Ish : Kya, update juga! hahahaha... setelah lama sekali Ish membiarkan chapter ini terlantar tanpa dilanjutin, akhirnya.... XDD

Teru : Aih, iya nih! rasanya Teru udah lama banget ga menyapa reader semua... X3

-Tiba-tiba dari kejauhan datang seseorang yang tak diundang-

Saga : Woi, bocah! lo kan lagi sakit! ngapain lo cuap2 disini hah?!

Ish : Ghe! Kok ada Saga sih?! perasaan Ish ga undang deh!

Saga : Udah lo ga usah bawel, ayo ikut gw ke tempat tidur, istirahat!

Ish : Ga mau! ga mau!!!

Teru : *sigh* Ah, pertengkaran seme-uke... baiklah, kita cuekin saja mereka berdua. Nah, reader semua! kembali lagi bersama Teru dan Kao-senpai! *charming smile*

Kaoru : Ciaossu...

Teru : Ok deh, Teru ga bakal lama2in. langsung aja Teru bacain disclaimernya! Ehm, KHR belongs to Amano Akira-sama, but NHC belongs to my master, Ish! Aneh, GJ, Amburadul, Maksa, Jayus, dsb, but hope you can enjoy it!

Kaoru : Warning : OOC!

Teru&Kaoru : ENJOY THE STORY!!! XDD


Beberapa hari sebelum pesta dansa dimulai, terjadi 'sedikit' masalah di host club. Salah satu pelakunya jelas, tidak lain adalah anggota baru host club yang paling urakan dan suka cari masalah, Squalo.

"V-VOIII!!! Kau taruh dimana tanganmu brengsek?!" protes Squalo ketika Xanxus dengan seenaknya menarik tubuhnya dan melingkarkan sebelah tangan di pinggangnya. Buru-buru ia mendorong tubuh ketua host club itu menjauh. Sambil melotot garang bak seorang polisi yang memergoki pencopet, ia berteriak, "ABRNORMAL!"

Namun seperti tidak menghiraukan segala bentuk aksi protes dari Squalo, Xanxus sekali lagi menarik tubuh anggota host club yang paling suka cari ribut itu mendekat dan kembali melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Squalo. "Jangan protes, stronzo. Harusnya kau berterima kasih karena aku mau meluangkan waktuku yang berharga untuk menemanimu berlatih." bisik Xanxus pelan di telinga Squalo.

Dengan isyarat mata, Xanxus memerintahkan Gokudera untuk memainkan pianonya. Meski kelihatan keberatan dan sesekali terdengar menggerutu, ternyata si rambut takoyaki itu menurut dan mulai mengalunkan nada dari salah satu lagu klasik, My way.

Sambil setengah nyengir, Xanxus menarik Squalo dan mulai mengajaknya berdansa mengikuti alunan lagu itu. Kalau diperhatikan, wajah Squalo sekarang merah sekali--nyaris seperti kepiting rebus. Entah karena menahan malu atau menahan emosi.

Ketua host club itu mendengus geli. "Kenapa wajahmu merah, stronzo?"

"SI-SIAPA YANG WAJAHNYA MERAH!?" teriak Squalo protes dengan wajah yang makin merah dari sebelumnya--yang ini jelas karena emosi. Karena tidak berkonsentrasi mengikuti alunan musik, Squalo tanpa sengaja menginjak kaki Xanxus saat mengambil langkah.

Xanxus mengerutkan alisnya samar. Sebentar kemudian ia balas menginjak kaki Squalo.

"VOOOOIIII!!! Kenapa kau menginjak kakiku hah?!"

"Kau duluan yang menginjak kakiku!"

"Aku tidak sengaja, brengsek!"

Karena pertengkaran kecil itu, akhirnya Xanxus dan Squalo berhenti berdansa dan malah sibuk bertengkar sendiri.

Dari balik pianonya, Gokudera mengerutkan alisnya. Dasar, aku sudah capek-capek memainkan lagu tapi mereka malah sibuk bertengkar sendiri! Benar-benar tidak ada kemajuan dari kemarin-kemarin... batin Gokudera jengkel. Karena kesal, ia pun berhenti memainkan pianonya.

Begitu jari Gokudera menjauh dari piano, mendadak ia mendengar suara Yamamoto dari belakang. "Kenapa berhenti?"

