Previous
Ting!
Lift pun terbuka membuat Luhan melepaskan pelukannya dengan Paman Zhang. Luhan kembali merapikan tampilannya sekali lagi. Dari apa yang di pelajari oleh Babanya, image pertemuan pertama merupakan satu hal terpenting dalam sebuah pertemuan. Dan Luhan masih menerapkan apa yang Babanya katakan sampai sekarang.
Baik Luhan Kris maupun Paman Zhang langsung di sambut oleh seorang wanita cantik yang langsung berdiri dari posisinya. Memberikan senyum terbaiknya seraya bertanya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Kris?"
"Ya aku ingin bertemu Sehun, apa dia ada di dalam?"
"Ya Tuan Sehun sedang berada di dalam Tuan Kris. Apa kau ingin masuk ke dalam sekarang?"
"Ya tentu saja."
Asisten Sehun tesebut langsung membuka pintu penghalang ruangan nya dengan ruangan Sehun. Kris dan Luhan pun langsung memasuki ruangan Sehun sedangkan Paman Zhang menunggu di luar karena dia harus menghubungi Mama Luhan terlebih dahulu.
"Sehunna.."
"What?" tanya Sehun begitu mendengar suara Kris memanggilnya seraya melihat kearahnya. Dan mata Sehun sukses membulat begitu melihat pria mungil yang tak asing di matanya sedang berdiri di belakang Kris dengan pandangan yang sama dengannya.
"KAU?!"
..
..
..
..
..
..
..
..
..
..
"True love wasn't about the amount of time you spent with someone, it was about the quality of the time." – P
..
..
..
..
..
..
..
..
..
..
"Kris?/Yifan?" Tanya Luhan dan Sehun secara bersamaan membuat Kris mengernyitkan dahinya.
"Bisakah aku duduk terlebih dahulu sebelum menjawab berbagai pertanyaan kalian?" tanya Kris seraya berjalan memasuki ruangan Sehun lebih dalam, dia menduduki salah satu sofa berwarna hitam yang menempel pada dinding ruangan.
"Kau bisa duduk di sebelah ku, Lu" gumam Kris seraya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
"Dan kau juga Sehun." Tambah Kris yang membuat Luhan maupun Sehun mendekatinya. Mereka duduk melingkari meja berbentuk trapesium dengan bahan kaca tesebut.
"So?" tanya Sehun membuka mulutnya setelah menyamankan posisi bokongnya.
"Semalam aku sudah memberitahu mu bahwa aku akan mengunjungi mu dan membuat beberapa kesepakatan dengan mu. Dan sekarang disinilah aku.." gumam Kris seraya menyenderkan punggungnya pada senderan sofa. Baik Luhan maupun Sehun mengernyitkan kening mereka.
"Baiklah, Yifan dengarkan aku sekarang aku sudah mengerti jalan fikiran mu itu. Jadi kau ingin aku bekerja sama dengannya?" tanya Luhan seraya menunjuk Sehun sekilas dengan dagunya tanpa melirik Sehun sama sekali. Mendengar apa yang dikatakan oleh Luhan, Kris pun mengangguk setuju.
"Wait.. what you are talking?"
"Sehunna dengarkan aku baik-baik karena aku tak akan mengulangnya... Xi Corporation akan membuka cabang baru mereka di Seoul, dan otomatis mereka membutuhkan furniture-furniture untuk perlengkapan gedung baru mereka. Dan aku merekomendasikan Oh Corporation untuk membantu sahabat kecil ku ini. Bagaimana?" tanya Kris setelah penjelasan panjang lebarnya.
"Dia akan membuka cabang baru di Seoul?"
"Yes.."
Sehun mengeluarkan senyuman miringnya saat mendengar jawaban antusias Luhan. Banyak orang yang membicarakan tentang takdir, jalan yang telah di gariskan Tuhan, atau apalah itu. Tapi mungkin ini yang dinamakan dengan takdir. Selama ini Sehun tak pernah percaya dengan adanya takdir, tapi mungkin sekarang dia baru menyadarinya. Dan mungkin ini awal dari segala perjalanan panjang cerita cintanya.
..
..
..
"Yifan apakah aku bisa mempercayai Sehun? Aku meragukannya..." gumam Luhan saat mereka memasuki lift. Setelah melewati berbagai kesepakatan bersama Sehun, baik Luhan maupun Kris langsung pamit dan meninggalkan ruangan Sehun tentu saja dengan Paman Zhang bersama mereka.
"Hey calm down... semua akan baik-baik saja percayalah pada ku, Lu..." ucap Kris seraya mengacak rambut Luhan.
"Hmm.. Luhan bagaimana?" tanya Paman Zhang.
"Semua berjalan lancar Paman, kita hanya harus menunggu waktu. Aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada mu Yifan! I love you!" seru Luhan seraya memeluk erat Kris. Kris pun membalas pelukan Luhan dengan senyuman di bibirnya.
"Itu sudah kewajiban ku, Lu.." gumam Kris seraya mengusap punggung Luhan.
"Paman bagaimana dengan Mama?" tanya Luhan setelah melepas pelukannya dengan Kris.
"Dia baik-baik saja Lu.."
"Baiklah hari ini kita akan super sibuk dengan segala urusan mu Lu. Kita harus menyelesaikannya dengan segera.." gumam Kris seraya merangkul pundak Luhan dengan senyuman di bibirnya. Entah apa yang sedang mempengaruhinya moodnya saat ini. Dia hanya merasa senang. Senang karena bisa kembali bersama dengan sahabat kecilnya
..
..
..
