katakan, jangan sentuh-" nada Alph mulai naik, namun langsung berhenti ketika tubuh Chrono melangkah kehadapannya.
"Bukan aku yang akan mati, kau yang akan mati." Chrono terdiam, setiap gerakannya terlihat elegan, yang entah mengapa membuat jantung Alph berdetak lebih kencang.
Dari arah lain, suara auman singa terdengar. Langit disekitar menjadi gelap, awan-awan dipenuhi dengan guntur.
"Chrono!" Sky memanggil dari jarak yang cukup jauh. Dengan kepercayaan diri penuh, ia mencoba untuk memanggil petir raksasa.
"Crescent, mereka milikmu," Tenma berkata dengan santai, dan sesosok bayangan muncul dibelakang Sky dan Evory.
SYAT! Suara sayatan terdengar menghantam punggung mereka berdua, sosok seorang pengguna crescent blademuncul diantara mereka.
"Sky! Evory!" gerakan Chrono dihentikan oleh peluru Tenma yang melesat tepat didepan kakinya.
"Lawanmu adalah kami, bukan Tao Warrior itu." Tenma mulai berlari menantang Chrono, bersiap untuk menembak. Chrono hendak berlari kearah Tenma, ketika ia sadar bahwa Saber sedang mengincarnya dari jauh.
Terlambat, Chrono tak dapat menghentikan gerakannya. Ia menghantam jatuh Tenma dengan pangkal pedangnya, namun sabit sudah berputar tepat kearahnya. Ia tak terlindungi.
TRANG! Sabit itu terhantam ketanah, menimbulkan suara dentingan yang keras. Palu Alph dengan tepat menghentikan sabit Saber.
"Aku takkan memaafkanmu, SABER!" muka Alph memerah, emosi yang meluap-luap akhirnya dilepaskan Alph.
"This is the spirit! HAHAHAHA!" Saber melakukan lompatan tinggi dan melakukan gerakan berputar diudara, bersiap untuk menyayat tubuh Alph dengan sabit-sabit yang berputar disekeliling tubuhnya.
Namun Alph lebih cepat, palu raksasanya menghantam Saber dengan mudah, mementalkannya jauh ke arah sebuah kios yang menjual merchandise LSO. Kios itu hancur, menyisakan action figure Hero-hero dari LS yang berserakan dimana-mana.
"Saber bodoh," gumam Tenma yang sudah dalam posisi berdiri.
"Dan kau cukup bodoh untuk bekerjasama dengan orang seperti dia," sindir Chrono, meskipun tidak digubris oleh Tenma.
Sementara itu, Sky kembali berdiri. Dengan cepat ia mengambil Lightning Staffnya yang terlempar dari tangannya. Sedangkan Evory dengan mudah kembali ke posisi berdiri akibat efek Pounce dari ekornya.
Crescent memasang kuda-kuda, tombak-berpisau-nya sudah siap untuk menyayat korban-korban lain di sekelilingnya.
Evory memulai serangan dengan berlari kearah Crescent, melompat, lalu melakukan gerakan mencakar dan berputar di udara. Namun serangan itu memberikan dampak yang tidak berarti bagi Crescent.
Dari sisi lain, Sky melompat dan menembakkan petir kecil dari staffnya kearah Crescent yang dengan mudah menepisnya.
"ROAR!" Auman raksasa dikeluarkan oleh Evory, membuat Crescent terlempar kearah Sky.
"Thunderbolt!" Sebelum Crescent terjatuh, Sky mengeluarkan listrik dari tangannya yang seolah-olah merupakan pedang, lalu mengarahkannya kpada Crescent. Tersengat, Crescent tak dapat melakukan apa-apa.
Namun suatu kesalah-pahaman terjadi.
"Spin Strike!" Evory melakukan gerakan berputar, dan layaknya roda dengan gerigi tajam, Evory mengarah ke Crescent, namun terlambat, Crescent terlebih dahulu melompat dan menghindar jauh. Tanpa sadar, Evory menghantam Sky yang sebelumnya berada dibelakang Crescent.
Sky yang sedang mencoba berkonsentrasi untuk memanggil petir, tanpa sengaja melakukan pemanggilan petir ketika serangan Evory mengenainya. Celakanya lagi, sambaran petir itu mengarah tepat ke Evory, memakan setengah nyawa yang dimilikinya. Mereka berdua tersungkur, terjatuh ke tanah akibat serangan yang salah sasaran itu.
Crescent dengan leluasa bergerak disekeliling mereka.
"Wind Shock," dengan suatu gerakan mendorong, Sky dan Evory terlempar, nyawa mereka semakin berkurang.
"Sky Shatter," Crescent melakukan gerakan memukul tanah, dan seketika tanah disekitarnya retak, mementalkan Sky dan Evory, tinggi di langit malam yang mulai terasa mencekam.