Mendengar suara yang begitu familiar di belakang telinganya, Gokudera buru-buru menoleh. Bola matanya yang abu-abu itu menemukan sosok Yamamoto yang entah sejak kapan berada di belakangnya; menikmati permainan pianonya tanpa ijin.

Seperti biasa, Yamamoto memandanginya sambil nyengir. Melihat itu, kerutan di alis Gokudera bertambah. Rasanya melihat maniak baseball itu nyengir-nyengir sekarang membuat kekesalannya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.

"Kenapa berhenti bermain pianonya?"

"Tentu saja karena tidak ada gunanya lagi aku memainkan piano! Kau nggak lihat kalau bos sekarang sedang sibuk bertengkar dengan Squalo!?"

Yamamoto hanya tersenyum tipis menanggapi reaksi Gokudera. Sudah biasa diomeli.

Dengan sebelah tangan ia menepuk kepala Gokudera pelan. "Aku senang mendengarkan permainan pianomu, ayo mainkan lagi untukku."

"U-Untuk apa aku repot-repot memainkan piano untukmu!?" bentak si kepala takoyaki itu sambil beranjak bangun dari kursinya dan melangkah pergi menjauh dari Yamamoto sambil menggerutu pelan. Si maniak baseball itu hanya nyengir saja lalu melangkahkan kakinya mengikuti Gokudera dari belakang.

Gokudera datang menghampiri Tsuna yang duduk bersama Dino, Hibari dan Mukuro.

"Oya? Kau sudah selesai memainkan pianonya?" tanya Mukuro sambil menyeruput teh dari cangkirnya seperti biasa.

"Kalian tidak lihat kalau bos sekarang sibuk bertengkar dengan Squalo?" tanya Gokudera balik dengan wajah masam--terlebih ketika ia menemukan Tsuna yang duduk diapit oleh Hibari dan Mukuro. "Minggir kalian duo mesum! Tak akan kubiarkan kalian mendekati Jyudaime!" bentak si kepala takoyaki itu sambil mendorong Mukuro dan Hibari menjauh dari Tsuna.

Hibari tak bergeming dan mengeluarkan pandangan: 'apa-apaan-kau-hah?-kami-korosu!'

"Gokudera, serius deh, berhentilah mengganggu momen indahku dengan Tsunayoshi." ujar Mukuro setengah mengeluh. Ia juga tidak bergeming dan malah melingkarkan sebelah tangannya pada bahu mungil Tsuna; yang bersangkutan hanya bisa diam dan pasrah pada nasib.

Mata Gokudera membelalak lebar begitu melihat tangan Mukuro seenaknya saja melingkar pada bahu Jyudaimenya tercinta. "Ah! Lepaskan tanganmu dari Jyudaime kepala nanas mesum!!" teriak Gokudera emosi. Untung saja sebelum terjadi pertarungan lebih lanjut Yamamoto datang dan menghentikan Gokudera dari belakang.

"Maa, maa, jangan marah-marah Gokudera-koi, nanti kau bisa kekurangan kalsium."

"Lepaskan aku maniak baseball idiot! Lepaskan aku!!" seru Gokudera sembari berontak. "Aku tidak akan membiarkan kepala nanas brengsek mesum ini ambil-ambil kesempatan untuk mendekati Jyudaime!"

"Maa, maa, kau kan datang belakangan, itu berarti kau yang harus mengalah. Bagaimana kalau kau duduk denganku saja disitu?"

Tanpa mendengar kata setuju dari Gokudera, Yamamoto pun langsung menyeretnya pergi menjauh. Sepanjang perjalanan tangan kanan Tsuna itu terus berontak sambil sesekali mengumpat Yamamoto.

Mukuro melambaikan tangannya pada Gokudera sembari memamerkan senyum kemenangannya. "Ah, akhirnya pengganggu pergi juga." ujarnya sambil nyengir tipis. Ia pun melirik pada Tsuna. "Nah, bagaimana kalau kita latihan dansa sekarang, Tsunayoshi-kun?"

"E-Eh?"

"Dari kemarin kita tidak bisa latihan karena selalu saja ada yang menganggu. Bagaimana kalau kita berlatih sekarang?"

"Wao, sayang sekali Mukuro, pasangan herbivora ini hanya aku." tukas Hibari sambil tersenyum sinis. Dengan satu gerakan cepat, ia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Tsuna dan menarik laki-laki mungil itu mendekat padanya.

