LOVE IN PROBLEM
Pairing = [TAEIL X DOYOUNG] [HANSOL X YUTA] [JOHNNY X TEN] [JAEHYUN X TAEYONG] [MARK X DONGHYUCK] [JENO X JAEMIN] + JISUNG
Support Cast = Koeun, yumin(oc), etc.
Genre = Romance, Hurt/Comfort
Warning = YAOI, TYPO, AU, TIDAK SESUAI EYD, MPREG! TRANSGENDER!
.
BY Johntenny
Setelah kurang lebih satu jam menempuh perjalanan di pesawat, kini akhirnya mereka sampai di Seoul. Semua berkumpul di ruang tunggu bandara Incheon. "Jisung, apa masih sakit?" Taeil menghampiri adiknya itu yang masih dalam rangkulan Yumin. Jisung hanya menggeleng kecil, "Ani, gwaenchana hyung." Jawab Jisung lemah.
Taeil menyentuh kulit wajah Jisung yang sudah normal kembali, dan ia menghembuskan nafas lega. "Syukurlah kalau begitu." Ujar Taeil lalu kembali menghampiri istrinya. Ia merangkul istrinya yang tengah termenung itu. "Wae? Kok diam saja?" tanya Taeil bingung. Doyoung hanya menggeleng dan menyender di bahu suaminya, "Aku hanya masih mengantuk, hyung."
"Doyoungie, Taeil-ah, kalian akan langsung menuju dorm?" tanya Nyonya Kim menghampiri kedua anaknya itu. "Sepertinya begitu, Eomma. Karena kita juga pindah ke dorm baru hari ini." Jawab Taeil dan diangguki Doyoung. "Ya! Ada apa dengan adikku ini, eoh? Kelelahan habis melakukan ritual malam pertama ya~?" goda Gongmyoung sambil menoel-noel bahu Doyoung.
Doyoung menatap hyungnya itu dengan wajah memerah. "Apasih hyung! Aku hanya mengantuk tahu." Jawab Doyoung galak, tak hanya Doyoung, tapi Taeil juga memerah malu mendengar perkataan Gongmyoung.
"Sudahlah Gongmyoung-ah, lihatlah adikmu itu sudah seperti kepiting rebus." Kata Tuan Kim sambil tersenyum jahil. "Appa!" Doyoung merengek dan menatap Taeil agar suaminya itu mau membelanya. Taeil hanya terkekeh dan membuat Doyoung mendesis sebal.
"Baiklah, sepertinya kami harus segera pulang. Jaga diri kalian, ok. Annyeong." Pamit keluarga Kim dan memeluk anak dan menantunya itu. "Annyeong Eomma, Appa, hyung." Ujar Doyoung dan Taeil. "Eomma!" panggil Taeil pada ibunya. Nyonya Moon melambai pada Taeil dan Doyoung. "Eomma, kalian sudah akan pulang?" tanya Taeil pada sang ibu.
Nyonya Moon tersenyum, "Ne, kami akan segera pulang. Kalian juga akan pulang langsung ke dorm kan?" tanya Nyonya Moon. Ia mengusap rambut Doyoung dengan gemas karena menantunya itu terlihat sangat manis dengan senyumnya. "Ne, kami akan langsung ke dorm. Eomma dan yang lain juga hati-hati di jalan." Jawab Taeil dan Doyoung.
"Baiklah, Doyoungie jaga dirimu dan juga baby, ok. Kapan-kapan kami akan mengunjungimu, aku dan Eomma Kim akan mengunjungi kalian." Kata Nyonya Moon pada anak dan menantunya itu. Taeil dan Doyoung memeluk Nyonya Moon bergantian sebelum Nyonya Moon pulang ke kediaman Moon bersama keluarga Moon yang lain.
"Taeil-ah, Doyoung-ah, mobil Van sudah datang. Kita harus segera kembali." Teriak Yumin dari kejauhan pada mereka. Mereka juga melihat satu-persatu member yang sudah berjalan menuju parkiran bandara. Taeil dan Doyoung pun menyusul mengikuti langkah member lain.
Mereka masuk ke dalam mobil van nomor satu yang terisi oleh Hansol, Yuta, Johnny, dan Ten. Sisa member berada di mobil Van nomor satu, dan barang-barang di Van nomor tiga. "Hyung kita pindah ke daerah mana?" tanya Ten pada Johnny. Johnny mengedikkan bahu tidak tahu.
"Kata Yumin noona sih, kita akan pindah ke daerah Mapo-gu, Donggyu-dong." Kata Hansol menjawab pertanyaan Ten. Johnny dan Ten mengangguk mengerti.
Benar saja, ketiga mobil Van itu melaju menuju distrik Mapo dan masuk ke lingkungan Donggyu. Di dalam mobil van, semua member tidak ada yang tertidur, kecuali Jisung yang masih harus butuh istirahat. Mereka sangat penasaran dengan Mansion yang di janjikan oleh CEO Lee dan ingin tahu seperti apa bentuknya.
Saat mobil mereka masuk ke dalam sebuah gerbang tinggi dan besar, mereka menganga dengan wajah tak percaya. Dilihat dari gerbang yang seperti gerbang istana itu, mereka semakin penasaran dengan rumahnya.
Mereka memperhatikan jalan yang seperti masuk ke dalam sebuah taman rekreasi yang begitu besar. "Dimana mansionnya? Kenapa kita tidak sampai-sampai, bukankah tadi sudah gerbang masuk?" tanya Yuta heran dan celingukan melihat ke jendela mobil kiri dan kanan yang dipenuhi pohon-pohon rindang.
Selang lima belas menit, akhirnya mereka benar-benar sampai di depan sebuah Mansion yang sangat besar dan bergaya Eropa. Ke dua belas orang yang berada dalam van itu menjatuhkan rahangnya dengan wajah horor.
Mereka langsung membuka pintu mobil dan berlari ke depan rumah itu agar terlihat lebih jelas. "Whoa!" ujar mereka kompak. "Apa kita akan benar-benar tinggal disini?" tanya Johnny dengan raut tak percaya. Heol! Dia orang Amerika, dan sudah sering melihat mansion sebesar ini, namun dia tidak pernah menduga kalau ia akan tinggal di tempat mewah itu, tentu saja hal itu membuatnya shock juga senang.
"Serius, ini bukan hotel?" tanya Hansol pada Yumin. Yumin berjalan ke depan dan berdiri di hadapan pada rookies. "Begini semuanya!" Yumin memulai. Ia harus memberitahu apa yang sudah ia ketahui dari CEO Lee agar member rookies tidak terlalu kaget. Semua member pun kini menaruh perhatiannya pada manager mereka itu.
"Di dalam mansion megah bertiga lantai ini terdapat banyak fasilitas. Untuk Indoor ada sekitar 30 kamar yang sudah terhitung dengan kamar tamu dan setiap kamar memiliki kamar mandi sendiri + kamar mandi di luar kamar ada 4 buah, dapur bersih, ruang laundry, ruang tamu, ruang makan, 2 ruang santai, ruang musik, ruang SPA dan sauna, ruang fitness, aula, kolam renang Indoor, dan dua garasi." Terang Yumin serius.
"30 kamar?!" teriak Jaehyun tak percaya. "Noona, tapi kami hanya bertiga belas." Ujar Jaehyun lagi. "Ne, Noona. Bagaimana kami merapikan rumah sebesar ini? Sedangkan dorm sekecil kemarin saja, kami tidak bisa merawatnya?" protes Taeyong. Oh, tidak. Ini mimpi buruk. Dia tidak bisa membayangkan kalau ia harus membereskan semua kekacauan yang akan dibuat para membernya nanti.
"Ck, dengarkan aku sampai selesai dulu ok." Yumin menatap hanya menatap jengah pada mereka. "Jadi disini juga dilengkapi dengan 4 fasilitas WIFI, CCTV di setiap sudut ruangan terkecuali toilet. Setiap kamar juga kedap suara dan ada fasilitas seperti TV dan AC. Dan mansion ini juga pastinya memiliki intercome. Disini juga ada beberapa maid yang bekerja untuk membersihkan mansion kalian, kecuali kamar yang kalian tempati." Jelas Yumin lagi sambil mengatur nafas.
Taeyong mendesah lega begitu tahu ada maid yang akan membersihkan mansion mereka. Sedangkan para seme menyeringai kecil saat mengetahui kamar mereka kedap suara. Sepertinya mereka memiliki rencana lain di pikiran masing-masing. "Apa perabotan rumah sudah lengkap semua?" tanya Johnny. "Ya, semua perabotan sudah lengkap, dan semua perobatan kalian di dorm dulu juga dipindahkan ke sini. Kalian juga bisa bermain alat musik dengan bebas." Ujar Yumin lagi sambil menatap keseluruhan anak didinya..
