That Butler, is the Maid Servant

Ehm, sekali lagi saya minta maaf akan keterlambatan update. Makasih ya bagi review-review yang udah masuk!

Karena ada yang usul soal adegan romantis Misaki – Sebastian, maka gue bikin sedikit adegan 'dekat' mereka. Mungkin agak terlalu dekat ya? Tapi gak papalah, kan' fanfic ini T rated. Toh gak gue gambarin secara eksplisit. Terserah imajinasi kalian aja deh pas baca bagian itu.

Bagi yang penasaran bagian itu apa, silakan baca sendiri! Tapi jangan terlalu mikir dan ngarep macem-macem loh! *ambigu mode on*

Please enjoy the reading!

Disclaimer:

Maid-sama dan Kuroshitsuji bukanlah punya saya tapi punya Hiro Fujiwara sensei dan Yana Toboso sensei.


Dies irae, dies illa
Solvet saeclum in favilla,
teste David cum Sibylla.
Quantus tremor est futurus,
quando judex est venturus,
cuncta stricte discussurus!

Day of wrath, day of anger
will dissolve the world in ashes,
as foretold by David and the Sibyl.
Great trembling there will be
when the Judge descends from heaven
to examine all things closely

(Mozart's Requiem, Sequence pertama)


Part 14: The Last Requiem ~ Cinco

Setiap makhluk pasti akan mati.

Tapi jiwa adalah abadi.

Manusia lahir ke dunia ini, tertawa, menangis, merasa terluka, saling mendukung, saling mempercayai, mengkhianati, memaafkan, terpuruk, bangkit kembali…masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda dan menjalaninya dengan cara yang berbeda. Hanya satu hal yang sama: ke dalam pelukan kematianlah mereka kelak akan kembali.

Setelah itu, apa yang terjadi pada jiwa mereka? Jiwa-jiwa itu tetap hidup. Menunggu saatnya lahir kembali ke dunia disuatu tempat antara langit dan bumi setelah diantar oleh para dewa kematian. Lalu menjalani kembali siklus kehidupan berkali-kali. Membayar dosa-dosa yang telah dilakukan atau memetik kenikmatan atas kebaikan yang mereka lakukan di kehidupan sebelumnya.

Kecuali mereka yang melakukan kontrak terlarang dengan iblis. Mereka yang menjual jiwanya pada kaum terkutuk tidak akan pernah terlahir kembali karena jiwa mereka lenyap saat sang iblis memangsanya. Tidak banyak orang yang bersedia memilih jalan ini, kecuali mereka yang benar-benar bodoh atau mereka yang benar-benar merasa putus asa. Karena setiap jiwa tahu, lebih baik berkali-kali terluka dan terpuruk dalam kehidupan-kehidupan selanjutnya daripada tidak bisa lagi menghirup hembusan angin pagi, menikmati kehangatan sinar matahari, dan merasakan cinta untuk selamanya.

Karena itulah ada malaikat. Mereka kaum yang menuntun manusia menjauhi bisikan iblis dan menarik mereka dari kegelapan saat sedang terpuruk. Malaikat tidak selalu muncul dalam wujud makhluk utusan Tuhan yang memiliki sayap putih dan mulia. Mereka bisa saja hadir dalam wujud manusia yang hanya memiliki setitik kebaikan dalam hatinya, namun kebaikan itulah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan para manusia yang nyaris jatuh ke dalam lumpur dosa abadi.

Tapi apakah setiap orang memiliki malaikat?

Dan apakah malaikat itu selalu muncul tepat pada waktunya?


Malam telah mencapai puncaknya.

Langit menghitam. Tak ada cahaya sedikitpun disana. Sebaliknya kota dibawah terlihat amat terang. Cahaya-cahaya kecil penuh warna nampak berkelap-kelip bagaikan lampu natal. Angin bertiup sangat pelan namun udara terasa amat dingin.

Misaki merapatkan selimut yang menyelimuti tubuhnya lebih erat sambil menyesap tetes terakhir kopi yang sudah dingin sejak setengah jam yang lalu. Kepalanya tertengadah menatap langit hitam dengan tatapan kosong. Sudah berjam-jam dia nyaris tidak bergerak dari posisinya.

"Tidak bisa tidur, nona?"

