You're Mine

Chapter 13

Oh Sehun and Xi Luhan (GS)

AU, Romance || Chaptered

2016©Summerlight92

.

.

.

Luhan berdiri di sebuah balkon apartemen yang sudah beberapa hari terakhir ia tempati. Dia memejamkan matanya barang sejenak, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerbangkan beberapa helai rambutnya.

"Lu ..."

Mata Luhan membelalak lebar. Dia menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya, lalu kembali memejamkan mata. Namun yang terjadi sesudah itu, Luhan kembali menggelengkan kepala sambil menggumam frustasi. Jika sebelumnya ia mendengar suara pria itu, sekarang bayang-bayang wajahnya yang melintas dalam ingatan Luhan.

Pergi sejauh mungkin dari Sehun setelah mengetahui kebohongan yang dilakukan pria itu, nyatanya tak membuat kesedihan Luhan berkurang. Sebaliknya, kesedihan itu semakin bertambah, seiring bertambahnya rasa rindu Luhan pada pria bermarga Oh itu.

Luhan memandangi cincin yang diberikan Sehun ketika melamarnya 1 minggu yang lalu. Dalam hati ia tersenyum miris. Kenapa rahasia itu justru terbongkar setelah momen lamaran yang bahagia itu? Kenapa tidak sejak awal Sehun berkata jujur padanya?

Terlalu banyak pertanyaan 'kenapa' terus muncul dalam kepala Luhan, tapi gadis itu tak pernah bisa menemukan jawaban yang ia cari, lantaran semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa diulang kembali.

"Sehun ..." tanpa diperintah, cairan bening itu meluncur dengan mudah mengaliri pipi Luhan. Gadis itu kembali terisak untuk kesekian kali. Seberapa besar rasa kecewa dan sakit hatinya pada Sehun, tak akan bisa mengalahkan seberapa besar rasa cintanya pada pria itu. Ya, terlepas dari fakta bahwa pria itu sudah menyakitinya dengan kebohongan yang juga melibatkan ayahnya, Luhan tetap mencintai Sehun.

"Luhan?"

Suara yang mengalun lembut dari belakang membuat gadis itu menoleh. Sosok perempuan dengan mata kucingnya yang cantik telah berdiri di dekat kusen jendela kaca dengan ukuran tinggi sama seperti pintu. Dia memandang iba ke arah Luhan yang kedapatan menangis di balkon apartemennya.

"Minseok-eonni ..."

Senyum tipis terukir di bibir Minseok. Dia berjalan mendekati Luhan, lalu memeluk gadis itu sambil mengusap punggungnya dengan lembut.

"Tidak apa-apa ..." Minseok beralih menepuk-nepuk punggung Luhan ketika dia merasakan tubuh gadis itu sedikit gemetar. "Semua akan baik-baik saja, Lu."

Sekali lagi, kalimat yang diucapkan perempuan yang sudah menolongnya dengan mengizinkannya tinggal di apartemen ini, membuat tangis Luhan pecah.

"Hiks ... aku merindukannya, Eonni ..." Luhan menangis sejadi-jadinya. "Aku sangat merindukannya ..."

Minseok terus mengeluarkan kata-kata menenangkan untuk Luhan. Tanpa sadar air matanya ikut menetes. Dia tidak tahan setiap kali mendengar tangisan pilu yang keluar dari Luhan.

Memori Minseok kembali pada hari di mana Luhan secara mengejutkan datang di gedung apartemennya. Luhan datang dengan kondisi yang menyedihkan dan rapuh. Mata bengkak, wajah sembap, serta bibir pucat dan kering.

Pertama kali mengenal Luhan ketika mereka sama-sama didapuk menjadi pengiring pengantin Kyungsoo, Minseok memang pernah menyebutkan alamat apartemennya yang berada di Itaewon kepada gadis itu. Tujuannya agar sesekali gadis itu mampir ke sana jika dia sedang berada di distrik Yongsan.

Namun Minseok tak pernah menduga, pertama kalinya Luhan mengunjungi apartemennya justru dalam kondisi kalut karena pertengkarannya dengan Sehun. Mau tidak mau, Minseok dan kekasihnya—Jongdae—harus terseret dalam masalah mereka. Selain Jongdae, orang ke-2 yang tahu jika Luhan berada di apartemennya adalah Kyungsoo.

Minseok memberitahu Kyungsoo tanpa sepengetahuan Luhan sekitar 4 hari yang lalu. Selama ini dia terus melaporkan kondisi Luhan pada Kyungsoo, begitu pun sebaliknya. Kyungsoo juga melaporkan kondisi Sehun padanya. Kabar tentang Sehun yang didapat dari Kyungsoo sukses membuat Minseok tak habis pikir dengan pasangan yang satu ini.

Saling mencintai, namun hanya karena sebuah kesalahpahaman mereka saling menyiksa diri sendiri.

..

..

..

Seperti pencuri yang tertangkap basah, mungkin itu gambaran yang tepat untuk situasi yang tengah dihadapi Kyungsoo saat ini. Masih di balkon apartemennya dan Jongin, perempuan itu menundukkan kepala di hadapan sang suami yang tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik—layaknya seorang polisi yang sedang menginterogasi si pencuri.

Sudah lewat 10 menit sejak Jongin menanyakan apa yang sedang disembunyikan Kyungsoo darinya, namun istri mungilnya itu tak kunjung memberikan jawaban.

"Masih tidak mau menjawab?"

"..."

"Kyung?"

"..."

"Kyungieee?"

"..."

"Kim Kyungsoo?"

Ini dia yang membedakan Jongin dengan kebanyakan pria di luar sana. Jongin tidak akan menggunakan nada mengintimidasi ketika dihadapkan situasi seperti ini, hanya sekedar tatapan matanya yang tajam. Namun selebihnya, Jongin justru menggunakan rayuan kebanggaannya pada Kyungsoo untuk mencari tahu apa yang sedang disembunyikan istrinya ini. Dan Jongin tahu kata-kata sakti yang mampu membuat pertahanan Kyungsoo goyah, bahkan kemudian roboh seketika—kebiasaan sejak mereka masih berstatus kekasih—yaitu memanggilnya dengan nama Kim Kyungsoo.

"Kim Kyungsoooo ..." kali ini Jongin sengaja memanggilnya dengan nada seduktif. Ditambah lagi tangannya yang kini sudah melingkar manis di sekitar pinggang ramping Kyungsoo.

"Jongin, lepas ..." rengek Kyungsoo. Wajahnya sudah memerah seperti tomat.

Jongin menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan melepasnya sebelum kau mengatakan apa yang kau sembunyikan dariku."

Kyungsoo mendesah pelan.

"Kalau tidak salah ... tadi aku mendengar kau menyebut nama Luhan," lanjut Jongin sambil mengerling nakal, bersamaan dengan Kyungsoo yang sedang menatapnya.

"Ugh, kau menang, Jongin ..." bibir Kyungsoo mengerucut imut. "Aku menyerah."

Jongin terkekeh lalu menyentil hidung istrinya dengan gemas. "Jadi, apa yang kau sembunyikan dariku? Katakan."

"Baik, aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi berjanjilah kau tidak akan menceritakannya pada siapapun. Sampai aku sendiri yang memberimu izin."

Jongin mengangguk patuh.

Kyungsoo menarik napas panjang, "Aku tahu di mana Luhan berada."

"APA?! KAU TAHU DI MANA—" Kyungsoo buru-buru membekap mulut Jongin sebelum menyebutkan nama Luhan dengan suara kerasnya. Dia langsung menghadiahi mata owl-nya yang membuat Jongin meringis lebar.

"Masih mau berteriak?" ancam Kyungsoo yang segera dibalas gelengan Jongin. Kalau sudah memperlihatkan mata owl-nya, giliran Jongin yang kalah.

"Oke, aku ulangi perkataanmu tadi." Jongin bergumam sebentar, "Kau ... tahu di mana Luhan berada?"

Kyungsoo mengangguk.

"Di mana?"

"Di tempat Minseok-eonni."

"Sejak kapan kau tahu?"

"..."

Jongin menghela napas, "Kyung, aku tanya sejak kapan kau tahu dia ada di tempat Minseok-noona?"

"Ng ... itu ..." Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. "2 hari setelah kepergian Luhan, Minseok-eonni meneleponku. Tadinya dia tidak berniat menghubungiku karena Luhan sendiri yang melarang untuk memberitahu siapapun. Tapi pada akhirnya dia meneleponku karena kondisi Luhan yang jauh dari kata baik. Dia sering menangis dan memanggil-manggil nama Sehun dalam tidurnya. Kau tahu, Luhan sama seperti Sehun. Dia sempat tidak mau makan, tapi Minseok-eonni terus membujuknya sampai membuahkan hasil. Meskipun dia hanya makan sedikit."

Hening cukup lama, Jongin tampak menyelami cerita yang dipaparkan Kyungsoo. Di satu sisi dia merasa lega karena akhirnya mengetahui keberadaan Luhan, meskipun tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya karena kondisi gadis itu tak jauh berbeda dengan Sehun.

"Kau sudah tahu selama itu, kenapa tidak segera memberitahu kami, Kyung?"

Jongin tetap tidak bisa menghilangkan rasa kecewanya terhadap Kyungsoo, karena sudah menyembunyikan keberadaan Luhan dari semua orang, terutama Sehun yang jelas-jelas sangat membutuhkan gadis itu.

"Maafkan aku," lirih Kyungsoo merasa bersalah. "Aku tahu apa yang kulakukan salah, tapi aku tidak punya pilihan. Minseok-eonni mengatakan kalau kondisi Luhan sangat rapuh. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri."

"Apa Luhan tahu soal kondisi Sehun?"

Kyungsoo menggeleng, "Dia tidak tahu. Aku meminta Minseok-eonni untuk menyembunyikannya dari Luhan."

"Kalau begitu, kita harus secepatnya ke sana untuk menemui Luhan. Dia harus tahu bagaimana kondisi Sehun setelah kepergiannya," Jongin menghela napas kasar. "Bila perlu, sekalian kita bawa dia pulang. Aku benar-benar tidak tahan lagi melihat mereka seperti ini."

"Tapi dia belum siap untuk bertemu lagi dengan Sehun." Kyungsoo sedikit ragu. "Itu yang kudengar dari Minseok-eonni."

"Kita yang akan membujuknya pelan-pelan," Jongin mengusap pucuk kepala Kyungsoo dengan penuh kasih sayang. "Aku percaya, semarah apapun Luhan, tetap tidak bisa mengalahkan rasa cintanya pada Sehun. Dengan mendengar gadis itu sangat merindukan Sehun, bukankah itu sudah membuktikan bahwa Luhan sangat mencintainya? Terlepas dari kesalahan yang pernah dilakukan Sehun bersama Paman Guangzuo."

