Kilauan warna jingga menyambutnya ketika memasuki ruangan. Langkahnya perlahan bergema memecah keheningan. Dikelilingi bau chlorine pekat, Kaizuka Inaho duduk di samping ranjang. Menatap pada sosok yang terlelap dengan selang menjerat tubuh.
Satu jemari menelusuri selang di tangan pasien hingga ke pergelangan. Dengan lembut, disentuhnya perban yang membungkus pergelangan tangan pemuda itu. Mengusapnya pelan sebelum membawanya mendekat.
Menatap perban di tangan lekat, sang Letnan yang terkenal berwajah datar kini tak lagi dapat mempertahankan ekspresinya. Kepalanya tertunduk hingga menubruk tepian ranjang sementara bibirnya bergumam. Sekalipun ia tahu takkan ada yang mendengar.
"Hei," ucapnya seraya menundukkan kepala, "mari kita hentikan semua ini."
Tak ada jawaban. Pertanyaannya disambut oleh bunyi mesin pendeteksi aktivitas jantung di sisi kanan pasien. Bunyi statis dan stabil yang melegakan sekaligus membuatnya kesepian.
"Sedari awal, seharusnya kita tak pernah bertemu," Inaho berkata lirih. "Kau tak perlu mengenalku dan aku pun takkan mengenalmu.
"Dengan begitu," ujar Inaho sembari mengangkat lengan pemuda yang terbaring tak bergerak,"kau tak perlu melarikan diri dariku, Slaine."
Sekali lagi perkataannya tenggelam bersama dengan detik jarum jam. Suaranya pun lenyap sementara kepalanya tertunduk. Sesaat ia tak bergerak, hingga suara ketukan di pintu menyadarkannya.
Seiring dengan berakhirnya bunyi ketukan, pintu mengayun terbuka dan seorang pria masuk. Pandangan matanya langsung tertuju ke tengah ruangan di mana sang Letnan dan pasien yang terbaring di atas ranjang berada. Berjalan mendekat hingga kakinya berhenti di samping sang Letnan.
"Kau baik-baik saja, Einstein?"
Inaho tak menjawab. Ia membiarkan pria itu meletakkan tangan di bahunya dan malah bertanya, "Kenapa kau di sini, Calm?"
Calm Craftman menarik napas pelan sebelum balas menjawab, "Aku hanya mengkhawatirkan sahabat baikku. Apa seharusnya aku tak boleh datang?"
Sekali lagi, Inaho tak menggubris pertanyaan Calm. Ia tetap diam di kursinya dengan pandangan tertuju pada si pasien. Untungnya Calm cukup sabar, ia tak ambil pusing dengan sikap sang Letnan.
Tanpa banyak bicara, Calm menepuk pundak Inaho dan mendekat pada pasien. Sikapnya membuat Inaho menaruh perhatian padanya.
"Kau tahu, ini pertama kalinya aku melihatmu semarah itu."
Manik merah Inaho menyipit. Ia tetap bungkam.
"Bahkan ketika Ratu Asseylum nyaris terbunuh oleh Rayet pun kau tidak semarah itu," Calm berkata sembari menarik diri, memicingkan manik gelapnya ketika melihat data aktivitas jantung si pasien. "Tapi kemarin, aku sampai tidak mengenalimu."
Tak ada jawaban. Ekspresi datar yang ditunjukkannya tetap sama.
"Aku tidak mengerti kenapa kau begitu marah pada para penjaga karena seorang tawanan mencoba bunuh diri." Calm berkata lagi. "Kau sendiri tahu bahwa tak ada yang peduli pada tawanan ini. Bahkan eksistensinya disangkal oleh dunia dan kelompoknya, tapi kenapa kau begitu marah ketika ia mati?"
Inaho menghela napas. Ia sudah bosan dengan perdebatan ini. Tanpa banyak bicara ia pun berkata, "Keluar!"
" Einstein!"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu." Inaho berkata, tegas dan dingin. "Keluar!"
Calm mengerjap. Baru kali ini sang Letnan berbicara dengan nada yang enggan dibantah. Mendengarnya cukup membuat Calm terkejut, namun ia berusaha tidak menunjukkan. Sembari mendengus pelan, ia menyeringai sinis pada sang Letnan dan berkata, "Sungguh! Kau tidak seperti dirimu yang biasa, Einstein!"
Inaho tetap diam mengabaikan komentar Calm sepenuhnya. Melihatnya, Calm pun tak mau mempermasalahkannya lebih lanjut. Diletakkannya satu tangan di bahu Inaho sambil berkata, "Aku akan keluar, tapi ada yang harus kusampaikan padamu sebelumnya."
