CHAPTER XIV

"FIND OUT!"


Di sebuah tempat tidak jauh dari Elevator Afrika, David berjanji untuk bertemu dengan seseorang.

"Dia pasti marah besar mengetahui ketika informasi itu sampai ketelinganya," kata David datar pada seorang yang memakai baju pilot lengkap tanpa melepaskan helm-nya.

"Yeah, tentu saja," ucapnya sama datarnya dan terdengar sedikit sinis, "dengan semua yang telah aku lakukan, dia akan marah... Tidak, mungkin bahkan murka sampai keubun-ubunnya."

"Dia tidak ingin membalas dendam, ia hanya ingin kebenaran darimu, alasan kau melakukan hal itu padanya, pada ibu dan ayahnya," kata David.

Orang itu menggeram kesal, "Kau tahu apa alasannya!"

"Jangan bersikap bodoh! Ia ingin mendengarnya darimu," David berusaha bersabar.

Orang itu menyilangkan kedua lengannya, sikap memberontak yang tidak mau menerima perkataan David. "Kalian berdua sama-sama keras kepala!" aku David pasrah.

"Aku ingin bertemu denganmu karena ada yang ingin aku sampaikan, jangan membicarakan hal lain, lagi pula aku kesini dengan mesin... maksudku dengan mainan baru mereka," kesal orang itu.

"Jadi... apa rencana mereka, Eric? Kau kelihatan tidak dalam suasana hati yang baik," kata David tenang, "oh aku lupa, kau selalu tidak dalam suasana hati yang baik," tambahnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari balik kaca helm itu, ia merasakannya, "maafkan aku, tolong lanjutkan," ucapnya geli, ia hanya bermaksud menggoda pria yang ada dihadapannya ini.

"Bisakah kau serius?" geram Eric frustasi, "Organisasi ini mau mencelakai Pangeran Rasyid, ketika ia akan berkunjung ke koloni, mereka merencanakan skenario yang sama dengan penyerangan Putri Marina Ismail lima puluh tahun yang lalu, aku belum tahu formasi serangan yang akan mereka gunakan, akankah sama dengan penyerangan Putri Marina Ismail atau adanya formasi tambahan."

"Aku tidak terkejut kenapa mereka menargetkan Rasyid sebagai orang yang bisa mengancam keberadaan mereka," kata David.

Eric bergeming, "Apa maksudmu? Aku kira mereka menargetkan Rasyid karena ia adalah pemimpin Negara Azadistan, mereka menginginkan sesuatu dari negara itu," ia sedikit tertegun dengan pernyataan David mengenai Rasyid, Pangeran dari Negara Azadistan.

David tersenyum seraya mengangkat salah satu alisnya, ekspresinya bercampur geli dan senang, "Setelah selama ini kalian bertiga menghabiskan waktu bersama di bawah pengasuhanku, kau tidak tahu bagaimana sifat Rasyid yang sesungguhnya? Dia itu pria yang penuh dengan ambisi dengan keyakinan yang kuat, kebijaksaannya didapat dari kemampuannya dalam berpikir cepat, pengalaman hidup yang berat... Yang sebaiknya tidak kita bicarakan."

"Apa benar seperti itu?" tanya Eric setengah tidak percaya.

"Huh, seandainya kau ada ketika ia mendepak seseorang yang positif anggota genesis dari hadapannya, kau akan langsung mengaku kalau kau tidak mengenal sisinya yang itu," balas David tenang.

"Hah," Eric berdengus, "kalau ia menggunakan seluruh kemampuannya, ia bisa menghabisi mereka dengan hanya duduk di kursinya yang empuk," ejeknya, "beruntung sekali mereka ia tidak melakukan hal itu."

"Beruntung sekali kita ia tidak melakukan hal brutal itu, keyakinannya atas keberadaan Tuhan membuatnya berada di jalan yang baik," tegas David.

Eric tidak berkata apa-apa.

David menatap tajam, "Leon juga seperti itu!"

Dengan geraman kesal, Eric berkata, "Jangan membahas dirinya lagi!"

"Informasimu mengenai organisasi itu sudah cukup bagiku untuk menduga apa yang mereka inginkan," sekarang ada nada tekanan dalam ucapan David, "jangan mengejek orang-orang yang mempercayai keberadaan Tuhan! Manusia membutuhkan keyakinan, kabaikan atau keburukan sesungguhnya adalah sesuatu yang ada diantaranya. Bagaimana seseorang mengetahui kalau membunuh itu buruk, Eric?" dengan sabar David berbicara, "Tentu saja kita diberitahu, bukan? Pada akhirnya kita hanya diberi pilihan antara melakukannya atau menolaknya, dan kau tahu kekacauan ini... kau tidak berpikiran dangkal 'kan? Manusialah yang membuat kekacauan ini, peperangan, pembunuhan, kalau punya keyakinan... pilihan akan mengarah pada yang baik, terutama kalau keyakinanmu itu adalah kebenaran."

Eric mengerinyit, "Kemana sesungguhnya arah pembicaraanmu ini, David?"

David menatap tenang, "Ketika kau menekan pelatuk itu, apakah kau tahu hasil yang kau dapatkan?"

"Ya Tuhan, tidak!" hardik Eric geram, "kalau aku tahu bahwa itu adalah ibu dan ayahnya, aku tidak akan melakukannya! Sialan!" Eric melepas helm-nya dengan paksa dan melemparnya penuh amarah, helm itu menghantam tanah dengan bunyi keras. "Demi Tuhan, David, tidak akan aku lakukan!"

