Title : One More Time
Author : Dandelionleon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun. Other cast temukan sendiri.
Genre : Drama, romance, Yaoi
Rate : M
Disclaimer : Isi cerita milik saya. Nama pemeran cuma pinjam kok ._.v
warning ! Typo, alur gak jelas, percintaan sesama jenis. DLDR!
.
.
Enjoy ~
.
.
Baekhyun menunduk malu sekaligus takut. Takut dengan tatapan mengintimidasi dari wanita cantik paruh baya di depannya. Sesekali ia akan melirik pada sang kekasih di sebelahnya. Chanyeol hanya diam, sejak beberapa menit lalu sang ibu tersadar dari pingsannya akibat melihat hal tak senonoh dari anak semata wayangnya itu.
"Jadi... Bisa kalian jelaskan apa yang sedang kalian lakukan tadi?"
Chanyeol menatap ibunya lurus. Ia menghembuskan nafasnya dengan santai. Seolah hal yang baru terjadi beberapa belas menit yang lalu adalah hal yang biasa.
"Seperti yang eomma lihat. Apakah aku harus menjelaskan detailnya?"
Ternyata Chanyeol memiliki sifat kurang ajar yang mendarah daging. Bahkan terhadap ibunya sendiri ia berlaku seperti itu. Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya.
"Park Chanyeol! Kurang ajar sekali kau_"
"Eomma, bisakah kita membahas hal lain?"
Victoria menghembuskan nafasnya, kesal. Ia menatap Baekhyun lamat-lamat, setelahnya wanita itu mengangguk-angguk. Chanyeol tak tau pasti apa yang ada dalam pemikiran ibunya itu.
"Jadi, siapa pria mungil ini?"
Nada bicaranya terdengar dingin dan kaku, Baekhyun bisa merasakannya. Ia seperti melihat Park Chanyeol dalam versi wanita. Tentu saja, karena wanita itu ibu Chanyeol.
"Terang saja bukan? Untuk apa aku bercinta dengan orang yang tidak ku cintai?"
Iris mata Victoria melebar. Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu. Saat suami_ mantan suaminya berselingkuh dengan sahabat lelakinya. Ia menggeleng kuat-kuat. Kenapa hal tersebut juga terjadi pada anaknya? Menjadi pribadi menyimpang seperti ini.
"Lucu sekali. Ternyata kau dan Appa mu itu tak jauh beda." Ucap Victoria tersenyum miring.
"Lalu apa? Kau berniat tak merestui hubungan kami?" Tanya Chanyeol sakartik. Alisnya bertaut, raut wajahnya menampakkan ekspresi tak suka. di remasnya jemari Baekhyun yang berada dalam genggaman tangannya.
"Aku sebagai orang tuamu, tentunya ingin yang terbaik untukmu."
Chanyeol semakin menekuk kedua alisnya tak mengerti.
"Sepertinya aku harus pergi. Eomma hanya ingin melihatmu sebentar. Dan_ eomma sudah membicarakan masalah perjodohanmu dengan Appa kandungmu."
Mata Chanyeol melebar. Tak jauh beda dengan Baekhyun. Lelaki mungil itu merasakan nafasnya seperti tercekat. Perjodohan? Hal bodoh apa lagi yang akan mempermainkan hidup mereka?
"Apa? Perjodohan? K-kenapa?"
"Kami hanya ingin melihatmu memiliki pendamping, nak. Kau sudah berumur dua puluh tujuh tahun."
Rahang Chanyeol mengeras, lelaki itu bisa saja meledak setelah ini. Ia bangkit dari duduknya, setelah sebelumnya menggebrak meja.
"Lelucon apalagi ini? Bukankah dulu kalian pernah bilang aku berhak memilih jalan hidupku sendiri?"
Victoria hendak berbicara, namun Chanyeol mengangkat sebelah telapak tangannya. Mengisyaratkan sang ibu untuk bungkam.
