Sex and Love
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, etc
Main Cast : HunHan, 'slight' Kaisoo
Genre : Romance, Drama
Warning : BL (Boys Love), Adult (No Children), 18+
Banyak Typo dan Adegan Mesum
Rated : M+, No Mpreg
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
"seks?"
Jongin mengangguk cepat, senyuman terus menghiasi wajah tampannya. Disampingnya, Kyungsoo nampak tertunduk malu, ide 'seks bareng' adalah ide Jongin sepenuhnya. Dia hanya mengikut saja.
Sehun tidak tahu harus berkata apa, dia meloleh dan memandang kearah ranjang, dimana Luhan berada, bergulung dibawah selimut.
"apa kau setuju?" Jongin ingin kepastian.
"sebentar hyung, aku diskusi dulu dengan Luhan. Kalau aku pribadi tidak ada masalah, aku dengan senang hati akan melakukannya. Tapi, aku tidak tahu dengan Luhan…" jawab Sehun, masih ambigu.
"baiklah, bicarakan dengan Luhan. Jangan lama-lama." Kata Jongin.
Sehun mengangguk, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak ada angin, hujan, badai, petir, kilat, halilintar (?) dan kakaknya meminta sesuatu yang aneh-aneh.
Sehun mendekati ranjang, lalu membuka pelan selimut yang menutupi tubuh Luhan. Sehun berbisik pada namja China itu. Membisikkan apa yang diinginkan oleh Jongin.
Lalu…
"what? Seks bersama? foursome?" Luhan membulatkan matanya, tidak percaya. namja itu memandang bergantian antar Sehun, Jongin dan Kyungsoo. Posisinya masih diatas ranjang.
Jongin tertawa pelan,
"bukan foursome. Kita akan melakukan seks masing-masing dengan pasangan. Hanya saja dalam satu ruangan." Kata Jongin, meluruskan.
Luhan memandang Jongin, kemudian memandang Sehun.
"apa kalian berdua yang merencanakan ini? hah…" seru Luhan, pada Jongin dan Sehun.
Sehun langsung menggeleng cepat,
"bukan Luhan-ah, aku tidak tahu apa-apa. itu ide Jongin hyung." Jawab Sehun cepat, menjelaskan.
"aku tidak percaya. kalian saudara mesum. Kalian pasti sengaja, jujur saja." Luhan memaksa Sehun dan Jongin mengaku.
"itu ideku, Sehun sama sekali tidak merencanakannya, itu semua ideku setelah berdiskusi dengan Kyungsoo. Aku hanya ingin suasana yang baru." Sahut Jongin, lalu terkekeh tidak jelas.
"itu, aku sama sekali tidak tahu." Sehun tersenyum,
Luhan berpikir cepat,
"tidak... no. aku tidak mau. Lebih baik kalian berdua melakukannya dikamar masing-masing saja." kata Luhan, tidak setuju dengan ide 'seks bersama-sama'.
"kenapa?" Jongin tampak kecewa tingkat stress.
"aku takut… aku takut bagaimana jika kita terlanjur terbawa nafsu, dan pasangan kita tertukar. Aku tidak ingin itu terjadi. Bagaimana Kyungsoo, apa kau suka jika Jongin 'menusuk' sana-sini, seperti sate?" Luhan mencoba menarik dukungan Kyungsoo.
"tentu saja tidak mau. Jongin harus melakukannya denganku saja." jawab Kyungsoo cepat, mendukung Luhan.
"tapi itu tidak akan terjadi. Aku bisa membedakan mana Kyungsoo dan mana orang lain, tidak akan tertukar. Percayalah." Jongin frustrasi.
"itu karena kau belum mabuk dan terangsang. Jika hal itu terjadi, kau akan lupa segalanya." Timpal Luhan.
"aku juga tidak ingin Luhan-ku dipakai orang lain." Sehun berkata,
"sama, aku juga tidak ingin kau memakai orang lain." Tambah Luhan, senada.
Jongin menghela nafas panjang. Sepertinya rencana untuk seks bersama tidak akan pernah terjadi. Dia kalah suara, semua mendukung Luhan. Jongin telat berkampanye (?).
Hening sejenak,
Lalu…
"heeiii kalian, kenapa belum tidur?" seru sebuah suara dibawah sana. Itu adalah suara Seungsung, paman Luhan.
Jongin dan Kyungsoo kaget, karena posisi mereka tepat didepan pintu. Terlebih lagi Seungsung berjalan pelan menuju tangga, ingin naik kelantai dua.
"Sehun, sembunyikan Luhan." gumam Jongin pada Sehun. dengan suara sangat pelan.
Sehun dan Luhan langsung paham. Luhan kembali membaringkan dirinya diatas ranjang, dan Sehun menutup tubuhnya dengan selimut lagi.
"kenapa belum tidur?"
Seungsung sudah sampai didepan Jongin dan Kyungsoo. Tuan besar itu memakai baju tidur.
"ah, kami baru saja ingin tidur. Ajuhsi sendiri?" Jongin yang menjawab,
"aku mencari udara segar tadi." Kata Seungsung, dengan wajah datar seperti biasa.
"ajuhsi sejak tadi diluar?" tanya Jongin,
"ya, kenapa?"
"oh, tidak."
Jongin dan Kyungsoo saling pandang. Takut jika pembicaraan mereka tadi sempat didengar oleh paman Luhan tersebut.
Sehun berjalan pelan, dan bergabung didepan pintu. Namja cadel itu membungkuk singkat.
"ah, kenapa ajuhsi belum tidur?" sapa Sehun,
"sebentar lagi." Kata Seungsung, matanya melihat kedalam kamar Luhan, meneliti singkat penampakan dikamar tersebut. Mencari sesuatu yang mencurigakan disana.
Sehun menahan nafasnya, dia bergeser pelan dan menghalangi jangkauan mata Seungsung, terutama kearah ranjang yang seperti gundukan, gundukan selimut.
"baiklah, aku ingin tidur. Besok anakku akan datang. Selamat malam." Ucap Seungsung, menampilkan wajah datar jelek lagi, kemudian berbalik dan berjalan, menuju tangga.
"selamat malam."
Sehun, Jongin dan Kyungsoo menghelas nafas lega. Si tua Bangka jelek sudah pergi. Sehun langsung menjulurkan lidahnya kearah hilangnya Seungsung. Jongin dan Kyungsoo tertawa tertahan melihat tingkah Sehun itu.
"maaf hyung, acara 'seks double date' batal. Sebaiknya hyung melakukannya dikamar hyung saja. selama tidur hyung tersayang." Kata Sehun, lalu tersenyum tidak jelas.
"okelah, selamat tidur." Kata Jongin, agak kecewa. Kyungsoo yang ada disampingnya mengelus lengannya pelan, dan tersenyum pada Sehun.
Dan akhirnya dua namja itu kembali masuk kedalam kamar mereka.
Acara saling melihat pasangan lain 'ngeseks' batal total.
.
.
.
.
Sehun menutup pintunya kembali. Kemudian berjalan menuju ranjang dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Luhan.
"aman." Kata Sehun, singkat.
Luhan terduduk, keringat membasahi dahinya, dibawah selimut tadi sangat panas, walau AC sudah menyala.
"apa pamanku curiga?" tanya Luhan pelan,
"aku tidak tahu. tapi kemungkinan tidak. Dia hanya kebetulan keluar kamar dan melihat Jongin dan Kyungsoo hyung didepan kamar ini. jadi dia naik kesini." Jawab Sehun, mendesah.
"aku ingin segera mendapatkan rekaman pengakuan kejahatan pamanku Sehun-ah, aku ingin cepat mengakhiri kekuasaannya dirumah ini. dia tidak berhak menikmati harta appa dan ommaku." Ucap Luhan, matanya berkaca-kaca.
Sehun langsung memeluk Luhan erat, mencoba menenangkan namja imut itu.
"tenanglah, Luhan-ah. Semua akan kembali kesediakala. Pamanmu itu akan mendapatkan balasannya… ah, aku hanya ingin tahu, bagaimana jika rencana perekaman pengakuan kejahatan pamanmu itu gagal? Apa aku bisa menjalankan rencana B?" tanya Sehun.
"menjalankan rencana B?"
"ya, jika rencana A gagal, maka terpaksa dilakukan rencana B."
Sehun melepaskan pelukannya. Lalu memandang wajah Luhan.
