.

.

.

Happy White Day, guys^^ ❤

Mian ya pas valentine kemarin gak ngasih apa-apa, tapi di white day ini I want to give you something to reply your loves for Full Moon

Here it is Full Moon ch 14^^ #modus kkk~

Hope you enjoy it ... ppyong~❤

.

.

.

Title: FULL MOON [Part 14]

Author: Myka Reien

Main Cast: KaiSoo, HunHan, ChanBaek, TaoLay

SC: Super Junior Kibum, f(x) Luna

Genre: Rate T, GS

Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let's be a good reader and good shipper~^^

HAPPY READING 뿅~뿅~

.

.

.

FULL MOON

[Part 14]

.

.

.

[Luhan] Sore ini jam 5, ayo bertemu di Sungai Han, Hunnie.

Luhan memandang layar ponsel yang menampilkan pesan yang baru saja dia kirim ke nomor Sehun dengan bibir tidak lepas dari senyuman. Rasanya sudah lama sekali dia tidak memanggil Sehun dengan sebutan 'Hunnie'. Ya, sejak mereka putus setelah wisuda tiga tahun yang lalu dan Luhan pindah ke Seoul untuk mencari pekerjaan, bahkan ketika dia tahu Sehun mengejarnya hingga ke Seoul, belum sekali pun Luhan kembali memanggil Sehun dengan panggilan sayang yang sering dia lakukan ketika mereka masih berpacaran.

Benar yang dikatakan Kai, Luhan memang sengaja menjauhi Sehun dan bersikap keterlaluan padanya supaya Sehun terluka, benci, hingga akhirnya menyerah tanpa Luhan tahu jika hubungan werewolf dan imprintee jauh lebih dalam dari perkiraannya. Dan dia juga tidak tahu jika perasaan seorang werewolf pada imprintee-nya bisa begitu dalam dan membuta.

Namun meski tujuan aslinya sudah ketahuan, tetap saja Luhan merasa jika dia tidak seharusnya bersama dengan Sehun walaupun Sehun tidak sekali pun membenci dan menyalahkannya. Hanya Luhan yang tidak dapat memaafkan dirinya sendiri dan masih belum dapat memaafkan semua sikapnya di masa lalu. Luhan meletakkan ponsel ke atas meja dan merebahkan kening ke permukaan meja, menghela napas tanpa diketahui orang lain.

"Bukalah hatimu, maafkan dirimu sendiri dan cobalah untuk bersandar sekali lagi pada Sehun. Itu akan sedikit meringankan bebanmu. Lagipula Sehun juga tidak akan membiarkanmu menderita sendirian."

Teringat kalimat Chanyeol yang dia ucapkan sebelum pergi meninggalkan ruang BP. Luhan kembali menghela napas.

Itu tidak mudah, Oppa. Setiap aku melihat Sehun, aku selalu teringat sikapku yang memalukan dan kesalahanku yang tidak termaafkan. Bagaimana bisa aku berani bersandar lagi padanya? Meskipun dia tidak akan menolakku, tapi aku malu. Aku sudah terlalu jahat untuk menjadi wanitanya lagi, batin Luhan sedih.

"Xi Sonsaengnim, apa anda sakit?" sebuah teguran lembut mengagetkan Luhan, membuat gadis itu terlonjak.

Trak! Bersamaan dengan gerakan tiba-tiba Luhan, tanpa sengaja tangannya menyenggol ponsel dan membuat benda itu jatuh ke bawah meja.

"Andwe!" Luhan memekik pelan sambil meraih ponselnya yang gelap seketika. "Andwe..." Luhan mencicit melas.

"Mianheyo...! Apa ponselnya rusak?" tanya Kibum ikut terkejut.

"Mollayo," desis Luhan seraya menekan tombol power ponselnya, tapi benda itu masih tidak mau menyala dan tetap menampilkan layar hitam legam. "Eotteoke...?" gadis tersebut mendesis cemas.

"Mianheyo," ujar Kibum menyesal. "Biar saya bawa ke tempat servis..."

"Anneyo, anneyo, Kim Sonsaengnim," tolak Luhan. "Sebentar lagi benda ini pasti akan menyala." Luhan berusaha menyembunyikan ponselnya, ada banyak hal mengenai Sehun di dalam ponsel itu, bahaya kalau sampai ada orang lain yang memegangnya.

"Tapi..." Kibum terlihat benar-benar merasa bersalah.

"Tidak apa-apa," ujar Luhan sambil tetap tersenyum. "Ngomong-ngomong, ada perlu apa, Kim Sonsaengnim?"

Pertanyaan Luhan yang mengalihkan topik pembicaraan, menyadarkan Kibum mengenai tujuannya menegur gadis itu tadi. Seketika namja tersebut langsung salah tingkah.

"Umm...itu..." desis Kibum sementara Luhan menunggu kelanjutan kata-katanya dengan sorot mata penasaran.

"Malam ini..." Kibum menggantung kalimatnya seperti sedang memantapkan hati. "...apa Xi Sonsaengnim punya waktu?"

Kepala Luhan meneleng seolah bertanya: 'Ada apa?'

"Ah, itu..." Kibum semakin salah tingkah dipandang oleh mata rusa Luhan yang bahkan tidak mengatakan apa-apa.

