Anything Can Happen -
- Ai -
- 2014 -
- Mashashi Kishimoto, Naruto-
- Pairing : Sasuke U. Hinata H. -
- Rate : T -
- Romance/Hurt/comfort
Sasuke POV
Apa yang telah kudengar dari Aniki ku sendiri membuatku merasa takut, berusaha memikirkan hubungan antara perkataannya dengan perkataan Aniki, tentu saja membuatku bimbang. Siapa yang ingin mempunyai hubungan, sementara hubungan ini merupakan siasat? Dan meninggalkan aku yang sangat mempercayai hubungan ini.
Hinata, ku pikir aku sudah gila. Karena dengan ini aku terlalu takut bertemu denganmu, takut, takut mengklarifikasi semuanya. Ini tidak seperti yang sudah-sudah karena masih ambigu, tapi ini adalah sesuatu yang bisa di tafsirkan diriku sendiri. Bahwa apa yang anikiku katakan merupakan kebenaran.
Hinata, Aku takut kau benar-benar melakukan itu padaku. Lantas bisa apa aku sekarang? Bolehkah aku tetap diam dan memilikimu? Cih, bukankah tindakanku seperti tindakan Sakura? Aku tidak perduli.
….
Normal POV
Hinata Hyuga, hari ini dia sedang dalam kerinduan yang memuncak pada sosok Uchiha Sasuke. Entah mengapa setelah kencan pertama mereka yang gagal akibat telfon dari Itachi, Sasuke tidak ada menghubungi lagi.
"Sasuke… kau kemana?" dengusnya di depan meja kantor.
Drrtt drrttt
Wajah Hinata berbinar, berharap dan meyakini telfon itu adalah dari Sasuke. Dengan semangat 45 ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa gerangan penelfon sebenarnya?
'Shikamaru's calling…'
Sayang seribu saying, itu bukan Sasuke, melainkan sahabat kecil ber-IQ tinggi. Dengan lunglai ia menekan tombol hijau. "Moshi-moshi Shika-kun."
'Hinata… bisa kita bertemu?'
"He?" sebelah alis Hinata terangkat. "Ada apa Shika-kun?"
'Ini tentang bantuan ku, Shino, Kiba dan Naruto perihal mengembalikan Hyuga Corp kembali.' Hening, Hinata masih belum bersuara, nampaknya ia cukup kaget dengan rencana Shikamaru dan sahabat-sahabatnya. 'Dan penyakitmu.'
Deg.
"S-hika…" Mata Hinata melotot, takut, kaget, dan perasaan lain yang entah apa menggerogoti hatinya.
'Aku sudah tau Hinata, untuk itulah, aku ingin kita bertemu sekarang juga.' Tegas Shikamaru.
"B-baiklah…" Hinata dan Shikamaru berniat menutup telfon tapi Hinata langsung teringat sesuatu. "S-shika…"
'Hn?'
"Siapa y-yang sudah m-mengetahui p-penyakitku?"
"Tidak banyak, kemungkinan aku, Shino dan Kiba."
"B-bagaimana dengan N-naruto d-dan…" Hinata agak sulit menanyakan satu nama ini, Satu nama yang mungkin juga sudah tau, hingga tidak ingin menghubungi Hinata lagi, satu nama yang seharian ini belum menghubunginya, satu nama yang sangat dirindukan oleh Hinata. "….Sasuke-kun?"
"Entahlah… kurasa mereka belum mengetahuinya."
Slesshhhhh
Serasa ada angin bersuhu 0 derajat, Hinata menghela napasnya, sangat lega. Jadi apa yang ia pikirkan tidak terjadi dan tidak benar. "K-kita bertemu di kafe dekat stasiun."
'Baiklah.'
…..
Tut… cklek
'Itachi, aku akan ke Konoha besok, jam 12 siang. Jemput aku. Aku tidak suka kata terlambat. Mengerti?!'
"H-hey…" sambungan telfon tertutup dengan cepat. "Benar-benar… baru sekarang menelfon sudah main suruh. wajah Hiu." Itachi mendengus, sahabat nya dari LA yang tergabung dalam akatsuki ini sungguh menjengkelkan. Lagi pula mengapa ia harus datang ke Konoha? Bukan ke Kiri? Apa ada hal penting?
…
Hinata duduk gelisah di sebuah kafe kecil dekat dengan stasiun seperti yang dijanjikan, pertemuannya dengan Shikamaru adalah hal yang tak pernah dipikirkan, mungkin sering di pikirkan tapi tentu saja tidak membahas tentang 'penyakit' Hinata.
Kleteng…
Bunyi bel dipintu mengagetkan Hinata, langsung ia alihkan pandangan matanya kearah pintu, dan benar saja Shikamaru tengah berjalan dengan santai sambil membawa tas ranselnya. Mencari sosok Hinata hingga pandangan mereka bertemu, lalu perlahan Shikamaru tersenyum tipis sembari melangkah mendekat dan duduk didepan Hinata.
"Cuaca tidak mendukung, di luar sedang mendung."
"B-benarkah?" keduanya bersikap canggung, entah bagaimana nanti mereka akan memulai.
Tapi kecerdikan Shikamaru mungkin bisa membuat suasana sedikit lebih mencair. Ia segera membuka tas dan menunjukkan kertas perjanjian yang dikirim Neji, serta berkas-berkas yang sudah dikumpulkan dari Shino dan Kiba.