"Aku tidak akan mau. Aku telah memilih Baekhyun sebagai pendamping hidupku kelak."
"Dan kau tetap memaksa sekalipun aku atau Appa mu menentang?" ejek Victoria.
"Aku tidak peduli."
Victoria bangkit dari duduknya, ia menepuk gaunnya pelan. Setelahnya ia tersenyum tipis.
"Aku akan melihat kesungguhan kalian berdua. Dan Baekhyun-ssi, aku mengawasimu."
"Eomma pergi dulu."
suara ketukan heels beradu dengan lantai marmer ruangan Chanyeol itu perlahan menjauh. Baik Chanyeol ataupun Baekhyun tak ada yang bersuara. Chanyeol terduduk lemas di sebelah Baekhyun.
"Baek, anggap saja omongan wanita tadi hanya_"
"Aku tau."
Chanyeol mengernyit tak mengerti. Dipandangnya wajah Baekhyun lamat-lamat, menanti penjelasan Baekhyun selanjutnya.
"Aku tau akan seperti ini. Hubungan tabu seperti ini takkan di restui orang tuamu." Lirih Baekhyun.
"Baek, percayalah. mereka akan memberi restu. Aku yakin, Appa akan merestui hubungan kita_"
"Lalu bagaimana dengan ibumu? Dia seperti tak suka terhadapku."
Chanyeol berdecak kesal. Di tariknya kedua bahu Baekhyun untuk berhadapan dengannya. Telapak tangan lebarnya perlahan menyentuh wajah manis Baekhyun.
"Baek, jika kau mencintaiku, kau takkan mempermasalahkan hal seperti itu. Soal perjodohan itu, mungkin karena mereka belum mengetahui jika aku telah memiliki kekasih saat ini."
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menahan agar air matanya tak luruh. Ia tak mengerti, benteng dingin yang ia bangun bisa langsung runtuh jika itu menyangkut Chanyeol. Katakanlah ia cengeng sebagai lelaki, namun Baekhyun tak dapat menahan segala rasa sedihnya saat ini. Ia menghambur ke pelukan Chanyeol. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Chanyeol.
"Maafkan aku, karena begitu lemah. Bahkan ini belum seberapa dan aku telah berfikir pesimis dengan kelanjutan hubungan kita."
Chanyeol menggeleng, di elusnya lembut helaian rambut Baekhyun.
"Tidak sayangku, aku mengerti. Aku akan mempertahankanmu sampai akhir."
.
.
Suasana mendung hari ini membuat Kyungsoo merutuk sebal. Acara kencannya dengan Jongin jadi terhalang. Padahal jarang sekali mereka bisa memiliki waktu untuk bersama. Mengingat pekerjaan Jongin sebagai pengusaha dan juga Kyungsoo si chef super sibuk membuat keduanya hanya bisa berhubungan lewat alat komunikasi. Ia jadi iri pada Luhan yang bisa memiliki banyak waktu dengan Sehun. Atau Baekhyun dan Chanyeol yang saat ini selalu memiliki waktu mesra bersama.
"Dasar menyebalkan!" Gerutunya. Ia menatap paper bag berisikan fruit cake kesukaan Jongin di tangannya. Padahal Kyungsoo sudah bersungguh-sungguh membuat cake tersebut.
GREPPP... Sebuah pelukan hangat terasa di punggungnya. Ia menoleh takut-takut jika itu adalah ahjussi mesum. Mengingat dirinya tengah berteduh di depan toko sepi.
"Sedari tadi aku meneriakimu dari seberang jalan hingga suaraku hampir serak. ternyata kau memakai earphone jelek ini!"
Kyungsoo tersenyum lebar saat yang dilihatnya adalah Jongin. Ia memeluk lelaki tan itu tiba-tiba, membuat Jongin terlonjak kaget.
"Akhirnya kita bisa bertemu."
Jongin terkekeh sebagai respon. Ia mengusak helaian rambut hitam Kyungsoo.