Kepala sang Letnan bergerak sedikit. "Soal apa?"
Calm mengedikkan kepala, "Tawanan itu, tentu saja. Sesuai instruksi yang kau berikan untuk menyelidiki CCTV dan mengecek jalur keluar masuk dalam dua bulan ini."
"Dan hasilnya?"
"Sesuai dugaan, salah seorang petugas yang mengawal Slaine adalah imposter," ujar Calm. "Setelah bekerja sama dengan kepolisian setempat, kami menemukan bahwa orang itu sudah meninggal sekitar dua bulan lalu dan jasadnya ditemukan seratus kilometer dari tempat tinggalnya."
Tangan Inaho mengepal. Calm yang melihatnya pun memutuskan untuk menjauh sedikit. Menegakkan badan, pria itu menyipitkan mata menatap Slaine.
"Orang itu pula yang menyelundupkan benda tajam dan membuat tawanan kita mencoba mengakhiri hidupnya," lanjut Calm. "Tapi entah apa yang dikatakannya hingga tawanan kita ini memutuskan untuk menyayat pergelangan tangannya.
"Tak perlu," gumam Inaho pelan, "Tidak perlu mengatakan apa pun,"
Calm menoleh padanya, "Kau mengatakan sesuatu, Einstein?"
Sang Letnan kembali menutup mulutnya. Menggelengkan kepala, Inaho berkata, "Dia tidak punya catatan mengenai kesehatan mental."
"Oh?"Calm berkata dengan alis terangkat. "Kalau begitu kuharap kau punya teori yang lebih bagus atas percobaan bunuh diri yang ia lakukan, Einstein."
"Dia...," ujar Inaho sambil menatapnya, "hanya mencoba melarikan diri."
"Ng?"
"Dan kali ini pun, ia gagal." Inaho berkata sambil menatap sang tawanan.
Calm memikirkan perkataan Inaho. Dengan serius ia berkata, "Jadi maksudmu, ia mencoba melarikan diri dengan petugas yang menyamar itu, tapi karena upayanya gagal maka ia memilih untuk bunuh diri? Begitu? Perfeksionis sekali."
Tidak. Inaho ingin menyanggah, namun ia tak melakukannya. Dalam diam, ia kembali menatap pemuda yang terbaring. Satu tangannya membungkus erat jemari pemuda itu. Bersama dengan itu ia pun menundukkan kepala.
Slaine Troyard tidak pernah menderita penyakit mental. Dan dia juga tidak perfeksionis sehingga memilih untuk bunuh diri karena upayanya gagal. Inaho mengenalnya lebih baik dari itu. Itu sebabnya ia tak terkejut mendengar bahwa pemuda itu langsung menyayat tangannya ketika seseorang memberinya senjata tajam.
Ternyata, setelah semua upaya yang ia lakukan, pemuda itu masih tetap menganggapnya musuh. Dan bagi pemuda itu, berada di sisinya adalah hal yang paling tidak bisa ditolerir. Hingga ia memilih untuk melarikan diri ke tempat yang takkan bisa dijangkau Inaho.
Disclaimer : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini.
Aldnoah Zeroby Gen Urobochi
Ordinary Daysby cyancosmic
.
.
.
Enjoy!
Day 14 : Classroom Window
Suara letupan senjata menghiasi ruangan. Keheningan melanda untuk sesaat sebelum terdengar bunyi tubrukan besi dengan lantai. Menyusul setelahnya, seorang pemuda pun tumbang dengan tubuh menghantam permukaan ubin yang dingin.
Tak lama setelahnya, seorang pemuda bertubuh tinggi dan gadis berambut merah muda menghampiri. Keduanya mendekat sementara pandangan mata mereka mengawasi tubuh yang tak bergerak. Untuk sesaat keduanya tetap bungkam hingga mendadak Slaine kehilangan keseimbangan dan salah satu dari mereka harus menopangnya.
"Slaine-sama!" Harklight yang terkejut langsung menyangga tubuhnya, "Kau baik-baik saja?"
Mengangguk pelan, pemuda berambut perak platina itu meletakkan satu tangan di atas lengan Harklight. Manik birunya tertuju pada tubuh yang tak bergerak di hadapannya. Menyipitkan mata ia pun berkata, "Aneh."
Harklight mengulangi ucapannya sementara Lemrina menatapnya bingung. Gadis itu pun tak sabar mengungkapkan keingintahuannya dengan berkata, "Apa maksudmu, Slaine? Apa yang aneh?"