Mereka berdua terjatuh dari ketinggian yang cukup mengerikan, yang paling tidak, sanggup untuk meremukkan badan mereka jika ini bukanlah Game. Namun sebelum mereka menghantam tanah, Crescent memberikan serangan penghabisannya.
"Wild Dance!" Crescent memutarkan tongkatnya secara horizontal, mengirimkan gelombang-gelombang sayatan yang menghempaskan Sky dan Evory, jauh menabrak dinding-dinding bangunan yang ada di Korea Palace. Mereka tersungkur, Bar HP mereka tidak lebih dari seperempat yang tersisa.
"SKY! EVORY!" Chrono terus menghindari peluru-peluru Tenma, sementara ia mencoba untuk berlari kearah Sky. Namun hal selanjutnya yang ia lihat, membuat amarahnya meluap.
"SPINCUTTER!" Dari jauh, Chrono dapat melihat Saber yang tengah memukul mundur Alph. Gerakan berputar-dengan-sabit yang dilakukan Saber akhirnya menembus pertahanan Alph dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tak berdaya, Alph menghantam tanah.
Chrono dapat melihat gerakan tangan Alph yang mengutak-atik inventorynya, ia tahu apa yang akan Alph lakukan. Dengan kecepatan tinggi Chrono berlari kearah Alph, lalu menyambar tangan kanan Alph yang hampir melakukan kesalahan fatal.
"Kumohon, jangan gunakan senjata itu lagi." Genggaman tangan Chrono cukup kencang, namun Alph dapat merasakan hal lain, ketenangan.
"Tapi... mustahil kita bisa kabur dari mereka dengan kondisi seperti ini!" Alph menggerutu, mukanya terlihat mulai panik.
"Izinkan aku untuk..." kata-kata Chrono terpotong.
"Jangan, jangan Wolf-form! Kau belum menguasainya secara penuh!"
"Tak ada jalan lain! Ini lebih baik daripada mengorbankanmu!" Tanpa sadar Chrono mengatakan hal tersebut, genggaman Chrono langsung dilepasnya, sementara muka Alph terlihat sedikit memerah. Dia masih berpikir tentangku, gumam Alph dalam hati.
"Aku tak mau melihatmu lepas kendali untuk kesekian..."
"Takkan terjadi, pecayalah." Chrono mengambil beberapa langkah menjauh dari Alph, ia memejamkan matanya.
Pinjamkan aku kekuatanmu, seluruh kekuatanmu, gumam Chrono dengan pelan.
Tiba-tiba suara Chrono menjadi berat dan berlipat ganda. O the Goddess of Wolves, lend me your spirit!
Seketika tercipta kabut biru yang muncul dari tanah dimana Chrono berpijak, tubuhnya terselimuti kabut tersebut, semakin tidak terlihat, tidak terlihat, dan akhirnya menghilang. Tak ada yang dapat menemukan keberadaan Chrono ketika kabut itu menipis.
"HAHA! Gagal dalam melakukan transformasi dan akhirnya mati? Dasar Werewolf bodoh!" Saber mengeluarkan tawa sarkastisnya, namun Alph tidak terpengaruh, ia tetap diam sambil mencari-cari HP potion di inventorynya.
"DASAR BODOH! LIHAT DIBELAKANGMU!" Tenma berteriak ke arah Saber. Sekelebat bayangan biru muncul dibelakang Saber. Belum sempat berbalik, cakaran keras diterima oleh Saber, mementalkannya kearah Tenma.
Hantaman Saber terlalu cepat dan keras, menyebabkan Tenma tak dapat menghindarinya. Mereka berdua menghantam dinding, memberikan efek retak yang cukup parah pada dinding tersebut. Nyawa mereka terkuras seperempat.
Tenma bangkit terlebih dahulu, matanya memancarkan hasrat membunuh.
"Spin Shot!" Ia memejamkan matanya, lalu menembak ke sekelilingnya. Sekilas terlihat bahwa ia hanya menghabiskan peluru saja, namun tiba-tiba sesosok Werewolf tergeletak. Chrono tak dapat menghindari serangan tersebut. Namun itu tidak berlangsung lama. Dengan kemampuan "Pounce"nya sebagai Werewolf, Chrono kembali menghilang dari pandangan.
Masih memejamkan matanya, dengan kecepatan tangan diatas rata-rata, Tenma mengkokang salah satu revolvernya, mengisinya dengan sebuah benda yang digalinya dari inventorynya, sebuah peluru emas.
Tenma mengarahkan revolvernya kedepannya, diangkatnya sedikit sehingga revolver Tenma mengarah 45 derajat ke depan. Peluru ditembakkan, dan dalam sepersekian detik, ledakan besar muncul dihadapan Tenma, menampakkan sesosok serigala yang terlempar ke depan Alph.