Kyungsoo terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk setuju sambil tersenyum.

"Kau benar, Jongin. Kurasa sudah waktunya kita membawa rusa China itu pulang ke tempatnya," sahut Kyungsoo dengan nada bercanda. "Maaf, ya. Aku tidak memberitahumu lebih awal."

Melihat bagaimana raut penyesalan di wajah sang istri, Jongin hanya menanggapi dengan senyuman. Pria itu menarik tubuh Kyungsoo, membawanya dalam dekapannya yang begitu hangat, sebelum akhirnya menghadiahi kecupan lembut di keningnya.

..

..

..

Minseok tengah sibuk menyiapkan makanan kesukaan sang kekasih, ketika dia mendengar suara kombinasi passcode dari arah pintu apartemennya. Tanpa memeriksanya pun dia sudah tahu kalau si pelaku itu adalah kekasihnya sendiri yang bernama Kim Jongdae.

Setelah mendengar suara pintu yang dibuka, bibir Minseok melengkung sempurna karena teriakan Jongdae yang memanggil namanya.

"Aku di sini," Minseok sedikit berteriak dari arah dapur. Tak lama kemudian Jongdae muncul, masih dengan setelan kemeja formal dan dasi yang melingkar di bawah kerah kemejanya.

"Kau terlihat lelah sekali," Minseok merasa cemas mendapati wajah Jongdae sedikit pucat. Kedua tangannya menangkup pipi Jongdae, lalu mengusapnya dengan lembut dan penuh perhatian.

"Sejak pagi tadi jadwal mengajarku sangat padat. Untung saja hanya sampai jam makan siang," Jongdae memeluk erat tubuh Minseok.

Minseok tersenyum. Dia paham betul bagaimana kesibukan Jongdae. Pria ini bekerja sebagai dosen jurusan Psikolog di Seoul National University. Jadwal mengajar yang terbilang padat selama 5 hari dalam seminggu, sudah pasti menguras energi otak dan juga tubuhnya.

"Itukah sebabnya kau ingin makan siang di sini?"

Jongdae mengangguk, "Aku hanya ingin menikmati masakanmu saja," ucapnya sambil mengecup pipi gembil Minseok.

"Dasar," Minseok menggelengkan kepalanya, namun tetap tidak berhasil menyembunyikan rona merah di wajah. "Tunggu di sana. Sebentar lagi bibimbap kesukaanmu siap."

Kali ini Jongdae menghadiahi kecupan singkat di bibir Minseok. Sebelum wanita itu mengeluarkan protesnya, Jongdae sudah lebih dulu berlari ke ruang makan sambil tergelak.

"Ugh, dia suka sekali merusak konsentrasiku," desis Minseok dengan bibir mengerucut, yang selanjutnya berganti dengan senyuman lebar.

Tak mau membuat Jongdae menunggu lama, Minseok segera menyelesaikan masakannya. Senyum puas tercetak di bibir Minseok saat bibimbap untuk Jongdae sudah siap untuk disantap. Dengan hati-hati, Minseok membawa nampan dengan semangkuk bibimbap itu ke ruang makan.

"Silakan," Minseok menyodorkan mangkuk tersebut di hadapan Jongdae.

"Terima kasih," tangan Jongdae terulur ke depan, lalu mengusap lembut pipi Minseok. Pria itu pun mulai menyantap bibimbap buatan Minseok.

"Seperti biasa, masakanmu selalu enak," puji Jongdae dengan senyum khasnya. Ia begitu lahap menikmati bibimbap buatan kekasihnya.

"Makan pelan-pelan," tegur Minseok melihat Jongdae menikmati masakannya seperti orang kelaparan. Jongdae mengangguk paham, lantas mengikuti anjuran Minseok untuk menikmati makanan secara pelan, tidak terburu-buru seperti sebelumnya.

"Oh iya, bagaimana keadaan Luhan?" tanya Jongdae. Tiba-tiba saja dia penasaran dengan kondisi gadis yang ikut tinggal sementara waktu di apartemen kekasihnya ini. Memang mereka baru pertama kali bertemu ketika pernikahan Jongin dan Kyungsoo. Namun sejak Luhan tinggal di apartemen Minseok, keduanya sudah akrab.

Minseok sendiri tidak heran jika Jongdae dan Luhan langsung akrab. Dengan mengandalkan kemampuannya di bidang psikologi, Jongdae bisa dibilang sudah banyak memberikan masukan untuk Luhan, ketika gadis itu datang dalam kondisi rapuh, khususnya rapuh secara mental.

Jongdae menjadi pendengar yang baik ketika Luhan mengeluarkan keluh kesahnya pada pria itu. Dengan lembut pun, Jongdae memberikan pengertian kepada Luhan bahwa semua masalah bisa diselesaikan secara baik-baik, tanpa harus menyiksa diri sendiri yang nantinya justru berakhir saling melukai satu sama lain.

"Setidaknya dia sudah mau makan," Minseok menarik napas panjang. "Tapi, aku masih sering melihatnya melamun dan menangis seorang diri."

Jongdae mengangguk-angguk mendengarkan laporan Minseok. Kesibukannya mengajar di kampus membuat Jongdae tidak bisa sering memantau kondisi Luhan secara langsung. Jongdae hanya bisa memantau lewat laporan yang selalu diberikan Minseok sewaktu-waktu.

"Jongdae?"

"Hm?" Jongdae mengangkat wajahnya dan memandang Minseok yang tengah menunduk.

"Aku ... sedikit ragu. Apakah keputusanku memberitahu Kyungsoo jika Luhan sedang tinggal bersamaku adalah keputusan yang tepat atau tidak? Padahal Luhan sudah memintaku untuk tidak memberitahu siapapun."

Melihat keraguan di wajah sang kekasih, Jongdae hanya mengulum senyum. Ia letakkan sejenak peralatan makannya sebelum beralih menggenggam tangan Minseok.

"Kau sudah mengambil keputusan yang tepat," kata Jongdae membenarkan. "Kita tidak mungkin selamanya menyembunyikan keberadaan Luhan dari orang-orang terdekatnya. Luhan harus secepatnya kembali ke sana untuk menyelesaikan masalah mereka, terutama masalahnya dengan Sehun."

Minseok mendongak.

"Bahkan seharusnya kita secepatnya mempertemukan Luhan dengan Sehun. Masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," Jongdae menghela napas. "Mereka saling menjauhi dan menyiksa diri sendiri, padahal jelas-jelas mereka saling mencintai. Jika dibiarkan saja, bukan hanya mereka berdua yang menderita, tapi orang-orang terdekat mereka pun merasakan hal yang sama."

"Kau benar," Minseok tersenyum tipis. "Kita yang belum lama mengenal Luhan pun ikut bersedih karena masalah mereka."

Jongdae tersenyum. Ia senang melihat perubahan ekspresi wajah Minseok. Kemungkinan kekasihnya ini sudah paham dengan maksud ucapannya.

"Tadi aku sudah menyuruh Kyungsoo untuk datang ke sini. Aku ingin Kyungsoo membujuk Luhan agar dia mau pulang dan bertemu lagi dengan Sehun," kata Minseok kembali menceritakan obrolannya dengan Kyungsoo sesaat yang lalu.

"Eum, itu keputusan yang bijak," Jongdae menepuk-nepuk punggung tangan Minseok. "Aku bangga padamu, Sayang."

"Ish, jangan menggodaku!" Minseok menundukkan kepalanya karena tidak ingin Jongdae melihat wajahnya yang memerah. Sayangnya, Jongdae sudah melihat warna merah yang mendominasi wajah Minseok, bahkan sampai ke cuping telinganya.

"Kau sangat menggemaskan, Seokkie ..." bisik Jongdae dengan nada seduktif.

"JONGDAE!"

Selanjutnya hanya terdengar gelak tawa yang menggelegar milik Jongdae.

..

..

..

Sehun tengah menikmati udara sore hari di taman belakang rumahnya. Dia duduk di atas bangku panjang taman, perlahan mulai menikmati angin semilir yang begitu menyejukkan. Mata pria itu terpejam sejenak, sampai akhirnya terbuka kembali ketika telinganya menangkap suara langkah kaki dari belakang yang semakin mendekat. Segera saja, Sehun menoleh dan mendapati sosok pria paruh baya sudah berdiri tepat di sampingnya.

"Boleh aku duduk di sini?"

Hanya anggukan kecil yang diberikan Sehun, sampai kemudian sosok itu duduk di sebelahnya. Mereka masih terdiam dalam keheningan. Sehun merasa bingung sekaligus canggung, tidak tahu harus berbicara apa dengan calon ayah mertuanya ini. Sejak kondisinya yang drop beberapa hari lalu, ini pertama kalinya mereka berbicara empat mata.

"Bagaimana kondisimu?" tanya Tuan Guangzuo.

"Sudah merasa lebih baik, Paman."

Tawa kecil terdengar dari samping, membuat Sehun mengerutkan dahi sambil menatap Tuan Guangzuo dengan keheranan.

"Panggil aku ayah." Tuan Guangzuo tersenyum tulus. "Kau adalah calon menantuku. Mulai sekarang biasakan memanggilku ayah."

Sehun mengangguk lagi.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu, Sehun," kata Tuan Guangzuo dengan wajah seriusnya. "Ini soal keberadaan Luhan."

"Apa kalian sudah tahu di mana Luhan berada sekarang?" tanya Sehun bersemangat. Untuk selama beberapa detik, matanya memancarkan binar penuh harapan.

"Kami belum menemukan lokasi persisnya, Sehun." Tuan Guangzuo merasa bersalah karena ucapannya kembali membuat wajah Sehun tampak murung. "Taksi yang dinaiki Luhan waktu itu mengantarnya sampai ke distrik Yongsan, tepatnya di Itaewon."

"Itaewon?"

Tuan Guangzuo mengangguk, "Apa kalian mengenal seseorang yang tinggal di sana? Menurutku, mungkin saja Luhan tinggal bersama seseorang yang kalian kenal. Firasatku mengatakan bahwa Luhan kemungkinan sudah tahu kalau dirinya sedang dicari, lalu gadis itu memilih bersembunyi agar tidak mudah bagi orang-orang suruhan kita untuk menemukan keberadaannya.

"Itaewon?" Sehun tampak berpikir keras, namun setelahnya menggeleng pelan. "Aku sama sekali tidak mempunyai petunjuk apapun, Ayah."

"Bagaimana kalau kau menanyakannya pada teman-temanmu?"

Sehun kembali terdiam. Kali ini dia sependapat dengan usulan Tuan Guangzuo. "Baiklah. Nanti akan kutanyakan pada teman-temanku."

Tuan Guangzuo tersenyum. Lalu selama beberapa menit, keheningan kembali melanda keduanya.

"Maaf ..."