"Saya...ingin mengajak anda makan malam..." suara Kibum kembali tercekat oleh perasaan gugup yang memuncak. "...hitung-hitung ini untuk menebus kesalahan saya karena sudah membuat ponsel anda rusak. Jadi...bisakah?" imbuh guru muda tersebut mencari modus.

"Ohh..." Luhan mendesis. "Mianheyo, Kim Sonsaengnim. Tapi saya sudah punya janji malam ini," cicit gadis itu membuat roman muka Kibum berubah murung.

"Ah, benarkah? Mungkin seharusnya saya mengajak anda lebih cepat," desis Kibum kecewa.

Luhan tersenyum. "Mianheyo," ujarnya disambut senyuman getir di wajah tampan rekan kerjanya.

"Tidak masalah," jawab Kibum sambil menggigit bibir dengan terus tersenyum pahit.

"Ditolak," desis seorang guru dari balik bilik meja kerjanya melihat adegan Kibum yang mengajak Luhan makan malam barusan.

"Apa mungkin Xi Sonsaengnim sudah punya pacar? Dia selalu menolak ajakan makan malam di akhir minggu seperti ini," sahut seorang guru lain yang ikut-ikutan mengamati dua guru muda yang sering dipasang-pasangkan karena sama-sama masih single itu.

"Aku dengar Xi Sonsaengnim tidak pernah menghabiskan akhir minggu dengan namja. Tapi dia selalu pergi keluar dengan sahabatnya yang seorang fotografer pre-wedding," ujar guru yang pertama kali memberi komentar.

"Yeoja?" rekannya menyahut, dijawab dengan anggukan oleh guru pertama.

"Kenapa Xi Sonsaengnim malah memilih pergi keluar dengan yeoja daripada dengan namja? Meskipun yeoja itu sahabatnya, bukankah akan lebih menyenangkan kalau pergi berkencan dengan namja. Makan gratis, nonton gratis, belanja gratis. Aneh," desis guru kedua.

"Atau jangan-jangan..." guru kedua menggantung kalimatnya. "Xi Sonsaengnim itu lesbian?"

Plak, spontan guru pertama memukulkan buku absen ke kepala rekannya dengan pelan.

"Ya, jaga ucapanmu. Bagaimana mungkin gadis secantik Xi Sonsaengnim itu lesbian? Dia pasti punya alasan kenapa lebih memilih menghabiskan waktu dengan sahabat perempuannya daripada dengan para namja. Mungkin saja karena kesibukan pekerjaan mereka masing-masing, jadi mereka tidak bisa bertemu di hari-hari biasa dan hanya bisa pergi minum di akhir pekan. Jangan berpikir yang macam-macam dulu."

"Mungkin saja begitu..." guru kedua mendesis sambil mengusap-usap kepalanya yang kena pukul.

"Ya, tapi aku dengar, katanya Xi Sonsaengnim punya kekasih waktu di Cina. Dan alasan dia menolak namja yang mengajaknya keluar karena dia masih berhubungan dengan kekasihnya itu sampai sekarang." Guru kedua melanjutkan topik gosip mereka.

"Long distance? Apa ada orang di jaman sekarang yang long distance? Kalaupun begitu, pergi keluar dengan 1 atau 2 namja tidak masalah 'kan? Dia yang nun jauh di sana juga tidak akan tahu," cibir guru pertama.

"Ya, lihat dulu wajah Xi Sonsaengnim. Polos begitu. Dia pasti tipe orang yang setia, makanya dia menolak untuk berselingkuh..."

"Tapi itu tidak menjamin kalau kekasihnya di Cina juga tidak akan berselingkuh." Guru pertama menyela.

Ting, tong, ting, bel berbunyi tanda jam pelajaran berganti.

"Assa, tinggal 2 jam terakhir. Ayo cepat selesaikan dan cepat pulang. Aku ada kencan buta sore ini," ajak guru kedua sambil menata buku pelajarannya dengan terburu.

"Ya, kenapa kau begitu hobi kencan buta, hah?" tanya guru pertama dengan heran. "Ajak aku juga!" sambungnya sambil menyusul langkah rekannya yang sudah keluar meninggalkan ruang guru.

-o0o-

Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore saat sepasang kaki pendek Kyungsoo menapak di beranda sebuah kafe. Gadis mungil itu menundukkan badan dan menyapa ramah pada beberapa pegawai kafe dalam perjalanannya menuju ruang ganti untuk menukar seragam sekolahnya dengan seragam karyawan.

Selain hari Minggu yang notebene-nya adalah hari libur sekolah, hari Sabtu juga bisa dibilang merupakan hari kemerdekaan bagi para pelajar di Korea. Karena jam pelajaran yang biasanya berakhir di tengah malam, akan terpotong nyaris separuh dan kelas berakhir tepat di jam makan siang. Beberapa sekolah bahkan malah menjalankan kebijakan 5 hari belajar, itu berarti sekolah hanya masuk di hari Senin sampai Jumat, sementara hari Sabtu dan Minggu tidak ada jam pelajaran alias libur.