"Lalu outdoor?" tanya Jeno membuka suara. Yumin mengangguk, "Untuk outdoor ada taman yang tadi kita lewati, ada jalur jogging, ada kolam renang outdoor, lapangan futsal dan basket yang digabung, lapangan golf, kebun bunga, ruang keamanan dan ruang kesehatan dan ada atap terbuka."
"Tapi untuk apa sebenarnya kita tinggal di tempat semewah ini?" tanya Ten, dia sedikit heran dengan CEO Lee yang memberikan mereka mansion besar ini. Yumin menatap Ten dengan senyum kecilnya. "Bukankah CEO Lee bilang anggap saja ini hadiah untuk kalian? Dan dia bilang tempat ini tidak akan terjamah oleh netizen atau paparazzi jahat. Jadi kemungkinan kalian akan aman disini." Ujar Yumin lagi.
"Dan Jaehyun aku minta maaf sempat melupakan pertanyaanmu. Jadi 30 kamar ini, terserah kalian apakan untuk sementara, tapi seiring berjalannya proyek, kemungkinan akan ada trainee lain yang ikut tinggal bersama kalian. Dan ada sepuluh kamar tambahan dari 30 kamar itu, sepuluh kamar itu bisa kalian gunakan sendiri sesuai kebutuhan. Khususnya untuk Hansol, Yuta, Taeil, dan Doyoung. Kalian bisa mendekor ruangan-ruanagan itu untuk anak kalian nanti." Ujar Yumin dengan senyumnya.
"Dan aku akan membebaskan kalian untuk mengatur kamar sendiri." Lanjutnya. "Whoa...ini benar-benar menakjubkan." Ujar mereka dengan senyum mengembang. "oh aku melupakan satu lagi, untuk keamanan...semua pintu sudah memiliki control sendiri, dia akan terkunci otomatis saat sang pemilik atau pengeklaim kamar sudah mengisi sandinya dari awal masuk. Terkecuali pintu gerbang utama yang berjarak hampir satu kilometer itu. Kalian juga bisa mengecek tamu itu juga lewat intercome kan? Jadi jika ada orang asing yang ingin masuk, jangan kalian bukakan." Ujar Yumin.
Semua member terlihat mengangguk mengerti dengan penjelasan Yumin. "Jadi, kalian bisa masuk ke dalam sekarang. Aku ucapkan selamat pada kalian yang berhasil mendapatkan perhatian besar CEO Lee karena hanya kalian yang mendapatkan fasilitas semewah ini." Kata Yumin dengan senyum bangganya.
"Terimakasih noona." Jawab mereka serempak. "Baiklah, karena aku sudah rindu rumah jadi aku menyerahkan semua ini pada kalian. Untuk Taeil dan Doyoung sekali lagi selamat atas pernikahan kalian dan selamat menempuh kisah yang baru." Yeoja manis itu melambai dan masuk ke dalam mobil van nomor satu dan pergi.
"Gomawo." Ujar Taeil dan Doyoung. "Annyeong noona!" ketiga belas orang itu membalas lambaian sang manager dengan semangat.
"Ayo masuk." Taeil membawa barang-barangnya dan Doyoung dan membuka sandi pintunya yang sudah di beritahu Yumin. "Sini berikan Jisung padaku." Ten mengambil alih tubuh lemas Jisung ke dalam gendongannya. Anak itu sepertinya masih sangat mengantuk karena tidurnya tidak terlalu nyaman akibat tubuhnya yang sakit.
Saat pintu utama yang besar itu terbuka, mereka semakin berdecak kagum. Isi dalam mansion ini sudah seperti hotel bintang lima. Mereka dengan ragu masuk lebih dalam. "Apa ini ruang santai?" tanya Taeyong entah pada siapa. Jaehyun yang berada disampingnya hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
"Permisi tuan-tuan, saya adalah kepala Maid disini, panggil saja saya Kim Ahjussi, dan saya membawa denah mansion ini agar kalian lebih mudah mengenali setiap ruangannya." Seorang pria paruh baya dengan seragam Maid menyerahkan segulung kertas pada Johnny.
"Terimakasih, Kim Ahjjusi." Ujar Johnny sambil membungkukkan badannya. "Sama-sama tuan Johnny, kalau begitu saya permisi. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa memanggilku atau maid yang lain. Kami akan bertugas dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Tapi karena kalian baru datang pagi ini, maka saya bertugas untuk menyambut kedatangan tuan-tuan sekalian." Ujar Maid tersebut sebelum membungkukkan badan dan melangkah pergi.
"Tunggu." Kim Ahjjusi berhenti melangkah dan berbalik menatap Johnny. Johnny menggaruk tenggkuknya yang tak gatal. "Apa Ahjjusi sudah mengenal kami?" tanyanya bingung, karena Maid Kinm menyebut namanya sebelum ia memprkenalkan kami. Kim Ahjjusi tersenyum ramah, "Tentu saja Tuan. Dari tuan Taeil hingga tuan muda Jisung saya sudah mengenali kalian." Jawab Maid Kim itu.
Johnny mengangguk dan membiarkan pria paruh baya itu pergi. "Baiklah aku yang akan menjelaskan tata ruangnya." Johnny membuka gulungan kertas yang ternyata cukup lebar. Member lain pun mendudukkan diri mereka di sofa panjang yang muat untuk menampung 8 orang dan sisanya duduk di sofa yang muat untuk 2 orang di sisi sebelah kanan dan kiri sofa panjang.
"Empuk sekali..." seru Mark yang duduk berdua dengan Donghyuck. "Jadi, tata ruang mansion ini... lantai satu, ada ruang santai yang kita tempati ini dan ruang tamu, sebelah timur ada dapur basah dan ruang laundry, 2 kamar mandi, ruang makan, dua garasi, dan aula. Di bagian barat, ada kamar mandi 2 buah, ruang musik, ruang SPA dan sauna, ruang fitness, dan sisi utara ada kolam indoor juga fasilitas mansion bagian outdoor. Untuk lantai 2 ada 13 kamar dan ada satu ruang bermain anak dan ruang santai. Lanati 3 full kamar dan 1 ruang CCTV, dan kita juga punya satu lift untuk digunakan dalam keadaan darurat di sisi timur sebelah ruang tamu." Jelas Johnny panjang lebar.
"Ck, ck, ck, lihat dekorasinya saja ini benar-benar seperti istana, dengan warna putih, emas dan silver." Gumam Doyoung dengan mata menerawang. "Jadi, untuk pembagian kamar, aku serahkan pada kalian semua. Lagi pula semua ukuran kamar sama-sama besar." Lanjut Johnny menatap satu-persatu rekannya.
"Aku dan Doyoung akan menempati kamar nomor 1." Doyoung menatap sang suami yang tadi mengusulkan pada Johnny. Johnny mengangguk mengerti, "Kamar nomor satu ada di bagian timur lantai 2 tepat sebelah kanan tangga sebelah timur." jelas Johnny. Taeil dan Doyoung bangkit, mereka membawa koper mereka dan berjalan lebih dulu menuju kamar.
"Aku dan Yuta menempati kamar nomor 4." Kata Hansol. "Kamar nomor empat ada di bagian timur lantai 2 tepat sebelah kiri tangga." Jawab Johnny. "Baiklah, kami duluan." Pamit Hansol yang langsung menuju kamar mereka diikuti Yuta.
"Aku dan Ten akan menempati kamar nomor 11, yang ada bersebrangan dengan tangga barat lantai 2." Ujar Johnny, dan Ten mengangguk mendengarkan kekasihnya. "Aku dan Donghyuck menempati kamar nomor 5." Kini Mark yang memilih. "Kamarmu bersebrangan dengan kamar Hansol hyung dan Yuta."
Mark mengangguk dan mengajak Donghyuck menuju kamar mereka. "Aku dan Jaemin menempati kamar no 9." – Jeno. Dan kedua anak itu langsung menghilang dari tempatnya
"Kamar kalian di sebelah kamarku dan Ten." Jawab Johnny. "Aku dan Taeyong hyung kamar nomor 8." Kata Jaehyun. "Sebelah kanan tangga barat lantai 2." Jawab Johnny. Jaeyong pun sama, menghilang dan meninggalkan ia, Ten dan Jisung.
"Jadi Jisung bagaimana?" tanya Ten pada sang kekasih. "Dia, pakai kamar sendiri saja. Mungkin kamar nomor 10 di sebelah kiri tangga barat lantai 2." Jawab Johnny. "Baiklah, ayo." Johnny mengambil koper mereka dan Jisung lalu naik ke tangga sebelah barat.