"Tapi kau melakukannya, karena tidak tahu... kau menembak ibunya," jelas David tanpa basa-basi, "kau bahkan melakukan kesalahan kedua kalinya dengan melakukan hal itu pada ayahnya!"

Eric menggeram lebih keras, duduk mencangkung seraya mengapit kepala dengan kedua lengannya dengan frustasi, "Sialan... Sialan... Sialaaan! Jangan mengatakannya dengan jelas!"

"Leon ingin tahu alasan kau melakukan hal itu pada kedua orangtuanya, kebenaran, ia memilih untuk mendengarkanmu dari pada langsung melabrakmu dan mencabut nyawamu," kata David, "kau harusnya bersyukur, karena ia dibesarkan oleh wanita yang baik dan bijak, kalau tidak ia akan memilih pilihan kedua."

"Ibunya sangat taat," kata Eric lirih, ia teringat ibu Leon yang cantik.

"Huh! Kau juga berhutang maaf pada adikmu dan orang tuamu," tegur David.

"Alan?" Eric mengangkat kepalanya menatap David yang sedikit kesal dengan tegurannya.

David menatap tenang ke arah Eric yang membuat pria itu makin frustasi saja.

"Hal itu bisa aku urus," jawab Eric pelan seraya berdiri. "Ughh... apakah disetiap pertemuan kita kau akan selalu membuatku frustasi? Menjengkelkan, aku hanya ingin memberikan laporanku, brengsek!"

David tersenyum, "Aku tahu kau akan memperbaiki semua kesalahanmu, itu sudah cukup untuk memulai langkah baru."

Eric tertegun ketika ia akan mengambil helm yang dilemparnya sebelumnya, "Langkah baru?" ia berdengus remeh seraya melirik David dari balik bahunya, "aku sama sekali tidak meyakininya."

David melihat sekilas pada Eric, kemudian memandangi langit, "Berbohonglah sesuka hatimu, jauh di dalam dirimu kau mengharapkannya... manusia memang selalu begitu," ia menghela nafas dalam, "selalu mengharapkan untuk bisa kembali pada masa-masa penuh keindahan."

Eric tertegun melihat David yang dengan ketenangan dan kerinduan kentara dimatanya yang memandangi langit tanpa awan. Mata perak yang terkadang terlihat bersinar seperti intan itu memandang lurus dan hangat, meskipun begitu Eric tidak mengerti pria dihadapannya ini, dengan sosok yang misterius dan terkadang mengintimidasi seolah membentengi dirinya sendiri, bagi Eric ia adalah sosok yang angkuh dan suka mencampuri urusan orang lain. Tapi apakah orang yang suka menyendiri dan seakan tidak mempedulikan dunia bisa disebut suka ikut campur? Tidak, tentu saja tidak bisa. David hanya memberikan pikirannya, kebijaksanaannya, dan kesabaranan yang seolah tidak ada batasannya itu telah membimbing dirinya, Rasyid, dan Leon. Mungkin dunia memandangnya seperti itu, tapi bagi Eric, David adalah sosok yang lebih dari itu.

Umurnya memang seperti pertengahan dua puluhan, tapi kebijaksanaannya dan caranya mendidik kita, seolah telah mengalami hidup lama, seperti kakek-kakek berumur enam puluhan saja.

Eric tidak terlalu memikirkan perkataan Rasyid waktu itu, tapi sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Kenapa orang penyendiri seperti dirinya bisa dikenal dikalangan orang-orang tertentu?

"David, kenapa kau..."

"Eric, apakah kau merasa sedih?"

Ucapan yang serempak itu membuat Eric bergeming, pria itu memandanginya dengan senyuman ramah, kebingungan dan heran menyelimuti raut wajah Eric.

"Hah!?" Eric tidak menduga dengan pertanyaan yang terlontar itu, "pertanyaan macam apa itu?" berdengus kesal.

"Bersedih atas semua perbuatanmu?" David mengabaikan ejekan Eric.

Eric menghembuskan nafas pasrah, "Menurutmu bagaimana aku sekarang? Berkeliaran di kandang macan, menemuimu secara rahasia dan melaporkan semua yang aku tahu, apa menurutmu aku punya waktu untuk itu?!" Eric tawa geli yang mengandung nada ejekan dan kesinisan.

David tertawa atas jawaban yang diterimanya, "Kau ingin menghancurkan organisasi itu, tidakkah kau sadar... kau sudah menjawab pertanyaannya, organisasi itulah yang membuatmu melukai kedua orang tua Leon."

Eric terdiam beberapa saat seolah berpikir, kemudian berkata, "Kau bilang telah mengetahui apa yang diinginkan oleh organisasi itu, dengan kemampuan hack-mu yang luar biasa, kau bisa mengetahuinya dengan cepat dari pada menunggu informasi dariku," ia menumpukan berat badannya kesatu sisi seraya mengalihkan pembicaraan ke topik utama.

"Kau ingin aku menolongmu soal ini, dan merasa sudah masuk terlalu dalam," David melirik mesin yang dikendarai oleh Eric yang tersembunyi di celah bukit, "memiliki orang dalam untuk mengawasi mereka jauh lebih efektif dari pada aku mencuri-curi data dari mereka, lagi pula dengan semua kekuatan yang kita miliki masalah ini akan selesai dengan cepat, lagi pula kau berada diantara mereka atas keinginan sendiri," nada suaranya berubah serius dan menekan.