Sehun menoleh ketika mendengar suara penuh rasa penyesalan dari pria paruh baya itu.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Jungwoo dan Chanyeol," Tuan Guangzuo berdeham pelan. "Soal pertemuan pertamamu dengan Luhan di hotel beberapa bulan yang lalu, sebelum kau bertemu denganku."

Ada perasaan gugup sekaligus rasa bersalah yang menyergap diri Sehun. Pasalnya, Sehun menyembunyikan pertemuan pertamanya dengan Luhan dari Tuan Guangzuo.

"Setelah aku memperlihatkan foto Luhan kepadamu, kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya kalau kau sudah pernah bertemu dengan Luhan?" tanya Tuan Guangzuo. "Kau sudah tertarik pada putriku sejak pertemuan pertama kalian. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal, Sehun?"

Sehun belum menjawab. Pria yang lebih muda itu membiarkan calon ayah mertuanya menyampaikan keluh kesahnya.

"Kau tahu Sehun, alasanku menawarkan pemberian saham milikku kalau kau bersedia menikahi putriku waktu itu, sebenarnya karena aku tersinggung dengan pendapatmu."

Kerutan samar muncul di dahi Sehun. Dia menoleh ke arah Tuan Guangzuo dengan sorot mata penuh tanda tanya.

"Kau tidak ingat? Kau sempat menolak untuk menikahi putriku karena kau tidak suka gadis manja yang selalu menuntut. Kau berpendapat bahwa gadis yang terlahir dari keluarga kaya raya kebanyakan bersikap manja dan selalu menuntut."

"Semula aku berpikir seperti itu, Ayah. Tapi setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kepribadian Luhan," perlahan senyum Sehun mengembang, "aku justru menyukai sikapnya yang terkadang manja. Di mataku, dia terlihat sangat menggemaskan dengan sikap manjanya itu, Ayah. Di satu sisi, Luhan juga memperlihatkan sikap keibuannya dalam mengasuh keponakanku. Dari sanalah aku melihat bahwa Luhan memang calon ibu yang baik."

"Itu karena sejak awal Luhan sudah memutuskan akan menjadi ibu rumah tangga setelah dia menikah nanti, Sehun." Tuan Guangzuo ikut tersenyum, lalu memandangi calon menantunya. "Sekarang kau sudah tahu bukan, kalau putriku berbeda dari putri keluarga kaya raya lainnya?"

Sehun mengangguk.

"Aku benar-benar menyesal sekaligus merasa bersalah padamu, Sehun. Seandainya saja kau mengatakan sejak awal kalau kau sudah tertarik pada putriku, aku tidak perlu menjanjikan apapun padamu, termasuk saham. Karena aku percaya, kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih ketika kau dengan tulus mencintai putriku," sesal Tuan Guangzuo untuk kesekian kali.

"Ini bukan salah Ayah sepenuhnya. Aku juga bersalah, karena dengan begitu mudah menanyakan apa keuntungan yang akan kuperoleh jika aku menikahi Luhan. Seandainya saja aku bisa mengontrol jiwa pebisnisku, mungkin aku tidak menanyakan hal itu pada Ayah. Ketika Ayah memperlihatkan foto Luhan padaku waktu itu, sebenarnya aku ingin berkata jujur kalau aku memang sudah tertarik padanya sejak pertemuan pertama kami. Tapi, mengingat itu adalah pengalaman cintaku yang pertama, aku tidak mau terburu-buru memberitahu Ayah," jelas Sehun panjang lebar, setelahnya ia mengulum senyum. "Kita sama-sama melakukan kesalahan, Ayah. Perjanjian itu, nyatanya sudah melukai orang yang kita sayangi."

"Kau benar. Kita sama-sama bodoh dan dibutakan oleh bisnis," sahut Tuan Guangzuo sependapat, kemudian tersenyum bangga pada Sehun. "Aku memang tidak salah memilih calon suami untuk Luhan. Kau yang terbaik, Sehun."

Mendengar pujian itu, Sehun hanya menanggapinya dengan senyuman. Meski demikian, tidak berarti mengurangi kesedihan yang sedang dirasakannya. Sampai detik ini, Sehun terus memikirkan Luhan. Dia sangat merindukan gadis itu.

"Ayah ... Luhan pasti akan kembali. Benar 'kan?"

Mendengar nada putus asa Sehun, Tuan Guangzuo merangkul pundak pria itu lalu memberikan usapan lembut yang menenangkan.

"Dia hanya sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Luhan pasti akan kembali," kata Tuan Guangzuo. "Aku berjanji akan secepatnya menemukan Luhan, lalu membawanya pulang ke sisimu. Bagaimanapun akulah yang paling bertanggung jawab dalam masalah kalian."

Sehun tersenyum. Ada pancaran kelegaan dari wajahnya. "Terima kasih, Ayah ..."

..

..

..

Chanyeol memutuskan pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Beban pekerjaan di kantor semenjak Sehun absen membuatnya kelelahan. Belum lagi persoalan Sehun dan Luhan yang turut mengusik pikirannya selama beberapa hari terakhir ini.

"Aku pulaaaang ..."

Chanyeol melepas sepatu, kemudian menggantinya dengan sandal rumah. Kedua alisnya bertaut ketika keheningan menyambut kepulangannya. Tidak ada suara Baekhyun maupun Dennis. Jelas-jelas dia melihat mobil yang biasa dipakai Baekhyun sudah terparkir rapi di garasi. Itu artinya istri dan anaknya sudah pulang ke rumah—setelah makan siang bersama di apartemen Jongin dan Kyungsoo. Lalu kenapa rumah dalam kondisi sepi? Ke mana mereka?

"Hiks ... Ibuuuuu ..."

DEG!

Samar-samar Chanyeol bisa mendengar suara isakan putranya dari arah kamar. Dia berlari ke kamarnya lalu membuka pintu itu dengan kasar, sampai akhirnya sebuah pemandangan yang disuguhkan dari dalam kamar membuat Chanyeol terperanjat.

"Astaga, Baekhyun!"

Chanyeol langsung berlari menghampiri Baekhyun yang terduduk lemas di lantai dengan bersandar pada tepi ranjang. Wajahnya terlihat pucat pasi dan dibanjiri keringat. Di sebelahnya, Dennis tak berhenti menangis sambil memegangi lengan Baekhyun.

"Hiks ... Ayah ... ibu sakit ..." mengetahui keberadaan sang ayah, Dennis mulai mengadukan perihal kejadian yang menimpa ibunya.

"Sakit?"

Dennis mengangguk, "Tadi Dennis melihat ibu memuntahkan sesuatu di kamar mandi, terus ibu juga kesakitan sambil memegangi perut, Ayah."

Kontan saja Chanyeol semakin panik begitu mendengar pengakuan putranya. Dengan lembut pria itu mengusap wajah Baekhyun, berusaha mengalihkan perhatian istrinya yang masih mengeluh kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Baekhyun, apa kau mendengarku?" Chanyeol menepuk-nepuk pipi Baekhyun, bermaksud membuat sang istri menoleh ke arahnya.

Perlahan mata Baekhyun yang sempat terpejam mulai terbuka. Dia tidak bisa menyembunyikan raut kelegaan di wajahnya begitu melihat keberadaan Chanyeol.

"Chan—" Baekhyun menutup mulutnya ketika rasa mual itu kembali menyerang. Hanya dalam hitungan detik, dia bangkit dan sontak berlari ke kamar mandi. Baekhyun kembali memuntahkan sesuatu ke dalam wastafel.

Chanyeol memijat tengkuk Baekhyun dengan lembut. "Apa kau salah makan?"

Baekhyun menggeleng, "Aku tidak tahu, Yeol. Tapi ... rasanya mual sekali ... ugh ..."

Chanyeol semakin prihatin melihat Baekhyun kembali muntah. "Kita ke rumah sakit, ya? Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu," bujuknya.

Melihat wajah serius Chanyeol yang bercampur kekhawatiran, Baekhyun tidak bisa menolak. Ia mengangguk kecil dan membiarkan Chanyeol memapahnya keluar dari kamar mandi.

"Dennis, ayah akan membawa ibu ke rumah sakit."

"DENNIS IKUT!"

Chanyeol menghela napas. Dia memang berniat mengajak Dennis karena tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah. Kalaupun menitipkan Dennis di rumah orang tuanya, itu juga membuang waktu.

"Baiklah, Dennis boleh ikut. Tapi jangan rewel, ya?"

Dennis mengangguk penuh keyakinan. Bocah berusia 3 tahun itu meraih tangan kanan Baekhyun, kemudian menggenggamnya dengan erat. Baekhyun tersenyum melihat perhatian yang diberikan suami dan putranya.

Chanyeol membawa Baekhyun ke rumah sakit Seoul. Setibanya di rumah sakit, Chanyeol dengan penuh perhatian memapah Baekhyun, begitu pun Dennis yang terus menggenggam tangannya. Duo ayah dan anak itu benar-benar membuat semua orang iri—khususnya para istri dan ibu.

"Dokter kandungan?" Baekhyun melirik Chanyeol dengan kebingungan. "Kenapa membawaku ke sini, Yeol?"

"Aku hanya mengikuti firasatku saja. Sudah, jangan bertanya lagi," potong Chanyeol ketika melihat Baekhyun hendak membuka mulutnya lagi untuk bertanya. Wanita itu merengut kesal dan membiarkan Chanyeol membawanya masuk ke dalam ruangan. Kedatangan mereka disambut seorang wanita berparas cantik yang juga merupakan dokter kandungan Baekhyun sebelumnya—sewaktu dia mengandung Dennis.

"OMO!" pekikan kaget keluar dari bibir wanita berjas putih dengan nametag bertuliskan Im Yoona itu. "Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian? Kyaaa ... Dennis sudah besar sekarang."

Chanyeol terkekeh melihat Yoona menangkup pipi Dennis.

"Dokter, tolong sembuhkan ibu Dennis. Ibu Dennis sedang sakit," kata Dennis dengan wajah melasnya, mengabaikan Yoona yang masih sibuk mengagumi ketampanan bocah berusia 3 tahun ini yang menuruni ketampanan ayahnya.

"Eh, apa yang terjadi dengan istrimu, Yeol?" tanya Yoona setelah menyadari maksud kedatangan satu keluarga itu.

"Baekhyun tadi muntah-muntah di kamar mandi, Noona. Dia juga mengeluhkan mual di perutnya. Aku ingin Noona memeriksanya, entah kenapa firasatku mengatakan kalau dia—"

"Sedang hamil?" potong Yoona yang disambut cengiran khas milik Chanyeol. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Dennis mengerjap polos. Belum mengerti pembicaraan ketiga orang dewasa itu.

"Baiklah, aku akan memeriksa kondisi Baekhyun. Tolong bantu istrimu berbaring di atas sana."