Misaki menoleh menatap Sebastian yang tiba-tiba saja berdiri disebelahnya dan mengangguk lalu kembali menatap langit. Sebastian meletakkan secangkir kopi yang masih panas disebelah Misaki dan menyesap kopinya sendiri. Pria berambut hitam itu duduk dan ikut-ikutan menatap langit malam.

"Hei Sebastian."

"Ya?"

"Apa yang kulakukan sudah benar?"

Sebastian mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Setahunya Misaki bukan tipe orang yang menyesali apa yang telah diputuskan ataupun dilakukannya karena dia adalah orang yang sudah memikirkan segala konsekuensi atas tindakan apa saja yang akan dia lakukan. Jadi pertanyaan barusan bisa dibilang merupakan pertanyaan yang tidak biasa.

"Aku…tidak mau membuat Usui jadi musuhku."

Lagi-lagi Sebastian mengangkat alisnya. "Kenapa? Bukankah anda membencinya?"

Misaki menatap Sebastian dengan ekspresi sedih di wajahnya. "Ya, aku memang membencinya. Bukan karena dia meninggalkanku bertahun-tahun lalu tapi karena dia ingin mengganggu kehidupanku saat ini. Tapi…"

Misaki memeluk kedua lututnya sampai menyentuh dagu dan membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya itu. "Tapi walau begitu, aku tetap mencintainya."

Sebastian agak tercengang mendengar pernyataan ini. Manusia memang aneh. Meskipun sudah dikhianati dan dilukai, apa mungkin mereka masih tetap bisa mencintai? Manusia yang ditemuinya selama ini tidak pernah ada yang seperti itu. Mereka adalah para makhluk egois yang langsung melupakan rasa cinta sedalam apapun kalau ada dendam.

Tapi dia tak mendeteksi sedikitpun kebohongan ataupun tanda-tanda kemunafikan dalam pikiran maupun perasaan Misaki. Dan walaupun dia merasa hal ini agak mustahil, Sebastian harus mengakui kalau perasaan gadis satu ini kepada manusia bernama Usui Takumi sangat dalam. Begitu dalamnya sampai-sampai meskipun hatinya hancur lebur nyaris tak bersisa, walaupun kebencian mulai menggerogoti hatinya yang murni, rasa cintanya pada pemuda itu tidak berkurang sedikitpun.

Misaki memang sulit dimengerti.

"Aku…benar-benar tidak mau melawannya. Membayangkan kami ada dipihak yang berlawanan…dimana salah satu dari kami harus mati…membayangkan dia menatapku yang berlumuran darah dengan tatapan dingin…atau aku menatapnya berlumuran darah…" Misaki gemetar sambil memejamkan matanya erat-erat, "…sangat mengerikan. Dia satu-satunya orang yang paling tidak bisa aku korbankan demi apapun, Sebastian. Dan sekarang kami terjebak dalam situasi yang paling tidak kuinginkan terjadi."

Sebastian memeluk bahu Misaki dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Dia tahu semua yang Misaki pikirkan dan rasakan. Dia tahu walaupun Misaki meratap dan menangis, menolak dan meronta, gadis itu tidak akan lari dari takdirnya. Jika saatnya tiba, dia akan menghadapi semuanya dengan kepala dingin dan ekspresi datar walaupun setelahnya dia akan semakin hancur. Dan dia juga tahu bahwa walaupun nanti pihak mereka menang, Misaki akan langsung memerintahkannya memakan jiwanya karena dia tak akan sanggup dihantui bayangan Usui yang kaku dan pucat seumur hidupnya.

Entah kenapa dada sang iblis terasa sakit merasakan semua emosi itu.

Seolah rasa sakit Misaki mengaliri hatinya juga.

Namun sekarang dia tidak mau dan tidak sempat memikirkan arti rasa sakit itu karena ada hal yang harus dia lakukan saat ini. Menenangkan hati gadis rapuh dalam pelukannya.

"Apapun yang akan terjadi, saya akan tetap berada disisi anda."


Begitu pagi tiba, Misaki masih tetap berada dalam berada dalam pelukan Sebastian.

Gadis itu membuka mata dan wajah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Sebastian. Pria itu masih tidur. Saat sedang tidur wajahnya terlihat sangat damai dan indah, bagaikan malaikat. Ironisnya, orang yang dimaksud sebenarnya adalah iblis.