"Lihatlah…" perintah Shikamaru. Hinata pun mengikuti dan membaca.
Mata Hinata melotot pada kertas itu, tapi sedetik kemudian pada Shikamaru. "I-ini."
"Ya." Shikamaru membalas. "Ini adalah kertas perjanjian Uchiha dan Hyuga. Menurut perjanjian disini, akan di selesaikan bila Hyuga membayar hutang pada Uchiha. Dan aku beserta yang lain yaitu Shino dan Kiba sudah mengumpulkan uangnya. Dan aku masih menghubungi Naruto untuk sisanya. Kau tenang saja. Pasti kami akan melunasinya karena kamilah yang membuat Hyuga seperti ini."
"Sisanya, untuk beberapa saham yang kami rampas. Akan kami kembalikan lagi atas namamu atau… Hanabi?"
Dari sini Hinata tau kemana arah pembicaraannya, ia tau ia harus membahas hal ini, karena Shikamaru sudah mengungkitnya.
"Tentang itu, Kau bisa mengatas namakan Hanabi." Lirih Hinata.
"Baiklah."
"..."
Keadaan hening untuk sementara waktu. "Tentang penyakitmu." Hinata mendongak dan menatap Shikamaru. "Aku ingin kau berobat Hinata."
"T-tunggu, bagaimana k-kau bisa tau t-tentang p-penyakitku Shika? Te-ntu bukan d-dari Itachi nii k-kan?"
"Mungkin. Tapi aku mencari tau sendiri. Yang jelas bukan saatnya kita membahas ini. Yang ingin ku bahas adalah kau harus melakukan pengobatan secepatnya."
Hinata menundukkan kepalanya. "Ini sudah terlambat."
"Tidak ada kata terlambat jika kau berusaha Hinata."
Kepala Hinata terangkat. "Lagi pula aku harus mengembalikan Hyuga Corp kembali."
"Aku dan yang lain akan mengembalikan Hyuga kembali."
"Butuh waktu berbulan-bulan untuk itu Shika-kun, t-tidak b-bisa hanya begitu s-saja." Hinata berwajah serius, ia menatap tajam Shikamaru berusaha meyakinkan bahwa tidak ada jalan lain selain kematian untuknya.
"Kau ini hanya harus mengikuti apa yang kuucapkan Hinata!"
"K-kau tidak t-tau Shika. H-hidup didalam r-rumah sakit, aktivitasmu h-hanya terhalangi t-tembok putih dan b-bebauan rumah s-sakit, saat kehidupanmu h-hanya di-dalam, ditempat itu k-karena harus kemo terapi, s-aat o-obat masuk kedalam p-pembuluh d-darahmu, rasanya semua itu s-semakin membuatku berpikir b-bahwa aku tidak bisa s-sembuh."
Shikamaru hanya menatap Hinata, berat juga kehidupan gadis mungil ini, pikirnya. Ia mengetaui dari Neji betapa hari-hari Hinata tidak pernah lagi keluar dari rumah sakit saat penyakitnya bertambah parah, harus mendekam menjadi warga rumah sakit dan tidak bisa keluar, seperti dipenjara namun lebih buruk dari hidup dipenjara.
"S-setelah aku keluar d-dari rumah sakit, a-aku malah memiliki h-harapan u-untuk hidup, memang bukan hidup sebenarnya, tapi h-harapan u-untuk hidup normal, menjalani a-aktivitas n-normal. apalagi saat a-aku mengenalnya…" Hinata memikirkan Sasuke, menerawang begitu sempurna andaikan saja ia bisa hidup normal seperti sepasang kekasih pada umumnya. "Lalu u-untuk apa a-aku berobat Shika? J-jika hidupku y-yang sekarang su-dah membuatku b-bahagia?"
"kau hanya takut meninggal ditengah-tengah kesendirianmu menjalani pengobatan kan?"
"Shika… a-apa maksudmu?"
"Kau takut meninggal saat kau tidak lagi merasakan bahagia hidup bebas? Tapi kau meinggal dalam ksakitanmu di rumah sakit, dan harus memiliki kehidupan terbatas?"
Hinata menunduk, ya sedikit banyaknya memang itu yang ia rasakan, meninggal saat berada didalam rumah sakit, tidak bisa melihat dunia luar untuk terakhir kali, ituah yang Hinata takutkan. cukup sederhana, dalam hidup gadis itu hanya ingin memiliki dunia yang tentram, hidup di tengah pedesaan dan meninggal tentram dalam kehangatan rumahnya sendiri, dikelilingi suami dan anak-anaknya, apakah terlalu muluk untuknya?
"Hinata… " panggilan Shikamaru membawanya kembali kedunia nyata. "Ku mohon, demi kami, sahabat-sahabatmu. Bahkan kakakmu, Neji pun sudah menyerahkan kepadaku. Aku juga sudah menemukan dokter terbaik untukmu. Tidakkah kau ingin menjalani hidup bersama seseorang yang kau sayangi lebih lama lagi? kenapa kau menyerah dan membuat teman-temanmu amat menyedihkan karena diam saja tanpa melakukan sesuatu untukmu?"
"S-shika…"
"Jika kau menganggap aku sahabatmu, jalanilah pengobatan ini."
