Jingga dan Senja
Main Cast : Sehun, Baekhyun, Kai, Kris
Pairing: Kaihun?or Hanhun?
Genre : Drama, romance, slice of life
Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.
Part 14
"Thanks ya," ujarnya.
"Oke. Cepet masuk sana!"
"Kau yang cepet pergi sana!"
Luhan ketawa geli. "Oke deh. Sampe ketemu ya." Pria itu menurunkan kembali kaca helmnya lalu langsung tancap gas.
Emang nggak perlu lama-lama. Seperti dugaan Luhan, Kai sedang duduk di tepi lapangan futsal bersama teman-temannya. Dan keberadaan Luhan tepat di depan sekolah, meskipun cuma tiga puluh detik, jelas tertangkap kedua matanya.
Tanpa seragam dan dengan kepala terbugkus helm membuat tak seorang pun siswa Seoul High School menyadari kehadiran pentolan SMA musuh bebuyutan sekolah mereka itu.
Hanya Kai. Pertama karena Sehun, kedua karena kedua mata Luhan terarah tepat padanya. Kai sangat hafal bentuk kedua mata itu dan sorot khasnya. Dan tindakan Luhan itu membuat Kai tecengang. Benar-benar di luar dugaannya pria itu berani mengantar Sehun sampai di depan sekolah.
Dengan geram Kai bangkit berdiri. Dengan langkah-langkah cepat dia berjalan ke arah pintu gerbang lalu berdiri dengan punggung bersandar di dinding pos sekuriti. Sementara itu sesaat setelah Kai meninggalkan teman-temannya, Sehun berjalan kearah pintu gerbang dengan langkah-langkah cepat. Lewat sela-sela jeruji pagar, diawasinya tepi lapangan futsal tempat Kai biasa duduk. Ketika tidak dilihatnya pria itu, Sehun menarik napas panjang-panjang.
"Fiuuuuh, aman! Aman…!" desahnya lega. Seketika langkah-langkahnya jadi melambat.
"Dianter siapa tadi?"
Sehun nyaris saja melompat. Kaget karena tiba-tiba saja Kai sudah ada di depannya, sesaat begitu dilewatinya ambang gerbang sekolah. Sontak gadis itu memucat. Bukan saja karena kaget, tapi juga karena orang yang paling ingin dihindarinya ternyata malah muncul tepat di depan mata.
"Luhan?" Kai menjawab sendiri pertanyaannya.
"Emmm, iya," Sehun menjawab dengan suara pelan. Kedua matanya yang sempat menatap Kai buru-buru dia alohkan ke tempat lain. Ngeri melihat tatapan tajam Kai yang terarah lurus-lurus padanya.
"Lupa yang aku bilang di kantin, kemaren?‖
"Dia yang jemput ke rumah kok."
"Bisa kau tolak, kan?"
"Nggak ada alasannya."
"Kan aku udah bilang di kantin kemaren. Lupa?" Kai mengulang kalimatnya. Sekarang sambil dia tundukkan kepalanya rendah-rendah. Sehun serentak mundur. Mukanya bersemu merah.
"Maksudnya, nggak ada alasan yang pas buat nolak dia. Gitu lho," kilah Sehun, lalu buru-buru kabur.
Kaii menatap Sehun yang berjalan menjauh dengan langkah-langkah cepat. Dia sudah tahu , pasti Luhan yang mengambil inisiatif. Tapi keduanya terlihat akrab. Untuk pertemuan yang baru terjadi dua kali, dengan setting yang juga jauh dari manis apalagi romantis, kemajuan yang dicapai Luhan cukup mengejutkan. Sekali lagi pria itu mendahului langkahnya!
Tubuh Kai menegang. Mendadak saja dia dicekam ketakutan. Seketika dikejarnya Sehun. Sehun kaget saat tiba-tiba satu tangannya ditarik dari belakang.
"Sekarang aku kasih kau alasan yang pas!" Kai langsung menyambutnya dengan satu kalimat tandas.
"Eh!? Eh!? Sunbae apa-apaan sih!?" Sehun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kai. Tapi itu justru membuat Kai mengetatkan cekalan kelima jarinya di pergelangan tangan Sehun. Sehun memucat ketika tahu ke mana Kai tengah menyeretnya. Area kelas dua belas!
"Kai Sunbae, lepas!"
Sekuat tenaga Sehun menarik tangannya yang berada dalam genggaman Kai, sementara kelima kuku dari tangannya yang bebas dia tancapkan dalam-dalam ke dalam lengan Kai. Tapi itu justru membuat Kai jadi semakin marah. Ditariknya Sehun dengan sentakan keras. Sampai tubuh gadis itu membentur tubuhnya.
