Mom for My Little Menma
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, Romance, Humor
By : Lukas Luke
Warn : AU, OOC, GS , Gaje, Garing, Ngaco, OC
Typos menunjukkan bahwa yang ngetik juga manusia. Ini serius.
Bold : Flashback
..
Chapter 13
Happy Reading~
..
Jemari kecil meraih penghapus persegi di sudut meja. Dengan bibir yang mengerucut, si pemilik jari- jari mungil itu mulai menghapus guratan pensil di atas permukaan kertas gambarnya kemudian menggerutu pelan, "Gara- gara kau gerak- gerak terus, gambarku jadi jelek," yang langsung dituduhkan dengan tak berperasaan untuk sang teman, Chima, tanpa tembusan ke siapapun.
Sementara bocah perempuan yang diajaknya bicara hanya melirik malas dengan wajah mengantuk luar biasa seolah ia kerja lembur semalaman dan baru pulang dini hari tadi.
Menma mendengus, sudah terlalu biasa dirinya diabaikan sang teman. Bocah Uchiha itu tak ambil pusing dengan reaksi Chima dan kembali melanjutkan gambarnya. Sudah biasa tiap hari makan ati dia mah.
' Dobe- mommy,' si bocah titisan kegelapan membatin seraya tersenyum kecil. Menatapi gambar yang tengah diselesaikannya.
Sementara si bocah perempuan mengernyit aneh. Menma terlalu banyak tersenyum hari ini dan itu terasa asing untuknya. Sejak pagi Menma terlihat sangat senang dan jadi tidak judes seperti biasanya. 'Apa sekrup di bibirnya lepas,' batinnya dengan kening berkerut. Gadis kecil itu menatap Menma lekat dengan raut muka penuh tanya.
" Kau kenapa?" tanya Menma yang risih dengan pandangan yang dilayangkan si teman untuknya.
Chima menggeleng. Bocah ini memang tipe- tipe yang tidak mau nyemplung untuk ikut campur pada urusan orang lain. Pandangannya kembali ke depan kelas di mana beberapa teman sekelas mereka tengah mencoret- coret papan tulis besar dengan spidol warna- warni yang disediakan Sakura- sensei pagi tadi.
" Wah, jangan- jangan kau habis kentut dan tidak bilang- bilang padaku?" tuduh Menma keji dengan lirikan paling sadis yang diwariskan sang daddy, tak lupa menggeser bokongnya beberapa senti menjauhi teman sebangkunya yang justru memasang gesture 'Peduli amat. Siapa lu siapa gue' seraya berujar "Merepotkan," lalu mendengus malas.
" Kau kan kebiasaan begitu. Kau terus diam seperti itu dan tahu- tahu ada ledakan bau busuk menyengat yang nyaris membuat hidungku mau lepas," lanjut Menma berlebihan. Mini Sasuke itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis lurus begitu Chima mendelik dengan mata kuacinya yang menjanjikan penderitaan.
Kejamnya Chima itu sebelas dua belas dengan si nenek Mikoto yang kata sang daddy ketika daddynya kecil dulu neneknya itu selalu mengancam dengan kalimat mematikan "Sasuke, pulang! Mumpung ibu baru pegang centong kayu. Lima belas menit belum ada di kamar, ibu ambil sapu lidi di belakang!" tiap kali daddy- nya main terlalu lama di rumah tetangga, yang langsung saja membuat daddy gantengnya itu blingsatan mencari sendal jepit entah miliknya atau bukan dan pontang- panting pulang ke rumah.
" Siapa dia?" suara Chima kembali terdengar. Menma menoleh dan mendapati temannya tengah melirik tertarik pada gambarnya. " Siapa dia ini?" tanyanya lagi, kali ini diikuti dengan satu telunjuk kecil yang mengarah pada gambar seorang perempuan berambut panjang.
Menma tersenyum.
" Dia mommy- ku," balasnya bangga. Setengah pamer.
" Mommy?" Chima mengernyit.
" Hn," si bocah Uchiha mengangguk semangat dengan mata berbinar ceria. Membayangkan tawa renyah Naruto yang terlintas di pikirannya membuat hatinya menghangat. Ahh, jadi pingin cepat pulang rasanya dan minta dobe mommy tercinta untuk membelikannya candy banyak- banyak di toko paman Toneri.
" Kau punya mommy?" tanya Chima dengan kening berkerut. " Kau bilang papamu janda."
Apa?
" Duda," koreksi Menma cepat dengan alis bertaut.
" Janda duda apa bedanya? Sama- sama ditinggal pasangan pergi, Cih," Chima memutar bola mata bosan.
Menma mendengus.
" Janda itu perempuan, Bodoh! Bilangmu kau ini jenius, yang begini saja tidak tahu," gerutunya dengan bibir mengerucut lucu.
" Terserah," Chima membalas. " Jadi, intinya sekarang kau punya mommy, begitu?"
Si Uchiha mini mengacungkan jempolnya.
Chima Nara mendekat dengan seringai kecil dan membisik, " Heeee, apa dia suka memukul pantatmu pakai rotan seperti yang pernah aku bilang tentang ibu tiri?"
Menma menggeleng.
" Eh? Benarkah?"
Menma mengangguk.
Chima mengerutkan kening, memikirkan jawaban dari teman sebangkunya selama beberapa detik.
" Apa dia suka ngomel- ngomel dan berteriak sambil menyuruhmu mencuci baju?" tanyanya lagi.
" Tidak."
" Menyuruhmu mengepel lantai?"
" Tidak."
" Menggaruk pantatnya yang gatal?"
Mengernyit, Menma lantas menyahut, " Tentu saja tidak, Bodoh! Dia punya jari untuk menggaruknya sendiri."
Chima mengerjap bingung. Menatap serius si bocah Uchiha di sebelahnya.
" Aneh," celetuknya.
" Aneh? Kenapa aneh?" si teman sebangku memilih kembali meraih pensil dan melanjutkan gambarnya.
" Di buku novel Shikadai- nii mama tiri Cinderella dan Putih Salju itu jahat."
Giliran Menma yang mengerjap aneh.
" Tapi mommy- ku tidak jahat," belanya.
" Hm," Chima mengangguk paham, " Berarti buku Shikadai- nii bohong. Aku akan membakarnya besok," putusnya yang langsung diangguki Menma, " Ya, bakar saja."
" Lagipula kakakmu itu laki- laki. Kenapa dia punya novel cewek begitu?" ledeknya dengan tawa geli yang kemudian disesalinya dalam hati begitu ingat ia sering meminta sang daddy untuk menceritakan kisah- kisah puteri negeri dongeng setiap mau tidur.
" Novel cewek?" mengernyit, Chima menoleh, " Kau tahu dari mana itu novel cewek? Memang punya kelamin? Begitu?"
..
..
..
" Hai?" sapa Naruto dengan satu alis terangkat heran. Menoleh sebentar pada jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi lebih 15 menit.
" Kau bolos kerja, Teme?" tanyanya pada sang pria yang masih mengenakan hoodie longgar dengan tulisan 'Duda Kembang Assoy' ditulis capslock bersama kolor pendek selutut berwarna gelap motif gambar Batman yang berdiri di depan pintu apartemennya. Orang ganteng mah bebas.
" Hari ini libur."
" Chk," Naruto mendengus geli. Sasuke bohong, tentu saja. Gadis itu menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan si pria masuk, kemudian menutup pintu begitu Sasuke telah melewatinya dan berjalan menghampiri sofa ruang tamu.
" Bilang saja bolos kerja."