Chanyeol menuntun Baekhyun untuk berbaring di ranjang periksa, sambil menunggu Yoona menyiapkan peralatannya. Dennis duduk di pangkuan Chanyeol. Pandangan bocah itu tidak lepas sedetik pun dari Yoona yang kini mulai memeriksa kondisi ibunya.

"Bagaimana, Noona?" tanya Chanyeol penasaran ketika Yoona mulai melepaskan alat USG dari perut Baekhyun.

Yoona terdiam sejenak, lalu berjalan menghampiri Chanyeol dan Dennis. Wanita ini sedikit membungkuk sambil memperlihatkan senyuman terbaiknya.

"Dennis ..." Yoona semakin gemas melihat wajah Dennis yang terlihat bingung. "Selamat, ya. Kau akan menjadi seorang kakak."

"EH?" Itu bukan suara Dennis, melainkan Chanyeol dan Baekhyun.

"Dennis akan menjadi seorang kakak?"

Yoona mengangguk, lalu kembali mendekati Baekhyun dan menyentuh perutnya dengan lembut. "Di dalam sini ada calon adikmu, Dennis."

"Adik?" Dennis sedikit berteriak begitu Yoona mengucapkan kata-kata sakti yang langsung dipahami olehnya. "Dennis akan mempunyai seorang adik?"

"Eum." Yoona mengangguk lagi sambil menangkup gemas pipi Dennis.

"Be-benarkah itu, Noona?" Chanyeol tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. "Istriku sedang—"

"Ya. Firasatmu benar, Tuan Park. Istrimu sedang hamil. Kuperkirakan usia janinnya masih sangat muda, sekitar 2 minggu." Yoona menoleh ke arah Baekhyun yang terlihat berkaca-kaca. "Selamat ya, Baekhyunnie."

Baekhyun mengangguk, "Chan ..." dia tak kuasa memanggil sang suami karena begitu terharu mendengar kabar bahagia tersebut. Chanyeol pun merasakan hal yang sama. Dia tidak sanggup mengatakan apapun, selain memeluk Baekhyun dan menghadiahi kecupan sayang di kening istrinya itu.

"Terima kasih, Sayang." Lagi, Chanyeol mengecup kening Baekhyun dalam waktu cukup lama. Kemudian dia beralih mengusap perut Baekhyun yang masih rata, sebelum akhirnya mengecupnya dengan lembut sambil berkata, "Selamat datang, Anakku."

Air mata Baekhyun mengalir melihat Chanyeol begitu bahagia mendengar kehamilan keduanya. Dalam hati ia pun mengucap syukur karena Tuhan memberikan kepercayaan padanya untuk kembali memiliki seorang anak.

"YEAY! DENNIS AKAN PUNYA ADIK!"

Teriakan kegembiraan Dennis itu pun sukses membuat tawa ketiga orang dewasa pecah memenuhi ruangan. Chanyeol dan Baekhyun yang melihat tingkah menggemaskan Dennis tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka sangat bahagia dengan kehadiran calon anak kedua mereka yang kini telah tumbuh dalam kandungan Baekhyun.

..

..

..

Jam sudah menunjukkan tepat pukul 11 malam. Rumah sudah sepi karena hampir semua penghuninya sudah tidur, kecuali Sehun. Pria itu terlihat keluar dari kamarnya. Dia berjalan menyisiri lantai 2 sampai akhirnya berhenti di depan sebuah kamar. Kamar yang beberapa hari lalu ditinggal oleh penghuninya.

Ya, kamar itu adalah kamar Luhan. Sejak kepergiannya, ini kali pertama bagi Sehun mendatangi kamar tersebut.

Tangan Sehun menyentuh kenop, kemudian secara perlahan mendorong pintu itu hingga memperlihatkan kamar dalam kondisi gelap gulita. Sehun melangkah masuk dengan hati-hati. Tangannya meraba-raba dinding guna mencari saklar lampu. Begitu Sehun menemukan apa yang ia cari, segera saja cahaya terang memenuhi ruangan itu.

Sehun berdiri cukup lama di dekat pintu. Matanya memandangi sekeliling. Sejenak seperti film yang berputar, Sehun melihat siluet Luhan yang sedang melakukan berbagai aktivitas di kamar itu. Mulai dari berjalan mondar-mandir, pergi ke balkon untuk menikmati angin sore, keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang membalut tubuhnya, lalu terakhir naik ke atas ranjang dan bersiap untuk pergi tidur.

Namun dari itu semua, hal yang paling lama dilihat Sehun adalah ketika Luhan menyambut kedatangannya dengan senyum merekah penuh kebahagiaan.

"Sehunnie ..."

Samar-samar Sehun bisa mendengar suara Luhan yang memenuhi kamar itu. Ada rasa sesak yang membuncah dalam diri Sehun, membuatnya melangkah lunglai ke arah ranjang. Dia terduduk di atas sana, dengan lembut mengusap selimut yang biasa digunakan Luhan. Sehun menarik selimut itu, menggenggamnya dengan erat dan perlahan mulai menghirup aroma khas milik Luhan.

Tes.

Air mata Sehun meluncur bebas ketika bayang-bayang wajah Luhan terus berputar dalam kepalanya. Isakan kecil itu perlahan mulai berganti menjadi tangisan pilu.

"Sampai kapan kau akan menghukumku, Lu?" monolog Sehun dalam isak tangisnya. Ia mengangkat wajahnya. Seketika mata Sehun membulat sempurna setelah melihat bayangan sosok Luhan yang sedang berdiri di depannya dengan wajah sedih. Tatapan matanya sendu dan tak ada senyuman yang menghiasi wajah cantik Luhan.

"Lu ..." Sehun tidak peduli jika sosok yang di hadapannya sekarang hanya sebuah ilusi. Dia hanya ingin mengatakan isi hatinya. "Pulanglah ..."

Rasanya seperti nyata, bayangan sosok Luhan itu tersenyum tipis ke arah Sehun.

"Aku sangat merindukanmu, Lu ..." Sehun tak kuasa lagi menahan air matanya yang terus mengaliri wajahnya. "Aku sangat mencintaimu ..."

"Aku juga sangat mencintaimu, Sehunnie ..."

Mata Sehun terpejam ketika suara itu berdengung di telinganya. Ia semakin larut dalam buaian mimpi, bahkan terlalu larutnya hingga dia merasakan sesuatu yang lembut menyapu bibir tipisnya.

Dalam hitungan detik, tubuh Sehun terbaring di atas ranjang Luhan. Seulas senyum muncul di bibir pria itu. Setidaknya untuk malam ini, Sehun ingin mengalami mimpi indah bersama gadis yang sangat dicintainya.

..

You're Mine

..

Pagi ini, terjadi kehebohan di gedung kantor Oh Corporation. Semua orang menatap tak percaya pada sosok pria yang baru saja memasuki area lobi dengan langkah tegapnya.

"Tuan Sehun ..." Jihoo yang sedang berada di bagian resepsionis terkejut sekaligus senang dengan kedatangan sang pimpinan tertinggi perusahaan mereka. Bersama Seulgi dan beberapa staff yang bekerja di bagian resepsionis, mereka membungkuk hormat ke arah Sehun.

Raut kelegaan terpancar di wajah semua staff yang melihat Sehun kembali, setelah hampir selama 1 minggu lelaki itu absen tidak datang ke kantor.

Sudah menjadi rahasia umum jika Sehun sedang terlibat pertengkaran dengan Luhan. Sebab, hari di mana Luhan keluar dari kantornya 1 minggu yang lalu, tak sedikit dari beberapa staff yang melihat pertengkaran mereka, khususnya di bagian resepsionis.

Ditambah lagi dengan kemunculan calon ayah mertua Sehun—Xi Guangzuo—yang beberapa hari terakhir mendatangi kantor tersebut untuk menemui Chanyeol dan ayahnya. Semua staff pun sudah tahu jika mereka bertiga sedang mencari keberadaan Luhan yang dikabarkan menghilang.

"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" tanya Jihoo antusias.

Sehun tersenyum tipis, "Aku baik. Maaf sudah membuat kalian semua repot atas ketidakhadiranku di kantor selama beberapa hari terakhir."

Jihoo, Seulgi, dan beberapa staff lainnya yang bertemu Sehun di lobi, tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir mereka pada sang atasan yang kini terlihat kurus. Siapapun bisa melihat pipi Sehun sedikit tirus dan lingkar hitam di sekitar mata, meski tidak terlalu parah.

"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Sehun. Semua berjalan dengan lancar. Kalaupun ada masalah, Tuan Chanyeol berhasil mengatasinya," jelas Jihoo panjang lebar.

Dalam hati, Sehun berterima kasih banyak pada kakak sepupunya itu. Chanyeol sudah banyak membantu dalam menggantikan tugasnya memimpin perusahaan selama kondisinya drop beberapa hari terakhir ini.

Sehun kembali memandangi seluruh staff yang masih antusias menyambutnya.

"Aku ingin melihat jadwalku hari ini," ucap Sehun pada Jihoo, lalu dia melirik semua staff yang berada di sekelilingnya. "Kalian bisa kembali bekerja."

"Baik!"

Seruan yang membalas ucapannya itu membuat Sehun tersenyum senang. Rasanya beban di pundaknya sedikit berkurang mengetahui banyak orang begitu peduli terhadapnya. Mungkin ini juga termasuk salah satu alasan kenapa Sehun bisa bangkit dari keterpurukan atas masalah dengan Luhan yang sedang dialaminya.

Seulgi memandangi punggung Sehun yang semakin menjauh dari penglihatannya. Ia sempat melamun selama beberapa menit, sebelum disadarkan kembali oleh rekannya yang tiba-tiba menyikut lengan kirinya.

"Ayo kembali bekerja," ajak rekan Seulgi. "Syukurlah Tuan Sehun sudah datang lagi ke kantor."

Seulgi mengangguk, "Kuharap masalahnya dengan Nona Luhan bisa secepatnya terselesaikan, dan Nona Luhan bisa segera ditemukan keberadaannya. Hhhh ... entah kenapa aku khawatir dan merindukan Nona Luhan."

"Bukan hanya kau saja, Seulgi. Kurasa hampir semua staff yang mengenal Nona Luhan, dan seperti kita yang melihat pertengkaran mereka waktu itu, pasti mengkhawatirkannya. Semoga saja masalah ini cepat selesai dan mereka bersatu kembali seperti semula."

"Ya, semoga saja." Seulgi kembali memandang arah yang baru saja dilalui Sehun. Setelahnya, ia kembali bekerja seperti rekan-rekannya di bagian resepsionis.