"Ughhhh..., menghancurkan makhluk-makhluk tak berguna di belakang layar itu sangat menyulitkan, kau tahu, akan ada sisa-sisanya dari mereka," kesal Eric, "membakar mereka sampai tak bersisa, itu yang aku inginkan, sisanya biarkan yang lain mengurusnya."

Tersenyum maklum, David berkata, "Kalau begitu kau jangan mati sebelum keinginan tidak bergunamu itu terkabul!" ejeknya.

"Terserah apa yang kau katakan, David," Eric berbalik dan bersiap memasang helm-nya, "kau akan mendapat informasi lain dariku ketika mereka sudah siap dengan rencananya, dengan Rasyid yang menjadi target... mereka pasti tidak main-main dalam menyusunnya, firasatku mengatakan mereka akan mengandalkan mesin... mainan baru mereka ini," ia menunjuk sebuah MS di sela-sela bukit dengan ibu jarinya.

"Jadi menurutmu, mereka mempercayaimu dan mengandalkanmu?" David tersenyum.

"Kalau tidak, aku tidak akan memiliki mainan ini!" jawab Eric seraya berjalan menjauhi David, "aku melakukan pengujian untuknya, dan sebagai hasilnya aku sangat puas."

David tersenyum geli melihat Eric, bocah itu sama sekali tidak menggubris semua perkataan yang menyudutkannya dengan bersikap cuek, tapi itu tidak berlaku untuk David, meskipun ia menutupinya dengan baik. Sangat berbalik sifatnya dengan Leon yang blak-blakan, sedangkan Rasyid, ia hampir mirip dengannya.

"Leon ada di Celestial Being bersama adikmu, kau tahu?" David berbicara, tapi bibirnya tidak bergerak, matanya bersinar keemasan yang berwarna-warni, "kau mungkin akan berhadapan dengan mereka nantinya, berhati-hatilah melangkah, Eric Haptism."

«—»

"Ini adalah pembahasan yang paling mengesalkan yang pernah aku ikuti selama di Celestial Being," kesal Lockon ketika Tieria menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawaban pastinya, ia memijat batang hidungnya dengan frustasi. "Aku sudah mengatakannya pada kalian berkali-kali, aku... dengan mata kepalaku sendiri telah melihat mobil yang ditumpangi oleh Putri Marina benar-benar ditembak," ia mendesah pasrah, "yang jadi pertanyaannya adalah kenapa Putri Marina ada dikediamannya tiga hari yang lalu bersama Setsuna? Kemudian pertanyaan sebelumnya yang tidak kunjung juga ditemukan jawabannya adalah kenapa berita tertembaknya Sang Putri tidak diberitakan, bahkan seluruh istana tidak mengetahuinya," Lockon mengambil bungkusan kecil cokelat dari kantongnya, dan melahapnya dengan cepat, "ditambah lagi ia malah justru diketahui menghilang dan tidak ada berita resminya, menurut kalian bagaimana itu bisa terjadi? Apakah pihak istana yang menutup informasi itu, tapi masalahnya mereka diberitahu kalau Sang Putri baik-baik saja, hingga tidak ada kepanikan yang berarti."

Pintu otomatis terbuka dengan spontan semua kru memandangi siapa yang datang. Setsuna memasuki ruangan dengan tenang, meskipun penampilannya sudah rapi, tapi keadaannya yang muram dan seolah kurang semangat membuat semua kru prihatin. Tidak ada yang berkomentar soal keadaan Setsuna, bahkan untuk menyampaikan keprihatinan mereka secara langsung.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lockon, hanya ia yang berani bertanya dengan tenang.

Setsuna menggeleng pelan, "Baik-baik saja," jawabnya serak dan pelan.

Suara pria itu hampir membuat semua kru tercegat kaget, seperti suara gesekan ampelas yang kasar.

Lockon meringis ngeri, "Suaramu seperti kodok yang mengerikan, apa kau telah membasahi kerongkonganmu dengan air?" ia kembali melahap sepotong cokelat, "kelihatan baik-baik saja apa itu termasuk dengan memiliki mata panda yang berkantong?" Lockon menawarkan sepotong cokelat kepada Setsuna yang telah ia buka bungkusnya.

"Lockon!" tegur Tieria, tidak mempercayai dengan keblak-blakannya.

Setsuna menggeleng tanda ia menolak tawaran Lockon, "Tidak, terima kasih."

"Makan!" perintah Lockon seraya memandangi Setsuna dengan tajam.

Dengan enggan Setsuna meraih cokelat itu dari tangan Lockon dan melahapnya dengan pelan.

Lockon memperhatikan Setsuna, "Katakan apa alasanmu mengunjungi kediaman Putri Marina dalam misi, Setsuna? Aku kurang puas dengan laporanmu yang sepertinya tanggung-tanggung, aku ingin detailnya darimu," kembali Lockon melahap sepotong cokelat.