" Hn."
" Mau ku buatkan minum?" tanya Naruto.
" Kopi?"
"Tidak. Kau sudah minum kopi pagi tadi jadi tidak lagi," tolak Naruto cepat.
" Aku akan buatkan minuman untukmu tapi bukan kopi. Tunggu sebentar, oke? Aku harus menyelesaikan adonan kue cokelatku," gadis itu beranjak ke dapur setelah meletakkan setoples besar potato rasa keju di atas meja kaca di depan sofa yang barangkali saja Sasuke mau mengonsumsi makanan dengan rasa manis asin itu.
Pemuda Uchiha menatap punggung Naruto yang menjauh ke arah dapur, meraih loyang dari atas meja dan mengaduknya dengan mixer yang lantas menyuarakan dengungan berisik. Sesekali tangan kirinya yang bebas meraih sesuatu dari beberapa mangkuk kecil dan memasukkannya ke dalam loyang. Gadis itu terlihat cekatan dan Sasuke menyukai pemandangan itu. Gerakan luwes Naruto ketika memasak menunjukkan kepiawaiannya dalam urusan dapur. Ahh, istri idaman. Mana rela dia menyerahkan gadis itu untuk laki- laki lain.
Sasuke mengalihkan pandangannya. Menatap tumpukan buku di atas meja komputer Naruto yang kini terlihat lebih rapi. Kemudian menggeser tatapannya pada dinding bercat abu- abu yang berada di sebelah pintu kamar Naruto. Sebuah figura menggantung di sana dan menunjukkan satu gambar dengan warna- warna cerah yang terasa tidak asing.
Merasa tertarik, Sasuke lantas berdiri untuk melihat lebih jelas gambar anak- anak yang tergantung rapi di dalam figura kaca.
" Gambar Menma?" gumamnya pelan. Menatap lekat beberapa gambar yang disinyalir adalah manusia dewasa dengan mata dan telinga besar, kemudian satu gambar bocah dengan guratan yang lebih sempurna dari pada yang lain. Sasuke jelas hapal gambar siapa ini. Hampir setiap hari ia menemani sang putra menggambar dengan krayon yang berantakan dan akan patah dalam sekali pakai.
" Menma memberikannya padaku saat aku belum kembali ke Suna. Ku pikir itu gambar luar biasa untuk ukuran gambar seorang bocah seusianya. Dia bahkan bisa menghasilkan degradasi warna yang bagus," Naruto berdiri di sebelahnya dengan secangkir besar cairan berwarna cokelat.
" Obito yang mengajarinya," sahut Sasuke.
" Hm," si pirang mengangguk, " Dia paman yang baik. Ini," lalu menyerahkan cangkir di tangannya pada si Uchiha.
Sensasi dingin langsung merambati permukaan telapak tangannya yang lebar begitu Sasuke menerimanya.
" Cokelat dengan beberapa balok es. Ini lebih baik dari pada kopi," jelas Naruto kemudian tersenyum kecil.
" Kalau begini aku jadi seperti bocah," dengus Sasuke dengan kekehan geli, membiarkan gadisnya kembali memasuki dapur untuk membereskan beberapa peralatan masaknya yang masih berantakan.
Sasuke memutuskan untuk duduk bersila di atas sofa selagi menunggu Naruto menyelesaikan pekerjaannya dan meminum cokelatnya. Pria itu mengerang kecil kala rasa manis yang pas menyapa lidahnya. Dinginnya es cokelat juga terasa menyejukkan tenggorokannya yang kering.
Sasuke kembali mengedarkan pandangannya, kedua netra sekelam langit malam itu kini memandangi tumpukan buku dan kertas di sisi komputer yang terlihat lebih rapi dari biasanya.
" Kau masih menulis cerita?" tanyanya tanpa menoleh pada Naruto yang tengah mencuci baskom plastik di dapur.
" Tidak. Shikamaru bilang ceritaku tidak bermutu, dan well, aku juga merasa begitu," dengus gadis itu kemudian terkekeh.
" Novel pertamaku tidak begitu laris. Jadi aku memutuskan untuk berhenti menulis saja, aku merasa itu bukan keahlianku. Aku memang ahli membaca buku cerita, tapi tidak untuk menulis meski aku menginginkannya," jelasnya.
Naruto melap tangannya yang basah. Meraih dua piring kecil dari dalam lemari dan membawanya ke dekat loyang roti yang masih panas.
" Tapi ceritamu bagus," sahut Sasuke setelah terdiam beberapa saat.
Naruto memutar bola mata bosan.
" Chk, pembual. Tidak ada sejarahnya Sasuke Uchiha sudi membaca buku cerita apalagi yang temanya percintaan. Kau pasti mual duluan."
Si Uchiha mendengus geli. Membenarkan diam- diam.
" Tapi tidak apa- apa sih. Setidaknya aku masih aktif membuat ilustrasi gambar untuk majalah anak- anak," Naruto datang dengan dua piring berisi potongan cake cokelat dan garpu kecil.
" Bagaimana cafe mu?"
" Cafe?" Naruto mengerutkan kening, duduk di sebelah Sasuke lalu melanjutkan, " Cafe ku baik- baik saja. Ada dua temanku yang mengurusnya dengan sangat baik, bahkan aku sempat berpikir mereka lebih pantas jadi pemiliknya, hehe."
" Cepat makan. Sebelum dingin."
" Hn." Sasuke meraih sendok kecil di atas piring roti dan memotongnya sedikit. Menyuapnya ke dalam mulut dan mendesis enak saat merasakan tektur lembut chocolate cake buatan Naruto dengan rasa yang tidak begitu manis.
" Hei, Teme," panggil si pirang ragu- ragu. Sasuke menoleh dan menanti apa yang akan gadis itu ucapkan.
" Kau sama sekali belum cerita padaku bagaimana kau bisa bertemu papa di Suna," lanjut Naruto.
" Papamu tidak cerita?" Sasuke bertanya.
Si gadis menggeleng.
" Ya sudah, aku juga tidak mau cerita," balas Sasuke kalem lalu menyendok lagi cake cokelatnya.
" Chk, Teme!"
Sasuke melirik, menatap wajah merengut Naruto yang terlihat lucu, kemudian mendengus geli. Telapak tangannya terulur untuk mengusap gemas puncak kepala gadisnya dan berujar, " Ku pikir papamu sudah cerita bagaimana aku bisa sampai di kantor papamu."
" Di kantor?" Naruto mengerjap, terkejut, " Kau ke kantor papa?"
" Hn," Sasuke mengangguk.
" Kau bertemu Utakata?"
" Tunanganmu yang sok mirip denganku itu? Tid- Ah! Sakit, Dobe!" mengusap penuh semangat pinggangnya yang baru saja dicubit Naruto. Lalu meletakkan piring rotinya yang sudah nyaris kosong ke atas meja.
" Kau pasti bertemu dengannya. Papa bilang kau terus menunggu sampai papa mau menemuimu. Ku pikir kalian bertemu di rumah makan atau sejenisnya."
" Hm, aku menunggu Iruka- san dari pagi sampai nyaris gelap. Papamu bahkan tidak mempersilahkan aku masuk. Jadi aku berdiri di dekat pintu masuk gedung kantor," Sasuke meraih pergelangan tangan Naruto dan menggenggamnya lembut.
" Aku juga bertemu beberapa kali dengan Utakata yang keluar masuk kantor, tapi dia hanya menyapaku sekilas."