"Lalu aku harus meninggalkan perusahaan? Setelah aku meninggalkan pengobatan untuk perusahaan, lalu aku pergi begitu saja? Dan sia-sia semua perjuanganku?"
"Tidak, aku sudah memikirkan ini matang-matang, Hanabi siap menggantikan mu 2 bulan lagi."
"E-eh? B-benarkah?"
Shikamaru mengangguk. "Pengobatanmu dilakukan besok. Sekarang temuilah dulu dokternya, aku sudah membuatt janji sekitar jam 5 sore."
"E-eh… secepat itu?" Shikamaru mengangguk lagi. Hinata diam untuk beberapa waktu, tak dipungkiri ia sangat syok. "L-lalu b-bagaimana de-ngan perusahaan?"
"Kakakmu, Neji telah mengirim orang sebagai pengganti sementara dirimu, sebelum diambil alih oleh Hanabi."
"A-astaga Shika-kun, k-kau… s-seberapa m-matang kau su-dah menyiapkan r-rencana ini? B-bahkan aku tidak tau, s-sedangkan N-neji nii dan H-hanabi-chan s-sudah bersiap-siap."
"Kau hanya perlu mengikuti alur permainan ku Hinata…" Shikamaru menyesap kopinya. "Jadi bagaimanapun kau harus mau, karena mau tidak mau, kau tetap harus menjalani pengobatan, masalah perusahaan serahkan padaku dan sahabat-sahabat mu ini."
Perlahan Hinata mengangguk, dan tersenyum kearah Shikamaru. Shikamaru sedniri kini menglaihkan pandangan matanya kearah kaca, menikmati hujan gerimis yang perlahan mengguyur kota konoha.
….
Hinata berusaha menghubungi Sasuke, namun entah mengapa Sasuke benar-benar tidak mau mengangkat ponselnya, Hinata yakin hubungannya terhubung, dan ponsel Sasuke tidak dalam keadaan mati, tapi mengapa kekasih gelapnya ini tidak mau mengangkat barang mendial hanya untuk mengabarkan eksistensinya?
Perasaannya kalang kabut, berpikir apakah Sasuke sudah tidak mau berhubungan dengannya? Apakah Sasuke tidak mau bertemu dengannya lagi? Sasuke sudah bosan? Mungkin kencan pertama mereka tidak menarik minat Sasuke lagi?
Dan ditengah kekalutan itu seseorang mengetuk pintu. Hinata yang sedang berpikiran aneh-aneh tentang Sasuke pun harus mengalihkan atensinya pada pintu yang perlahan terbuka.
Deg.
Rambut merah muda itu. "Hyuga Hinata." Sapa seorang gadis cantik berpostur tinggi semampai itu.
"S-sakura-chan." Pekik Hinata sambil berdiri.
"Tidak sopan rasanya jika aku memanggil formal sedangkan kau memang sok akrab Hyuga." Balas Sakura dingin sembari berjalan mendekati Hinata.
"A-ah.. g-gomen." Balas Hinata gugup.
Setelah Sakura sudah sampai didepan meja Hinata, ia langsung duduk tanpa permisi, membuat Hinata terkesiap lalu perlahan ikut duduk dan tersenyum canggung. "A-ah.. k-kau m-mau minum a-apa S-sa- Haruno-san?"
"Pintar sekali… sudah mulai menangkap suasana ternyata?" ejek Sakura
"M-maksud H-haruno-san?"
"Hyuga hyuga… bukankah kemarin kita sudah dekat? Lalu kau tidak merasa aneh mengapa tiba-tiba aku bersikap dingin padamu? Seharusnya kau bertanya 'kenapa kau bersikap dingin padaku sakura-chan?' tapi ternyata kau sudah mengerti sesuatu yang terjadi diantara kita?"
Hinata menatap sendu manic Sakura yang penuh dengan dendam. "Sakura-chan tenang s-saja… s-sejauh i-ini S-sasuke masih m-milikmu."
"Haha… kau pikir aku bodoh? Sasuke benar milikku, dan selamanya akan menjadi milikku, tidak semestinya kau mangatakan tenang saja karena Sasuke masih milikku, bukan masih Hyuga, tapi Sasuke memang milikku! Camkan itu!" Sakura langsung berdiri, dan berbalik memunggungi Hinata, Hinata sendiri berdiri.
"Sakura-chan." Sakura berhenti berjalan. "G-gomen… a-aku m-mencintai S-sasuke." Ucap Hinata bergetar.
Sementara Sakura, tubuhnya bergetar, ia berbalik dan menatap tajam Hinata. "Jangan berani mengusik hidup Sasuke dan Aku, Hyuga! Atau kau akan menyesal." Sakura berbalik dan pergi begitu saja, menutup pintu dengan keras.
"J-jika aku t-tidak b-bersama Sasuke-kun, maka disisa hidupku yang s-singkat i-ini, a-aku penuh dengan p-penyesalan S-sakura… b-berbeda h-halnya jika S-sasuke t-tidak mencintaiku l-lagi…" pikirannya menerawang lagi kepada Sasuke yang masih belum mau mengangangkat telfonnya.
….
Sasuke memandang ponselnya, sama halnya dengan Hinata, dia gelisah, mungkinkah Hinata menelfonnya karena ingin memutuskan hubungan? Tidak, dia terlalu parno untuk yang satu itu, hanya karena kalimat yang diutarakan Itachi mengenai Hinata, sudah membuatnya takut untuk menghadapi kenyataan.