"Well, sepertinya ada yang sangat merindukanku disini. Ayo kita berkencan!"
"Tapi hujan, bagaimana bisa kita ke taman bermain?"
"Berkencan di ranjang jauh lebih baik, ku rasa." Bisik lelaki tan mesum itu dengan menggoda.
Baiklah, untuk kali ini Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Jujur saja, ia juga merindukan sentuhan lelakinya itu. oke, biarkan keduanya pergi ke hotel untuk 'menghangatkan' suasana.
.
.
Chanyeol menatap keluar jendela dengan pandangan kesal. Sial sekali, Jongin mengerjainya. Lelaki berkulit tan itu mengatakan ia akan datang ke kantor Chanyeol untuk membicarakan proyek baru. Padahal jam kerja Chanyeol telah usai beberapa waktu lalu. Dan sialnya, saat lima menit lalu ia menelpon sahabatnya itu, justru yang ia dengar adalah suara desahan. Desahan Kyungsoo tentunya.
"Awas kau Kim Jongin! Aku jadi terisolasi disini karenamu!"
Dirasanya akan membuang-buang waktu jika terus-terusan disana. Akhirnya, Chanyeol memutuskan untuk ke apartemen Baekhyun saja. Entahlah, akhir-akhir ini ia merasa lebih nyaman berada disana di bandingkan berada di apartemennya sendiri. Mungkin salah satu alasannya adalah Baekhyun. Tentu saja, siapa yang tidak mau berdekatan dengan kekasih sendiri? Apalagi di saat hujan begini. Ups...
Chanyeol mengendarai Bugatti hitamnya dengan kecepatan sedang. Matanya tak sengaja melihat
kedai yang menjual Baljirak kalguksu.
Bajirak adalah sejenis kerang yang hidup di perairan Korea, Jepang, dan Cina. Kuah guksu yang hangat dan kaldu kerang yang kaya akan protein dapat memberikan rasa hangat pada tubuh saat musim hujan sekaligus menjaga kesehatan tubuh. Baekhyun pasti suka mie dengan banyak kerang itu. Walaupun sebenarnya Chanyeol alergi dengan seafood.
Chanyeol turun dari mobilnya, membuka payung biru tua miliknya untuk menghindarinya dari hujan yang tengah mengguyur Seoul. Ia memasuki kedai kecil tersebut lalu memesan satu porsi baljirak.
"Terima kasih ahjumma." Ucapnya disertai senyuman manis. Jarang-jarang seorang Park Chanyeol mau tersenyum seperti itu. Mungkin kehadiran Baekhyun sedikit semi sedikit mengubah sikap dingin dan angkuhnya.
Pria berambut hitam itu telah sampai di apartemen sang kekasih. Ia memencet bel apartemen Baekhyun, menanti kekasihnya membukakan pintu. Walaupun mereka telah memiliki ikatan, privasi masing-masing sepertinya masih terjaga. Terbukti dari keduanya yang belum memberi password apartemen masing-masing. Chanyeol masih menghormati Baekhyun untuk tidak merengek meminta password apartemennya.
"Tunggu sebentar_Chanyeol?"
Bibir Chanyeol mengukir sebuah senyuman. Ia mengangkat plastik putih bening berisikan semangkuk baljirak yang tadi di belinya.
"Zzan! Aku membawa makanan untukmu, kau sudah makan?"
Baekhyun menggeleng dengan wajah bingung.
"Tidak, aku belum makan tapi_"
"Hey, apa kau terus membiarkan aku di depan pintu seperti ini? Dingin Baek~"
Lagi-lagi Baekhyun menggeleng dengan wajah bodohnya. Ia memberi sedikit jalan untuk lelakinya.
Hidung Chanyeol mengendus bau gosong saat ia masuk, tepatnya di daerah dapur.
"Baek, ini bau ap_"
"Aaaa~ masakanku gosong!"