Setsuna tertegun melihat kebiasaan Lockon dalam mengkosumsi cokelat, kemudian ia berkata, "Ketika kau memerintahkanku untuk mengejar gundam penyergap yang diperkirakan oleh Sumeragi, aku melakukan semua yang kau katakan," ia memandangi semua kru, "menembak untuk menghentikannya agar tidak menuju kota, saat itu aku menyadari bahwa ia mencari sesuatu yang kita perkirakan karena musuh tidak membalas tembakan dari MS Federasi dan Azadistan, jadi aku mengikutinya sampai ke tengah kota. Aku lengah ketika tertegun melihat gundam yang diprediksi oleh Sumeragi, hanya satu musuh yang menyerang istana, karena kelengahan itu musuh yang aku ikuti melancarkan serangan misil ke istana yang tidak bisa aku hancurkan semuanya. Tapi ketika aku berpikir bahwa istana tidak akan bisa lolos dari misil-misil itu, sebuah tembakan seperti GN-Canon menghancurkannya, kemudian sesaat... hanya sesaat saja kesadaranku hilang, semuanya jadi kosong..." Setsuna menyentuh dahinya seraya mengerutkan alis, berpikir keras, "suasananya sama dengan keberadaan di dalam pikiran, penuh dengan cahaya keemasan, dan juga seseorang... seseorang menghampiriku... dan..."

Para kru tertegun dengan perkataan Setsuna, kebingungan dan cemas atas ucapan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Lockon mengerinyit, "Apa yang kau bicarakan, Setsuna?"

Pria itu tersontak kaget, pertanyaan Lockon menyadarkannya kembali, "Ti... tidak apa-apa, aku sepertinya tidak ingat," ia kembali mengangkat pandangannya, "karena... kehilangan kesadaran itu, aku hampir saja mati oleh serangan misil yang tiba-tiba diarahkan padaku... tapi sebuah GN-Shield melindungiku."

"GN-Shield?" tanya Lockon.

"Tidak sama bentuknya dengan GN-Shield yang dimiliki oleh Gundam kita, bentuknya seperti bintang, aku tidak melihat sosok yang memilikinya... hanya bentuk siluet yang transparan."

"Apa kau melihat cahaya keemasan, meskipun hanya sekilas?" tanya Lockon.

Setsuna memandangi Lockon sedikit kaget, "Iya... iya aku melihatnya, kenapa kau menanyakan itu?"

"Ya Tuhan, itu pasti dia!" kata Allelujah.

"Dia siapa?" tanya Setsuna.

"Gundam Emas yang ada di Yupiter, Setsuna," jawab Tieria.

"Gundam Emas?" Setsuna tidak mempercayai jawaban Tieria.

"Ya, ia menampakkan dirinya di Azadistan ketika kami semua melawan musuh, beritanya ada dimana-mana dan sangat menghebohkan," jelas Tieria, "Gundam Emas itu sangat berbeda dengan yang kita miliki dan milik musuh, ia lebih mirip Gundam ELS QAN[T] hampir keseluruhannya," Tieria menjelaskan gambar Gundam Emas yang tampilkan di layar monitor, Setsuna bergeming menatapnya. "Yang jadi pertanyaannya adalah ia tidak seperti musuh atau bisa dibilang ia menolong kami, singkatnya tidak mengetahui apakah ia kawan atau lawan."

"Dia melindungi istana..." kata Setsuna, "melindungiku!" masih memandangi Gundam Emas di monitor, ekspresinya tidak terbaca.

"Apa pendapatmu mengenai gundam itu, Sestuna?" tanya Lockon.

Setsuna mengalihkan pandangannya pada Lockon, "Aku tidak tahu pasti, tapi ada sesuatu yang menenangkan dari gundam itu... maksudku tidak ada firasat buruk yang aku rasakan padanya, aku tidak bisa menjelaskannya."

Semua terdiam dengan penjelasan Setsuna, keheningan menyelimuti ruangan itu hingga Lockon memecahnya dengan sebuah pertanyaan.

"Apa kau menemukan sesuatu yang diincar oleh musuh, Setsuna?"

"Aku tidak tahu pasti," Setsuna menggeleng pelan, "ketika aku mengejar gundam penyergap dan ia tidak menyerang istana tapi mengejar sebuah mobil menuju padang pasir, menembakinya," Setsuna tertunduk, "dan aku seperti kehilangan kesadaran kembali..."

"Kau kehilangan kesadaran di dalam misi?" Lockon terkejut dengan pengakuan Setsuna, "Dua kali?"

"Maafkan aku, aku tidak mengerti, tapi waktu aku sadar... aku sudah berada di kediaman Marina dan..." Setsuna terdiam sesaat menunduk sedikit menatap lurus lantai kapal, "dan mobil hitam yang ditembaki oleh musuh sama persis dengan mobil yang terparkir di halamannya..." ucapnya seraya mengangkat kepalanya dan memandangi teman-temannya.

Penjelasan Setsuna membuat semua teman-temannya tersontak, Lockon dan Tieria lebih terhentak kaget karena mengetahui mobil hitam yang dimaksud Setsuna. Semua terdiam ditempat dan sibuk dengan pikiran masing-masing, terutama Lockon ia seperti berpikir keras dari sebelumnya, merasakan ada yang ganjal dan ada satu hal yang membuatnya penasaran, tapi menurutnya itu hanyalah hal sepele, walaupun begitu ia ingin memastikannya.

Cahaya emas yang samar-samar mengelilingi Putri Marina membuatku penasaran, pikir Lockon.

"Apa maksudnya ini?" Sumeragi mengerinyitkan alisnya tampak kebingungan, "mobil hitam yang sama ditumpangi oleh Putri Marina yang dicari oleh musuh... Maksudnya yang dicari itu adalah Putri Marina Ismail!" tegasnya merasa tidak yakin dengan dugaannya.