"Mungkin ada baiknya jika aku menghindarinya, aku butuh Kakashi untuk menyelidiki hal ini." Ia pun memutuskan untuk menelfon Kakashi yang selama ini jarang ia temui sejak mandate yang ia berikan terakhir kali yaitu mencari tau tentang kesehatan Hyuga Hinata, kekasihnya.
"Hn. Kakashi. Aku membutuhkan mu sekarang juga lekas ke kantorku."
….
Jam menunjukkan 17.00, seperti yang sudah dijanjikan, Shikamaru dan Hinata bertemu dokter Tsunade. Sekarang mereka sudah berjalan di lorong sepanjang 1 km yang dikanan-kirinya bertuliskan berbagai macam poli kesehatan, hingga sampailah mereka didepan ruangan bertuliskan Tsunade room, tsunade adalah pemilik rumah sakit tersebut.
"Masuk." Sebuah kata yang memberikan keduanya akses membuka pintu, lalu masuk dengan menyimpan harapan besar.
Tsunade memandang intens seorang gadis berambut indigo, pipinya yang tirus dan tubuhnya yang kurus. Namun tetap, Hinata nampak manis dan polos didepan pandangan Tsunade.
"Sudah berapa lama?" suara Tsunade memecahkan keheningan.
Shikamaru mendengus. "setidaknya lakukan BHSP (Bina hubungan saling percaya) pada klienmu, agar pasienmu percaya memberikan kesempatan hidupnya dipegang olehmu."
"Berisik. Ini adalah caraku. Sudah duduk kalian berdua!" perintah Tsunade, sambil menautkan kedua talapak tangannya hingga menjadi sandaran dagunya.
"Hm.. a-ano.. perkenalkan, Hyuga Hinata."
"Hn. Tsunade. Kau bisa memanggilku dr. Tsunade."
"Ha'I dr. Tsunade."
"Langsung saja… berapa lama kau menderita kanker ini?" tanya Tsunade, masih dengan sikap awal bertemu.
"H-hm… s-sejak usiaku antara 17 -18 tahun. Saat itu aku langsung stadium 3."
"Ya, penyakit ini memang diam-diam. Sebenarnya jika ini penyakit kanker hati biasa, kau bisa mengambil donor dari hati orang lain, meski membuat orang itu meninggal. Tapi karena komplikasimu sudah berat, mengarah kesistem darah, bisa dibilang seluruh sel kankermu bermetastase keseluruh organ inti. Sama seperti Dan."
"Dan?"
"Dia adalah klienku, dia menderita hal sama seperti dirimu. Dan akan ku coba meneruskan penelitian obat ini untukmu, pertama, kita harus observasi dulu sejauh mana kesehatanmu sekarang, karena menurut yang aku dengar, kau hanya meminum obat hasil ramuan orochimaru, dan tidak pernah check up lagi."
Hinata hanya mengangguk dan memgikuti langkah Tsunade kabagian USG dan CT-scan.
….
Sasuke gelisah malam ini, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi karena dia belum bertemu Hinata seharian ini, tenanganya bagai diserap habis, ia rindu setengah mati pada gadis pujaannya, ia pun memutuskan untuk mengangkat telfonnya jika Hinta menelfon lagi.
Tapi sampai sekarang Hinata belum menelfon, padahal dia sudah sangat merindukan suara itu, apa boleh buat ia takut menhubungi Hinata.
"Hinata… aku merindukanmu."
…
Tsunade menatap lirih hasil USG dan CT-Scan Hinata, ini jauh lebih buruk dari Dan, tentu saja karena Dan masih dalam pengawasan Tsunade saat itu, sedangkan Hinata, luput dari pengawasan sekitar 1 bulan lebih. meskipun itu waktu yang tergolong sebentar, tapi dalam penyakit ini 1 hari adalah waktu berharga.
Hinata dan Shikamaru pun masih setia menatap Tsunade yang masih membaca hasilnya tersebut. tak dipungkiri, kedua hati itu gelisah, jantung mereka berdebar, apakah gerangan hal yang tersembunyi dari pandangan Tsunade.
Keadaan saat itu dingin, sunyi, tapi mata Tsunade, pandangan, tatapan Tsunade yang beralih dari kertas ke Hinata, membuat mereka berdebar dan merasa gerah, bahkan peluh turun dari punggung Hinata ke pinggangnya, entah itu karena situasi atau proses penyakit Hinata.
"Aku akan jujur padamu." Kalimat Tsunade membuat jantung mereka berhenti berdetak untuk beberapa detik, lalu beralih ke irama degupan cepat. Hinata menatap lekat mata itu, menelan ludah agar siap mendengarnya.
Tsunade menggeleng pelan. "Ini akan sulit, penyakitmu susah sekali untuk disembuhkan, presentasi hidupmu sekarang 15%."
Hinata terdiam, begitupun Shikamaru. Keduanya seakan sudah membaca hasil tersebut sebelumnya, Shikamaru sudah mengerti penyakit ini, walaupun ia bukan dari medis, tapi dia cukup ber IQ untuk membaca situasi penyakit Hinata, sedangkan Hinata telah jauh mengerti tentang keadaannya sendiri.