Namun tetap saja hari libur itu tidak akan berarti untuk para pelajar yang masih memiliki jam les tambahan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang mengikuti Sunday School yaitu sekolah khusus yang dilakukan di hari Minggu yang memang biasanya hanya diikuti oleh kalangan orang elit mengingat biaya yang dikeluarkan untuk membayar guru di hari libur tidaklah sedikit.

Kyungsoo yang sudah selesai mengganti pakaiannya langsung bergegas menuju belakang meja kasir untuk melakukan shift-nya. Bekerja di akhir pekan sudah menjadi rutinitasnya sejak masuk bangku SMA. Untuk pekerjaan part time-nya yang satu ini, Lay sudah tahu jadi Kyungsoo tidak perlu melakukannya secara diam-diam seperti saat bekerja di kedai ramen Shindong, karena dia hanya punya shift sampai jam 9 malam sementara Lay melarangnya bekerja sepulang sekolah karena dia cemas jika adik tunggalnya itu akan jatuh sakit akibat kelelahan.

"Ayy, Kyungsoo-ya, kau tepat waktu seperti biasa," ujar seorang gadis berpipi tembem dan berkulit sedikit gelap yang memakai celemek coklat berlogo kafe sama seperti celemek yang dipakai Kyungsoo, begitu melihat yeoja berperawakan mungil tersebut berjalan ke arahnya.

Kyungsoo menyunggingkan senyuman manis. "Ne, Unnie. Sekarang kau bisa beristirahat. Biar aku urus sisanya," ujar Kyungsoo ceria.

"Arasseo. Uri Kyungie memang bisa diandalkan." Gadis manis itu beranjak meninggalkan spot di belakang meja kasir.

"Aku pergi dulu ya, hati-hati dengan mesin pembuat kopinya. Tadi sedikit ngadat, aku takut kalau tiba-tiba benda itu meledak," pesan Luna membuat Kyungsoo tertawa kecil.

"Sampai jumpa besok, naeui Dongsaeng. Kkalke," pamit Luna seraya mengusap singkat pucuk kepala Kyungsoo sebelum pergi.

"Ne, hati-hati, Unnie," balas Kyungsoo ringan, lalu beranjak memposisikan diri di belakang mesin kasir, berdiri di tempat yang ditinggalkan oleh Luna, bersiap menerima pesanan dari pelanggan hingga shift kerjanya nanti berakhir.

Selagi Kyungsoo melakukan pekerjaannya, menerima dan mencatat pesanan pelanggan, menundukkan kepala dengan sopan, selalu tersenyum, dan bersikap ramah pada setiap orang yang mendekati meja kasir, tanpa disadari gadis itu ada sepasang mata yang mengarah padanya, mengawasinya dari jarak yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan manusia biasa.

Sepasang mata abu-abu yang tersembunyi di balik lidah topi yang dipakai hampir menutupi seluruh keningnya itu tak lekang memandang siluet yeoja yang terlihat samar di balik dinding kaca kafe yang terletak di seberang jalan, yang berada hampir 30 meter dari tempatnya berada sekarang. Yeoja mungil yang berdiri di belakang meja kasir, yang selalu tersenyum menyapa setiap pelanggannya, dan terkadang bisa menampakkan ekspresi blank dalam sekejab jika tanpa sadar jatuh dalam lamunan. Mata abu-abu itu tidak melewatkan satu pun gerakan yang dibuat oleh Kyungsoo nun jauh di sana.

"Benar dugaanku."

Sebuah suara menyeletuk mengagetkan Kai, namja berkulit kecoklatan tersebut sampai terlonjak dan melompat dari kursinya. Bahkan kedua mata Kai berubah warna menjadi merah tanpa dia sadari, begitu nanar memandang Sehun yang tiba-tiba sudah duduk di kursi tepat di sebelahnya, yang balas memandangnya sambil menyunggingkan senyum sarkastik.

"Hyung, kenapa kau sekaget itu? Kau tidak menyadari kedatanganku?" tanya Sehun menggoda. "Seingatku, insting-mu yang paling peka di antara kita berempat. Apa kau tidak menyadari kedatanganku karena terlalu asyik mengamati IM – PRINT – TEE – mu?" kalimat Sehun penuh dengan penekanan.

Kai tidak menjawab, hanya wajahnya saja yang memucat.

"IM – PRINT – TEE – mu itu Wakil Ketua Do. Iya 'kan, Hyung?" tanya Sehun tanpa merubah cara tersenyumnya yang seperti memojokkan seorang pengkhianat yang tertangkap basah.

"Ngng...itu...err..." Kai berubah gagap dalam sekejab. Dia menelan saliva dengan kasar.

Sehun kembali menyunggingkan senyum pokernya. Namja tersebut meraih buku yang halamannya terbuka yang sejak tadi dipegang oleh tangan Kai tanpa sedikit pun dibaca Kai. Malah sebaliknya, namja berambut coklat itu terlampau asyik memperhatikan Kyungsoo yang sedang bekerja di kafe yang memang bangunannya berhadapan dengan toko buku tempat Sehun dan Kai berada sekarang.

"Bukannya...kau ada janji dengan Luhan?" tanya Kai dengan nada suara rendah.