Dugaan itu sudah sangat jelas, semuanya berpikiran kesana setelah Setsuna menyatakan mengenai mobil hitam yang menjadi inti permasalahan yang mereka hadapi.

"Tapi... Kenapa Marina yang diincar? Apa ada hubungannya dengan hal yang telah terjadi di Bumi dan... Yupiter?" tanya Setsuna dengan kebingungan kentara.

"Pertanyaannya adalah..." kata Lockon tegas, "kalau memang Putri Marina yang diincar, seberapa pentingnya Putri Marina bagi mereka hingga dijadikan target incaran hingga mereka harus menembakinya?"

"Maksudmu mereka mengincar nyawanya?" tanya Sumeragi.

"Yup," Lockon mengangguk yakin, "karena waktu aku ingin bertemu Putri Marina untuk kedua kalinya, musuh yang sama juga melakukan penembakan pada mobilnya," Lockon melihat Setsuna, "aku ingatkan lagi, Setsuna, aku benar-benar tidak berbohong mengenai Putri Marina."

Setsuna terdiam sesaat, kemudian ia berkata, "Mungkin yang kau lihat itu benar, tapi kau tidak tahu pasti kalau Marina ada dalam mobil," tegas Setsuna.

"Seharusnya aku bisa berpikir sampai kesana," kata Lockon pelan dan tenang, ia membuka bungkus cokelatnya, sama sekali tidak kaget dengan perkataan Setsuna. Tentu saja aku telah berpikir sampai kesana, melihat bahaya di depan mata, hal pertama yang dilakukan adalah menyelamatkan diri, terutama bagi Putri Marina yang tidak mampu untuk mempertahankan diri. Masalahnya waktu itu tidak ada tanda-tanda peralawanan di kediamannya kalau Putri Marina dikawal oleh bodyguard. Masalah yang paling fatal adalah pihak istana tidak mengetahui penyerangan itu, pikir Lockon.

"Lockon, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Setsuna yang sepertinya merasa bahwa Lockon memikirkan suatu hal.

"Tidak!" jawaban kesal yang sangat cepat dari Lockon sungguh membuat heran semua kru, ia menggulum cokelatnya dengan pelan, "semua ini hanya membuatku lebih bingung saja! Kalau Putri adalah orang yang diincar maka itu tidak sesuai dengan dugaan Sumeragi mengenai sesuatu yang mereka incar, karena mustahil Putri Marina bisa menyerang balik untuk mempertahankan diri! Kecuali mereka ingin nyawa Putri Marina, dengan cara melakukannya aku rasa itu agak..."

"Terlalu terang-terangan..." sambung Allelujah pelan.

"Dan Brutal..." ucap Sumeragi tegas.

"Putir Marina Ismail adalah orang penting di Timur Tengah, membunuhnya haruslah dengan rencana yang matang dan hati-hati, penyerangan yang aku lihat adalah nyata dan anehnya hanya kita yang mengetahuinya seolah disembunyikan dan disamarkan," jelas Lockon lebih terlihat kesal dari sebelumnya.

"Dengan penyerangan skala besar seperti itu, mustahil untuk disamarkan!" tegas Setsuna, "Penyerangan Marina tidak jauh dari Ibu Kota Azadistan, itu sungguh mustahil untuk tidak diketahui!"

Lockon memijit kedua pelipisnya, kepalanya mulai berdenyut-denyut, "Kau kira kami tidak berpikir sampai kesana, masalah ini hampir mirip dengan tiang cahaya yang aku lihat di gurun pasir waktu itu, kenapa datanya tidak ada di Vega dan..." ia tersontak ketika sebuah pemikiran melintas di kepalanya.

"Lockon, jangan-jangan..." Sumeragi juga tersontak menyadari sesuatu yang sama dengan Lockon.

"Oi Teria, apa data penyerangan Putri Marina waktu itu ada dalam pendataan Veda?" tanya Lockon keras dan tegas, itu membuat Tieria terhenyak ditempatnya.

"Aku... Aku rasa aku belum mengeceknya," Tieria tergagap dengan kejutan yang didapatnya.

Lockon menggeram kesal, suaranya menggema di ruangan itu.

"Biarkan aku yang mengeceknya, Ni-san," tawar Feldt, "jangan terlalu berpikir keras, kau hanya menyakiti dirimu sendiri," ucapnya seraya berjalan ke anjungan, "ingatlah terakhir kali kau seperti itu, berjalan seperti zombie," ia tertawa pelan.

Lockon tertawa geli yang terdengar mengejek, "Yeah, yang ada dalam pikiranku waktu itu hanyalah ingin menghajar seseorang sampai mati."

Kekagetan semua kru tidak bisa tertutupi karena perkataan Lockon yang hampir serius. Menyadari hal itu Lockon tertawa geli dan berkata seraya mengangkat tangannya.

"Maaf, maaf, aku tidak bermaksud membuat keadaan semakin tegang," ia tersenyum menyesal, "sampai dimana kita tadi?"

"Aku akan memeriksa peristiwa penyerangan Putri Marina," kata Feldt.