Dengan perlahan Misaki menelusuri pipi Sebastian dengan jarinya. Setelah itu dahi, rahang, lalu terakhir bibir. Bibirnya membuka sedikit saat merasakan sentuhan Misaki tapi lucunya pria itu sama sekali tidak terbangun. Misaki tertawa kecil tanpa suara sambil menyurukkan wajahnya sekali lagi ke dada telanjang Sebastian, merasakan dan mengingat-ingat kehangatan yang dirasakannya sepanjang malam dalam pelukan itu sebelum pelan-pelan melepaskan diri dan beranjak ke kamar mandi hanya dengan membungkus badan dengan selimut.

Setelah mandi dan berpakaian, Misaki keluar kamar dan melihat Hazuki sedang menonton televisi. "Kapan kau pulang?" tanya Misaki pada pemuda berambut abu-abu kebiruan itu. Kemarin Hazuki menginap di rumah keluarganya. "Baru saja. Aku kesini pagi-pagi sekali karena ingin sarapan makanan buatan Sebastian. Dia belum masak ya?"

"Eh, belum. Dia…masih tidur."

Hazuki menatap wajah Misaki yang memerah dengan tatapan bingung. Lalu dia menghubungkan informasi antara Sebastian yang masih tidur dan wajah Misaki yang memerah dan seketika dia paham. "Ah, aku mengerti."

"Me, mengerti apa?"

Hazuki mendesah sambil kembali mengalihkan pandangan ke televisi. "Kau ini benar-benar mudah ditebak ya. Aku yang melihatnya saja jadi malu."

"Ap, apa maksudmu, Hazuki?"

"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Jadi tidak ada makanan sama sekali nih?"

Misaki mati-matian mengendalikan perasaannya malu-kesalnya dan akhirnya bisa menjawab, "Ada natto sisa kemarin."

"Yieks, aku benci natto!"

"Sup kepiting juga ada, tapi…"

"Sup kepiting? Aku mau itu ya!"

Misaki ternganga mendengarnya. "Kau serius nih mau makan sup kepiting pagi-pagi begini? Terus…tunggu dulu. Apa maksudmu dengan 'aku mau itu ya!'? Kau menyuruhku menyiapkannya untukmu?" tiba-tiba saja Misaki jadi marah. Hazuki nyengir dan mengangguk. "Tolong ya, Misaki."

"Enak saja! Memangnya aku pembantumu, apa? Siapkan sendiri!"

"Begitu saja pelit!"

"Apa katamu?"

Dan (lagi-lagi) mereka adu mulut tanpa henti.

.

.

.

"Jadi begitu."

Pertengkaran mereka sudah lama lewat dan setelah sarapan (akhirnya Misaki mengalah dan menghangatkan sup kepiting untuk sarapan mereka) Misaki menceritakan pada Hazuki tentang apa yang dia bicarakan dengan Sebastian semalam. Tentang dirinya yang tidak ingin menjadikan Usui sebagai musuhnya.

"Aku mengerti perasaanmu," ujar Hazuki setelah Misaki selesai bercerita. "Kalau orang terdekat kita tiba-tiba menjadi musuh, rasanya sangat menyakitkan," ujarnya sambil menerawang, mengingat apa yang terjadi padanya saat masih menjadi Ciel Phantomhive, saat bibi tercintanya tiba-tiba saja ingin membunuhnya. Rasa sakit yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapapun itu masih tetap berdenyut menyakitkan setiap dia mengingatnya.

Kemudian pemuda itu tersenyum pada Misaki. "Tapi kau tidak akan lari kan'?" tanyanya walaupun sudah tahu Misaki akan menjawab 'ya'. Entah kenapa dia sangat mengerti Misaki. Mungkin karena kami sangat mirip, batinnya saat melihat Misaki mengangguk menjawab pertanyaannya barusan.

"Walau begitu tidak berarti aku tidak takut. Bagaimana kalau nanti aku ragu-ragu? Bagaimana kalau nanti aku malah mengacaukan segalanya? Bagaimana kalau semuanya berjalan dengan tidak sebagaimana mestinya?"

