Disclaimer: Always Kubo Tite's, not mine! *Uki hanya memiliki fanfic gaje ini*

Warning: Romance (g berasa), Drama (g mutu), Humor (garing), Salah2 ketik, OOC (bertebaran), Gombalizm

Rated: Uki masih setia pasang T

"Apa kau mau datang saat Mita-sai?"

Mita-sai pertamaku sebagai mahasiswi Keiou, kami janjian di depan kampus. Dan aku menunggunya hingga 3 jam, tidak biasanya ia telat hingga 3 jam. 2 jam itu batas keterlambatan Ichigo yang paling maksimal, aku sampai berpikir kalau Ichigo lupa. Tapi, ternyata Ichigo datang juga. Bersama Yadoumaru-senpai.

Ichigo bertingkah seperti biasa. Dalam hati aku merasa kecewa. Kukira hanya kami berdua saja, bersenang-senang di Mita-sai. Rupanya tidak, ada Yadoumaru-senpai. Padahal aku berencana mengulangi rencanaku yang gagal sewaktu di Ehime, tapi mana bisa kulakukan jika Yadoumaru-senpai terus berada di samping Ichigo. Ichigo terlihat seperti tidak merasa terganggu dengan adanya Yadoumaru-senpai. Malah Ichigo terlihat senang. Seperti bocah SD, dia antusias mengikuti keramaian festival. Dengan Yadoumaru-senpai. Kulihat Ichigo begitu perhatian pada senpai, dan menuruti permintaan senpai.

Aku merasa terasing dan berharap senpai segera bosan. Untunglah aku bertemu Shiori-chan, teman sekelasku di Keiou. Setidaknya aku merasa lebih baik –meski masih kecewa–

"Festival yang meriah ya?" ujar Yadoumaru-senpai. Tiba-tiba saja ia berdiri di sampingku.

"Iya."

"Bagaimana menurutmu?" Yadoumaru-senpai memperlihatkan benda yang ada di tangannya. Sebuah bel angin. Cantik sekali.

"Bagus sekali," jawabku.

"Fufufu... Kurosaki baik sekali ya? Membelikanku ini." Yadoumaru-senpai tersenyum sambil mempermainkan bel angin itu.

"O-ohh..."

"..."

"..."

"Kuchiki, apa status hubunganmu dengan Kurosaki? Ada yang spesial?" Pertanyaan Yadoumaru-senpai tidak bisa kujawab langsung.

"... I-itu-"

"Risa-senpai, mau lihat pertunjukan band tidak?" Ichigo menghampiri kami.

"Boleh."

"Rukia kau mau nonton juga?"

"... Tidak. Aku mau lihat yang lain."

"Ya sudah. Selamat bersenang-senang!"

"Kau juga."

"Kuchiki, kami duluan ya?"

"Ya, Senpai..."

Lalu mereka berdua meninggalkanku. Kenapa senpai juga datang sih? Buat apa aku pergi dengan mereka? Lalu buat apa aku kemari, jika aku tidak menikmatinya? Kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Yadoumaru-senpai? Padahal dulu dengan jelas Ichigo mengatakan bahwa kami berpacaran di depan Inoue-san, kenapa aku tidak bisa seperti itu di depan Yadoumaru-senpai? Jika begini, seharusnya aku tidak usah janjian dengan Ichigo. Bodoh.

Aku memang menyukai Ichigo, tapi bagaimana dengan Ichigo? Untuk hal ini, aku tidak bisa mengerti Ichigo. Aku sudah lama menyadari ini, bahwa aku takut namun sangat ingin mendengar langsung dari mulut Ichigo sendiri tentang perasaannya padaku. Di satu sisi aku ingin tahu. Aku tidak mau terus-terusan bingung akan hubungan aneh ini. Tapi aku juga takut mendengarnya. Bagaimana jika Ichigo benar-benar menganggap hubungan ini permainan saja? Dulu, samar-samar aku merasakan bagaimana perasaan Ichigo padaku. Dan dengan kedatangan Yadoumaru-senpai sekarang, semuanya terlihat jadi lebih jelas.

