YU-GI-OH Fanfiction: Forbidden Memories
Chapter 14: My Favorite Little Dragon
Disclaimer: Kazuki Takahashi
"Shizuka itu pacarku," ujar Cliff.
"EEEEEHHHHHH?!" seru Yugi dkk.
"Eeh?! Apa itu benar, Shizuka-chan?!" seru Honda, masih tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Shizuka hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan wajah yang memerah.
"TIDAK MUNGKIN!" seru Jounouchi. "Kau bohong kan, Shizuka! Masa sih kau pacaran dengan bocah sialan ini!" lanjut Jounouchi seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah Cliff.
"A-aku tidak bohong, Oniichan. Cliff-kun memang pa-pacarku," ujar Shizuka malu – malu.
Semua orang kembali menganga mendengar pengakuan Shizuka. Mereka sama sekali tidak bisa mempercayai kalau Shizuka, adik dari seorang Jounouchi Katsuya, bisa berpacaran dengan Azuma Cliff, yang jelas – jelas salah seorang yang masuk dalam daftar Black List—orang – orang yang paling dibenci Jounouchi. Kenyataan itu bagi mereka bisa membuat Perang Dunia ke-3, ke-4, bahkan ke-5 terjadi di Kota Domino dalam sekejap, akibat Jounouchi yang mati – matian tidak terima adiknya dipacari 'si bocah sialan' itu.
"Yang benar saja. Dia ini kakakmu, Shizuka? Aku tahu kalau kakakmu seorang Duelist, tapi tak kusangka dia adalah si bonkotsu ini," ujar Cliff.
"NANIII?!" Jounouchi naik darah. "Kau lihat itu, Shizuka?! Dia memanggil aku apa?! Apa kau masih mau berpacaran dengan orang yang menghina kakakmu sendiri?!" serunya.
Shizuka hanya terdiam—menatap kakaknya dan Cliff dengan tatapan heran.
"Shizuka-chan, kau mungkin belum tahu, tapi kakakmu dan Cliff-kun itu sangat tidak cocok," ujar Anzu.
"Eh? Kenapa?" tanya Shizuka.
"Karena dia tak terima kukatai bonkotsu!" ujar Cliff.
"Eh? Bonkotsu?" Shizuka heran.
"Haaahh?! Bukan cuma itu, tahu!" seru Jounouchi pada Cliff, lalu ia berbalik ke arah Shizuka. "Dia ini benar – benar menyebalkan, Shizuka! Dia bahkan selalu menghina tanpa sebab dan bilang kalau dia membenci Yugi!" lanjut Jounouchi.
Shizuka menatap Cliff. "Apa itu benar, Cleo-kun?"
Cliff terdiam sesaat. "Jangan bicara sembarangan. Aku tak pernah membenci Yugi," ujar Cliff.
"Jangan bohong! Apa kau pikir kau bisa mengelak?!" seru Jounouchi. "Yugi, ayo katakan pada Shizuka kalau ucapanku benar!"
Yugi hanya tertawa gugup. Ia tak bisa mengatakan kalau perkataan Jounouchi benar, berhubung ia telah mengetahui bahwa yang sebenarnya dibenci oleh Cliff bukanlah dirinya, melainkan Atem.
"Kenapa, Yugi?" tanya Honda.
"Eh, ah, tidak apa – apa…" ujar Yugi.
"Apa benar, Yugi-san? Apa yang dikatakan Oniichan tentang Cleo-kun?" tanya Shizuka.
"Eh?!" Yugi terkejut. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia menatap ke arah Jounouchi yang tersenyum penuh kemenangan seolah berkata 'Rasakan kau, Cliff! Jangan pikir kau akan kuijinkan berpacaran dengan Shizuka!', lalu mengalihkan pandangannya ke arah Cliff yang terlihat sedikit kesal, lalu kembali menatap Shizuka yang masih menunggu jawaban darinya.
