Naruto milik Masashi Kishimoto

Rate: T

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Action

Warning :
- Naruhina Alternate Universe
- Ide murni milik saya
- Jika ada kesamaan alur, karakteristik cerita dan tokoh, atau lain-lain maka murni merupakan ketidaksengajaan
- Typo(s)
- DLDR.

...

Magnetic

Chapter 14

...

Happy Reading

...

Dua minggu kemudian akhirnya Naruto bisa bebas bergerak seperti biasa. Sebenarnya ia sudah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, tapi neneknya memaksanya diam dirumah dan melarangnya keluar satu langkahpun dari pintu rumahnya. Untung saja Naruto bisa meyakinkan neneknya bahwa ia sudah merasa sehat, jika harus berdiam diri dirumah itu satu hari lagi, Naruto mungkin akan benar-benar gila.

Naruto mengemudikan mobilnya dijalan raya. Ia akhirnya bisa kembali mendapatkan mobilnya yang disita meski harus membayar denda yang tidak sedikit, lagipula itu memang salahnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak peduli dengan yang lain saat itu.

Naruto melajukan mobilnya menuju markas besar Kepolisian Nasional Jepang di distrik Chiyoda. Melalui Sasuke, Naruto meminta bantuan Itachi untuk bisa menginterogasi pria yang menjadi penyandera Hinata waktu itu. Hinata sudah mengatakan kebenarannya, saatnya mengetahui kebenaran dari pria itu. Ia perlu memaksa pria itu bagaimanapun caranya, karena Hidan, meskipun sudah mereka tahan, dia menolak membuka mulut sama sekali, dan mereka kembali menemui jalan buntu.

Naruto masuk ke ruangan Itachi, dan disana juga ada Sasuke. Begitu Naruto tiba disana, Itachi langsung bertanya tanpa basa-basi. "Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu dengan pria itu Naruto?"

"Ada sesuatu yang ingin aku pastikan, kau bisa memberikan izinnya kan Itachi?" tanya Naruto.

"Ya, tapi tidak bisa terlalu lama, hanya lima belas menit."

"Tidak masalah, itu sudah cukup."

Mereka keluar dari ruangan Itachi menuju ruang interogasi. Dalam perjalanan kesana Naruto bertanya pada mereka, "Bagaimana dengan Hidan?"

Sasuke langsung merengut kesal, "Masih tetap bungkam seperti sebelumnya. Karena dia tidak terpengaruh sama sekali dengan siksaan macam apapun, kita tidak punya sesuatu yang bisa membuatnya bicara."

Naruto mengangguk mengerti, Kakuzu saja bahkan menembak dirinya sendiri. Mungkin mereka sudah meremehkan ketangguhan akatsuki.

"Pria itu sudah ada didalam, kami akan melihat dari ruangan sebelah." ucap Itachi.

Naruto mengangguk ia memutar kenop pintu dan membuka pintu. Disana pria tua yang bernama Tazuna itu duduk dengan kedua tangan diborgol diatas meja. Pria itu mendongak menatap Naruto ketika ia mendengar suara pintu yang dibuka, Naruto menutup pintu berjalan menuju kursi dihadapan pria itu.

"Kenapa aku dipanggil untuk interogasi lagi? aku sudah mengatakan semua yang aku tahu." ucap pria itu.

"Aku akan memberikan penawaran, kau bilang anak dan istrimu sedang disandera oleh orang yang menyuruhmu kan?" pria itu mengangguk dengan cepat, kemudian Naruto melanjutkan. "Aku akan menyelamatkan anak dan istrimu, dengan syarat kau harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur."

"Aku sudah mengatakan semua yang kutahu." sahut pria itu dengan lirih.

"Tidak semuanya, siapa gadis SMA itu?"

Pria itu melotot kaget menatap Naruto dengan pucat, sementara Itachi dan Sasuke diruangan sebelah semakin penasaran dengan ucapan Naruto.

"A-apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura tidak tau, gadis SMA yang seharusnya menjadi target sanderamu. Karena terburu-buru dan panik kau salah menangkap sandera kan? seharusnya bukan temanku yang kau sandera, tapi seorang gadis SMA yang didorongnya dengan tidak sengaja." jelas Naruto.

Pria itu menunduk mengalihkan pandangan dari Naruto. "A-aku tidak mengerti maksudmu."

"Dengar, aku bisa saja memeriksa cctv tempat itu untuk mencari info dengan melihat wajahnya disana, tapi itu akan membuang waktuku, aku ingin jawaban segera. Jika aku sampai mengetahui tentang identitas gadis itu dan kau berbohong mengenai kata-katamu ini, maka kupastikan kau tidak akan pernah bertemu anak dan istrimu lagi." Pria itu gemetaran mendengar suara yang mengancam dari Naruto. Naruto tidak sedang main-main, ia akan melakukan apa yang perlu ia lakukan.

"G-gadis itu bernama Fuu, dia anak gelap hasil perselingkuhan Menteri Kehakiman saat ini, Kumoga Bee." pria itu berujar pelan.

Naruto mengangguk mengerti, " Apa kau akan membunuhnya?"

Pria itu menggeleng dengan cepat, "Tidak, aku hanya ditugaskan untuk membuat keributan dengan mengancam anak itu. aku sungguh tidak tau apa rencananya. aku hanya diberitau untuk memancing keributan sebanyak mungkin dengan bom ditubuhku hingga media meliput berita itu."