Wajah Misaki terlihat serius sekali dan entah kenapa Hazuki geli melihatnya. Tiba-tiba saja dia memukul punggung Misaki sekeras-kerasnya, membuat gadis itu nyaris terjungkal.

"Kau terlalu banyak berpikir! Ragu-ragu dalam situasi semacam itu wajar. Segalanya kacau pada akhirnya juga tidak apa-apa. Yang penting kita berusaha sekuat tenaga dari awal sampai akhir agar tidak menyesal nantinya! Itu saja cukup! Dan memangnya situasi yang 'berjalan sebagaimana mestinya' itu situasi yang seperti apa? Kita juga tidak tahu kan'? Jangan terlalu memikirkan hasil akhir dari sesuatu yang belum kita ketahui benar atau tidaknya! Santai saja!"

Misaki yang tadinya sudah gatal ingin memukul balik pemuda yang membuat punggungnya terasa memar itu mengurungkan niat mendengar kata-kata barusan. Benar juga. Selama ini dia terlalu sibuk memikirkan akhir dari apa yang sedang dia hadapi. Dia lupa kalau dalam memecahkan suatu masalah, yang paling penting adalah cara kita menghadapinya, bukan hasilnya. Nyaris saja dia melupakan hal sepenting itu.

"Terima kasih, Hazuki," ujar Misaki sambil tersenyum kecil. Hazuki balas tersenyum padanya. "Sama-sama. Aku tidak tahu kau sebegitu sukanya dengan pukulanku."

"Enak saja! Bukan terima kasih soal itu!"

Misaki mengangkat tangannya, hendak balas memukul Hazuki tapi pemuda itu menagkap tangan yang siap melayangnya pukulan itu dan mengeggamnya dengan kedua tangannya dan menatap gadis itu dengan sungguh-sungguh.

"Jangan lupa, selain Sebastian, kau masih punya aku. Aku akan selalu ada di pihakmu."

Lagi-lagi Misaki melupakan niatnya untuk balas memukul Hazuki dan balas mengenggam tangan pemuda itu dengan tangannya yang bebas.

"Terima kasih, Hazuki."

Sedetik kemudian…

DUARRRR!

Misaki dan Hazuki tersentak kaget dan buru-buru berlari ke sumber suara ledakan: kamar tidur. Setelah berkutat dengan grendel pintu yang sulit dibuka karena licin terkena keringat panik telapak tangan mereka, pintu itu menjeblak terbuka dan pemandangan yang sangat kacau menyambut mereka.

Tempat tidur dan jendela kaca hancur berkeping-keping. Barang-barang lain dalam ruangan itu kira-kira bernasib sama. Masing-masing nyaris sulit dikenali. Tapi bukan itu yang paling membuat mereka berdua terkejut.

Sebastian – mengenakan coat butler hitamnya yang biasa – berdiri diatas puing bekas meja kayu sambil menatap tajam dua sosok yang berada di tempat yang tadinya adalah jendela. Sarung tangan yang menyembunyikan tanda kontraknya dengan Ciel dan Misaki di kedua punggung tangannya terlepas, membuat jari-jari panjang dengan kuku hitamnya terlihat jelas. Mata merahnya menyala-nyala menatap sosok-sosok familiar di jendela.

Seorang pria serba merah yang menatap sang butler dengan tatapan buas seolah tak sabar ingin menancapkan senjata berbentuk chainshaw miliknya pada si iblis, namun entah bagaimana tatapan buas itu bercampr dengan ekspresi…rindu? Nakal? Dan…genit?

Singkat kata: menjijikan sekali.

Seorang lagi adalah pemuda berambut sewarna madu berekspresi tenang. Dia menatap sang iblis lekat-lekat sebelum mengalihkan pandangannya pada Misaki yang baru saja datang dengan ekspresi yang berubah sedih.

"Hisashiburi, Sebas-chan!" sapa Grell sambil melambai-lambaikan tangan dan mengedip genit pada Sebatian, membuat semua orang disana termasuk Usui menatapnya dengan bulu kuduk yang meremang.

Dasar banci kaleng!

"Kau selalu membuatku jijik," ujar Sebastian sambil menatapnya dengan wajah yang nyaris tanpa ekspresi. Grell memasang wajah terluka dan meremas dadanya. "Aww, kata-katamu barusan menyakitiku, Sebas-chan! Perasaan wanita itu lembut sekali, tahu!"