"TIDAK!" Alph yang baru memulihkan nyawanya, tak dapat menahan tangis ketika melihat pertahanan Werewolf Chrono ditembus dengan mudah oleh Tenma. Dihadapannya, orang yang paling ia lindungi, terkapar tak berdaya dengan diselimuti asap-asap bekas ledakan. Namun ia tidak menyadari apa yang sedang mengincarnya.
"LENGAH!" Dari belakang, Saber yang bangkit entah sejak kapan, mengarahkan sabit-sabitnya kearah Alph. Meski tidak siap, gerakan Alph yang gesit sudah cukup untuk menahan serangan Saber.
Dengan raut muka marah bercampur sedih, Alph mengayunkan palunya, mencoba untuk menghantam saber sekuat tenaga. Tetap saja, mudah bagi Saber untuk menghindar dari palu raksasa Alph.
Tak ada pilihan. Maaf Chrono. Ditangan kiri Alph tercipta bayangan samar-samar yang memancarkan aura kuat.
Sementara itu Sky dan Evory sedang bersusah payah untuk menghindari setiap serangan Crescent, dan disaat yang sama mereka mencoba untuk mendekat kearah Chrono dan Alph berada.
Evory mengalihkan perhatian Crescent sementara Sky berkonsentrasi, mencoba untuk memanggil petir untuk kedua kalinya.
"LIGHTNING!" sekali lagi, serangan Sky tidak mengenai apapun. Mereka hanya dapat kabur, kabur dan kabur, tanpa bisa mendekati Chrono ataupun Alph.
"SABEEEER!" Luapan amarah Alph semakin menggebu-gebu. Serangan lincah diberikan Alph dengan menggunakan palu dan scythe yang ada digenggamannya. Meskipun begitu, Saber masih dapat menghindari serangan-serangan tersebut, sampai akhirnya...
BAAAAAM! Sebuah ledakan menabrak Saber. Bukan, itu meteor, meteor dari seorang Fire Mage.
Nyawa Saber berkurang, ia tak dapat bangkit dengan mudah akibat efek api tersebut. Alph memanfaatkan kesempatan itu dengan menghujamkan ratusan serangan kearah Saber, memakan nyawa Saber perlahan-lahan hingga menyentuh titik 0 point.
"S-sial kau Alph!" Eksistensi Saber memudar, sosoknya mulai menjadi transparan. Sekelibat mata, sosok Saber terpecah belah layaknya kaca yang dibanting dengan keras. Pecahan-pecahan itu naik kelangit, menghilang terbawa angin yang bertiup kencang.
"Saber bodoh..." Tenma hanya dapat menggelengkan kepalanya, mengetahui bahwa salah satu anggotanya sudah pergi dari dunia LSO. Namun ia tak menyadari kehadiran seseorang—bukan, ada dua orang lain tepatnya yang muncul secara misterius diantara pertarungan mereka.
"Lulu! Pelukan tanganmu terlalu sakit! Lepaskan!" Terlihat seorang Fire Mage sedang meronta-ronta dengan lembut, mencoba melepaskan lengannya dari pelukan seorang Ice Mage. Ice Mage itu menurutinya, namun ekspresinya terlihat sangat kesal.
"Pertama, apa kau tak bisa membedakan SUMMON METEOR dengan TELEPORT? Kau menghabis-habiskan skillmu dengan menggunakan Meteor padahal yang kita ingin lakukan adalah berteleport! Kedua, JANGAN PANGGIL AKU LULU!" Ice mage itu mengayunkan Icicle staffnya dan menghantamkannya ke kepala sang Fire Mage.
"AWW! Itu lebih buruk daripada pelukanmu!" Fire Mage itu berteriak secara spontan.
"J-jadi, kau menganggap pelukanku itu b-buruk..." suara sang Ice Mage bergetar, suara seseorang yang marah, dan sedang menahan tangisan.
"U-umm, aku tak bermaksud untuk—" Kata-kata Fire Mage itu terpotong ketika ia melihat sosok Chrono yang tergeletak serta sosok Alph yang sudah menyimpan scythenya.
"Chrono... Alph? Sudah kuduga lightning asal-asalan tadi adalah milik Sky! Aku yakin dia ada disekitar sini!" Sang Ice Mage mulai menoleh ke kiri dan ke kanan, namun yang dapat ia temukan hanyalah sosok Tenma yang sedikit mematung melihat kedatangan kedua mage ini secara tiba-tiba.
Chrono mencoba untuk bangkit berdiri dan mengembalikan keseimbangan tubuhnya, "Sky ada disekitar tempat ini, dan ia butuh bantuan kalian. Maaf aku tak dapat melindungi dirinya dengan baik... Apollo, Luna!"
-Chapter 13, End-
Nah, begitulah akhir dari Chapter 13, muahahahaha!
Maaf yah asal-asalan karena dikejer deadline... #plak
Iyah, romancenya ga seru yah, nanti deh, urusan si Kemon aja kalo romance mah.
Saya pergi dulu, RnR please~
Jaa nee~