Naruto menarik satu sudut bibirnya membentuk garis lurus, berpikir sejenak. " Dia tidak tahu kalau kau pac- uh, mantanku?" tanyanya dengan pipi bersemu.
Sasuke mengernyit, melirik Naruto yang terlihat salah tingkah dengan kalimat tanyanya sendiri lalu mengulum senyum geli.
" Memangnya di dahiku ini muncul tulisan 'pacar ganteng Naruto' sampai- sampai tunanganmu itu tahu? Dia mungkin berpikir aku cuma sales celana dalam cewek yang mau promosi di kantor papamu," balasnya.
" Bukan begitu, Bodoh! Lagi pula dia bukan tunanganku lagi!"
" Benarkah?"
" Chk."
Sasuke tergelak. Meraih kepala Naruto dan mengecup pelipisnya gemas.
" Apa sih? Jangan cium- cium!" erang si pirang mendorong pipi Sasuke menjauh dengan telunjuknya.
" Galaknya," Sasuke kembali mencuri satu ciuman di pipi kiri Naruto yang selalu membuatnya gemas bukan main.
" Kau belum selesai cerita, Teme. Kau bilang apa pada papaku?"
Sasuke menerawang, seolah mengingat- ingat apa saja yang ia katakan pada papa angkat Naruto sekitar dua minggu lalu. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran sofa dan menghela nafas pelan.
" Aku bilang pada papamu kalau kita berdua sudah siap menempuh hidup baru, bahkan punya beberapa anak yang kelak akan memberi kita banyak cucu-"
" Teme Sialan! Aku serius, Bodoh!" Naruto nyaris meraih gelas cokelat dan membenturkannya pada dahi mulus Sasuke, barangkali bisa memperbaiki jika saja ada sarafnya yang terjepit. Sasuke memang punya selera humor yang buruk. Dan dia juga pencerita yang buruk.
" Apa papaku memukul kepalamu? Kupikir otakmu jatuh sampai ke tumit-"
" Aku menceritakan semua yang terjadi sejak kita SMA, dan aku juga mengatakan kalau kita sepasang kekasih dan ..."
" Aku mencintai Naruto, ijinkan kami bersama."
Sasuke menelan ludah susah payah. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari sang calon mertua dari balik meja kerjanya. Meski begitu, ia adalah seorang Uchiha yang tidak akan gentar hanya dengan intimidasi kecil seperti itu. Ia akan memperjuangkan hubungannya dengan Naruto hingga titik keringat penghabisan.
" Naruto sudah bertunangan," suara dingin Iruka terdengar. Sasuke merasa aura di sekitarnya semakin mencekam. Pemuda itu menarik nafas, " Aku tahu, tapi Naruto tidak mencintai tunangannya-"
" Lancang sekali mulutmu bicara begitu. Kau pikir siapa dirimu?" sahut Iruka cepat.
Siapa dia, katanya?
Sasuke bisa saja menjawab lantang 'Aku? Belahan jiwa Naruto yang perkasa luar dalam,' namun ia khawatir jika Iruka nanti akan menuduhnya sebagai pria mesum kelebihan hormon, jadi pemuda itu hanya menjawab, " Aku Uchiha Sasuke. Kekasih dari putri Anda."
" Papaku langsung percaya apa yang kau katakan?" tanya si pirang menyela ceritanya.
" Tentu saja-"
'Tidak' Sasuke membatin.
" Aku punya bakat terpendam untuk membuat banyak orang percaya padaku," lanjutnya pongah.
" Kenapa aku tidak yakin?" Naruto mengernyit.
" ..."
" Kau pikir aku percaya?"
Sasuke menatap Iruka yang melempar pandangan merendahkan untuknya. Kedua manik tajam pria paruh baya itu menyipit sekilas kala melihatnya dan Sasuke jelas tahu laki- laki itu tak menyukainya.
" Aku telah mendengar semuanya, apa yang ibumu lakukan pada putriku hingga ia memutuskan untuk ikut denganku pindah ke tempat ini. Naruto memang menyembunyikannya dengan baik, karena itu setelah kedatangan kami ke tempat ini aku memaksanya bercerita. Putriku adalah gadis yang baik tapi bukan berarti ia menerima begitu saja ketika ada seseorang merendahkan statusnya yang hanya seorang anak yatim piatu yang besar di panti. Dan kupikir tidak mungkin putriku mau menerimamu lagi."
" Tapi kami-"
" Kalian kembali bertemu selama dia di Konoha dan kau memintanya untuk kembali bersamamu. Bagus sekali kau mengambil kesempatan. Apa kau tidak tahu malu?"
" ..."
" Aku hanya tidak ingin ada yang menyakiti putriku lagi. Aku menyayanginya meski dia hanya anak angkatku. Kau pikir aku tidak marah saat tahu apa yang ibumu ucapkan untuk merendahkan putriku? Dia hanya anak angkat yang ku adopsi dari sebuah panti asuhan kumuh, tapi aku mencintainya dengan sepenuh hantiku, dia putriku satu- satunya yang tak akan ku biarkan satu ayam pun menyakitinya, termasuk dirimu dan keluargamu."
Ayam?
" ..."
" Aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuatnya menangis diam- diam setiap malam. Tidak."
" I- Iruka-san-" ... tapi aku bukan ayam.
" Naruto pantas mendapatkan pria yang baik, dari keluarga baik- baik. Dan aku sudah menemukan calon suami yang tepat untuk putriku," potong Iruka cepat.
" Naruto mencintaiku," erang Sasuke tanpa sadar. Seolah merengek pada ayahnya agar dibelikan sepeda kayuh yang baru.
Iruka meliriknya tajam.
" Dan aku juga mencintai putri Anda."
" ..."
" Begitu pun Menma-"
" Menma?"
Kampret! Sasuke menyerapahi mulutnya berkali- kali dalam hati. Minta restu saja sudah susah begini apalagi ditambah Iruka tahu statusnya sudah berubah dari perjaka ting- ting menjadi duda kembang beranak satu. Mampuslah dia, iruka bisa- bisa menendangnya hingga mencelat ke bulan dan alamat jadi duda selama- lama- lama-lamanya.
" Siapa Menma?" Iruka kembali bertanya.
Menelan ludah yang tiba- tiba terasa sebesar dan sekeras bola bekel di tenggorokannya. Sasuke bersuara, " Putraku."
" Putra?"
" Hn."
Iruka menatap Sasuke nyalang.
"Kau sudah menghamili gadis lain dan masih meminta Naruto untuk jadi istrimu!? Kurang ajar sekali bocah ini-"
" Tapi, kami sudah berpisah, dan aku hanya mencintai Naruto," cicit Sasuke, meringis masam dalam hati.
Iruka mendengus.
" Jadi maksudmu kau ini seorang duda?"
" Hn."
Iruka menggeleng prihatin.
" Dasar bocah cabul, masih piyik sudah berani bikin bunting anak orang, sudah begitu masih minta tambah mau memerawani putriku, kurang brengsek apa lagi kau ini, apa urat malumu sudah putus?" serunya pada Sasuke. Tangannya sudah gatal untuk melempar tumpukan map di mejanya ke muka datar pemuda Uchiha itu.
" Aku saja masih perjaka, kau sudah mau dua kali," lanjutnya.
" Itu tandanya ayah tidak laku."
Kicep. Iruka lantas menyorot tajam wajah datar Sasuke yang sebenarnya ketar ketir karena mulut kurang ajarnya yang tidak bisa dikendalikan. Reflek, Men.
" Keluar dari ruanganku, Bocah Tengik!"