Sepeninggal Luhan dan Kris, Sehun kembali menduduki kursi kebesarannya. Dia masih saja berkutat dengan fikirannya. Bagaimana bisa dia merelakan harga yang begitu murah kepada Luhan? Sehun sendiri tak habis fikir dengan tingkahnya. Luhan memang membeli semua perlengkapan untuk cabang barunya kepadanya dalam jumlah yang banyak, sangat banyak. Tapi tetap saja, sebenarnya Oh Corporation cukup merugi dengan transaksi penjualannya kali ini. Sebelumnya, tak ada yang bisa menawar harga pada Oh Corporation karena harga dan kualitas yang telah di berikan oleh Oh Corporation sangatlah sepadan. Tapi dengan mudahnya Luhan meminta harga di bawah rata-rata, dan Sehun mengiyakannya. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Sehun pun masih tak habis fikir dengan pola pikirnya saat ini.
Sehun membalikkan kursinya yang langsung menghadap pada keramaian kota Seoul di bawah sana. Kantor pusat Oh Corporation memang terbuat dari kaca di bagian luarnya dengan kualitas terbaik di dunia. Sehun memejamkan matanya seraya memijat pelan keningnya, sepertinya dia harus mendapatkan sedikit relaksasi agar otaknya bisa kembali berfungsi sebagaimana fungsinya.
Sehun kembali membalikkan kursi kebesarannya dan bersiap untuk segera menyelesaikan berkas-berkas yang masih menumpuk memintanya untuk segera di selesaikan. Tapi mata Sehun terpaku pada bingkai kecil yang terpajang manis mengarah kepadanya dari sudut kanan meja kerjanya. Sehun tersenyum melihat bingkai tersebut, dia mengambilnya dan mengusap lembut wajah seseorang yang terpapar pada bingkai tersebut.
Flashback on
Saat pertama kali melihat Luhan di ponsel Kris. Sehun terpaku pada matanya. Mata itu persis sama dengan teman kecilnya, lebih tepatnya wanita pertama yang memikat hatinya pada saat dia masih menjadi siswa Ailat Junior High School. Mata itu mengingatkannya kepada sosok wanita yang sering ia panggil Ellen, wanita dengan nama lengkap Ellen Kim.
Ellen merupakan teman terdekat Sehun, wanita kecil keturunan Korea Belanda itu sangatlah menyenangkan bagi Sehun. Ellen mempunyai sifat yang ramah, periang, dan mudah sekali berbaur dengan sekitar. Berbanding terbalik dengan Sehun yang cenderung pendiam dan sangat ambisius.
Setelah mengenal Ellen, terjadi perubahan pada diri Sehun. Sehun yang pendiam, tidak berbaur, dan pemarah sudah berubah menjadi Sehun yang menjadi sedikit menyenangkan jika ada Ellen disampingnya. Tetapi semua itu tidak bertahan lama sampai Ellen harus berpindah ke Belanda, negara kelahiran ibunya. Ellen tak memberitahu Sehun bahwa dia akan pindah ke Belanda, Sehun mengetahuinya dari pembantu rumah Ellen saat Sehun mengunjungi rumah Ellen.
Saat itu Sehun kecil seakan kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa. Sehun sudah berusaha menanyakan apa alasan Ellen kembali ke Belanda dan tak memberitahukannya tetapi pembantu rumah Ellen juga tak mengetahui alasannya. Dia hanya bertugas menjaga rumah Ellen saat penghuninya tak ada. Sehun berusaha menghubungi ponsel Ellen, namun tak ada jawaban dari pemegang ponsel tersebut. Sehun kembali menjadi manusia yang pendiam dan pemarah. Sehun merasa telah dicampakkan oleh Ellen. Satu-satunya teman yang menemaninya dengan tulus.
Setelah Lulus dari Junior High School, Sehun sempat berfikiran untuk melanjutkan program belajarnya di Belanda. Dia masih tidak bisa melupakan Ellen begitu saja. Namun Eommanya tidak setuju karena Sehun masih terlalu kecil dan tak akan ada yang mengurusnya disana. Walaupun mereka bisa menyewa berpuluh-puluh penjaga untuk Sehun, Eomma Sehun tetap tidak setuju dan pada akhirnya Sehun melanjutkan program belajarnya di Seoul. Sehun menjalani masa Senior High School nya selama dua tahun dan langsung memutuskan untuk mengambil universitas di luar Korea. Dia sudah bosan dalam lingkaran kekuasaan Appanya.
Saat di San Fransisco, Sehun bertemu dengan Chanyeol yang masih berstatus sebagai pelajar kelas akhir di SF Junior High School dan Kai yang berstatus mahasiswa sepertinya di club yang sangat terkenal di San Fransisco. Saat itu Sehun sedang suntuk berada di mansion yang menjadi tempat tinggalnya saat di San Fransisco. Sehun memutuskan untuk keluar mencari angin segar untuk menyegarkan otaknya yang sudah terpenuhi dengan tugas-tugas yang sangat menyebalkan. Sehun mengambil kunci Lamborghini Reventon miliknya yang diberikan oleh Appanya sebagai hadiah atas keberhasilan Sehun menjalani masa Senior High School selama dua tahun dan menjadi lulusan dengan nilai akhir terbaik. Tak ada yang tak bisa membanggakan Sehun bukan?
Sehun mulai melajukan Lamborghini Reventonnya, membelah keramaian kota San Fransisco dengan deru mobilnya. Sehun sempat berkeliling melihat betapa ramainya San Fransisco. Setelah merasa bosan, Sehun memutuskan untuk mengunjungi club milik temannya yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Mungkin bermain dengan satu atau dua wanita yang ada disana akan sedikit merilekskan tubuh dan otaknya.
Sehun disambut oleh dengungan musik yang begitu memekakkan telinga saat dia baru saja memasuki club yang bebas umur tersebut. Sehun langsung menuju meja bar dan ada seorang pria menghampirinya, tak lain tak bukan pria tersebut adalah Steve, teman Sehun.