Di sisi lain, Sehun baru saja keluar dari lift yang mengantarnya sampai lantai teratas gedung—tempat ruangannya berada. Dengan didampingi Jihoo di belakangnya, Sehun melangkah tegap menuju ruangannya, sambil sesekali membalas sapaan beberapa staff yang berpapasan dengannya.

"Sehun!"

Suara teriakan yang tidak asing membuat Sehun menoleh. Pria itu tersenyum lebar mendapati Chanyeol berjalan menghampirinya dengan wajah sumringah.

"Hyung ..." Sehun membalas pelukan Chanyeol.

"Aku tidak tahu kalau hari ini kau akan datang ke kantor," kata Chanyeol antusias. "Bagaimana kondisimu? Apa sudah membaik?"

Sehun mengangguk, "Aku tidak bisa berlama-lama di rumah, Hyung. Kau pasti kerepotan karena harus mengambil alih beberapa pekerjaanku. Maaf aku sudah banyak merepotkanmu, dan terima kasih sudah mau membantuku."

"Sudahlah, aku sama sekali tidak repot. Lagi pula, ayah dan Paman Guangzuo juga ikut membantuku," balas Chanyeol seadanya. "Oh iya, aku ada kabar baik untukmu. Kau pasti akan senang mendengarnya."

"Benarkah?"

"Emm ... tapi ini bukan soal Luhan," Chanyeol meringis ketika sebelumnya sempat menangkap binar terang di mata Sehun. "Ini soal Baekhyun, tapi aku janji setelah ini semoga kita akan segera mendapat kabar baik tentang Luhan."

Sehun memang sempat terdiam selama beberapa detik, namun setelahnya ia justru tertawa lepas. "Baiklah, katakan padaku, Hyung. Ada kabar baik apa soal Baekhyun-noona?"

"Ehem, sebentar ..." Chanyeol berdeham pelan dengan wajah penuh semangatnya. "Dengar ... Baekhyun ... dia sedang hamil anak kedua kami!"

Mata Sehun membulat lebar, "Be-benarkah?!" kali ini suara Sehun sedikit meninggi, terselip nada antusias sekaligus kegembiraan di sana.

Chanyeol mengangguk-angguk, "Usia janinnya baru 2 minggu, Hun. Sebentar lagi Dennis akan menjadi seorang kakak."

"Woah, selamat untuk kalian, Hyung. Aku turut senang mendengarnya," Sehun memeluk Chanyeol dengan penuh kebahagiaan. "Apa paman dan bibi sudah tahu soal kabar bahagia ini?"

"Begitu kami pulang dari rumah sakit semalam, aku langsung memberi kabar ibuku jika Baekhyun sedang hamil. Setelah itu, telingaku sakit karena mendengar teriakannya yang melengking itu," Chanyeol memasang kembali wajah tersiksanya semalam usai memberitahu sang ibu perihal kehamilan kedua Baekhyun.

Sehun, Jihoo, dan Taejoon yang melihat ekspresi wajah Chanyeol hanya bisa tertawa.

"Ah, aku baru ingat jika Bibi Hana kemarin sore sempat pulang ke rumah. Kalau dia masih menginap di rumahku, pasti Bibi Hana akan langsung memberitahuku," ucap Sehun sembari terkekeh.

"Selamat untuk Anda, Tuan. Semoga bayi yang dikandung Nyonya Baekhyun selalu sehat, begitu pun kondisi ibunya. Dan semoga diberi kelancaran ketika proses persalinan nanti ..."

"Terima kasih, Jihoo," balas Chanyeol pada Jihoo. "Wohooo ... aku benar-benar bersemangat untuk bekerja. Ah iya, bisakah kau naikkan gajiku, Hun. Sekarang kebutuhan keluargaku bertambah. Setidaknya, kau bisa menaikkannya sedikit."

"Ya! Apa-apaan kau ini? Membicarakan masalah gaji di depan bawahanmu," Sehun bersiap pergi namun ia menoleh sejenak ke arah Chanyeol. "Lagi pula, gajimu sebagai wakil direktur itu sudah lebih dari cukup, tahu!"

Chanyeol tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi kesal Sehun sebelum adik sepupunya itu pergi bersama Jihoo.

"Tuan Chanyeol?"

"Hm?"

Taejoon memandangi Sehun yang terlihat berbincang-bincang dengan Jihoo dari kejauhan. "Saya senang melihat Tuan Sehun datang, bahkan kembali tersenyum seperti biasanya."

"Bukan hanya kau saja yang merasakannya," kata Chanyeol dengan pandangan yang tidak lepas sedetik pun dari Sehun. "Dia sudah mengalami banyak hal yang sulit. Kuharap dengan membagi kebahagiaanku ini, kesedihan Sehun bisa sedikit terobati."

Taejoon mengangguk setuju.

"Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?"

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol, pria itu hanya menggeleng singkat.

"Kami masih belum berhasil menemukan keberadaan Nona Luhan," Taejoon sedikit menunduk karena merasa bersalah belum memberikan yang terbaik. "Kondisi ini semakin memperkuat dugaan kami jika Nona Luhan memang sedang bersembunyi di suatu tempat, Tuan. Apakah Tuan Chanyeol maupun Tuan Sehun mempunyai kenalan yang tinggal di Itaewon?"

"Kenalan?" Chanyeol bergumam, namun kemudian mendesah pelan. "Aku tidak tahu, tapi mungkin nanti akan kutanyakan pada teman-temanku."

Taejoon tidak bertanya lagi. Ia ikuti Chanyeol yang sudah melenggang pergi dari belakang.

..

..

..

Beberapa lembar kertas memenuhi meja Kris. Sejak tiba di kantornya, pria itu sudah disibukkan dengan beberapa berkas laporan dari masing-masing divisi yang harus diperiksanya. Sesekali dahinya berkerut, tanda bahwa Kris tengah berpikir keras menyelami laporan-laporan yang ada di depannya itu.

TOK! TOK!

"Masuk!" Tegas dan penuh wibawa, seperti itulah cara Kris menyuruh seseorang yang mengetuk pelan pintu ruangannya. Dari balik pintu, muncul sosok sekertaris pribadinya—Lei.

"Maaf, Tuan Kris."

"Ada apa?" Kris yang sudah hapal dengan suara Lei tidak menoleh sedikit pun ke arah pria itu, melainkan tetap fokus pada pekerjaannya.

"Ada yang ingin bertemu dengan Anda," jawab Lei seadanya.

"Siapa?"

Hening sejenak. Tak ada jawaban dari Lei, hingga selanjutnya terdengar suara dehaman pelan yang tidak asing bagi telinga Kris.

"Sia—" kalimat Kris menggantung begitu dia melihat sosok pria paruh baya yang sudah berdiri di sebelah mejanya. "Pa-paman Guangzuo?"

Lei mengerjapkan matanya dengan polos melihat ekpsresi kikuk atasannya.

"Silakan duduk, Paman," Kris beranjak dari posisinya, lalu menujuk sofa yang terletak di sudut ruangan. Ia melirik Lei yang masih berdiri di depannya. "Hubungi bagian pantry. Suruh seseorang mengantarkan 2 cangkir teh ke ruanganku."

"Baik," Lei langsung undur dari ruangan Kris dan bergegas melaksanakan tugasnya.

Tuan Guangzuo tersenyum melihat Kris terlihat sibuk merapikan mejanya. Sekilas wajahnya tampak bersalah karena merasa dirinya datang di waktu yang tidak tepat.

"Apa kedatanganku mengganggu waktumu, Kris? Kau terlihat sangat sibuk," tanya Tuan Guangzuo memastikan.

"Ah, sama sekali tidak, Paman." Kris tersenyum sambil berjalan menghampiri ayah Luhan. "Aku hanya terkejut Paman tiba-tiba datang ke sini. Kalau saja memberitahuku sejak awal, setidaknya aku bisa merapikan ruanganku."

Tuan Guangzuo tertawa mendengar ucapan Kris. Tak lama kemudian, salah satu staff yang bertugas sebagai office boy datang mengantarkan minuman untuk mereka.

"Terima kasih," ucap Tuan Guangzuo yang disambut senyuman staff itu.

Kris mempersilakan pria paruh baya itu untuk menikmati teh yang sudah dihidangkan, termasuk dirinya.

"Bagaimana kabar, Paman? Waktu itu aku datang ke rumah Sehun, tapi kata Bibi Jinglei, Paman sedang pergi."

"Kabarku baik. Ya, istriku sudah memberitahu kalau kau datang ke sana untuk menemui kami," Tuan Guangzuo meletakkan cangkir teh kembali ke atas meja. "Kudengar dari istriku, kau akan segera menikah. Selamat ya, aku turut bahagia mendengarnya."

"Terima kasih, Paman," balas Kris sedikit tersipu sambil menggaruk tengkuknya.

Keduanya terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Kris kembali memulai obrolan mereka.

"Ngomong-ngomong, ada perlu apa Paman datang menemuiku?" tanya Kris penasaran. Sejak menyampaikan ucapan bahagia menyambut rencana pernikahannya, pria paruh baya itu kedapatan melamun.

Tuan Guangzuo menarik napas panjang-panjang, sebelum menghembuskannya secara perlahan sambil menjawab, "Aku datang untuk minta maaf padamu, Kris."

Dahi Kris berkerut, "Minta maaf? Untuk apa, Paman?"

"Untuk kesalahanku yang pernah kulakukan padamu," Tuan Guangzuo tertunduk dengan wajah penuh penyesalan. "Aku sudah menghakimimu dengan masa lalumu yang seharusnya aku tahu kalau kau melakukan hal itu untuk menolong ibumu. Tidak seharusnya aku menilaimu dari sudut pandangku saja, mengambil keputusan semauku sendiri agar kau mengakhiri hubunganmu dengan Luhan, tanpa pernah memikirkan perasaan kalian, Khususnya perasaan Luhan sendiri yang paling terluka dengan perpisahan kalian secara sepihak olehmu."

Kris terkejut mendengar ungkapan penuh penyesalan pria paruh baya di depannya ini.

"Aku benar-benar sosok ayah yang egois. Karena keegoisanku ini, untuk kedua kalinya aku melukai hati Luhan, dan lebih parahnya membuat calon menantuku begitu terpuruk karena kepergian putriku. Kurasa ini karma yang pantas kuterima karena aku pernah melakukan kesalahan padamu. Maafkan aku, Kris ..."

Belum pernah Kris melihat sosok ayah Luhan begitu putus asa seperti ini. Seingat Kris, dulu sewaktu dia masih menjalin hubungan dengan Luhan, Kris melihat sosok Tuan Guangzuo sebagai seorang pebisnis yang penuh rasa percaya diri, selalu mengangkat tegak wajahnya, dan melangkah ke manapun dengan tegap.

Tapi untuk hari ini, Kris melihat sisi lain dari seorang Xi Guangzuo.

