Mikuo belum sadar.

Ring yang setia menunggunya berusaha menahan kantuk sejak semalam. Lengah sedikit saja, ia tak bisa. Mikuo adalah tanggung jawabnya saat ini.

Miku telah ia kirimi pesan suara disaat baterai ponselnya sudah penuh terisi daya. Betapa mengerikan kejadian kurang dari sepuluh jam lalu, membuatnya berteriak-berteriak di antara kerumunan karena mencemaskan Tuan Mudanya.

Sinar mentari yang mulai meninggi sedikit menerobos melalui pembatas transparan ventilasi. Rasanya teramat sepi menunggu seorang diri di sini, duduk tanpa kepastian berarti.

Tangan yang terinvasi selang infus itu bergerak-gerak pelan, membuat atensi Ring teralih begitu cepat.

"Mi-Mikuo-sama..." alangkah bahagia dirinya melihat Mikuo mulai membuka kedua matanya. Ia menoleh sana-sini dan nampak bingung, mungkin efek bangun tidur.

"Ini...di mana?"

"Di rumah sakit, Mikuo-sama." jawab Ring sembari melempar senyum bahagia, "Syukurlah anda baik-baik saja."

"Ah, begitu." Mikuo memijit kepalanya saat berhasil duduk seraya mengumpulkan kepingan memori dalam otaknya.

Mikuo mengumpat mengapa ia tidak mati saja malam tadi.

Kokone masih menungguinya dan tertidur ngiler di sofa sambil ngorok. Sesekali ia mengigau tentang bakso abang Yohio atau gorengan krispi bokapnya Yuuma.

Ring yang berdiri di sebelah ranjang Mikuo sambil membawakan sarapan lalu mulai memecah keheningan,

"Mikuo-sama? Anda tahu, Kokone-san menangisi anda semalam. Akhirnya ia dapat tidur setelah menonton salah satu episode Jodoh Akbar di ponsel saya." ujarnya, berniat sedikit menghibur. Teringat bagaimana kejadian semalam Kokone yang pertama menghampirinya di antara kerumunan dan menangis kencang seperti anak kecil.

Mikuo menatap pergelangan tangan kirinya yang diperban. Ada bercak kemerahan yang terlihat jelas walau tak sampai merembes keluar. Lalu ia menyipitkan matanya, menunduk perlahan. Menyebabkan beberapa helainya jatuh ke depan.

"Ring..." Panggilnya.

"Ya?"

"Bagaimana caranya agar aku berhenti berharap?"

Ring tidak tahu harus menjawab apa.


Moshi-moshi! Love Mail Delivery!
Chapter 12


.

.

.

.

.

.

Mizki lagi asik joget Heavy Rotation saat anaknya, Yuuma, hendak berpamitan menuju tempat kerja. Tapi ia diam saja, kan dia lagi perang dingin sama putera semata wayangnya itu. Istilah lainnya sih, ngambek. Eaaaqq.

"Mak, Yuuma pamit."

"..."

Dan begitulah.

Mizki sebel kenapa Yuuma gak nerima perjodohannya sama Kokone. Maksudnya, pilihan orang tua kan selalu baik. Lagipula pihak sononya (ayah Kokone) udah deal. Kenapa sih, anak-anak gak ngerti maunya yang lebih tua?! Kan jadi ribet.

Mizki masih ngebor asoy geboy buka sitik joss ketika telepon rumah berbunyi. Terpaksa, ia harus menunda kegiatannya sebentar dan mengangkatnya.

"Ya, kediaman Tanaka di sini."

Mizki mengernyit mendengar perkataan di seberang sana.

"Ya, mana aku tahu, Kyo-san."

Mizki mengangguk-angguk sebentar.

"Gak, Yuuma gak pamit ke sana. Katanya langsung ke tempat kerja."

Suara di telepon kembali membuatnya berekspresi, tapi kali ini Mizki nampak terkejut.

"APA?! AKU KETINGGALAN DISKON?! Bentar, Kyo-san! TANAKA MIZKI NCUS OTW!" Mizki bergegas menutup telpon dan mengambil tas belanja plus dompet. Ia kemudian segera mengambil sepeda ontel sebagai transportasi dadakan, sebelum ia mengayuhnya cepat.