Terjadi perbincangan di antara mereka hingga akhirnya Steve meninggalkan Sehun karena ada yang harus diurusnya, Steve juga tak lupa untuk meminta salah satu bartender untuk melayani Sehun dan memanggil dua 'wanita' terbaiknya untuk menemani Sehun. Sehun pun tak menolak kedatangan dia wanita tersebut dan mulai mencumbunya. Sehun menumpahkan winenya pada dada kedua wanita tersebut dan menjilatinya. Semua berlangsung begitu saja sampai terdengar teriakan wanita yang sangat terdengar samar karena tenggelam oleh suara musik yang sangat keras dan juga suara lautan manusia yang sedang terlena untuk saling bergoyang ria di dance floor. Bukan suara teriakan yang biasa terdengar disebuah club pada umumnya, melainkan teriakan kepedihan seakan meminta tolong dengan isakan disana. Sehun menghentikan kegiatannya yang sedang mencumbu kedua wanita di hadapannya dan mulai mempertajam pendengarannya, Sehun mendorong pelan kedua wanita di depannya dan mulai bangkit menuju asal suara tersebut meninggalkan kedua wanita tadi yang hanya bisa mengerutkan kening mereka.
Suara teriakan wanita tadi semakin terdengar jelas menuju rangkaian kamar berkelas hotel bintang lima yang di sediakan Steve untuk pelanggan setianya yang ingin meluapkan nafsu birahi mereka dengan beberapa wanita di clubnya. Saat suara teriakan-teriakan itu sudah terdengar semakin jelas dan Sehun melihat dua orang pria yang sepertinya terlihat seumuran dengan mereka sedang menatap pintu dimana suara teriakan itu berasal. Sehun menghampiri mereka yang terlihat khawatir.
"What are you doing here?"
"Oh hey tadi aku dan Kai melihat seorang lelaki tua hidung belang dengan perut berlebihannya menarik seorang wanita cantik masuk kedalam sini." Gumam lelaki dengan telinga lebar dengan tatapan khawatirnya.
"Tentu saja kami ingin menolong wanita tersebut karena wanita tersebut masih sangat muda seperti seumuran dengan kami dan dia tidak terlihat seperti wanita-wanita jalang disini. Tetapi kami.. takut." Ucap seseorang dengan kulit yang berwarna sedikit lebih gelap dari temannya.
Sehun pun semakin merasa tebakannya sedari tadi benar dan dia membuka pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci.
Cklek!
"See? We must help her." Gumam Sehun dengan desisannya karena tak habis fikir dengan kedua pria di depannya yang sangat pengecut menurutnya dan langsung memasuki kamar tersebut. Sehun dan kedua pria tadi langsung disuguhi pandangan yang sangat menjijikan. Pria tua hidung belang dengan perut berlebihan tadi sedang memaksa wanita yang berteriak tadi untuk mengulum kejantanannya.
Sehun dan pria dengan kulit lebih gelap tadi langsung naik darah dan memukuli pria dengan perut berlebihan tersebut, sedangkan pria dengan telinga lebar itu menghampiri wanita tersebut memakaikan jaket yang melekat di tubuhnya untuk wanita tersebut, baju wanita itu sudah robek di bagian dadanya dan pria dengan telinga lebar tersebut tak yakin dapat menahan adik kecilnya di bawah sana untuk tetap berdiam diri jika dada wanita tersebut masih terus terekspos. Dia berusaha untuk menangkan wanita tersebut dengan segala usahanya. Dia memeluk wanita tersebut dan mengelus punggungnya, berharap usahanya akan menimbulkan hasil. Dan apa yang dilakukan pria tersebut berhasil sampai Sehun dan pria satunya membereskan pria tua tadi. Pria bertelinga lebar tersebut memalingkan wajahnya dan melihat pria tua tadi sudah tergeletak tak berdaya, tak diketahui masih bernyawa atau tidak. Sehun langsung menarik pria bertelinga lebar tersebut menjauh dari wanita tadi dan menepuk pelan pipi wanita tersebut.
"Are you ok?" gumam Sehun lembut.
Wanita tersebut mulai membuka matanya dengan segala air mata yang menggenang disekitarnya. Wanita tersebut langsung memeluk Sehun dan terisak kembali. Sehun pun memeluk punggung wanita tersebut dan menenangkannya. Kedua pria tadi hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukan Sehun dan wanita tersebut.
"Hey tenanglah.. sekarang kau sudah aman bersama ku. Aku akan melindungi mu.." ucap Sehun berusaha menenangkan wanita tersebut. Lama waktu berlalu sampai isakan wanita tersebut mulai mengecil dan tak terdengar lagi isakan disana. Sehun pun masih tetap pada kegiatannya untuk mengelus punggung wanita tersebut sampai terdengar dengkuran lembut di leher Sehun. Pria dengan telinga lebar itu pun terkekeh karena dia yang pertama menyadari bahwa wanita tersebut telah tertidur di pelukan Sehun. Sehun dan pria dengan kulit sedikit lebih gelap tadi tersenyum.
Dengan perlahan Sehun mulai mengangkat wanita tadi dalam pelukan dan gendongannya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Saat Sehun mulai berdiri tegak, wanita tersebut sedikit bergerak berusaha menyamankan posisinya dipelukan Sehun. Sehun tersenyum menatap wajah wanita tersebut. Entah apa yang membuatnya menolong wanita yang bahkan tak dikenalnya itu, bertemu sekali saja pun tak pernah. Entah perasaan apa yang membuat Sehun tersenyum hanya karena menatap wajahnya.
"Tadi kalian berniat menolongnya kan?" tanya Sehun setelah merasa canggung ditatap oleh dua pandangan yang sangat mengganggunya.