" Tidak mau. Aku mau ayah mengijinkan Naruto untuk menikah denganku baru aku akan keluar," Sasuke ngotot.
" Kevarat! Siapa yang kau panggil ayah? Mana sudi aku punya anak sepertimu!"
" Chk, ayah-"
" Tutup mulutmu!"
" ..."
"..."
" Ibu sudah mengakui kesalahannya, dan mereka saling bicara beberapa waktu lalu. Hubungan mereka kini baik- baik saja. Dan Naruto juga sangat menyayangi Menmaku-"
" Aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti putriku-"
" Aku tetap akan mencintai Naruto, Iruka- san. Perasaanku tidak akan berubah meski Anda berusaha sekuat tenaga untuk menghentikanku. Aku tidak akan meminta ijin Anda untuk menikahinya sebab sejak pertemuan pertama kami aku telah bertekad untuk mendapatkannya baik dengan restumu maupun tidak. Aku akan tetap menikahi Naruto."
..
..
..
" Aku mau cokelatnya! Daddy!" jari jemari Menma terulur ke atas. Bocah itu melompat- lompat kecil untuk meraih satu bungkus cokelat batang yang sengaja diambil paksa oleh Sasuke dari tangannya.
" Kau sudah habis 2 batang cokelat hari ini, Menma," Sasuke berujar. Memperingatkan.
" Tapi itu punyaku, sese- nii- chan yang berikan padaku," rengek Menma yang tetap di balas gelengan tegas oleh sang daddy. " Tidak ada cokelat lagi hari ini."
Sasuke memasukkan batangan manis itu ke dalam saku kemeja hitamnya.
" Dad, berikan. Uhh, mommy~" Menma melirik Naruto yang duduk di sofa dengan wajah memelas, meminta bantuan. Perempuan itu sejak tadi mengobrol dengan dua manusia lain dan hanya sesekali melihat ke arahnya. Menma kesal tidak dapat cokelatnya dan Menma semakin kesal diabaikan si pirang.
" Oh, Astaga! Menma memanggil Naruto mommy, menggemaskan sekali!" Ino memekik girang, memukul gemas lengan suaminya yang langsung mengaduh dengan wajah kesal. Kebiasaan. Sai menggerutu betapa seringnya Ino menjadikannya pelampiasan kala wanita- nya itu tengah marah, sakit maupun kegirangan. Sudah cerewetnya minta ampun, tenaganya juga sebelas dua belas dengan banteng lepas. Pokoknya pukulan dan cubitannya menyakitkan. Untung cinta, untung sayang, Sai mah kuat.
" Dan dia memanggilmu sese-nii, aww manis sekali suamiku~" lanjut Ino seraya menangkup kedua pipinya sendiri. Merasa gemas.
Menma mengerjap, menatap aneh pada dua teman mommy nya yang datang beberapa saat lalu. Sejenak lupa pada cokelat menggiurkan di saku kemeja daddy gantengnya.
" Ya Tuhan, lihatlah, Menma ketakutan melihat tingkahmu," bisik Sai pada Ino.
Sejak kembalinya Naruto ke Konoha, Ino terus memaksa dirinya agar mereka lekas menyusul si pirang ke Konoha dan meminta gadis untuk mempertemukan mereka berdua dengan Sasuke dan Menma. Ino tidak bisa menahan diri untuk mengobati rasa penasarannya pada dua pria kesayangan Naruto yang selalu gadis itu ceritakan pada mereka berdua selepas batalnya pertunangan Naruto dengan Utakata.
" Mom, Daddy mengambil cokelatku," erang Menma mengadu, lagi. Mengerling pada si pirang dengan dua alis bertaut menggemaskan. Setengah protes minta diperhatikan, sisanya ingin memenangkan pertarungan perebutan cokelat dengan si daddy.
Menoleh, Naruto menghela nafas, " Kau sudah makan banyak cokelat, Sayang. Jadi tidak lagi. Aku akan menyimpannya untuk besok, oke? Kemarikan, Suke," ujarnya kemudian meraih cepat si cokelat dari tangan Sasuke dan memasukkannya ke dalam lemari es.
Sasuke hanya diam menatapi gadis- nya hingga suara Menma kembali terdengar.
" Dad, jangan ambil, oke? Itu milikku," bocah itu mengacungkan satu telunjuknya, mendelik memperingatkan pada sang daddy agar tidak menculik camilan besok siang- nya dari dalam kulkas. Sasuke mendengus gemas dengan kelakuan putranya. Laki- laki itu hanya mengulurkan telapak tangannya yang besar untuk mencubit hidung kecil Menma yang kemudian disambut erangan protes dengan bibir kecil mengerucut lucu.
" Daddy mu tidak suka cokelat, Menma. Kau tidak perlu cemas," Naruto tertawa renyah, mengusap kepala si bocah dan meraihnya dalam gendongan. Mengecupi pipi bulatnya hingga bocah itu terkekeh karena geli.
" Hentikan, Mom!"
" Kalian benar- benar terlihat seperti keluarga yang harmonis. Aku senang kau bahagia, Naruto. Astaga, aku ingin menangis," sela Ino disertai senyum penuh kelegaan.
Naruto mendengus pelan, namun tak pelak kedua pipinya merona samar berkat ucapan sahabatnya itu. Sai tersenyum geli. Jarang- jarang melihat Naruto dengan ekspresi malu- malu yang membuatnya nyaris tergelak.
Sementara Sasuke ... ia menampilkan ekspresi aneh antara canggung dan kesal setengah mati karena saat kedatangan tamu- tamunya beberapa saat lalu Naruto sudah berani selingkuh dengan memeluk laki- laki bertampang mesum yang duduk di sebelah si perempuan berambut pirang pucat dengan nama Ino itu. Demi apa? Mereka bahkan belum menikah, dan Naruto sudah berani peluk- peluk pria lain di depan calon suaminya sendiri. Benar- benar minta dikurung. Bahkan si pria yang Naruto panggil 'Sai' itu dengan lancangnya mengusap kepala Naruto- nya gemas, astaga, dia butuh mematahkan tulang seseorang sekarang.
" ...aku hanya bertanya pada paman Iruka di mana kau tinggal. Dan kami sampai di sini." Suara Ino membuyarkan lamunan Sasuke.
Pria itu melihat Naruto tersenyum kecil dan membalas, " Terima kasih sudah datang, Ino, Sai, aku senang sekali."
" Well, dua hari ini kami sepakat untuk menutup cafe mu. Hanya sementara. Aku tidak mau ambil resiko dengan menitipkannya pada pegawai baru selama kami di sini. Jadi, ku harap kau memaklumi," Sai menyela.
" Tidak masalah. Lagi pula kalian juga perlu istirahat dan sesekali berjalan- jalan keluar kota, ku pikir menghabiskan beberapa malam di Konoha bukan ide buruk, Sai," Naruto melempar cengiran lebar, " Dan mungkin aku akan pulang seminggu lagi. Aku perlu menambah beberapa hiasan dinding dan ...umm, mungkin beberapa lemari baru untuk rak buku."
" Yah, lakukan apapun untuk cafe mu. Dan buatlah kami betah berlama- lama di sana. Akan lebih menyenangkan kalau kau juga kembali dan tinggal di sa- na," suara Sai mengecil kala merasakan tatapan tajam dari dua manik kelam milik bocah lima tahun yang sontak beringsut mendekati dan merangsakke tengah- tengah dua paha Naruto yang terbuka.
" Mommy tidak akan pergi ke manapun," bisiknya mengerling pada Naruto dengan alis menukik. Jemari mungilnya meraih dan meremat ujung kemeja si pirang kuat penuh kecemasan.