"Mulai sekarang, mungkin kau akan semakin kurus, kau mungkin akan sering merasakan jantungmu berdegup lebih cepat setelah itu stabil, dan mungkin juga kau akan sering pingsan." lanjut Tsunade.
"Kami disini bukan ingin mendengarkan hal negative saja, mungkin kau punya berita positif untuk kami?" sergah Shikamaru.
"Hm." Tsunade mengedarkan pandangannya kearah Shikamaru. "Kau ini anak muda." Dengusnya. "Aku hanya ingin menyampaikan, berita baiknya adalah kau bisa menghambat sel bermetastase dengan kapsul yang akan ku berikan." Tsunade menunjukkan sebuah kotak dari bamboo dan bertutup kaca. "Jumlahnya ada sekitar 10 butir, kau cukup memakannya 2 minggu sekali, disamping kemo. Sedangkan aku akan meneruskan penelitianku tentang obat itu, aku berani jamin 30% bisa menyelesaikannya. dan jika semuanya sesuai rencana, asal keadaanmu baik-baik saja hingga hari H, presentasi hidupmu ku janjikan naik 80%, tapi itu juga tergantung Kami-sama."
"K-kapan hari H itu?" walaupun keyakinan sembuhnya sedikit, tapi bukan berarti Hinata merasa pasrah dengan semuanya, Hinata masih punya harapan, apalagi saat ini ia menadi kekasih Sasuke.
"Hingga obat itu habis. Saat itu adalah waktu penentu kau bisa hidup atau tidak, 5 bulan lagi. hidupmu tinggal 5 bulan lagi jika aku tidak memberikan obatku untukmu. dan catatan, jika obat itu berhasil dengan sempurna ku buat."
Hinata menghela napas dalam. Pikirannya kemana-mana. 'Kami sama aku tau aku tidak akan hidup lama, tapi mengapa ini lebih menakutkan?' batinnya.
Sasuke, hanya nama itu yang sedang ia pikirkan sekarang, bagaimana hubungannya dengan Sasuke? Walaupun Tsunade menjanjikan kesembuhannya, tapi bukan berarti ia lepas dari kematian, apalagi Tsunade mengatakan 'aku berani menjamin 30% bisa menyelesaikannya, jika keadaanmu baik-baik saja hingga hari H', tak menutup kemungkinan penyakitnya akan lebih parah saat menunggu -walaupun- dalam pengobatan. juga tak menutup kemungkinan 60% Tsunade gagal membuat obatnya.
Apa jadinya jika saat ia melakukan kemo tiba-tiba ia meninggal? Bagaimana dengan Sasuke? Apalagi Sasuke sekarang tidak ada kabar. Hinata sangat bingung. Tiba-tiba suara Itachi terngiang di telinganya.
'Cukup hanya aku yang menderita jika kehilanganmu Hinata.'
Deg.
Itachi sudah bisa membaca situasi nanti akan seperti ini jadinya. Hinata berpikir apakah yang ia lakukan selama ini salah? Menerima cinta Sasuke. mengungkapkan cintanya pada Sasuke, bukan untuk kebahagiaan mereka, tapi ini akan membuat mereka berdua sakit hati.
Hinata menunduk mendapatkan pikiran seperti itu. Benar apa yang dikatakan Itachi, yang akan menderita bukanlah Hinata, tapi orang-orang yang akan ditinggalkan. Mengapa Hinata egois untuk hal seperti ini. Mementingkan kebahagiaannya, karena Kami-sama memberikan waktu sedikit untuknya. sehingga ia memanfaatkan cinta untuk kebahagiaan yang sekejap ini.
Lalu bagaimana kebahagiaan untuk Sasuke? Ini bukan kebahagiaan, tapi Hinata akan meninggalkan sakit yang mendalam untuknya. Tidak. Tentu Hinata tidak mau seperti itu.
"Kapan kita akan melakukan Kemo?" pertanyaan Shikamaru mengagetkan Hinata, Hinata lantas menolehkan pandangannya kearah Shikamaru.
"Jika bisa secepatnya, paling lama 3 hari lagi, atau 2 hari lagi, kau bisa menyiapkannya dari malam ini." Ujar Tsunade.
Hinata diam untuk beberapa waktu, lalu menatap Tsunade. "A-aku butuh w-waktu menyelesaikan m-masalahku… a-apakah t-tidak bisa seminggu l-lagi?"
Mata Tsunade kian menajam menatap Hinata, membuat nyali Hinata menciut. "Kau tau seberapa besar masalah ini? Jangan pikir ini main-main!"
"A-aku tidak m-menganggap i-ini main-main dr Tsunade." Hinata menatap Tsunade, namun sedetik kemudian menunduk. "B-baiklah… beri a-aku waktu du-dua hari." Akhirnya Hinata mengalah, lagi pula lebih cepat lepas dari Sasuke itu lebih baik untuk mereka.
"Baik, aku akan menyiapkan kamar untukmu, 2 hari lagi jam 2 sore, kau sudah harus berada disini."
Shikamaru menatap Tsunade dan Hinata bergantian, lalu memberhentikan pandangannya ke Hinata. "Kau sudah siap?" tanya Shikamaru yang mengerti akan keadaan Hinata. Ia mengerti bagaimana perasaan Hinata yang takut akan kesepian, takut tidak bisa melihat dunia luar, takut menjauh dari orang-orang yang ia sayangi.