"Siapa yang perempuan?"

Grell memonyongkan bibir dengan gaya (sok) imut. "Lagi-lagi kau menyakiti hatiku! Tapi seperti itulah sifatmu yang kusukai," ujarnya sambil turun dari jendela dan beringsut mendekati Sebastian, "Se – bas – chan," bisiknya tepat di telinga kanan sang iblis yang langsung melompat menjauh.

Lagi-lagi Grell memasang ekspresi terluka sementara yang lainnya terus merinding jijik melihat tingkahnya. "Ah, mungkin aku memang masokis! Semakin kau menyakiti hatiku, semakin bernafsu aku…"

Tiba-tiba saja sang dewa kematian berdiri dihadapan sang iblis dan deathscythe-nya yang berbentuk chainshaw nyaris saja merobek leher pria itu seandainya dia tak menghindar di detik-detik terakhir.

"…untuk membunuhmu," lanjutnya sambil menyeringai sinting.

Selanjutnya semua berjalan dengan cepat. Grell menebaskan senjatanya ke arah Sebastian dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata sementara Sebastian melompat, menghindar, dan sesekali memukul Grell dengan kecepatan sama. Misaki mengambil kesempatan ini untuk mengambil buku harian Ciel yang dia sembunyikan di lubang bawah lantai dan melemparkannya pada Hazuki yang lalu membawanya keluar ruangan. Usui mengejar pemuda itu dan Misaki mengejar Usui secepat yang dia bisa.

Usui melancarkan tendangan pada Hazuki yang berada dalam jarak serangannya tapi tanpa diduga Hazuki dapat menangkisnya dengan sebelah tangan dan nyaris membuat Usui terjengkang seandainya dia tidak bisa menyeimbangkan dirinya dengan cepat. Saat Usui berhasil mendapatkan keseimbangannya, Hazuki sudah berlari keluar kamar apartemen dan sekarang sedang menyusuri lorong menuju tangga karena lift apartemen belum selesai diperbaiki. Usui kembali mengejarnya tapi Misaki keburu menyusulnya dan mulai menyerang pemuda itu dengan pukulan-pukulannya. Usui menghindari serangan-serangan itu dengan susah payah.

"Kau tambah kuat ya, kaichou?" puji Usui sambil menghindari backhand Misaki. "Tentu saja!" timpalnya saat menghindari lengan Usui yang nyaris mengunci gerakannya. "Selama ini aku berjuang keras dalam segala hal termasuk beladiri agar tidak bergantung pada siapapun!"

"Kecuali iblis itu?" ujarnya saat nyaris terkena tendangan berputar sang mantan ketua OSIS Seika.

Misaki menjawab sambil terus melayangkan pukulan, tendangan, dan menangkis setiap serangan Usui. "Kecuali dia. Karena aku tahu, " Misaki merunduk menghindari tinju Usui, "sekuat apapun kita berusaha, kita tak mungkin bisa bertahan kalau tidak bergantung pada siapapun."

Gerakan Usui terhenti sejenak saat mendengar pernyataan ini. Hal ini membuat Misaki berhasil mendaratkan sebuah tendangan tepat di pinggangnya, membuat pemuda itu jatuh karena rasa sakit yang amat sangat dan terpaksa menghindari serangan-serangan Misaki sambil bergulingan dilantai sebelum sanggup bangkit berdiri.

"Lalu kenapa tidak bergantung padaku?"

Misaki mengehentikan pukulannya di udara sambil terbelalak mendengar pertanyaan itu sementara Usui menatapnya dengan tatapan tajam.

Tanpa terduga, tiba-tiba saja seluruh tubuh Misaki bergetar hebat.

Gadis itu menangis.

"Bagaimana caranya? Kau kan' tidak ada disisiku…"

Untuk kedua kalinya, Usui melihat sisi rapuh Misaki yang terbentuk karena kepergiannya dahulu.

Dan pemandangan itu adalah pemandangan yang menurutnya paling mengerikan di dunia ini.


Sementara itu, pertarungan Sebastian dan Grell dikamar semakin sengit.