"Rukia-chan? Kenapa?" Shiori-chan yang tadi pergi sebentar untuk menyapa temannya, suaranya terdengar khawatir.

"Tidak enak badan ya?"

"Aku baik-baik saja kok. Ga usah khawatir."

"Yakin?"

"Iya. Tenang saja!"

"Bagus deh kalau memang begitu. Kurosaki-san dan Yadoumaru-san kemana?"

"Melihat band di sana. Shiori-chan mau ke sana juga?"

"Tidak ah!"

"Kukira Shiori-chan juga mau melihatnya."

"Rukia-chan, kita lihat pertunjukkan *taiko yuk! Hiroshi-kun, Hamada-chan dan Katagiri-san sudah di sana."

"Ya."

Di tengah alunan suara tabuhan taiko, otakku kembali memikirkan Ichigo dan Yadoumaru-senpai. Aku tidak bisa membuangnya dari otakku.

'Apa mereka berdua sekarang sedang menikmati festival?'

"Bagus ya!" komentar Shiori-chan.

"Iya."

"Eh Rukia-chan, Kurosaki-san dan Yadoumaru-san punya hubungan apa?" tanya Shiori-chan.

"Eh itu..."

"Rukia-chan?"

"Tidak tahu."

...

Try Me! : The Night That I Still Remember

Setelah Mita-sai tidak banyak interaksi antara aku dan Ichigo. Apalagi sejak memasuki tahun kedua. Fakultas kedokteran dan fakultas bisnis dan perdagangan melakukan aktifitas perkuliahan di kampus yang terpisah. Kami tidak lagi beraktifitas di kampus Mita.

Kami juga makin sibuk dengan kuliah masing-masing, kami bukan lagi mahasiswa tahun pertama. Kami harus mempersiapkan diri kami untuk *penjurusan di tahun ketiga. Ditambah Ichigo juga sibuk dengan teater. Pada tahun kedua, Ichigo lebih aktif di drama panggung.

Tentu saja dengan kondisi demikian, tidak ada kelanjutan dari rencana penembakan. Rencana tinggal rencana. Tidak ada eksekusinya. Aku sampai berpikir mungkin sebaiknya aku menyerah dengan rencana ini. Bayangkan saja, aku hanya bisa melihat Ichigo dari layar kaca, jika drama seri yang ia perankan diputar. Aku merasa jauh dari Ichigo.

...

Tahun keempat, gelagat aneh Ichigo sampai padaku. Salah satu dosennya menanyakan keadaan Ichigo padaku saat kami bertemu di kampus Mita. Saat itu aku ada keperluan di sana. Dari dosennya, Kurotsuchi-sensei, aku baru mengetahui kalau Ichigo terancam mengulang setahun lagi. Ichigo, menurut beliau, sering bolos kuliah dan praktikum. Sebelumnya aku tidak tahu apa-apa mengenai hal ini, setelah tahun ketiga aku benar-benar tidak berhubungan dengan Ichigo secara langsung. Hanya lewat e-mail. Ichigo tidak mengatakan apa-apa mengenai kuliahnya. Cuma menanyakan kabarku dan menanyakan apa aku punya waktu luang untuk menyempatkan diri menonton kompetisi kyudo atau baseball.

Sejauh pengetahuanku, Ichigo tidak pernah bermasalah seperti ini sebelumnya. Dulu sewaktu sekolah, masalah yang dibuat Ichigo hanya sebatas perkelahian dengan siswa sekolah lain atau masalah gosip dan kerusuhan fans. Itupun tidak besar, perkelahian Ichigo tidak sampai diketahui oleh pihak sekolah atau keluaganya. Meski sering tidur di kelas atau di atap sekolah, Ichigo tidak pernah tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan. Benar-benar tidak biasa.

Ichigo menghilang.

Aku ingat betapa khawatirnya aku saat itu. Hilang tanpa jejak begitu, mau tak mau pasti khawatir kan? Bagaimana mungkin orang semencolok Ichigo bisa menghilang? Tidak mungkin sama sekali kan!