"baiklah, terserah kau Sehun-ah. Rencana B mungkin akan terkesan sadis. Tapi aku rasa pamanku itu pantas mendapatkannya." Luhan setuju.
"baiklah, tapi sebenarnya aku lebih suka menjalankan rencana B. kita tidak perlu menunggu lama seperti ini."
"aku tahu, tapi aku harus mempunyai bukti dulu. Sebelum polisi meringkus pamanku."
Sehun mengangguk paham, dia akan menjalankan rencana sesuai apa yang disusun sejak awal.
Hening.
Sehun masih memandang wajah Luhan, nafasnya menyapu wajah dan bibir namja imut itu.
"apa aku bisa memintanya malam ini?" tanya Sehun, pertanyaan yang tentu saja dipahami oleh Luhan-nya.
"tentu saja. kita akan melakukannya." Luhan langsung setuju, tanpa AIUEO.
"tapi kenapa kau menolak permintaan Jongin tadi?"
"aku malu Sehun-ah. Aku tidak bisa sembarangan dilihat telanjang oleh orang lain. Berbeda denganmu yang selalu vulgar, tidak peduli siapa yang melihat tubuh dan kejantananmu. Aku tidak bisa seperti itu." Jawab Luhan, menyampaikan alasan lainnya tidak ingin 'seks bareng'.
Sehun tertawa, tawa yang menyipitkan matanya.
"baiklah aku mengerti. Aku tidak akan membahas itu lagi. Apa kita bisa melakukannya sekarang?"
"tentu saja."
"hm… tapi aku ada permintaan."
"apa itu?" Luhan penasaran,
"aku ingin menumpahkan spermaku diwajahmu, apa kau setuju?" Sehun tersenyum mesum saat mengucapkan kalimat itu.
"kau dan Jongin sama saja, sebelas dua belas. permintaan kalian aneh… tapi, hm… boleh juga. Sekalian jadi masker wajah, sangat menyehatkan sepertinya."
"ok." Sehun sumringah.
"apa kau sudah mengunci pintu?"
"tentu saja. aku tidak akan ceroboh untuk kedua kalinya."
Sehun duduk didepan Luhan, dia menatap wajah imut dan mata rusa namja dihadapannya dan memegang bibir si namja, dia menyapukan jarinya dibibir itu dan kemudian menyatukannya dengan bibirnya sendiri.
Sehun mencium Luhan, ciuman mereka untuk kesekian kalinya.
Sehun memulai dengan mencium, dia melumat pelan dan menyapu bersih bibir Luhan. Suara desahan nikmat mulai terdengar, baik dari bibirnya maupun bibir Luhan.
Luhan juga tidak tinggal diam, dia berusaha mengimbangi ciuman dari Sehun, dia memiringkan wajahnya agar bibir mereka semakin menyatu sempurna. Bunyi kecipak saliva dan sedotan pelan jelas terdengar, deru nafas mereka semakin memburu.
"ck… hmf.."
"ah…"
10 menit melakukan pemanasan dengan berciuman, akhirnya Sehun melepaskan pagutan bibirnya di bibir Luhan, mereka mencoba mengambil nafas dan menormalkan diri masing-masing, belum ada percakapan lagi yang tercipta, hanya deru nafas dan detak jantung yang kini terdengar.
Sehun mulai lagi dengan menyerang leher Luhan, dia mencium leher putih itu dengan pelan dan lambat, hal itu membuat Luhan mendesah keenakan dan menggelinjang nikmat, namja itu kegelian. 'geli-geli nikmat'.
"ahh…" desahan pertama yang keluar dari bibir Luhan, dia memegang kepala Sehun dan menjambak rambut namja cadel itu.
Tangan yang lain Luhan mulai berani dengan memegang dan meraba selangkangan Sehun yang masih tertutup celana jins, entah mengapa dia rindu dengan 'super junior' didalam sangkarnya itu, 'junior besar' yang pernah menghunjamnya beberapa kali.
Sehun juga mulai mendesah nikmat, rabaan Luhan diselangkangannya membuatnya bergetar hebat, entah mengapa nafsu dan libidonya mendadak memuncak, daerah itu memang daerah sensitifnya sejak dulu.
"ahhhh…" desah Sehun, dia mendesah sambil mencium dan menjilat leher Luhan
Sedangkan Luhan sendiri nafasnya kian acak, degup jantungnya random. Entah hantu mana yang merasukinya, dia menghentikan rabaannya diselangkangan Sehun dan mendorong namja itu pelan.
Sehun terkaget, namun dorongan Luhan tadi adalah dorongan untuk merubah posisi. Luhan mulai menaiki Sehun dan duduk diselangkangan namja itu, dia meraba dada Sehun yang sejak tadi sudah terpampang nyata tanpa baju.
Sehun tersenyum dengan tingkah Luhan itu, tingkah yang biasa dilakukan oleh namja yang berpengalaman. Namun dia senang, sepertinya Luhan akan mengulangi lagi gayanya saat di hotel beberapa hari yang lalu, menjadi 'nakal'.
Luhan membalas senyum Sehun, tapi senyum milik Luhan itu adalah senyuman penuh nafsu dan hasrat, mendadak dia berubah dari namja polos menjadi namja binal.
Luhan menyerang Sehun, dia mengarahkan bibirnya dan menghisap nipple Sehun secara bergantian, dia menjilat, menyedot dan memainkan nipple seksi itu dengan lidahnya. jilat dan sedot.
"ahh.. ash…ahh….ouchss…" Desah Sehun, dia menggelinjang nikmat, menikmati permainan Luhan yang seperti sudah 'senior'.
Luhan masih mengisap dan memainkan nipple Sehun, dan sesekali meraba perut ABS seksi namja itu yang mulai terbentuk, dia melakukannya dengan sangat pelan dan penuh penghayatan, posisinya masih diatas selangkangan milik Sehun.
"ahh…."
Erangan pelan dan desahan tertahan terus terdengar, menjadi nada indah dan seksi di kamar berperedam suara tersebut, Luhan memberikan pemanasan awal yang baik, lumatan dan isapannya membuat Sehun semakin tidak tahan dan mengeluarkan naluri 'seme'nya.
Sehun beranjak dari posisinya yang telentang, dia kembali menggapai bibir Luhan dan mencium namja itu dengan penuh nafsu, beberapa detik melakukan ciuman, Sehun kembali telentang dan membiarkan Luhan mulai beraksi lagi.
Luhan memulai kembali dengan bagian tubuh Sehun yang lain, dan pilihannya jatuh pada selangkangan namja itu, Luhan memundurkan posisinya, dia duduk di paha Sehun, agar area selangkangan Sehun bisa diraihnya. Yummy.
Luhan perlahan meremas lagi kejantanan Sehun yang masih dalam sangkarnya itu selama beberapa detik, dan kemudian mulai memegang zipper celana itu dan menariknya untuk terbuka, sekarang boxer dan celana dalam hitam Sehun terlihat, Luhan tersenyum. Dia kembali meraba dan menekan-nekan kejantanan Sehun itu, hal itu membuat Sehun menggelinjang nikmat.
"mainkan adikku itu, sampai muntah…" kata Sehun pelan, kalimat perdananya pasca diremas dan diraba oleh Luhan.
Luhan menggangguk pelan, dia mulai membuka pengait celana Sehun dan menurunkannya dengan cepat, sehingga bagian selangkangan Sehun kini hanya tersisa celana dalam saja. Dan tanpa membuang waktu lagi, Luhan memelorotkan celana dalam milik Sehun itu, hingga terpampang nyatalah kejantanan alias penis Sehun yang sudah tegak, sempurna. Memang sejak tadi Sehun sudah 'sange' secara berlebihan.
Tangan kanan Luhan mulai bekerja, dia memegang penis Sehun itu, rasa hangat dan kedutan dipenis tersebut jelas terasa, penis itu adalah penis yang sama yang mengambil first time holenya dihutan dulu.
Luhan mulai mengocok penis Sehun, dia melakukannya dengan awal yang pelan, lambat, lambat, namun lama kelamaan menjadi semakin cepat dan liar.
"ah... ahhh.." desah Sehun nikmat, dia gelonjotan dan memejamkan matanya. sangat enak.