"Dia harus siap, apapun yang terjadi." Jawab Tsunade tegas. Membuat Hinata lagi-lagi semakin menunduk, dan mengangguk lemah.
Shikamaru menyentuh pundaknya. "Ada aku dan sahabat-sahabatmu disini. Jangan khawatir."
…...
Seharian penuh tanpa Hinata bukan hal baik untuk Sasuke, kondisi tubuhnya saat ini menyeramkan walaupun sudah mandi. Sasuke melihat tubuhnya di kaca kamarnya. Mata berkantung, wajah kusut, dasi yang asal-asalan pakai, meskipun begitu ia masih tetap tampan.
Moodnya sangat jelek, ditambah lagi tugas dari Itachi, kakaknya yang sangat menyebalkan. Padahal kemarin mereka bertengkar, tapi masih punya muka untuk nyuruh-nyuruh Sasuke.
Sasuke ingat tadi pagi buta saat pintu kamarnya di ketuk, saat itu ia masih belum bisa tidur. ia menunggu telfon dari Hinata, yang sebenarnya Hinata juga tidak bisa tidur karena harus menyiapkan diri untuk kemonya, dan memikirkan rencana putus yang baik dengan Sasuke.
Flash Back
Tok tok tok
Buagh buagh buag
Ketukan itu jadi gedoran saat Sasuke belum mau membukakan pintu.
"Otou-tou, kau banci jika tidak mau membka pintu iini." Teriak Itachi dari luar kamar.
Seketika Sasuke menghela napas kasar. "Apa kau bilang?!" balas Sasuke dengan tak kalah sinisnya. Sementara Itachi menyeringai, rencanya berhasil.
Sasuke mendekat kearah pintu lalu membukanya dengan kasar. "Apa?!" teriak Sasuke sambil melototkan matanya yang kusut.
"Hoi! Aku kakakmu Sasuke, yang sopan!" dengus Itachi.
"Ka-Ta-Kan!" ucap Sasuke penuh penekanan, ia heran mengapa Itachi beda 100% dengan dirinya ataupun tousannya -eh, atau Sasuke sendiri yang salah tafsir karena tidak menyadari kelakuannya hampir sama dengan Itachi saat menyuruh Kakashi-
"Hm. Baiklah, aku tak mau berlama-lama." Itachi menghela napas lalu menatap Sasuke lagi. "Kau tau kan aku CEO." Alis Sasuke meninggi sebelah. "Aku banyak pekerjaan, jadi aku sering lupa dengan agendaku yang tidak penting." ucap Itachi mencoba mengulur waktu agar tidak memicu kemarahan Sasuke,dan menenangkan Sasuke sejenak.
'Ngomong apa dia ini?' inner Sasuke yang sedikit aneh dengan topik Itachi yang menurutnya tidak penting.
"Hari ini jadwalku padat… bahkan makan siangpun aku disibukkan dengan rapat." ucapnya semakin memelas.
"Sudah jangan bertele-tele, apa maksudmu? Kau tidak tau aku lelah, ha?!" balas Sasuke yang sudah tidak tahan lagi dengan basa-basi Itachi.
"Baiklah… dasar tidak sabaran!"
"Khm…" sindir Sasuke pertanda ingin mendapatkan topik utama dari Itachi dan tidak mau diulur-ulur lagi.
"Baik-baik. Aku ingin kau ke bandara jam 12 siang nanti, temanku dari LA akan da—" Itachi menghentikan ucapannya saat memandang mata Sasuke. Tajam. Menyeramkan. Dan tidak bisa terdenifisikan.
Melihat Itachi yang tidak meneruskan kalimatnya membuat Sasuke yakin dan tau bahwa Itachi memahami reaksinya. "kau tau kan harus bicara apa setelah ini? Itachi?" ucap Sasuke dengan nada tenang penuh penekanan.
Itachi mengangguk sekilas kaku. "K-kau harus menjemputnya. Dah!" setelah itu Itachi kabur.
"ITACHIII!"
End flash back.
Sementara itu di LA
Kisame memasang wajah memelas pada Pein.
"Apa?" tanya Pein melihat Kisame.
"Sebenarnya, aku tidak mau meminta tolong padamu Pein. Aku juga tidak mau menyerahkan tugas ini padamu. Tapi bagaimana lagi… orang tua ku menyuruhku untuk pulang." Ucap Kisame sambil mengelus pusaka pedang besarnya.
Mereka sedang duduk diruang tamu apartement Kisame, sengaja mengundang Pein untuk urusan yang Pein masih tidak tau. "Bicara yang jelas. Apa maksudmu anak ikan." sergah Pein yang sudah tidak sabar.
"Hey!" berang Kisame, hingga membuat pedangnya terlepar sejauh 3 mili dari tempatnya. tidak terima dirinya di namai anak ikan.
"Cepatlah… aku tak punya waktu." Pein memasang wajah serius, sambil sesekali memegang precing di wajahnya.
"Baiklah… kau memang tidak akan punya waktu. Siap-siaplah sekarang. Kau harus ke Konoha menggantikanku, Pein."
"Ha?" ucapan Kisame membuat Pein kaget dan memandang Kisame dengan tidak coolnya. "Untuk apa aku ke Konoha?"