"Kami janjian jam 5, karena waktunya mepet jadi aku sekalian saja tidak berangkat kerja," jawab Sehun dengan tangan membuka-buka halaman buku novel tebal yang dipinjam Kai. Dia sudah hapal isi cerita novel itu karena dia sudah pernah membacanya meski dalam versi yang berbeda, versi bahasa Cina.

"Lalu...kenapa kau ada di sini?" nada suara Kai belum berubah dan tubuhnya juga masih menjaga jarak dari Sehun seolah adiknya itu adalah orang berpenyakit yang dapat menularkan virus padanya, virus 4-dimensi yang dapat merubahnya menjadi orang aneh seperti si Maknae.

"Aku bosan," cetus Sehun singkat. "Chanie Hyung dan Tao Hyung pergi bekerja. Aku juga tidak mungkin menemui Luhan sekarang, dia bisa mencakarku nanti. Aku sedang tidak ingin belajar. Tadinya aku mau mengajakmu bermain, Hyung. Tapi ternyata kau juga 'sibuk'."

Kai kembali menelan ludah, sepasang matanya berputar dengan gugup dalam sekejab, mesin di dalam otaknya bekerja cepat merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang kemudian diantarkan sinyal ke pita suaranya dan berlangsung ke otot-otot mulutnya.

"Hyung, kapan kau imprinting pada Do Kyung Soo?" Tapi kemudian Sehun menyela di waktu yang sangat tepat, membuat Kai menelan lagi kalimat yang sudah dia siapkan matang-matang.

Kai membuka mulut tapi tidak ada suara apapun yang keluar, bahkan suara udara pun tak ada.

"Benarkah Do Kyung Soo itu imprintee-mu?" Sehun menegaskan.

"Sejak kapan kau memperhatikannya?" balas Kai, cara bicaranya belum berubah, masih berada di nada yang rendah, nyaris tak terdengar, menunjukkan betapa gugupnya dia sekarang menghadapi serangan sang Maknae yang tiada habisnya.

"Sudah lumayan lama. Sejak kita sekelas dengan Do Kyung Soo aku sudah mulai curiga. Kau terlihat selalu memandangnya dan tidak sekali pun melengos setiap dia bicara padamu, tidak seperti kebiasaanmu yang tidak peduli pada orang lain termasuk yeoja. Memang sih kalian berdua jarang berinteraksi, tapi entah kenapa aku cuma merasa kalau caramu memandang Kyungsoo itu berbeda," tutur Sehun.

"Aku semakin yakin ada sesuatu yang aneh waktu kau memakai dasi di sekolah kemarin. Yang memakaikan dasi padamu itu si Kyungsoo 'kan? Makanya aku menebak, mungkin saja Kyungsoo itu imprintee-mu, karena kau bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain, kau juga bukan tipe orang yang akan diam saja membiarkan lehermu diikat oleh orang asing. Selama ini, cuma Umma 'kan yang bisa melakukan itu padamu? Geutji?" Sehun menuturkan analisisnya panjang lebar sembari mengarahkan mata abu-abunya pada wajah Kai yang masih pucat.

Kai speechless, buyar semua isi kepalanya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah memandang Dongsaeng-nya dengan kedipan mata blank.

"Sejujurnya, aku tidak keberatan kalau memang Kyungsoo itu imprintee-mu, Hyung. Dia yeoja yang baik, setidaknya dia lebih baik daripada artis gila itu," ucap Sehun mengarah pada Baekhyun, musuh bebuyutannya.

Kai menghela napas. "Apa Hyung sudah tahu?" desisnya mengaku kalah pada Maknae.

Sehun menggeleng. "Aku belum memberitahu siapa-siapa. Kau tahu sifatku 'kan? Aku tidak akan berkoar-koar tentang sesuatu yang belum aku yakini kebenarannya." Namja itu mendesis. Tapi kemudian dia sedikit memajukan badannya, kedua matanya berbinar.

"Tapi benar 'kan, Hyung? Do Kyung Soo itu imprintee-mu?" Sehun menegaskan untuk kesekian kalinya.

Kai menunduk, dengan gerakan tanpa tenaga dia beranjak ke kursi di sebelah Sehun dan duduk tanpa banyak bicara. Namja itu meletakkan kedua tangan di atas meja dan menghela napas sekali lagi. Sehun yang melihat sikap down kakaknya, hanya bisa mengulum senyum kemenangan. Dia meletakkan buku ke atas meja, sebelah tangannya terangkat dan menepuk bahu Kai dengan pelan.

"Punya imprintee bukan seperti kau berubah jadi siput yang menggendong rumah, Hyung. Karena imprintee bisa berjalan dan makan sendiri, jadi kau tidak perlu menjadikan mereka sebuah beban," hibur Sehun sok tua.

Kai kembali menghela napas, tidak membalas perkataan Sehun.

"Oh, jadi ini alasan kenapa tadi pagi kau bertanya padaku soal imprinting? Apa kau berniat untuk meninggalkan Kyungsoo?" Sehun teringat pada pembicaraan mereka berdua saat dihukum untuk berdiri bersama di koridor kelas pagi tadi.

Maknae masih melanjutkan ocehannya tak peduli pada Hyung-nya yang tidak merespon ucapannya. "Eyy...kau yakin akan meninggalkan yeoja sebaik dia begitu saja?"