" Oops, sorry, Naruto, aku-akh!" Sai meringis, merasakan sikutan Ino yang tidak main- main sebagai tanda agar dia diam.
Naruto menunduk seraya mengulas senyum kecil. Meraih tubuh kecil Menma dalam pangkuannya dan melayangkan beberapa kecupan di dahi mulusnya yang sedikit berkeringat.
" Kau berjanji tidak akan pergi," lirih Menma, lagi.
Melirik Sasuke sejenak yang sekilas menampilkan ekspresi sama, Naruto menangkup kedua pipi Menma gemas.
" Kau lupa apa yang aku bilang kemarin, Menma?"
Menma mengerjap. " Apa?"
" Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi meskipun aku pulang ke Suna aku akan tetap kembali ke sini, atau mungkin aku malah akan mengajakmu."
" Benarkah?" dua manik Menma melebar.
" Tentu," Naruto mengangguk.
Sai dan Ino tersenyum lega. Menma tak jadi menangis.
" Aku ikut."
Eh? Menoleh cepat, Naruto menautkan kedua alis heran menatap Sasuke yang baru saja bersuara.
" Suke, kau tidak boleh bolos-"
" Boleh. Aku bos- nya."
" Kau sudah sering bolos akhir- akhir ini, jadi biar Menma saja yang ikut denganku-"
" Tidak mau. Aku ikut."
" Dad, membolos itu tidak baik, Dad."
" Pokoknya aku ikut," Sasuke mendelik pada putranya yang memutar bola mata bosan.
Naruto mendengus. Oh, dasar bayi besar.
..
..
..
" Ini saja bagaimana, Teme?" tanya Naruto seraya menunjukkan sebuah jaket tebal dengan gambar pokemon dan dua telinga Pikachu yang menggantung pada ujung tudung kepala. Sasuke menatap jaket itu lama sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Setelahnya, laki- laki itu meraih satu beannie rajutan dari rak paling atas. Si pirang yang melihatnya lantas bersuara, " Itu terlalu besar untuk Menma, Suke."
" Ini untukmu, Sayang," balas Sasuke cepat.
" Apa? Kurasa lebih baik kau belikan untuk Menma saja."
Sasuke menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis lurus, " Oke, kita kembaran bertiga," putusnya segera meraih satu beannie ukuran sama dan satu lagi yang berukuran kecil.
" Hei, Teme, aku tidak-"
" Diam. Atau kucium di sini."
Naruto kicep. Melirik sekitar dengan kedua pipi bersemu. Lantas menendang kaki Sasuke dan berlalu dengan gerutuan pelan tentang Sasuke yang tidak tahu malu tidak tahu tempat, mesum, cabul, dan kawan- kawannya.
Sasuke terkekeh gemas. Meraih troli belanjanya cepat dan mendorongnya segera untuk menyusul langkah Naruto.
" Hei, Dobe- chan, wajahmu merah sekali," godanya.
" Diam, Teme!" gertak si pirang kesal dengan bibir mengerucut lucu. Berusaha menghindari tatapan Sasuke yang tergelak pelan di belakangnya.
" Dobe- mommy!" pekikan Menma terdengar, menarik banyak pasang mata tertuju pada bocah mungil dalam gendongan Toneri. Pria pemilik toko itu terkekeh geli melihat Menma yang tampak bersemangat menggoyang- goyangkan sekantung candy dengan bungkus bergambar Rillakuma di tangan kanannya.
" Paman ganteng memberiku banyak Candy, paman bilang daddy tidak perlu membayarnya," seru Menma girang begitu sang paman ganteng sampai di hadapan dobe- mommy- nya.
Sasuke mengumpat dalam hati, diam- diam menelusupkan tangannya pada pinggang Naruto penuh antisipasi, kalau- kalau si rambut pucat di depannya berniat menculik Naruto- nya. Sementara Naruto meringis kecil, tidak enak hati sudah merepotkan pemuda di depannya berkat ulah Menma yang suka menempel pada pria itu ketika mereka berkunjung ke tokonya.
" Kau tidak perlu melakukannya, Toneri," ujarnya seraya meraih Menma dan menurunkan bocah lima tahun itu agar berdiri di sebelahnya.
" Tidak masalah. Aku gemas sekali pada pria kecil ini," Toneri tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Menma sayang. Si bocah meringis lebar dengan jemari kecil yang meraih dua jari tangan Naruto dan menggenggamnya lembut.
" Ini gratis kan, Paman?" tanya Menma memastikan sembari mengacungkan sekantung kecil permen rasa buah- buahan dan susu dengan tangannya yang lain.
" Tentu," Toneri mengangguk cepat. " Gratis untuk Menma yang sudah bersedia menemaniku mengobrol."
" Terima kasih, Paman."
" Biar ku bayar," sela Sasuke yang langsung ditolak mentah- mentah oleh si pemilik toko, " Tidak perlu, Uchiha- san, aku memberikannya untuk pria kecil kesayangan Hinata- chan, eh-uhh-"
" Hinata- chan?" Naruto mengernyit. Merasa kenal dengan satu nama itu.
" Kau mengenalnya? Dia teman Sasuke kan? Yang itu?"
" Uh, well, dia kekasihku. Sejak sebulan lalu," Toneri menggaruk asal tenguknya, salah tingkah. Pipinya bersemu dan manik matanya bergulir ke sana sini menghindari tatapan kedua manusia di depannya.
" Wah, selamat ya," Naruto berseru dengan cengiran kecil yang dibalas senyuman malu- malu oleh si pemilik toko.
" Aku tidak menyangka, loh. Kenapa kau tidak cerita, Suke?"
" Aku baru tahu."
" Apa? Kau pasti bukan teman yang baik sampai Hinata tidak mau memberi tahumu."
" Haiss, Dobe."
Sementara ketiga manusia dewasa tengah bercengkerama, si bocah berusia lima mulai melangkah menjauh. Merasa tertarik dengan kumpulan balon besar bergambar tokoh- tokoh Avenger di dekat pintu keluar.
Kedua kaki mungilnya melangkah cepat dan bibirnya menyenandungkan lagu yang berhasil di hapalnya dua hari lalu dengan suara pelan.
" Whoaa, aku mau satu," bisiknya. Menatap dengan mata berbinar satu balon berwarna biru dongker dengan gambar Captain America. Tangan mungilnya terulur hendak meraihnya sebelum akhirnya sebuah telapak tangan dengan jemari lentik mendahului gerakannya.
" Hei-"
" Kau ingin ini kan?" potong si wanita dengan senyum manis terulas di bibir merahnya.
Menma mengerjap. Terpaku beberapa saat, seolah pernah bertemu dengan wanita cantik di sebelahnya.
" Dobe mommy?" lirihnya memastikan. Tidak. Bukan. Dia bukan dobe mommy nya. Pria kecil itu menggeleng pelan dengan alis bertaut mengundang tawa renyah meluncur dari bibir si wanita berambut hitam.
" Dobe mommy? Siapa itu? Apakah ibumu?" tanya si wanita. Kedua manik birunya berbinar geli.
Menma mengangguk. " Iya, mommy ku," jawabnya seraya menghadapkan tubuhnya pada si wanita. Dan kembali menatap si wanita lama. Menma merasa jantungnya berdetak lebih cepat seolah ia merindukan ibunya. Tapi bukankah dobe mommy sedang bersama daddy nya di belakang? Kenapa ia merasa ingin menerjang wanita di depannya ini dan memeluk seerat yang ia bisa?