"Tapi kau salah target dan aku juga meringkusmu dengan cepat." Naruto meneruskan kelanjutan kejadian itu.

Pria itu mengangguk mengiyakan, kemudian mendongak dengan cepat pada Naruto. "Aku sungguh-sungguh sudah mengatakan semua yang kutahu. Apa kau benar-benar akan menyelamatkan anak dan istriku?"

"Ya, sebelum itu kami perlu mencari keberadaan mereka terlebih dahulu, aku tidak akan menjanjikan ini akan cepat, tapi aku janji akan berusaha menyelamatkan mereka."

Pria itu tertunduk dan mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Naruto. Naruto keluar dari ruangan itu dan menemui Sasuke dan Itachi.

"Darimana kau mengetahui tentang gadis SMA itu?" Tanya Sasuke.

"Dari Hinata. Sekarang kita perlu bantuan Shikamaru lagi untuk melacak keberadaan anak dan istri pria itu. Ada kemungkinan mereka bersama anggota akatsuki. Dan juga kita perlu menyelidiki tentang Menteri Kehakiman, apa yang akatsuki mau dengan mengancamnya menggunakan anak gelapnya."

Itachi dan Sasuke mengangguk setuju. Mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya Naruto pergi dari situ. Sasuke mengantar Naruto menuju lantai dasar.

"Ngomong-ngomong dimana Sai?" Naruto hari ini tidak melihat Sai sama sekali.

"Dia sedang berkencan dengan Ino." sahut Sasuke. Naruto mengangguk mengerti, kemudian Sasuke kembali bicara. "Mau kemana kau setelah ini?"

Naruto menimbang apakah dia perlu mengatakannya dengan Sasuke. Tapi jika Naruto berbohong, ada kemungkinan Sasuke tetap akan tahu kebenarannya suatu saat nanti, dan ia bisa jadi bahan ledekan habis-habisan.

"Aku ada janji dengan Hinata." ucap Naruto santai agar terdengar tidak begitu peduli. Naruto sedikit melirik untuk melihat reaksi Sasuke. Seperti dugaannya, senyum tipis menyebalkan itu muncul dari wajahnya yang biasa terlihat stoic itu.

"Jadi kau juga mau berkencan ya." ejek Sasuke.

"Sudah kubilang itu bukan kencan! Kami hanya berjalan-jalan biasa, hanya sebagai permintaan maaf."

"Ya,ya baiklah. Kau hanya pergi berjalan-jalan, berdua dengan Hinata, entah kemana. Baiklah itu bukan kencan." senyum menyebalkan itu masih terus melekat diwajah Sasuke. Dia bahkan tidak melirik wajah Naruto sedikitpun, hanya menatap pintu lift yang masih terus berjalan turun.

Sialan, Naruto juga mengalihkan pandangannya dan melipat tangan kedada "Hei! aku sering bepergian berdua denganmu atau Sai, tapi tidak ada yang menyebut itu kencan -kecuali kakek dan nenekku- dan kenapa itu menjadi hal yang berbeda sekarang."

Sasuke sedikit melirik kearah Naruto, "Kau benar-benar mau tau jawabanku?"

Naruto berpikir sejenak, "Tidak, tidak perlu."

Sasuke mendengus geli. Ya, Sasuke tidak perlu memberikan jawabannya karena Naruto juga sudah tau jawabannya.

Karena gadis itu punya tempat istimewa dihati Naruto.

.

Naruto sudah berada didepan butik Hinata. Ia masuk kesana dan disambut oleh seorang pramusaji yang Naruto kenali sebagai Ayumi, dan juga ada Mei yang menjadi manajer butik. Mei segera saja menyuruh Ayumi untuk memanggil Hinata diruangannya. Tidak lama setelah Hinata muncul, mereka segera meninggalkan butik.

"Jadi, kemana sebenarnya kau berniat membawaku pergi?" ucap Hinata ketika mereka sudah berada didalam mobil.

"Nanti juga kau akan lihat sendiri." sahut Naruto santai.

Hinata menyipitkan mata menatap curiga pada Naruto, "Kau tidak akan membawaku ketempat yang aneh kan?"

"Apa maksudmu tempat yang aneh?"

"Entahlah, seperti tempat mesum mungkin?"

Naruto langsung tersedak, ia melotot sekilas pada Hinata, "Memangnya kau pikir aku ini pria macam apa? Gigolo?"

Hinata langsung terkikik pelan, "Wah ternyata kau tau juga istilah macam itu. Aku cuma bercanda."

Naruto mengerucutkan bibirnya, "Candaanmu tidak lucu."

Mereka mengobrolkan hal ringan sepanjang jalan hingga Naruto berhenti di daerah pusat perbelanjaan La Porte Aoyama. Setelah memarkir mobil mereka berjalan menuju pintu masuk gedung.

Ketika tengah berjalan ditrotoar menuju tujuan mereka, Naruto menyadari Hinata tidak lagi berjalan disampingnya. Naruto berbalik dan menemukan Hinata tengah berdiri sambil menunduk beberapa langkah dibelakangnya. Ia mendekati Hinata.

"Kenapa Hinata?"

Hinata masih menunduk sambil mengucek matanya. "Sepertinya mataku kemasukan debu."

"Benarkah, coba kulihat." Naruto berdiri semakin mendekat tepat dihadapan Hinata. Hinata mendongakkan wajahnya karena Naruto yang lebih tinggi darinya. Ia masih mengucek pelan mata kanannya.