Kisame menelan ludah, ia ingin menyembunyikan ini dari akatsuki karena Kisame merasa bangga dibutuhkan Neji, jarang-jarang ia yang diberi kepercayaan seperti ini. Tapi karena keluarganya menginginkan kepulangannya ke Kiri, ia jadi tidak bisa membantu.
"I-ini tentang Hinata." jawab Kisame dengan nada takut.
Mata Pein semakin melotot. "Ada apa dengan Hinata-chan? Jangan b-bilang…" wajah pein berubah horror.
" Tidak!" seperti sudah bisa membaca pikiran Pein, Kisame langsung menyela. "Neji hanya menyuruhku mengambil alih perusahaan Hyuga di Konoha, sementara Hinata melakukan kemo, kau hanya perlu menggantikannya 2 bulan saja. Menunggu Hanabi lulus. Setelah itu Hanabi yang akan menggantikannya."
"Tunggu-tunggu, kau yang disuruh Neji? Kenapa bukan aku?" Pein nampaknya tak terima dengan ini semua, mau bagaimana lagi? Neji tidak terlalu dekat dengan mereka. Oke mungkin mereka berteman, tapi selama ini Neji sibuk ke perusahaan hingga tidak terlalu mengenal dekat dengan akatsuki.
Saat itu Neji bertemu Kisame, nah akhirnya Kisame yang disuruh untuk mengambil alih perusahaan, lagi pula semua akatsuki sama saja, sahabat Hinata.
"sudahlah Pein. Tidak penting bertanya itu. Sekarang kau harus bersiap-siap. Pesawat berangkat jam 9. Kau hanya punya waktu 1,5 jam untuk bersiap-siap dari sekarang." ucap Kisame dengan santainya, tidak tau jika Pein sudah memasang banyak siku-siku di dahinya pertanda kesal.
Bruakkk
Pein menghantam meja sambil berdiri. "Kau gila Kisame!" Pein langsung berlari, keluar dari apartement Kisame. Sedangkan Kisame hanya diam melotot karena kaget, pedangnya yang bersandar dimeja jatuh dan mengakibatkan pedang itu retak saking tuanya, lihat saja begitu banyak perban yang mengelilingi pedangnya.
Tapi Kisame lupa akan satu hal, ia lupa menyampaikan jika Itachi akan menjemputnya jam 12 di bandara Konoha. Hm.. mereka tidak tau ini akan menjadi hal buruk nantinya.
…...
Pein berlari ke Bandara LA dengan kecepatan konstan (?). setelah sampai dan mengecek pass nya, ia masuk dan duduk di kursi tunggu.
"Hah…" lenguhnya. "Hinata tidak tau aku akan menggantikan Kisame kan. Baiknya aku telfon dulu." Pein berdialog dengan dirinya sendiri, lalu mengetik nomor Hinata dengan cepat dan menghubunginya.
'Moshi-moshi'
Terdengar suara pelan dan indah di ponsel Pein.
"Hinata-chan."
Diam sejenak, hingga akhirnya Hinata memekik. "Pein-nisan..!"
Pein menjauhkan ponselnya dari telinga. "H-hey, Hinata. Jangan keras-keras." dengusnya sambil memposisikan ponselnya di depan mulut, lalu setelah bicara ia kembalikan lagi ponselnya ke posisi samping telinganya.
Terdengar Hinata menghela napas. "Habis Nisan tidak pernah menelfonku!'
Pein terkikik. "benar aku tidak pernah menghubungimu, tapi sebentar lagi aku akan bertemu denganmu di Konoha."
'E-eh? B-benarkah? Kapan?!" Hinata terdengar lebih antusias.
"Nanti jemput aku di bandara Konoha jam 12, jangan terlambat."
'Hn. Baiklah. Pein-nisan… aku merindukanmu…"
'Begitupun nisan. Tunggu… jangan terlambat!"
"Ha'i…"
Dan setelah itu hubungan terputus, suara speaker mengingatkan untuk penumpang jurusan Konoha harus segera masuk pesawat karena beberapa menit lagi akan lepas landas.
…...
12.12
'Ck. Kuso!'
Sasuke berlari dengan tidak elitnya. Ia terlambat.
Dengan peluh di sekitar keningnya, di hawa yang panas ini, Sasuke berlari menuju kedalam bandara, teman anikinya yang datang dari LA mungkin sudah menunggu lama. jujur saja, Sasuke tidak lupa, hanya saja ia ketiduran akibat ia tidak bisa tidur tadi malam.
Sampai di kantor, Sasuke langsung rapat dadakan, lalu observasi lahan, setelah itu bukannya mengerjakan tugas yang menumpuk, Sasuke malah ketiduran, hingga jam 11.50. untung saja ia sopir yang handal, beberapa menit saja ia bisa sampai di bandara, walaupun telat 15 menit. Dan walaupun dia harus berlarian tidak jelas.
Ia kini sampai di ruangan luas, tempat semua penumpang pesawat yang baru turun akan melewatinya. Tapi dimana dia?
'Ck. Kuso!'
Lagi-lagi Sasuke mendumel, ia lupa menanyakan ciri-ciri orang lupa, tapi Itachi langsung kabur setelah menugaskannya untuk menjemput temannya itu, lagi pula Sasuke kan tidak berniat menerima tugas itu, tapi apa daya untuk Sasuke, akhirnya toh ia menjemputnya juga. Matanya berkeliling ruangan, tak ada. Tentu saja, karena dia tidak tau bagaimana rupa orang itu.