Yugi lalu mengambil nafas panjang. Maafkan aku, Jounouchi-kun…
"Tidak, itu tidak benar, Shizuka-chan. Semua itu hanya salah paham," ujar Yugi.
"AP—?!" Jounouchi terkejut mendengar perkataan Yugi.
"Cho—Yugi, apa maksudmu kalau itu tidak benar?" seru Honda.
"Yugi, kau tak perlu membelanya," ujar Anzu.
Yugi menggeleng – gelengkan kepalanya. "Aku tidak membelanya. Itu memang hanya salah paham. Benar kan, Cliff-kun?" ujar Yugi seraya tersenyum pada .
Cliff sedikit terkejut mendengar ucapan Yugi. "Eh? A—ahh…iya…" jawabnya.
Shizuka menghela nafas lega mendengar ucapan Yugi dan Cliff. Tetapi lain halnya dengan Jounouchi, Honda, dan Anzu yang masih tak mengerti alasan Yugi membela Cliff. Melihat ekspresi teman – temannya, Yugi memberikan mereka sebuah senyuman yang berkata 'maaf, nanti akan kujelaskan' dan membuat mereka bertiga terdiam.
"Shizuka, kenapa kau tak memberitahukanku kalau kau akan ke sini?" tanya Cliff.
"Maaf, Cleo-kun, aku ingin memberikan kejutan, hehe…" ujar Shizuka.
Cliff menghela nafas. "Ya sudahlah, tapi, maaf, aku sedang buru – buru. Ada masalah yang harus kuselesaikan," ujar Cliff.
"Masalah?" tanya Shizuka.
"Ya, kau tentu ingat tentang kartu yang pernah kuceritakan padamu, kan?" ujar Cliff.
"Eh? Kau menemukannya?" ujar Shizuka.
"Ya, begitulah," ujar Cliff seraya tersenyum lebar, membuat ketiga sahabat Yugi yang belum pernah melihat wajah tersenyum pemuda itu terkejut bukan kepalang.
"Yokatta ne,Cleo-kun," ujar Shizuka, ikut senang.
"Ya, karena itu aku harus pergi sekarang. Maaf, ya," ujar Cliff.
"Ung, tak apa, Cleo-kun. Aku akan pulang dengan Oniichan, tapi kau harus janji akan menghubungiku setelah itu, ya," ujar Shizuka.
Cliff menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, lalu ia berpaling ke arah Yugi. "Nah, Yugi, ayo cepat! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kartu itu lagi!" ujar Cliff.
Yugi mengangguk. "Maaf, teman – teman, hari ini aku akan pulang dengan Cliff-kun," ujar Yugi.
"Eh? Ke-kenapa, Yugi? Kenapa kau harus pulang dengan anak itu?" tanya Jounouchi.
"Maaf, tapi aku sudah janji kemarin pada Cliff-kun," ujar Yugi, membuat ketiga sahabatnya kembali kebingungan melihat keakraban Yugi dan Cliff yang tiba – tiba.
"Ayo, Yugi!" panggil Cliff yang sudah bersiap – siap di atas motornya.
Yugi mengangguk, lalu setelah melambaikan tangannya pada ketiga sahabatnya dan Shizuka, ia pun menaiki motor Cliff dan meninggalkan sahabatnya yang masih kebingungan.
Cliff POV
Hari ini hari yang sangat penting bagiku. Kesempatan terakhirku untuk bisa mengalahkan kakek Yugi dan mendapatkan kartu yang kuinginkan. Begitu sampai di rumah Yugi, kami langsung disambut oleh senyum jahil sang kakek yang membuatku sedikit kesal.
"Ohohoho…kau datang juga, Azuma-kun!" ujar kakek Yugi.
"Oi, Jiisan! Sesuai janji, hari ini kalau aku berhasil mengalahkanmu, kau akan memberikan kartu 'Decoy Dragon' padaku, kan?" seru Cliff.