.
.
Kamar no 1
Taeil dan Doyoung memasuki kamar mereka setelah memberi sandi kamar. Mereka tercengang melihat kamar mereka yang sangat luas seperti apartement. Dengan ruangan berdinding putih yang terlihat elegan.
Ranjang Kingsize bersprei putih yang sudah tertata rapi, meja rias, meja nakas dan lampu tidur disamping ranjang, sofa panjang tanpa sandaran di depan ranjang, gorden dan jendela yang di padu dengan warna hijau pastel dan karpet berwarna biru langit yang begitu empuk untuk di pijak.
Sofa kecil dan meja kecil yang terdapat tanaman mungil di atasnya yang berada di dekat jendela yang langsung menampakkan taman di depan mansion. Ada lampu besar juga yang menggantung di atas, fasilitas TV dan AC yang berhadapan dengan ranjang, lemari baju dan etalase buku. Dan beberapa hiasan dinding.
Doyoung dan Taeil berdecak kagum saat mereka masuk ke dalam kamar mandi yang berada di pojok kamar. Kamar mandi pun juga serba putih dan terdapat bath-up, lemari handuk dan kimono, tempat shower, toilet duduk, dan wastafel juga tisu. Yang semua itu tertata dengan baik dan rapi.
"Ini seperti hotel." Gumam Doyoung. Taeil mengangguk dan keduanya pun duduk di sofa depan ranjang. Taeil mengambil benda berbentuk persegi yang berukuran lumayan besar dari dalam kopernya. "Apa itu?" tanya Doyoung penasaran.
Taeil membuka kertas coklat yang membungkus benda itu. doyoung tersenyum ketika melihat sebuah figura besar berisi foto pernikahannya dengan Taeil. Sang namja tampan itu berdiri dan menaiki ranjang empuk itu. "hyung mau menempelkan figura itu di dinding atas ranjang?" tanya Doyoung lagi.
"Ya, bukankah foto ini sangat manis?" jawab Taeil lagi. Doyoung mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Taeil. Keduanya berdecak kagum melihat dinding kamar mereka yang sudah terhias oleh foto pernikahan mereka.
.
.
Kamar no. 4
Tak beda jauh dengan kamar Taeil dan Doyoung, Hansol dan Yuta pun memiliki kamar yang juga sangat elegan. Hanya kamar mereka bercampur dengan warna hitam, putih, abu-abu, dan coklat. Putih yang mendominasi dinding, coklat yang mendominasi ranjang kingsizenya, di sebelah ranjang ada jendela dengan gorden yang berwarna abu-abu dan hitam.
Ada sofa panjang di depan ranjang yang tanpa sandaran berwarna putih cream, dan bantal kecil berwarna hitam dan putih. Juga meja rias di sebelah kanan dinding. TV yang berhadapan dengan ranjang dan dekat pintu masuk dan kamar mandi di pojok ruangan. Juga ada meja kecil dan sofa kecil di tengahnya. AC, lampu yang menggantung berbentuk tabung dan lemarin baju juga hiasan dinding pun ikut menambah ciri khas tersendiri.
"Hansol hyung, aku ingin segera tidur lagi jadinya." Kata Yuta langsung menghampiri kasur mereka. Hansol tersenyum dan hanya menggeleng melihat kelakuan sang kekasih. Hansol pun langsung berjalan lurus dari pintu masuk menuju kamar mandi. Dan kamar mandi pun juga sama, sangat mewah dengan warna hitam putih.
.
.
Kamar no. 5
Mark dan Donghyuck memiliki kamar dengan tentu saja putih yang mendominasi dan di temani beberapa warna abu-abu, orange, dan coklat. Kasur mereka berukuran queensize dan sudah terdapat meja belajar panjang dan dua kursi yang tersedia juga rak buku di atasnya. Lemari baju besar dan meja nakas dan jendela besar yang menghadap taman belakang mansion dan segala macam fasilitas outdoornya. Kamar mandi yang terbilang juga istimewa juga terdapat di dalamnya.
Mereka merebahkan diri di atas ranjang dengan senyum kecil. "Ini akan menjadi sangat menyenangkan." Kata Donghyuck, ia menolehkan kepalanya pada sang kekasih. "Kamu menyukainya?" tanya Mark tanpa menolehkan kepalanya, namun Donghyuck tahu ada senyum kecil yang tergambar di wajah kekasihnya.
"Tentu saja." Donghyuck mengambil sebelah lengan Mark dan di jadikan bantal kepalanya. "Ya! Sudah ada bantal dan tinggal ambil saja. Kenapa masih memakai lenganku, eoh?"
"Tch, memangnya tidak boleh bermanja pada kekasih sendiri?" Donghyuck mendesis sebal. Mark terkekeh dan mencubit pipi tembam sang kekasih. "Just kidding, babe."
"Kau menyebalkan." Donghyuck memunggungi Mark. "Tapi kau suka 'kan?" Mark ikut memeluk kekasih manisnya itu dari belakang. Dan Donghyuck tidak menyangkal hal itu.
.
.
Kamar no. 9
Kamar Jeno dan Jaemin memiliki warna yang berbeda, dengan campuran coklat tua dan hitam. Kamar mereka termasuk yang memiliki ranjang unik. Karena ranjang mereka terletak di atas tempat mereka belajar, kaki ranjang mereka digunakan sebagai rak dan juga etalase untuk menyimpan buku dan barang-barang hiasan lain.
Meja belajar mereka juga lumayan besar dan luas dan cukup untuk dua orang seperti mereka. "Jeno, apa tidak akan jatuh?" tanya Jaemin sambil menatap kasurnya yang berada di atas. Luas sih, tapi kan tetap saja takut, "Kenapa, kamu takut?" tebak Jeno.
Jaemin menggeleng cepat karena ia sempat melihat mata Jeno yang berbinar melihat dekorasi uniknya. "Ani, aku suka." Jawabnya cepat. "Bagus deh, lagi pula ranjang besar dan ada kayu pembatas di setiap sisinya jadi jangan takut jatuh." Ujar Jeno, dia tahu apa yang ditakutkan oleh kekasihnya itu.
"Kau ingin kita membereskan barang-barang langsuna atau melihat-lihat dulu?" tawar Jeno. Jaemin menggeleng, "Kita bereskan barang saja dulu."
Jeno menggangguk dan mulai membereskan barang-berang keduanya, mereka tidak perlu membereskan semua barang, karena semua barang-barang mereka juga sudah di rapikan oleh para Maid.
.
.
Kamar no. 8
Taeyong membulatkan matanya takjub melihat dekorasi kamar mereka. Sangat mewah dan elegan, tentu saja karena warna putih dan emas yang melapisi kamar mereka. Ranjang kingsize yang seperti di istana, jendela mereka yang menghadap taman depan mansion dan gordennya yang juga berwarna emas.
Segala perabotan, seperti meja rias, sofa panjang dan kecil, lemari, lampu nakas dan yang menggantung, laci kecil, semua tak luput dari warna emas dan putih. Bahkan pot dan tanaman hias pun sama. Taeyong berlari kecil menuju kamar mandi yang tak jauh beda. Sungguh menawan dan indah.
Jaehyun yang sudah mulai terbiasa dengan suasana mewah –yah selain karena dia juga orang kaya- pun memilih duduk di atas kasur kingsizenya. Ia terkikik kecil melihat wajah Taeyong yang berseri-seri seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
"Kau suka dengan kamarnya hyung?" tanya Jaehyun pada Taeyong yang sedang bercermin di meja rias. Taeyong membalikan badannya dan berjalan menuju kekasih tampannya. "Aku senang sekali, Jaehyun-ah." Ujarnya dan memeluk sang kekasih.
"Kita semua seperti pengantin baru omong-omong." Ujar Jaehyun. "Ne, tapi kenyataannya hanya Taeil hyung dan Doyoung yang menjadi pengantin baru." Kikik Taeyong. "Jja, Jaehyun-ah. Aku ingin memeriksan dapur." Kata Taeyong yang kini sudah kembali keluar kamar.
Jaehyun mendengus. "Kenapa dia terobsesi sekali dengan dapur?" dumel Jaehyun yang pada akhirnya memilih menyusul Taeyong.
.
.
"Jadi Jisung di kamar ini saja?" tanya Ten pada Johnny saat ia membuka pintu kamar no. 10. "Sementara dulu saja, nanti kalau Jisung sudah bangun, kita tanya lagi. siapa tahu dia ingin pindah." Jawab Johnny sambil meletakkan koper Jisung di dekat lemari baju.