" Kau siapa?" tanyanya tanpa sadar.
Si wanita tertegun selama beberapa saat sebelum menjawab, " Aku? Namaku Ruu. Kau Menma kan?"
Menma mengernyit heran. " Kau tahu namaku? Apa kau teman mommy?"
Wanita itu mengulas senyum kecil. Mengulurkan telapak tangannya untuk mengusap puncak kepala Menma sayang. " Teman? Bagaimana ya? Kami teman atau bukan-"
" Memangnya musuh?" potong Menma cepat dengan cengiran kecil. " Seperti penyihir dan putih salju?"
Si wanita terkekeh geli dengan penuturan si bocah. Dan entah kenapa itu membuat Menma ikut merasakan luapan perasaan senang hingga membuat jantungnya terpacu lebih cepat. Menma menyukai senyum manis wanita ini, sama seperti senyum dobe mommy nya yang sering ia lihat.
" Kau lucu sekali, boleh aku menciummu sebentar?" pinta si wanita yang lantas diangguki Menma tanpa ragu- ragu. Pria kecil itu merangsak maju, membiarkan wanita yang duduk bersimpuh di depannya memberikan kecupan lembut di kening.
" Ah, perutmu besar?" Menma menatap perut si wanita dengan alis bertaut. " Kau sembelit sampai perutmu besar begini?" tanyanya yang lantas disambut gelak tawa oleh si wanita.
" Bukan sembelit, Menma. Di sini ada adik bayi," wanita itu menunjuk perutnya yang membuncit. Menma melotot.
" Ah, kurcaci! Obito- nii- chan bilang kurcaci. Jadi di sini ada kurcaci?" tanyanya girang.
" Bukan kurcaci, tapi bayi, Sayang."
" Oh, oke, adik bayi," Menma tersenyum kecil. Dengan berani mengusap perut si wanita dan membisik pelan, " Halo, Adik bayi. Kalau sudah keluar nanti jangan nakal ya. Harus jadi ganteng dan baik hati sepertiku, oke?"
" Oke, terima kasih, Menma- nii," si wanita membalas dengan suara dikecilkan, kemudian tersenyum haru dan mengusap pelan matanya yang mulai basah.
" Menma!" seruan dari balik rak paling ujung terdengar. Si wanita mendongak was- was. Tergesa ia mengulurkan balon di tangannya pada Menma.
" Nah, ini untukmu. Karena Menma sudah jadi kakak yang baik untuk adik bayi, aku memberikan ini untukmu."
" Kau mau pergi?" Menma bertanya cemas.
Wanita bertopi itu lantas mengangguk, ia tak punya banyak waktu, " Ya, aku harus segera pergi, Menma."
" Tidak mau."
" Mommy mu mencari, Sayang. Dan aku juga tidak bisa berada di sini lama- lama," bujuk si wanita.
" Menma!"
" Tetap di sini, oke? Dan bertemu mommy ku?" rengek Menma hendak menangis.
Si wanita menggeleng dengan senyum kecil. Meraih kepala si pria kecil dan mengecup keningnya lama, " Jadilah pria yang baik. Tetaplah sehat dan cepatlah tumbuh besar. Kau harus memastikan mommy dan daddy mu bahagia, Sayang. Aku selalu mendoakan kebahagianmu. Sampai jumpa lagi lain waktu."
Si wanita cepat berlalu begitu Menma menerima balon darinya. Meninggalkan si bocah yang kini termangu dengan wajah hendak menangis.
" Menma?" Naruto meraih tubuh kecil Menma dalam gendongan. Menatapnya cemas kala melihat pria kecilnya menangis tanpa suara, jari- jari kecilnya sontak memeluk erat leher Naruto dan menggumam "jangan pergi. Tidak mau" di sela isakannya, mengundang raut bingung dari Sasuke dan Naruto yang semakin merasa bersalah karena lalai menjaga Menma.
" Menma, kau kenapa, Sayang?" tanya Naruto mengusap punggung si kecil khawatir.
" Menma, Hei-"
" Dobe mommy, Naruto- mommy ..."
" Ada apa denganmu, Son? Apa ada yang memukulmu?"
Menma menggeleng, bocah itu mengeratkan pelukannya pada si pirang. Menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu Naruto.
Pria kecil itu tidak tahu kenapa ia merasa begitu sakit, ia tak melihat darah di manapun pada bagian tubuhnya. Tapi ia merasakan sesuatu menyakiti dirinya hingga ia tak bisa menahan isakannya yang teredam bahu sang mommy. Ia hanya ingin menangis.
" Sssh, Menma, jangan menangis, Sayang."
" Apa ada yang menyakitimu, Menma?" tanya Toneri cemas.
" Katakan padaku siapa orangnya," tambah pria itu.
Sementara Sasuke mengernyit, tersentak kecil kala mendapati siluet seorang wanita yang berjalan menjauh dengan tergesa. Ia tahu siapa wanita dengan perut besar itu. Ia mengenalnya.
' Ruu,' batinnya. Ya, itu Naruko, mantan istrinya. Dengan rambut yang dicat hitam.
..
..
..
Hinata menghela nafas panjang.
" Kau membuatnya menangis."
" Aku tahu," Naruko tersenyum masam. Menyandarkan punggung lelahnya pada sofa ruang tamu Hinata.
" Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menahan diriku."
Hinata mengangguk maklum. " Ikatan antara ibu dan anak yang sangat kuat."
" Aku merindukan mereka."
" Sasuke juga?"
" Sasuke?" Naruko mengernyit. " Mungkin saja. Tapi aku lebih merindukan Menma dan adik perempuanku," Naruko tersenyum lembut, mengingat wajah manis Naruto yang hanya mampu dilihatnya dari kejauhan. Ia sungguh sangat merindukan adiknya.
" Kenapa tidak langsung menemuinya?"
Naruko menggeleng. " Tidak bisa. Untuk saat ini. Mungkin suatu saat nanti, atau beberapa tahun lagi?"
Hinata menghela nafas pelan.
" Dia tumbuh jadi gadis tomboy yang manis persis seperti dugaanku. Adik mungilku sudah besar dan sudah lebih tinggi dariku. Naruto, dia menggemaskan sekali. Sama menggemaskannya dengan Menma. Kau tahu, Hinata? Menma memanggil adikku dengan sebutan dobe-mommy. Itu lucu sekali."
Naruko terkekeh, namun tak pelak bulir air mata semakin membasahi pipi tembem wanita itu. Dan Hinata bisa melihat sorot mata penuh kerinduan terpancar dari kedua manik sewarna samudera di hadapannya. Naruko jelas sangat merindukan adik kembarnya, begitu pula dengan Menma- nya.
" Aku tidak menyangka, gadis yang selama ini disukai Sasuke adalah adikku sendiri. Jika saja aku tahu sejak awal, aku tidak akan jatuh cinta padanya, aku akan lebih bahagia jika Sasuke bersama adik manisku."
" Hei, semua sudah berlalu. Pada akhirnya sekarang mereka bersama, bukan?"
" Kau benar. Ah, Hinata, aku senang sekaligus sedih," Naruko mengusap pipinya yang kembali basah.
Hinata mengulum bibirnya sebentar, berpikir sejenak lalu berujar, " Aku juga tidak menyangka jika Naruto adalah adikmu, kupikir, aku sedikit tidak percaya, marga kalian berbeda bukan?"
Naruko menoleh. Menatap sahabatnya beberapa saat sebelum menjawab.