"Ada apa dengannya?" Gumam Chanyeol datar dengan mata melirik sang kekasih yang kalang kabut seperti orang kebakaran jenggot.
Dasar Baekhyun!
Ternyata begitu sifat aslinya? Fikir Chanyeol.
Sebenarnya, merajuk karena hal sepele di usia kepala dua seperti ini terlihat kekanakan dimata Chanyeol. Baekhyun hanya duduk dengan wajah tertekuk semenjak insiden masakannya gosong beberapa saat lalu. Chanyeol yang baru saja menyiapkan makanan yang tadi di bawanya ke dalam mangkuk, duduk mendekati Baekhyun.
"Cha~ sudah ku hangatkan. Sekarang makanlah. Kau pasti suka!"
Baekhyun berbalik, menatap Chanyeol dengan wajah murungnya. Seolah tertular, Chanyeol ikut memasang wajah masamnya pula. Baekhyun tersentak, sepertinya ia telah menyinggung perasaan Chanyeol. Seolah ia tak berterima kasih karena kekasih jangkungnya mau membawakannya makanan.
"Terima kasih." Ucap Baekhyun tulus, lalu mengecup pipi Chanyeol singkat-walau sedikit malu.
Senyum Chanyeol melebar, ia mengusak helaian rambut halus Baekhyun dengan gemas.
"Aku makan ya?" Ucap Baekhyun seolah meminta persetujuan.
"Makanlah yang banyak, sayang."
Baekhyun tersenyum, hingga gigi-gigi kecilnya yang rapi terlihat. Selanjutnya, lelaki mungil itu memakan Baljirak nya dengan lahap. Pipinya sampai menggembung karenanya.
'sangat imut.' batin Chanyeol gemas.
"Yeol? Kau tidak makan?" Tanya Baekhyun di sela-sela makannya.
"Aku alergi seafood sayang."
"Huh! Jika alergi seafood, kenapa membeli makanan ini? Aku tidak mau makan jika kau tidak makan!" Rajuk Baekhyun.
Ugh, kekasihnya itu sedang datang bulan atau bagaimana sih? Kenapa dari tadi merajuk terus?
Chanyeol menghela nafasnya. Sejujurnya ia juga lapar, tetapi rasa laparnya telah menghilang saat melihat Baekhyun makan.
"Nanti, aku akan makan. Sekarang makan atau aku yang akan memakanmu!"
Baekhyun terdiam dengan pipi memerah. Buru-buru ia makan dengan diam. Chanyeol hampir saja mengeluarkan tawanya jika saja bunyi ponselnya tak mengganggu acara mari-melihat-Baekhyun.
Alisnya tertaut saat melihat panggilan tersebut berasal dari ayahnya. Chanyeol tak ambil pusing setelahnya, ia langsung saja mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseyo?"
'...'
"Aku di rumah kekasihku. Ada apa?"
'...'
"A-apa? Tapi Appa_"
'...'
"Baiklah, besok kami kesana."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan bertanya. Lelakinya itu terlihat suntuk setelah menerima panggilan dari ayahnya.
"Ada apa?"
"Appa mengancam akan menjodohkan aku dengan orang pilihannya jika besok kita berdua tidak ke rumahku."
Baekhyun tersedak dengan kuah yang hampir saja ia telan, menimbulkan rasa pedih di hidung dan kerongkongannya. Dengan cepat di teguknya air putih hingga tersisa setengah gelas saja.
"Apa? Tapi... Yeol? Aku belum siap! Bagaimana jika Appa mu bersikap dingin padaku? Bagaimana jika_"
"Kita hadapi bersama Baek. Aku takkan melepaskanmu jika mereka menginginkan hal yang tidak kita inginkan."
Baekhyun menatap mata Chanyeol dalam-dalam. Ia tau, Chanyeol bersungguh-sungguh akan ucapannya. Tak ada keraguan sedikit pun yang ia lihat. Rasa percaya diri tiba-tiba muncul dari dirinya. Ia mengangguk, walau pelan, lalu memeluk leher Chanyeol dengan erat.