"Tentu saja, aku selalu menepati janjiku. Tapi itu kalau kau berhasil menang, hohoho," ujar kakek Yugi seraya kembali mengeluarkan tawanya yang menyebalkan.
"Huh! Jangan berlama – lama lagi! Ayo mulai!" seruku.
Dan akhirnya pertandingan Hanafuda yang kedua antara aku dan si kakek dimulai. Jujur saja aku masih belum mengerti cara bermainnya walaupun sudah membaca buku manual cara bermain Hanafuda semalam suntuk. Tentu saja! Selama ini kan aku tinggal di Amerika. Bagaimana mungkin aku bisa mengerti cara bermain permainan kartu tradisional Jepang itu dalam semalam?! Sejujurnya aku sedikit kesal dengan si kakek yang sepertinya terkesan sengaja menantangku dalam permainan yang jelas – jelas tak bisa kumengerti itu. tapi bagaimana pun juga aku membutuhkan kartu itu!
"Ohhohoho…ada apa? Cuma segitu kemampuanmu?" ujar kakek Yugi.
"Berisik! Aku pasti bisa mengalahkanmu!" seruku kesal.
Sulit! Permainan ini benar – benar sulit! Lebih sulit dari Duel Monsters! Sejujurnya aku bersyukur ini hanya sebuah permainan biasa dan bukan Game of Darkness. Kalau permainan adalah Game of Darkness, aku sudah pasti akan berada dalam bahaya besar. Namun, walau sulit, aku benci mengaku kalah. Akan kuperlihatkan kemampuanku pada si kakek sialan itu!
"AKU MENAANNGG!" seruku setelah akhirnya berhasil mengalahkan kakek Yugi setelah bertarung habis – habisan selama 3 jam.
"Hohohohoho…aku kalah," ujar kakek Yugi, mengakui kekalahannya.
"Hebat, Cliff-kun! Kau berhasil mengalahkan jiichan! Selamat, ya!" ujar Yugi.
"Hehehehe…tentu saja! Aku sampai tak tidur semalaman untuk mempelajari taktik dan cara bermainnya, tak mungkin kalau aku sampai kalah lagi!" ujarku bangga.
"Hohoho…kuakui kerja keras dan kemampuanmu, Azuma-kun. Seperti janjiku, aku akan memberikan kartu ini padamu," ujar kakek Yugi seraya menyerahkan kartu Decoy Dragon padaku.
"Arigatou, jiisan!" seruku seraya menerima kartu itu.
Aku menatap kartu yang ada digenggamanku dengan tatapan mata yang berbinar – binar saking senangnya. Akhirnya setelah sekian lama, aku berhasil menemukan kartu yang idamanku. Aku tenggelam dalam kebahagiaan dan kelegaan yang menyelimuti hatiku, dan tak menyadari pandangan mataku yang semakin lama semakin kabur, sampai kegelapan menutupi seluruh penglihatanku dan suara Yugi yang menyerukan namaku terdengar samar di telingaku.
Normal POV
"Nngg…" Cliff mengerang begitu bangun dari tidur lelapnya.
"Ah, Cliff-kun, akhirnya kau sadar!" ujar Yugi seraya menghampiri Cliff yang terbaring di tempat tidurnya.
"Yugi…? Ada apa denganku?" tanya Cliff begitu menyadari kalau dirinya berada di kamar Yugi.
"Kau tadi tiba – tiba pingsan setelah kakek menyerahkan kartu itu padamu. Kau tak apa? Apa kau sakit?" tanya Yugi, khawatir.
"Daijoubu…Aku hanya kurang tidur—GRUUU," perkataan Cliff terputus oleh suara perutnya yang tiba – tiba bergemuruh. "Err…dan mungkin sedikit lapar…"
"Cliff-kun, jangan – jangan kemarin kau tak makan dan tak tidur semalaman demi mempelajari cara bermain Hanafuda, ya?" tanya Yugi.