"Tentu saja."
"Apa kalian membawa mobil?"
"Kai membawanya."
"Apa kau bisa mengendarai mobil?" tanya Sehun lagi tetapi kali ini khusus untuk pria bertemunya lebar yang sedari tadi menjawab pertanyaannya. Dan dapat di simpulkan bahwa pria berkulit lebih gelap tadi bernama Kai.
"Tentu."
"Bawa mobil ku." Gumam Sehun seraya menunjukkan dimana kunci Lamborghini Reventonnya berada. Pria dengan telinga lebar tersebut segera mengambilnya dan mereka mulai berjalan meninggalkan kamar tersebut dengan pria berkulit lebih gelap meninggalkan satu tinjuan lagi di wajah pria tua tadi.
Sehun langsung membaringkan wanita yang berada dipelukannya ke kursi penumpang mobilnya. Setelah merasa wanita tersebut sudah nyaman dengan posisinya, Sehun mengecup kening wanita tersebut dan langsung menutup pelan pintu mobilnya. Sehun kembali fokus kepada kedua pria tadi.
"Ok aku Sehun."
"Aku Chanyeol.. dan dia Kai dia memang agak pendiam dengan orang yang belum dikenalnya jadi ku harap kau bisa memak- ahk!" Gumam pria dengan telinga lebarnya dan juga dengan pekikkannya karena baru saja dia menerima sikutan di perutnya.
"Kalian berteman?"
"Ya."
"Kalian tinggal bersama"
"Ya. Tentu saja. Tapi kau jangan berfikiran bahwa aku dan Kai memiliki hubungan khusus." Jawab Chanyeol.
"Dimana kalian tinggal?"
"Apartement ku beberapa blok dari sini." Gumam Kai mulai membuka suaranya.
"Baiklah Chanyeol aku harap aku bisa mengandalkan mu. Kau harus membawa mobil ku dengan segera ke apartement kalian dan langsung bawa wanita di dalam ke dalam kamar kalian dan berikan dia posisi senyaman mungkin. Jangan lupa tadi kalian ingin menolongnya. Dan Kai akan tetap disini bersama ku sebagai jaminan kau tak akan mencelakai wanita di dalam atau membawanya kabur atau menelantarkannya karena masih ada yang harus ku urus dengan pemilik club ini. Apa kalian mengerti?"
Kai dan Chanyeol hanya bisa menganggukan kepala mereka. Chanyeol langsung memasuki mobil Sehun dan menjalankannya. Sedangkan Sehun dan Kai kembali memasuki club dan Sehun langsung menemui Steve untuk memperingatinya untuk tidak memakai wanita di bawah umur untuk menjadi wanita-wanita jalang di club nya dan juga kembali memukuli pria tua tadi. Entah apa yang Sehun rasakan saat ini. Sehun hanya ingin menolong wanita tadi dan dia merasa sangat marah dan kesal saat melihat wanita tadi di perlakukan seperti itu. Sehun merupakan orang yang tak perduli terhadap apapun asalkan kalian tau, tetapi beda dengan wanita tersebut. Sehun juga merasa bingung dengan apa yang di rasakannya sekarang.
Dan semenjak hari itu, mereka mulai berteman. Bahkan mereka tak bisa di pisahkan sekarang.
Flashback off
Sehun terkekeh setelah mengingat-ingat kenapa dia bisa terobsesi dengan Luhan dan awal pertemuannya dengan wanita-nya yang sangat kekanakan tersebut. Sehun merupakan tipikal orang yang tidak percaya dengan yang orang sering sebut-sebut sebagai takdir ataupun jalan yang sudah di gariskan oleh Tuhan. Sehun tak mempercayai itu semua. Tetapi setelah bertemu dengan Luhan, sekarang dia percaya dengan itu semua. Dan mungkin Luhan memang takdirnya.
Namun, sosok Ellen masih sangat melekat pada otak Sehun. Jika kalian berfikir Sehun tidak berusaha untuk mencari Ellen lebih dalam, kalian salah besar. Sehun sudah mengirim para detektif-detektif terpercayanya untuk menemukan jejak Ellen. Berbagai cara sudah Sehun lakukan. Tapi semua itu tak membuahkan hasil. Sehun sudah mencari ke seluruh penjuru negeri kincir angin tersebut. Namun, mungkin memang Sehun tak di takdirkan kembali bertemu dengan Ellen. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih tersimpan berbagai perasaannya kepada Ellen, teman kecilnya.
..
..
..
Sudah terhitung satu bulan berlalu sejak Luhan sampai kembali di Seoul. Segala urusannya cabang barunya ini sudah terselesaikan. Semua undangan perihal pembukaan cabang barunya itu pun sudah tersebar sesuai dengan tujuannya. Terhitung sangat cepat memang. Tapi kepala pemegang perusahaan yang bergerak pada bidang kontruksi ini tak ingin membuang-buang waktunya. Dia bekerja pagi siang sore malam agar segala urusannya cepat terselesaikan. Luhan bukan tipikal orang yang suka membuang-buang waktu. Dia sudah merencanakan dan mengatur semuanya. Dan Luhan merupakan orang yang sesuai dengan aturan yang sudah di rancangnya.
Dan saat ini Luhan sedang berada di gedung cabang barunya ini. Dia sedang mengontrol para pekerja yang sedang menghias gedung barunya ini menjadi secantik mungkin untuk acara pembukaan besok. Luhan menyiapkan ini semua tentu saja dengan bantuan Kris, Paman Zhang, Kyungsoo, Baekhyun dan Mamanya. Luhan sampai sempat demam selama dua hari karena terlalu sibuk dengan segala urusannya sampai-sampai melupakan waktu makan dan istirahatnya. Disaat dia sedang demam, Luhan pun masih tetap keras kepala untuk mengerjakan urusan-urusannya walaupun Paman Zhang dan Kris bisa meng-handlenya dengan baik.
