Title : Love Confession

Author : BaekYeoleuuu

Main casts :

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Oh Sehun

Xi Luhan

Genre : Yaoi, Comedy (maybe) Romance, fluff

Rated : T

Length : Chapter

A/N : Fic ini bakalan tamat yep. Tamat dalam beberapa chapter dan saya rencananya mau fokus sama ini dan perfectly imbalanced dulu. Setelah yang ini tamat, nanti baru lanjut ke stay with him dan setelah stay with him tamat, baru ke strange fantasy. Please wait patiently

.

.

.

.

Baekhyun mengusak rambutnya. Ia berdiri menghadap jendela dengan mug berisi susu hangat di tangannya. Sepasang bola matanya yang berwarna hitam kecokelatan menatap nanar langit pagi yang cerah, si kuning yang terang benderang dengan bangganya menyelimuti bumi dengan cahayanya.

"Hyung?"

Baekhyun menoleh ke belakang, mendapati Sehun yang baru bangun duduk di kursi meja makan tanpa memakai atasan. Rambut cokelatnya kusut. Baekhyun mengambil satu tegukan dari susunya dan bergumam sebagai jawaban untuk Sehun.

"Apa yang kau lakukan di sana?"

Baekhyun berjalan mendekati Sehun sebelum mengambil tempat duduk di depan laki-laki itu. Mugnya dia letakkan di atas meja. "Hun." Yang lebih muda itu menatap wajah Baekhyun yang terlihat lebih serius daripada biasanya itu. "Chanyeol memberiku tiket liburan untuk tanggal 7." Mereka sama-sama diam untuk beberapa saat, sibuk menyelami pikiran masing-masing sebelum Baekhyun kembali melanjutkan. "Dan semuanya akan berakhir tanggal 6. Aku harus bagaimana?"

Sehun meraih tangan Baekhyun yang terletak begitu saja. Ia meremas jemari ramping laki-laki itu. "Aku minta maaf sudah membawamu dalam situasi serumit ini hyung. Tapi aku janji, semuanya akan kembali normal setelah ulang tahunmu. Entah Chanyeol berakhir dengan Kyungsoo atau tidak, yang penting kau tidak akan terlibat lagi."

Baekhyun hanya tersenyum menatap pangkuannya sendiri. Dia mungkin egois jika dia mengatakan ini tapi dia tidak mau Chanyeol dan Kyungsoo bersama. Walaupun dia tidak akan bersama Chanyeol, bukan berarti dia rela Chanyeol berakhir dengan orang lain.

Pikiran macam apa itu Baekhyun?

Kau tidak berhak.

Kau sudah mempermainkan perasaan Chanyeol yang tulus dan sekarang kau berharap tak seorang pun mendapatkannya?

Berhentilah menjadi egois dan jangan campuri kehidupan Chanyeol setelah semua ini berakhir nanti.

Baekhyun mendongak saat ia merasakan Sehun melepaskan tangannya dari genggamannya dan bangkit berdiri.

.

.

.

.

Sehun berjalan keluar dari dapur berniat membangunkan kekasihnya tercinta yang masih tidur bergelung selimut namun baru satu langkah kakinya menapak keluar dapur, sebuah tangan ramping yang familiar menarik Sehun dan saat melihat pemilik tangan itu adalah Luhan, Sehun hanya tertawa dan membiarkan lelaki yang lebih tua itu menyeretnya ke taman di halaman rumah Baekhyun.

Mereka berdiri berhadapan dengan rambut yang sama-sama masih kusut. Sehun menatap Luhan dengan senyum cerah sedangkan Luhan menatapnya dengan alis berkerut seolah dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Saat kedua tangan Sehun menangkup kedua pipinya yang mulus, tanpa disangka oleh Sehun, Luhan menampik tangannya. "Apa maksudnya Chanyeol akan berakhir dengan Kyungsoo?"

Otot bahu Sehun melemas, ekspresinya kaget bercampur takut. "Hyung—"

"Aku mendengar kau mengatakan hal-hal aneh pada Baekhyun di dapur. Apa maksudnya itu? Apa yang akan berakhir setelah ulang tahun Baekhyun?" Luhan mendesak Sehun.