Xi Guangzuo yang ada di hadapan Kris sekarang hanyalah seorang ayah yang terlihat rapuh dan putus asa. Seorang ayah yang sedang menyesali perbuatannya karena sudah melukai hati putri dan juga calon menantunya.

"Paman, semua yang terjadi pada Luhan dan Sehun, itu bukan karma karena kesalahan yang Paman lakukan padaku. Ini memang sudah suratan takdir. Tuhan sedang menguji cinta mereka, sejauh mana mereka bisa bertahan menghadapi masalah yang sedang mereka alami," tutur Kris berpendapat lain. "Lagi pula, aku sama sekali tidak pernah menganggap Paman melakukan kesalahan padaku. Justru waktu itu keputusan Paman yang memintaku mengakhiri hubungan kami adalah keputusan yang tepat."

Tuan Guangzuo memandang Kris dengan penuh keheranan.

"Awalnya aku memang sedih karena harus berpisah dengan Luhan. Namun, sekarang aku bisa melihat sisi positif dari perpisahan kami. Aku berhasil menemukan jodoh untuk pendamping hidupku. Begitu pun Luhan. Dia bertemu dengan Sehun, bahkan sebelum perpisahan kami dan campur tangan Paman dalam pertemuan mereka selanjutnya. Bukankah ini adalah takdir yang memang sudah direncanakan Tuhan untuk kami?"

Tuan Guangzuo terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju dengan penjesalan Kris.

"Paman bisa melihat perbedaan antara hubunganku dengan Zitao dan hubungan Luhan dengan Sehun." Wajah Kris terlihat serius. "Aku selalu terbuka pada Zitao. Dia tahu semua tentang masa laluku, termasuk hubungan jarak jauh yang kujalani bersama Luhan, sampai akhirnya kami berpisah. Zitao tahu semuanya dan dia menerimaku apa adanya. Tak ada keraguan di antara kami sehingga kami memutuskan untuk segera menikah."

Perlahan Tuan Guangzuo mulai memahami arah pembicaraan mereka.

"Coba bandingkan hubungan Luhan dengan Sehun. Aku tahu, meskipun hubungan mereka masih terhitung singkat, namun cinta mereka sudah begitu dalam. Hanya saja, aku sedikit menyayangkan ada bumbu kebohongan di awal hubungan mereka, termasuk keterlibatan Paman." Kris menghela napas panjang. "Aku sudah berpesan pada Sehun untuk bersikap terbuka pada Luhan, karena aku tahu persis. Putrimu sangat membenci hal yang berbau kebohongan. Dan, di sini Sehun melakukan kesalahan karena sedikit terlambat berkata jujur kepada Luhan."

"Dan itu terjadi karena kesalahanku," lanjut Tuan Guangzuo dengan wajah murungnya. "Kalau saja aku mendukung Sehun sewaktu dia ingin segera berkata jujur pada Luhan tentang semuanya, mungkin masalah kemarin tidak akan terjadi."

Kris tersenyum tipis, "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Paman. Aku yakin semua akan baik-baik saja dan mereka akan bersatu kembali. Percayalah."

"Tapi Kris, tetap saja aku—"

"Paman tetap seorang ayah yang selalu mengutamakan kebahagiaan putrinya. Hanya saja, harus kuakui langkah yang diambil Paman untuk kebahagiaan Luhan selalu berlebihan dan terbilang ekstrim," kata Kris disertai tawa. Mau tak mau Tuan Guangzuo ikut tertawa mendengarnya.

"Terima kasih, Kris. Aku sudah salah menilaimu," Tuan Guangzuo tersenyum haru. "Sekali lagi maafkan aku."

"Sudah, Paman. Tidak apa-apa," Kris tersenyum dengan tulus. "Kita lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sekarang, aku sudah menganggap Luhan seperti adikku sendiri. Begitu pun Paman dan Bibi yang sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri."

Tuan Guangzuo kehabisan kata-kata. Yang bisa dia lakukan hanyalah tersenyum penuh keharuan menanggapi ucapan Kris yang begitu tulus. Dalam hati Tuan Guangzuo bernapas lega. Keputusannya untuk menemui Kris memang tepat, karena berhasil mengurangi beban yang dirasakan olehnya.

..

..

..

Minseok baru saja membuka pintu apartemennya ketika melihat kedatangan Kyungsoo lewat intercom. Wajahnya terlihat senang saat hendak menyambut gadis itu. Namun detik selanjutnya berubah kaget begitu melihat sosok pria yang ikut datang bersama Kyungsoo.

"Jongin?" Minseok melirik Kyungsoo dengan penuh tanda tanya. "Ba-bagaimana dia bisa—"

"Kemarin Jongin tidak sengaja mendengar obrolan kita, Eonni. Maaf," jawab Kyungsoo sembari tertunduk lesu. Jongin yang melihat bagaimana ekspresi wajah istrinya hanya mengulum senyum ke arah Minseok.

"Sudahlah, Noona. Bukankah akan lebih baik jika aku membantu Kyungsoo membujuk Luhan untuk pulang?"

Minseok terdiam, berpikir sejenak haruskah ia menyetujui ucapan Jongin.

"Kurasa itu bukan ide yang buruk," akhirnya Minseok menyetujui usulan Jongin. Ia tersenyum lalu membuka pintu apartemennya dengan lebar. "Masuklah. Luhan ada di kamar itu."

Pasangan suami-istri itu berjalan menuju pintu kamar yang ditunjuk Minseok. Jongin membuka pintu itu secara perlahan, sampai akhirnya mereka bisa melihat sosok gadis yang tengah duduk berselonjor di atas ranjang dengan tatapan kosongnya.

Hati Kyungsoo dan Jongin mencelos melihat betapa rapuhnya keadaan Luhan.

"Luhan?"

Luhan tersentak setelah mendengar suara lain di kamarnya. Gadis itu menoleh ke arah pintu. Setelahnya Luhan terlihat kaget dengan bola matanya yang melebar.

"Kyungsoo? Jongin?"

Entah apa yang ada dalam pikiran Luhan, dia langsung melompat turun dari ranjang dan berlari menghambur ke dalam pelukan mereka. Tangis Luhan kembali pecah ketika ia merasakan usapan lembut di punggungnya.

"Tidak apa-apa ..." Jongin terus menyuarakan kata-kata menenangkan itu agar tangis Luhan mereda. Namun karena Kyungsoo juga ikut menangis, yang ada tangisan keduanya malah semakin kencang. Jongin dan Minseok saling memandang. Mereka tersenyum maklum karena sikap dua perempuan sebaya ini memang sama—mudah sensitif jika sudah berhubungan dengan masalah percintaan.

Setelah puas mengeluarkan air mata mereka, sekarang Kyungsoo dan Luhan duduk bersebelahan di atas ranjang. Jongin dan Minseok memilih duduk di sofa yang ada di kamar itu.

"Kenapa ... kalian bisa datang ke sini?" Luhan kemudian menoleh ke arah Minseok. "Eonni yang memberitahu mereka?"

Minseok mengangguk, "Sebenarnya aku hanya memberitahu Kyungsoo, Lu. Tapi sepertinya kebiasaan Jongin yang senang menguping membuat pria ini juga tahu kalau kau tinggal di sini," sindirnya pada Jongin.

"Aku tidak sengaja menguping. Salahkan gelagat Kyungsoo yang aneh ketika kau meneleponnya, Noona," protes Jongin. Kyungsoo hanya tersenyum kikuk di tempatnya.

Tanpa sadar melihat pasangan suami-istri ini, bibir Luhan melengkung sempurna. Dan pemandangan itu berhasil dilihat oleh Minseok.

"Kau tahu, Lu. Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum sejak kau tinggal di sini," perkataan Minseok sukses membuat Jongin dan Kyungsoo menoleh kompak ke arah Luhan. Sedangkan yang ditatap kini hanya menunduk dengan rona merah di pipi.

Perlahan Minseok berjalan mendekati Luhan, lalu sedikit merendahkan tubuhnya di depan gadis itu. "Aku tahu kau sangat merindukan mereka, khususnya Sehun."

Luhan mengangkat wajahnya dan tertegun saat melihat binar mata milik Minseok.

"Luhan ..." kali ini Kyungsoo meraih tangan Luhan dan menggenggamnya dengan erat. "Kumohon, pulanglah bersama kami. Semua orang sangat mencemaskanmu, Lu. Bahkan orang tuamu langsung datang ke sini sejak pertengkaranmu dengan Sehun."

"Ayah dan ibuku ada di sini?" tanya Luhan tidak percaya.

Jongin mengangguk, "Ya, mereka sekarang tinggal di rumah Sehun. Ayahmu, bersama Chanyeol-hyung dan Paman Jungwoo sibuk mencari keberadaanmu. Sedangkan ibumu dan Bibi Hana menjaga dan merawat Sehun selama dia sakit."

"Sehun sakit?!"

Ketiga orang itu tersenyum melihat bagaimana ekspresi wajah Luhan yang begitu panik mendengar Sehun jatuh sakit.

"Untungnya sekarang kondisinya sudah membaik. Hari ini dia sudah kembali bekerja," jawab Jongin. "Tapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana kondisinya setelah kau pergi, Lu. Dia pulang ke rumah dalam kondisi mabuk, melukai tangannya dengan memukul cermin sampai cermin itu retak. Lalu dia membiarkan tubuhnya diguyur shower hingga dia terserang demam."

Luhan bisa merasakan air matanya kembali menetes.

"Sehun terus meracau, memanggil-manggil namamu dan memintamu tidak pergi. Selama beberapa hari dia tidak mau makan. Kalaupun mencoba untuk makan, yang terjadi dia justru memuntahkan makanan itu kembali. Dua hari yang lalu, Sehun sempat kembali drop dan jatuh pingsan. Aku terpaksa memasangkan selang infus padanya karena dia kekurangan nutrisi," jelas Jongin panjang lebar. "Luhan, sejak kau pergi, Sehun berubah seperti mayat hidup. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu. Bisakah kau berhenti menghukumnya?"

Luhan belum merespon, namun air mata gadis itu terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Sehun memang melakukan kesalahan, tapi dia sudah menyesali kesalahannya, Lu. Kau harus tahu bahwa perasaan Sehun sangat tulus. Alasan kenapa dia menerima perjodohan kalian bukan karena saham yang dijanjikan ayahmu, melainkan karena dia sudah bertemu denganmu lebih dulu sebelum bertemu ayahmu. Dari pertemuan pertama kalianlah, Sehun sudah jatuh cinta padamu," lanjut Jongin.

"Pertemuan pertama kami? Bukankah itu terjadi di kedai ramyeon sewaktu aku tiba di sini?"

Kyungsoo menggeleng, "Tidak, Lu. Saat kau datang ke sini, itu adalah pertemuan kedua. Pertemuan pertama kalian terjadi di hotel milik ayahmu. Sehun waktu itu akan menginap di sana, namun ia tidak sengaja bertabrakan denganmu yang baru saja tiba di hotel."