Luhan semakin mempercepat kocokannya di penis Sehun, cairan precum keluar dari penis itu, Luhan tidak tahan melihat cairan itu terbuang percuma, dia lalu mengarahkan mulutnya ke penis Sehun dan mulai menghisap penis itu, menjilat dan menelan cairan precum Sehun tanpa rasa jijik sedikitpun. Luhan meng-oral penis Sehun, penis itu semakin membesar saja, dan berkedut hebat. Besar dan berurat seksi.
Luhan masih terus menjilat dan menikmati penis Sehun, mirip berkaraoke. namun ini lebih nikmat dari acara karaoke manapun, sensasinya beda.
Beberapa menit dengan aksi mengisap dan menjilat penis dari Luhan, Sehun mulai merasakan kedutan hebat dipenisnya, tanda bahwa cairan kelakiannya akan menyembur. Sehun lekas beranjak dan melepaskan penisnya dimulut Luhan.
Luhan kecewa, namun dia lekas sadar bahwa Sehun ingin memulai adegan inti, seks yang sebenarnya. Sepertinya jika sperma Sehun keluar sekarang, maka harus menunggu lagi kejantanan namja itu agar bisa menegang untuk kedua kalinya.
Sehun kembali menormalkan nafasnya dan memejamkan matanya, cairan spermanya gagal keluar, dia mulai mengecup lagi leher Luhan dan kemudian menarik kaos namja itu, sehingga Luhan saat ini sudah telanjang dada.
Sehun memeluk Luhan dan menyatukan tubuh berkeringat mereka. Sehun menggesek-gesekkan tubuhnya di tubuh Luhan, hal itu membuat sensasi geli dan nikmat secara bersamaan.
"ahhhh…uh…yeah.. ahh.."
"ahsh…ehm…ahh…"
Sehun mengangkat Luhan dan menidurkannya di kasur, dia akan memulai adegan inti, dia sudah tidak tahan lagi. Luhan tersenyum kepada Sehun, tapi tidak mengucapkan kata apa-apa, Sehun balas tersenyum kepada Luhan dan menampilkan smirk evil yang mesum, smirk seks.
"apa kau siap?"
"ah…"
Sehun dengan gerakan cepat memelorotkan celana Luhan, sekaligus celana dalam namja itu, tanpa butuh waktu lama, akhirnya Luhan bugil total, Sehun kemudian berdiri, dia menarik sisa celananya yang masih dipakainya tadi, mengikuti Luhan untuk bugil. Sehun terlihat sangat seksi dengan pose berdiri dan telanjang bulat seperti itu. Dengan bahu lebar dan kulit putih bersih.
Luhan menggigit bibir bawahnya, entah mengapa dia gemas melihat Sehun telanjang bulat lagi.
Sehun kembali duduk, dia menopang tubuh dengan lututnya, dia mengocok pelan penisnya agar penis itu menjadi licin oleh cairan precumnya. Posisi hole Luhan sudah ada didepan kepala penis Sehun. Luhan melebarkan paha dan kakinya, dia sudah siap dihujam oleh penis Sehun.
Ready…
Tanpa menunggu lama…
Sehun dengan gerakan pelan mulai memasukkan penisnya ke hole milik Luhan, tanpa menggunakan kondom, ini kali keempatnya penis itu akan bersarang disana, Sehun menekan penisnya untuk masuk.
"akh…ahh…" rintih Luhan pelan, dia merasakan sakit dan perih yang sangat, tangannya mencengkram kasur.
Sehun tidak berkata apa-apa, dia semakin berusaha memasukkan penisnya secara total, dan usahanya berhasil, beberapa detik kemudian, penis besar itu berhasil masuk sempurna dan membobol hole Luhan. Full.
"arghh…akh…ahhh…" jerit Luhan, holenya semakin sakit saja.
Sehun memulai aksinya sebagai seme sejati, dia mulai menggenjot hole Luhan dengan gerakan yang lambat, dia melakukan itu sebagai tahap awal, agar hole Luhan tidak terlalu sakit.
Luhan semakin mengerang hebat,
"arghkh…."
"ahhh…. Yeahh…oh…"
Namun erangan itu tidak lama, karena Sehun menyumpal mulut Luhan dengan menggunakan bibirnya, dia mengunci bibir Luhan dan meredam suara namja imut itu. Sehun mencium Luhan sambil terus memompa penisnya di hole Luhan. Biasanya dengan ciuman, rasa sakit yang dirasakan Luhan akan berkurang di holenya.
Desahan, erangan dan lenguhan menjadi suara-suara yang memenuhi kamar pribadi Luhan itu, erangan dan desahan yang tidak akan terdengar oleh orang diluar ruangan.
Sehun melepaskan ciumannya, dia memperkirakan bahwa Luhan kemungkinan sudah tidak merasakan sakit lagi, tapi sudah merasakan nikmat.
Dahi Luhan berkeringat, begitu juga dengan bagian tubuhnya yang lain, Sehunpun demikian, dia terus menyodok hole Luhan dengan keringat yang membanjiri tubuh eksotis dan seksinya
"Luhan-ah, ahhhhh… aku mencintaimu…. ahhh" kata Sehun pelan, dia memandang wajah Luhan yang mendesah keenakan, dia masih terus menggenjot hole Luhan.
"I love you too…ahhh" balas Luhan, lebih pelan, mirip desahan, dia sekali lagi ternoda, dinodai oleh orang yang sama, sebanyak 4 kali. Amazing.
Sehun tersenyum, wajah dan dahinya terus mengeluarkan keringat, semakin membuat namja itu terlihat tampan dan seksi secara bersamaan.
Sudah hampir sejam Luhan dan Sehun melakukan aksi panas mereka, posisi yang mereka gunakan masih konvensional, dengan Luhan posisi tidur dan Sehun yang menyodoknya, mereka berdua nyaman dengan posisi itu, mereka tidak menggunakan posisi yang aneh-aneh, seperti di film-film porno barat atau video dewasa Jepang.
"ahh…ah…ahh..ash….ehm…ah…"
"uh…oh…ahhh… oh…"
"apa kau menikmatinya? Ahhh…"
"ten.. tentu saja, ahh… aku sel.. selalu menikmatinya.. ahh.. Sehun-ah…ahh"
"ahh.. uh… ahhh.."
"ashh… ouch…ahh…"
Desahan Sehun dan Luhan beriringan, nafsu mereka sudah dipuncak ubun-ubun, terutama Sehun, dia mulai merasakan kedutan hebat lagi dipenisnya, gesekan penisnya dan hole Luhan memang memberikan sensasi yang cetar membahana. dia mempercepat tusukan, hujaman dan genjotannya di hole Luhan.
'plook…plokk…' suara sentuhan tubuh Luhan dan Sehun semakin keras, tanda bahwa Sehun menyerang Luhan dengan gerakan cepat, seperti mesin yang diset otomatis.
Dan, beberapa detik kemudian….
Sehun sudah tidak tahan lagi, dia melakukan sodokan detik-detik terakhir dengan sangat cepat dan setelahnya melepaskan penisnya keluar dari hole sempit Luhan, mengarahkan ke wajah Luhan dan mengocok penisnya itu…
Croott…crooott...crooott...croott…
Sperma Sehun tumpah di wajah imut Luhan yang berkeringat, daerah terbanyak adalah dipipi, dagu dan bibirnya.
"fuhh…" desah Sehun,
Sehun mengelap keringat di dahinya, dia mencoba mengatur nafasnya yang memburu, dia tersenyum lagi, pengalaman seks keempatnya dengan Luhan, dan kali ini sangat berbeda. Yaitu dilakukan dirumah Luhan sendiri.
Luhan tersenyum kepada Sehun, dia juga menarik nafas panjang, holenya mendadak kosong, padahal beberapa detik yang lalu hole itu penuh dengan penis besar Sehun.
"terima kasih Luhan-ah…" kata Sehun, nafasnya masih terengah-engah, dia mengelap keringatnya pelan.
Luhan mengangguk pelan, dia memegang penis Sehun yang sudah mengeluarkan sperma itu, mengocoknya pelan, untuk mengeluarkan sisa-sisa cairan cinta didalam tabung perkasa itu. Kemudian tanpa rasa jijik, Luhan menjilati penis Sehun, memasukkannya kedalam mulutnya, walau hanya sebentar.
"ahh… itu geli Luhan-ah." Kata Sehun, dia seperti diestrum listrik berdaya rendah.
Beberapa saat kemudian Luhan melepaskan penis Sehun. lalu tersenyum bahagia. Kemudian meratakan sperma Sehun diwajahnya.