Bibir Kai terbuka. "Molla," desisnya.

Kai tidak menampik perkataan Sehun karena memang pada awalnya dia bermaksud untuk meninggalkan Kyungsoo dan melupakan kenyataan jika Kyungsoo adalah imprintee-nya. Ya, awalnya Kai berniat seperti itu. Namun entah sejak kapan sosok gadis itu malah masuk semakin dalam dan membuat tempat di sudut hatinya, tempat yang kecil tapi sangat mengganggu dan cukup untuk membuatnya tidak bisa melupakannya meski sekejab.

Lalu tanpa Kai sadari, Kyungsoo sudah menjadi bagian penting dari hari-harinya. Kehadirannya, yang seharusnya menjadi hal yang biasa karena mereka satu kelas, perlahan-lahan seperti menjadi sebuah candu untuk Kai. Sehari saja tidak melihat wajah Kyungsoo atau mencium baunya, akan membuat hati Kai tidak tenang dan dia bisa bertindak seperti seekor anjing yang lupa jalan pulang begitu saja.

Kai yang tidak ingin terlibat dengan imprinting maupun hal-hal rumit yang berhubungan dengan hati, malah memiliki perasaan khawatir dan penasaran yang besar pada seorang yeoja yang bahkan tidak pernah dia ajak bicara dan mungkin tidak mempedulikannya.

"Hyung, nikmati saja. Sudah aku bilang 'kan kalau imprinting tidak akan membuatmu lemah, malah sebaliknya kau akan semakin kuat karena punya motivasi besar untuk bertahan hidup dan melindungi seseorang. Kalaupun kau melemah, kau masih akan jadi yang terkuat di antara kita berempat, Appa bahkan mengakui kekuatanmu. Jadi tenang saja," ujar Sehun.

"Bukan itu masalahnya..." Kai mendesis.

"Apa kau meragukan hati Kyungsoo? Apa kau pikir mungkin saja Kyungsoo akan berubah di saat kau tidak bisa berhenti mencintainya? Geuraeyo?" selidik Sehun.

Kai menoleh memandang namja berambut kelabu di sampingnya, mata sewarna mereka saling menatap satu dengan yang lain. Sehun mengerti arti tatapan itu, meski tak ada suara yang keluar di antara mereka. Menjadi saudara yang lahir dari rahim wanita yang sama membuat mereka setidaknya memiliki cara untuk bicara melalui mata.

"Apa kau sudah mengatakan soal imprinting ini pada Kyungsoo?" pertanyaan pertama Sehun.

Kai menggeleng. "Anni."

"Apa kau sudah mengatakan pada Kyungsoo kalau kau menyukainya?" pertanyaan kedua Sehun.

Sekali lagi Kai menggeleng. "Anni."

"Apa kau sudah menunjukkan wujud aslimu di depan Kyungsoo?" pertanyaan ketiga Sehun.

"Anni."

"Lalu kenapa kau mencemaskan soal Kyungsoo yang akan meninggalkanmu kalau kau saja tidak melakukan apa-apa? Babo-ya!? Aissh!" Sehun mengakhiri sesi interogasinya dengan umpatan.

Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Malam ini temuilah Kyungsoo dan pastikan dia imprintee-mu, lalu selesaikan semua masalah," ujar Sehun gemas dengan sikap lamban Hyung-nya yang satu itu. Wajah boleh tampan, tubuh boleh atletis, tapi sistem saraf Kai tidak cukup bagus untuk menghubungkan hati dan otaknya. Oleh karena itu dia menjadi orang yang tidak sensitif dan selalu terlambat menyadari perasaannya sendiri.

"Kyungsoo pernah bilang kalau dia takut pada werewolf," desis Kai lesu.

"Itu wajar! Anak kecil bahkan orang pikun sekali pun kalau kau tanya soal werewolf, mereka juga akan bilang kalau mereka takut. Dimana-mana mitos werewolf itu menakutkan, makanya tidak ada cerita werewolf yang menyelamatkan dunia!" omel Sehun, lalu untuk sesaat dia terdiam.

"Tapi menurutku, Kyungsoo mungkin tidak akan takut padamu, Hyung," sambung namja berkulit putih bersih itu membuat kepala Kai langsung menoleh padanya, memandang wajahnya yang nyaris bening tanpa noda, dengan lekat.

"Kyungsoo gampang dekat dengan orang asing dan mudah memaafkan, sepertinya dia tidak akan menolakmu. Kalau pun dia takut, itu paling hanya efek awal dari rasa kagetnya. Tapi aku yakin kalau dia tidak akan membencimu. Meski badannya kecil, aku bisa merasakan hati Kyungsoo sangat besar dan kuat," ujar Sehun tenang.

Mata Sehun nampak menerawang, pikirannya melayang ke masa lalu, masa saat dia memperlihatkan sosok bertaring dan berbulunya untuk pertama kali di hadapan Luhan. Wajah terkejut Luhan saat itu, ekspresi ketakutannya, dan jeritan histerisnya yang melengking benar-benar tidak bisa dilupakan oleh Sehun, lalu secara spontan menjelma menjadi goresan luka yang sangat dalam di hatinya yang meninggalkan bekas hingga sekarang.