" Aku dan Naruto di temukan ibu pengasuh di depan panti saat pagi hari bersama sepucuk surat di dalam keranjang bayi. Tak pernah tahu siapa yang meletakkannya. Ibu pengasuh tak pernah benar- benar berusaha mencari siapa yang tega meninggalkan kami di sana. Ibu pengasuh hanya berusaha menyayangi kami sepenuh hati, merawat dan membesarkan kami bersama anak- anak lain di panti."
" ..."
" Aku selalu memintanya untuk membacakan surat yang ditinggalkan orang tua kami jika menjelang tidur dan ibu pengasuh dengan sabar membacakannya untuk kami hingga kami tertidur," jelas Naruko seraya mengusap bandul kalung perak dengan ukiran namanya 'Naruko' dan ia yakin Naruto masih menyimpan kalung pemberian kedua orang tua mereka juga.
" Kami tak pernah tahu siapa orang tua kami. Siapa nama lengkap mereka, karena di akhir surat yang akhirnya kami hapal itu hanya tertulis dua nama, Namikaze dan Uzumaki. Mereka bilang mereka menyayangi kami dan tak bermaksud menelantarkan kami. Yah, pada kenyataannya mereka membuang kami, bukan? Tapi kami tetap menyayagi mereka dan berharap mereka akan kembali menjemput kami."
" ..."
" Tapi aku bukan orang yang punya kesabaran seluas samudra. Suatu hari sepasang suami istri memintaku menjadi putri angkat mereka, hanya aku dan tidak dengan Naruto. Aku sedih jika harus meninggalkan adikku sendirian di panti, tapi sifat egois memaksaku untuk menerima tawaran itu dan meninggalkan Naruto. Aku ingin punya ayah dan ibu sebagaimana doa- doa yang selalu aku ucapkan setiap hari. Aku lelah menanti kedatangan orang tua kami yang entah kapan dan aku diam- diam menerima tawaran itu. Sesaat sebelum kepergianku meninggalkan Naruto, aku memutuskan untuk menggunakan marga Uzumaki dan memintanya menggunakan marga Namikaze agar kami tidak melupakan nama peninggalan orang tua kami. Naruto adik yang penurut dan tentu ia tidak menolak permintaanku, tapi kemudian aku tahu ia kecewa karena aku akan pergi meninggalkannya. Ia menangis berhari- hari dan tidak mau makan hingga hari kepergianku tiba. Aku meminta Gaara untuk selalu menjaga adik perempuanku yang manis-"
" Gaara?" sela Hinata cepat.
Naruko mengangguk.
" Gaara suamimu?"
" Ya, Gaara suamiku."
" Oh, Astaga, dunia begitu sempit."
" Kau ben-"
" Jadi, Naruto adalah adikmu?"
Tersentak. Hinata dan Naruko menoleh cepat.
" Sa- sasuke?"
Sasuke menatap mantan istrinya lekat, menuntut pembenaran. Pria itu berdiri di depan pintu ruang tamu Hinata yang masih terbuka. Manik kelamnya menyorot tajam pada wanita yang pernah menjadi istrinya beberapa tahun silam.
" Naruto adikmu?" tanyanya lagi.
Dan Naruko tahu, ia tak lagi bisa menghindar.
..
.. ..
.. .. ..
.. ..
..
" Dad, bangun."
" ..."
" Uh, Daddy."
Bergeming. Si pria tak bergerak sedikitpun kecuali mengerutkan kening karena merasa terganggu.
" Daddy bangun."
Tepukan- tepukan pelan di pipi kiri sang pria kembali terasa. Pria itu mengerjap beberapa kali.
" Sebentar, Sayang. Daddy baru tidur pagi tadi," lenguhnya melirik sang putra sekilas dan mengusap puncak kepala pria kecil di atas tubuhnya itu dengan gemas.
Laki- laki itu kembali memejamkan mata hendak tidur dan tak berniat sedikitpun menggeser tubuh montok si bocah yang jujur saja sedikit membuat dadanya sesak karena berat tubuh si kecil.
" Ah, Daddy .. Daddy."
Kecupan basah dilayangkan sang putra beberapa detik setelahnya di pipi kanan. Berkali- kali hingga wajahnya belepotan berkat ciuman selamat pagi yang penuh dengan liur si pria kecil yang kini terkikik usil di atas tubuhnya.
" Oh, Astaga, Sayang ..."
" Iyyuuuuh ... Ryou, kau melakukannya dengan benar, Adikku sayang," kekehan geli terdengar dari arah pintu. Dan Sasuke mengerang kesal.
" Menmaaaaaaa.."
..
..
" Nii nii yang suruh, Dad," Ryou menunjuk Menma dengan telunjuk kanan, lalu kembali menghabiskan susunya. Bocah kecil yang nyaris menyerupai Sasuke namun berambut pirang itu lantas bergumam, "Enaak~" begitu cairan putih dalam mug besarnya ludes.
" Menma, berhenti mengajari adikmu macam- macam, Son."
Sasuke melayangkan lirikan tajam, sementara sang putra sulung masih terpingkal di kursinya. Memegangi perutnya yang nyaris kram karena melihat wajah berantakan sang daddy yang biasanya terlihat ker- sok keren. Kantung mata daddy- nya itu menebal dan sedikit hitam, dan rambutnya super berantakan. Belum lagi setelan piyama bergambar Batman masih membalut tubuh tegap sang daddy.
" Daddy menggemaskan," ledeknya dengan kerlingan usil.
" Umm, menggemaskan," sang adik menirukan ucapannya teriring cengiran kecil yang membuat kedua matanya menyipit lucu. Mengacungkan jempol kirinya yang mungil pada Sasuke.
" Menma, berhenti menggoda daddy sebelum dia menerkammu..rawr!"
" Ahahah...mommy~"
" Oh, Naruto, aku tidak menerkam, Sayang," sahut Sasuke cepat dengan wajah merana dibuat- buat begitu melihat raut aneh dari si putra bungsu yang kini menatapnya lekat.
" Daddy menerkam? Seperti kucing?" tanyanya si bungsu.
Menma mengangguk. " Kau betul, otouto."
" Daddy seram."
Dan kembali Menma terpingkal kala melihat si adik menggeser duduknya beberapa centi menjauhi sang daddy yang kini berwajah masam.
" Nii nii cuma bercanda, Ryou," Naruto mengusap gemas kepala putranya setelah meletakkan sepiring kecil ketchup rice di hadapan Ryouta yang lantas memekik senang begitu mendapat sarapan paginya yang sedikit terlambat. Ia tidak mau makan sebelum menghabiskan susunya.
Naruto mengulas senyum kecil kemudian mengambil piring Sasuke yang sudah kosong dan membawanya ke tempat cuci piring. " Menma, habiskan sarapanmu dan segera bersiap. Sebentar lagi Obito datang."
" Oke. Bekalku?" tanya Menma yang langsung ditanggapi si mommy dengan menunjukkan kotak bekal berwarna biru dan membalas, " Omelet saus tomat dan kentang goreng?"
" Yes."
" Yes, Ryou juga mau. Mau. Mau," Ryou memekik dari kursinya.
" Ryou belum boleh makan saus, jadi pakai kecap saja, oke?" tawar Sasuke sembari mengusap mulut si bungsu yang belepotan susu. Naruto meletakkan sepiring lagi apel yang sudah dikupas dan dipotong kecil- kecil di depan Ryouta yang kini merengut lucu.
" Ryou tidak boleh makan saus?"