(Balada ibu rumah tangga)

Mizki dengan kecepatan hampir menyamai pembalap motojipi, melewati rumah-rumah dan tikungan dengan lihai. Wuuushhh, wuuuushhhh.

"Toko kelontong!" Target sudah ditetapkan, tak mungkin dilepaskan. Jarak ke kota sebelah cukup lumayan, maka ia harus berusaha ekstra demi mendapat jatah diskon yang berharga.

Ayah Kokone, Shimazaki Kyo, selalu memberitahunya ketika waktu diskon telah tiba, karena dia adalah pemilik toko kelontong di kota sebelah. Mizki sangat berterimakasih karena Kyo begitu perhatian dengan kondisi keuangan keluarganya -meski suaminya adalah penjual gorengan terlaris di Asakusa, tetap saja laba dari usaha tersebut tidaklah seberapa. Pun anaknya yang kerja di kantor pos gajinya pas-pasan. Mau tak mau membuat Mizki memutar otak bagaimana mengirit pengeluaran rumah tangga sedemikian rupa.

Akhirnya setelah seperenam jam ngebut, Mizki sampai juga di pinggir jalanan utama, tepat di depan toko kelontong, persis sebelah salon ternama berplakat "Hatsune"

Mizki memarkir sepedanya dan melihat di dalam toko cukup ramai pembeli. Mizki lalu menggunakan jurus andalannya agar dapat menerobos antrian, merangkak di antara celah kaki hingga tau-tau berada di barisan depan.

"Shimazakiii! Mana aja yang diskon?!" Tanya Mizki di lautan emak-emak pencari kortingan.

"Oh, halo, Tanaka-san. Gula pasir, kunyit, kopi, beras, dan minyak goreng." Kyo menjawab dengan senyumnya.

"Kasih aku semuanya, Shimazakiii!" Mizki berusaha bertahan dari geol geol mujair ibu-ibu yang lain. Ia pasti bertahan!

"Masing-masing sekilo kecuali kunyitnya, ya." Kyo memasukkan pesanan ke dalam sebuah kresek hitam besar. Untung udah dipacking sesuai ukuran jadi gak perlu repot-repot menimbang.

"Bodo amat! Berapa?!" Mizki harus bertahan sebelum jadi manusia penyet di tempat mengerikan ini.

"Semuanya tiga ribu lima ratus yen."

"Nih." Mizki ngasih recehan yang ada di dompetnya. "Kalo kurang tagihin aja si Yuuma, gue bubye dulu. Makasih Shimazaki! LAFYU!" Mizki perlahan menghilang setelah menerima kresek berisi barang diskonan.

Kyo tertawa pelan. Mizki tak pernah berubah dari dulu, pikirnya.

.

.

.

.

.

Yuuma ogah ke kantor pos hari ini sebenarnya.

Ia mencari-cari Kokone semalam tapi yang dilihatnya justru pemandangan mengerikan dimana sebuah ambulans tiba-tiba menyeruak jalanan. Yuuma memutuskan menghentikan pencarian dan dilanjutkan esok hari.

Tadi ia usai berjumpa dengan Yohio dan V-Flower di perempatan, menanyakan eksistensi makhluk cokelat gak tau diri itu ―tapi mereka berdua serempak menggeleng.

"Tadi malem abang suruh nganter kembalian ke tempat dek Yuuma. Abis itu gak balik." Pengakuan Yohio.

"Asal elo tau Tanaka, gue juga pengen nyari dia, karena gue nemuin ini di depan rumahnya Shion. Coba lo bawa aja, kan elo yang sering ketemu." V-Flower memberikannya amanah berwujud sebuah surat yang disolasi bagian tengahnya. Dibaca-baca, rupanya ini surat dari Kokone untuk Shion bedebah Kaito itu entah jaman dinosaurus atau apa, karena kertasnya lusuh.

Sori, Yuuma hobi ngasih nama tengah rada nganu.