Untuk pertama kalinya dia melihat Luhan sangat ketakutan. Luhan ketakutan dan tidak ada yang bisa Sehun lakukan. Yang lebih parahnya lagi, orang yang membuat gadis itu histeris adalah dirinya sendiri, orang yang mengaku sangat mencintai dan akan melindungi Luhan selamanya.

Sehun menutup mata, mencoba mengubur lembar paling kelam buku kehidupannya di dalam kegelapan. Mengingat moment mengerikan itu hanya akan membuatnya ingin bunuh diri. Menyadari kenyataan jika dia pernah membuat gadis yang paling dia cintai terguncang dan nyaris menderita trauma, memberikan tamparan keras tersendiri untuk jiwa Sehun. Mentalnya jatuh, terhempas hingga ke dasar jurang. Oleh karena itu dia tidak marah ataupun merasa kesal saat kemudian Luhan menjauhinya dan mulai bersikap kasar padanya. Dia merasa dia pantas menerimanya karena sudah mengecewakan yeoja tersebut, karena sudah membuat impian-impian indah yang Luhan rajut di sebelah namanya menjadi pupus, hilang seperti serpihan debu.

Tapi meski begitu, meski Luhan sudah menjaga jarak dengannya, Sehun masih tidak mampu menahan perasaan meluap yang belum dan tidak bisa berubah pada yeoja itu. Secara membuta Sehun terus menerus mengikuti langkah kaki Luhan. Tak ada tujuan dan alasan masuk akal kenapa dia melakukan tindakan gilanya. Yang dia tahu hanyalah, dia ingin selalu melihat Luhan, hanya itu.

"Sehun-ah." Suara Kai menyadarkan Sehun dari lamunannya, kini gantian si Maknae yang memandang blank pada Hyung-nya.

"Ada yang kau pikirkan?" tanya Kai heran karena tiba-tiba Sehun terdiam.

"A...anniya...anni...gwaenchana," jawab Sehun gugup.

Kai tidak bertanya lagi. Dia sebenarnya tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran adiknya, tapi dia lebih memilih diam dan tidak menanyakannya.

"Hyung, malam ini pokoknya kau harus menemui Kyungsoo dan memastikan dia imprintee-mu atau tidak. Kau harus melakukannya!" Sehun kembali mengompori Kai.

Kai memandang wajah Sehun dengan sinar mata redup. "Itu tidak mudah," desisnya.

"Ara! Arasseo!" Sehun menekan kalimatnya. "Tapi kalau kau tidak melakukannya sekarang, kau harus menunggu sampai purnama bulan depan. Selagi kau menunggu, Kyungsoo mungkin akan direbut namja lain. Kau mau itu terjadi!?"

"Anni." Spontan Kai menjawab perkataan Sehun.

"Makanya!" Sehun menegaskan kalimatnya sekali lagi. "Temui dia, lalu cium dia!"

Kai memandang Sehun sesaat lalu muncullah segaris senyumannya, senyum yang menahan tawa. Membuat alis tebal Sehun mengerut penuh keheranan.

"Wae? Apa yang lucu?" desis namja berwajah baby face itu dengan suara rendah. Senyuman geli Kakaknya entah kenapa membuat dia merasa malu. Kai yang biasanya datar tanpa emosi, mendadak tersenyum hampir tertawa seperti itu menandakan ada hal yang benar-benar lucu yang memang pantas untuk ditertawakan.

"Neo," tunjuk Kai masih dengan senyum menahan tawa menghiasi wajahnya.

"Nan? Wae?" protes Sehun.

"Kau tahu aku tidak dekat dengan Kyungsoo. Aku bahkan tidak pernah mengajak dia bicara. Dan sekarang kau menyuruhku untuk langsung menciumnya. Apa kau pikir itu masuk akal? Yang ada malah dia akan menganggapku orang mesum," ujar Kai.

"Bukankah Chanie Hyung dulu juga begitu? Dia baru mengenal Baekhyun selama 3 hari dan langsung memastikan imprinting..." kalimat Sehun terhenti. Kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya kemudian meluncur dengan nada datar. "...dan Baekhyun tidak menolaknya."

"Mereka adalah orang-orang yang levelnya sudah berada di titik yang tidak bisa dinalar oleh apapun. Jangan jadikan dua orang aneh itu sebagai patokan. Validitas mereka diragukan," cetus Kai.

"Tapi...! Kyungsoo dan Baekhyun sahabat baik, bukannya ada kemungkinan mereka punya sifat yang sama?" Sehun masih tidak mau menyerah.

"Mereka punya banyak kesamaan, tapi juga ada banyak perbedaan. Kyungsoo tidak senekad Baekhyun dan Baekhyun tidak seempati Kyungsoo. Kau tidak bisa memukul rata semua orang hanya karena persahabatan," sanggah Kai.

"Tapi ada yang bilang, manusia dengan sifat yang sama akan berkumpul secara alami..."