Cliff tertawa gugup. "Ya, begitulah…haha…" ujarnya. "Aku memang suka lupa segalanya kalau sudah berkonsentrasi pada sesuatu."
Yugi menatap Cliff dengan tatapan cemas. "Kau begitu menginginkan kartu itu, ya?"
"Ya, begitulah," ujar Cliff seraya mengambil kartu 'Decoy Dragon' yang tergeletak di samping bantal. "Kartu ini adalah kartu yang penting untukku," lanjutnya seraya menatap kartu itu.
"Apa yang membuatmu begitu menyukainya, Cliff-kun?" tanya Yugi.
"Aku dari dulu menyukai kartu Dragon yang kuanggap sebagai kartu terkuat dalam Duel Monster. Karena itulah aku selalu mengumpulkan kartu – kartu Dragon yang kuat dan langka demi menciptakan deck yang terkuat. Tetapi, setelah berduel dengan seseorang, aku menyadari bahwa hanya bergantung pada kekuatan yang besar saja tak akan bisa membuatku jadi duelist yang hebat. Kekuatan yang besar hanya akan menghancurkan diri sendiri jika kita tak bisa menyeimbangkannya dengan diri kita. Kekuatan yang besar membutuhkan penyangga yang besar agar kekuatan tersebut dapat dipergunakan sesuai dengan yang kita inginkan. Dan penyangga yang dibutuhkan oleh kekuatan itu adalah keberanian," ujar Cliff
"Keberanian?" tanya Yugi.
"Aa…jika kita tak memiliki keberanian, kekuatan sebesar apapun yang kita punya pada akhirnya akan menghancurkan diri kita sendiri. Karena kita tak punya keberanian untuk menghadapi kekuatan itu sendiri. Tapi jika kita berani untuk menghadapi kekuatan dalam diri kita, kekuatan itu akan berkembang dengan sendirinya dan akan menjadi partner yang akan selalu mendampingi kita di saat seperti apapun," jelas Cliff.
"Ung, aku setuju denganmu, Cliff-kun," ujar Yugi, tersenyum. "Jadi apa menurutmu kartu 'Decoy Dragon' itu memiliki keberanian yang kau cari – cari?"
"Aa," jawab Cliff. "Apa kau tahu, Yugi? Decoy Dragon memang hanyalah naga kecil yang lemah, tetapi keberanian yang ada dalam dirinya melebihi naga – naga besar lainnya. Keberaniannya itu diakui oleh naga – naga lain dan memberikannya kekuatan yang terlihat pada kemampuan spesial yang dimiliki kartu ini," ujar Cliff seraya menunjukkan kartu Decoy Dragon pada Yugi.
Yugi membaca dengan teliti penjelasan tentang kartu Decoy Dragon yang tertera pada kartu itu.
Ketika kartu ini dijadikan target serangan oleh monster lawan, pilih satu kartu Dragon dengan level 7 ke atas yang berada di kuburan, panggil langsung ke field, dan ubah target serangan ke kartu itu.
"Ap-?! Hebat! Kartu ini punya kemampuan khusus untuk memanggil kartu Dragon level 7 ke atas tanpa pengorbanan?!" seru Yugi tak percaya.
"Ya, begitulah. Kartu ini memang bukan kartu yang hebat, tapi justru karena itulah dia dapat memberiku keberanian. Walau dia kecil dan lemah, tapi dia tak ragu untuk maju ke medan perang dan mengorbankan dirinya demi kemenangan. Karena itulah para naga besar lainnya mengakui keberaniannya dan akhirnya membantu sang naga kecil. Yah, itu menurutku sih," ujar Cliff seraya tertawa kecil.
Yugi menatap Cliff dengan tatapan takjub. "Tidak, kurasa kau benar, Cliff-kun. Soalnya aku juga merasakan hal yang sama," ujar Yuga seraya tersenyum lembut.