Ten pun meletakkan tubuh mungil Jisung di atas ranjang berkasur single dan dibawah ranjang terdapat laci-laci yang berguna menyimpang barang-barang. Di pojok dekat ranjang ada meja belajar dan media lainnya, juga ada kamar mandi di pojok kiri kamar. Kamarnya cukup luas dan ada jendela yang menuju view taman depan mansion.
"Jisung sepertinya kelelahan makanya jadi sakit seperti itu." Johnny mendudukkan dirinya di samping Ten. Ia menatap wajah tenang adiknya yang tengah tertidur itu. "Sepertinya." Lirih Ten.
"Jja, ke kamar kita. Kita harus melihatnya juga kan." Ajak Johnny sambil menarik koper mereka. Ten mengangguk menurut dan ia berjalan keluar dari kamar Jisung dan menuju kamar mereka yang hanya berjarak lima langkah dari seberang kamar no. 10
Johnny mengetikkan sandi di samping sepasang pintu megah sebuah kamar bernomor urut 11. "Apa sandinya?" tanya Ten penasaran. "Rahasia." Johnny menyeringai menatap sang kekasih manisnya. Ten memincingkan matanya kesal melihat Johnny. "Cih, menyebalkan." Lalu Ten langsung masuk kamar saat pintu itu terbuka.
Kekesalan Ten langsung sirna saat ia melihat sebuah jendela terbuka. Angin berhembus sejuk menerpa tubuh mungilnya, "Wah...lapangannya luas sekali." Puji Ten dengan mata membulat lucu.
Johnny memutar pendangannya kesegala penjuru ruangan yang bernuansa hitam putih. Banyak corak bermotif zebra yang tertera di sana, seperti karpet dan sprei ranjang kingsizenya. Fasilitas mereka juga bagus dengan LED TV 40 inchi yang menempel di dinding. AC, meja rias, sofa besar berwarna putih, lemari besar berwana hitam. Dan kamar mandi yang sudah ia tebak tak jauh beda dengan bentuk kamarnya.
Johnny melangkah ke atas ranjang dan ia merebahkan tubuh tingginya disana. Dia mendesah, "Nyaman sekali, Ten kemarilah." Johnny memanggil Ten sambil menepuk bagian ranjang yang masih kosong.
Ten menghampiri Johnny yang tengah berbaring sambil memeluk guling. "Jadi apa?" tanyanya. "Berbaringlah, memangnya kau tidak lelah apa?" ucap Johnny. "Nanti saja. Aku masih mau lihat yang lain." Jawab Ten dan pergi meninggalkan Johnny yang masih asik berbaring dan enggan untuk meninggalkan kasur yang sudah ia klaim miliknya (dan Ten).
Tak terasa dua bulan sudah kehidupan member rookies berjalan di dalam mansion megah tersebut. Suasana mereka sangat lah ramai dan penuh keceriaan. Mereka sangat bahagia dapat tinggal di mansion megah itu. walau mereka tinggal bersama-sama, tapi kalau sudah masuk kamar masing-masing mereka seperti di rumah masing-masing. kehidupan mereka juga berangsur-angsur teratur, karena hampir semua keperluan mereka terlengkapi di sana. Bepergian ke gedung SM juga tidak perlu menempuh perjalanan terlalu jauh karena lokasinya yang strategis.
Untuk Yuta dan Doyoung yang tengah hamil, mereka tidak di perbolehkan untuk latihan sementara sampai habis melahirkan. Mereka hanya boleh berada dalam mansion untuk beristirahat. Kadang kedua ibu hamil itu bermain bersama atau berkebun di kebun bunga belakang untuk mengisi waktu kosong. Terkadang juga, mereka dapat job tak terduga dari SM, yaitu pemotretan untuk majalah atau artikel ibu hamil, dan tentu saja mereka juga harus melakukan crossdress. Hasilnya pun memuaskan, tapi pemasaran majalah itu hanya untuk Amerika dan Jepang saja, tidak di Korea. Karena SM masih mau merahasiakan hal ini, dan yang tahu kehamilan mereka hanya selingkungan SM saja.
Yuta yang tengah hamil 7 bulan kadang juga membuat Hansol resah sendiri jika harus berpergia meninggalkan sang kekasih, tapi Yuta bilang ia baik-baik saja dan akan menghubungi Hansol jika terjadi sesuatu. Tidak hanya Hansol dan Taeil yang tidak sabar menunggu buah hati mereka, tapi semua member merasa exited dengan kehamilan Yuta dan Doyoung. Mereka tidak sabar akan keramaian dari tangisan suara bayi-bayi itu.
"Hari ini kita akan ke dokter bersama Hansol hyung dan Yuta hyung 'kan?" tanya Doyoung pada Taeil yang tengah sarapan bersama member lain. "Ya, kita akan chek-up bersama." Jawab Taeil mengiyakan permintaan istrinya itu. "Bolehkah kami ikut?" tanya Ten pada Taeil.
"Untuk apa ramai-ramai? Kita hanya akan chek-up, bukan melahirkan." Jawab Yuta sambil memakan sarapannya. "Tapi kan kami ingin melihat calon bayi hyung juga." Jawab Ten lagi, kali ini di angguki sama minirookies lainnya. Mereka menatap Yuta, Hansol, Taeil, dan Doyoung penuh harap.
"Bukannya begitu, Tennie. Tapi akan percuma jika kalian pada akhirnya di suruh menunggu di luar oleh dokter. Kan, ruangan dokter tidak boleh banyak orang saat ia sedang bekerja." Ujar Hansol mencoba memberi pengertian.
Wajah penuh binar Ten berubah murung, ia tetap mau ikut. "Kami akan berjanji, jika kalian tidak ikut sekarang, maka saat Yuta dan Doyoung melahirkan kalian akan kami ajak semuanya." Ucap Taeil yang langsung mendapatkan senyuman dari member lain.
"Baiklah." Jawab Ten dan minirookies.
Tak lama muncul Taeyong dari arah kamar mandi. Wajahnya penuh binar menatap Jaehyun yang tengah makan dengan lahap di samping Ten. "Jaehyun-ah!" seru Taeyong dan mendekap Jaehyun dari belakang. Jaehyun hampir saja tersedak saat Taeyong memberikan serangan seperti itu padanya.
"Hyung ada apa?" tanyanya habis meminum air putihnya. Taeyong tersenyum manis, namun Jaehyun mengernyit melihat wajah Taeyong yang sangat pucat. Ia tahu Taeyong tidak baik-baik saja, walau sang kekasih menampilkan senyum manisnya. Taeyong menyerahkan dua buah benda persegi panjang dengan dua garis merah di setiapnya.
"Aku hamil!"
Byuuurr!
UHUK!
Sontak Johnny yang tengah meminum air putihnya, menyemburkannya lagi hingga menyemprot wajah Mark di hadapannya, dia pun terbatuk-batuk akibat air putih yang sempat tertelan. "Yak! Hyung!" Mark berteriak kesal pada Johnny sambil mengelap wajah tampannya dengan sapu tangan dengan dibantu kekasihnya itu. Member lain juga memliki raut wajah shock yang sama saat Taeyong dengan gembiranya mengatakan kabar itu pada Jaehyun.
Jaehyun sendiri juga kaget, namun ia langsung menyadari eksistensinya lagi. ia berdiri dan memeluk tubuh mungill kekasihnya itu. "Gomawo hyung! Saranghae!" bahkan Jaehyun tidak peduli dengan keberadaan ke sebelas orang lainnya. Ia tetap mengecupi wajah Taeyong penuh cinta.
"Wah wah.. Yuta hyung, Doyoung hyung, dan sekarang Taeyong hyung... setelah ini siapa lagi? Ten hyung?" kata Donghyuck dengan raut wajah takjub. Ten yang mendengar nama di sebut pun menjadi merona, sedang Johnny tersenyum penuh arti pada Donghuyck. "Benar Donghyuck, akan ku pastikan Ten hyungmu menyusul." Ujar Johnny.
Ten mendelik pada sang kekasih dan membuat member lain tertawa. "Tidak. Aku ingin terikat dulu, baru kekasihku dapat memilikiku seutuhnya!" ungkap Ten tegas. "Hohoho...kode tuh John." Hansol menatap Johnny dengan senyum jahilnya.
"Tenang saja, aku akan segera menikahimu tiga tahun lagi." Johnny menatap Ten dengan pandangan menantang. "Akan ku tunggu itu, Tuan Seo." Jawab Ten.
Jaehyun dan Taeyong hanya terkekeh melihat interaksi Johnten. Jaehyun menyuruh Taeyong untuk duduk di pangkuannya dan menyuapi sang kekasih dengan buah-buahan. "Jadi, apa kalian juga ingin ikut dengan kami untuk memeriksa kehamilan?" tawar Yuta pada Jaeyong.