Semua orang di ruangan itu kembali terdiam, setidaknya dalam diskusi itu mereka menemukan sesuatu yang berarti mengenai Putri Marina dan peristiwa yang disaksikan oleh Lockon dalam kesimpulan yang samar-samar hingga membuat frustasi, terutama untuk Lockon. Kejelasan mengenai sesuatu yang menjadi target incaran musuh serta asal-usul mereka yang tidak diketahui dengan pasti. Ditambah lagi musuh dengan cepat mengetahui daya tempur mereka dan Federasi, dalam waktu setengah tahun mereka mengirin MS ke tempat-tempat yang berbeda dan menyerang secara frontal.

"Aku masih penasaran dengan Gundam Emas yang kita lihat di Azadistan beberapa hari yang lalu," ucap Allelujah memecah keheningan, "jelas gundam itu tidak ada kaitannya dengan kita, kan? Dan menurutku ia tidak memihak musuh mengingat ia menolong kita dan Azadistan... serta di Yupiter."

Setsuna bergeming mendengar penjelasan Allelujah, kemudian berkata, "Kalau memang yang mereka cari itu sesuai dengan dugaan Sumeragi bahwa menggunakan MS adalah sesuatu yang bisa menyerang balik artinya seseorang, bukan? Bisa jadi yang mereka cari adalah Gundam Emas itu?!"

Pernyataan Setsuna masuk akal, gundam itu sama mesteriusnya dengan gundam musuh, serta kemunculannya disaat bersamaan. Kalau itu benar maka semua bisa jelas tentang yang mereka incar sebenarnya, tapi Setsuna masih ragu dengan hal itu, ia menatap tajam ke lantai kapal. Ia teringat dengan kejadian di Azadistan ketika ia ditolong sebuah siluet dari sebuah unit yang ia pikir adalah Gundam Emas dalam mode kamuflase serta wujudnya yang diperlihatkan dengan jelas ketika ia ada di padang bunga di kediamaman Marina Ismail. Pertanyaan-pertanyaan baru kembali di benak Setsuna mengenai gundam itu dan perasaan aneh saat melihatnya secara langsung, berhadap-hadapan, perasaan yang sangat menyesakkan bercampur dengan ketenangan.

"Lalu kaitannya dengan Putri Marina Ismail..." tanya Tieria, "kita tahu pasti dari informasi yang diberikan Setsuna bahwa gundam musuh menembaki mobil hitamnya, dan mobil itu berada disana ketika Setsuna berhasil mengalahkan gundam penyergap."

"Kalau soal itu..." Sumeragi bingung harus menjawab apa.

"Mengenai kenapa aku berada di kediaman Marina," ucap Setsuna, menarik perhatian semua kru, "dan mengalami kehilangan kesadaran sesaat... aku rasa itu ulah Gundam Emas, ia mengatakan bahwa ia di perintahkan untuk membawaku kesana."

"Kau dibawa ke sana dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan itu perbuatan Gundam Emas?" Tieria tidak mempercayai penjelasan Setsuna, tidak hanya dirinya saja yang terkejut mengenai kenyataan itu.

"Kenapa gundam itu membawamu kesana, Setsuna-san?" tanya Allelujah.

Setsuna menggeleng sebagai jawaban, "Tapi aku sempat berbicara dengan pilotnya," ia memandangi teman-temannya yang terlihat bergeming, "aku tidak sempat bertanya kenapa ia membawaku ke kediaman Marina karena aku baru menyadarinya sesaat setelah ia pergi, hanya bertanya mengenai kenapa ia menolongku waktu misil-misil musuh hampir menghantamku, ia hanya menjawab bahwa aku pantas untuk diselamatkan, bahwa ia tahu siapa musuhnya."

"Musuhnya?" tanya Lasse dan Litchy serempak.

"Apa maksudnya itu?" Lockon sama kaget dan bingungnya dengan penjelasan Setsuna.

"Aku tidak tahu, tapi aku terfokus pada mobil hitam dan saat itulah aku mendengar alunan suara musik, serta menemukan Marina," jawab Setsuna.

"Aku... aku tidak mempercayai ini," kata Feldt tergagap.

"Ada apa, Feldt?" tanya Licthy.

"Mengenai peristiwa penyerangan Putri Marina, aku... aku tidak menemukannya," Feldt masih tertegun dengan hasil pencariannya yang berkali-kali.

"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kau sudah teliti mencarinya?" tanya Tieria yang masih terpengaruh dengan kekagetannya, ia mendekati Feldt dan memeriksa data-data yang dianalisanya.

"Makin rumit saja masalahnya," gerutu Lasse seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku akan membantu mengeceknya lagi, Feldt," tawar Christina.

"Tidak perlu!" tegas Tieria frustasi, "memang tidak terdata, tidak ada, nihil!"

"Tieria!?" Setsuna bergeming kaget.

"Apa-apaan dengan hasil itu!? Tidak satupun..." Sumeragi lebih tidak mempercayainya, "dua kejadian tidak terdata dalam Veda? Kenapa bisa begitu?"

Lockon berdecih kesal, dan berkata dengan amarah yang tertahan, "Aku benci situasi ini, kita tidak mengetahui siapa musuh seutuhnya dan hanya mengandalkan analisa-analisa hingga kita tidak bisa bertempur secara maksimal, membuat kesal saja... bahkan mereka tidak meninggalkan jejak di arena pertempuran, hilang begitu saja dan lebih parahnya lagi serpihan-serpihan tubuh mereka tidak ditemukan."