Cliff sedikit terkejut mendengar perkataan Yugi, namun akhirnya ikut tersenyum. "Kau tahu? Sepertinya kita bisa jadi teman baik," ujar Cliff.
"E-ehh?" wajah Yugi memerah seketika.
Cliff tertawa. "Ahaha…bagaimana menurutmu, Yugi? Apa kau mau jadi temanku?" tanya Cliff.
Yugi yang masih merasa terkejut, segera menggeleng – gelengkan kepalanya—mengembalikan ketenangan pikirannya. "T-tentu saja, Cliff-kun," ujarnya seraya tersenyum.
Cliff pun tersenyum lebar mendengar jawaban Yugi.
Keesokan harinya di sekolah, seperti dugaan Yugi, ia langsung saja diinterogasi oleh teman – temannya.
"Oi, Yugi! Sejak kapan sih kamu akrab dengan si Cliff itu?! Memangnya kau sudah memaafkan sikapnya selama ini kepadamu?!" ujar Jounouchi.
"Nng…s-soal itu…sebenarnya…a-ada sedikit salah paham…" ujar Yugi, gugup.
"Haahh?! Salah paham?!" seru Honda dan Jounouchi.
"Salah paham bagaimana? Bukannya selama ini dia itu jelas – jelas bilang benci padamu?!" tanya Honda.
"A..anu…itu…"
"Yugi, apa ada hal yang tak kau ceritakan pada kami tentang Cliff-kun?" tanya Anzu.
Yugi terkejut melihat ketajaman insting Anzu. Anzu memang tak percuma jadi temannya sejak kecil.
"A-anu…sebenarnya—"
"Hei, kalian sedang apa?" tegur Kai tiba – tiba.
"Kai-kun!?" ujar Yugi dan Anzu.
"Aahhh! Kai! Teme!" seru Jounouchi tiba – tiba.
"Eh? A-ada apa?" tanya Kai, heran.
"Oi, Kai, apa benar Cliff dan Shizuka pacaran?!" tanya Jounouchi tanpa basa – basi.
"Haa? Shizuka-chan? Ah, iya, benar juga. Kau ini ternyata kakaknya Shizuka-chan, ya? Aku baru dengar dari Cliff. Hahahha…aku kaget lho," ujar Kai.
"Arrgh! Itu gak penting! Ayo, jawab pertanyaanku! Apa benar mereka pacaran?!" seru Jounouchi.
"Eh? Tentu saja. Memangnya kau tak diberitahu oleh Shizuka-chan?" ujar Kai.
"Jangan hiraukan dia, Kai-kun. Jounouchi hanya kesal karena Shizuka pacaran dengan Cliff yang dibencinya," ujar Anzu.
"Hahahaha…kalian sepertinya benar – benar tak menyukai Cliff, ya?" ujar Kai.
"Tentu saja!" seru Jounouchi dan Honda.
Kai hanya bisa tersenyum kecut.
"Oi, Kai, apa sih yang kalian lihat darinya? Dia itu bukannya hanya orang menyebalkan yang menjengkelkan?!" ujar Honda.
Kai tertawa kecil. "Kalian hanya belum memngenalnya dengan baik, jadi aku tak akan menyalahkan kalian jika kalian berpikir seperti itu. Tapi, bagiku, dia adalah rival dan sahabat yang terbaik."
Yugi dkk terdiam mendengar perkataan Kai.
"Kalau benar begitu, kenapa dia selalu cari gara – gara dengan kami? Dia bahkan mengatakan secara terang – terangan kalau dia membenci Yugi," tanya Anzu.
Kai terdiam sejenak. "Dia itu bukannya membenci Yugi seperti yang kalian bayangkan," ujar Kai.
"Eh? Apa maksudmu? Maksudmu ini hanya salah paham?" ujar Anzu, mengingat perkataan Yugi barusan.