"Boleh." Ujar Jaeyong sambil bertatapan. "Baiklah, ayo berangkat." Ujar Taeil dan bangkit dari duduknya. Doyoung, Yuta, Hansol, dan Jaeyong pun mengikuti Taeil. "Johnny tolong jaga Mansion bersama yang lain." Ujar Hansol pada adik Amerikanya itu.
Taeil mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Doyoung masuk dan duduk di samping Taeil yang menyetir, di bagian Tengah ada Hansol dan Yuta dan Jaeyong di bagian belakang. "Taeyongie, tahu sejak kapan kamu hamil?" tanya Yuta sambil menoleh ke belakang.
"Aku hanya menebaknya Yuta, karena aku telat 3 bulan." Jawab Taeyong sambil tersenyum manis sambil menyender pada bahu Jaehyun. Jaehyun tersenyum dan mengelus rambut Taeyong. "So cute..." imbuh Yuta melihat interaksi keduanya.
"Yuta hyung sendiri apa sudah tahu jenis kelamin bayi kalian?" tanya Jaehyun. Yuta menggeleng, "Tapi kata dokter usia tujuh bulan sudah bisa dilihat dengan jelas." Jawab Hansol sambil mengecup perut besar Yuta.
"Kalian ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Doyoung yang kini ikut mengobrol. "Kami tidak memilih, kami hanya akan menerima apa yang Tuhan berikan pada kami." Jawab Hansol dan diangguki Yuta.
"Kalau kalian sendiri bagaimana?" tanya Taeyong pada Doyoung. "Aku juga sama seperti Hansol hyung dan Yuta hyung, tapi kalau Taeil hyung aku tidak tahu. Hyung ingin laki-laki atau perempuan?" tanya Doyoung pada Taeil yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan membernya.
"Kalau bisa sih perempuan, tapi kalau di kasihnya laki-laki juga tidak apa-apa." Jawab Taeil kalem. Mereka semua mengangguk mengerti sedangkan Doyoung hanya mengelus perutnya dengan penuh sayang.
Mereka berenam sudah sampai di rumah sakit Nasional Seoul dan segera menuju lantai 2 dimana ruang khusus ibu dan anak. Hansol dan Jaehyun mengambil nomor antrian, sedangkan Jaehyun mendaftarkan Taeyong dan mengambil nomor antrian.
Taeyong, Yuta, dan Doyoung duduk di kursi tunggu sambil mengobrol sesekali hingga Yuta akhirnya di panggil untuk di periksa.
"Aku duluan, ok." Pamit Yuta pada Jaeyong dan Ilyoung sebelum masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter. Hansol dan Yuta membungkuk pada sang dokter wanita yang masih terlihat muda itu. "Annyeonghaseyo, Hansol-ssi dan Yuta-ssi..silahkan duduk." Ramah dokter itu.
"Annyeonghaseyo dokter Song." Jawab keduanya lalu duduk di hadapan dokter itu. "Bagaimana kabar kalian dan si kecil?" tanya sang dokter basa-basi. "Kami baik dokter dan baby juga semakin aktif." Jawab Yuta dengan senyum manisnya.
"Itu perkembangan yang sangat bagus, senang mendengarnya." Jawab doker Song. "Yuta-ssi bisa berbaring di kasur..." persilah sang dokter pada Yuta yang akan langsung melakukan USG lagi. Yuta berbaring di kasur putih itu dengan Hansol yang berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya.
Dokter Song memeriksa detak jantung Yuta dan calon bayinya. "Detak jantungnya normal, sekarang saya akan memeriksa tekanan darah Yuta-ssi." Kata Dokter Song.
"Tekanan darah anda juga normal, kemungkinan anda bisa melakukan persalinan dengan normal jika ini dipertahankan." Ujar dokter Song lagi. Yuta mengangguk mengerti dan ia menatap Hansol dengan senyum kecilnya. Hansol memandang Yuta teduh, ia mengeratkan genggamannya pada tangan sang kekasih.
"Sekarang saya akan melakukan USG, jadi saya izin membuka baju Yuta-ssi sebatas perut." Yuta mengangguk dan membiarkan dokter Song membuka perutnya. Perut Yuta yang sudah membuncit itu pun terekspos bebas.
Dokter itu mengoleskan jel dingin di atas perut Yuta dan menempelkan tranduser di atas perut Yuta. Tak lama terlihat sebuah gambar bayi meringkuk di sebuah monitor di hadapan mereka. Hansol dan Yuta tersenyum dengan hati yang berdesir.
"Nah, dilihat dari usia kandungannya yang memasuki 28 bulan atau pas 7 bulan, bayi kalian sudah terbilang sempurna dengan segala organ tubuh luar maupun dalamnya. Beratnya 1,3 kg dan panjang kira-kira 30 CM. Yuta-ssi juga akan mengalami nyeri punggung dan sering buang air kecil seiring bertambahnya ukuran bayi kalian dan pergerakannya yang belum teratur. Posisi bayi kalian yang sudah sempurna atau dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah sudah menunjukkan bayi kalian sudah siap untuk lahir dalam 2 bulan ke depan. Jadi kalian jangan khawatir karena bayi kalian secara keseluruhan sangat sehat dan normal." Jelas dokter Song dengan raut wajah tenang.
Hansol dan Yuta mengangguk mengerti, "Dokter apa kami bisa mengetahui jenis kelamin bayi kami?" tanya Hansol. "Tentu saja." Jawab sang dokter lagi. "Nah lihatlah, kelamin bayi kalian sudah jelas. Selamat calon bayi kalian laki-laki." Ujar Dokter Song sambil menjabat tangan Hansol dan Yuta.
Hansol tersenyum dan mencium kening Yuta penuh cinta. Entah bagaimana lagi dia harus mengungkapkan rasa bahagianya pada sang kekasih. "Terimakasih, aku mencintaimu." ucap Hansol tulus. Yuta mengangguk mengerti dengan mata penuh binar, "Aku juga mencintaimu." jawab Yuta.
Keduanya berterimakasih dan pamit sesudah dokter memeriksa dan memberikan pantangan dan saran yang harus Yuta lakukan sampai 2 bulan ke depan. Jaeyong dan Ilyoung menyambut mereka dengan senyuman. "Bagaimana hasilnya?" tanya Doyoung penasaran.
"Bayi kami baik-baik saja dan tumbuh dengan baik di dalam. Dan bayi kami berjenis kelamin laki-laki." Jawab Yuta semangat. "Syukurlah." Jawab keempat orang lainnya dengan raut wajah bahagia. "Wah, jadilah jagoan yang kuat untuk Eomma dan Appamu, ne." Ujar Jaehyun sambil mengelus kecil permukaan perut Yuta.
"Ne, Samcheonie..." jawab Hansol dengan aksen anak kecil yang membuat kelima orang lainnya tertawa. "Baiklah, sepertinya kami juga harus segera masuk." Kata Taeil dan menggenggam tangan Doyoung. "Ya, kami akan menunggu disini." Jawab Taeyong.
Kini giliran Taeil dan Doyoung yang masuk ke dalam ke dalam ruangan yang sama. Dokter Song juga menyambut baik kedatangan Taeil dan Doyoung.
"Ya! Kalian jangan memberantaki ruangan dong! Gak kasian sama maid yang kerja apa?" kesal Ten saat melihat banyak sampah snack makanan dan minuman berserakan di atas karpet berbulu halus itu. Belum lagi mereka(minirookies) yang tiduran di sekelilingnya dengan TV yang menyala.
Ten merutuki Johnny yang malah asik sendiri di kamarnya. Padahal kan ada member rookies yang bisa dia ajak main, dari pada mereka juga bermalas-malasan seperti ini. "Ya! Apa tidak ada yang mendengarkanku, eoh?" Ten menggeram melihat member kelima anak kecil itu yang malah menguap.
"Ne hyung, kami akan bereskan nanti." balas Donghyuck pada Ten dengan malas. Ten mendesis sebal melihat kelima anak itu yang susah sekali menuruti perkataannya. Tak lama mata sipitnya menangkap tubuh tinggi kekasihnya yang turun dari tangga sebelah timur atau kanan.
"Anak-anak ada yang mau bermain basket?" tawar Johnny pada ke lima anak tersebut. Sontak ke lima anak itu menegakkan tubuh mereka dan mengangguk, "Kajja hyung." Ujar keduanya dan menyusul Johnny yang sudah lebih dulu ke lapangan belakang.