"Awas kalo ketemu nanti." Gumamnya.

Di rumahnya pun, Kokone tak ada meski Yuuma berhasil nyelonong masuk dari pintu belakang yang setahunya gak pernah dikunci. Tetep aja gak ada siapa-siapa, sepi.

Yuuma berjumpa Luka di depan pagar Kantor Pos, lalu berjalan bersama menuju ruangan geng mereka di pojokan. Para pelanggan yang mau ngirim surat atau barang, penasaran hari ini Geng Merpati Hitam mau bahas apa.

"Kokone kemana?"

"Gak tau, Megurine. Mikuo?"

"Gak tau juga."

Tak ada yang memulai pembicaraan di dalam ruangan. Mereka melakukan pengecekan jadwal mereka pagi ini seperti biasa. Sama-sama diam hingga mendapat panggilan dari atasan untuk segera mengantar.

Hanya, tak ada Mikuo, Kokone, ataupun gorengan kali ini.

.

.

.

.

.

.

.

"Ring, kenapa kau tidak menjawabku?" Mikuo tak berhenti memandanginya. Ring kelu, kehabisan kata.

Mikuo bosan menunggu Ring yang tidak menjawab pertanyaannya. Sedikit ragu, Ring menyahut,

"Bukankah anda―"

"Jadi, aku harus bagaimana?" Selanya.

Setiap detik terasa begitu lambat. Atmosfer berganti sedikit berat. Putaran jarum jam dinding seakan tak lagi terdengar di antara keduanya.

Mikuo mendengus, "Mungkin berbeda jika aku mengatakannya sejak awal. Baiklah, aku memang pengecut."

Ring tidak ingin menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Hanya saja, waktu berputar terlalu cepat sebelum disadari, sepertinya.

"GYAAAHH! SETAN WC!" Kokone bangkit dan membuka matanya yang merah. Tampaknya ia habis bermimpi buruk tentang, ―wc?

"Kokone-san?" Ring menoleh padanya.

Mikuo pura-pura tidur. Ring tersenyum pahit melihatnya.

"A-ah...senpai...aku tadi habis dikejar setan wc..." mimpi macam apa kau Kokone.

"Butuh air, Kokone-san?"

"Ah, tidak. Ngomong-ngomong apakah Hatsune sudah bangun?"

Ring melirik sendu. "Kurasa belum."

"Ha-Hatsune tidak akan kenapa-napa, kan, senpai? Apa lukanya parah?"

Mikuo ingin menulikan telinganya saat ini. Ia memejamkan mata erat-erat.

"Mikuo-sama akan baik-baik saja. Tenang saja, Kokone-san." Ring tersenyum, berusaha meyakinkan Kokone bahwa Mikuo tidak apa-apa. Kokone hanya mengangguk. Padahal ia ingin bicara dengan Mikuo. Tapi, sepertinya ia harus menunggu sedikit lebih lama.

"Apa kau lapar, Kokone-san? Mari kita sarapan." Tawar Ring, tidak bisa berlama-lama setelah melihat lagi ke arah Mikuo.

"Ah, ya, lalu siapa yang akan menunggu Hatsune? Suster! Sus―"

Pintu digeblak begitu saja. Hatsune Miku berjalan ke dalam ruangan lalu melihat kondisi anaknya yang menyedihkan.

"Mi-Mikuo...Ring, jelaskan, apa yang terjadi? Miku menatap Ring. Ring kelagapan harus menjawab bagaimana, dan untung Kokone menyelanya.

"Tante siapa, ya?" Tanya Kokone dengan wajah tak berdosa. Miku menoleh, terbeliak ketika mendapati visual seorang lain di ruangan ini.

Miku tidak mungkin lupa, wajah gadis yang menghiasi kamar anaknya. Gadis yang membuat Mikuo berpaling darinya.

Jadi, dia.

Miku berjalan ke arahnya agak pelan dan berima. Kokone mengerjap, bingung tante itu mau apa.

PLAKK

Pipi Kokone memanas tiba-tiba. Disentuhnya bagian wajah yang mendadak sakit.

"Rupanya kau."