"apa itu lengket?" tanya Sehun, pertanyaan anak kelas 1 SD.
"tentu saja." jawab Luhan.
Sehun beranjak dan tidur disamping Luhan, dia memeluk namja itu dengan erat. Bau sperma milik Sehun menguar dalam kamar tersebut, memberikan sensasi tersendiri bagi indra penciuman. Tubuh mereka berdua penuh dengan keringat, keringat cinta yang seksi.
Luhan belum membersihkan wajahnya, dia akan menunggu sampai sperma itu mengering dulu.
"aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini Sehun-ah." Kata Luhan, seraya tertawa pelan. Dengan nafas masih belum normal betul.
"….." Sehun mempererat pelukannya.
"aku tidak pernah membayangkan berhubungan seks dengan seorang namja, sampai 4 kali. Dan sperma namja itu ditumpahkan diwajahku." Jelas Luhan. Pengalaman dalam hidupnya bertambah. menjadi anak tunggal dari keluarga kaya, ayah ibu yang kemudian meninggal dalam kecelakaan mobil, dirinya yang dibuang kehutan oleh pamannya, diperkosa oleh Sehun sampai pingsan dan ditinggalkan dihutan, bertemu dengan Jongin dan Kyungsoo, jatuh cinta dengan namja pemerkosanya alias Sehun, berpacaran dengan Sehun, rencana pembalasan dendam pada pamannya dan sekarang berhubungan seks untuk keempat kalinya dengan namja yang sama.
"itu adalah seni dari sebuah seks. apa kau menikmati permainanku tadi?"
"ya, aku sangat menikmatinya. Aku jadi ketagihan." Jawab Luhan jujur.
"benarkah? Apa kau mau lagi?"
"aku mau lagi. Tapi bukan sekarang. yang tadi itu sudah sangat cukup. Kau hebat diatas ranjang Sehun-ah."
"baiklah, kau akan terus bisa menikmatinya. Kapanpun kau mau." Tutup Sehun, lalu membelai rambut Luhan.
Kedua namja itu saling merapatkan diri dan mengeratkan pelukan. Baru saja terjadi seks hebat untuk kesekian kalinya. Seks yang berawal dari sebuah 'pemerkosaan' yang tidak dikehendaki.
Malam yang indah, dan akan selalu indah bagi mereka.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Jongin uring-uringan dikamar sebelah. Dia ingin meminta 'jatah' kepada Kyungsoo. Tapi Kyungsoo dengan halus menolaknya, dengan alasan tidak masuk akal.
"maaf Jongin-ah, sepertinya malam ini kita tidak bisa melakukannya." Kata Kyungsoo, lalu membaringkan dirinya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar.
"kenapa? Kita sudah sepakat tadi. Walau seks bersama dengan Luhan dan Sehun batal, bukan berarti seks kita berdua juga batal." Desah Jongin, mengacak rambutnya kasar.
"maaf Jongin-ah."
"kenapa? Ada apa? apa alasanmu?"
"tidak, hanya saja… kedatangan Seungsung paman Luhan itu membuat moodku hilang Jongin-ah. Dengan melihat wajahnya tadi aku serasa ingin muntah." Jawab Kyungsoo. Alasan yang tidak masuk akal bukan?
Jongin memutar bola matanya, lalu menatap wajah Kyungsoo intens.
"kalau begitu pandang wajahku. Wajahku tampan rupawan. Pasti mood dan hasratmu akan ON lagi." Kata Jongin, 'pede' tingkat tinggi.
"dengan memandang wajahmu aku malah mau buang air besar." canda Kyungsoo.
"Kyung, kau ini… aish… apa kau ingin aku mencari janda diluar sana, hah…"
Kyungsoo langsung menendang pinggang Jongin. namja bermata bulat itu kesal jika diingatkan dengan janda Jepang bernama Nanako yang hampir saja bermain 'kuda-kudaan' dengan Jongin.
"aww, itu sangat sakit… kau berubah jadi Satansoo lagi." Ringis Jongin,
"habisnya kau… aku tidak suka kau menyebut janda itu."
"makanya… ayo kita 'main' sekarang."
Kyungsoo tampak berpikir, sepertinya Jongin-nya harus dipuaskan malam ini, bagaimanapun caranya.
"baiklah Jongin-ah, tapi… apa aku bisa mengganti holeku dengan yang lain?" tanya Kyungsoo vulgar.
"mengganti holemu? Aku tidak mengerti."
"ya, mengganti holeku dengan tangan dan mulut. Aku akan mengoral kejantananmu. Apa kau setuju?" Kyungsoo memasang puppy eyes.
Jongin berpikir, menimbang-nimbang.
"baiklah. Itupun boleh." Jongin setuju. Dari pada tidak sama sekali. tidak ada batu akik, batu karang-pun jadi.
Kyungsoo tersenyum, lalu turun dari ranjang. Namja itu bergerak pelan dan berjongkok didepan selangkangan Jongin yang masih tertutup celana.
"apa kau yakin mau melakukan itu? Aku masih tidak percaya." sahut Jongin.
"jangan remehkan aku. Lihat saja. penismu akan kupuaskan." Timpal Kyungsoo. Yakin.
Kyungsoo dengan gerakan ala penari erotis yang dibayar murah, langsung mengarahkan tangannya keselangkangan Jongin, mengelus pelan bagian sensitif namjanya dari luar.
"ashh…" Jongin mendesah,
Kyungsoo bergerak lagi, kali ini ke zipper Jongin. dia menurunkan zipper itu sambil memandang wajah tampan Jongin. ingin melihat ekspresi Jongin.
"kiss me." gumam Jongin.
Kyungsoo mengangguk, dan mengarahkan wajahnya ke wajah Jongin, mereka saling menempelkan bibir, berciuman singkat. Tidak lama, hanya beberapa detik saja.
Setelah berciuman, Kyungsoo kembali fokus pada selangkangan Jongin.
Zipper Jongin sudah terbuka, dan memperlihatkan celana dalam putihnya yang tanpa boxer. Kyungsoo tersenyum senang, jantungnya kembali memburu, ini adalah kali pertamanya melakukan aksi oral pada Jongin.
Jongin menutup matanya, namun bibir seksinya mengulas senyum, dia sangat senang.
Kyungsoo menarik nafasnya dan kemudian mengarahkan tangannya keselangkangan Jongin yang sudah terbuka, hanya celana dalam saja menjadi penghalang.
Jongin masih menutup matanya. membiarkan Kyungsoo yang 'bermain' dengan 'Jongin kecil'.
Kyungsoo meraba dan menekan-nekan penis Jongin tersebut, ada ringisan pelan dari si empunya penis. Dan… sedetik… dua detik… tiga detik…
Kyungsoo perlahan memasukkan tangannya kedalam celana dalam Jongin, tidak mengeluarkan penis itu. Dia tidak akan terburu-buru.
Kyungsoo menelan ludahnya, tangannya gemetar
"apa ini nikmat?" tanya Kyungsoo, nyaris tidak kentara, dia terus memegang dan memijat penis Jongin dibalik celana dalam.
"yeah, tentu saja Kyungsoo-ya. Itu sangat nikmat..ahh…" Lenguh Jongin,
Jongin mendesah tertahan, reaksi kelakiannya muncul, karena merasakan nikmat diarea penisnya, sentuhan-sentuhan jari jemari Kyungsoo memberikan sensasi yang membuat melayang.
Dan beberapa detik kemudian, penis milik Jongin mendadak membesar, padahal Kyungsoo hanya memegang dan mengelusnya, tanpa mengocok.
Kyungsoo tersenyum lagi, senyuman untuk kesekian kalinya. Dia sangat senang, permainannya berhasil dengan jitu.
Setelah puas dengan aksi awalnya tersebut, namja bermata bulat itu mengeluarkan tangannya dari dalam celana dalam Jongin, kemudian tanpa komando langsung memelorotkan celana dalam itu hingga paha.
Kini penis Jongin yang full ereksi sudah siap santap didepan wajahnya. Sangat menggiurkan.
Kyungsoo lalu mengocok pelan penis itu, dia melakukannya dengan hati-hati, pelan, lembut, seperti memperlakukan adik sendiri.