"Itu Hyung! Contoh nyata sepanjang jaman untuk kalimat itu cuma Chanie Hyung dan Tao Hyung! Sudah aku bilang, kau tidak bisa memukul rata semua hal. Tidak ada yang sangat salah ataupun sangat benar. Pengecualian itu selalu ada," sela Kai dengan volume up, mengakhiri perdebatan antara dirinya dan Maknae.

Sehun terdiam, bersikap seolah sudah mengakui kekalahannya. Namun kemudian mulut berbibir tipis berwarna kemerahan itu kembali terbuka.

"Temui Kyungsoo malam ini." Sehun menutup sesi perdebatan dengan kesimpulan yang membuat Kai memegang belakang lehernya.

"Ya, kenapa kau begitu memaksa? Apa kau menyukainya?" tandas Kai mulai kesal.

"Ne." Jawaban pendek Sehun membuat mulut Kai menganga lebar. Sehun menyambung kalimatnya sebelum suara Kai terlepas keluar.

"Kyungsoo yeoja yang baik, Luhan juga bilang seperti itu. Dan kelihatannya Luhan sangat menyukai Kyungsoo..."

"Apa kau menyukai Kyungsoo hanya karena Luhan menyukainya?" sela Kai.

"Tentu saja, apa aku punya alasan lain?" balas Sehun sederhana. "Aku akan melakukan apapun untuk Luhan. Aku menyukai apa yang dia sukai dan tidak suka hal-hal yang dia benci. Termasuk soal Kyungsoo."

Kai kembali memegang leher belakangnya mendengar penjelasan Maknae. Dia sudah terkejut dengan sia-sia. Tidak seharusnya dia menganggap serius perkataan Sehun yang menyukai Kyungsoo. Meskipun Sehun orang yang serba realistis, tapi kalau sudah berurusan dengan Luhan, akal sehat Sehun memang langsung menguap tanpa bekas. Mata pikiran, mata hati, bahkan instingnya hanya dipenuhi oleh Luhan, Luhan, dan Luhan. Tak ada yang lain.

"Kai-ya." Sebuah suara menyela pembicaraan antara Hyung dan Dongsaeng tersebut. Kai dan Sehun menoleh bersamaan pada namja yang baru saja datang. Untuk sesaat namja itu tercengang melihat 2 orang ulzzang dengan bola mata sewarna yang duduk bersisian menatapnya seperti dua ekor anak anjing yang lucu.

"Waeyo?" tegur Kai menyadarkan namja itu.

"Ah? Eh? Ka...kau...?" namja tersebut gugup untuk sesaat. Dia mengatur napasnya sebentar sebelum bicara, sementara Kai nampak menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Apa kau sedang sibuk?" tanya namja yang memakai pakaian seragam karyawan, sama seperti pakaian yang sekarang dikenakan oleh Kai.

"Anneyo. Waeyo?" jawab Kai.

"Kalau begitu ikut aku. Ada buku yang baru datang di garasi, bantu aku mengangkatnya ke atas," pinta rekan Kai membuat Kai mengedipkan mata bimbang. Dia tidak ingin menolak tapi dia lebih tidak ingin meninggalkan Kyungsoo. Dengan bingung namja itu memandang ke arah adiknya.

"Hyung, biar aku yang mewakilimu mengawasi Kyungsoo di sini. Pergilah dan bekerjalah dengan tenang. OK?" Sehun memberi isyarat OK dengan tangan kanannya. Senyuman poker kembali muncul di wajah tampannya.

Kai mengetatkan gigi sembari mencibir pada Maknae yang cengengesan tanpa dosa.

"Kai-ya?" teman Kai mencoba menengahi dua saudara itu.

"Ne, akan 'ku bantu," ujar Kai membuat temannya tersenyum.

"Aku akan segera kembali," pesan Kai pada Sehun.

"Yes, Sir!" Sehun melakukan hormat yang kembali dibalas cibiran oleh Hyung-nya.

"Ya, Kai, apa dia adikmu?" senggol teman kerja Kai yang dibalas anggukan kalem rekannya begitu mereka sudah berjalan agak jauh dari tempat Sehun.

"Wuahh...! Ya, apa keluargamu itu keturunan ulzzang? Adikmu begitu tampan, kau juga, dan namja yang dulu kau bilang kakakmu itu juga tampan. Apa seluruh keluargamu sama-sama tampan seperti itu?"

"Sejujurnya..." kalimat Kai terpotong. "Umma-ku tidak tampan. Dia cantik."

"Ara, ara! Isseki!" teman Kai mengumpat. "Tapi, apa rahasianya sampai semua keluargamu ulzzang begitu? Apa kalian makan makanan khusus? Biji almond atau sesuatu yang lain?"

Kai menoleh, menatap temannya yang bertinggi tubuh beberapa senti di bawahnya. Dipandang intens oleh sepasang mata abu-abu itu, mau tak mau membuat namja rekan kerja Kai sedikit merasa gentar juga. Apalagi cara memandang Kai memang pada dasarnya dingin dan tanpa emosi. Membuat siapapun yang ditatap akan langsung merasa bersalah atau terpojok, walau mungkin sebenarnya Kai tidak bermaksud seperti itu.

"Kami banyak makan daging. Apa itu pengaruh?" tanya Kai membuat temannya menyeringai.

"Tentu saja pengaruh. Kualitas dagingnya tetap akan berpengaruh."