Kokone tidak mengerti apa salahnya hingga dijadikan sasaran tamparan tante-tante yang sepertinya kurang belaian.

Mikuo yang pura-pura tidur merasa sakit mendengarnya. Ibunya, ia harus menghentikan ibunya―

"Katakan siapa namamu, gadis jalang. Perlu kubayar berapa agar kau menjauhi Mikuo-ku?"

Mikuo berbalik, melihat Kokone yang menahan tangis. Ia bergegas mencabut selang infusnya dan turun dari ranjangnya.

Ini sudah keterlaluan.

"Mikuo-sama!" Ring melihat darah yang menetes-netes ke lantai akibat infus dicabut paksa. Mikuo agak terhuyung ketika berjalan menghampiri ibunya.

"Kaasan.." Panggilnya dingin. Miku yang menyadari suara anak lelakinya dengan cepat beralih atensi beserta raut bahagia.

"Mikuo, kau sudah sa―"

PLAKK

Telak mengenai pipi kiri. Hening selama beberapa saat hingga akhirnya Miku menatap tak percaya kepada puteranya.

"Miku..o? Kenapa?"

Siapa yang tak kaget ditampar anak sendiri.

Mikuo mendelik tajam, "Shimazaki bukan barang."

Bahu Miku bergetar, lalu ia tertawa. Dari volume pelan, menjadi keras.

"Hahahaha. Segitu pentingnya gadis ini buatmu, Mikuo?" Miku mencekiknya, Mikuo kesulitan bernafas hingga ibunya menjatuhkannya lalu menginjak dadanya.

"Sadarlah, Mikuo. Siapa yang jadi pemilikmu di sini, anakku."

Mikuo terbatuk-batuk keras.

"Hentikan, tante! Hatsune tak bersalah!" Seru Kokone meski masih merasa takut dengan wanita itu.

"Ring, bunuh dia."

Ring membulatkan matanya, "A―apa, Hatsune-sama?"

"Kubilang bunuh dia."

"Sa-saya tak bi―"

"Kau lebih memilih adikmu mati rupanya."

Ring jatuh terduduk, pupilnya mengecil, "Ba-bagaimana anda bisa―"

Miku menyeringai. "Aku seorang Hatsune. Kau pikir aku siapa?" Sinisnya.

Emak-emak pengidap son complex.

"Kaasan sudah keterlaluan! Jangan ganggu aku lagi!" Mikuo berusaha memberontak, tapi tenaganya masih lemah karena sakit.

"Apa katamu, anakku?" Miku ganti berjongkok dan menekan kedua pipi Mikuo, "kau pikir siapa yang melahirkanmu? Kau pikir siapa yang selama ini merawatmu?!"

Mikuo menatap nyalang, "Kaasan berubah sejak kematian tousan." lirih Mikuo, "kenapa, kaasan?"

Miku tak ingin diingatkan soal kematian suaminya yang terlalu mendadak saat itu. Ia yang sedang berada di rumah mendapat kabar duka dari kepolisian. Katanya, suaminya tertabrak gerobak gorengan sebelum ditubruk lagi oleh angkot jurusan Chuo yang lewat.

Miku berubah?

"Apanya?" Tanya Miku. "Mana yang berubah dariku, Mikuo? Katakan."

Mikuo memejamkan matanya. Mungkin ini memang hanya asumsinya saja. Tapi, sepeninggal ayah Mikuo, ibunya jadi lebih pendiam dan sering menghabiskan waktu di kantor dengan alasan mengambil alih usaha. Meski Mikuo merasa bukan itu sebabnya, tapi ia tak pernah bertanya selama ibunya masih menyayanginya.

Menyayangi?

Mikuo terkekeh, "Apa kau tak menyayangiku lagi, kaasan?"

"Kata siapa?! Aku selalu―" tak sengaja Miku melhat tangan kiri Mikuo yang masih mengalami pendarahan.

Tidak, kenapa ini terulang lagi.

Tidak.

Miku mundur dan melepas cengkeramannya.