"Hotel ayah?" Luhan tampak berpikir keras, namun ucapan Jongin setelah ini sukses membuat bola mata gadis itu melebar.

"Aku tidak mengatakan itu, anak kecil."

Seperti mantra, kalimat itu berhasil memunculkan memori lama di kepala Luhan. Ya, gadis itu ingat sekarang. Dia mengingat semuanya soal kejadian di lobi waktu itu yang melibatkannya bersama Sehun. Yang diingat Luhan waktu adalah kata-kata ejekan dari Sehun yang terus terpatri di kepalanya, karena selama ini belum pernah ada yang mengatainya anak kecil.

Mata Luhan kembali terpejam. Ia smencoba mengingat kembali bagaimana kejadian di lobi hotel milik ayahnya waktu itu. Seperti sebuah film, semua berputar di kepala Luhan. Mulai dari kejadian di lobi hotel milik ayahnya waktu itu, pertemuan mereka di kedai ramyeon ketika Luhan tiba di Seoul, lalu kejadian-kejadian setelahnya hingga mereka terlibat pertengkaran yang diakibatkan terkuaknya rahasia yang selama ini Sehun tutupi.

Dan kali ini memori Luhan kembali pada hari di mana mereka bertengkar. Masih membekas dalam ingatannya bagaimana wajah terluka Sehun sewaktu Luhan membentak dan berteriak kasar padanya.

Jika dipikir kembali, satu-satunya kesalahan Sehun adalah kebohongan yang dilakukannya bersama sang ayah. Lainnya, Sehun selalu mencurahkan perhatian penuh kepada Luhan. Ditambah lagi cerita yang disampaikan Jongin soal kondisi Sehun yang terpuruk setelah kepergian Luhan. Itu semua sudah bisa membuktikan betapa besar cinta Sehun untuknya.

"Hiks ..." satu isakan tangis kembali lolos dari bibir Luhan. "A-apa ... yang sudah kulakukan pada Sehun? Hiks ... aku membuatnya menderita ... hiks ..."

Kyungsoo langsung memeluk Luhan seerat mungkin. Membiarkan gadis itu kembali menumpahkan air matanya.

"A-aku ... sudah berteriak dan berkata kasar padanya ... hiks ... a-aku ... aku ..."

"Sssst, sudah. Jangan menangis lagi, Lu. Semua akan baik-baik saja," bisik Kyungsoo sambil mengusap punggung Luhan.

Detik selanjutnya, tiba-tiba saja Luhan menghentikan tangisannya. Gadis itu melepaskan diri dari Kyungsoo lalu buru-buru menghapus air matanya.

"Jongin ... aku ..." Luhan menggigit bibir bawahnya, "aku ingin bertemu dengan Sehun."

Kalimat yang terlontar dari bibir Luhan barusan membuat ketiga orang itu tersenyum lega.

"Ta-tapi, aku belum siap untuk pulang sekarang. Maksudku—"

"Kau ingin kami yang menyuruh Sehun ke sini?"

Luhan terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk sambil tersipu. Melihat bagaimana wajah merona Luhan yang membuatnya tampak menggemaskan, Kyungsoo dan Minseok menjerit kompak. Akhirnya Luhan mereka sudah kembali seperti semula.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menyuruh Chanyeol-hyung untuk membawanya ke sini menemuimu," ucap Jongin sukses membuat Luhan tersenyum lebar.

"Akhirnya, Lu. Kau menyadari apa yang harus kau lakukan," Minseok tersenyum bahagia sambil memeluk Luhan. "Kembalilah ke sisi Sehun dan hiduplah bahagia bersama orang yang sangat kau cintai itu."

Luhan mengangguk, "Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Eonni. Maaf aku sudah banyak merepotkanmu dan juga Jongdae-oppa."

Minseok menggeleng lalu mengusap mata Luhan yang kembali berair.

"Sudah cukup air matamu keluar. Sekarang, kau harus sering tersenyum seperti ini," jemari Minseok menekan bibir Luhan hingga membentuk lengkungan senyum yang sempurna. Luhan tertawa, begitu pun Kyungsoo dan Jongin.

Minseok yang melihat reaksi ketiganya bernapas lega. Keputusannya menyuruh Kyungsoo—bahkan didampingi Jongin—untuk datang menemui Luhan adalah keputusan yang tepat. Sekarang mereka hanya tinggal bersiap mempertemukan Luhan kembali dengan Sehun. Masalah mereka harus secepatnya diselesaikan, tidak boleh ditunda lagi.

..

..

..

Sehun memandangi Chanyeol dengan penuh kebingungan. Sejak 1 jam yang lalu, pria itu masih beradai di ruangannya. Sekarang Chanyeol sedang mengobrol dengan seseorang melalui percakapan ponsel. Awalnya Sehun bersikap cuek, namun setelah melihat Chanyeol tersenyum lebar, Sehun jadi penasaran.

"Sehun, ikut aku!"

Dan kalimat ajakan Chanyeol yang terkesan memaksa ini membuat kerutan di dahi Sehun semakin kentara.

"Ke mana, Hyung?"

"Sudah jangan banyak tanya! Ikut aku!" Chanyeol mendelik tajam saat mendapati Sehun masih betah duduk di kursinya. "Sekarang!"

"Pekerjaanku masih banyak, Hyung."

"Lupakan sebentar pekerjaanmu itu, Hun. Aku yakin kau tidak akan menyesal ikut denganku. Ayo, cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" teriak Chanyeol di akhir kalimat yang membuat Sehun memutar bola matanya jengah.

"Aish, kau menyebalkan!" dengus Sehun kesal, namun pada akhirnya dia menurut dan mengikuti Chanyeol yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.

Keduanya pergi meninggalkan kantor menaiki mobil milik Chanyeol. Selama perjalanan, wajah Sehun masih tertekuk. Sangat kontras dengan wajah Chanyeol yang berseri-seri.

"Hyung, sebenarnya kita mau pergi ke mana?" tanya Sehun mulai bosan karena terus diam sejak mereka pergi meninggalkan kantor. Di sisi lain, ia juga penasaran dengan sikap kakak sepupunya ini. Terus saja tersenyum idiot yang menjadi ciri khasnya.

Chanyeol terkekeh geli melihat wajah kusut Sehun. "Kita akan pergi menemui gadismu, Tuan Oh."

Hening.

Chanyeol mati-matian menahan tawanya melihat perubahan wajah Sehun yang begitu spektakuler, dengan mulut menganga lebar dan bola mata nyaris keluar.

"Ka-kau ... sudah menemukan keberadaan Luhan, Hyung?"

"Lebih tepatnya, Kyungsoo dan Jongin." Chanyeol menjawab dengan santai sambil fokus mengemudi. "Jongin baru saja memberitahuku. Ternyata selama ini Luhan tinggal di apartemen Minseok, Sehun-ah."

"Minseok-noona?"

Chanyeol mengangguk, "Mereka sekarang bersama Luhan di sebuah kafe yang terletak di Itaewon. Luhan ingin bertemu denganmu."

"Benarkah?" Mata Sehun berbinar terang. Tanpa sadar bibir tipisnya membentuk lengkungan senyum yang sempurna. Chanyeol yang melihatnya ikut merasa bahagia melihat Sehun seperti kembali mendapatkan cahaya hidupnya.

"Ish, kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi, Hyung?" Sehun memberengut kesal, lalu tanpa diduga dia terlihat berbenah diri. "Astaga, aku bahkan belum sempat memeriksa penampilanku. Bagaimana penampilanku, Hyung? Apa aku sudah terlihat rapi? Apa aku sudah terlihat tampan?"

Tawa Chanyeol berderai. Kali ini ia bisa melihat kegugupan menguasai Sehun, seperti layaknya remaja yang akan menjalani kencan untuk pertama kalinya.

"Ya ampun, Sehun. Apa kau tidak bisa bersikap tenang sedikit?"

"Aku gugup, Hyung," balas Sehun polos. Mau tak mau, Chanyeol kembali tertawa mendengarnya. Cinta sepertinya sudah banyak mengubah kepribadian adik sepupunya ini. Memunculkan sisi lain dari seorang Oh Sehun yang belum pernah dilihat oleh Chanyeol.

Sehun sendiri sudah tidak peduli dengan tawa Chanyeol. Dia terlalu bahagia dan sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Luhan.

..

..

..

Suasana kafe semakin ramai mengingat sebentar lagi jam makan siang. Luhan tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Gadis itu terus menautkan kedua tangannya dan beberapa kali menoleh ke arah pintu ketika mengetahui ada pengunjung yang datang. Kyungsoo dan Jongin yang melihat gelagat Luhan sama-sama tersenyum geli.

"Lu, ada apa?"

Merasakan sentuhan tangan Kyungsoo, Luhan berjengkit kaget. "Ma-maaf, Kyung. Aku hanya ... hanya ..."

"Hei, tenanglah. Semua akan baik-baik saja, Lu. Percayalah pada kami," ucap Kyungsoo menenangkan Luhan.

Luhan menggeleng, "Aku benar-benar gugup, Kyung."

Pasangan suami-istri itu tercengang melihat Luhan sibuk merapikan rambut dan juga dress yang ia kenakan.

"Ba-bagaimana penampilanku, Kyung? Apa aku terlihat aneh? Ah, pasti kantung mataku terlihat begitu jelas, ya?"

Jongin tertawa mendengar rentetan pertanyaan Luhan, dan setelahnya ia mendapat deathglare dari sang istri. Pria berkulit tan itu berdeham pelan, namun tetap mengulum senyum untuk Luhan.

"Tidak ada yang berubah dari dirimu, Lu. Kau cantik," kata Jongin jujur. Kemudian ia tersenyum nakal ketika mendapati Kyungsoo menatapnya dengan cemberut. "Tapi bagiku, Kyungsoo tetap yang tercantik."

Wajah Kyungsoo sukses merona karena ucapan Jongin.

"Mana hadiahku?"

Kyungsoo mendongak lalu memiringkan kepalanya dengan imut. "Hadiah apa?" tanyanya polos.

"Pura-pura tidak tahu, ya?" Jongin menyeringai. "Ya sudah, aku tahu kau tidak mau memberikannya sekarang. Akan kutagih nanti di rumah."

"KIM JONGIN!"

Tawa Jongin kembali berderai. Ia mencubit gemas pipi Kyungsoo yang dibalas pukulan ringan di lengannya. Luhan yang melihat tingkah konyol pasangan suami-istri itu ikut tersenyum geli. Setelahnya, Luhan kembali merasakan gugup yang semakin menyiksanya.

"Kyung, aku jalan-jalan sebentar, ya?"