Aku bertanya ke mana-mana. Keluarganya tidak tahu Ichigo menghilang kemana. Teman-teman sekampusnya juga. Sewaktu kutanya pada Urahara-san, apa Ichigo saat ini sedang dalam masalah pekerjaan, Urahara-san malah bertanya padaku apa aku tahu kira-kira tujuan Ichigo jika ingin menyendiri. Aku juga bertanya pada Yadoumaru-senpai. Walau tadinya aku merasa enggan untuk bertanya padanya, tapi waktu kupikir mungkin hanya senpai yang tahu. Rupanya, senpai juga tidak tahu –Aku sampai bertanya pada kakakku dan Gin-san!–

'Hilang kemana sih? Awas saja kalau ini hanya ulah iseng Ichigo!'

Tidak kutemukan jejak keberadaan Ichigo, sampai aku bertemu dengan Chad. Aku saat itu tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Lagipula kupikir mungkin Chad tahu. Instingku mengatakan demikian.

Benar saja. Chad tahu dimana Ichigo saat itu.

...

Kyudojo malam itu kosong, hanya ada Ichigo seorang. Berdiri di shai dengan keikogi dan hakama lengkap, tanpa mitsugake. Entah sudah berapa jam Ichigo memanah. Panah berhamburan. Di *mato, *azuchi, yatori michi, dan *yamichi. Kulihat Ichigo seperti ada hal yang mengganggu pikirannya. Panah yang terakhir hanya bisa mendarat di yamichi, sama sekali tidak mencapai azuchi.

"..."

"Hassetsu yang jelek sekali. Kyouraku-sensei dan Ishida bisa marah lho."

"Sudah lama di situ?" tanya Ichigo tanpa menoleh padaku.

"Baru 15 menit."

"Kenapa tidak menghentikanku?" Ichigo melakukan *hikiwake.

"Mana bisa."

"..." Ichigo melakukan hanare. Panah menancap di sebelah mato.

"Semuanya mengkhawatirkanmu. Kenapa tidak memberi kabar?"

"Entahlah."

"Kenapa tidak pakai mitsugake?"

"Malas." Ichigo mengambil anak panah lagi.

"Berhentilah membuat orang lain cemas!"

"… Siapa yang cemas?"

"Aku! Aku yang cemas! Berhenti atau aku akan menghajarmu!"

"… Coba saja kalau kau bisa…"

Rasanya gemas sekali. Aku segera menghampiri Ichigo dan merenggut tangan yang seharusnya mengenakan mitsugake. Jari-jari yang seharusnya terlindungi itu luka-luka. Baru kusadari kalau sejak tadi darah sudah menetes di shai.

PLAAKK!

"Dasar bodoh! Mau dibiarkan sampai kapan?"

"..."

Untungnya aku ingat di mana Bi Yoshie menyimpan kotak P3K. Sampai sekarang pun masih disimpan di tempat yang sama. Ichigo diam saja saat kubersihkan dan kuobati luka-luka di jarinya. Karena hanya ada kami berdua, hikae terasa begitu luas.

"..."

"..."

"..."

"Selama ini kau ada di mana?"

"Di tempat Chad."

"Beri kabar kalau mau menghilang."

"Mana bisa seperti itu. Menghilang tapi memberi kabar, itu bukan menghilang namanya."

"Paling tidak kau seharusnya menghubungiku."

"... Maaf."

"Kumaafkan asal kau mau cerita."

"Kalau begitu tak usah kau maafkan."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Kenapa?"

"..."

"Kenapa tidak mau mengatakannya padaku?"

"..."

"Tidak kau katakan pun, tetap akan membuatku khawatir. Sama saja... Kau mau membuatku mati penasaran? Iya?"

"Rukia..."

"Kenapa? Kalau kau cerita, *Fujisan akan memuntahkan lahar?"

"Bukan itu."

"Lantas kenapa?"

"..."

"Apa aku tidak bisa diandalkan?"

"..."

"Apa aku ini payah?"

"Bukan. Tapi ini masalahku sendiri. Aku tidak ingin melibatkan orang luar."