Luhan dan yang lainnya juga sudah pindah ke rumah baru mereka. Rumah dengan ukuran yang sangat besar yang dihiasi dengan sebuah taman yang di sertai kolam ikan berbentuk seperti air terjun mini yang airnya terus mengalir di bagian belakang rumah, kolam renang di sisi kanan rumah, basement tempat bersarangnya mobil-mobil koleksi Kris dan mobil pribadi Luhan, dan rumah berlantai dua bercat putih tersebut memiliki gerbang yang tinggi menjulang dengan sebuah pos yang berukuran tidak terlalu besar di pinggirannya. Pos tersebut di huni oleh para penjaga dan supir pribadi Luhan yang baru untuk mengantar Mamanya jika ingin berpergian.
Baik Luhan, Kris, Paman Zhang, Kyungsoo, Baekhyun, dan Mama Luhan berkumpul di gedung baru tersebut. Mereka sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Kyungsoo dan Mama Luhan yang mengurus catering untuk berbagai macam hidangan besok, Baekhyun yang mengurus segala dekorasi dan tatanan bunga untuk acara pembukaan besok, dan Paman Zhang yang di bantu oleh Kris masih mengurusi beberapa hal yang masih belum terselesaikan. Luhan terpaksa hanya harus duduk diam menyaksikan banyak orang berlalu lalang di sekitarnya dengan secangkir coklat panas di genggamannya.
Dia harus menuruti apa yang telah di katakan oleh Mamanya jika tak ingin mendengar urutan ocehan terpanjang tentang kesehatannya dari Mamanya. Mama Luhan sudah terlihat lebih hidup saat ini. Dia lebih banyak tertawa dengan kehadiran teman-teman kecil Luhan. Luhan pun ikut senang jika Mamanya senang. Dia akan melakukan apapun untuk membuat orang tua satu-satunya itu bahagia. Dia telah berjanji kepada Babanya dulu untuk selalu menjaga dan membahagiakan Mamanya. Dan sekarang, Luhan pun ikut tersenyum saat melihat Mamanya yang sedang tersipu malu karena Paman Zhang memberikan setangkai bunga mawar merah kepadanya. Kyungsoo dan Baekhyun yang ada di dekat Mama Luhan pun mulai menggodanya. Mau tak mau Luhan tertawa dan ikut bergabung dengan mereka.
Selama sebulan penuh, Luhan sudah menjalin beberapa kerja sama dengan beberapa perusahaan lain yang cukup berpengaruh di Seoul. Luhan melakukan itu semua dengan bantuan Kris. Dia juga sudah mengundang para perwakilan Park Corporation dan Kim Corporation untuk menghadiri acara pembukaan cabang barunya besok. Dan dia juga mengirim undangan kepada Oh Corporation. Tapi Luhan tak berharap banyak akan kehadiran para pemimpin dari ketiga perusahaan yang paling berpengaruh di Korea Selatan bahkan dunia tersebut untuk menghadiri acara pembukaan cabang barunya besok. Karena, tentu saja besok mereka memiliki pertemuan yang lebih penting dari pada acara pembukaan cabang barunya.
Luhan tidak terlalu mengenal pimpinan Park Corporation karena yang selalu dia temui merupakan asisten atau tangan kanannya. Luhan menjadi penasaran dengan pimpinan Park Corporation, seperti apa rupanya? Luhan sudah membayangkan bahwa pimpinan Park Corporation merupakan pria paruh baya yang sangat gila kerja bahkan sampai lupa memberi istirahat tubuhnya karena Luhan tak pernah bertemu dengannya. Setiap saat Luhan mengunjungi perusahaannya, Luhan selalu berurusan dengan asisten atau tangannya. Sebenarnya semua itu tak terlalu berpengaruh atau merugikannya. Tapi tetap saja, Luhan masih sering memikirkannya walaupun sebenarnya dia bisa bertanya dengan Kris yang pasti sudah kenal dengan pimpinan Park Corporation tersebut karena setau Luhan, Wu Corporation sudah cukup lama bekerja sama dengan Park Corporation.
Tapi beda hal dengan pimpinan Kim Corporation. Luhan dengan Kai sudah seperti teman biasa karena sifat kedua makhluk ini yang sangat mudah berbaur. Luhan bahkan sudah mengetahui bahwa pimpinan berkulit sedikit gelap ini menyukai Kyungsoo. Dan Luhan tak mempermasalahkannya.
Jika Oh Corporation, Luhan hanya mengunjungi perusahaan tersebut saat bersama Kris untuk membeli furniture cabang barunya dan dia pernah sekali mengunjungi Oh Corporation hanya seorang diri. Kris sedang mengurusi sedikit masalah pada Wu Corporation dan Paman Zhang sedang mengurusi urusan lain. Jadi mau tak mau Luhan harus mengurusnya sendiri. Dan terulang kembali moment yang membuat Luhan menyesali tindakannya.
Flashback On
Pada pagi hari menjelang siang dengan terik matahari yang mulai menaiki puncak tengah posisinya, Luhan sudah siap dengan setelan jas kesayangannya dan tentu saja berkas-berkas yang terbalut tas tangan keluaran terbaru tersebut. Luhan sedang dalam perjalanan menuju Oh Corporation pagi ini, dia akan membuat beberapa kesepatakan dengan pemimpin Oh Corporation tersebut. Sebenarnya Luhan tak ingin bertemu dengan pimpinan Oh Corporation yang sangat menyebalkan namun sialnya sangat tampan tersebut, namun Luhan dengan sangat terpaksa harus melakukannya seorang diri. Dia bahkan menyetir sendiri.