" belum boleh. Nanti kalau sudah setinggi ini baru boleh," sahut Menma yang kini berdiri di sebelah meja makan seraya meletakkan sisi telapak tangan di depan dadanya.
" Uhm," si kecil tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya kembali bersuara, " Kurlcaci?"
" Kurcaci?" Sasuke mengernyit.
Mampus.
Menma meringis, hendak melipir diam- diam sebelum sebuah telapak tangan tiba- tiba mencubit gemas pipi kirinya.
" Menmaa," Naruto jelas tahu siapa yang dimaksud Ryou sebagai kurcaci. Ia tidak pernah lupa Menma selalu menyebut bayi dalam kandungan dengan kata kurcaci. Bocah kelas 6 SD itu pastilah yang mengajari Ryouta. Ucapkan selamat pada ajaran Obito yang luar binasa.
" Ini adik bayi, Ryou. Bukan kurcaci, oke? Adik kecil sama seperti Ryou, dan adik bayi kecil ini belum bisa makan nasi," Naruto mencoba memberi penjelasan sembari mengusap perutnya yang membuncit setelah menyempatkan diri mengecup pelipis Menma dan Ryouta bergantian.
Bocah 3,5 tahun itu mengangguk mengerti. " Adik kecil sekecil ini?" Ryou menyipitkan satu matanya, membawa tangan kanannya terjulur ke depan wajah dengan telunjuk dan ibu jari menyatu dan tiga jari lainnya terlipat rapi dalam genggaman kecil.
" bagaimana bisa masuk?" tanyanya kemudian dengan kening berkerut.
" Daddy yang memasukkannya," sahut Sasuke cepat tanpa pikir panjang.
" Pakai apa?" Ryouta kembali bertanya. Menoleh pada daddy- nya.
Kicep. Sasuke mematung sejenak lalu menggerakkan tangan hendak menunjuk benda pribadinya sebelum akhirnya Naruto mencubit pipinya gemas, " Hentikan, Suke," desisnya pelan.
Dan pria itu tergelak. Sementara Menma sibuk menepuk pelan perutnya sambil berujar " Kenyang," setelah menghabiskan segelas susu cokelat.
" Daddy, pakai apa?" Ryouta kembali bertanya, alisnya bertaut dan kedua netra kelamnya menatap Sasuke lekat, menuntut jawaban. Naruto mengulum bibirnya sebentar, menanti apa kira- kira jawaban yang akan Sasuke berikan pada putra bungsunya.
" Kekuatan super?"
" Bhahahaaa," dan Naruto tergelak mendengarnya.
" Kekuatan super?"
Sasuke mengangguk. " Laki- laki yang sudah besar punya kekuatan super untuk memasukkannya," tambahnya. Meringis masam kala mendapati lirikan aneh dari Naruto.
" Seperti Batman dan eiyonmen?" Ryou memiringkan wajahnya.
" Ahahaha .. iron man, Otouto. Bukan eiyon," sahut Menma gemas sembari mencubit pelan pipi adiknya.
Ryou kembali membuka mulutnya, " Ayreon-"
" Iron."
" Aiyren-"
" Iron."
" eir-"
" Cukup. Yah, terserah. Aeyonmen juga boleh. Yang mudah saja."
"Aku juga mau kekuatan super," Ryouta menatap kakaknya dengan mata berbinar. Menma meletakkan telunjuk di dagunya berpikir sejenak. " Oke. Kalau sudah besar, Nii nii akan mengajarimu supaya dapat kekuatan super," putusnya. Mengabaikan sang daddy yang tiba- tiba tersedak kopinya sendiri. Dan sang mommy yang menghela nafas panjang dengan wajah geli.
" Pagiiiii," seruan panjang terdengar memasuki ruang makan kediaman Sasuke.
" Bito- niiiii."
" Haiss, Ryouta. Jangan berdiri tiba- tiba."
" Niiiiii, gendong."
" Halo, jagoan- jagoan kecilku. Menma, sudah siap?"
" Bito- Nii- chan, sebentar, aku pakai sepatu dulu."
Sasuke mengulas senyum kecil. Memandangi Naruto yang kini membantu merapikan dasi Menma dan Ryouta yang terpingkal di gendongan Obito.
" Obito, ini bekal makan siangmu."
" Thanks, Naruto- nee. Kau baik sekali aku jadi ingin menikahimu."
" Tidak boleh!"
" Astaga, Menma, aku hanya bercanda."
" Bito- niiii."
Ia ingat pertemuan terakhirnya bersama Naruko yang memintanya untuk tetap merahasiakan status mereka sebagai mantan suami istri, wanita itu juga memintanya untuk tidak menceritakan apapun tentang dirinya pada Menma dan Naruto. Yah, mau bagaimana lagi, Sasuke akan menghormati keputusan wanita itu jika itu untuk kebaikan mereka bersama. Dirinya juga sudah mewanti- wanti Hinata, sang ibu, Obito, dan keluarganya yang lain untuk tak membicarakan masa lalunya bersama Naruko.
Orang- orang menyebut wanita itu dengan panggilan 'Ruu' jadi kecil kemungkinan Naruto bisa mengenali jika Ruu dan Naruko adalah orang yang sama.
Remasan pelan terasa di telapak tangan, Sasuke menoleh dan mendapati Naruto yang menatapnya dengan raut cemas, " Kau melamun, Suke?"
Tersenyum kecil. Sasuke meraih pinggang sang istri dan menariknya untuk duduk di atas pangkuan. Matanya melirik sebentar pada si bungsu di depan TV, memastikan bocah itu dalam kondisi aman.
" Maafkan aku. Aku tidak bisa mencegah Ryouta yang membangunkanmu pagi tadi," Naruto berujar seraya menatap punggung kecil putra bungsunya yang tengah duduk di atas karpet dengan setumpuk lego warna warni.
" Tidak masalah. Aku juga perlu sarapan. Setelah ini aku butuh tidur beberapa jam lagi. Kepalaku pening."
" Harusnya kau minum obat dan bukannya kopi. Mau ku pijit?"
Sasuke menggeleng dan malah menyandarkan keningnya pada bahu si pirang, memeluk wanita itu erat. Pria itu memejamkan mata kala rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya yang terasa hangat. Sesekali tangannya mengusap lembut perut istrinya yang tengah mengandung 5 bulan. Dalam hati tidak sabar menanti kehadiran anak ke tiga nya.
" Dobe."
" Hm?"
" Aku mencintaimu."
" Apa sih?"
" Terima kasih sudah mau menerimaku kembali."
" Suke-"
" Terima kasih sudah mencintaiku."
" ..."
" Dan terima kasih menyayangi Menma sepenuh hati."
Sasuke mendongak, menatap manik sebiru samudra di hadapannya selama beberapa saat dan mengecup kening wanita- nya lembut. " Aku mencintaimu."
Naruto mengulas senyum manis. Mengusap lembut rahang suaminya dan mengecup keningnya sayang.
' Aku juga, Suke.'
..
..END
End?
Yuhuuuuu~
Akhirnya.
Setelah hibernasi panjang. Aw aw.. Menma kelarrrrr
Semoga puas sama endingnya.. (T.T)
Maaf untuk segala typo. Maaf untuk ending yang gak memuaskan. Maaf karena apdetnya selalu ngareeeeet. Dan maaf karena saya gak bisa balas review teman2 semua.
Terima kasih untuk bnyak dukungan dr teman2. Aku sayang kalian \(o.)/
Sampai jumpa di cerita2 saya yang lainnya.
.
.
Salam kangen berat,
Lukaz Luke
Watty: LukazLuke154