"ah… ash… terus Kyungsoo-ya, teruss…ahh…" desah Jongin tertahan, dia masih menutup matanya, mencoba menikmati kenikmatan yang diberikan oleh jari Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum, wajah Jongin semakin tampan saja jika menutup mata dan berteriak 'terus-terus', dia sangat beruntung, dirinyalah yang mengocok penis Jongin, bukan janda Jepang yang beberapa hari lalu hampir saja merenggut keperjakaan namja seksi dihadapannya itu. Kyungsoo tentu saja tidak rela.
Kocokan demi kocokan dilayangkan oleh Kyungsoo, dengan ritme sama dan tempo sama, tidak lambat dan tidak terlalu cepat,
Slow… slow… slow… yeah.
15 menit berlalu, masih dengan adegan kocokan sepihak. Precum penis Jongin sudah mulai keluar. Kyungsoo menyatukan precum itu bersama kejantanan Jongin, agar licin.
"Jongin-ah, apa kau ingin aku mengisapnya?" tanya Kyungsoo, dengan nada manja. Mengalahkan nada manja Joy.
"ten.. tentu saja, isap saja… keluarkan airnya… ahh…" jawab Jongin, merem melek.
Kyungsoo tersenyum lagi, Jongin setuju. Dia lalu mengarahkan mulutnya ke penis namja itu dan melahap penis seksi tersebut, dia mengoral penis Jongin lembut dengan mulut. Isap sedot.
'srlup'
"ahh…ah…ash…ahh…" lenguhan dan desahan Jongin semakin menjadi, deru nafas namja itu tidak beraturan, dia sangat menikmati permainan lidah Kyungsoo dipenisnya.
Penis milik Jongin tenggelam dalam mulut Kyungsoo, Kyungsoo menjilat dan menyedot pelan penis itu, tanpa jeda dan tergesa-gesa.
"teruskan, lebih cepat Kyungsoo-ya." Pinta Jongin, lalu membuka matanya dan memandang Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk pelan, sambil mengisap. Dia mempercepat isapan dan jilatannya. Sesekali memainkan twin ball Jongin yang seksi menggantung. Yang tentu saja memberikan sensasi tersendiri bagi Jongin.
"ahh… yeahh… Kyungsoo-ya…ahhh"
Isap, sedot, jilat, kocok…
35 menit kemudian, sepertinya Jongin sudah tidak tahan, dan akan menyemburkan sperma hangat penisnya
"ahh…ah….ah…" desah dan erang Jongin panjang.
Dan… croot… croot… croot…
Sperma Jongin tumpah dan meluber didalam mulut Kyungsoo. Kyungsoo dengan nekat mencoba menelan semua sperma itu, dia tidak ingin sperma itu terbuang sia-sia. Sejak awal dia ingin memuaskan Jongin dan memberikan 'sesuatu yang beda'.
"ahh…" Jongin mengelap keringat didahinya, dia menatap Kyungsoo yang melumat habis dan menampung spermanya dimulut.
Kyungsoo menutup matanya, berusaha agar 'air kehidupan' Jongin masuk sempurna kedalam tubuhnya, dan…
'glek…'
Yes, Kyungsoo berhasil menelan sperma milik Jongin. rekor tersendiri bagi namja berbahu sempit itu.
Hening.
Kyungsoo mengelap sisa sperma disudut bibirnya, dan kemudian mengocok pelan penis yang sudah mulai melemas itu, penis itu kini berkilat seksi, dengan bekas sperma yang menempel dibatangnya.
"ah… Kyungsoo-ya, kau menelan semuanya… aku tidak percaya… ah." Kata Jongin, mencoba menormalkan nafasnya, efek ejakulasi selalu seperti itu.
Kyungsoo tersenyum,
"aku menelannya. Bagaimana? Apa kau puas sekarang?"
"sebenarnya aku lebih suka jika kita melakukan seks yang sebenarnya. Tapi apa yang kau lakukan tadi sangat aku nikmati. Jadi aku bisa dikatakan puas, walau tidak 100 persen." Jawab Jongin, lalu memegang penisnya yang sudah lemas, seperti belalai.
"kau tidak menghargai jerih payahku." Kyungsoo cemberut, 'monyong'.
Jongin memegang bahu Kyungsoo, menyuruh namja itu berdiri.
"aku akan selalu menghargai apa yang kau lakukan. Terima kasih Kyungsoo-ya." Timpal Jongin, juga ikut berdiri. Celana jinsnya langsung melorot sampai pergelangan kaki. Pemandangan yang langka dan sangat seksi.
"aku ingin kekamar mandi Kyungsoo-ya. Apa kau ingin ikut?" Jongin ingin membersihkan dirinya, terutama penisnya yang lengket.
"tentu saja, mulutku bau sekarang." Kyungsoo membuka mulutnya lebar-lebar.
"tapi enakkan? Bagaimana rasanya?"
"entahlah. Tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata." Jawab Kyungsoo, asal saja.
"kau sendiri yang mau menelannya." Jongin tertawa,
"ya, aku ingin merasakannya duluan, bagaimana rasanya. Sebelum janda-janda diluar sana merasakannya."
"nah, sekarang kau sendiri yang menyebut janda…"
Kyungsoo memukul pelan lengan Jongin. lalu setelah itu bermaja ria dengan bergelayut dibahu lebar Jongin.
"ayo kekamar mandi sekarang." Kata Kyungsoo.
"celanaku belum terpasang." Balas Jongin,
"sudahlah, jalan saja seperti itu. Biarkan celanamu begitu." Kyungsoo tertawa dan naik keatas punggung Jongin, seperti anak kecil.
Dan akhirnya Jongin berjalan dengan Kyungsoo yang ada dipunggungnya, dan jangan lupakan celana jins namja itu yang sudah melorot hingga kebawah, dan celana dalam melorot hingga paha. Jongin berjalan tertatih-tatih, salah sedikit saja, dia bisa tersandung celananya sendiri.
Malam yang juga berakhir dengan indah.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Pagi disabtu yang cerah…
Sehun keluar dari kamarnya. Dia tidak mengunci kamar itu dari luar karena Luhan yang akan menguncinya dari dalam. Sehun hanya perlu mengetuk sesuai kode agar Luhan membukakan pintu kalau dia ingin masuk.
Namja cadel tersebut melangkahkan kaki diluar kamar, matanya tertuju pada kamar Jongin dan Kyungsoo, sepertinya dua namja itu masih didalam kamar. Sehun tentu saja tidak ingin mengganggu, siapa tahu saja Jongin dan Kyungsoo pagi-pagi menjalankan ritual layaknya 'pengantin lama'.
Sehun menuruni tangga, dia langsung dikagetkan dengan suara cetar yang menyapanya,
"pagi oppa. apa tidur oppa nyenyak?" burungpun tahu itu suara siapa. Joy.
"sangat nyenyak." Balas Sehun. dia tentu saja tidur dengan lena semalam, pertempurannya dengan Luhan sangat menguras tenaga.
Joy senyum-senyum, ditangannya ada beberapa alat kebersihan.
"apa oppa sudah bertemu dengan anak gadis tuan besar?" tanya Joy,
"anak perempuan ajuhsi datang?"
"iya oppa, baru saja. sepertinya dia sedang berbicara dengan tuan besar diruang kerja." jawab Joy, lalu merapatkan jaraknya dengan Sehun.
"ajuhsi tidak keperusahaan hari ini?"
"tidak oppa, biasanya hari sabtu dan minggu tuan besar dirumah."
Sehun mengangguk paham, Joy yang ada disampingnya terus tersenyum tidak jelas, ya… seperti kemarin-kemarin.
"maaf oppa, aku sudah bertanya pada dua penjaga gerbang depan, katanya mereka sama sekali tidak melihat sepupu oppa yang satu itu pulang." Kata Joy, yang dimaksudkannya tentu saja adalah Luhan.
Sehun terdiam sejenak, rupanya pembantu didepannya ini masih memikirkan itu. Masih penasaran.
"tentu saja mereka tidak melihat sepupuku pulang, mereka berdua sedang tidur dipos jaga. Aku akan merekomendasikan agar dua penjaga itu diganti, mereka makan gaji buta." Sahut Sehun, mencari alasan.
"oh begitu. Tapi ciuman yang kemarin itu aku masih belum…"
"kau sudah berjanjikan. Jangan ungkit itu lagi, lupakan dan tutup mulut." Potong Sehun cepat, sebelum ada orang yang mendengar celotehan Joy.