"Jangan disentuh, nanti semakin parah." Naruto menahan tangan Hinata dan meniup-niup mata kanan gadis itu beberapa kali. Hinata mengejapkan matanya dengan pelan untuk mengurangi rasa perih dimatanya.

Setelah matanya terasa lebih baik, Hinata baru menyadari wajah Naruto begitu dekat denganya. Dalam keadaan tercengang, Hinata masih mendongak menatap Naruto dan jantungnya berdetak cepat diluar kendalinya, sehingga ia takut Naruto mungkin bisa mendengar suara jantungnya. Mata biru pria itu begitu dekat dengan matanya dan mau tidak mau Hinata merasa terpesona dengan keindahan mata itu.

Naruto sendiri sudah tenggelam dalam mata amethys pudar gadis itu. Aroma menyenangkan yang selalu memabukkan Naruto tercium dengan jelas oleh hidungnya dalam jarak sedekat ini, campuran antara aroma feminim wanita dan parfum lavender yang menenangkan sangat khas Hinata. Bibir merah muda gadis itu adalah godaan yang sulit untuk diabaikan. Naruto nyaris tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk menarik Hinata mendekat. Mencium Hinata akan menjadi hal paling alami dan menyenangkan.

Hinata yang pertama kali tersadar dengan posisi mereka yang terlalu dekat, Hinata mundur selangkah untuk mengambil jarak. Sorot gelisah dimata Hinata menyadarkan Naruto. Ia berdehem pelan untuk menormalkan jantungnya. Ia kemudian menyadari tangannya masih menahan tangan Hinata diudara. Naruto menurunkan tangan mereka, tapi tidak melepaskan pegangannya. Naruto justru menggenggam tangan Hinata semakin erat.

Naruto menarik Hinata kembali menyusuri jalan dalam diam. Hinata tidak bisa memprotes tangan besar dan hangat yang dengan lancang mengenggam tangannya. Hinata menyukai rasa aman yang tercipta akibat genggaman yang protektif itu.

Ketika tiba di depan gedung, mereka masuk kesebuah cafe bernama Pierre Hermé. Hinata belum pernah ke cafe ini. Matanya berbinar-binar ketika memasuki cafe, dia sudah disuguhi jeretan berbagai macam kue. Naruto membawa Hinata menuju etalase yang menyediakan berbagai macam cake. Hinata mengangkat tangan menutupi mulutnya yang terbuka melihat deretan cake dan macaron lezat yang ada dietalase tersebut.

"Pilih yang kau suka." kata Naruto.

Hinata mendongak menatap Naruto seperti anak kecil, "Aku suka semuanya."

Naruto terkekeh pelan, ia tidak keberatan membeli semua kue yang ada disini untuk Hinata, jika gadis itu memang sanggup menghabiskan semuanya.

Mereka memesan tujuh jenis potong kue yang berbeda yang semuanya dipilih oleh Hinata. Naruto dan Hinata naik ke lantai dua dan duduk di kursi tinggi dan meja menghadap ke jendela besar yang mengarah langsung kejalan raya.

Hinata mencoba setiap potong kue dan mengomentarinya dengan gerakan tangan yang ekspresif, persis seperti anak berusia sepuluh tahun. Naruto sendiri lebih memilih bertopang dagu menghadap Hinata dan mendengarkan semua celotehan gadis itu tentang rasa, tekstur dan bentuk setiap potong kue yang dimakannya, sambil tersenyum pada Hinata.

"Kau tidak mau kue ini?" tawar Hinata.

Naruto menggeleng, aku lebih suka melihatmu "Aku lebih suka makan ramen."

"Benarkah? kau mau kutemani makan ramen setelah ini?"

Naruto mengangkat alis, ia tidak mengangka akan mendapatkan tawaran seperti itu. "Boleh aku menyimpan tawaran yang satu itu untuk lain kali?" Jika ia punya kesempatan lain, Naruto lebih memilih menikmatinya tidak dalam satu hari.

"Tentu saja, kapanpun kau mau." sahut Hinata. Ia kemudian kembali menikmati kue-kuenya.

Naruto kembali tersenyum pada Hinata, namun kemudian dia teringat sesuatu, "Hinata kau masih ingat dulu kita pernah saling bertanya dan menjawab bergantian?"

Hinata berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Aku ingat, aku masih berhutang satu jawaban dan kau berhutang satu pertanyaan padaku."

"Ya, jadi apa kau mau menjawabnya sekarang? Kau akan menerima ajakan kencan Toneri?" tanya Naruto was-was.

Hinata meletakkan garpu kecilnya di piring, kemudian ia bertopang dagu dengan dua tangan dan menatap ke jalan raya. "Karena aku sudah berjanji padanya, kurasa ya, setidaknya aku harus menerima ajakannya satu kali."

Hati Naruto langsung mencelos, itu bukan jawaban yang diharapkan Naruto. Tapi sayangnya ia tidak punya hak untuk berpendapat apapun tentang keputusan gadis itu. "Hinata, boleh aku meminta sesuatu padamu?"

Hinata berpaling pada Naruto, "Ya?"

"Jika.. jika nanti kau menerima ajakan kencannya, apa kau mau memberitahuku kapan persisnya kalian akan pergi?"