Sepanjang jalan Luhan bersenandung mengikuti alunan lagu yang keluar dari mini record tape di mobilnya untuk menghilangkan berbagai rasa campur aduk di hatinya. Setelah memarkirkan mobil kesayangannya, Luhan segera memasuki lobby Oh Corporation. Sang resepsionis langsung mengarahkan Luhan untuk segera menuju ruangan pemimpin Oh Corporation tersebut karena itulah pesan yang pimpinan mereka katakan. Luhan pun segera menuju ruangan tersebut untuk mempersingkat waktunya.
Saat sampai di depan ruangan dengan pintu kaca tersebut, Luhan langsung di persilakan masuk oleh asisten Sehun. Luhan pun langsung memasuki ruangan tersebut dan langsung menduduki salah satu sofa yang berada di pojok kanan ruangan yang berdekatan dengan pintu lain berwarna putih dengan ornamen klasik yang menghiasinya. Luhan pun tak mau pusing dengan pintu tersebut dan langsung mengeluarkan ponselnya. Jam di ponsel Luhan menunjukkan pukul 10:50 yang menandakan Luhan tak terlambat pada pertemuannya kali ini. Luhan pun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya dan memperhatikan ruangan orang dengan pangkat tertinggi di Oh Corporation ini.
Ruangan dengan warna di dominasi oleh putih dan abu-abu ini berukuran lebih luas dari ruangan Luhan di Busan. Ruangan ini hanya berisikan meja besar dengan berbagai macam berkas dan hal-hal lain diatasnya dan juga kursi berwarna hitam yang terlihat sangat menawan tersebut membelakangi kaca besar penghalang Oh Corporation dengan dunia luar, sofa-sofa kecil berwarna hitam dengan meja kaca yang menempel pada sisi dinding sebelah kanan ruangan, pintu putih dengan ornamen klasik yang sangat mengagumkan, dan juga sebuah lukisan besar yang menghadap langsung kepada siapapun yang duduk di kursi kebesaran di belakang meja tersebut. Ruangan dengan isi yang tak terlalu penuh ini meninggalkan kesan dingin dan kaku.
Sudah tiga puluh lima menit berlalu yang hanya di isi Luhan dengan duduk terdiam memperhatikan ruangan tersebut dan terkadang memainkan ponselnya walaupun hanya sekedar membalas pesan dari Mamanya ataupun Baekhyun yang super cerewet menanyai keadaannya. Sudah terhitung dua kali Luhan keluar dari ruangan Sehun hanya untuk menanyakan kepada seorang wanita yang duduk di depan ruangan tersebut kapan pemilik ruangan yang sangat membosankan ini akan datang.
"Hm.. maaf sebelumnya aku ingin bertanya kembali. Berapa lama lagi aku harus menunggu?" tanya Luhan yang hanya menampakkan kepalanya sedangkan badannya masih berada di dalam ruangan tersebut.
"Maafkan aku Presdir Xi, Presdir Oh hanya memberitahukan ku bahwa kau harus menunggunya sampai dia datang. Apakah kau bosan di dalam? Kau ingin meminta sesuatu kepada ku? Apa kau ingin minum?" tanya seorang wanita yang sudah di ketahui pasti merupakan asisten pribadi Sehun.
"Ya aku sangat bosan berada di dalam sini. Bisakah aku meminta secangkir coklat panas? Di dalam ruangan ini terlalu dingin untuk diriku sendiri. Maaf telah merepotkan mu.." gumam Luhan dengan cengiran khasnya.
"Kau tidak membuatku repot Presdir Xi. Ini merupakan kewajiban ku untuk melayani para tamu Presdir Oh."
"Kau baik sekali. Aku akan masuk ke dalam. Terima kasih banyak..." ucap Luhan sebelum kembali memasukkan kepalanya ke dalam ruangan Sehun lagi. Luhan kembali menduduki sofa yang tadi sudah di dudukinya dan mengeluarkan ponselnya.
Dia membuka daftar kontak yang berada di ponselnya. Ingin sekali dia menghubungi kontak dengan nama 'Oh Sehun' tersebut untuk segera memaki-makinya agar cepat datang ke kantornya. Luhan sudah menunggu selama satu jam, dia sudah sangat bosan menunggu. Namun dia harus profesional. Itulah prinsip yang selalu di pegang teguh oleh Babanya dan sekarang Luhan juga menerapkan prinsip tesebut pada dirinya.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan muncullah wanita yang tadi dia ajak bicara membawa nampan kecil dengan sebuah cangkir berwarna putih di atasnya. Luhan pun kembali tersenyum karena dia yakin sekali bahwa yang berada di dalam cangkir putih tersebut merupakan coklat panas kesukaannya.
"Presdir Xi ini coklat panas anda, silahkan di nikmati..."
"Oh kau baik sekali, terima kasih.." ucap Luhan menggantung karena dia tak tau siapa nama wanita di hadapannya tersebut.
"Jung Eun Byul, Presdir. Kau bisa memanggil ku Eunbyul."
Terima kasih Eunbyul-ssi..."
"Tak masalah Presdir Xi. Aku permisi dulu..."
Setelah mengantarkan secangkir coklat panas milik Luhan, asisten pribadi Sehun itu pun langsung keluar ruangan dengan senyuman di bibirnya. Luhan pun membalasnya dengan senyuman terbaiknya. Dia langsung menyeruput coklat panas tesebut seraya memainkan ponselnya. Mungkin apa yang di lakukannya saat ini dapat mengusir rasa bosannya.
Namun, hal itu tak berdampak banyak. Tak lama Luhan merasa sangat mengantuk, mungkin karena efek dari kurangnya waktu jam tidur Luhan karena dia harus menemani Baekhyun menonton film yang baru di belinya. Dan sepertinya meminum secangkir coklat panas bukan merupakan ide yang bagus untuk di minumnya. Karena saat ini dia menjadi sangat-sangat mengantuk.