"Berhenti berontak, kalo kau tidak mau aku jadi kasar!" bentaknya. Sehun langsung kooperatif. Bukan saja karena sepasang mata nyalang Kai membuat nyalinya ciut, juga karena mereka sudah menaiki tangga menuju lantai dua gedung selatan, tempat kelas-kelas dua belas berada.
Kalau sebelumnya kegemparan itu terjadi di area kelas sepuluh, merembet ke area kelas sebelas dalam bentuk berita dan laporan heboh beberapa saksi mata, kemudian sampai di area kelas dua belas dalam bentuk laporan tanpa saksi mata, kini kegemparan itu terjadi langsung di area kelas dua belas.
Dan kegemparan yang terjadi di area angkatan dengan hierarki tertinggi itu jelas lebih hebat daripada yang terjadi di area kelas sepuluh. Karena kelas dua belas adalah angkatan yang paling mengenal Kai.
Mereka tahu dengan pasti kosongnya 'tempat' di sebelah Kai selama ini. Karena itu munculnya sang pentolan sekolah itu dengan seorang gadis yang digandengnya erat-erat jelas menimbulkan kegemparan lebih dari sekadar tatap-tatap terkesima dan mulut-mulut ternganga seperti yang terjadi di area kelas sepuluh.
Begitu memasuki kelas dua belas, sebagian dari tatap-tatap terkesima dan mulut-mulut ternganga kemudian mengekor di belakang keduanya. Tidak diam di tempat seperti yang terjadi di area kelas sepuluh.
Lama-lama jumlah pengekor semakin banyak dan keduanya jadi terlihat seperti sepasang pengantin yang sedang diiringi sanak keluarga dan orang sekampung. Yang mengiringi bukan hanya dengan rasa ingin tahu, tapi juga berondongan pertanyaan dan komentar.
"Siapa, Kai? Siapa? Kenalin dong!" teriak satu suara.
"Pacarmu, Kai? Akhirnya! Aku kira kau homo!" satu suara lain melengking keras.
"Anak sekolah kita juga?" satu suara lain menyeruak dari dengungan.
"Ya iyalah. Liat badgenya dong. Bodoh sekali kau nanyanya," lontaran pertanyaan itu langsung mendapatkan jawaban.
Sementara itu, di sebelah Kai, Sehun melangkah seperti dalam mimpi. Riuhnya suasana yang mengelilingi mereka membuatnya tak lagi mampu mencerna apa yang tengah terjadi. Di samping itu, di antara tatap-tatap ingin tahu yang tidak bersuara, dia menemukan sorot iri, benci, bahkan kemarahan. Satu hal yang bisa dia sadari, mulai saat ini hari-harinya ke depan bisa dipastikan bakalan runyam dan banyak masalah.
Rombongan pengiring itu terus mengikuti Kai menggandeng Sehun masuk ke kelasnya. Dibawanya gadis itu ke bangku Chanyeol, yang hari ini tidak masuk. Setelah itu ditariknya bangkunya sendiri, rapat di sebelah bangku Chanyeol yang kini diduduki Sehun. Kemudian Kai duduk dan merentangkan kedua tangannya. Satu di letakkan di puncak sandaran kursi yang diduduki Sehun, satu di meja depan gadis itu. Dia sangat menyadari takut yang dirasakan Sehun. Karena begitu memasuki area kelas dua belas, gadis itu berhenti berontak dan tidak lagi mengeluarkan suara.
Kai sengaja bersikap ambigu. Proteksi sekaligus unjuk kekuasaan. Kau aman di sebelahku, karena aku berkuasa!
Jungsoo Songsaenim, guru Bahasa Korea yang mengajar di jam pertama, memasuki kelas dengan kening berkerut karena ruangan itu sudah seperti tempat penampungan yang memuat terlalu banyak pengungsi.
"Ada apa ini!?" serunya sambil mengetuk-ngetuk whiteboard dengan spidol keras-keras. Seisi ruangan menoleh kaget. "Cepat ke kelas masing-masing. Sudah bel!"
Para pengiring Kai dan Sehun kontan bubar. Begitu yang tersisa tinggal penghuni asli kelas XII IPA 3, Jungsoo Songsaenim langsung menyadari adanya pendatang baru. Bukan karena dia hafal isi kelas itu, tapi karena Sehun telihat takut dan canggung berada di antara orang-orang yang tidak dikenalnya.
"Kamu bukan murid kelas ini, kan?" tanyanya.
"Bukan, Songsaenim," jawab Sehun pelan disertai gelengan kepala. Gelengan kepala itulah yang membuat Jungsoo Songsaenim tahu, karena suara Sehun sama sekali tidak terdengar olehnya.
"Kamu kelas berapa?"
Duh! Sehun mengeluh dalam hati. Kenapa pake nanya aku kelas berapa sih? Suruh aja aku pergi dari sini! Jeritnya dalam hati. Meskipun sejak tadi dirinya sudah jadi pusat perhatian, hadirnya Jungsoo Songsaenim dan mata seisi kelas yang terarah padanya membuat Sehun merasa kehadiran guru itu sama sekali tidak berguna.