"Eh, untuk apa, Lu? Mereka sebentar lagi sampai."

Luhan menggeleng lemah, "Sebentar saja, Kyung. Aku benar-benar gugup dan butuh waktu untuk menenangkan diri. Jangan khawatir, aku tidak akan kabur. Ponselku akan kuaktifkan kembali. Jika mereka sudah sampai, kau tinggal meneleponku. Aku akan secepatnya ke sini."

Kyungsoo melirik Jongin, bermaksud meminta pendapat suaminya itu.

"Tidak apa-apa. Biarkan dia jalan-jalan sebentar," jawab Jongin mengizinkan.

Kyungsoo menghela napas, "Ya sudah. Jangan pergi terlalu lama."

Luhan mengangguk semangat, setelahnya dia bergegas keluar dari kafe.

Selang 20 menit setelah kepergian Luhan, Chanyeol dan Sehun tiba di kafe. Chanyeol yang berada di depan Sehun tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Hyung!" Jongin yang berhasil melihat sosok Chanyeol segera memanggil pria itu. Mereka langsung berjalan menghampiri meja yang ditempati Kyungsoo dan Jongin. Chanyeol mengambil posisi duduk, tapi tidak dengan Sehun. Dia masih sibuk memperhatikan seisi kafe.

"Mana Luhan?" tanyanya bingung karena tak menemukan keberadaan gadisnya.

"Dia sedang keluar untuk jalan-jalan sebentar," jawab Jongin. "Luhan terlalu gugup untuk bertemu lagi denganmu, Hun."

"Benarkah? Ternyata tidak jauh berbeda dengan Sehun." Chanyeol tertawa kecil. "Sepanjang perjalanan ke sini, dia terus menanyakan apakah penampilannya sudah terlihat rapi dan tampan."

"Hyung!"

Ketiga orang itu tertawa keras mendengar teriakan Sehun.

"Aku akan menelepon Luhan," ujar Kyungsoo sembari mengeluarkan ponselnya.

"Tidak perlu, Kyung. Biar aku yang mencarinya keluar."

"Tapi—" belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya, Sehun sudah lebih dulu keluar meninggalkan kafe.

"Astaga, Sehun benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu Luhan," celetuk Jongin.

"Kau benar," timpal Chanyeol lalu kedua pria itu tertawa kompak. Reaksi yang berbeda justru diperlihatkan Kyungsoo. Mendadak dia terlihat murung dengan pandangan terus mengarah pintu kafe.

"Ada apa, Kyung?" tanya Jongin setelah tak sengaja menangkap gurat kekhawatiran di wajah sang istri.

"Entahlah. Tiba-tiba saja firasatku tidak enak," kata Kyungsoo seadanya.

Jongin tersenyum, lalu mengusap tangan Kyungsoo dengan lembut. "Semua akan baik-baik saja, Kyung. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Kyungsoo melirik Chanyeol. Pria itu mengangguk setuju dengan pendapat Jongin.

"Ya, semoga saja," jawab Kyungsoo lirih sambil tersenyum tipis.

..

..

..

Jalanan di sekitar kafe tampak ramai dan sedikit menyulitkan Sehun untuk menemukan keberadaan Luhan. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Sehun. Sekarang langkahnya justru terasa sangat ringan ketika dia menyisiri jalanan yang dipenuhi banyak orang.

"Luhan ... " Sehun terus menggumamkan nama itu dengan senyum khasnya. Ia abaikan tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengannya, mengingat dirinya terus tersenyum sepanjang perjalanan mencari Luhan.

Langkah Sehun melambat ketika dia hampir sampai di sebuah persimpangan jalan. Tiba-tiba semuanya terasa seperti déjà vu di mata Sehun.

"Tidak ... tidak mungkin ..." bibir Sehun mulai bergetar saat sekelebat memori alam bawah sadarnya kembali melintas dalam ingatannya. Dada Sehun terasa sesak, seolah dia kehabisan pasokan oksigen di sekitarnya yang membuatnya sulit bernapas. Dia berjalan lagi, tapi entah mengapa kali ini langkahnya terasa berat.

"Tolong, ada kecelakaan!"

DEG!

Jantung Sehun berdetak cepat ketika mendengar seruan dari kejauhan. Dia berhenti, berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang mulai berlarian mendekati sumber suara.

"Ada seorang gadis yang tertabrak mobil ..."

"Ya Tuhan ..."

Sehun kehilangan fokus. Seruan-seruan itu seolah menyedot seluruh atensi Sehun hingga membuatnya melangkah tanpa sadar mendekati kerumunan orang, yang lokasinya tak jauh dari posisinya sekarang.

Tuhan ... kumohon ... jangan dia ...

Saat Sehun semakin mendekat, dia bisa mendengar suara tangisan seorang wanita.

"Tolong ... gadis ini baru saja menyelamatkan nyawa anakku. Siapapun tolong telepon 119 sekarang!"

Sehun menerjang kerumunan orang-orang itu, sampai dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Detik itu juga, lutut Sehun melemas hingga ia jatuh bersimpuh di atas jalan. Sehun melihatnya, dia melihat dengan jelas sosok gadis yang tergeletak di jalan di tengah kerumunan orang, dengan kepala bersimbah darah. Air matanya lolos begitu saja ketika bibir Sehun mengucapkan nama, "Luhan?"

Tuhan ... kenapa Engkau tidak mengabulkan doaku?

Semua orang saling berbisik dan memandangi Sehun yang kini sedang berjalan dengan lututnya menghampiri tubuh Luhan yang tergeletak tak berdaya. Tangan Sehun bergetar, keringat dingin mulai menguasi seluruh tubuhnya. Dia memeluk tubuh Luhan, membiarkan kepala gadis itu bersandar di pangkuannya.

Sehun mengusap lembut wajah Luhan yang didominasi cairan kental berwarna merah itu.

"Lu, bangun ..." Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan. Perlahan ia lakukan secara lembut, namun semakin lama kesabarannya mulai menipis ketika mata Luhan tak kunjung terbuka.

"Kenapa kau tidur di sini, hm? Kau bisa tidur di kamar kita. Di sana lebih nyaman, Lu. Ayo bangun ..."

Semua orang menatap iba ke arah Sehun. Tak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara kepada Sehun.

"Aku di sini, Lu. Ayo bangun ..."

Pria itu bahkan kini mulai mencium setiap jengkal wajah Luhan. Tak peduli bau anyir dari darah yang sekarang bercampur dengan tetesan air matanya yang semakin lama mengalir deras.

"Luhan ..."

Sehun mempererat pelukannya. Air matanya tak terbendung lagi. Ia menangis keras dengan Luhan yang berada dalam dekapannya.

"Kenapa kau tidak mau bangun, Lu? Aku sudah di sini. Aku datang untukmu ..."

Suasana di sekitar semakin ramai dengan kedatangan beberapa orang yang ingin melihat. Mereka ikut bersedih melihat Sehun terpuruk. Pria itu terus menangis sambil menggoyangkan tubuh Luhan.

"Luhan ... Luhan ..."

Nihil. Berapa kali usaha yang dilakukan Sehun untuk membangunkan Luhan tetap tak membuahkan hasil. Gadis itu tetap tak merespon apapun.

"LUHAAAAAN!"

Teriakan putus asa Sehun terdengar memilukan. Di antara semua pemikiran buruk yang berkecamuk dalam kepalanya, hanya satu yang membuat Sehun diserang ketakutan luar biasa.

Sehun takut, Luhan akan pergi untuk selamanya.

.

.

.

TO BE CONTINUED

14 Maret 2016

A/N : Yakin deh habis ini aku bakal ditimpukin sendal sama readers gegara scene terakhir itu. Tapi kalo yang dilempar sendal swallow-nya Sehun, bolehlah #plak xD

Tenang, ini konflik mereka yang terakhir kok. Setelah ini, ayo kita doakan semoga HunHan bersatu, oke? :D

Oh iya, banyak yang salah nebak juga ternyata di chapter kemarin. Luhan di tempat Minseok ya, bukan Yixing. Kan Yixing ikutan makan siang di apartemen KaiSoo, dan lagi Minseok itu emang temennya Kyungsoo kok. Cek lagi pas pernikahan KaiSoo ya :)

Buat readers rose, kemarin nanyain umur aku berapa. Ini sekalian jawaban untuk kalian semua yang mungkin penasaran umurku berapa /emang ada ya? kayaknya nggak deh #gubrak/. Kalau kalian lihat profilku, kalian bisa lihat aku kelahiran tahun berapa. Yup, aku lahir di tahun yang sama dengan Beagle-line EXO, dan kebetulan aku 1 bulan lebih muda dari Baekhyun. Kalian bisa hitung sendiri ya kira-kira umurku berapa muehehe. Jadi, yang lebih muda dari aku bisa panggil aku eonni atau noona, kakak juga boleh deh. Yang lebih tua panggil saeng atau dik juga nggak masalah. Yang seumuran panggil chingu (sementara, soalnya aku belum nentuin nama penaku #lol) xD

Terakhir, kemungkinan besar chapter 15 nanti FF ini bakalan TAMAT. Berarti tinggal 2 chapter lagi. Woah, nggak nyangka juga udah mau selesai aja nih FF hehe

Oke, udahan sesi curhatnya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya (^_^)


Special Thanks to :

Kim Zangin, misslah, fakkpark, ElisYe Het, Luharnshi, Arifahohse, Lisasa Luhan, Angel Deer, pudding rendah lemak, Selenia Oh, luluhunhun, JungHunHan, Baekkiechuu, Navizka94, BabyByunie, Light-B, minrin . oh, HunhanEffects, BaebyRaerae94, Juna Oh, BiEl025, JonginDO, Furi Ms, Khairunnisa, nik4nik, hunnaxxx, rose, vietrona chan, igineeer, Rina271, keziaf, Kim YeHyun, Seravin509, lulu-shi, Guest, Aura626, yuliani . cupel, NoonaAeri, Ririn Ayu, hime31ryuka, chocovanila, otpsforlife, whoami, Desi987, LuXiaoLu, OneKim, windeertale520, anaknyaChanbaek, OhXiSeLu, HunHanCherry1220, Sellin, kenlee1412, Sarrah HunHan, Nurul999, ChagiLu, Lidya Kaido, dyodomeon, ChanHunBaek, HunHanYue, nebula293, Yohannaemerald, Skymoebius, hatakehanahungry, guest28, Name zuzu, yousee, AlienBaby88, Wind Noona, nurul706, Mita622, kimra88, RealCY, munakyumin137, khalidasalsa, chenma, luhannieka, whitechrysan, Soohee04, valensia1630, nina zifan, nunna park ziwu, JinnieKim, sisis71279, Sehunnissa, Gebetanku1220, Nevan296, Augstn AD

I love you all *muach*