Hinata terdiam beberapa saat, ia bertanya-tanya apa alasan Naruto menginginkan hal tersebut, tapi firasatnya mengatakan untuk jangan pernah menanyakan alasannya pada Naruto. Hinata kemudian menimbang-nimbang dan mulai bicara, "Sebenarnya dua hari lalu, saat kau tidak masuk kuliah, Toneri sudah menagih janji kencannya itu. Karena aku sudah terlanjur berjanji jadi aku menerimanya. Kami akan pergi jumat malam nanti."

Itu artinya tiga malam lagi dari sekarang. Naruto merenung tanpa sadar memikirkan hal itu, walaupun ia tau, tidak ada yang bisa dilakukannya. Bagaimana jika Toneri berencana kembali melamar Hinata lagi malam itu? Apa jawaban yang akan diberikan Hinata? Apa dia perlu membuntuti kencan mereka?

Tidak. Jika Hinata tau, ia bisa kembali dibenci oleh Hinata.

Hinata tidak tau kenapa tiba-tiba Naruto terdiam seperti itu. Hinata kembali melanjutkan memakan kuenya dan membiarkan Naruto bergulat dengan pikirannya.

"Aku juga boleh menagih pertanyaanku kan?"

Suara Hinata menyadarkan Naruto dari lamunannya. Ketika ia berpaling, Hinata sudah menatapnya. Naruto mengangguk mengiyakan.

"Kapan kalian akan kembali menangkap anggota akatsuki lagi?" tanya Hinata.

"Aku juga tidak tau, kami masih belum punya informasi yang jelas tentang keberadaan anggota-anggota mereka. Begitu kami punya informasi, mungkin kami akan segera menjebak mereka." jelas Naruto.

Hinata menatap Naruto dengan intens membuat Naruto sedikit merasa gugup. "Apa aku juga boleh meminta hal yang sama?" tanya Hinata.

"Meminta apa?"

"Apa kau mau memberitahuku jika saatnya nanti kau akan menangkap mereka lagi?"

Kening Naruto berkerut heran, kenapa Hinata ingin tahu tentang hal itu? "Memangnya ada apa?"

Hinata bergerak salah tingkah mendapati pertanyaan balik seperti itu, "Apa tidak boleh? itu rahasia ya?"

Naruto menggeleng, "Tidak, aku akan memberitahumu jika kau memang ingin tau, tapi kenapa kau ingin tau?"

Hinata menegakkan duduknya menunduk memotong kuenya, "Hanya antisipasi, jika mungkin nanti kau menghilang lagi, aku bisa bertanya pada pihak yang tepat." Hinata kemudian menyuap sepotong demi sepotong kue lagi.

Apa Naruto boleh mengasumsikan jika Hinata memang menunggunya ketika ia meninggalkan janjinya dua minggu lalu? "Apa itu artinya kau mencariku dua minggu lalu?"

Hinata mengangkat bahu sambil terus mengigit kuenya, "Aku hanya sedikit khawatir karena kau tidak datang sore itu." Itu tidak bohong, Hinata memang khawatir karena Naruto tidak datang menjemputnya sesuai janjinya.

Naruto tersenyum sumringah, Hinata yang khawatir padanya itu awal yang bagus. Naruto mengambil sepotong kue didepan Hinata dan memakannya. Hinata kaget tiba-tiba sebuah tangan mencuri kuenya. Ia berpaling pada Naruto, "Kau bilang tadi tidak mau kue?"

Naruto mengangkat bahu, "Aku bilang aku lebih suka ramen, aku tidak bilang tidak mau kuenya."

Mereka menghabisakan sisa kue itu bersama. Naruto bahkan ikut bergurau tentang kue-kue yang mereka makan. Naruto bertanya pada Hinata apakah ada kue dengan rasa ramen dan sontak membuat Hinata tertawa. Sisa waktu mereka terlewati dengan suara tawa renyah Hinata karena kekonyolan Naruto.

Naruto mengantarkan Hinata pulang kerumahnya sebelum hari terlalu gelap. Sebelum ini Naruto tidak pernah menyadari jika ia tidak mengetahui dimana rumah Hinata.

"Kau mau mampir?" tawar Hinata.

Naruto menggeleng, "Lain kali saja." Mereka sedang berdiri didepan rumah Hinata. Naruto mengantarkan Hinata hingga kedepan pagar rumahnya. Hinata melambai ke arah Naruto dan berbalik menuju pintu. Namun baru setengah jalan Hinata berbalik lagi pada Naruto.

"Naruto."

Naruto yang masih belum beranjak dari sana bergumam membalas panggilan Hinata.

"Terima kasih sudah mengajakku hari ini. Kencannya sangat menyenangkan." Hinata langsung berbalik dan setengah berlari menuju pintu rumahnya. Ia masuk dan meninggalkan Naruto yang masih berdiri cengo akibat kata-kata Hinata.

Jadi... Hari ini mereka benar-benar pergi berkencan?

.

.

.

Naruto langsung menghela nafas lelah begitu melihat Sasuke dan Sai berada didepan kelasnya. Naruto berjalan kearah mereka, "Jadi ritual ini kembali dimulai?"

"Jangan terlalu murung begitu, sudah lama kau tidak masuk kuliah. Atau kencanmu tidak berhasil Naruto?" ucap Sai.

Naruto langsung mengerang kesal dan mendelik pada Sasuke. Sasuke tidak peduli, dia hanya mengangkat bahu. "Ayo ke cafetaria."

"Ayolah ceritakan sedikit tentang kencanmu Naruto, apa semuanya berjalan dengan lancar?" Sai berjalan mengiringi Naruto, merangkul pundaknya seperti sahabat karib.