"Songsaenim nanya saya aja. Saya tau kok dia kelas berapa," Kai menawarkan diri. Jungsoo Songsaenim tidak mengacuhkan. Kedua matanya tetap tertuju pada Sehun.
"Kelas berapa kamu?" ulangnya.
"Sepuluh sembilan, Songsaenim," jawab Sehun setelah menghela napas diam-diam.
"Berapa?" Tanya Jungsoo Songsaenim sembari menyipitkan kedua matanya. Tidak bisa mendengar suara Sehun saking lirihnya.
"Sepuluh sembilan!" Kai yang menjawab, dengan suara lantang dan sambil melirik gadis di sebelahnya itu. "Udah saya bilangin, Songsaenim nanya sama saya aja. Gadis ini suaranya alus banget, Songsaenim. Saya aja yang di sebelahnya nggak denger."
"OOOH, KELAS SEPULUH SEMBILAAAAN!" seisi kelas membeo dalam bentuk koor yang kompak dan nyaring.
"Nama kamu?" Tanya Jungsoo Songsaenim lagi.
"Sehun Jingga Matahari, Songsaenim!" lagi-lagi Kai yang menjawab. Begitu Kai menyebutkan nama lengkap Sehun, kontan ruangan kelas jadi sunyi senyap. Tapi hanya sesaat. Kemudian suasana berubah riuh. Semua membicarakan persamaan nama dua orang yang duduk bersebelahan itu. Heran. Takjub.
Jungsoo Songsaenim mengetuk-ngetuk meja dengan penghapus whiteboard keras-keras. Memerintahkan kelas agar tenang. Tapi belum sempat beliau bicara, Taehyung sudah menyerukan usulan agar hari ini mereka bebas, tidak belajar.
"Songsaenim, hari ini nggak usah belajar deh. Kita merayakan bertemunya dua Matahari ini."
"SETUJU! SETUJUUU!" seisi kelas langsung menyambut dengan gegap-gempita.
"Terus kenapa kalau mereka punya nama yang sama?" tanya Jungsoo Songsaenim dengan nada dingin.
"Ya kan orang yang namanya Matahari itu jarang sekali, Songsaenim. Seumur hidup malah baru ini saya punya temen namanya Matahari. Kalo nama Songsaenim, Jungsoo, buanyak buanget, Songsaenim. Coba deh Songsaenim pergi ke pasar, terus teriak manggil nama sendiri. Ada kali lima puluh orang ikutan nengok juga, Songsaenim."
Ucapan Taehyung membuat seisi kelas ketawa geli.
"Kau kurang ajar sekali sama orang tua, V. Dosa, tau!" kata Suga.
Taehyung buru-buru berkilah. "Bukan begitu, Songsaenim," katanya sambil tersenyum sumir. "Maksud saya, nama 'Matahari' itu superlangka. Jadi bertemunya dua 'Matahari' jelas peristiwa yang juga sangat langka. Berarti ini suratan takdir. Kehendak dari Sang Maha Pemberi Hidup yang bertakhta di keabadian untuk mempertemukan kedua insan ini, Songsaenim. Makanya perlu dirayakan." Taehyung menoleh ke Suga lalu meringis. "Keren banget kan kata-kata ku?"
"Iya. Gila, kau seperti Khalil Gibran banget, man. Nggak nyangka." Suga geleng-geleng kepala sambil mendecakkan lidah dan mengacungkan kedua ibu jarinya.
Kembali kelas riuh dipenuhi tawa-tawa geli. Jungsoo Songsaenim menatap Taehyung dan Suga dengan pandangan dingin, lalu perhatiannya kembali ke Sehun.
"Kenapa kau ada disini?"
"Saya yang bawa dia kesini, Songsaenim," ucap Kai dengan gaya khasnya apabila sedang melakukan penentangan. Tenang, lugas, tandas.
Jungsoo Songsaenim jadi semakin kesal. Kemungkinan besar dia akan semakin banyak kehilangan waktu mengajarnya, karena lagi-lagi Kai membuat ulah.
"Kembali ke kelas kamu. Cepat!" perintahnya. Dengan lega Sehun berdiri. Akhirnya dirinya bebas juga. Tapi Kai langsung mencekal pergelangan tangan Sehun dan menariknya sampai gadis itu jatuh terduduk di sebelahnya lagi.
"Chanyeol nggak masuk, Songsaenim. Makanya dia saya ajak ke sini. Semuanya pada punya pasangan, masa saya sendirian? Kan nggak adil. Lagipula, hari ini mendung. Kayaknya bakalan hujan deras. Sendirian, pas dingin-dingin, terus di tengah pasangan-pasangan. Sumpah, itu rasanya merana banget, Songsaenim."