"Hyung itu bukan apa-apa, kau tidak perlu khawatir—"

"Sehun."

Sehun terdiam saat dia melihat ke dalam mata Luhan yang tidak memancarkan apa-apa selain keseriusan. Ia menggaruk kepalanya tak tau bagaimana harus menjelaskannya pada Luhan. Dia tidak mau semuanya semakin buruk sekarang tapi dia juga tidak tega jika dia harus membohongi Luhan. "Berjanjilah kau tidak akan mengatakannya pada siapapun."

Satu desahan terdengar dari Luhan sebelum dia menganggukkan kepalanya.

"Semuanya dimulai saat kita putus. Aku sungguh tidak percaya kau memutuskanku hanya karena umur jadi aku mengikutimu ke kampus. Dan aku dan Baekhyun hyung melihatmu bersama dengan Chanyeol. Aku tidak tau kalau dia itu adikmu. Kukira dialah yang menyebabkan kita putus dan untuk memastikan itu aku meminta Baekhyun hyung menyatakan cinta padanya dan diluar dugaan kami, dia malah menerimanya dan sekarang semuanya sangat rumit karena Baekhyun ingin segera mengakhiri permainan bodoh itu dan akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan Kyungsoo sebagai orang ketiga dan yah, pada ulang tahun Baekhyun yang tinggal beberapa hari lagi, semuanya akan berakhir."

Kalau kalian melihat ekspresi Luhan, pasti kalian tidak tau dia bingung atau kaget atau bahkan mungkin keduanya. Ia mengedipkan mata berkali-kali dan tetap memandangi Sehun selama satu menit penuh. "Jadi- maksudmu, kalian sudah mempermainkan adikku yang malang itu?" tatapan Luhan berubah nanar dan sebenarnya Sehun ingin tertawa mendengar kata malang namun dia paham bukan ini saatnya untuk itu. Dia memegang kedua bahu Luhan dan mencoba menjelaskan tapi yang lebih tua itu lebih dulu menepis tangannya. "Cepat selesaikan semuanya Sehun. Aku tidak ingin melihat Chanyeol terluka."

"Kalian sedang membicarakan apa?"

Mereka berdua menoleh ke pintu. Di sana Chanyeol berdiri, satu tangan memegang handle pintu. Keduanya berdeham. "Tidak ada." Ucap Sehun.

"Aku dan Baekhyun sedang menyiapkan sarapan. Masuk dan makanlah."

"Baiklah!" Luhan memasang senyum lebarnya dan mengikuti Chanyeol ke dalam diikuti paling belakang oleh Sehun yang menggurutu tanpa suara.

Di dapur Baekhyun sedang menuangkan susu di masing-masing gelas mereka. Di meja terhidang nasi, kimchi, telur goreng, sosis,dan tumisan. Luhan dengan mata berseri-seri duduk di salah satu kursi. "Siapa yang memasak ini semua?"

"Yang pasti bukan Chanyeol." Jawab Baekhyun dan mengambil tempat duduknya.

Chanyeol menyusul sambil menggerutu. "Hey aku membantumu menata meja dan memotong sayuran!"

"Hanya memotong, bukan memasak."

Sehun duduk di depan Baekhyun dan langsung menyambar sepasang sumpit tanpa basa-basi seperti tiga orang lainnya. Dia menyumpit segala sesuatu yang ada di meja ke mangkuknya satu persatu dan makan dengan tenang. Kepalanya ditundukkan. Sehun memang rakus. Dia makan banyak. Namun jangan lupa dia juga adalah yang paling berisik. Makan diam begini bukanlah habitatnya. Baekhyun mengunyah sepotong wortel sambil memandang Sehun dengan aneh. "Kau sakit hun?"

Sehun hampir tersedak mendengar namanya disebut. Luhan yang di sebelahnya segera menyodorkan segelas susu yang langsung dia tenggak setengah. Saat ia mendongak, ia mendapati tiga pasang mata kini menatapnya. "Kenapa kalian menatapiku? Kurasa makan itu masih kegiatan yang normal kan?"