"Perbuatan mereka yang terbuka memang sangat frontal, tapi ternyata mereka sangat berhati-hati dalam melakukannya, terbukti mereka tidak meninggalkan sisa-sisa pertempuran selain kerusakan yang terjadi, kemudian yang bisa terpikirkan adalah mereka tidak mau teknologi mereka dicuri karena melihat sebuah kekuatan yang setara dengan mereka," kata Sumeragi menatap para kru, "kita... Celestial Being juga memiliki Gundam."

Suasana ruangan itu menjadi tegang setelah mendengar perkataan Sumeragi. Setsuna mengepal kedua tangannya dengan erat dan berpikir hanya Celestial Being yang mampu menyaingi kekuatan musuh saat ini, walaupun pasukan Federasi harus menurunkan belasan MS ke medan perang untuk menandinginya. Tapi Setsuna merasakan kekuatan lawan bisa melebihi kekuatan Celestial Being, mengingat ia pernah bertarung dengan salah satunya, daya tempur yang sama dengan innovator, tidak, ia bahkan merasakan bahwa kekuatan itu dapat melebihi innovator. Merasakan hal itu kepalan tangan Setsuna semakin erat dan bergetar.

"Aku ingin kekuatan..." ucapnya lirih memandangi lantai kapal, "lebih dari ini... kekuatan untuk menandingi mereka... kekuatan untuk menyelesaikan semuanya," tambahnya datar, tapi terkesan dingin dan halus hingga membuat teman-temannya terpaku mendengarnya.

"Setsuna...," panggil Sumeragi lembut, "aku mengizinkanmu untuk turun dalam misi ini, tapi komando di lapangan tetap ditangan Lockon, kau tahu 'kan maksudku?"

Setsuna tersenyum tipis seraya menjawab dengan anggukan tegas, "Hah..."

Sumeragi membalas senyuman Setsuna, "Maaf, bukan bermaksud meragukan kemampuanmu dan Tieria yang lebih berpengalaman di medan perang, hanya saja situasinya sangat rumit, aku melihat kau kebingungan menghadapi situasai yang mendadak ini, Setsuna."

"Aku mengerti, Sumeragi Lee Norigea..." jawab Setsuna.

Lockon memandangi Setsuna dibalik helai rambut hazelnya, "Aku ingin OO Raiser digunakan untuk misi berikutnya," katanya tiba-tiba, "aku yakin Gundam Emas akan muncul kembali, kalau ia benar-benar target incaran... aku ingin menjatuhkannya bersama Setsuna," ucapannya membuat teman-temannya tersontak kaget.

"Lockon!" Teriak Allelujah tertahan, "Itu ide yang sangat gila, maaf, tapi ya... itu sangat beresiko," ia tampak cemas dengan gagasan Lockon, "maksudku prioritas kita adalah mengutamakan keselamatan masyarakat dan menangani gundam yang meresahkan itu, lagi pula Gundam Emas itu belum jelas tujuannya sekalipun ia pernah menyelamatkan kita."

Tieria mendukung perkataan Allelujah, "Apa yang dikatakan Allelujah itu benar, Lockon, lagi pula..."

"Justru kita belum tahu, aku ingin melakukannya dan memastikannya..." ucap Lockon tegas, "kalau terjadi hal lain di medan, aku ingin Sumeragi-san menyusun taktik untuk mengatasinya."

"Tapi kenapa, Lockon?" tanya Setsuna, "apa kau ingin aku menggunakan sistem raiser untuk berkomunikasi dengan mereka?"

"Tidak!" jawabnya cepat dan tegas.

Langsung saja kebingungan terlihat disetiap raut wajah teman-temannya.

"OO Gundam adalah kekuatan penuh kita saat ini dan juga OO Raiser, Gundam Emas itu... pasti..." ia mengerinyit, "pasti ada kaitannya dengan Putri Marina, kalau tidak, ia tidak akan mendapatkan serangan yang membingungkan itu," tambahnya.

"Kenapa kau sampai berpikiran ke arah sana?" tanya Lasse.

"Ada yang diinginkan oleh musuh terhadap Putri Marina, nyawanya?" jawab Lockon.

"Atau sesuatu yang dapat dihasilkan oleh Azadistan?" Sumeragi menatap tajam ke arah Lockon.

"Sumeragi-san?" Lockon menatap sumeragi seraya menaikkan salah satu alisnya.

Sumeragi memandangi para kru secara bergilir, "Aku punya alasan untuk bergabung dengan Celestial Being yaitu menghancurkan sebuah organisasi yang telah membuat seluruh tim-ku terbunuh dalam misi, Genesis, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan mereka."

"Organisasi Genesis?" tanya Setsuna.

"Organisasi ini lahir tidak lama setelah A-Laws, tapi mereka sangat berbeda dan lebih tertutup," kata Sumeragi dingin.

Lockon mengernyitkan mata, "Tapi Sumeragi-san, apa kau yakin hal itu berkaitan dengan Putri Marina?" Sumeragi menatap Lockon, "Kalau memang organisasi itu terlibat, maka musuh kita adalah mereka, tapi data Veda menyebutkan bahwa tidak ada tanda-tanda hacker untuk pencurian teknologi Gundam. Kalau organisasi tersebut benar-benar menginginkan sesuatu dari Azadistan seperti dugaanmu, itu mungkin saja."

"Masalahnya mereka tidak menggunakan Gundam untuk melancarkan rencananya mereka," tambah Sumeragi.

"Intinya adalah organisasi itu tidak ada kaitannya dengan gundam musuh, iya 'kan?" kata Allelujah.