Kening Ten berkedut kesal melihat ke lima anak curut itu yang malah pergi. "YA! KALIAN BERESKAN DULU KEKACAUAN YANG KALIAN LAKUKAN!" Ten mengaum seperti singa betina saat semua anak itu tidak memperdulikannya. "Yak! Dasar anak kurang ajar!" Gerutu Ten dengan wajah memerah kesal. Ini dia yang dia tidak sukai jika harus tinggal di rumah mewah tapi anak-anaknya yang seperti ini.
Mungkin kalau Taeyong yang ada disini sekarang akan lebih parah. Dia tidak akan mau memberi jatah ke lima anak itu makan selama seminggu. Ten membersihkan semua sampah hasil perbuatan minirookies itu di bantu beberapa Maid.
Saat sudah rapi, ia melangkahkan kakinya menuju lapangan dan melihat permainan kekasihnya bersama minirookies. Ia tersenyum kecil melihat permainan mereka yang begitu semangat. Mark dan Jeno yang merupakan pemain basket inti di sekolah tentu saja dapat menguasai permainan begitu mudah, sedangkan Donghyuck, Jaemin, dan Jisung tetap bersemangat bermain meski kadang salah dalam melakukannya. Kalau Johnny jangan di tanya, strateginya sudah bagus di tambah tinggi badannya yang membuatnya bisa mengalahkan minirookies itu dengan skor telak.
Ten mengernyitkan badannya saat Johnny menghentikan permainan dan menatapnya. Ten yang di tatap seintens itu hanya bisa menahan debaran jantungnya yang menggila. Keadaan tubuh Johnny yang berkeringat membuatnya malu karena postur tubuh namja tampan itu begitu bagus di balik kaos hitamnya.
"Ten, ayo ikut!" panggil Johnny, Ten mengangguk dan menghampiri kekasihnya dan ke lima orang lainnya. Namun, baru lima langkah Ten berjalan, rintik-rintik air yang begitu deras jatuh ke tanah. Ten berbalik dan mengurungkan niatnya untuk ikut bermain.
GREP!
Sebuah pelukan telak yang di dapatkannya hingga wajahnya menubruk dada seseorang membuatnya sedikit panik. "Johnny! Lepaskan! Ini hujan." Pekik Ten. Minirookies bersiul-siul di tengah-tengah lapangan melihat Johnny dan Ten berpelukan.
Hal itu juga yang membuat wajah Ten memerah malu. "Ini memang hujan, siapa bilang salju?" jawab Johnny tanpa ada niatan untuk melepaskan pelukan mereka. "Johnny aku tidak ingin sakit!" ujar Ten lagi sambil memberontak.
"Tidak ada penolakan Ten, ayo ikut bermain dengan kami!" dan Johnny kembali menarik Ten ke tengah lapangan untuk bergabung bersama yang lain. Ten yang sudah di tarik sekuat itu oleh Johnny akhirnya memilih pasrah.
Mereka berkahir main hujan-hujanan dengan saling mengejar dengan bola. Johnny melempar bola plastik pada Ten hingga kini Ten yang menyerang mereka. Ten mendengus kesal, ia mengusap wajahnya yang terguyur hujan dan menatap satu-persatu keenam orang yang mengelilinginya seakan meledeknya.
Ten kali ini mengincar Jeno yang bediri tak terlalu jauh dari jaraknya, namun perkiraannya melesat, bolanya meluncur jauh dan tak mengenai siapapun. "Ten hyung payah! Wuuuu!" ledek Jaemin dan Donghyuck pada Ten.
Ten mendengus sebal dan kini ia kembali melempar bolanya dengan asal. "Yeees! Lihat siapa yang payah sekarang wle?!" Ten memeletkan lidahnya saat bola itu menyentuh tubuh Donghyuck yang tadi juga meledeknya. Donghyuck mendelik dan kini ia menyerang mereka balik. Mereka tertawa dan saling berbagi canda di bawah guyuran derasnya hujan. Dan entah sampai kapan mereka akan terus bertahan di bawah air hujan yang begitu dingin.
.
Jaehyun menggenggam tangan namja manis disampignya dalam diam. Bibirnya terlalu kelu untuk memulai pembicaraan pada orang terkasihnya ini. Dia hanya mampu menangis dalam hati melihat bagaimana mata yang tadi begitu berbinar mengetahui kehamilannya kini kembali meredup. Hanya pandangan kosong yang ia berikan pada udara kosong di dahapannya. Semua orang yang berada dalam mobil itu juga terdiam tak berani berkata setelah mendengar cerita si namja manis saat ia di periksa oleh sang dokter tadi.
Fkashback
Taeyong dan Jaehyun masuk ke dalam ruangan dokter Song dengan jantung yang berdegup kencang karena tak sabar. Mereka melihat ada seorang yeoja cantik memakai jas putih dengan senyum ramahnya pada mereka. Jaehyun dan Taeyong membalas senyuman manis itu.
"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah karena ini merupakan pertamakalinya untuk mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan kandungan. Berbeda saat beberapa bulan lalu yang langsung masuk UGD, ok tolong jangan ingatkan itu lagi padanya apalagi di hari bahagianya.
"Annyeonghaseyo, saya ingin memeriksakan kehamilan kekasih saya, dok." Ucap Jaehyun semangat dan duduk bersama Taeyong di kursi depan meja kerja sang dokter."Oh, iya Tuan. Tapi sebelumnya boleh saya tahu nama kalian siapa?" tanya Dokter itu ramah. "Nama saya Jung Jaehyun dan kekasih saya Lee Taeyong." Jawab Jaehyun.
Dokter Song mengangguk mengerti, "Usia Taeyong-ssi berapa?" tanyanya lagi. Taeyong menatap malu pada sang dokter karena ia merasa masih di bawah umur. "Usia saya baru 20 tahun, dok." Dokter itu hanya tersenyum manis seolah ia sudah terbiasa dengan anak yang dibawah umur pergi memeriksakan kandungannya bersama pasangannya.
"Jadi sudah berapa usia kandungannya?" tanya Dokter Song lagi. "Kemungkinan sembilan minggu dokter." Jawab Taeyong. "Baiklah, Taeyong-ssi bisa berbaring di kasur." Suruh sang Dokter.
Taeyong menurut berbaring di kasur dan di temani Jaehyun berdiri di sampingnya dan dokter itu bertanya sambil memeriksa detak jantungnya. "Taeyong-ssi, apa anda mengalami morning sick? Atau ada keluhan?" Taeyong menggeleng, ia memang tidak mengalami morning sick.
Dokter itu menatap Taeyong dengan raut wajah yang sulit di artikan. "Dokter, apa ada masalah?" tanya Taeyong khawatir. Dokter itu mengusap tangan Taeyong yang saling bertaut. "Sebelumnya...apa Taeyong-ssi pernah hamil dan mengalami keguguran?" tanya Dokter itu hati-hati.
Taeyong sempat terdiam beberapa detik sebelum berani mengangguk. Jaehyun yang melihatnya ikut khawatir, ia mewanti-wanti apa yang akan di katakan dokter Song selanjutnya. Dokter Song menghela nafas sebelum kembali berujar.
"Kehamilan kedua Taeyong-ssi ini..sungguh sangat berbahaya." Ujarnya merasa tak enak hati, namun sebagai dokter dia juga tidak mau memberikan harapan palsu dengan mengatakan kalau calon bayi mereka baik-baik saja padahal perkembangannya terancam.
"Maksudnya dokter apa?" Jaehyun bertanya tak mengerti dengan cemas dan tak jauh berbeda dengan Taeyong. "Berawal dari Taeyong-ssi yang tak mengalami morning sick. Sebenarnya Morning sick itu bertanda baik karena di dalam tubuh sedang mempersiapkan segalanya untuk menerima janin yang akan tumbuh menjadi bayi, dan jika anda tidak mengalaminya itu artinya tubuh anda tidak mempersiapkan apa-apa dan tentu saja sangat beresiko untuk ibu dan calon bayi. Dan suatu saat bisa saja tubuh Taeyong-sii melakukan penolakan terhadap bayinya." Jelas sang Dokter.
Taeyong merasakan seluruh sendinya melemas mendengar perkataan doker Song. Ia hanya menatap Jaehyun penuh ketakutan akan kehilangan lagi. Ia tidak bisa menerima itu semua.
"Dan setelah saya memeriksa calon bayi di dalam tadi, posisinya juga tidak naik, dia berada dibawah pusar Taeyong-ssi dan tentu saja itu mengancam keberadaannya. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kelainan pada kromosom atau inveksi dan kelelahan." Lanjut doker Song dengan raut wajah tak tega pada pasangan yang memandang kosong padanya kini.
"Adakah cara yang membuat calon bayi kami bisa bertahan, dok?" tanya Taeyong serak dengan mata memerah menahan buliran air mata yang bisa turun kapan saja. Jaehyun juga menatap dokter Song penuh harap.