Slaine mengangkat satu tangannya yang gemetar, menghadapkannya ke depan dan berkata, "Ini bukan pertama kalinya aku menembaknya, tapi-"
"Tapi?"
"Ada yang salah," ujar Slaine sambil menatap tangannya yang bergetar tak henti, "mungkin aku seharusnya tak menembaknya."
"Jangan bicara sembarangan!" Lemrina dengan cepat menyahut. Ia pun berkata, "Dia ini rival yang menyusahkan. Bagus bila akhirnya kau berhasil membunuhnya, Slaine."
Alis Slaine berkedut. Dalam hati bertanya-tanya apa keputusannya untuk mengotori tangannya dengan darah pemuda itu sudah benar? Bila itu benar, mengapa ia merasa tak tenang setelah membunuhnya?
"Ayo!" Lemrina berkata sambil bergerak menarik Slaine, "Kita tidak punya waktu, sebaiknya kita segera kembali."
Di sampingnya, dengan suara gemetar Slaine berkata, " Apa … aku benar-benar membunuhnya?"
"Tentu sa—"
"Biar aku yang mengecek," ujar Harklight memotong ucapan Lemrina. Ditinggalkannya Slaine bersama dengan sang Putri sementara ia mendekat pada Kaizuka Inaho. Diambilnya satu tangan pemuda itu dan ia mendengarkan.
Di belakang, Slaine menyipitkan mata. Tangannya gemetar dan ia tak punya alasan bagus untuk menjelaskan. Ia tak mengerti, ini bukan pertama kalinya ia menembak pemuda itu. Tapi kenapa tangannya terus bergetar tak henti dan tubuhnya menggigil. Perlahan-lahan napasnya menjadi sesak dan ia harus memegangi tenggorokannya untuk mengurangi siksaan yang mendera.
"Slaine!" Lemrina berteriak panik begitu melihat pemuda itu memegangi tenggorokannya sendiri. "Slaine!Ada apa? Kau baik-baik saja?"
Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Ia menoleh pada Lemrina, mengulurkan tangan yang disambut segera oleh gadis itu. Namun sekalipun gadis itu menggenggamnya erat, paru-parunya tetap sesak, menolak mengambil udara.
Samar-samar, Slaine bisa mendengar Lemrina memanggilnya. Sayang kegelapan menariknya lebih kuat. Suara Lemrina semakin tenggelam sementara ia masuk ke dalam kegelapan.
Gelap. Dingin. Sesak. Ini cara terburuk untuk mati. Sebagai salah satu Orbital Knight tak pernah terbayang bahwa pneumonia akan menjadi dewa kematian baginya. Mati di tangan musuh jauh lebih terhormat dibanding ini. Sejelek-jeleknya, mati di tangan rivalnya akan jauh lebih baik.
Rival? Dulu ia memang punya seorang tapi sepertinya sebutan itu sudah tak cocok lagi untuknya. Orang yang dulu menembaknya jatuh dari Sky Carrier justru adalah orang yang paling dulu menghampirinya ketika ia tersiksa meraih udara. Orang yang ia lubangi kepalanya hingga menyisakan rongga kosong, justru menjadi orang yang tak pernah melepaskan pandang darinya. Orang yang dianggapnya telah merebut hal yang paling berharga untuknya, justru memberikan semua waktunya hanya untuk berada di sisinya. Bila demikian, apakah ia masih pantas disebut rival?
Aneh.
Sungguh aneh.
Selama ini ia mengira bahwa Kaizuka Inaho adalah penjara hidup yang menghalangi kebebasannya. Melenyapkannya berarti satu langkah menuju hidup bebas yang selama ini ia impikan. Tapi setelah semua ia lakukan, kenapa ia justru tersiksa? Kenapa ia justtu menderita dan bukannya merayakan kebebasannya? Di mana kebebasan bila ia sendiri tak bisa merasakannya? Apa gunanya ia menarik pelatuk dan melubangi kepala pemuda itu sekali lagi?
Tidak ada.
Sekarang sudah terlambat. Di dunia ini mungkin hanya Kaizuka Inaho seorang yang akan berada di sisinya. Tapi ia malah menghabisi orang itu dengan tangannya sendiri. Ia membunuh orang yang paling menginginkan keberadaannya di dunia ini.
Slaine menjerit. Ia tak bisa memaafkan dirinya. Kebodohannya membuatnya melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Sedari awal seharusnya ia mati saja. Seharusnya ia tak pernah ada.
"Tenanglah!"