Luhan pun berdiri, merenggangkan tubuhnya berharap rasa kantuknya hilang. Luhan mulai berjalan mendekati meja kerja Sehun. Luhan membalikkan kursi kebesaran Sehun dan mendudukinya. Dia mendekatkan diri ke dinding kaca pembatas antara ruangan tersebut dengan dunia luar. Luhan memperhatikan jalanan Seoul. Luhan tau apa yang di lakukannya saat ini terbilang tidak sopan. Tapi dia sangat bosan duduk di sofa empuk berwarna hitam itu sedari tadi.
Terlihat banyak sekali orang yang sedang beraktivitas di bawah sana. Mulai dari beberapa orang di antara mereka yang sedang berjalan, berlari, menunggu bus datang, menunggu lampu lalu lintas menjadi berwarna hijau, berbincang dengan kerabat mereka, dan banyak lagi. Tapi mereka semua terlihat sangat kecil dari sini.
Luhan menengadahkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya. Dia kembali membalikkan kursi kebesaran berwarna hitam tersebut dan melipat tangannya di meja. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru meja di depannya ini. Saat melihat ke pojok kanan meja, Luhan melihat satu bingkai kecil berwarna putih dengan ornamen-ornamen yang terbuat dari kayu membuat bingkai kecil tersebut terlihat sangat menarik. Luhan mulai mengambil bingkai kecil tersebut dan mengamatinya.
"Siapa wanita ini? Dia sangat cantik. Apa ini merupakan foto kekasih Sehun? Tapi wajahnya terlihat tak asing.." gumam Luhan seorang diri. Karena penasaran, Luhan pun membuka kembali ponselnya dan mengambil gambar foto beserta bingkainya tersebut. Mungkin Baekhyun atau Kyungsoo dapat membantunya mengingat wanita tersebut nanti. Dia kembali melihat jam yang tertera pada ponselnya, dan sudah terhitung satu setengah jam dia menunggu pimpinan Oh Corporation ini.
Luhan kembali menaruh bingkai tesebut di tempat semula. Luhan kembali memperhatikan meja kerja Sehun. Yang berada di permukaan meja tersebut adalah berkas-bekas yang menumpuk di sebelah kanan meja, telepon, sebuah laptop, dan juga tempat penampung alat-alat tulis.
"Hoaamm..."
Luhan kembali menguap saat rasa kantuknya kembali datang. Dia sangat mengantuk saat ini, dia sudah benar-benar tidak dapat menahan kantuknya. Luhan pun kembali melipat tangannya di meja dan menyamankan posisi kepalanya pada lipatan tangannya. 'Mungkin Sehun akan datang nanti, aku tak peduli jika dia marah-marah. Aku sangat mengantuk sekarang' pikir Luhan sebelum matanya tertutup dan melekat dengan erat serasa tak ingin terbuka.
..
..
Brak!
Sehun baru saja memasuki mobilnya setelah mengantarkan Seohyun bertemu dengan Chanyeol. Dia baru saja menemani Seohyun yang merajuk padanya agar di temani membeli beberapa buku-buku keperluannya. Sehun sudah mengatakan kepada Seohyun agar pergi bersama Chanyeol karena hari ini dia sangat sibuk, namun wanita satu itu tak mau mendengarkannya. Akibatnya, Sehun harus membatalkan pertemuannya dengan para kepala bagian perusahaannya. Dan dia baru saja mengantar Seohyun untuk bertemu dengan Chanyeol dan segera berangkat menuju tempat dimana seharusnya mereka berada sebagai seorang mahasiswa.
Sehun memijat pelan keningnya seraya menghembuskan nafasnya. Waktunya terbuang begitu saja demi menemani Seohyun. Namun dia tak menyesalinya karena sudah terhitung lama sekali dia tidak hang out bersama wanita-nya tersebut. Sehun mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi tersimpan rapi di atas dashboard mobilnya. Dia menemukan beberapa email masuk dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari asistennya, dan tertera satu buah pesan di sana. Sehun pun membuka pesan tersebut karena penasaran dengan isinya.
From : Jung Eun Byul
Presdir Oh maafkan aku telah menganggu mu, dimana anda sekarang? Pimpinan Xi Corporation sedang menunggu anda sedari tadi. Dia sudah menunggu anda selama satu jam lebih. Apakah anda melupakan janji pertemuan anda lagi? Saya sudah membuatkannya secangkir coklat panas dan dia masih menunggu anda sampai sekarang. Apa yang perlu saya lakukan atau katakan kepadanya?
Setelah membaca pesan tersebut, Sehun menepuk dahinya. Dia bahkan melupakan janjinya dengan Luhan. Bagaimana bisa itu terjadi? Dia bisa mati di tangan Kris. Dan tertera sekali bahwa pesan tersebut sampai ke ponselnya dua jam yang lalu. Berarti Luhan sudah menunggunya selama tiga jam lebih? Bagaimana bisa dia melupakan pertemuannya yang satu ini.
Sehun segera menyalakan mobilnya dan memacunya dalam kecepatan penuh berharap dia dapat sampai ke kantornya dalam waktu secepat mungkin. Selama di perjalanan dia mencoba mencari kontak asistennya tersebut dan menghubunginya.
Tuut.. tuut.. tuut...
"Yeoboseo.."
"Noona apakah Luhan masih berada di sana?"
"Ya. Dia sudah menunggu mu selama tiga jam lebih dan dia tak sedikit pun berniat meninggalkan ruangan mu yang sangat membosankan itu. Bagaimana bisa kau melupakannya?"