"Yaah, bisa dibilang begitu," ujar Kai. "Dulu Cliff pernah bilang begini: '…dia telah membuat orang yang kusayangi menderita…' Jadi kurasa alasan mengapa ia membenci Yugi adalah karena Yugi telah menyakiti orang yang berharga untuknya."
"Hahh? Mana mungkin?! Lagipula Yugi bahkan belum pernah bertemu dengannya ataupun kenalannya sebelum dia pindah ke SMA Domino! Benar kan, Yugi?" ujar Jounouchi.
"Tidak…" tiba – tiba saja Atem muncul di hadapan mereka, menggantikan Yugi.
"At—Yugi!? Apa maksudmu?" ujar Jounouchi. "Maksudmu kau benar – benar pernah membuat orang yang disayangi Cliff menderita?!"
Atem tidak menjawab pertanyaan Jounouchi dan hanya menatap tajam ke arah Kai. "Kau tahu sesuatu, kan?" ujar Atem, belum melepaskan pandangannya dari Kai.
"Apanya?" tanya Kai, tersenyum seolah tak mengerti maksud pertanyaan Atem.
Atem mengernyitkan matanya, menatap semakin tajam ke arah pemuda berambut orange-kecoklatan yang berada di hadapannya. Baru saja ia akan membuka mulutnya lagi, tiba – tiba seluruh gedung sekolah diguncang oleh gempa hebat.
"Ada apa ini?! Apa ini gempa yang sama dengan yang waktu itu?!" seru Jounouchi.
Atem menatap sekitarnya, dan benar saja, seluruh murid SMA Domino kecuali dirinya dan juga teman – temannya, serta Kai telah mematung.
"Kuso! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?! Siapa yang berani melakukan semua ini!?" seru Atem.
"Tenanglah, Yugi. Pertama kita harus mencari Cliff dan yang lainnya," ujar Kai.
Namun sebelum mereka sempat bertindak, sebuah cahaya menyilaukan menyelimuti mereka. Dan begitu tersadar, mereka telah berada di halaman sekolah.
"A-apa yang terjadi?! Kenapa kita tiba – tiba sudah berada di halaman?!" seru Honda, panik.
"Apa ini juga ulah Guardian of Shadow Realm?" gumam Atem.
"KAAII!" tiba – tiba suara Cliff terdengar oleh mereka.
Kai berbalik dan mendapati Cliff dan keempat sahabatnya yang lain, beserta Yami Bakura, berlari menghampirinya. "Cliff!" seru Kai seraya menghampiri sahabatnya itu. "Apa yang terjadi?"
Cliff terdiam sejenak, lalu pandangan matanya tertuju pada Atem. "Kau!" seru Cliff tiba – tiba seraya menarik kerah seragam sekolah Atem.
"Oi, Cliff!" Kai yang terkejut, segera berusaha menghentikan tindakan Cliff.
"Cliff-kun, hentikan!" seru Hiori.
Cliff tak menghiraukan teguran kedua sahabatnya dan tetap tak melepas genggaman tanganya dari kerah seragam Atem. "Semuanya salahmu! Orang yang menjadi awal mula dari semua ini adalah kau!"
"Oi, Cliff, lagi – lagi kau menyalahkan Yugi! Memangnya apa salah Yugi, hah?!" seru Jounouchi, kesal melihat sahabat baiknya terus – terusan diperlakukan seenaknya oleh Cliff.
"Diam! Jangan ikut campur!" seru Cliff.
"Cliff, hentikan. Sekarang bukan saatnya untuk bertengkar dan menyalahkan orang!" ujar Yuuki.
Cliff masih akan protes lagi, namun tiba – tiba sebuah suara menghentikannya. "Itu benar, Cleo-kun."
Semua mata lalu menatap ke arah datangnya suara itu. Cliff sontak melepaskan genggaman tanganya dari kerah Atem. "Shizuka…"
"Benar kata Yuuki-san, Cleo-kun. Bukannya ada hal yang lebih penting yang harus kau lakukan?" ujar Shizuka seraya berjalan menghampiri kekasihnya itu.