"Tutup mulutmu Sai." Naruto benar-benar benci jika urusan pribadinya diganggu bahkan oleh temannya sekalipun. Alasan utamanya adalah karena itu sangat memalukan.

Bukannya diam, tawa Sai justru menggema di lorong gedung itu. Naruto benar-benar tergoda mencekik leher putih pucat Sai. Sayangnya dia harus menahan diri jika tidak ingin orang-orang disekitanya melaporkannya atas tindakan kriminal dalam lingkungan universitas.

"Ada perkembangan yang didapatkan Shikamaru?" tanya Naruto.

"Dia masih menelusuri sejumlah cctv yang menangkap keberadaan terakhir istri dan anak Tazuna. Sementara Kumoga Bee sedang tidak berada di Jepang, kita tidak bisa menanyainya saat ini." jelas Sasuke.

"Tapi aku penasaran Naruto, bagaimana Hinata bisa mengetahui tentang target Tazuna yang sebenarnya? Apa alasan gadismu mengorbankan diri seperti itu?" tanya Sai

"Dia tidak sengaja melihat Tazuna mengantongi pistol. Aku juga tidak tau, dia bilang refleks saja melakukannya" sahut Naruto.

Sasuke dan Sai berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Naruto sama sekali tidak menyangkal kata-kata Sai ketika ia bilang Hinata gadisnya.

Ketiga pria itu sibuk mencari tempat kosong di cafetaria yang selalu ramai di jam makan siang seperti ini, sambil membawa nampan makanan. Beruntung Sasuke menemukan kekasihnya dan teman-temannya disana.

"Itu Sakura."

Naruto dan Sai mencari sosok yang dimaksud Sasuke. Disana bukan hanya ada Sakura, tapi juga Hinata dan Ino.

Naruto yang pertama melangkah kearah ketiga gadis itu, diikuti Sasuke dan Sai. Begitu tiba disana, Naruto menyapa mereka bertiga dan mengambil tempat disamping Hinata yang kosong.

Lihat, Naruto benar-benar sudah berubah sekarang. Pertama, dia tidak menyangkal ketika Sai mengatakan Hinata gadisnya. Kemudian sekarang Naruto yang langsung mengambil tempat disamping Hinata. Padahal sebelum ini Sasuke dan Sai menyadari jika Naruto selalu menunggu mereka berdua mengambil tempat dan dia akan duduk ditempat yang tersisa. Naruto benar-benar sudah tidak tertolong lagi.

"Naruto! Kemana saja kau dua minggu ini menghilang?" Ino langsung mencecar Naruto karena tiba-tiba menghilang selama dua minggu.

"Aku sakit." hanya itu jawaban Naruto.

"Separah apa penyakitmu hingga memakan waktu dua minggu?" kali ini Sakura yang bertanya.

"Dia terkena cacar." Sai langsung menyela pembicaraan mereka begitu ia ikut bergabung dimeja mereka.

Naruto bisa mendengar suara tawa Hinata yang tertahan. Sial, Naruto terpaksa menerima alasan yang dibuat Sai, dia sendiri tidak tau harus mengarang penyakit apa.

"Astaga, itu mengerikan sekali, apa kau baik-baik saja sekarang?" Sakura cukup prihatin, jika Naruto tidak masuk kuliah selama dua minggu, pasti cacarnya sangat parah.

"Eh, ya, aku baik-baik saja." Sahut Naruto dengan kaku.

"Baguslah, setidaknya kau tidak akan menulari kami." Hinata sekali lagi menahan tawa mendengar ucapan Sakura. Sai benar-benar kreatif membuat alasan, walaupun Hinata sadari Naruto sama sekali tidak senang dengan hal itu. Lihat saja gerakan tangannya yang menyumpit nasi dengan kasar, keningnya yang berkerut samar, sudut matanya yang berkedut karena menyipit menatap tajam Sai, dan...

Hinata berhenti. Dia benar-benar harus berhenti. Hinata pasti sudah tidak waras hingga mengamati setiap detail pada pria itu. Hinata harus menghentikan kebiasaan bodoh ini sebelum menjadi obsesi tidak normal.

"Kenapa tidak Hinata-chan?"

Hinata mendongak kaget menatap Sakura dan Ino yang memandang kearahnya, "Apa?" tanya Hinata.

"Kau menggeleng, artinya tidak mau kan?" Ino mengulangi pertanyaan Sakura.

Kening Hinata semakin berkerut, "Tidak mau apa?"

Sakura dan Ino memutar matanya bersamaaan, "Dia bahkan tidak mendengarkan apa yang kita ucapkan Sakura."

"Ya, lalu kenapa kau menggeleng?" gerutu Sakura.

"Maaf, aku sedang memikirkan hal lain, apa yang kalian bicarakan tadi?" Bodohnya Hinata, dia bahkan tidak sadar sudah melamun terlalu lama.

"Kami mengajakmu mencoba cafe baru di dekat sini sore nanti." Sakura kembali mengulangi perkataannya yang sama sekali tidak didengar Hinata.

"Oh, baiklah, tentu saja."

"Tapi apa yang tadi kau pikirkan dengan begitu serius Hinata?" tanya Ino.

Melihat Hinata yang kebingungan untuk menjawab, Sakura melanjutkan,"Jangan-jangan kau memikirkan kencanmu dengan Toneri ya?"