"Diam bukan normal untukmu Sehun." Ucap Baekhyun. "Ah, kenapa kau tidak pergi ke studio dance?" tambahnya.

Sehun menoleh ke jam dan mengedikkan bahu. "Aku sedang malas. Lagipula sudah terlambat setengah jam." Ucapnya acuh tak acuh dan melanjutkan makan.

"Chanyeol?"

Yang dipanggil memang hanya Chanyeol, tapi mata yang menoleh pada Luhan malah tiga pasang. "Ya?"

"Apa kau ada acara dengan Baekhyun setelah ini?"

"Memangnya kenapa?"

"Kalau tidak, antar aku pulang. Aku masih ada tugas kuliah untuk diselesaikan."

"Okay. Lagipula aku juga masih ada janji."

"Janji?" Baekhyun mengerutkan alis dan menatap Chanyeol. Seingatnya, Chanyeol dan Kyungsoo tidak ada janji hari ini—setidaknya begitulah yang dia tau dari Sehun.

"Ya, janji bertemu wanita lain." Bisik Chanyeol di telinga Baekhyun membuatnya mengerut dan memukul bahu Chanyeol yang hanya tertawa dengan sendok.

Sehun berakhir mencuci piring sementara Baekhyun mengikuti Luhan dan Chanyeol yang akan pulang. Laki-laki pendek itu berdiri di pintu dengan wajah cemberut—entah itu karena Chanyeol bilang dia ada janji dengan orang lain hari ini atau karena dia tidak akan bertemu dengan Chanyeol sampai besok di sekolah—namun saat Chanyeol tersenyum ke arahnya sambil memakai helm, Baekhyun balas tersenyum hingga Chanyeol dan Luhan menghilang dari sudut pandang mata.

.

.

.

.

Chanyeol meletakkan kunci motornya di atas meja dan berjalan mengambil minum ke dapur diikuti oleh Luhan yang mengambil sekotak jus jeruk dari kulkas. "Kau akan pergi."

"Ya." Ucap Chanyeol singkat setelah menenggak segelas minum dan menaruh gelasnya ke wastafel.

"Kemana?"

"Membeli kado untuk Baekhyun. Dia ulang tahun dua hari lagi."

"Benarkah? Aku tidak tau itu."

"Tentu saja tidak. Dia pacarku, bukan pacarmu." Ucap Chanyeol dan berjalan ke kamar mandi sementara Luhan hanya duduk di kursi meja makan. "Tapi kau akan ikut ke Jepang minggu depan kan?" teriak Luhan agar Chanyeol yang sudah mengunci dirinya di kamar mandi bisa mendengar.

"Apa si tua bangka itu menyuruh kita datang ke sana lagi?"

Luhan mengambil apel di atas meja dan melemparnya ke pintu kamar mandi hingga terdengar bunyi gedebuk keras. "Berhentilah menyebut ayahmu sendiri bajingan, brengsek."

Dan Chanyeol hanya tertawa keras.

.

.

.

.

Chanyeol dan teman sekelasnya yang bernama Chen telah berjalan berkeliling mall hanya untuk mencari sebuah kado ulang tahun. Muka Chen sudah kusut karena kesal namun Chanyeol masih terus menolak semua sarannya dan asik melihat toko yang berjejer di kanan dan kirinya.

"Demi tuhan Chanyeol, ini hanya kado ulang tahun. Berikan saja dia boneka, dia pasti senang."

"Diamlah Chen. Aku sedang mencari kado untuk orang spesial. Apa kau tau itu?"

Chen memutar bola matanya dan mengerang bosan. Kakinya mulai terasa kram karena terus berjalan sejak hampir satu jam yang lalu. "Sebenarnya apa yang ingin kau berikan Chanyeol? Jika kau sendiri tidak tau mau memberi apa dan kau tidak mau menerima saranku, bagaimana kita bisa mendapatkannya?"

Chanyeol berhenti berjalan. Kali ini sepertinya dia setuju dengan Chen. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang, mata masih menoleh berkeliling.

"Chanyeol demi tuhan, aku bukan wanita yang bisa berjalan enam jam hanya untuk mencari pakaian dalam."

Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Chen. Chen bahkan mengira Chanyeol akan menendangnya bokongnya namun ternyata laki-laki tinggi itu hanya bertanya. "Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa membuatnya melompat kegirangan dan memelukku."

Chen menatapnya jijik. "Berikan saja dia rumah berlapis emas. Demi tuhan, Park Chanyeol."

Chanyeol memutar bola matanya pada Chen dan kemudian berjalan mendahului laki-laki itu. Chan dengan pasrah hanya menyusul, otot bahunya dilemaskan dan kepala ditundukkan namun saat Chanyeol masuk ke salah satu toko—akhirnya—senyum Chen mengembang selebar-lebarnya. Dia berlari kecil menyusul laki-laki itu. "Apa kau akhirnya akan membeli sesuatu?" tanyanya bersemangat.

"Mungkin ya, mungkin tidak." ucap Chanyeol sambil menatapi satu persatu benda yang dijual di toko itu. Tentu saja Chanyeol tidak akan menuruti saran Chen untuk memberikan Baekhyun kado pasaran seperti boneka, bunga, atau cincin. Dia yakin tipe orang seperti Baekhyun tidak akan terlalu senang diberi benda seperti itu.

Chen mengerang kesal dan menghentakkan kakinya di lantai toko itu membuat beberapa pekerja menatapnya. Tapi laki-laki bersuara agak cempreng itu memelototi mereka hingga mereka berdeham dan mengalihkan tatapan.

Salah satu pekerja mendatangi Chanyeol dan menanyakan apa yang dia cari namun laki-laki tinggi itu hanya menjawab dia mencari kado ulang tahun tanpa memberitahu spesifikasi benda yang dia inginkan. Matanya menelusuri benda-benda di toko itu satu persatu saat tiba-tiba pekerja itu mengeluarkan sebuah plushie kecil. "Bagaimana dengan yang ini?"

"Aku tidak ingin membeli boneka dan sejenisnya." Ucap Chanyeol, tangannya dia letakkan di atas etalase toko yang memajang berbagai macam kotak musik.

"Apa dia kekasih anda?"

"Ya, begitulah." Ucap Chanyeol mengedikkan bahunya, senyuman tertahan.

Tiba-tiba pekerja lain datang dengan sebuah kotak musik berbentuk bola kristal dengan piano kecil dan sepasang laki-laki dan perempuan duduk di depannya, seolah sedang memainkan piano itu. "Bagaimana dengan yang ini? Ini barang baru yang tiba hari ini."

Chanyeol membiarkan pekerja toko itu meletakkan kotak musik itu di atas etalase dan memutar sebuah kunci di belakangnya yang mungkin berguna untuk menyalakan benda itu. Sebuah lantunan piano terdengar dan salju mulai beterbangan di dalam bola kristal itu, ada yang jatuh di kepala si pria, si wanita, bahkan di piano yang sedang mereka mainkan.

Chen yang melihat ekspresi tertarik Chanyeol menyenggol lengan laki-laki itu sambil berbisik. "Beli saja." Namun Chanyeol hanya mendengus dan kembali menaruh perhatiannya pada kotak musik itu.

"Aku akan ambil yang ini." Ucap Chanyeol pada pekerja itu dengan senyuman lebar selagi ia mengambil dompetnya dari saku belakang celananya.

"Kau tidak ingin lihat yang lain? Kami masih punya banyak jenis kotak musik." Ucap pekerja yang pertama membuat Chen memelototinya. Enak saja, itu artinya mereka akan tinggal lebih lama jika Chanyeol masih ingin melihat jenis yang lain dan dia sudah tidak tahan, sungguh.

"Tidak. Aku ambil yang ini saja." Ucap Chanyeol membuat senyum Chen merekah laki. Teman tingginya itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan nya pada pekerja toko itu. "Dan tolong dibungkus dalam kotak kado." Tambahnya yang hanya diangguki oleh si pekerja.

"Akhirnya selesai juga petualangan bodoh ini!" ucap Chen girang sedangkan Chanyeol hanya mendengus. Saat kadonya selesai dibungkus, ia dan Chen segera pergi meninggalkan mall itu.