Cliff terdiam.
"Shizuka, kenapa kau…?" tanya Jounouchi, terkejut dengan kemunculan adiknya.
"Aku sebenarnya datang untuk mengantarkan bento untuk kakak dan Cleo-kun, tapi…sepertinya ini bukan saat yang tepat, ya?" ujar Shizuka.
"Sou da, Shizuka. Kau tak boleh berada di sini. Tempat ini berbahaya untuk orang biasa sepertimu," ujar Cliff.
"Nnnggg," Shizuka menggeleng – gelengkan kepalanya. "Aku tak akan pergi dan meninggalkanmu ataupun kakak bertarung seorang diri."
"Tapi, Shizuka…"
"Tidak, kak. Aku tak akan pergi!" tegas Shizuka sebelum Jounouchi meneruskan kata – katanya.
Cliff menghela nafas panjang. "Baiklah, kau boleh berada di sini. Tapi berjanjilah, kau tak boleh masuk ke dalam sekolah," ujar Cliff.
"Aku janji," ujar Shizuka, tersenyum. "Tapi kau juga harus berjanji agar tak sembrono. Dalam keadaan apapun, kau tahu bisa bersandar padaku, Cleo-kun."
Cliff mengangguk dan tersenyum lembut mendengar ucapan Shizuka.
"Cliff, apa kau tahu cara masuk ke dalam sekolah?" tanya Kai.
"Entahlah, tapi kita harus mencoba segala cara jika ingin menyelamatkan Geki," ujar Cliff.
"Geki? Maksudmu Tachikawa?! Tachikawa masih berada di dalam sana?!" seru Atem tiba – tiba, mengejutkan semua orang.
Cliff menatap serius ke arah Atem. "Aa…musuh mengincar Geki, jadi tentu saja mereka mencoba menghalangi kita untuk menyelamatkannya lagi seperti waktu itu," ujar Cliff.
"Apa maksudmu musuh mengincar Tachikawa?! Apa hubungan Tachikawa dengan semua ini?!" seru Atem.
"Kenapa kau tak tanyakan hal itu pada dirimu sendiri?" ujar Cliff, dingin.
"Aku tak mengerti. Apa maksudmu ini semua salahku? Kau bilang aku telah membuat orang yang sayangi menderita. Apa yang kau maksud adalah Tachikawa?" tanya Atem.
"Huh! Butuh waktu lama untuk kau menyadarinya, Pharaoh," ujar Cliff.
Atem terkejut mendengar jawaban Cliff. "Ternyata benar dugaanku. Kau mengetahui sesuatu tentang masa laluku," ujar Atem, lalu dengan cepat mencengkeram kedua lengan Cliff. "Katakan padaku yang sebenarnya, Cliff! Apa hubungan Tachikawa dengan semua ini?!"
"Kau ingin tahu?"
"Aa…" jawab Atem dengan serius.
Tanpa diduga, Cliff lalu menepis kedua tangan Atem yang mencengkeram kedua lengannya, kemudian balik mencengkeram kedua bahu Atem.
"Kalau begitu buktikan dirimu! Lakukan sesuatu! Lindungi dia sekuat tenagamu, sekalipun harus mengorbankan nyawamu!" seru Cliff. "Kau…Kau mencintainya, kan?!"
Kata – kata terakhir Cliff berhasil mengejutkan semua teman – teman Atem.
"EEHHH?! At—Yugi, apa maksudnya ini?! Eh?! Kau mencinta—eh?!" Jounouchi panik saking terkejutnya dengan informasi yang baru saja didengarnya.
Anzu hanya terdiam, tapi ia juga menatap Atem dengan ekspresi terkejut.
"Ee—eh? Yugi, apa itu benar?!" seru Otogi.