Naruto langsung tersedak makanannya dan hampir saja menyemburnya keluar. Hinata yang disebelahnya sontak kaget dan langsung menyodorkan segelas air pada Naruto yang langsung diterima Naruto. Hinata mengusap punggung Naruto untuk meredakan batuknya. "Kau tidak apa-apa?"

Naruto mengangguk meski masih terbatuk sesekali. "Makanlah dengan pelan." ucap Hinata. Naruto sekali lagi mengangguk pada Hinata.

Sai mengerti kenapa Naruto langsung bereaksi ekstrim seperti itu, dia pun bertanya dengan para gadis, "Memangnya Hinata mau berkencan dengan Toneri ya?"

Ino mengangguk, "Ya, tiga hari lalu dia menagih janji dan mengajak Hinata berkencan."

"Dan kau setuju Hinata?"

"Mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji padanya, terpaksa aku harus menerima yang satu ini." sahut Hinata.

"Apa tidak apa-apa pergi berdua dengan serigala satu itu Hinata? Bagaimana kalau dia membawamu ketempat yang aneh atau melakukan sesuatu yang buruk padamu?" Sakura mencemaskan ketertarikan tidak wajar pria itu pada Hinata.

Naruto hampir saja mematahkan sumpit yang ada dalam genggamannya mendengar ucapan Sakura. Benar, bagaimana kalau bajingan itu berniat jahat pada Hinata?!

"Kalian terlalu berlebihan, Toneri tidak sejahat itu. Aku akan baik-baik saja, kami hanya akan makan malam biasa." Toneri memang kadang terlalu berlebihan, tapi dia tidak sejahat yang dipikirkan Sakura dan Ino, Hinata sangat tau itu.

"Kau yakin? Apa kami perlu mengikuti kalian?" tawar Ino.

"Astaga, tidak! jangan lakukan hal memalukan seperti itu."

Naruto lebih memilih dipermalukan daripada terjadi hal buruk yang menimpa Hinata. Jika terjadi sesuatu pada Hinata, Naruto tidak akan pernah memafkan dirinya sendiri.

Hinata kembali melanjutkan kata-katanya melihat ekspresi tidak setuju pada kedua sahabatnya, "Dengar, aku yakinkan kalian, aku akan baik-baik saja. Sungguh, Toneri tidak sejahat itu. Dia memang sangat menyebalkan, tapi dia tidak pernah melakukan hal rendah seperti bayangan kalian."

Naruto merasa kupingnya mulai panas mendengar pembelaan dari mulut Hinata untuk bajingan tengik satu itu.

"Baiklah kalau memang kau yakin begitu. Tapi ingat, tetap bawa semprotan cabe yang sudah kuberikan padamu, sebagai antisipasi saja." Setelah Toneri mengajak Hinata berkencan, esok harinya Sakura langsung membawakan Hinata semprotan cabe, senjata paling ampuh untuk seorang hidung belang.

"Baiklah, aku mengerti, aku pastikan akan membawa benda itu." Walaupun Hinata tidak terlalu yakin benda itu akan banyak berguna.

Naruto ingin sekali mengatakan pada mereka bahwa semprotan cabe terlalu halus untuk bajingan itu, mungkin bom C-4 atau rudal HJ-8 lebih cocok.

.

Naruto sudah memikirkan berbagai macam cara untuk membatalkan kencan Hinata dan Toneri, mulai dari yang paling mudah seperti mencegat Toneri dijalan hingga yang paling tolol seperti menculik Hinata, tapi tidak ada satupun yang terdengar briliant. Satu-satunya yang terasa paling manusiawi adalah percaya Hinata bahwa dia bisa menjaga dirinya.

Ide itu terasa sangat salah tapi hanya itu yang bisa dilakukan Naruto. Terutama karena bertepatan dengan kencan Hinata malam ini, Naruto dan timnya akan memburu akatsuki lagi. Naruto ingin sekali mengumpat pada Shikamaru yang memutuskan akan menyerang mereka malam ini.

"Kenapa kau selalu membuat waktu penyergapan yang mendadak Shikamaru?" ucap Naruto, lebih pada menggerutu daripada bertanya.

"Mau bagaimana lagi, aku baru menemukan keberadaan mereka tadi siang, jika kita tidak bergerak malam ini juga, mereka mungkin akan berpindah tempat lagi besok." jelas Shikamaru.

"Tidak perlu terlalu gelish begitu Naruto, gadismu akan baik-baik saja." Sebenarnya Sai benar-benar berniat menenangkan Naruto, tapi itu justru membuat Naruto semakin kesal karena sekarang Shikamaru jadi ikut bertanya-tanya.

"Gadisnya? Siapa gadisnya Naruto?" tanya Shikamaru.

Naruto langsung menyela sebelum Sai membongkar semuanya. "Bukan siapa-siapa, jangan dengarkan Sai, dia hanya meracau."

Naruto langsung menatap tajam Sai dan Sasuke yang tersenyum miring padanya. Naruto kemudian mendekat pada mereka berdua dan berbicara sedikit berbisik, "Jangan pernah mengungungkit tentang Hinata saat bersama tim, terutama jika ada Neji."

"Memangnya kenapa? Kau takut pada Neji?" ejek Sasuke.

"Sama sekali tidak! Aku hanya tidak mau Neji berprasangka buruk padaku jika kalian menggosipkan kami. Jika Neji memang harus tau, maka aku sendiri yang akan memberitahunya."

"Apa itu artinya kau akan segera mengatakan niatmu pada Neji?" tanya Sai.