Kaget. Slaine membuka mata. Sekelilingnya masih gelap gulita namun ia yakin ia mendengar suara sebelumnya. Siapa gerangan yang berbicara?
"Kau akan baik-baik saja."
Manik birunya menyipit. Suara itu tak asing. Ia pernah mendengarnya di suatu tempat.
Untuk sesaat, suara itu tak terdengar. Tapi sebagai gantinya, sinar terang yang ia lihat semakin membesar dan suara itu terdengar lagi. Suara yang sama yang membuatnya mengangkat satu tangan, mencoba meraih si pemilik suara.
'Siapapun itu,' pikirnya sembari mengulurkan tangan, 'tolong aku.'
Ketika berpikir demikian, tangan yang kokoh menarik tangannya. Saat itu juga kegelapan sirna dan sinar terang menyelimutinya. Mendadak tangannya diselubungi kehangatan yang tak pernah ia rasakan.
"Aku di sini."
Terkejut, manik birunya terbuka. Mengerjapkan mata, Slaine menatap sekeliling. Di sekitarnya pemandangan sudah berganti. Tidak ada ruang kelas dengan bangku bertumpuk di sudut. Tidak ada Lemrina, tidak ada Harklight, yang ada hanya selimut kotak-kotak berwarna merah dan pemiliknya.
"Hei!"
Slaine menggerakkan kepala, berusaha mendapatkan pandangan yang lebih baik. Manik birunya menyipit melihat orang yang duduk di samping ranjang. Orang itu menggenggam tangannya erat dan mendekat ketika melihatnya terjaga.
"Bagaimana keadaanmu?" Orang itu bertanya. "Apa ada yang sakit?"
Slaine menggeleng. Pandangannya masih terkunci pada sosok itu. Ia membuka mulut namun suaranya tak terdengar.
"Biar kuambilkan minum!" Bangkit dari tempat duduk, pemuda berambut cokelat gelap itu mengambil air dari sisi tempat tidur dan memberikannya pada Slaine. Dengan sabar ia menunggu hingga Slaine selesai mencecap dan menghabiskan isi gelasnya. "Berikan padaku gelasnya!"
Dengan patuh, Slaine menyerahkan gelas pada pemuda di hadapannya. Manik birunya tak sekejap pun lepas dari pemuda di hadapannya. Sikapnya membuat pemuda itu menoleh dan menggerakkan kepala, menatapnya langsung.
"Ada lagi yang kau inginkan?"
Sekali lagi Slaine membuka mulut. Ia tak terkejut menemukan suaranya terdengar sangat parau dan nyaris seperti bisikan.
"...Ho."
"Hm?"
"I... naho Kai...zuka."
Manik merah pemuda itu melebar, walaupun demikian tak ada ekspresi berarti di wajahnya. Wajahnya tetap setenang biasa. Ia diam menunggu Slaine melanjutkan ucapan.
Namun demikian, ketika melihat airmata menetes dari bola mata Slaine, ekspresinya berubah. Sementara Slaine bersusah payah menghapus airmata, pemuda di hadapannya mendekat, menyentuh wajahnya dan menghapus airmata dengan ibu jarinya. Kekhawatiran mulai tampak walau ia menunggu hingga airmata Slaine berhenti.
" Ada apa?" Ia berkata dengan cemas, "Apa ada yang sakit?"
Slaine menggeleng sementara lawan bicaranya mengerutkan alis. Ia menatap Slaine sesaat dan seolah tersadar akan sesuatu ia pun bergerak mundur. Menarik tangannya dan menjauh dari tepian ranjang. Ekspresinya kala itu membuat airmata Slaine berhenti, namun ada rasa nyeri yang menusuk dadanya tatkala melihat wajah pemuda itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Pemuda itu berkata sambil melangkah mundur. "Akan kupanggilkan Dokter."
"Tung—"
Sebelum Slaine sempat menghentikan, pemuda itu telah, meninggalkan ruangan, membiarkannya sendirian. Airmata yang semula terhenti kembali mengalir. Sekali ini Slaine bahkan tak repot-repot menghapusnya.
Mengapa ia bisa lupa? Ia yang menarik pelatuk menembus kepala pemuda itu. Tentu saja inilah yang pantas ia terima. Pemuda itu berhak meninggalkannya. Setelah rasa sakit yang sedemikian besar yang ia torehkan, tak pantas bila ia terus mengharapkan perhatian pemuda itu. Justru pemuda itu bertindak benar dengan meninggalkannya.
Ia tahu inilah ganjaran akan perbuatannya. Tapi ia tidak mengira akan melihat ekspresi kesedihan di wajah pemuda itu. Ini membuatnya sakit, lebih dari rasa sakit yang ia rasakan setiap kali ia jatuh ke dalam kegelapan.