"Aku mencintaimu." Bisiknya pelan.
"Aku lebih mencintaimu, sayangku."
.
.
Mata sipit Baekhyun menatap bangunan besar di depannya dengan takjub. Mansion keluarga Park yang begitu besar. Tempat dimana Chanyeol tumbuh dari kecil. Ia menyadari betapa kaya harta yang dimiliki keluarga kekasihnya. Sementara ia hanyalah anak seorang karyawan kantoran dengan kekayaan yang tak seberapa. Rasa minder datang menghinggap. Walaupun dirinya telah memiliki pekerjaan yang mumpuni, apakah respon Ayah Chanyeol akan baik nantinya? Sementara nyonya Park saja seperti tak menyukainya.
Tangan Baekhyun berkeringat dingin. Rasa gugup tak terkontrol lagi rasanya. Berulang kali ia melirik pakaian yang ia kenakan. Apakah ada kekurangan, aneh, atau tidak sama sekali. Balutan jas semi-formal abu-abu tua di sertai kemeja baby violet dan celana hitam terlihat cocok untuknya. Sayangnya Baekhyun tak percaya diri akan hal itu. Ia mengetuk-ngetukkan sepatu kulit hitamnya di lantai beranda rumah Chanyeol.
Mata sipit berhias eyeliner itu menatap tajam Chanyeol yang terlihat santai dengan wajah sok dinginnya. Lelaki itu menekan bel dengan santai.
Baekhyun tersentak saat pintu besar tersebut terbuka. Diameter matanya membesar saat melihat siapa seseorang di depannya.
"Zelo!" Pekiknya girang, secara tak sengaja.
Zelo tersenyum manis, membalas pelukan Baekhyun. Namun buru-buru di lepasnya saat melihat pandangan tajam Hyung tiri nya.
"Kenapa kau disini?" Tanya Chanyeol datar.
"Appa menyuruhku kemari. Kalian masuklah, mereka sudah menunggu di dalam."
Mereka? Itu berarti lebih dari satu orang!
Tentu saja Baekhyun!
Baekhyun berjalan, mencoba tak menunjukkan kegugupannya. Ia bukan narapidana yang akan di hukum mati oke? Hanya bertemu 'calon mertua'. Ya, HANYA!
"Annyeonghasseyo. Appa, Eomma."
Chanyeol membungkuk, Baekhyun turut pula mengikutinya. Ia melihat Ayah Chanyeol seperti menatapnya menilai. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu tersenyum tipis padanya. Menyuruh keduanya untuk duduk di sofa hitam pekat di sana.
Baekhyun melihat ibu tiri Chanyeol-Tiffany Hwang namanya- tersenyum manis padanya. Wanita itu terlihat begitu anggun dan ramah. Sekilas mirip Zelo, tentunya. Itu ibu kandungnya oke?
Beda halnya dengan Tiffany. Victoria, ibu kandung Chanyeol justru memasang wajah datar. membuat nyali Baekhyun sedikit menciut.
"Jadi, siapa namamu?" Tanya tuan Park.
Baekhyun berdehem sejenak untuk mengusir rasa gugupnya.
"Byun Baekhyun, tuan." Ucapnya sesopan mungkin.
Tuan Park mengangguk. Ia melirik mantan istrinya yang duduk di sebelah kanannya.
"Sejak kapan kalian terikat hubungan?"
"Sejak sebulan yang lalu, Tuan."
Chanyeol hanya diam, menunggu omongan sang ayah yang mungkin saja akan membuat kekasihnya tak bisa berkata-kata.
"Masih terlalu dini." Gumam tuan Park.
Baekhyun tetap menatapnya dengan tegas.