Naruto terdiam sejenak kemudian menyahut singkat, "Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Karena tidak ada yang perlu aku katakan padanya." Naruto tidak berniat melakukan apapun terkait Hinata. Dia hanya ingin tetap bersama gadis itu seperti saat ini, menjaganya dari jarak yang pantas. Selama Hinata tidak menghindari dirinya seperti wabah penyakit, itu sudah cukup untuk Naruto.

Percakapan mereka harus terhenti karena Itachi dan timnya sudah tiba di tempat mereka. Merekapun langsung mulai membahas rencana mereka malam ini.

.

Toneri sudah menelepon Hinata dan mengatakan dia akan tiba lima belas menit lagi dirumah Hinata. Hinata menunggu dengan tenang di kamarnya, sambil sesekali mengamati desain-desain baru yang dibuatnya. Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Hinata. Hinata pikir Toneri yang meneleponnya lagi, tapi ternyata itu Naruto.

Hinata langsung menerimanya dan menempelkan ponsel ketelinganya, "Ada apa Naruto?"

"Hei, kau sudah bersiap akan pergi?"

"Begitulah, kenapa?"

"Tidak apa-apa, berhati-hatilah."

"Tentu."

"Ngomong-ngomong kau bilang ingin tau jika kami akan menangkap akatsuki kan? kami akan melakukannya malam ini."

"Malam ini? mendadak sekali?"

"Ya, Shikamaru yang memutuskan semuanya. Kau juga kenal Shikamaru kan?"

Shikamaru? Tunangan Temari-nee? "Shikamaru juga ikut dengan kalian?"

"Ya, dan Neji juga ada disini. Kau mau bicara dengannya?"

Pantas saja Neji tidak pulang malam ini, ternyata dia juga ikut dengan Naruto. "Tidak perlu, katakan saja padanya untuk menjaga dirinya dengan baik."

"Tentu, dia akan aman bersamaku. Hinata, aku harus pergi sekarang. Sampai nanti."

Setelah mengatakan itu, Naruto memutuskan sambungan telepon mereka. Hinata masih terdiam tidak bergerak ditempatnya, ponselnya masih menempel ditelinganya meski suara Naruto sudah menghilang dari sana.

"Kau juga Naruto, berhati-hatilah dan jangan terluka lagi..."

Kemudian barulah Hinata menurunkan ponselnya. Dia tetap mengatakannya meski tau Naruto tidak mungkin mendengar ucapannya.

.

.

.

"Kau melamun lagi."

Hinata tersentak mendengar suara Toneri dihadapannya. Mereka sedang makan malam disebuah restoran bergaya Prancis.

"Maafkan aku." Hinata sedikit menyesal karena pikirannya sedang tidak fokus saat ini.

"Tidak masalah, apa kau sedang memikirkan masalah butik? atau yang lain?" Toneri sedikit melirik Hinata dengan curiga.

"Tidak, butikku baik-baik saja, berkat kau." Hinata tersenyum kecil sambil memotong steaknya.

Kening Toneri sedikit berkerut, "Apa maksudmu berkat aku?"

"Ya, berkat kau. Terima kasih sudah mengembalikan sebagian pelangganku. Mereka yang bilang jika kau dan ibumu yang menyarankan mereka untuk kebutikku."

Beberapa waktu ini memang beberapa pelanggan VIP Hinata sudah kembali. Awalnya Hinata juga tidak mengerti, mereka tiba-tiba saja datang kebutik Hinata dan minta dibuatkan sebuah gaun special. Untungnya Mei punya taktik tersendiri untuk memancing pelanggaan tersebut, dan mereka mengatakan jika keluarga Ootsutsuki yang menyarankan pada mereka.

"Oh, Aku tidak melakukan apapun. Mereka hanya sekedar membahas trend fashion saat itu, jadi kukatakan bahwa aku menyukai karyamu, begitu juga ibuku. Aku tidak menyarankan apapun."

"Kau tau itu berharga untukku, terima kasih." Hinata tersenyum tulus pada Toneri.

"Apa itu artinya kau mau menikah denganku?" tanya Toneri dengan nada sedikit bercanda.

Hinata menghela nafas, pria ini memang menyebalkan. "Aku tidak mau menikah denganmu, sudah berapa kali kukatakan padamu Toneri."

"Kenapa?"

"Karena aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih."

"Jadi aku ditolak lagi?"

"Maafkan aku, tapi jawabanku tidak akan berubah."

Toneri membuang nafas sedikit kesal. Dia tau Hinata memang tidak pernah menyukainya. Tapi dia tidak pernah menyerah sedikitpun. Ketika kekasih Hinata pergi, Toneri pikir dia akan punya kesempatan, tapi sepertinya kesempatannya dirampas begitu saja oleh brengsek pirang satu itu.

"Aku mengerti. Kupikir aku akan punya kesempatan, tapi sepertinya aku salah. Cecunguk itu sudah mengalahkanku telak."

"Apa maksudmu?" tanya Hinata heran.

Toneri sedikit melirik Hinata didepannya sambil melanjutkan makannya "Aku tau, kau menyukai si pirang itu kan?"

"Aku tidak menyukai Naruto." sanggah Hinata cepat -terlalu cepat-.

Toneri mendengus remeh, "Aku bahkan tidak mengatakan namanya, tapi kau sudah menyangkalnya lebih dulu, naif sekali kau Hinata." ejek Toneri.