Kenapa harus Kaizuka Inaho? Di antara semua manusia di dunia kenapa ia harus menyakiti orang yang paling memerhatikannya selama ini?
Suara ketukan di pintu menyadarkannya. Seseorang masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya membuat Slaine menggerakkan kepala dan sedikit terkejut melihat sosoknya. Dengan rambut pirang yang diikat tinggi di belakang kepala dan senyum mengembang yang sama, gadis itu masih sama seperti yang diingat Slaine.
Masih sedikit gagap, Slaine pun berkata,"H-Hime-sama..."
Orang yang dipanggilnya Hime memberikan senyuman penuh arti padanya. Ia pun berkata, "Aku sudah bukan seorang Hime, Slaine, apa kau sudah lupa?"
Slaine menggeleng. Ekspresinya sedikit melembut mendengar perkataan gadis itu. Sudah jelas siapa yang berada di dalam tubuh gadis berseragam SMA di hadapannya. "Ternyata Anda juga berada di sini."
Asseylum mengangguk. Ia melangkah masuk ke dalam, menghampiri tepian ranjang dan mengambil tempat di salah satu sisi. Senyumnya tetap tersungging di bibir dan manik hijau zamrudnya melembut ketika melihat teman masa kecilnya. Padanya ia berkata, "Sudah lama kita tidak berbincang-bincang."
Anggukan diberikan dan Slaine berkata, "Suatu kehormatan, bisa berjumpa dengan Anda lagi."
Gadis berambut pirang itu mengangkat alis. Pandangannya menyapu dinding dan terus naik hingga ke langit-langit. "Aku pun senang bisa bertemu denganmu lagi, Slaine."
Mengerjapkan mata, Slaine tak menyangka akan mendengar sang Ratu berkata demikian. Ia tetap diam hingga Sang Ratu memanggil namanya dan memintanya mendekat. Dengan patuh, ia pun menuruti permintaan sang Ratu.
"Hi..-M-maksudku, Ratu Asseylum," ujar Slaine terbata-bata ketika kedua tangan sang Ratu melingkari tubuhnya, "apa yang Anda laku-"
"Hm...," Sang Ratu hanya memberikan gumaman pelan sementara ia memeluk Slaine erat. Slaine yang pasrah hanya dapat membiarkannya sembari bertanya-tanya, mengapa sang Ratu memeluknya.
"Slaine," panggil sang Ratu dengan nada yang sama seperti saat sang Ratu tersadar dari koma dan memanggil namanya berulang kali. "Slaine, Slaine, Slaine..."
"Y-ya," jawab Slaine bingung, "aku mendengarmu, Ratu, aku-"
"Slaine...," ucap sang Ratu memotong ucapan Slaine. Gadis itu mengangkat kepala. Manik hijaunya bertemu dengan manik biru Slaine. Lalu ia berkata, "Terima kasih karena tetap hidup."
"Eh?"
"Terima kasih," ucap sang Ratu sambil memeluknya erat, "terima kasih."
"R-Ratu?"
"Maafkan aku," ujar sang Ratu. "Aku pikir kau akan lebih aman bila berada di Bumi. Tak pernah kusangka akan berakhir seperti ini."
"Itu... bukan salahmu, Ratu." Slaine berkata. "Aku pun tak mengira akan jadi seperti ini."
"Seandainya aku mempertahankanmu di sisiku, aku... aku..."
Slaine menggeleng. Dengan lembut ia memegang tangan sang Ratu. Ia pun berkata, "Tidak apa. Ini bukan salahmu, Ratu. Jangan menyalahkan dirimu lagi!"
Ratu Asseylum menatapnya. Melihat ekspresi lembut di wajah sahabatnya, ia pun kembali tersenyum. Diambilnya tangan pemuda itu dan diselubunginya dengan tangannya. Ia menatap tangan yang saling bertaut itu dan ia tertawa kecil.
"Slaine yang dulu kukenal sudah kembali," ujarnya. "Slaine yang sangat kusukai."
Di hadapannya, Slaine hanya bisa tertawa kaku. Dulu, ia pasti akan memberikan apapun untuk mendengar gadis itu mengatakan hal tersebut. Tapi sekarang, ia tak tahu harus bereaksi apa, terlebih gadis ini sudah menjadi istri orang.
"Aku sudah merundingkannya dengan UFE," ujar gadis itu tiba-tiba, "dan kukatakan pada mereka bahwa aku akan membawamu kembali ke Vers."