"Huh! Teman macam apa kalian ini? Masa kalian sama sekali tak bisa menyadari hal sepele seperti itu?" ledek Yami Bakura.
"Kau diam saja, Bakura!" seru Jounouchi. "Yug—tidak, Atem, apa itu benar?" tanya Jounouchi dengan nada serius.
Atem menatap ke arah teman – temannya yang sekarang memasang ekspresi serius, seolah menunggu sebuah jawaban keluar dari mulutnya. "Aa…" jawab Atem singkat.
Jounouchi, Anzu, Honda, dan Otogi hanya bisa menganga mendengar jawaban Atem. Atem menghiraukan tatapan tak percaya keempat sahabatnya dan kembali menatap Cliff.
"Aku mengerti maksudmu, Cliff. Aku akan membuktikan kalau aku bisa melindungi Tachikawa!" tegas Atem.
Cliff menatap Atem dalam – dalam—mencoba membuktikan kebenaran kata – katanya. Setelah ia merasa kalau ucapan Atem benar – benar serius, ia pun membalikkan badannya menghadap ke arah gedung sekolah di belakangnya.
"Baiklah, aku percaya pada kata – katamu kali ini. Tapi kalau kau berani menginkari perkataanmu, aku sendiri yang akan menghabisimu!" ujar Cliff, tanpa menatap Atem. "Hiori, Kai, bantu aku!"
Hiori dan Kai mengangguk lalu berjalan ke samping kiri dan kanan Cliff.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Atem.
Tanpa menjawab, Cliff mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya, dan membuat Atem dkk terkejut.
"I-itu…Millenium Rod?! Cliff, kau—?!"
"Nama sejatiku Cleod, pemilik Millenium Rod yang baru, dan pewaris ingatan Raja yang dilindungi oleh Dewa Ra, yang juga dikenal dengan julukan 'The Right Hand of God'!" ujar Cliff.
"The Right Hand of God…Tangan kanan Dewa," gumam Atem.
"Bersiaplah, Pharaoh. Ujian pertamamu telah dimulai!"
To be continue…
A/N: Akhirnya bisa mengupload chapter 14 hari ini. Maafkan saya yang tidak meng-upload chapter ini dalam waktu yang lama. Author sedang pusing tujuh keliling dengan skripsi sampai - sampai gak ada waktu untuk menulis fanfic (TT_TT) #cries...
Yaahh...gak ada lagi yang bisa author ucapkan selain mohon maaf yang sebesar - besarnya atas keterlambatannya. N author juga mohon agar kalian maklum jika chapter berikutnya pun terlambat di-upload. Tapi tenang saja, fanfic ini masih akan terus dilanjutkan. Gak akan hiatus atau semacamnya. Author akan berusaha agar bisa mengupload chapter berikutnya lebih cepat...(9^o^)9
Thanks sebelumnya atas kemaklumannya...Nah, sekarang silakan nikmati trailer chapter berikutnya di bawah ini...
Ciao^_^)/
UP NEXT
YU-GI-OH Fanfiction: Forbidden Memories
Chapter 15: The Three Ancient Items
...rahasia yang satu persatu mulai terungkap...
"...dalam dirinya tersimpan sebuah kekuatan yang bahkan tak disadari oleh dirinya sendiri..."
...musuh yang muncul tiba - tiba...
"Aku adalah tangan kanan sang Dark Master dan salah satu pewaris dan penjaga ingatan terlarang..."
...takdir menyakitkan yang menyerang Sang Raja...
"Kau adalah awal mula semua penderitaan Geki. Jika kau benar - benar ingin melindunginya, maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah dengan menjauhinya!"
...serta teriakan hati gadis yang dicintainya...
"Kumohon hentikan! Jangan sakiti orang ini lagi! Dia adalah orang yang berharga bagiku!"
NEXT CHAPTER OF YU-GI-OH: FORBIDDEN MEMORIES
COMING SOON!