"... Aku ini orang luar ya?"

"Ru-"

"Ada banyak alasan kenapa aku berhak tahu. Pertama, kau sudah membuatku cemas..., kedua, kau membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu..., ketiga, aku sudah lelah mencarimu kemana-mana..."

"..."

"Lalu jangan lupa Ichigo, aku sekarang ini adalah 'pacar'mu. Itu cukup kan sebagai alasan kenapa aku harus dengar ceritamu?"

"..."

"Bagaimana, hmn?"

Hening.

"..."

"..."

"Tidak mengerti."

"..."

"Aku tidak mengerti kemauanku sendiri."

"..."

"Aku tidak mengerti diriku sendiri... Padahal jika aku terus melangkah di jalan yang sudah ada ini, aku bisa memenuhi harapan semuanya. Tapi sebelah kakiku menginjak jalan yang lain. Aku ingin mundur, tapi tidak bisa semudah itu."

"..."

"Aku ingin tetap kuliah kedokteran, tapi hatiku menjerit dan berkata 'tidak'. Jika kuikuti, aku akan mengkhianati harapan keluargaku."

"..."

"Sebelum penjurusan, aku sudah mencoba memikirkannya baik-baik. Tapi aku tidak bisa memutuskannya."

"..."

"Aku ini payah..."

"..."

"Semakin kuulur dan kutunda, bebannya semakin berat."

"..."

"Sekarang aku tidak bisa bergerak lagi."

"Kau.., kenapa kau takut? Selama ini kau sudah melakukan banyak hal dengan baik."

"..."

"Kau ini tidak payah, Ichigo!"

"Tapi aku sudah berjanji pada ibuku! Menjadi yang terbaik dan panutan untuk adik-adikku! Bagaimanapun juga aku harus jadi contoh yang baik!"

"..."

"Karena aku seorang 'kakak'..."

Saat itu aku jadi ingat masa-masa sekolah kami dulu. Meski suka aneh dan konyol serta melanggar peraturan, tapi nilai-nilai Ichigo selalu lebih baik dariku. Tidak hanya prestasi akademiknya, kemampuan olahraganya juga termasuk hebat, begitu juga kemampuan bersosialnya. Aku langsung menyadari belenggu tak kasat mata yang mengikat Ichigo, dan alasan dibalik tingkah Ichigo yang sering kontradiktif.

'Inikah alasannya?'

"Aku tidak ingin-"

"Bodoh! Pilih saja jalan yang bisa membuatmu hidup bahagia tanpa penyesalan!"

"Tapi-"

"Mendiang ibumu tidak bilang kau harus jadi dokter kan? Beliau juga tidak bilang kau harus jadi aktor."

"..."

"Pilih saja jalannya dan nikmati. Jalan yang seperti apapun asalkan kau bahagia. Kupikir pasti mendiang ibumu juga akan senang."

"..."

"Tidak ada orang tua yang tidak senang melihat anak-anaknya bahagia."

"..."

"Masih ragu?"

"Bagaimana dengan adik-adikku? Kekaguman mereka begitu besar."

"Kau tidak akan gagal sebagai kakak, Ichigo. Aku yakin itu. Adik-adikmu juga akan mengerti, kalau kau punya keinginan sendiri. Jika tidak sekarang, ketika dewasa mereka pasti mengerti."

"... Kau sendiri tidak apa-apa?"

"Apanya?"

"Jika aku tidak jadi dokter?"

CTAAKK!

Aku memberi Ichigo sebuah *dekopin tepat di dahinya.

"Auww! Sakit Rukia!"

"Idiot! Jadi dokter atau tidak, bagiku Ichigo tetap saja Ichigo!"

"..."

"..."

"Hmmppftt... Aku tetap 'aku' ya?"

"Tentu saja. Memangnya kau mau berubah jadi alien?"

"Hahahahaha..."

"Mau?"

"Hahahahaaa... Rukia, temani aku sebentar lagi, nanti kuantar pulang." Ichigo beranjak meraih yuminya dan memasang mitsugake.

"Ya."

...