Butuh waktu bagi Slaine untuk mencerna ucapan Asseylum. Ia mengulang perkataan gadis itu dan ketika Asseylum mengangguk, Slaine tak tahu harus berkata apa.
"Begitu kita kembali, aku akan segera membawamu dan aku akan membersihkan namamu. Kau akan diangkat sebagai Count Slaine." Asseylum berkata lagi. "Kau tak perlu lagi menjadi tawanan UFE. Kau sudah bebas."
Kalimat demi kalimat membuat mulut Slaine terbuka. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia pasti sedang bermimpi.
"Slaine?"
Menyadari Asseylum masih menunggu jawaban, tergagap Slaine berkata, "I-itu luar biasa, Ratu. Tapi—"
"Tapi?"
Tapi apa? Slaine juga tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Tawaran Ratu Asseylum sangat menggiurkan dan selama ini ia selalu ingin kembali ke sisi sang Ratu. Tak pernah ia sangka bahwa tiba harinya Asseylum sendiri yang mengizinkannya untuk kembali ke Vers.
Apakah ini betul-betul kenyataan? Atau ini hanya mimpi belaka dan ia akan terbangun dan menemukan dirinya masih berada di sel?
"Slaine," panggil sang Ratu lembut, "ada apa?"
Manik biru Slaine menatapnya. Satu tangan mencubit pipinya kuat-kuat. Sakitnya mengatakan bahwa tawaran ini bukanlah mimpi. Ia pun hanya bisa terpana sambil memegangi pipinya.
"Slaine?"
Ia membuka mulut. Tak ada lagi keraguan.
"Ratu Asseylum, aku—"
Semilir angin musim semi yang menembus melalui celah jendela membuat Inaho menggerakkan kepala. Sekilas ia menatap ke samping, ke arah jendela berderet menampilkan pemandangan di luar. Jemarinya menyentuh kaca dan membiarkan udara dingin merambat naik.
Manik merahnya menatap ke depan, memandangi beragam siswa di lapangan. Melihat mereka dengan warna seragam yang berlainan, berhiaskan peluh, bergerak begitu hidup. Benar-benar pemandangan yang sangat berbeda dengan dunianya.
"Berbeda sekali, bukan?"
Inaho menoleh, terkejut mendengar ada orang yang menyuarakan isi kepalanya. Namun ketika menyadari identitas pemuda di sampingnya, ia kembali menghadap ke depan. Tanpa mempertanyakan kehadiran orang tersebut, ia berkata, "Aku tak paham."
Senyum mengembang dan orang di sampingnya kembali berkata, "Lapangannya. Tak ada kataphrakts di sana. Hanya ada anak-anak dan segala jenis cabang olahraga."
Kepala Inaho terangkat, manik merahnya menyipit. Ia pun berkata, "Anda juga di sini rupanya, Raja Klaincain."
Senyum mengembang di wajah pemuda berambut pirang pucat. Manik birunya membentuk senyuman lembut dan ia menatap lapangan, mengikuti pandangan Inaho. Ia pun berkata, "Dunia yang sangat berbeda dengan dunia kita. Bukan begitu, Letnan Kaizuka?"
Inaho tidak menjawab. Ia tetap diam, menatap lurus ke depan.
"Dunia tanpa ada perang, tempat yang damai bagi anak sekolah. Tidak ada Kataphrakts dan tidak ada lagi murid-murid yang dipaksa mendalami latihan militer." Klaincain berkata seraya menatap sendu ke lapangan. "Aku benar-benar iri dengan orang-orang di dunia ini."
Mulut Inaho terbuka dan ia menunjuk dirinya sendiri, "Baginya, ini dunia yang membosankan. Dunianya yang terlalu biasa, dengan hari-hari yang juga biasa."
Klaincain menatap Inaho dan sekali lagi ia tersenyum. "Begitukah?"
Sang Letnan tidak menjawab.
"Kau sepertinya tidak setuju," ujar Klaincain begitu melihat Inaho bungkam. "Bagaimana menurutmu, Letnan? Apakah dunia ini dunia yang nyaman untuk ditinggali?"
Sang Letnan mengangkat kepala, menatap langit. Walaupun begitu, ia tetap bungkam sehingga Klaincain pun menyerah. Menghela napas, pemuda itu kembali menatap pemandangan di depannya.
"Kau tahu," ujar sang Raja yang tak kapok-kapoknya melibatkan Inaho dalam percakapan, "di sini aku melihat ayahku. Hidup dan sangat bersemangat sebagai Guru Matematika." Ia tertawa kecil sebelum lanjut berkata, "Benar-benar profesi yang cocok untuknya."