"ahh, baiklah oppa." desah Joy, tidak bersemangat lagi.
Yeoja pembantu itu lalu minta izin, dia harus menyelesaikan tugas paginya, membersihkan kamar. Semua kamar, kecuali kamar Luhan dan kamar yang ditempati Kyungsoo dan Jongin. Sehun sudah mengingatkan untuk tidak membersihkan dua kamar itu selama dia ada disana. Tentu saja karena Luhan ada didalam kamar tersebut.
Sehun ingin ke beranda depan, namun langkahnya terhenti, sosok yeoja cantik dengan menggunakan hak tinggi menuju kearahnya. yeoja yang baru pertama kali dilihatnya.
Si yeoja tersenyum kepadanya, dan dia membalas tersenyum juga.
"ah, sepertinya kau Sehun. appaku baru saja menceritakan sedikit tentangmu." Kata si yeoja, ramah.
"oh, noona pasti Jessica kan?" Sehun membungkuk pelan, dia tahu bahwa umur yeoja didepannya lebih tua.
"tentu saja, senang berkenalan denganmu." Yeoja itu memang Jessica. Dia balas membungkuk.
Sehun tersenyum, yeoja didepannya itu adalah calon tunangan untuk Jongin (awalnya), dan sekarang dirinyalah yang akan dijodohkan dengan yeoja itu, tentu saja yang menjodohkannya adalah ayahnya, Youngmin.
Sehun ingin berujar, tapi mendadak ponsel Jessica berbunyi. Yeoja itu meminta izin sejenak untuk mengangkat telefon. Sehun mendengarkan dengan seksama percakapan Jessica dan si penelfon. Yeoja itu banyak berkata 'oppa… oppa…'. dan sepertinya berbicara dengan namja, mungkin namja yang lebih tua.
Beberapa menit kemudian, Jessica menutup sambungan telefon, lalu tersenyum tidak enak pada Sehun.
"ehm, maaf noona. Mungkin aku lancang bertanya… apa itu tadi pacar noona?" Sehun memberanikan diri bertanya vulgar, padahal dia baru saja bertemu dengan yeoja anak Seungsung tersebut
Jessica tersenyum,
"ya, yang menelfon barusan adalah pacarku. Kenapa?" Jessica menjawab, lalu bertanya balik. Masih dengan nada ramah dan tidak tersinggung.
"oh tidak ada apa-apa. hanya saja aku mendengar kalau noona sudah dijodohkan oleh ajuhsi, appa noona. Dengan namja lain." Kata Sehun,
Jessica mendesah tidak kentara,
"ya, aku tahu. appa memang menjodohkanku dengan namja lain. Tapi aku sudah punya pilihan sendiri." Ucap Jessica, lagi-lagi disertai desahan, desahan gundah gulana.
"apa noona sudah menceritakan kepada ajuhsi kalau noona sudah punya pilihan sendiri?"
"tentu saja. appa hanya mendengar saja, tidak menanggapi. Tapi aku akan berusaha meyakinkan appa dengan pilihanku. Lagipula aku belum pernah bertemu dengan calon pilihan appa." Jelas Jessica. Lalu tersenyum.
"mudah-mudahan ajuhsi mengabulkan permintaan noona dan membatalkan perjodohan itu." Ujar Sehun, juga tersenyum.
Jessica masih tersenyum, lalu menaikkan lengannya dan memandang jam tangannya.
"ah, maaf aku harus pergi. Aku ada janji dengan teman. Maaf… senang bertemu denganmu." Kata Jessica, lalu memperbaiki letak tas ditangannya, tas kecil khas yeoja sosialita.
"oh, tapi noona kembali lagi kerumah ini kan?"
"sepertinya tidak, rumahku bukan disini. Ini adalah rumah keluarga Xi. Keluarga yang malang. Aku tidak mengerti kenapa appa tinggal disini. Tapi yang aku tahu, appa sudah menjadi wali Luhan. Jadi appalah yang akan mengelola harta peninggalan keluarga Luhan." Jawab Jessica.
Sehun magut-magut, dia mengerti. Dan kemudian Jessica sekali lagi pamit, yeoja itu melangkah elegan keruang depan. Dan meninggalkan Sehun sendiri diruang tamu.
'dia sangat berbeda dengan appanya. Mungkin saja sifatnya turun dari ommanya.' Batin Sehun, merasakan bahwa Jessica adalah yeoja yang ramah, dan sama sekali tidak mirip dengan sifat Seungsung si jelek tua Bangka… hidup lagi.
Setelah Jessica pergi, Sehun melangkah pelan, ingin ke kamar Jongin dan Kyungsoo. Untuk membicarakan lagi mengenai rencana yang sudah disusun dengan matang, rencana A.
Namja tampan berkulit putih itu naik ke lantai dua, ingin mengetuk kamar Jongin dan Kyungsoo, namun lagi-lagi sebuah seruan menghentikannya. Seruan itu berasal dari penjaga gerbang yang seperti biasa akan berteriak keras saat ada tamu,
"tuan besar, tuan Youngmin datang…"
Deg…
Ayah kandung Sehun dan Jongin datang.
Sehun dengan cepat menyembunyikan dirinya disamping tembok, tempat yang dulu dipilihnya untuk mengawasi dari atas, sejak pertama kali menginjakkan kakinya dirumah Luhan.
'mudah-mudahan Seungsung dan Youngmin berbicara diruang kerja. supaya alat perekam itu bisa merekam pembicaraan mereka.' Harap Sehun, rencananya harus berhasil.
Tapi, yang diharapkan sama sekali tidak sesuai kenyataan. Youngmin dan Seungsung berbicara empat mata diruang tamu. Baru saja Seungsung melintas dan menemui Youngmin diruang tamu itu
'ah, sial… kenapa mereka berbicara disana. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan' Sehun membatin lagi.
Namja cadel itu tetap setia ditempatnya, dengan pandangan kebawah, terus mengawasi.
Seungsung dan Youngmin sudah duduk diruang tamu.
"aku sudah memutuskan, 3 hari lagi akan diadakan acara pertunangan anak kita. Bagaimana? Apa kau setuju?" kata Seungsung. Hari berkabung sudah lebih dari seminggu, sejak peristiwa kematian keluarga Luhan. Jadi dia memutuskan untuk membuat acara pertunangan.
Youngmin diam, lalu mendesah. Ayah Sehun dan Jongin itu mendesah dan memegang pelipisnya,
"ada sedikit masalah." Kata Youngmin, nadanya resah.
"masalah apa?" tanya Seungsung, tidak paham.
"begini… aku.. aku beberapa hari terakhir ini belum bertemu dengan anakku. Jadi aku belum menceritakan mengenai rencana pertunangan ini." jelas Youngmin.
"bagaimana bisa? Apa anakmu itu kabur dari rumah?"
"te.. tentu saja tidak. Hanya saja, sepertinya anakku itu sibuk dengan usahanya. Kau tahu sendiri, dia mewarisi darah bisnis dariku." Jawab Youngmin, berbohong.
"jadi selanjutnya bagaimana? Kau sendiri yang awalnya mendesakku untuk melangsungkan pertunangan, dan sekarang aku sudah menetapkan tanggal pastinya, dan kini bicaramu beda lagi." Seru Seungsung, seruan yang seperti membentak.
"bukan begitu. Berikan waktu beberapa hari. Aku akan membicarakan ini lagi dengan anakku itu." Ujar Youngmin. Dia bermasalah, karena beberapa hari terakhir dia kehilangan kontak dan jejak dengan Sehun. terakhir dia bertemu dengan Sehun yaitu di café waktu itu. Dan disana dia belum mendapatkan kata setuju dari Sehun, anaknya itu belum mau kembali padanya.
"baiklah, aku akan memberikan waktu. Tapi jika anakmu itu menolak. Maka aku akan mencarikan pendamping lain untuk putriku." Seungsung seperti mengancam.
"tentu saja anakku tidak akan menolak." Kata Youngmin cepat. Dia harus menikahkan Sehun dengan anak Seungsung, untuk memuluskan rencananya mengambil harta keluarga Luhan yang melimpah dari Seungsung.
Seungsung berdiri, dia berjalan pelan, sepertinya memikirkan sesuatu. Dia menatap jendela diruang tamu itu, dengan pandangan datar.
Dan kemudian, Joy, si pembantu cantik melintas sambil tersenyum dan tertawa sendiri, seperti orang gila yang baru saja menang chip poker online. Yeoja itu melewati Seungsung.