"Seohyun meminta ku untuk menemaninya mencari buku-buku yang di perlukannya. Aku sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi aku akan sampai dan jagalah Luhan sampai aku sampai." Ucap Sehun terakhir kali dan langsung mematikan sambungan telepon mereka.
Dia memacu secepat mungkin mobilnya dan betapa beruntungnya dia karena bisa sampai di kantornya pada waktu yan sangat cepat. Saat sampai di depan lobby Oh Corporation, Sehun langsung keluar dari mobilnya dan memberikan kunci mobilnya kepada salah satu valley yang bekerja di perusahaanya tersebut.
Sehun langsung menuju lift khusus yang langsung membawanya pada lantai dimana ruangannya berada. Sehun sedikit berlari saat menghampiri meja yang sedang di singgahi oleh seorang wanita sedikit lebih tua darinya dengan name tag "Jung Eun Byul" yang menempel pada bagian depan meja.
"Noona, Luhan masih berada di dalam?" tanya Sehun mengagetkan asistennya tersebut.
"Oh, ah, ya. Dia masih di dalam. Dari mana saja kau?" tanyanya menjawab pertanyaan Sehun setelah mengalihkan perhatiannya dari layar kaca komputer.
"Aku akan menjelaskannya kepada mu nanti.." gumam Sehun seraya berlari memasuki ruangannya.
Saat kembali menutup pintu kaca antara ruangannya dengan ruangan luar, mata Sehun langsung tertuju pada sesosok tubuh yang sedang menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangan yang di buatnya. Sehun tersenyum begitu menyadari siapa yang sedang menempati mejanya saat ini. Dia segera berjalan menuju mejanya tersebut, berusaha setenang mungkin agar tidak membangunkan pria mungil yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Saat sampai di depan tubuh Luhan, Sehun membungkukkan tubuhnya. Memperhatikan wajah Luhan dari ujung rambut sampai ujung dagunya. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Sehun menolehkan kepalanya dan mengambil bingkai kecil yang tergeletak di pojok kanan mejanya.
"Melihat mu membuat ku teringat akan Ellen. Bagaimana bisa kau sangat mirip dengannya?" tanya Sehun seraya membandingkan wajah Luhan dengan wajah seseorang yang berada pada bingkai tersebut.
"Apakah kau memiliki hubungan darah dengannya? Atau apakah kau reinkarnasi Ellen?"
"Aku sangat merindukannya. Apakah salah jika aku menganggap mu sebagai Ellen?" tanya Sehun lagi kepada dirinya sendiri. Sehun mulai membelai wajah Luhan seraya memperhatikan lebih dalam wajah Luhan.
"Kau memang sangat mirip dengan Ellen-ku. Tapi kau berbeda dengannya. Aku tau akan hal itu. Kau sangat keras kepala dan menyebalkan. Aku baru beberapa kali bertemu dengan mu dan aku sudah mengetahui kepribadian mu, itu mengagumkan." Gumam Sehun dengan kekehannya setelah menyadari betapa konyolnya dirinya.
"Apakah aku bisa menaklukkan mu? Dan menjadikan kau kekasih ku?" tanya Sehun lagi kepada dirinya dan selama sepersekian detik termenung. Apakah ada yang salah dengan kata-katanya barusan?
Sehun pun kembali terkekeh menyadari dirinya yang begitu terlihat bodoh dan konyol karena berbicara dengan orang yang sedang tertidur. Sehun kembali menaruh bingkai kecil yang berada di tangannya ke tempat semula dengan perlahan. Sehun tersenyum sekali lagi seraya menatap lama bingkai kecil tersebut sebelum kembali mengalihkan perhatiannya kepada makhluk sungguhan yang berada di depannya saat ini.
"Baiklah aku meminta maaf kepada mu karena telah membuat mu menunggu begitu lama. Sebagai permintaan maaf ku, aku akan membiarkan kau tidur dengan nyaman dan tentram di ruangan ku. Kau harus berbangga hati Xi Luhan, karena tak pernah ada seorang pun yang memasuki ruangan pribadi ku kecuali diri ku sendiri. Oh, ya, dan mungkin beberapa tukang reparasi..." Gumam Sehun seraya mengecup lama kening Luhan.
Setelah mengecup kening Luhan, Sehun mengangkat tubuh Luhan kedalam pelukannya dengan sangat perlahan. Luhan menggeliat merasa terganggu dengan gerakan yang di lakukan oleh Sehun. Namun Luhan kembali menyamankan tidurnya dalam pelukan Sehun, dia mengalungkan kedua tangan mungilnya ke leher Sehun yang membuat Sehun tersenyum.
"Kenapa kau sangat menggemaskan dan menggairahkan saat tertidur seperti ini? Aku rasa inilah yang membuat ku tak tahan menyerang mu pada saat di hotel ku waktu itu. Maaf kan aku atas kejadian waktu itu." Gumam Sehun kepada Luhan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Sehun mulai menjalankan kakinya perlahan menuju sebuah pintu berwarna putih dengan ornamen-ornamen klasik yang di pesannya langsung kepada pengrajin terkenal di Spanyol. Sehun mulai membuka pintu tersebut dan memasukinya. Dia langsung menuju sebuah kasur yang berukuran sangat besar untuk di singgahi seorang diri dan membaringkan tubuh Luhan dengan perlahan di sana. Sehun juga menarik selimut tebal yang sangat halus tersebut untuk menyelimuti tubuh Luhan.
Setelah memastikan Luhan nyaman dalam tidurnya, Sehun kembali melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan pribadinya tersebut. Tak lupa dia meninggalkan kecupan hangat pada kening Luhan.
..
..
..
..
..
tbc
Ini flashbacknya emang sengaja aku potong gt ya dan kalo misalkan kalian gasuka atau gimana maaf ya..
Sekian dan terima kasih :)