"A-aku tidak akan pernah menyakitimu, Mikuo. Tidak, tidak, tidak." Miku panik saat melihat bekas kemerahan di pipi anaknya. Mungkin tenaganya terlalu kuat.

"Shimazaki, kau tidak apa-a―"

"Hatsuneeeee!"

Kokone menerjangnya tanpa ampun dan memeluknya. Menangis tersedu-sedu di bahunya.

Mikuo terkejut, merona.

"Kukira kau akan mati, Hatsune...hiks...hueee..."

Mikuo tak sempat berkata-kata. Otaknya blank saat ini. Setengah tak percaya akan realita bahwa gadis impiannya kini merengkuh tubuhnya dan menangis untuknya; mengkhawatirkannya.

Rasanya hangat sekali.

Ragu, Mikuo balas memeluknya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya jadi penopang. Helai rambut Kokone yang disentuhnya amat lembut, Mikuo juga dapat mencium aromanya.

Bau bakso.

Miku yang melihat senyum bahagia anaknya hanya menunduk.

Selama ini, Mikuo bahkan tak pernah tersenyum selebar itu di depannya.

"Hatsune-sama."

Ring menawarkan uluran tangannya untuk Miku. Miku masih bergeming sembari memijit kening.

Apa yang salah? Apa yang kurang darinya?

Apa Mikuo tak bahagia bila bersamanya?

Bulir air mata menuruni kedua pipinya. Pandangannya kabur seketika, lalu ia memukul lantai ruangan yang tak mengetahui apa-apa soal kekesalan hatinya.

Hatsune Miku kesal tak pernah sekalipun dapat membuat anaknya bahagia.

Uang memang bukan segalanya.

Yang ia butuhkan hanya cinta.

"Hatsune-sama..." Ring mengeluarkan sapu tangan dari saku roknya dan mengelap likuid yang masih membasahi pipi. Melontarkan senyum untuk wanita itu,

"Saya ada di sini untuk anda."

Miku tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa sesak, sakit. Ia terlalu sibuk menangis hingga tak sadar Mikuo berjalan kepadanya meski tertatih.

"Okaa-san..."

Miku mendongak, melihat Mikuo menatapnya begitu rendah.

Mungkin benar, ia manusia rendahan yang pernah ada. Mikuo pasti semakin membencinya. Miku tidak mau tahu lagi, biarkan saja. Ia memang pantas untuk itu.

Mikuo berjongkok dan alih memeluknya, sama seperti yang Miku lihat beberapa saat lalu. Pelukannya terasa begitu erat nan nyaman.

"...jangan menangis lagi."

Kata-kata itu membuat Miku makin menumpahkan segalanya. Kata-kata Mikuo yang dulu menghiburnya usai pemakaman mendiang suaminya.

Memalukan.

Ia menangis makin keras dan menyembunyikan wajahnya di dada Mikuo. Kedua tangannya mencengkeram erat di masing-masing bahu anaknya. Mikuo dapat merasakan tubuh ibunya yang gemetaran.

"Maaf...Mikuo...maaf..." Sesalnya.

"Aku juga minta maaf, Kaasan..."

Ring dan Kokone saling melempar senyum di belakang mereka.


to be continued


a/n : maaf pendek gaes dan kurang ngefeel (?) aku lagi sibuk yang penting apdet lah #sialan. oya wankawan, udah tahu IFA belum? Tahun ini IFA juga bakal digelar lagi!
Apa sih, IFA itu? IFA merupakan singkatan dari Indonesian Fanfictions Awards, sebuah ajang tahunan bagi karya para penulis fanfiksi ffn dan/atau AO3. Untuk info lebih lengkap silahkan kunjungi link bitdotlyslashprofilIFA16 [ganti dot dengan tanda titik . dan slash dengan tanda /]


balasan review :

Gery O Donut : bukan, yang ditabrak Mikuo waktu itu si Piko mode crossdress (?) wkwkwkwk
Kagamine Cintya : okay sudah lanjut, terimakasih sudah menunggu~~! x3
chindleion : hahahaha maaf pendek yahh.. makasih udah mampir2 juga di fanfikku yang lain yang entah kapan selesainya hahahahaah *love*