"PEIN-NISAN….."
Deg.
Suara itu, suara seseorang yang sangat ia rindukan dari kemarin. Tapi apa ini cuma halusinasi karena ia terlalu merindukan gadis itu? Perlahan Sasuke mengedarkan pandangannya kearah suara.
Hinata berlari kencang memeluk seorang pemuda tinggi yang beda 5 tahun dengannya, tampan dan gagah adalah kata yang pantas untuk orang ini. Sementara si pemuda berumur 28 tahun itu tidak segan-segan membalas pelukan adik tercintanya dengan erat.
"Aku merindukanmu, Hinata."
"begitupun aku…" Hinata yang berada dipelukannya semakin mengeratkan dekapannya, kakinya sudah tidak menapak ditanah akibat postur tubuhnya yang kalah saing dengan Pein.
Mereka masih asik berpelukan, tanpa menyadari tatapan tajam Sasuke yang sangat tidak menyukainya. Hati Sasuke sakit. 'Siapa orang itu?' geram Sasuke, ingin rasanya Sasuke berlari dan memisahkan mereka, namun seperti di lem, kakinya tidak bisa bergerak.
"Lama?" tanya Pein, saat melepaskan pelukan Hinata. Hinata mengangguk dan mengerucutkan bibirnya, semua perilakunya tidak lepas dari pandangan Sasuke.
"Aku setengah jam yang lalu berada disini." Adunya.
Pein mengacak ubun-ubun Hinata. "Itu kau sendiri yang salah."
Hinata langsung tersenyum dan menggandeng lengan Pein. "Ayo! Kau pasti lelah kan?" katanya sembari menggeret Pein mengikutinya. Dia mengajak Pein menuju parkir.
Sasuke yang melihat mereka berjalan menjauh mengepalkan tangannya erat. "Siapa laki-laki itu? Mengapa Hinata sangat dekat dengannya?" kata-kata sinis dan menekan.
Sasuke masih diam ditempatnya. Ia masih berpikir haruskah ia mengejarnya dan meminta penjelasan? Atau apakah tidak usah meminta penjelasan. "Apa yang dikatakan Itachi benar? Kau hanya memanfaatkan aku?!" kini kalimatnya mulai tidak karuan, saling menghubungkan hal ini dan itu.
"Tidak bisa! Aku harus mencari penjelasan. Mengapa Hinata menduakan ku!" puncaknya. Sasuke benar-benar dalam amarah sekarang. Ia hilang akal. Menggabungkan semua informasi yang ia dapat meski itu tidak singkron sekalipun.
Sasuke melangkahkan kakinya dan berlari menyusul Hinata dan Pein yang sudah lama menghilang. Berlari secepatnya hingga ia berhasil mendapatkan kejelasan yang pasti, agar ia mengerti, apa yang masih belum ia tau selama ini. Mengapa Hinata mempermainkannya?
'Hinata… kau harus menjelaskan semuanya padaku!'
TBC
Reviews...
chikako fujiki, Yuna Emiko, semoga seperti itu. enchep cheptie, you, astia morichan (tumben gak login), shu, oke. terus ikutin. nadya ulfa, momo tomato, Hyugta chan. makasih karena udah suka ya, ikutin terus. dan ini bisa dipastikan happy ending, tapi sebelum itu akan 'hurt'. Ashura darkname ya, Sakura akan kubuat sedikit, ingat 'sedikit antagonis' tapi sedikit, sekali lagi sedikit, oke cukup sedikit saja. omo... kau suka adegan pukul-pukulan ya, begitupun aku #pasang senyum evil. ikutin terus ya. AnelsVr habis gimana dong, dia kan kakak yang baik. Shihusi mayu-mayu, uzumaki nama, Name NM Itachi emang ada rasa sama Hinata, tapi tentu saja bukan rasa cinta, mungkin ia salah tafsir, biasakan... kan mantan. pasti. -eh pasti apaan ya?- di tafsirkan sendiri ya... Vii Violeta anais. ya nanti kalau Hinata sembuh bakalan ending, entar tinggal beberapa chap lagi, kayaknya ndak sampai 20 deh. ditunggu. seo haeri fishYeobos mungkin chap depan deh. sebenarnya aku pengen di chap ini Sasu taunya, tapi momentnya ndak ada yang mendukung, malah nggantung nantinya. ditunggu aja. cio sama kayak kamu cio, aku juga ndak suka sama cerita yang NaruSakunya egois, dicerita lain sering kayak gitu sih. tapi emang harus gitu sih, biar ceritanya sedikit hurt, nanti mereka di sadarin kok. kali ini bener-bener akan aku sadarin. lovely Sasuhina kenapa di sembunyiin, soalnya Hinata tau hidupnya gak akan lama. kenapa Sakura tetep mempertahankan hubungannya, karena Sakura Cinta mati sama Sasuke. tetep ikutin ya. Meylanie oke, tapi kamu harus tetep ikutin ya. aku juga pengen sebenernya punya sahabat yang kayak Shikamaru, jujur aja dia cerminan keinginanku, hehe. qq. zachan, lia ah terimakasih, mohon reviewnya terus ya. mhey ariska maaf ya updatenya lama... You hey... adegan tonjokannya emang dibuat kurang greget, ini perbuatan yang tidak baik sesama saudara. :P.