"Keluarga Park adalah keluarga terpandang. Kami membutuhkan keturunan kelak untuk meneruskan perusahaan yang kami emban. Harapan kami hanya ada pada Chanyeol, anakku. Jadi... Aku berfikir jika dia bersamamu, keinginan kami takkan pernah bisa tercapai."
DEG! Ini yang Baekhyun takutkan. Menyangkut pautkan masalah gender, anak. Baekhyun takkan mampu berucap jika menyangkut hal tersebut. Bagaimana pun ia adalah seorang lelaki yang takkan bisa melahirkan keturunan.
Chanyaeol berdecak pelan. Ia sudah tau akan begini jadinya. Ucapan orang tuanya beberapa tahun lalu yang mengatakan akan memperbolehkannya menentukan pilihan hidup sendiri seperti bual baginya. Lelaki jangkung itu hendak menyela perkataan sang ayah, tetapi Baekhyun lebih dulu berucap di banding dirinya.
"Maaf tuan. Jika menyangkut hal itu, aku memang takkan bisa memaksa kodrat Tuhan jika lelaki tak bisa melahirkan keturunan."
"Memaksa kodrat Tuhan? Lalu bagaimana dengan hubungan 'lelaki dan lelaki' yang kalian jalani sekarang ini?"
Victoria tersenyum miring, bukan karena ucapan Baekhyun tetapi lebih ke ucapan mantan suaminya.
Bukankah dia dulu juga demikian? batinnya.
"Jika hal itu, Kami bukan 'memaksa', namun Tuhan yang memberinya. Cinta itu tumbuh di hati kami. Bukankah cinta berasal dari Tuhan? Jadi, tak ada yang salah dengan perasaan yang kami miliki. Aku rasa, sedikit banyaknya anda juga paham dengan perasaan seperti itu." Ucap Baekhyun mantap, tak ada ketakutan.
Tuan Nickhun Park itu sempat terbelalak mendengar ucapan akhir Baekhyun. Ya, ia sadar jika dulu dirinya pernah 'menyimpang' seperti anaknya. Tetapi dirinya bertanya dalam hati, dari mana kekasih dari anaknya itu mengetahuinya? Sempat terlarut dengan pemikirannya, akhirnya Nickhun kembali membuka pembicaraan.
"Baiklah, jika begitu buktikan seberapa cinta yang kalian miliki. Dan untukmu, Baekhyun-ssi... Aku ingin melihat kesungguhanmu pada putraku." Ucap Nickhun dengan senyuman.
Baekhyun tak tau, apa arti senyuman itu. Apakah senyuman yang memiliki arti baik. Atau justru senyuman yang terkandung racun di dalamnya. Baekhyun harap itu adalah senyuman tulus yang akan membuka sedikit jalan hubungannya dengan Chanyeol.
"Aku akan membuktikan itu, Tuan."
.
.
TBC
.
.
Halo? maaf, baru nongol. Author sarap lagi di timbun banyak tugas. Belum lagi ujian akhir udah di depan mata. Dosennya ngasih tugas sebanyak cinta Chanyeol ke baekhyun masa... Banyak banget~ /nangis gelundungan/ ...
Hehe, sebenernya aku udah stuck dengan FF ini. jalan ceritanya udah ngambang. Tapi, berhubung readers udah pada nagih dan kasian juga udah nungguin lama. Jadinya, malam ini aku apdet. Walau aku kurang puas dengan chapter ini. Plisss... Ini ngetiknya dengan otak di penuhi pemikiran tentang tugas... Tugas... Dan tugas! O.o
oke, lupakan sejenak penat yang ada. Semoga kalian bisa menikmati ff ini. Mungkin chapter depan ff ini bakal ending. doain aja semoga gak ada halangan biar bisa update.
Makasih buat yang masih setia dengan FF ini. Yang review di chap lalu, makasih banget.
baiklah... Dimohon berikan tanggapan kalian tentang chapter ini di kotak review.
Annyeong...
PS : Chapter depan bakal ada 'kejutan'! So... Stay tune terus ya? /ngilang/