Inaho menoleh. "Aneh."
"Hm," Klaincain mengangguk. "Kurasa juga begitu. Padahal seharusnya ia sudah lama mati, tapi di dunia ini ia hidup dan bergerak.
"Itu berarti, teori Harklight dan Lemrina tidak seratus persen benar," lanjut Klaincain. "Mereka meyakini bahwa orang yang dibunuh di dunia ini, akan terbunuh juga di dunia satunya. Tapi baik ayahku, Thrillam dan Marilcian tetap hidup di dunia ini."
"Bukan itu."
"Ng?"
"Kau tahu bahwa teori itu tidak seratus persen benar," ujar Inaho sambil menatap sang Raja, "tapi kau menukar senjata yang digunakan Slaine dengan senjata lain."
"Ah!"
"Mengapa kau melakukannya?"
Klaincain tersenyum. Ia menyentuhkan dagu pada satu tangan dan menatap ke depan. "Bagaimana kau tahu? Kukira tak ada seorang pun yang tahu bahwa aku yang menukar senjatanya."
Inaho mengeluarkan peluru bulat putih dari dalam saku dan menunjukkannya. Manik merahnya terpaku pada Klaincain ketika ia berkata, "Senjata ini hanya peluru BB biasa, orang awam takkan menyadari bahwa senjata yang dibawa Slaine adalah senjata sungguhan. Hanya orang yang mengerti permasalahan yang terjadi yang tahu senjata apa yang dibawa Slaine dan menukarnya."
"Wah…"
Tanpa berkedip Inaho menatap sang Raja Vers dan berkata, "Kenapa kau melakukannya?"
"Yah..." Klaincain menggerakkan bola mata menghindari tatapan Inaho. Satu tangannya mengeluarkan senjata yang ia sembunyikan di balik baju. Dikosongkan dan dikeluarkannya peluru dari senjata tersebut sebelum menyerahkannya pada Inaho. "Kita tidak mau ada mayat seorang siswa, bukan?"
Manik merah Inaho masih menatap sang Raja. Memaksanya memberikan jawaban. Membuat sang Raja tak bisa berkutik hingga terpaksa menjawab.
"Kau sudah mengetahui rencana mereka," lanjut Inaho. "Kau tahu senjata yang akan mereka gunakan."
Klaincain tersenyum. "Begitukah menurutmu?"
"Aku tidak mau memusingkan bagaimana caramu melakukannya," tukas Inaho. "Aku hanya ingin tahu mengapa kau menukar senjatanya?"
Selama sesaat Klaincain tidak menjawab. Manik birunya tertuju pada pemandangan yang ia lihat dari kaca jendela. Beberapa menit kemudian baru ia membuka mulut untuk berkata, "Mungkin aku hanya tidak suka bertaruh dan mengambil resiko."
Inaho memicingkan mata mendengar ucapan sang Raja.
"Kau tentunya tahu seberapa tinggi nilaimu di mata kami, para Orbital Knights," ujar Klaincain sembari menggerakkan kepala dan menatap Inaho. "Dan kau juga tahu bahwa tanpamu kesempatan menang kami akan sangat tipis."
"Hanya karena itu?"
Mendengus, Klaincain pun berkata, "Jangan bilang hanya karena itu, bila teori mereka terbukti padamu, maka pemberontak-pemberontak itu akan menguasai Vers dengan mudah dan sia-sialah semua perjanjian yang kita buat selama ini.
"Apabila aku ingin membangun dunia seperti dunia ini, jalan yang harus kutempuh masih sangat panjang," ujar Klaincain. "Dan karenanya, aku tak boleh kehilangan pion terbaikku untuk menang. Apa jawabanku cukup, Letnan Kaizuka?"
Mendengus, Inaho memilih untuk tidak berkomentar. Tentu saja. Apalagi yang diinginkan seorang Raja Vers dari diriya selain sebagai senjata perang? Seharusnya ia sudah bisa menduganya.
"Lagipula, kau juga jaminanku untuk satu hal."
"Ng?"
Klaincain mengedipkan mata dan ia melompat dari meja yang sebelumnya ditempati. Dengan kedua tangan di belakang punggung, ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum ia keluar, ia berkata, "Kutunggu kalian di dunia sana."
Inaho mengernyitkan dahi. 'Kalian?' Apakah maksudnya UFE? Entah. Inaho tidak bisa memahami orang itu.
Menghela napas, Inaho kembali menggerakkan kepala. Pandangannya tertuju ke langit dan ia menatapnya sedih.