"Tapi aku memang tidak-"

"Sudahlah Hinata, aku tidak tertarik membahas perasaanmu padanya. Jika kau memang menyangkalnya itu juga lebih menguntungkanku." Toneri melanjutkan makan malamnya. Sementara Hinata hanya terdiam menatap hidangan dihadapannya. Mereka lebih banyak diam disisa waktu itu.

.

Sudah lewat tengah malam, namun Hinata masih duduk terdiam disofa ruang tengah entah sudah berapa lama. Ia tidak tau apa yang ditunggunya.

Hinata kembali teringat percakapannya dengan Toneri. Kenapa pria itu menganggap dirinya menyukai Naruto? Hinata tidak merasa melakukan hal istimewa dengan Naruto, dia juga memperlakukan Naruto seperti teman pada umumnya. Mereka memang pernah berkencan satu kali, tapi dia juga menerima ajakan Toneri dan bukan berarti Hinata menyukai Toneri.

Seharusnya itu juga berlaku untuk Naruto. Ia hanya menganggap Naruto sebagai teman. Ia tidak punya perasaan istimewa pada pria itu. Hinata tidak boleh menyukainya.

Hinata tidak tau berapa lama ia termenung disofa itu, hingga suara pintu depan yang dibuka menyadarkannya. Hinata tetap diam disana hingga Neji muncul dari arah lorong.

"Kenapa kau belum tidur Hinata?" Neji mendekati Hinata dengan wajah heran, tidak biasanya adiknya duduk sendirian disini.

"Tidak ada, aku hanya sedang berpikir." Hinata menggeser duduknya untuk memberi ruang pada Neji.

Neji duduk disampingnya, "Disini? diruang tengah? tumben sekali?"

"Memangnya tidak boleh?" sahut Hinata sewot.

"Tidak, boleh saja, aku hanya merasa heran." Neji menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan kepala mendongak keatas sambil memejamkan mata. Ia kemudian menghela nafas panjang.

"Ada apa? misinya gagal ya? apa ada yang terluka?" Hinata menegakkan punggungnya, menggeser posisinya sedikit menghadap Neji.

Neji membuka mata dan sedikit melirik kearah Hinata tanpa merubah posisinya. "Kau tau apa yang kulakukan malam ini?"

"Ya. Naruto memberitahu. Jadi bagaimana? ceritakan padaku." tuntut Hinata.

Neji kembali memejamkan mata. "Setengah gagal. Kami hanya berhasil menangkap satu orang, yang satu lagi berhasil kabur. Satu-satunya yang terluka adalah orang yang kami tangkap, kami terpaksa menembaknya karena dia mencoba kabur, tapi untungnya dia masih hidup."

"Begitukah? Syukurlah." Hinata tanpa sadar menghembuskan nafas lega.

Neji kembali melirik Hinata. "Tenang saja, Naruto-mu baik-baik saja. Dia beraksi dengan hebat dan berhasil menyelamatkan sandera." Mereka berhasil menemukan keberadaan anak dan istri Tazuna, dan benar saja ada dua anggota akatsuki yang bersama mereka, Sasori dan Deidara. Sayangnya Deidara berhasil kabur, dan Sasori sedang tidak sadarkan diri sekarang.

"Dia bukan Naruto-ku." Hinata menatap jengkel pada Neji.

Neji menegakkan kepalanya menghadap Hinata dan menahan tawa gelinya. "Kau mencecarku dengan berbagai pertanyaan dua minggu lalu ketika kau tiba-tiba tidak bisa menghubungi Naruto. Kemudian kau mengancam akan mengatakan tentang perasaanku pada Tenten jika aku tidak mau mengantarmu kerumah sakit tempat dia dirawat. Malam ini kau menungguku hingga selarut ini, sendirian diruangan ini untuk menanyakan keadaannya setelah misi kami. Dan kau masih menyangkal dia bukan Naruto-mu?"

"Aku tidak-" Hinata meninggikan suaranya, tapi dipotong oleh Neji.

"Akui saja kalau kau memang menyukainya Hinata." Neji kembali menyandarkan kepalanya.

Ada apa dengan semua orang? Dalam satu malam sudah dua orang mengatakan jika ia menyukai Naruto. Mungkin minggu depan seluruh Jepang akan mengatakan hal yang sama padanya.

Hinata sudah berdiri untuk meninggalkan Neji karena kesal. Tapi suara Neji menghentikan pergerakannya.

"Hei, aku tau kau masih berduka karena kepergian Gaara, tapi bukan berarti kau tidak boleh bahagia lagi. Hidupmu masih panjang, nikmatilah. Jika dia memang membuatmu nyaman, kau bisa bersamanya. Jangan menyangkal apa yang kau rasakan. Jangan terlalu keras pada hatimu."

Dan mengambil resiko untuk merasakan kehancuran yang sama? Tidak, terima kasih. Hinata tidak akan mau kembali pada perasaan menyakitkan seperti itu.

Jika Hinata memang ingin bahagia, maka dia tidak boleh bersama Naruto. Naruto adalah satu-satunya yang terlarang untuknya. Pria itu bisa memerangkapnya secepat angin tornado dan bisa menghancurkan secepat kilat.

Dia hanya akan mengulangi kebodohan yang sama jika menyerahkan hatinya pada pria itu, seperti terjun bebas dari pesawat terbang. Tanpa parasut. Tanpa landasan pendaratan yang empuh. Hanya... BRUK.

.
.
.
TBC