Alis Mukuro berkerut samar, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Ia balas tersenyum sinis pada rival abadinya itu sembari kembali menarik Tsuna mendekat ke arahnya. "Oya? Kurasa Tsunayoshi-kun lebih senang kalau berdansa denganku ketimbang denganmu." Ujar si kepala nanas itu. "Lagipula seingatku kau kan tidak bisa berdansa."

Deg!

Sekejap Hibari bagai tersambar petir kasat mata.

"Eh? Hibari... kau tidak bisa berdansa?" tanya Dino terlihat tak percaya. Di luar dugaan, anggota host club yang paling stoic dan nyaris sempurna itu punya kelemahan juga!

Hibari tidak menjawab; tidak mengiyakan namun juga tidak membantah. Ia melirikkan matanya pada wakil ketua host club yang duduk di sebelahnya itu dan menatapnya tajam. Dino pun langsung bungkam dalam sekejap dibuatnya.

Mukuro masih menyunggingkan senyum kemenangannya. "Kalau kau sendiri saja tidak bisa berdansa, lalu bagaimana kau bisa berdansa dengan Tsunayoshi-kun?" sindir Mukuro. "Sudahlah, lebih baik kau berpasangan dengan Dino saja dan minta dia mengajarimu kalau kau memang ingin berdansa dengan Tsunayoshi. Sebelum kau bisa, Tsunayoshi akan jadi pasanganku!"

Mukuro dengan seenaknya menarik tangan Tsuna dan berlari pergi meninggalkan Hibari dan Dino sendiri. Sepeninggalan Tsuna dan Mukuro, Hibari bungkam seribu bahasa. Namun Dino berani bertaruh kalau Hibari sedang mengumpat atau bahkan mengutuk Mukuro dalam hatinya.

"Hibari..." panggil Dino pelan.

Hibari hanya menoleh, namun tidak menjawab. Aura di sekeliling Hibari yang terasa berat seakan cukup untuk memberitahu Dino kalau ia sedang malas bicara.

Wakil ketua host club itu tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya. "Kau... mau kuajari berdansa?"

Beberapa saat Hibari terdiam. Matanya yang hitam memandangi mata Dino dalam-dalam. Entah apa yang dipikirkannya, Dino sendiri juga tidak tahu. Setelah cukup lama membuat wakil ketua host club itu menunggu, barulah tangan Hibari menyambutnya.


"Oya? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Mukuro dengan alis terangkat heran begitu melihat sosok Dino dan Hibari yang berdiri di depan pintu ruang musik.

"Kami mau berlatih dansa." jawab Dino singkat sambil tersenyum tipis.

"Kenapa tidak berlatih di host club?"

"Disana ada bos dan Squalo. Lagipula Gokudera mana mau memainkan piano untuk kami, jadi aku pikir lebih baik kami berlatih di ruang musik. Ternyata malah bertemu denganmu."

Mukuro menghela nafas pendek--mungkin sebenarnya ia kesal juga karena kedatangan penganggu, tapi ya sudahlah, apa boleh buat.

Si kepala nanas itu mengalihkan pandangannya ke arah tape dan kembali mengutak-utiknya.

"Apa yang kau lakukan Mukuro?" tanya Dino sembari melangkah mendekat ke arah si kepala nanas itu.

"Aku sedang memasang lagu." jawab Mukuro singkat. "Disini tidak ada lagu untuk dansa, tapi ada lagu yang bagus."

"Lagu apa?"

Mukuro hanya tersenyum, lalu melirik ke arah Tsuna sekilas. Ia kembali menghadap Dino dan menjawab, "I can't smile without you."


Pintu ruang musik kembali terbuka. Bukan, kali ini terbanting. Ketika Mukuro, Dino, Hibari dan Tsuna menoleh, mereka menemukan sosok Gokudera yang sedang terengah-engah dan Yamamoto yang berdiri di belakangnya.

"Tuh kan, sudah kubilang mereka tidak apa-apa." ujar Yamamoto sambil nyengir. Ia menepuk-nepuk kepala Gokudera dari belakang dengan lembut. "Kau terlalu khawatir, Gokudera-koi."

Gokudera sudah tidak menghiraukan Yamamoto, ia buru-buru berlari menghampiri Tsuna.