Hingga 2 jam aku menemani Ichigo. Panah yang dilepaskannya kemudian banyak yang tepat mengenai sasaran di tengah. Dia pulih. Aku menikmati memandangi Ichigo berlama-lama. Entah kenapa dalam hati aku merasa bahwa kami akan semakin jauh. Setelah itu, kami tidak langsung pulang. Ichigo mengajakku ke rumahnya.

Malam itu, Ichigo berniat mengatakan langsung pada keluarganya. Tentu saja aku tidak menolak, Ichigo sedang butuh dukungan. Saat kucoba menggenggam tangannya, terasa dingin. Wajah Paman Isshin yang ceria menyambutku berubah saat melihat wajah serius Ichigo.

Aku tidak bisa lupa saat Ichigo menerima begitu saja tinju dari Paman Isshin, saat Ichigo mengatakan kalau dia ingin berhenti kuliah kedokteran. Dan mereka saling beragumen. Sama seperti saat kakakku perang mulut dengan ayahku. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah, lalu keduanya pun membisu.

"..."

"..."

"Ayah, aku tidak ingin menyesal nantinya."

"..."

"Aku janji akan tetap hidup dengan baik, ayah tidak perlu cemas nantinya."

"... Darah dari ibumu rupanya begitu kental."

"..."

"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jalani hidupmu sesukamu!"

"Ayah."

"Awas saja kalau kau tidak dapat Oscar! Sebaiknya sekarang kau antarkan menantuku. Ini sudah larut malam."

Ichigo mengantarku pulang dengan taksi. Walau memasang wajah tenang, tapi aku sedih karena Ichigo akan meninggalkan Keiou.

"Maaf ya, Rukia."

"Tidak perlu minta maaf."

"..."

"Setelah keluar dari Keiou nanti, kau mau kemana? Sudah kau pikirkan?"

"Sudah."

"...Rupanya sudah kau pikirkan ya? Baguslah!"

"Jurusan schenography di *Musashino."

DEG

"Itu..."

"Sama dengan Risa-senpai."

"..."

"..."

...

Taksi berhenti di depan rumahku, dan Ichigo mengantarku sampai depan pintu. Mendengar jawaban Ichigo tadi membuatku kehilangan suara.

"Aku sudah sampai... pulanglah-"

Tanpa peringatan Ichigo memelukku.

"..."

"..."

"Terimakasih, Rukia."

"..."

"Oyasumi."

Aku memandangi taksi yang membawa Ichigo, setelah itu aku masuk ke rumah. Kakiku terasa berat dan anak-anak tangga terasa makin banyak. Sesampainya di kamar, aku tidak bisa membendung air mataku lagi.

Berat dan sedih untukku menerima bahwa Ichigo akan keluar dari Keiou dan masuk universitas yang sama dengan Yadoumaru-senpai. Sampai di sini sajakah?

Bersambung...

m(_ _)m

DOONGG

Penyakit webe emang menjangkiti uki... maap klo kelamaan... maap klo ceritax jd gini n maap klo mungkin nanti update bakal lama. Lagu buat chap ini Go Round n Meaning Of Us, dua2nya lagu dari Namie Amuro

Tengkyu buat yg kmrn ngasih semangat. Liat juga glossary di chap 9 dan 10 ya! Buat yg berkenan, silahkan RnR!

Glossary:

~taiko: gendang tradisional Jepang

~penjurusan: yang ini uki ga tahu pasti ya apa berlaku di semua universitas/fakultas... taunya dari manga Dobutsu no Oisha-san. Di Jepang, mahasiswa belum menentukan jurusan sebelum tahun ketiga, penjurusan dilakukan pada tahun ketiga.. jadi tahun pertama dan kedua semuanya mengambil matakuliah yang sama.

~azuchi: target bank

~yamichi: area di tengah antara shajo dan matoba, di sampingnya ada yatori michi

~hikiwake: menarik busur

~mato: sasaran tembak.

~Fujisan: Gunung Fuji, bukan nama orang

~dekopin: sentilan di dahi

~Musashino: Musashino Art University