"Ya udah. Aku duduk denganmu deh," Kris menawarkan diri.
Kai menoleh lalu menatapnya sambil menggelengkan kepala. "Poligami, oke. Tapi kalo homo-homoan, mending aku sama satu orang aja deh. Cukup si Chanyeol aja, man. Too much love will kill you," ucap Kai kalem. Seisi kelas kontan tertawa riuh.
Di saat Jungsoo Songsaenim berpikir keras bagaimana caranya menyelesaikan masalah di depannya, karena Kai sudah terkenal semakin dikerasi akan semakin frontal, tiba-tiba Kim Songsaenim muncul di pintu kelas. Rupanya Baekhyun sempat melihat saat Sehun dibawa Kai dengan paksa. Dan ketika teman semejanya itu tidak muncul-muncul juga, Baekhyun langsung melapor pada wali kelas mereka, Jessica Songsaenim. Jessica Songsaenim otomatis melaporkan peristiwa itu pada wali kelas Kai, Kim Songsaenim.
Kim Songsaenim, yang selalu merasa telah terkena kutukan setiap kali teringat dirinya menjadi wali kelas Kai, langsung berjalan menuju kelas XII IPA 3 dengan langkah lebar dan roman muka kesal. Setelah mengangguk ke arah rekan sejawatnya, Jungsoo Songsaenim, Kim Songsaenim langsung melayangkan pandangannya pada Sehun.
"Kamu Sehun?"
"Iya Songsaenim." Sehun mengangguk, kembali terlihat lega.
"Kembali ke kelas kamu. Sekarang!"
Sehun langsung berdiri dan bergegas keluar. Tak lama kemudian suara langkah-langkah kebebasannya di sepanjang koridor menghilang. Di luar dugaan semua orang, Kai membiarkan. Dia cuma tersenyum tipis kemudian berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Songsaenim tuh kayaknya nggak bisa banget kalo ngeliat saya seneng dikit aja ya?"
Kim Songsaenim tidak mengacuhkan ucapan Kai itu. Dia mengangguk ke arah Jungsoo Songsaenum sambil mengucapkan terima kasih, kemudian pergi. Jungsoo Songsaenim segera memerintahkan seisi kelas agar membuka buku cetak masing-masing. Kemudian beliau berdiri di depan whiteboard dan mulai menuliskan poin-poin penting untuk dicatat. Begitu membalikkan badan, guru bahasa Korea itu kaget karena Kai sudah menghilang dari bangkunya.
"Ke mana dia?" tanyanya tajam.
"Nggak tau Songsaenim!" seisi kelas menjawab kompak.
Di kelas X-9, Jessica Songsaenim baru saja menyuruh Sehun duduk di bangkunya, tanpa bertanya apa-apa karena dilihatnya wajah gadis itu pucat dan terlihat jelas sedang berusaha keras menahan tangis.
Beliau kemudian meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, memindahkan isi buku catatannya ke whiteboard agar disalin para muridnya.
Tapi ketika beberapa saat kemudian dia membalikkan badan, ibu guru muda itu terkejut. Karena Kai sudah berada di dalam kelasnya. Duduk manis di sebelah
Sehun. Sementara Baekhyun, sang pemilik bangku yang terusir, berdiri bingung di lorong antarbaris.
Jessica Songsaenim berdecak pelan, kesal saat masalah yang terjadi di kelas XII IPA 3 berpindah ke kelasnya. Untungnya tak lama kemudian Kim Songsaenim muncul, dan tidak sendiri. Sooman Gyojangnim, sang kepala sekolah, menyusul di belakangnya.
"Maaf mengganggu sebentar, Jessica Songsaenim." Sooman Gyojangnim mengangguk ke arah Jessica Songsaenim, kemudian melangkah masuk dan berhenti di depan kelas. Sementara Kim Songsaenim tetap berdiri di luar kelas, dengan muka yang sangat jelas terlihat sedang menahan marah. Sooman Gyojangnim langsung melayangkan pandangannya pada Kai.
"Kai, kamu ikut saya!"
Kai menahan napas kemudian berdecak kesal. Sambil bangkit berdiri, pria itu memukul meja di depannya.
"Beraninya pada keroyokan!" ucapnya.
Sehun dan seluruh teman sekelasnya menatap ternganga. Walaupun telah berulang kali menyaksikan sikap Kai yang suka seenaknya, mereka tak menyangka itu juga berlaku di depan Sooman Gyojangnim. Kepsek! Orang yang dianggap paling berpengaruh dan paling dihormati di sekolah.
"Nanti siang kau aku anter pulang." Kai menepuk lengan Sehun, bicara tanpa menoleh, kemudian melangkah keluar.
.
.
.
.
Tbc or stop?