"Jyudaime! Kau tidak apa-apa kan!? Dua orang mesum ini tidak melakukan sesuatu padamu kan!?" tanya Gokudera yang sudah panik mode on sambil menguncang-guncangkan tubuh Tsuna.

"A-Aku baik-baik saja Gokudera-kun."

"Ah, Gokudera, kau datang di saat yang tepat. Kami baru saja mau mulai latihan dansa, kau mau ikut?" tanya Mukuro menawari.

Gokudera melirik ke arah Mukuro dengan tatapan tak bersahabat lalu menyalak galak, "TIDAK!"

Mukuro mengangkat pundaknya pelan. "Terserah saja. Tapi kalau kau tidak mau latihan, lebih baik kau pergi saja. Nanti kau malah menganggu latihan kami."

Gokudera mendengus geli, lalu menatap Mukuro dengan tatapan menantang. "Kau pikir kau bisa mengusirku? Aku tidak peduli kalau kau merasa terganggu, tapi aku disini untuk memastikan kalau kau tidak berbuat macam-macam pada Jyudaime!" serunya sambil menuding Mukuro.

"Tsunayoshi-kun." panggil Mukuro pelan.

"I-Iya Mukuro-san?"

"Gokudera bisa menganggu latihan kita semua kalau dia berada disini. Bisa beritahu itu padanya? Kalau aku yang bicara, sampai dunia berakhir pun dia tidak akan mau mengerti."

"Hei! Apa maksudmu Mukuro?!" protes Gokudera.

"Ng, Gokudera-kun." panggil Tsuna pelan. "Ta-Tapi kurasa Mukuro-san benar. Kalau kau tidak mau latihan, mu-mungkin lebih baik kau tidak berada disini."

Gokudera langsung bungkam seribu bahasa.

Mukuro menyunggingkan senyum kemenangannya. "Kau dengar kan Gokudera? Lebih baik kau pergi, kecuali kau mau latihan dansa disini."

"Baiklah, kalau begitu aku akan berdansa dengan Jyudaime!"

"Sayang sekali, itu tidak bisa." Mukuro melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Tsuna sambil tersenyum tipis. "Pasangan dansa Tsuyanoshi-kun adalah aku. Benar begitu kan Tsunayoshi-kun?"

"I-Iya." jawab Tsuna pasrah.

"Hibari juga sudah berpasangan dengan Dino." tambah Mukuro.

"LALU AKU BERDANSA DENGAN SIAPA DONG?!" tanya Gokudera mulai emosi.

Mukuro tersenyum kecil, lalu menunjuk ke arah belakang Gokudera. Mulanya sang pianis itu bingung, namun begitu menolehkan kepalanya dan menemukan sosok Yamamoto, ia langsung mengerti.

Merasa mendadak diperhatikan, Yamamoto bertanya sambil setengah nyengir, "Ada apa? Kenapa semua orang melihatku?"

Gokudera hanya bisa menepuk kepalanya sendiri dengan stres. Kalau bukan untuk Jyudaime... aku tidak sudi berdansa dengannya! batin Gokudera.


You know I can't smile without you, I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing, I'm finding it hard to do anything


Suara alunan musik mulai terdengar, masing-masing anggota host club itu sudah bersiap dengan pasangan mereka masing-masing dan mulai berdansa. Sambil melangkahkan kakinya mengikuti alunan musik, Mukuro tersenyum pada Tsuna. "Tsunayoshi-kun?"

"I-Iya?" sahut Tsuna gugup. Maklum, ini pertama kalinya ia berdansa dengan seseorang, terlebih lagi dengan laki-laki!

"Kau tahu apa arti dari lirik lagu ini?"

"E-Eh? Ng, a-aku tidak begitu bisa bahasa Inggris." ungkap Tsuna malu.

Mukuro tersenyum, nyaris terkekeh. Ampun deh, Tsuna memang sangat menggemaskan di matanya. "Kau mau tahu artinya?"

Tsuna menganggukkan kepalanya pelan.

"'Aku tak bisa tersenyum tanpamu... Aku tidak bisa tertawa, aku tidak bisa bernyanyi, dan sulit bagiku untuk melakukan apa pun.'" jelas Mukuro tanpa menghilangkan senyum permanen di wajahnya. Ia mengusap bibir Tsuna dengan ibu jarinya lalu mendekatkan wajahnya.