"Joy, ambilkan minuman untuk tamuku." Perintah Seungsung pada Joy.
"ya, sebentar tuan besar." Balas Joy, namun yeoja itu tidak langsung menjalankan perintah tuan besarnya, dia masih senyum-senyum lalu tertawa sendiri, rupanya dia sedang melihat foto diponselnya.
"aku menyuruhmu, cepat lakukan…" bentak Seungsung, dia mendekati Joy.
"sebentar tuan besar. Lagi pula membuat minuman bukan tugasku, tugasku cuma… ah, ponselku. Kenapa tuan besar mengambilnya." Teriak Joy, baru saja ponselnya ditarik dengan kasar oleh Seungsung.
"kau ini kugaji bukan untuk main ponsel. Kau itu pembantu… ingat, kau cuma babu, jongos dan kacung dirumah ini… cepat ambil minuman." Kembali bentakan Seungsung membahana,
Joy ciut seketika, yeoja itu langsung lari terbirit-birit untuk mengambil minuman didapur.
"pembantu tidak tahu diri.… sepertinya aku salah mempekerjakan gadis muda seperti dia." kata Seungsung, lalu meletakkan ponsel milik Joy secara kasar diatas meja.
Ponsel tersebut menyala dengan menampilkan sebuah foto dilayarnya.
Tepat saat itu, mata jelek Youngmin tidak sengaja tertuju pada layar ponsel Joy, dia penasaran dan langsung mengambil ponsel itu, untuk dilihat dalam jarak yang dekat.
Dan…
Deg…
Youngmin menatap foto diponsel Joy dengan mata membulat,
'inikan… bukannya ini foto Jongin dan pacar sialannya itu…' Youngmin membatin, tidak percaya dengan penglihatannya.
Dia harus memperjelas foto itu.
"ehm, ini foto siapa?" tanya Youngmin pada Seungsung,
Seungsung yang sejak tadi mondar mandir tidak jelas, berhenti dengan kegiatannya itu. Kemudian mengarahkan wajahnya dan melihat foto yang ditampilkan dilayar ponsel Joy.
"oh… itu foto keponakan keluarga Xi. Jadi keponakanku juga. Kenapa?" Seungsung bertanya balik, dengan santai. Kemudian duduk disofa lagi.
Youngin tidak langsung menjawab. Dia berpikir keras. Kenapa bisa Jongin dan pacarnya bisa menjadi keponakan dikeluarga Xi, itu sangat aneh buatnya.
"dimana mereka sekarang?" tanya Youngmin lagi, tidak menjawab pertanyaan untuknya tadi.
"mungkin dikamar, dilantai dua." Jawab Seungsung, kali ini dengan tidak santai. Dia memandang Youngmin dengan pandangan penasaran.
"kenapa? Kau mengenali mereka?"
Lagi-lagi Youngmin tidak menjawab, pandangannya beralih kelantai dua. Dia tidak melihat siapa-siapa disana. Pria tua itu terus berpikir, kemudian dengan cepat merogoh ponselnya, dan menelfon seseorang.
Tidak ada yang mengangkat telefonnya. Youngmin langsung berdiri, mengganti kontak, dan menelfon nomor yang lain. Namun setelah beberapa detik mencoba, tetap nihil.
"sial… kenapa semuanya tidak aktif." Seru Youngmin, lalu mengusap dahinya kasar.
Seungsung terus memandangi Youngmin,
"kenapa? Kau kenapa? Kau tidak menjawab pertanyaanku." Ujar Seungsung, agak kesal juga. Dia tidak digubris oleh Youngmin.
Ponsel milik Joy tergeletak kembali diatas meja, dengan tetap menampilkan foto Jongin dan Kyungsoo dimeja makan. Youngmin hanya fokus pada foto itu, dia tidak membuka foto lain, padahal ada satu foto yang bersama foto itu, yaitu foto Sehun. foto Sehun sendirian, dengan lokasi dimeja makan juga.
Youngmin tidak melihat foto Sehun, dia hanya melihat foto Jongin dan Kyungsoo saja.
"kau kenapa? Jawab?" bentak Seungsung, tuan besar itu mendadak naik darah.
"diam." Youngmin balas membentak, tidak kalah kerasnya. Seakan-akan dialah tuan rumah disana.
Seungsung tidak bertanya lagi, namun wajahnya merah padam. Dia baru saja dibentak balik oleh calon besannya.
Youngmin terus mengusap dahinya, lalu memasukkan ponselnya lagi kesakunya.
'sepertinya aku harus memanggil suruhanku secara manual.' Batin Youngmin.
Pria yang bernama lengkap Kim Young Min itu melangkah cepat dan meninggalkan Seungsung diruang tamu, namun setelah berjalan beberapa langkah, dia mendadak berhenti, lalu menoleh pada Seungsung.
"kau harus waspada dan jangan biarkan mereka pergi. Ingat itu…" tutup Youngmin, kemudian berlalu. Keluar dari rumah keluarga Luhan, langkahnya sangat cepat dan tergesa-gesa.
Hening.
Seungsung mematung ditempatnya, berpikir keras dengan kalimat terakhir Youngmin tadi, dia menoleh dan memandang ponsel Joy yang tergeletak diatas meja ruang tamu, pandangan yang difokuskan pada foto Jongin dan Kyungsoo yang terpampang nyata dilayar ponsel itu.
'sepertinya aku harus melakukan sesuatu… sebelum terlambat.'
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Sehun terduduk ditempatnya, posisinya masih dilantai dua, bersembunyi dibalik tembok. Dia disana sudah lumayan lama, hampir saja tertidur. Dia tidak bisa mendengar percakapan antara Seungsung dan Youngmin tadi. Karena jaraknya yang lumayan jauh.
Hening sejenak,
Lalu terdengar suara-suara celoteh panjang. Sehun mengarahkan pandangannya kebawah. Dia melihat pembantu dan pekerja dirumah Luhan berjalan beriringan, semuanya mengarah kepintu utama, pintu depan.
'kenapa dengan mereka semua? Mereka mau kemana?' batin Sehun, tidak mengerti.
Namja tersebut kemudian beranjak, dan yakin bahwa Youngmin sudah pulang. Rencananya tidak berjalan mulus. Alat perekam yang terpasang didalam ruangan kerja Seungsung sepertinya tidak berguna. Rencana A tidak berjalan mulus.
Sehun turun kelantai bawah, berjalan lambat. Keheningan dan kesunyian sangat terasa sekali. Seperti dikuburan.
"Joy…" Sehun memanggil nama si pembantu cantik, tapi tidak ada jawaban.
Tiba-tiba Seungsung muncul dari arah ruangan belakang, dia tersenyum pada Sehun.
"ah ajuhsi… selamat pagi. Pembantu dirumah ini kemana?" tanya Sehun, matanya melirik kesana kemari, mencari penampakan Youngmin. siapa tahu saja si tua jelek ayahnya itu belum pulang.
"semua pembantu kuliburkan hari ini." jawab Seungsung, singkat.
"kenapa ajuhsi meliburkannya?"
"mereka butuh penyegaran sepertinya. Jadi aku meliburkan mereka selama beberapa jam."
"itu bagus ajuhsi."
Sehun mencoba tersenyum, tapi dia merasa ada yang aneh. Sangat aneh. Tapi dia tidak tahu apa yang aneh itu. Namja berbahu lebar tersebut ingin pamit kelantai atas lagi, tapi Seungsung sudah lebih dahulu berujar,
"ah Sehun, bisakah kau membantuku mencari kacamataku diruang kerja. aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata itu." pinta Seungsung, lalu tersenyum penuh harap.
"tentu saja ajuhsi." Sehun langsung menyanggupi.
Dan kemudian Seungsung berjalan menuju ruang kerjanya, Sehun mengekor di belakang. Namja cadel itu mendadak merasa was-was, seperti akan terjadi sesuatu yang membahayakannya.
Seungsung dan Sehun sampai diruang kerja,
"aku biasa menyimpan kacamata itu disini, tapi sekarang tidak ada." Kata Seungsung, meraba-raba laci meja kerjanya.
"kalau begitu aku akan mencarinya disekitar sini." ucap Sehun, kemudian berjalan lebih kedalam ruangan, matanya melirik singkat ke rak buku, tempat dimana dia menaruh alat perekam berbentuk segi empat. Dia sedikit terkaget, karena alat itu sudah tidak ada disana. Tidak ada diantara buku-buku.