Pipi, paha kanan, dan lengan kiri Sebastian terkena sabetan deathscythe Grell sementara bahu kanan, punggung, pergelangan tangan, dan pinggang kanan sang dewa kematian terkena cakaran dan pukulan keras Sebastian. Mereka berdua terus saling menyerang tanpa berhenti sama sekali.

"Apa tujuanmu sebenarnya?"

Grell mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Deathscythe-nya terayun mengerikan bagai sedang menari disekitar Sebastian. "Bukankah pemuda itu sudah memberitahu kalian?"

"Kalau memang ingin bertarung denganku, tidak harus membawa-bawa mereka kan'? Apa tujuanmu melibatkan mereka?"

Mendengar pertanyaan itu membuat sang dewa kematian terkikik geli. "Karena menarik, tentu saja! Bukankah kau melakukan permainan majikan-hamba dengan para manusia ini juga karena hal itu? Ah, apakah kau mempedulikan para makhluk fana itu, Sebas-chan?"

"…"

Tiba-tiba saja tawa Grell terhenti. "Ah, begitu. Aku benar-benar cemburu pada gadis itu! Kau sangat memperhatikannya ya?"

Sebastian mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu. Apakah aku peduli? Tentu, karena dia majikanku. Alasan selain itu?

"Tidak."

Grell berdecak kesal. Dia bisa mendengarkan pikiran dan merasakan perasaan Sebastian. Dia tahu kalau iblis itu sangat memperhatikan gadis itu dan memiliki perasaan lebih dari perasaan terhadap majikan padanya. Memang bukan cinta, tapi sesuatu yang dekat dengan itu. Mungkin lebih kuat.

Sang dewa kematian tersenyum riang. "Kalau begitu agar pertempuran kita makin seru, aku akan membunuh gadis itu dulu! Ide bagus, bukan?"

Dan dalam sekejap Grell melesat keluar ruangan sementara Sebastian segera mengejarnya.

"Hentikan, dewa kematian vulgar!" teriaknya penuh ancaman.

"Ahahahaha!"


Sementara itu…

Misaki terus menangis sambil menatap Usui dengan perasaan terluka.

Seketika segala pertarungan terlupakan saat airmata mengaliri pipi gadis itu dengan deras.

Usui ingin sekali memeluk Misaki dan menghiburnya dengan cara apapun tapi dia tahu, apapun yang bisa dia lakukan sudah terlambat. Misaki sudah hancur.

Dia tidak bisa lagi menjadi malaikat Misaki. Sejak dia meninggalkan Misaki beberapa tahun yang lalu, peran itu sudah terlepas darinya. Dan saat dia memutuskan untuk membantu Grell, sudah terlambat baginya untuk kembali menjadi malaikat Misaki.

Karena dia adalah penyebab Misaki terpuruk dalam kegelapan, maka dia tak bisa lantas jadi malaikat penyelamatnya.

Sayap yang pernah dimilikinya saat masih bersama Misaki dulu telah gugur bersamaan dengan daun-daun merah di musim gugur saat itu.


Day of wrath, day of anger
will dissolve the world in ashes,
as foretold by David and the Sibyl.
Great trembling there will be
when the Judge descends from heaven
to examine all things closely

(Hari kemurkaan, hari kemarahan

akan melenyapkan dunia menjadi debu

sebagaimana yang telah dikisahkan oleh David dan Sibyl

Getaran hebat akan terjadi

Saat Sang Hakim turun dari Surga

untuk menguji segalanya dengan teliti)

Dewi takdir telah turun dari singgasananya dan menatap pertarungan terakhir antara para pendosa, iblis, pemburu, dan sekutunya dalam wujud bulan yang tak tampak oleh mata manusia. Bulan mati.

Senyum dinginnya tak berubah.

Saatnya menentukan, apakah dunia akan menghilang dalam kepulan debu amarah…

…atau para pemain dapat membuktikan kalau diri mereka pantas menerima pengampunan dosa?

Bersambung


Author's note: Yap! Inilah akhir dari part 14. Satu lagi menuju part terakhir. Soal special part abis part 15, gue ga tau bakal bikin ato nggak. Tergantung ada yang minta apa nggak setelah cerita ini tamat di part 15.

Sekali lagi terima kasih buat para reviewers! Your reviews are gladly welcomed! Please RnR!