Tsuna sempat panik begitu wajah Mukuro mendekat, namun beruntung si kepala nanas itu tidak berbuat macam-macam padanya; ia hanya berbisik pelan di telinganya.

"Seperti itulah perasaanku padamu, Tsunayoshi-kun."


You see I feel sad when you're sad, I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through; I just can't smile without you


Hibari memasang wajah masam sedari tadi. Berkali-kali ia menginjak kaki Dino; yang bersangkutan sih tidak mempermasalahkan, tapi sepertinya Hibari merasa harga dirinya terinjak setiap kali ia melakukan kesalahan bodoh seperti itu.

"Pelan-pelan saja Hibari." ujar Dino. "Quick, quick, slow."

Sekali lagi Hibari tak sengaja menginjak kaki Dino. Anggota stoic itu pun mengerutkan alisnya samar, lalu mendadak berhenti.

"Ada apa?"

"Sudahlah, hentikan saja." ujar Hibari. "Aku tidak akan bisa."

"Kau pasti bisa, aku akan mengajarimu pelan-pelan. Lagipula kau harus bisa berdansa dulu kan kalau mau menjadi pasangan dansa Tsuna?"

"Apa urusanmu? Kalaupun aku tidak bisa berdansa dengan herbivora itu, itu tidak ada hubungannya denganmu." ujar Hibari ketus. Maklum, ia sedang badmood karena tidak bisa berdansa.

Dino tersenyum lirih. "Benar juga sih... Tapi aku..." Dino menghentikan kata-katanya lalu tersenyum tipis. "Tidak, bukan apa-apa."

Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, Hibari...


You came along just like a song and brightened my day
Who would have believed that you were part of a dream
Now it all seems light years away


"Kenapa kau senyum-senyum terus maniak baseball idiot?!" bentak Gokudera di sela-sela berdansa. Alisnya berkerut kesal seperti sengaja membuat wajahnya terlihat galak, walau nyatanya itu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.

"Aku senang bisa berdansa denganmu." jawab Yamamoto sambil nyengir. "Aku jadi ingat masa kecil kita dulu. Kita selalu bersama seperti ini kan?"

Wajah Gokudera berubah masam. "Jangan ungkit soal masa lalu, seperti orang tua saja!"

"Maaf, maaf."

Saat sedang berdansa, tak sengaja kaki Gokudera tersandung oleh kaki Yamamoto. Ia nyaris terjatuh, namun Yamamoto sudah menangkapnya lebih dulu sebelum ia membentur lantai.

Bukannya berterima kasih, Gokudera malah berkata, "Aku bisa sendiri!"

Yamamoto hanya tersenyum kecil melihat tingkah Gokudera.


Suara musik mulai samar terdengar pertanda kalau lagu sudah hampir selesai. Mukuro menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah anggota host club yang lain. "Bagaimana? Kalian mau latihan sekali lagi?"

"Sudah cukup!" seru Gokudera muak. Dan sepertinya kali ini Hibari sependapat dengan Gokudera; ia langsung angkat kaki tanpa berkata apa pun lagi.

Mukuro menghela nafas pelan. "Baiklah, sepertinya latihan kali ini cukup sampai disini." Ia melirik ke arah jam yang terpasang di sudut ruangan. "Sekarang sudah sore, mungkin lebih baik kita pulang sekarang."

"Jyudaime! Bagaimana kalau pulang denganku?" tanya Gokudera dengan wajah berbinar-binar.

"A-Ah, tapi aku harus menunggu Squalo."

Gokudera sempat berdecak pelan dalam hati. Cih, kenapa Jyudaime harus menunggu Squalo sih? batinnya. Namun berkebalikan dengan apa yang ada di hatinya, Gokudera tersenyum lebar pada Tsuna. "Tidak masalah!"

"Aku juga pulang bersama kalian ya? Tidak masalah kan?" tanya Yamamoto ikut nimbrung. Sebelum Gokudera sempat melancarkan aksi protes, Tsuna sudah terlebih dulu menyanggupi.

"Boleh saja."

Gokudera pun langsung bungkam seribu bahasa--tidak jadi protes.

Akhirnya setelah berpamitan, mereka bertiga pun berjalan keluar dari ruang musik. Sekarang, hanya tinggal Dino dan Mukuro yang tersisa.

"Kau belum pulang, Dino?"

"Hm, aku harus membersihkan ruang klub dulu nanti. Kau sendiri tidak menjemput Chrome-chan?"