Dokter Song tersenyum kecil, "Pasti ada. Untuk itu Taeyong-ssi tidak boleh melakukan aktifitas berat dan setiap pagi lakukan olahraga ringan, hindari stress dan jaga mental dan tekanan darah, konsumsi buah-buahan dan sayuran dan selalu menghirup udara pagi yang sehat. Untuk posisi janin anda, Taeyong-ssi harus pergi ketempat urut atau SPA agar sang calon bayi dapat berangsur-angsur naik ke posisi atas." Jelas sang dokter sambil menguatkan kedua orang dihadapannya ini.
"Tapi...kemungkinannya hanya kecil...aku sengaja memberitahukan semua ini...agar kalian tidak merasa dibohongi, kalian sudah melakukan semua saranku, tapi suatu saat Tuhan berencana lain. Jadi satu-satunya yang paling ampuh hanya lah berdoa pada Tuhan." Dokter Song tersenyum miris.
Jaehyun dan Taeyong hanya menatap kosong ke depan, mereka takut tidak bisa lagi menjaga pemberian Tuhan. Kenapa rasanya sangat susah untuk memiliki satu dari keajaiban Tuhan itu? mereka menangis dalam hati.
Jaehyun mendekatkan wajahnya pada wajah manis kekasihnya. "Kau harus kuat hyung...karena apapun yang terjadi...aku akan selalu berada disampingmu..." perkataan Jaehyun seakan menghipnotisnya. Ia menoleh dan menadapati kekasihnya yang begitu tegar walau ia tahu Jaehyun juga merasakan hal yang sama dengannya...bahkan mungkin lebih.
Falshback Off
"Jadi...Jaehyun-ah, Taeyong-ah, kalian ingin kami antar pulang langsung atau mau menunggu Hansol dan Yuta membeli perlengkapan bayi?" tanya Taeil hati-hati, ia takut salah bicara sekarang. kedua orang itu terbangun dari lamunan masing-masing.
Mata bulat Taeyong memandang sekilas pada Taeil. "Aku dan Jaehyun menunggu kalian saja." Jawab Taeyong pada akhirnya. Ia belum siap pulang ke mansion, ia takut justru pulang ke mansion akan menambah beban pikirannya.
"Tapi kalian tinggal disini berdua tidak apa 'kan?" tanya Hansol kini. "Gwaenchana." Jawab Taeyoong lagi. Jaehyun hanya memandang Taeyong dengan perasaan sesak. "Hyung..." panggilan lirih Taeyong pada Hansol menghentikan pergerakan namja tampan itu yang baru saja membuka payung.
"Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Hansol. Taeyong menatap Hansol dan Yuta penuh harap. "Bolehkah...aku yang membuat dekorasi kamar untuk anak kalian?" Jaehyun menatap Taeyong dengan wajah terkejut.
Hansol dan Yuta saling menatap dan setelahnya mereka mengangguk, mereka memberikan kewenangan bagi Taeyong untuk mendekorasi kamar calon anak mereka. Mereka juga mengerti, mungkin Taeyong ingin melupakan kesedihannya dengan cara ini.
"Gomawoyo hyung..." jawab Taeyong dengan senyum kecilnya. Hansol kembali mengangguk dan membawa Yuta ke dalam toko perlengakapan bayi itu bersama Taeil dan Doyoung. Mereka harus berhati-hati karena hujan yang lumayan deras bisa membuat jalan menjadi lebih licin.
"Jaehyunie...bantu aku memilih dekorasinya ya..." kini Taeyong memandang Jaehyun dengan senyum kecilnya. Jaehyun mengangguk dan menatap Taeyong dengan hangat. "Ayo kita cari dekorasi yang bagus untuk calon jagoan." Kata Jaehyun dengan nada ceria. Taeyong mengangguk semangat dan membuka Ipad-nya. "Kita akan memilih warna biru muda atau biru langit kalau begitu." Ujar Taeyong lagi dan Jaehyun hanya tesenyum memperhatikan bagaimana Taeyong yang berusaha baik-baik saja.
.
.
Doyoung dan Yuta berjalan menuju rak-rak pakaian bayi. Doyoung tidak membeli tapi ia menemani Yuta saja karena ia belum tahu jenis kelamin calon bayinya. Ia juga ingin melihat-lihat apa saja yang kira-kira bagus untuk anaknya itu. Hansol dan Taeil sendiripun di belakang mengawasi mereka.
"Hansol hyung, kita pilih warna apa?" tanya Yuta. "Warna merah, hijau, biru, dan kuning yang pastinya cocok untuk bayi laki-laki Yuta." Jawab Hansol. Yuta mengangguk, lalu ia mengambil beberapa set baju lengan panjang, baju lengan pendek, singlet atau baju tanpa lengan, celana panjang, celana pendek, kain bedong, kaus kaki dan sarung tangan dengan empat warna berbeda sesuai dengan saran Hansol tadi. Namja manis itu juga meletakkannya di trolly yang di dorong oleh sang kekasih.
"Kau tidak membeli diaper?" tanya Taeil. "Ah, apa itu juga dibutuhkan? Tapi aku takut kulitnya akan lecet jika memakai itu nanti." Jawab Yuta. "Itu di butuhkan, dan kalau kau sering-sering menggantinya juga tidak akan melecetkan kulit bayimu." Saran Doyoung. Yuta mengangguk mengerti dan ia mengambil dua pack diaper dan dua lusin popok bayi.
"Hyung, sekarang kau yang pilih perlengkapan tidur bayinya." Suruh Yuta pada Hansol. Hansol mengangguk dan melihat-lihat di sekitar etalase toko itu. "Ah, selimut berwarna biru yang berbahan flanel itu 2, satu set kasur lantai yang sudah bersama bantal guling itu yang berwarna biru langit dan ada gambar beruangnya, perlak, dan kelambu berwarna biru." Ujar Hansol pada Yuta.
Yuta memanggil salah satu pegawai untuk mengambilkan barang yang di pesan oleh Hansol. "Itu sudah ada satu pack perlengkapan mandi bayi berwarna biru. Ada washlap, handuk, bak mandi, sabun shampo." Taeil menunjuk salah satu etalase itu. "Boleh-boleh." Ujar Yuta dan pegawai itu mengambilkan barang-barang mereka.
Yuta juga mengambil perlengkapan perawatan bayi yang berisi baby oil, minyak telon, bedak tabur, baby lotion, baby hair oil, tissue basah, cotton buds, kain kasa, kapas, tissue kering, gunting kuku, dan alkohol. Doyoung mengambil perlengkapan berpergian yang di tunjuk Yuta. Yaitu, tas yang berukuran sedang untuk baju bayi dan gendongan silang. Ia juga mengambil beberapa perawatan kesehatan seperti thermometer, kasa, alkohol 70%, dan betadine.
"Hyung, aku benar-benar tidak tega melihat raut wajah tertekan Taeyong hyung tadi. Dia pasti benar-benar tertekan mendengar kabar kehamilannya yang terancam gagal." Kata Doyoung dengan raut wajah sedih. Yuta mengangguk paham, "Aku juga sama, rasanya mereka itu susah sekali ingin memiliki anak." Jawab namja manis itu.
"Hyung kita butuh botol susu juga 'kan?" tanya Yuta saat ia melihat deretan botol susu di etalase. "Ya, beli saja semuanya sekalian, biar gak bolak-balik." Jawab Hansol. Yuta mengambil peralatan makan bayi sebelum mereka berjalan ke kasir untuk membayar.
"Yah, tang dapat kita lakukan saat ini juga hanya mensupportnya saja kan? Dan sudah pasti harus mendoakan keselamatan mereka juga." Lanjut Yuta. Doyoung menganggukkan kepalanya mengerti.
Ya. Yang dapat mereka lakukan hanya lah mendoakan keselamatan Taeyong dan calon bayinya...
"Terimakasih Taeil hyung, Doyoung karena sudah membantu kami." Ucap Yuta pada pasangan suami istri di belakangnya yang sudah membantun mereka. "Sama-sama Yuta-ya." Jawab Taeil dengan senyum ikhlasnya.
Taeil juga membantu Hansol membawa barang belanja untuk calon bayinya menuju mobil dengan di payungi oleh pasangan masing-masing karena hujan yang masih lebat. Taeil membuka garasi mobilnya dan memasukkan semua belanjaan sahabatnya itu ke sana.
"Wah, banyak sekali." Ujar Taeyong dan Jaehyun melihat ke belakang mereka yang penuh dengan barang-barang bayi. "Kalian sudah sangat siap menjadi orangtua." Ujar Jaehyun kagum. Hansol, Yuta, Doyoung, dan Taeil yang baru memasuki mobil tersenyum pada pasangan itu. "Siap tidak siap sih sebenarnya." Jawab Hansol tersenyum pada keduanya.