Kepala Kai meneleng. Dia baru tahu jika pola makan seseorang bisa mempengaruhi wajah dan penampilan orang itu. Tapi...benarkah?

.

.

.

Sehun menempelkan ujung dagu lancipnya di atas buku novel yang dia biarkan tertutup di atas meja. Sepasang matanya tak lekang memandang sosok Kyungsoo yang sibuk melayani pelanggan kafe di seberang jalan. Tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang nampak letih tidak membuat yeoja itu menghentikan gerakannya sama sekali. Bahkan senyuman dan binar cemerlang di kedua matanya terlihat begitu tulus tanpa dibuat-buat, menunjukkan jika dia benar-benar menikmati semua kesibukannya meski sebenarnya dia merasa lelah.

Sehun tersenyum tipis, teringat pada Luhan yang juga punya kepribadian seperti itu. Luhan akan melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan dengan sepenuh hati walau dia harus jatuh sakit karenanya. Itulah salah satu alasan kenapa Sehun tidak bisa mengalihkan perhatian meski sejenak dari Luhan. Karena tekad dan semangatnya yang kuat kadang bisa membuatnya celaka tanpa dia sadari, jadi harus ada orang yang bisa menyelamatkannya di waktu yang tepat atau semuanya akan terlambat.

"Kyungsoo-ya," desis Sehun.

"Keluarga kami mungkin tidak sempurna dan akan membuatmu sakit kepala. Tapi, kami pastikan kami akan melakukan yang terbaik untukmu. Umma pasti akan menyukaimu seperti dia menyukai Luhanie," sambung namja berambut kelabu seperti beruban tersebut sambil tersenyum.

"Selamat datang di keluarga kami, Kyungsoo-ya."

-TBC-


WARNING!

I am the type can get upset easily just because of a word.

So, tolong tinggalkan jejak yang sopan ya^^
Kalo gak suka (terutama benci GS!) langsung tutup tab aja, gak usah ninggalin flaming / bashing. Be silent reader is better than be flamer. Karena REVIEW ITU HIDUP AUTHOR, yang nentuin cerita lanjut / gak.

Hope you will always get the best only, Guys~^^ ❤


FAQ

Q: kapan atuhlah kai sama kyungsoo jadian, udah gak sabar ini ;_;

A: Mereka akan jadian di waktu & tempat yang indah, tunggu aja, kkk

Q: ah hunhan...apa yang akan mereka lakukan di sungai han? nyelem bersama ya?

A: Mandi bersama *eh ._.

Q: Kai sama Kyungsoo kapan bersatunya? I'm dying of curiousity of their own story

A: Kapan ya? Selama Kai berani nembak Kyung ... ada yang mau bantu Kai buat nembak Kyung? Tapi jangan malah kalian yang nembak Kai, ya, lol XD

Q: Kaisoo momentnya mana ? Saya butuh asupaan itu /? Wkwkwkwkwk

A: Sakau KaiSoo O_O mian, kayaknya KaiSoo bakal absen sampai beberapa chapter ke depan, karena *bocoran* kisah mereka akan menutup seri Full Moon^^

Q: seneng hunhan udah baikan kekeke tapi kok kyungsoonya gak ada thor:( where my kyungie?

A: Coba cari ke hatinya Kai, Kyung 'kan selalu ada di hatinya Kai *halah*

Q: Hunhan udah, kaisoo udah, chanbaek udah, ntar tao sama siapa? Sama aku aja boleh gak?

A: Boleh, silakan^^ tapi kalo dia kabur nyari Lay, jangan salahin aku ya^^

Q: seru kali ya kalo chantao berlagak jadi mata2 :-D

A: Seru ato malah lawak? lol XD

Q: noona bisa nggak jangan jadiin sehun jadi kayak cowok yg dikit-dikit mewek gitu?

A: Sehun 'kan maknae *terus hubungannya apa?* dia mewek di depan Luhan itu 'kan cuma aegyo, lagian kayaknya dia nangis pas dipukul Luhan doang. Soal dia nangis pas putus, siapa sih yang gak mewek pas diputusin pacar? ㅠㅠ huks- (Tapi bukan berarti saya abis putus lho ya -_- saya dari awal juga gak punya pacar *eh buka aib ._.)

Q: noona bisa kasitau jangka waktu update itu berapa minggu sekali ato gimana? Biar aku gaketinggalan gitu3 aku suka sama 4 malaikat dunia kalo lg barengan, mereka kyeomne:3

A: Gak pasti sih update-nya kapan. Tapi aku selalu woro-woro di twitter kalo update^^ 4 malaikat dunia!? siapa!? yang mana!? Aku gak ngerasa udah bikin karakter kayak gitu O_O


Last ...

Review?

No flaming please^^

Buat yang gak punya akun di FFN & pengen review-nya dibales, bisa mention author lewat twitter / ask . fm (lihat di profil)^^ boleh juga kalo mau gangguin author, kepo tanya2 kapan update, berdemo, protes, apalagi ngasih es krim gratis & cookies (?) author is VERY WELCOME~!

FYI: I always share about the update in twitter, so just check my twitter to know about fast update and more^^

Kamsahamnida~ *bow*