"Nanti, hari ini dia ada tambahan pelajaran." Mukuro terkekeh pelan. "Heran ya, padahal kami kembar, tapi sifat kami berbeda sekali."

Dino ikut terkekeh pelan. "Kasihan orang tuamu kalau punya dua anak sepertimu. Satu saja sudah merepotkan, apalagi dua?"

"Hei, hei, apa maksudmu Dino?" tanya Mukuro tersinggung.

Dino tidak menjawab dan kembali terkekeh. Ia melirik ke arah jam lalu mengarahkan kakinya ke arah pintu. "Kurasa aku harus membersihkan ruang klub sekarang. Sebaiknya kau menjemput Chrome-chan sekarang dan menunggu di sekolahnya saja."

"Iya, iya."

Dino membuka pintu dan hendak melangkah pergi, namun sesaat sebelumnya, Mukuro kembali memanggilnya.

"Dino."

Wakil ketua host club itu menoleh. "Apa?"

Mukuro diam dan memandangi wakil ketua host club itu dalam-dalam tanpa bekata apa-apa. Setelah lama membuat Dino terdiam lama di depan pintu, barulah ia berkata pelan, "Tidak, bukan apa-apa."

Dino mengangkat alisnya heran tapi ia hanya berkata, "Oh, ya sudah."

Sesaat setelahnya sosok Dino pun menghilang.

Mukuro menghela nafas pelan. "Ternyata anggota host club banyak yang bermasalah dengan masalah cinta ya? Baik Dino dan Gokudera." Mukuro menggelengkan kelapanya sendiri sok dramatisir. "Ampun deh, apa susahnya sih jujur tentang perasaan sendiri?"

Puas mengomentari masalah yang sebenarnya bukan urusannya itu, Mukuro berjalan mendekat ke arah kalender. Ia melihat angka 21 di bulan Febuari itu sambil tersenyum tipis. "Ah, tak terasa pesta dansa dimulai sebentar lagi. Kufufu, sebaiknya aku mulai memikirkan rencana baru untuk membalas dendam pada Squalo."

Sementara itu, di lain tempat.

"HUATCHIM!"

"Eh? Squalo, kau kena flu?" tanya Tsuna sembari melihat sepupunya yang sibuk menyeka hidungnya dengan tangannya.

"Tidak, tapi aku merasa ada seseorang yang membicarakanku." Squalo terdiam sebentar lalu mendadak alisnya berkerut. "Voi! Pasti ketua brengsek itu!"

Sembari berjalan masuk ke dalam rumah, Squalo sibuk mengumpat sang ketua host club itu. Xanxus yang malang, ia terpaksa menjadi korban segala bentuk umpatan dari Squalo padahal seharusnya Mukuro yang menerima semua itu. Hingga detik ini Squalo sama sekali belum menyadari bahaya yang mengancam dari si kepala nanas yang ternyata yang menyimpan dendam padanya itu.


Teru : Ah, selesai juga... Master, master, udah selesai nih! ...Loh? master mana?

Kaoru : Udah dibawa kabur sama Saga-san...

Teru : Hoo... ah, master payah ah... padahal kan harusnya kita ngomongin soal bridal sty-- *dibekep sama Kaoru*

Kaoru : ...Heh, panda sial... kau mau ngasih spoiler ke reader isi chapter selanjutnya ya? *muka udah ga bersahabat*

Teru : Mff mmm mffm mmmmff mffmm?

Kaoru : Lo ngomong apa dah? *baru ngelepas*

Teru : Ah senpai kejam nih! itu kan bukan spoiler! itu kan request dari Ash-sama! curang dong kalo reader yang lain gatau? master juga pasti ga masalahin kok kalo Teru ngomong! *ngeliat ke arah reader* Nah, reader semuanya, hanya sedikit pemberitahuan, di chapter selanjutnya ada XS bridal style loooooh! X3 Hahahaha, master stres sih ga bisa nulis hint XS di VNM, jadi pelariannya ke NHC deh...

Kaoru : Lagian master pake peduliin temennya yang itu... harusnya cuekin aja. salah sendiri baca!

Teru : Iya sih... ...Ok! sekarang waktunya minta review dari reader semua! ayo review, boleh sekalian request! XDD Yoroshiku onegaishimasuuu!!

Kaoru : ...Onegaishimasu.