"Jadi bagaimana dengan dekorasi kamar calon anak kami?" tanya Yuta penasaran. Keduanya tersenyum misterius. "Sudah selesai, pokoknya kalian tidak boleh tahu dulu sampai Yuta melahirkan." Jawab Taeyong sambil mendekap IPadnya posesif.
Yuta mendengus melihat Taeyong. "Ya, baiklah-baiklah...tapi kalau sampai jelek, awas saja kalian." Ancam Yuta pura-pura. "Tenang saja pilihan Lee Taeyong dan Jung Jaehyun tidak mungkin salah." Jawab Jaehyun percaya diri dan ditanggapi Yuta dengan senyum mengejek yang menyebalkan bagi mereka.
Taeil dan Doyoung hanya tersenyum melihat interaksi orang-orang yang duduk di belakang mereka. Mereka juga merasa lega saat melihat Taeyong baik-baik saja... ya setidaknya seperti itu. Taeil menggenggam tangan Doyoung sekilas sebelum ia kembali mengendalikan gigi mobil. Ia memberikan senyum teduhnya pada sang istri dan berusaha mengatakan kalau mereka akan baik-baik saja.
.
Saat sampai di mansion mereka langsung di hadapi dengan ketujuh orang lain yang sengaja tinggal di sana. Mereka semua terlihat berkumpul di ruang santai lantai bawah dengan dan rambut mereka terlihat basah dan mereka menggenggam cangkir yang berisi coklat panas di tangan mereka. Mereka memakai selimut untuk menambah kehangatan.
"Kalian habis berhujan-hujanan, huh?" tanya Doyoung sambil duduk di sofa empuk itu dan diikuti Yuta disampingnya. Taeil dan Hansol memindahkan barang-barang perlengkapan bayi di kamar Yusol dan Jaeyong yang langsung pergi menuju kamar mereka.
Johnny mengangguk mewakili yang lainnya. "Jangan sampai kalian sakit." Ujar Yuta. "Hm... hyung sudah membeli perlengkapan bayi?" tanya Ten melirik kesibukan Hansol dan Taeil. "Ya, sudah semua." Jawab Yuta.
"Lalu bagaimana dengan dedek bayinya? Tadi hyung pergi memeriksa kandungan juga 'kan?" tanya Jaemin pada kedua hyungnya itu. Yuta dan Doyoung mengangguk membenarkan. "Ya, bayi kami sehat dan bayi Yuta hyung adalah laki-laki." Jawab Doyoung sambil tersenyum.
"Whoa! Kita akan punya jagoan kecil. Lalu bayi Doyoung hyung bagaimana?" tanya Donghyuck penasaran. "Bayi kami sebenarnya sudah bisa dilihat jenis kelaminnya, namun tadi saat USG bayi kami menutupinya dan ya... jadi tak terlihat. Kami akan memeriksanya lagi saat usia tujuh bulan nanti." Doyoung mengelus perutnya dengan perasaan tak sabar.
"Lalu bagaimana dengan Taeyong hyung?" pertanyaan yang di lontarkan Jisung, sontak membuat Yuta dan Doyoung terdiam. Mereka terlalu miris untuk menceritakan tentang kandungan Taeyong pada adik-adiknya.
"Ini coklat panas untuk kalian." Taeil dan Hansol sama-sama memberikan satu cangkir coklat panas pada Yuta dan Doyoung. Mereka yang juga sempat mendengar pertanyaan Jisung tadi, memilih untuk menjelakannya. Karena ia takut adik-adiknya itu malah bertanya langsung pada Jaehyun atau Taeyong.
"Dokter mengatakan kandungan Taeyong tidak dapat bertahan. Karena tubuh Taeyong tidak mempersiapkan apapun dan posisi kandungannya berada di bawah pusar dan tidak naik ke atas. Posisi itu sangat berbahaya untuk keselamatan keduanya." Taeil mendesah lirih melihat semua adiknya kini terdiam dengan pandangan kosong.
"Jangan pernah membahas hal ini dengan Taeyong atau Jaehyun karena mereka pasti akan tertekan. Dan yang dapat kita lakukan untuk mereka hanya lah memperhatikan Taeyong dan menjaga mereka, membuatnya tidak stress dan membuatnya terus tersenyum. Arrachi?" Taeil memberikan sugesti pada adik-adiknya. Member rookies menatap sang tertua dengan pandangan mengerti, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
Sampai di dalam kamar, semua topeng dan pertahanan si namja manis itu runtuh. Ia memeluk kekasih tampannya itu dengan erat. Menyembunyikan wajah manisnya yang dipenuhi air mata di dada bidang sang kekasih. Isakan pilu terdengar dari ruangan kedap suara itu. Dia sengaja menyembunyikan tangisannya, dia hanya ingin kekasihnya yang melihat bagaimana putus asanya dia.
"Jaehyun...hiks...Jaehyun..."
Hanya namanya yang disebut di sela-sela isak tangis itu. Jaehyun pun sama, dia menangis di balik punggung sempit itu. Namun dia menahan isakannya, dia tidak mau isakannya semakin mengundang emosi sang kekasih hati. Karena ia tahu, mereka sama-sama terluka dan hancur dari dalam.
Tangan Jaehyun mempererat pelukannya di pinggang Taeyong dan ia tidak peduli bajunya akan basah karena airmata sang kekasih. Jaehyun menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di hatinya mendengar isakan sang kekasih yang begitu menyiksanya.
"Jaehyun...hiks...wae...hiks...apa aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu..hiks...?" Taeyong meracau dalam tangisnya. Hatinya sesak dan ia merasa sangat lemah sekarang. ia ketakutan akan kejadian yang akan terulang kembali. Atau suatu kejadian yang lebih parah dari waktu dulu.
Taeyong tidak ingin kehilangan lagi. Hatinya tidak rela dan tidak akan pernah siap. Ia tidak siap untuk kembali terpuruk dan merasa bersalah. Batinnya berontak dan berteriak di dalam tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah isakan yang terdengar begitu pedih di telinga Jaehyun.
"Sssshhh...uljima...kalian akan baik-baik saja, hyung. Tolong percaya padaku..." Jaehyun berbisik di telinga sang kekasih dengan suara yang begetar. Ia berusaha menekan rasa sakit hatinya yang justru semakin menggerogoti rongga dadanya. Jaehyun menyanyikan lulaby di Taeyong, dan berharap kekasihnya itu tertidur.
Bagai mantra, isakan Taeyong semakin lama melirih. Taeyong merasakan matanya semakin memberat seiring dengan rasa sakit yang mendera hatinya mulai menguasai tubuhnya. Suara merdu Jaehyun di telinganya membuatnya terlena. Dan di balik suara merdu itu, Taeyong tahu ada rasa keputus asaan yang tersirat di dalamnya.
Tuhan, ku mohon... berikan aku kesempatan untuk kali ini...
Tubuh Taeyong ambruk dalam dekapan hangat Jaehyun. Jaehyun membiarkan dirinya terjatuh di atas karpet kamarnya dengan tubuh lemah Taeyong di pelukannya. Dia tidak akan menahannya lagi, isakan pilu Taeyong berganti dengan isakan perihnya. Ia tidak peduli jika dia yang harusnya lebih kuat dari Taeyong, tapi faktanya ia dan kekasihnya itu sama. Sama-sama terluka dan hancur.
Ia tidak siap untuk kehilangannya lagi. Dia ingin menjadi orang yang sempurna untuk kekasihnya. Ia ingin melihat kekasihnya itu tersenyum, tapi semua itu sangat susah untuk ia dapatkan. Jaehyun tidak lagi menahan isakannya, dan ia menangis sejadi-jadinya. Memberitahu saksi bisu disekelilingnya...bahwa ia sedang terluka sekarang. Jaehyun menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan keputus asaannya.
"Tuhan...Kumohon untuk kali ini saja...berikan kami kesempatan..."
TBC
HUWAAA APA INI?! HALO PARA READERS PLEASE JANGAN PUKUL AKU KARENA INI NGAYAL BANGET SUMPAH/capslock jebol/ngumpetdipelukanJohnny/dibakarTen. gila mansion/ hotel 30 kamar:V. aku gak tahu hrs ngomong apa-apa lagi sumpah. dan yang nungguin Yuta dan Doyoung lahiran aku hrp kalian bs sabar hehe/piece/
gomawo buat yang udh nungguin ni FF, buat yg ngereview, fav, foll, and sider. aku harap chap ini gk ngecewain.
salam Johntenny:)