.

.

.

.

"Apa semua ini Park Chanyeol?" Tanya Luhan yang baru saja tiba di apartemen mereka. Di meja dapur tersusun banyak sekali plastik dengan berbagai ukuran dan Chanyeol yang baru saja pulang sekolah asyik dengan ponselnya, duduk di kursi meja makan.

"Bukan urusanmu hyung. Pergilah." Ucapnya malas sambil mengetikkan pesan balasan pesan untuk Kyungsoo. Saat tak mendengar protes dari Luhan, ia mengangkat kepalanya hanya untuk menemukan kakak tirinya itu sedang memicingkan mata padanya curiga. Dia memutar mata dan mendesah, punggung bersandar pada kursi. "Apa? Aku hanya sedang menyiapkan pesta perayaan ulang tahun Baekhyun. Dan hyung, jangan coba-coba beritahu dia! Kalau surpriseku gagal, aku akan menyalahkanmu." Chanyeol menunjukkan dengan jari telunjuk sebelum ponselnya berbunyi pertanda balasan dari Kyungsoo sudah masuk. Ia kembali fokus pada ponselnya dan Luhan mendengus, berjalan meninggalkan Chanyeol di dapur.

Tak lama, bel apartemennya berbunyi dan Chanyeol segera berdiri untuk membukakan pintu. Seperti yang ia duga itu adalah Kyungsoo, malaikat yang akan membantunya mempersiapkan makan malam surprisenya untuk Baekhyun. Laki-laki kecil itu tersenyum saat dirinya dipersilahkan masuk oleh si pemilik apartemen. Ia membuka sepatunya dan memakai sandal rumah yang tersedia di sudut dekat pintu.

"Maaf kalau aku benar-benar merepotkanmu untuk urusan ini."

"Tidak apa." Ucap si mata besar itu dan terkekeh. Saat mereka tiba di dapur, mereka mulai mengeluarkan bahan-bahan kue yang akan mereka buat. Tidak seperti saat pertama kali mereka melakukannya, sekarang Chanyeol sudah mengerti semua bahan dan dia tau yang mana yang harus ia kerjakan lebih dulu.

"Jam berapa dia akan datang?" tanya Kyungsoo sambil mencampurkan beberapa telur ke dalam adonannya.

"Tujuh malam." Ucap Chanyeol yang sedang asyik mengolesi tempat adonan dengan mentega.

.

.

.

.

"Baek, jam tujuh di rumahku, malam ini."

Baekhyun menggigit bibirnya membaca pesan Chanyeol. Ia kemudian meletakkan ponselnya di dekat bantal dan mendesah menatap langit-langit kamarnya. Ia menutup matanya beberapa detik sebelum membukanya kembali, masih memandangi langit-langit kamarnya.

Ini adalah rencana terakhir mereka sekaligus akhir dari semuanya. Dia tahu dan paham Sehun adalah orang paling idiot di dunia tapi dia tau tetangganya itu benar saat dia mengatakan bahwa semuanya akan berakhir dengan ini. Mungkin setelah dia berakhir dengan Chanyeol, Chanyeol akan menempel pada Kyungsoo yang sok baik itu dan mereka berakhir berpacaran dan menikah dan hidup bahagia selama-lamanya seperti cerita di dongeng-dongeng.

Ia mendengus memikirkannya dan mengabaikan rasa ngilu di perutanya memikirkan Chanyeol bersama Kyungsoo. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terasa agak kusam karena belum mandi sore.

.

.

.

.

"Sehun!"

Sehun meletakkan botol minumannya di dekat tas dan menyapu butiran keringat di lehernya sambil menatap laki-laki yang memanggilnya. "Ada apa?"

"Kau tau bahwa hari minggu kemarin ada yang mencarimu ke sini?"

"Oh, maksudmu Kyungsoo?"

Wajah laki-laki berkulit hitam itu mencerah mendengar nama Kyungsoo. Ia mengangguk semangat. "Ya, itu. Apa dia tidak datang lagi hari ini? Dia seharusnya datang mengembalikan bajuku."