"Meskipun seperti itu, organisasi genesis tetap menjadi prioritas Celestial Being," kata Tieria, "ketika aku membentuk Celestial Being lagi, Veda melaporkan bahwa mereka melakukan pergerakan yang mencurigakan."

"Bisa dikatakan masalah saat ini adalah Gundam Musuh dan Genesis, dari keduanya, gundam musuh lebih mendapat sorotan," kata Lockon, "kalau Tieria yakin Veda tidak bisa ditembus maka kita hanya bisa memikirkan bahwa mereka itu dari luar angkasa."

"Luar angkasa?" tanya Setsuna.

"Memang agak konyol, tapi ELS... makhluk itu dapat menganalisa teknologi dengan cepat," kata Lockon.

"Jadi menurutmu, ada makhluk seperti ELS di luar sana?" tanya Sumeragi.

"Bisa jadi," aku Lockon agak ragu, "kita hanya tidak tahu tujuan pasti mereka selain apa yang bisa kita duga."

Suasana menjadi hening beberapa saat hingga Lockon bergumam, "Seandainya hasil tes partikel merah mereka cepat selesai, itu bisa jadi perbandingan nantinya."

"Soal itu hasil tesnya akan segera selesai, Veda dan aku sedang melakukan analisisnya," kata Tieria.

"Bagaimana dengan tubuh Setsuna? Apa kau sudah memindai tubuhnya?" tanya Lockon serius.

Tieria bergeming, "Itu... aku belum sempat melakukannya karena serangkaian serangan."

"Aku ingin kau melakukannya sesegera mungkin, partikel emas di tubuh Setsuna juga tolong lakukan perbandingannya dengan partikel merah milik gundam musuh," ucap Lockon, "seandainya aku bisa mendapatkan sampel-nya, itu juga bisa menjadi tolak ukur kenapa tubuh hybrid Setsuna berubah menjadi wujud manusianya."

"Sa... Sampel?" tanya Feldt kaget.

"Sampel apa yang kau maksud, Lockon?" tanya Setsuna sempat lupa dengan keadaan tubuhnya.

"Partikel Gundam Emas!" tegas Lockon.

Seluruh teman-temannya tersontak.

"Kenapa kau sampai bisa mengira bahwa itu ada kaitannya dengan Gundam Emas?" tanya Tieria.

"Tidak tahu, mungkin itu cuma perasaanku saja dan aku hanya penasaran, jadi bagaimana cara kita mendapatkan sampel partikelnya, Tieria?"

"Kalau dia muncul lagi, kita bisa 'menangkap' partikelnya," jawab Tieria.

"Aku serahkan itu padamu, Tieria," ucap Lockon senang, setidaknya itu dapat mengurangi beban pikirannya, ia mengalihkan pandangannya pada Setsuna yang sedang menatap monitor. "Bagaimana pendapatmu Setsuna mengenai keterlibatan Putri Marina? Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Lockon.

Setsuna bergeming atas pertanyaan Lockon, ia tidak mengerti dengan perasaan yang ia rasakan mengenai gundam emas, tapi..., "Aku... tidak bisa memastikannya, gundam emas itu meskipun tidak menunjukkan ancaman atau tidak diketahui ia berpihak pada siapa," Setsuna menatap salah satu slide di monitor yang menampilkan sosok Gundam Emas yang dikelilingi oleh partikelnya, "ketika aku melihat sosoknya dan dilingkupi oleh cahayanya... aku merasakan kehangatan dan ketenangan," Setsuna memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali, "mungkin... ia tidak ada kaitannya dengan gundam musuh, dan keterlibatan Marina bisa saja ada hubungannya dengan masalah ini, mungkin saja ia adalah target yang penting entah dari pihak gundam musuh atau organisasi genesis."

Suasana ruang utama menjadi hening, mereka menyetujui perkataan Setsuna meskipun segalanya masih merupakan teka-teki. Bagi Setsuna misteri yang terus mengusiknya adalah emosi yang ia rasakan terhadap Gundam Emas, cahaya yang melingkupinya itu sungguh membangkitkan kerinduan sampai membuat tubuhnya bergetar dan dadanya sesak. Kehangatan dan ketenangannya mengingatkan Setsuna pada sosok Marina Ismail-kelembutan yang menyentuh hingga kehatinya-terutama ketika ia memeluk Marina, kelegaan terhadap kesamaan tujuan, harapan, dan kebenaran. Ia terasa berada ditempat yang tepat. Semua masalah pelik yang ia dan teman-temannya hadapi membuat perasaannya tertahan dan dirinya tertekan, kemanakah dirinya dahulu yang bisa lebih kuat menghadapi hal-hal seperti ini? Apakah karena semua berubah termasuk dirinya, cara pandangnya menilai sesuatu?

Tiba-tiba Christina berteriak panik, "Semuanya, kita punya masalah!"

Akibat pengumuman Christina para kru langsung waspada.

"Gundam musuh menampakkan diri di Orbit Elevator, di Afrika Selatan!"


To be Continued...


Ami: yeaaa X(, Update-annya lamaaaa banget soalnya 'kan harus curi-curi waktu senggang ama refisi draf-nya juga, chapter ini agak berbeda alurnya dari draf aslinya, susah editnya, scene ini pindah ke scene sana, rombak sana sini :'(, semoga ajah masih ada yang bersabar ama fic yang update-nya lamanya nggak ketulungan :(. Haappy Readiiing XD XD