Alat perekam itu hilang.
Sehun ingin mendekati rak buku dan melihat lebih jelas, tapi secara mendadak dari arah belakang, lehernya dicekik dengan menggunakan ikat pinggang. Cekikan itu terjadi tiba-tiba, dia tidak bisa mengelak.
"argh…akhh…erg.." nafas Sehun seakan terputus, dia megap-megap.
"mati kau… penipu. Aku bukan orang bodoh… dasar penipu kelas jalanan. Rasakan ini… mati kau… aku sudah mencurigaimu. Terutama dua temanmu itu…" seru sebuah suara, suara orang yang mencekik Sehun dengan ikat pinggang.
Itu adalah suara Seungsung.
"arghhkkhh…." Sehun seperti ingin mati saja, wajahnya merah padam, dia dicekik oleh Seungsung dengan cara sadis.
Seungsung terus mengencangkan cekikan ikat pinggang dileher Sehun, sedangkan Sehun hanya bisa sekuat tenaga menggunakan tangannya untuk melepaskan ikat pinggang yang terlilit dilehernya, namja itu benar-benar lengah tadi.
"mati kau… mati… aku akan menguburkanmu dibelakang rumah. Tidak akan ada yang tahu. setelah itu aku akan menghabisi dua temanmu, kalian berkomplotan bukan? hah… katakan apa tujuan kalian? Apa? katakan penipu… kau masuk dirumah yang salah." teriak Seungsung, terus mengencangkan jeratan ikat pinggang dileher Sehun.
Tentu saja Sehun tidak bisa menjawab. Namja itu hampir kehabisan nafas, Dia perlu bantuan segera, jika tidak, dia kemungkinan akan mati ditangan Seungsung.
"mati kau… mati… mat… arghhh…"
'bugh…'
Seungsung mendadak tersungkur, seseorang melayangkan pukulan keras ditengkuknya, sangat keras. Tuan besar itu jatuh dengan erangan sambil memegang tengkuknya.
"sialan, kau menyakiti adikku tua Bangka jelek bau tanah…" itu adalah Jongin. dia memukul tengkuk Seungsung dengan tangan kosongnya yang kuat.
Jongin datang tepat waktu, telat sedikit saja, Sehun sudah bisa dipastikan meregang nyawa karena dicekik.
'bugh… bugh… bugh..'
Jongin memukul dan menendang Seungsung beberapa kali, secara membabibuta dan full power
"arrght…. Sakitt… argh…"
Seungsung berteriak seperti gembel pencuri yang dikeroyok oleh warga, Jongin menginjak pergelangan kakinya dengan sangat keras, sebanyak dua kali. Yang mengakibatkan pria tua jelek itu mengerang dan berteriak kesakitan, sepertinya dia lumpuh, tidak bisa berjalan.
"jangan berteriak seperti anak gadis tua bangka…"
'bugh…'
Pukulan Jongin kembali melayang, kali ini mengenai rahang Seungsung, yang membuat paman Luhan itu memuntahkan darah segar.
"hyung… cukup, dia… sudah lumpuh…" kata Sehun, dengan nafas terengah-engah, memegang lehernya yang merah, keringat membasahi dahinya.
Jongin menghentikan aksi brutalnya, kemudian mendekati Sehun yang merosot didinding, terduduk.
"kau tidak apa-apa? ya tuhan… si tua jelek itu hampir saja membunuhmu." Jongin memegang leher Sehun, memeriksanya dengan seksama.
"tidak apa-apa hyung… Untung hyung… datang tepat… waktu, kalau tidak aku… aku mungkin sudah mati." gumam Sehun, masih dengan nafas terputus-putus.
"itu sebabnya aku lebih suka menjalankan rencana B. kita lumpuhkan saja si tua itu. Tidak perlu menunggu lama begini. Kau hampir saja jadi korbannya." Timpal Jongin, sambil mengusap keringat didahi Sehun.
Jongin tadi sempat keluar kamar untuk menemui Sehun, dia mengetuk kamar Luhan, tapi tidak ada yang membukanya (itu karena Luhan tidak akan membuka pintu tanpa ketukan kode dari Sehun). dan namja seksi itu turun kebawah, merasakan suasana yang sunyi dan sepi, tidak sengaja melintas didepan ruang kerja Seungsung dan melihat adiknya dicekik oleh Seungsung.
"terima kasih hyung…" Sehun sekali lagi mengucapkan terima kasihnya, dia bernafas lega sekarang.
Jongin mengangguk dan tersenyum lega, kemudian menoleh ke sosok Seungsung yang tersungkur dengan bibir penuh darah dan kaki yang tidak bisa digerakkan, kaki kanan tuan besar itu lumpuh.
"tapi aku tidak akan puas kalau tidak mencekik balik si tua jelek ini…" kata Jongin, kemudian mengambil ikat pinggang yang tadi digunakan oleh Seungsung, dan menggunakan benda itu untuk menjerat leher Seungsung.
Jongin membalas perlakuan Seungsung, mencekiknya dengan ikat pinggang itu.
"arghhhtt…ghgghh"
Seungsung berteriak tertahan, seperti ayam yang digorok lehernya, cekikan Jongin lebih keras daripada cekikannya tadi. Jongin mengencangkan maksimal ikat pinggang itu dileher Seungsung,
"bagaimana? Apa kau sudah tobat? Sakit bukan… aku tidak akan memaafkan seseorang yang menyakiti adikku."
"arkkkhhhhh….ghh…" suara Seungsung tidak jelas, matanya melotot. Dia merasakan sakit yang amat sangat, urat lehernya membesar.
"cukup Jongin hyung, dia bisa mati. Kita harus menjebloskannya ke penjara dalam keadaan hidup hyung…" sahut Sehun, nafasnya sudah mulai normal sekarang.
"biarkan dia mati…" kata Jongin. dia betul-betul sudah naik darah. Perbuatan Seungsung yang mencekik Sehun tadi tidak bisa diterimanya begitu saja.
Seungsung bergetar hebat, rasa sakitnya sulit dijabarkan. Saat ini dia merelakan harta atau apapun asal bisa ditukar dengan nyawa, dia masih ingin hidup. Kekuasaannya dirumah keluarga Luhan sebentar lagi akan berakhir. Mungkin berakhir karena kematian yang akan menjemputnya.
Dan tiba-tiba Kyungsoo muncul dibalik pintu, wajah namja itu terlihat pucat. Kemunculannya yang mendadak mengagetkan Jongin dan Sehun.
"gawat… Youngmin datang, dia membawa dua orang berbadan besar. Sepertinya appa kalian itu sudah tahu keberadaan kita semua disini. Apa yang harus kita lakukan?" Kyungsoo panik, dengan badan gemetar dan takut.
Sehun dan Jongin saling pandang, Jongin langsung mengambil tindakan.
"aku akan menyumpal mulut Seungsung dengan sesuatu dan mengikatnya. Kemudian kita semua harus bersembunyi." Kata Jongin, lalu mengendurkan jeratan ikat pinggang dileher Seungsung.
Seungsung tidak jadi mati, tapi antara hidup dan mati. Sangat menyedihkan.
"cepat kalian berdua sembunyi."
.
.
.
.
.
.
.
CONTINUED
8…8…8…8…8…8…8
Chapter 14 up, dengan 7400 kata, itu sudah sangat panjangkan. Mudah-mudahan pembaca sekalian tidak capek dan bosan membacanya. Maaf juga dengan NC yang dirilis dichapter ini, yang mungkin tidak sesuai ekspektasi, hehehehe…
Selalu dan selalu akan diucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada pembaca yang memberikan Reviewnya dichap-chap lalu. Mungkin tinggal 2 chapter lagi FF ini akan tamat, atau ingin diperpanjang lagi? Maybe, hehehe…
Mengenai FF ini, ambil yang baik dan jangan tiru yang buruk ya, hehehe… anggap saja hiburan semata. aku malah tidak enak, terutama dengan pembaca yang mungkin belum berusia 18 tahun. Aku menodai pikiran dan otak polos kalian, Maaf…
Review lagi nee, sampai jumpa dichapter 15.
Salam Happy.
(mian, no Fb, Twitter, Ig. Semuanya lupa password, hehehe.)
By : Han Kang Woo