"Dia ada urusan penting hari ini. Aku akan memberitahunya untuk mengembalikan bajumu besok."

"Tidak perlu!" Sehun mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Kai aneh. "Aku- minta nomor ponselnya saja. Aku akan mengabarinya. Lagipula ada yang ingin kusampaikan." Tambahnya membuat Sehun memicingkan mata. Namun begitupun ia tetap mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomor ponsel Kyungsoo pada Kai.

"Sehun?"

"Ya?"

"Bisakah kau- membantuku mendekatinya?"

Untuk beberapa saat Sehun hanya diam memandangi wajah Kai yang biasanya dipenuhi seringaian-seringaian seksi namun kini hanya dipenuhi gurat-gurat keidiotan sebelum melempar handuk kecil yang terkalung di lehernya ke arah laki-laki itu. "Kau pikir aku ini lembaga perjodohan. Uh, sial sekali hidupku." Ia mengabaikan Kai yang meringis dengan uap handuk yang dahsyat itu dan membuangnya ke lantai. Ia bangkit berdiri dan menyandang tasnya. "Kenapa semua orang selalu meminta bantuanku untuk dekat dengan orang lain." Gumamnya pelan tanpa didengar Kai dan ia segera meninggalkan studio dance tanpa menghiraukan Kai yang memanggilnya.

.

.

.

.

Chanyeol dengan wajah idiotnya yang amat girang tersenyum lebar saat ia sudah menyalakan lilin di meja makan yang sudah ditata dengan berbagai macam makanan dan tentunya sebuah kue ulang tahun yang didominasi oleh warna merah muda. Ia menarik tubuh kecil Kyungsoo yang menuangkan sebuah masakan terakhir ke piring ke dalam pelukan erat membuat laki-laki bermata bulat itu melebarkan matanya ke ukuran maksimal sambil berusaha bernafas dalam pelukan Chanyeol.

"Terima kasih Kyungsoo! Aku sungguh akan mengingat jasamu ini seumur hidupku!" Chanyeol melepaskan pelukannya dari Kyungsoo yang sudah memerah karena malu. Laki-laki pendek itu segera berbalik membelakangi Chanyeol untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia segera meletakkan piring sajian terakhir itu di atas meja dan menoleh ke arah jam.

"Sebaiknya aku pergi sekarang. Pasti Baekhyun akan segera sampai." Ucapnya kikuk yang hanya diiyakan oleh Chanyeol.

"Mari kuantar ke pintu." Ucap laki-laki tinggi itu sebelum berjalan ke arah pintu apartemennya bersama Kyungsoo.

Saat di dalam lift bersama Chanyeol, Kyungsoo menggigit bibirnya dan melirik Chanyeol. "Chanyeol?" panggilnya pelan.

"Ya?"

Saat pandangan keduanya bertemu Kyungsoo berjinjit, tangannya ia lingkarkan di leher Chanyeol membuat Chanyeol kaget. Namun yang lebih mengagetkannya lagi adalah ciuman yang tiba-tiba Kyungsoo berikan di bibirnya. Belum sempat dia protes, lift berhenti dan terbuka secara otomatis, mengekspos pose mereka itu pada orang yang berdiri menunggu di depan lift.

Baekhyun.

Laki-laki itu menelan semua yang terasa menyumbat tenggorokannya dan menoleh ke bawah dan saat Chanyeol memanggilnya, ia berbalik karena walaupun dia tau itu akan terjadi, dia tidak tahan untuk tidak menangis. Chanyeol mencium orang lain.

TBC

Kalau mau ngobrol dan nanya-nanya, jangan ke pm ffn ya, kan saya bukanya Cuma sekali seabad lol ke sini aja. Twitter: Baconyjc, langsung mention aja, pasti dibales. Instagram: hunpup (ini difollow atuh. Nanti kalo followernya udah 50, saya bakal post tentang mas cahyo dan dek yuni deh XDD ya meme chanbaek, info kalo saya rajin, short ff, rekomendasi ff, update ff-ff saya, deelel deh. Kalo mau ngomong lebih pribadi lagi #ea, add line dan langsung chat aja, saya pasti bales kok back_yeolk