Dunia ini memang damai dan kedamaian adalah sesuatu yang didambakannya sebagai orang yang hidup di masa perang. Namun kedamaian tak berarti apa-apa bila ia hanya sendirian. Tanpa orang itu di sisinya, semuanya tak berarti lagi.
Ia tidak mau menghabiskan hari-hari yang membosankan. Menatap kebahagiaan orang lain seperti yang saat ini ia lakukan. Bila itu kedamaian yang dimaksud maka ia rela melakukan apa pun untuk kembali ke waktu di mana ia menghabiskan waktunya bersama orang itu. Tiga puluh menit sehari pun tak apa. Asalkan bersama orang itu...
Suara pintu yang digeser menyadarkan Inaho. Kepalanya diangkat dan ia mengira akan menemukan sosok Klaincain. Namun ia tak menyangka akan menemukan orang itu di hadapannya. Berjalan tertatih-tatih mencoba mendekat padanya.
"Akhirnya, aku menemukanmu."
Alis Inaho terangkat, "Kau membutuhkan sesuatu dariku?"
Pemuda berambut perak platina yang baru saja tiba itu mengangguk. Ia pun berkata, "
Kita...harus bicara, Orenji."
Manik merah Inaho melebar sedikit mendengar panggilan yang sudah lama tak didengarnya. Tanpa banyak bicara, ia pun turun dari meja yang ia tempati. Mendekat pada pemuda itu dan berkata, "Aku mendengarkan, Bat."
Orang yang dipanggilnya Bat pun mengangguk. "Jadi yang ingin kukatakan adalah—"
.
.
.
(t.b.c)
A/N:
Holla All, Cyan hadir! Akhirnya di tahun 2019 ini Ordinary Days kembali lanjut:D
Sebelumnya, mau curcol dikit. Kemaren ini pas mau lanjut, tiba-tiba, laptop rusak T^T dan setelah dibawa ke service centre butuh waktu seminggu. Oh no! Jadi terpaksa update pake hape. Sedikit nggak nyaman, tapi finally berhasil selesaiin satu chapter XD Yay!
Aniway :
Fujoshi-desu XD : hola partner! Apa kabar? Mari kita tengok chapter sebelumnya. Astaga! Dek Slaine emang gegabah ya, untuk ada Aa Klaincain yang uda paham banget kecerobohan Dek Slaine.
Hem, iya, Bang Naho mau ajak nikah, tapi uda ditikung aja ama Hime-sama. Abang Nao mau-maunya ditikung dua kali, masa? Moga-moga uda kapok dan segera sadar atau menyadarkan Dedek dari tikungan tajamnya Hime-sama.
Untuk dunianya, memang berbeda banget. Dunia student Slaine dan student Inaho sama dunia A/Z. Moga-moga Aa Klaincain berhasil menciptakan dunia yang lebih baik.
Umurnya, ehem, ini keinginan terpendam ane aja, yang pengen umur mereka sama :P makanya di dunia yang student umurnya mirip:D biar kalo Ultah, bisa rayain sama-sama di bulan Februari, dibarengin ama ultahnya Bang Nao dan kuenya cukup satu berhubung umurnya sama. XD
Onyx Dark Angel: oh, tentu tidak semudah itu, Ferguso. Hoho! Kalo Bang Nao uda cukup menyesal, ane pertimbangin kok :p
u'kyuhyun : hem, memang sebenernya tindakan si Letnan manusiawi kok, begitu juga sama tindakan Dek Slaine, sayangnya waktu sama tempatnya aja yang nggak mendukung (apa ini? Jawaban diplomatis apa ini?)
Tapi anyway, semoga ke depannya dunia mereka jadi lebih baik, tentunya setelah dipegang sama Bang Klaincain dan HIme-sama.
Ehem, mending angsa-angsa atau jangan ya? :P
Saoirsey: hola Kuze, apa kabar? XD Awalnya kubertanya-tanya siapa Saoirsey, ternyata Kuze XD kujuga pake appsnya, tapi sama, masih ndeso, cuman untuk baca jadi lumayan nyaman, apalagi formatnya bisa buat mobile (malah promosi :P)
Ehem, iya, itu dia, si Abang yang mulai duluan sebenernya. Slaine malah dikira musuh. Jadi jangan marah ya Bang, kalo Dek Slaine iseng nembak Abang :p
Aniway, for all of you, thank you for reading this fic. Hope you enjoy reading my ff, and if you don't mind, kindly leave a review so we could talk and have fangirling time with this pair.
Cheers,
Cyan!
