THE SILVER KINGDOM

.

.

.

.

Cast : kai x luhan and other

.

.

.

.

Genre : fantasy, adventure, romance, and friendship

.

.

.

.

Warning : genderswitch, crack pair,typo, kalimat tak beraturan dan abal-abal

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.


Luhan tak benci menjadi pusat perhatian, seumur hidup dia telah menjadi perhatian orang-orang di manapun dia memijak, dan selama itu pula dia selalu mampu mengabaikan rasa tak nyaman dari tatapan orang-orang dan menjadi terbiasa. Namun perhatian yang dia peroleh di tempat ini berbeda, semua mata yang menatapnya terasa memuakkan, mereka tersenyum dan menyerukan nama luhan namun di telinganya terdengar seperti suara lebah yang mengejek.

Berita tentang pemenang pertarungan koloseum akan meninggalakan istana menyebar secepat angin, orang-orang saling mengajak dan berombongan ke depan pagar istana.

Luhan pikir Keramaian ini tak pantas, mereka seharusnya mengingat berapa banyak nyawa yang baru saja melayang di koloseum itu, mereka seharusnya berada di rumah dan berkabung, tak perlu menangis sesegukan, hanya mendoakan mereka saja cukup, dan bukannya berada di sini menyorakkan sesuatu yang tak perlu.

Kejadian di koloseum itu seperti pembantaian yang masih membuat luhan mual setiap kali dia mengingat, namun mereka melupakannya semudah membalik telapak tangan seolah nyawa siapapun tak pernah berarti.

Dan mereka terlihat senang.

Luhan menyeret kakinya lebih cepat untuk keluar dari istana, jika dia beranda di sini lebih lama, dia yakin, emosi akan membuatnya berteriak dan mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya.

Di depan telah tersedia Kereta kuda mewah, lengkap dengan delapan penjaga bersenjata dan satu kusir.

Luhan berdecak, dia ingat telah menolak perlakuan ini tepat di depan hidung sang ratu.

"kita tak bisa melakukan apapun, jika kita tak membawanya, mereka takkan membiarkan kita pergi" chanyeol dan kris meletakkan benda-benda pemberian istana ke dalam kereta, semuanya sudah luhan tolak sebelumnya, dia tak ingin menerima apapun, karena itu terkesan dia menjual nyawa junsu dan yang lainnya dengan emas dan perhiasan.

Namun ratu victoria selalu tau cara membuatnya kesal.

dia bahkan mengantarnya hingga keluar istana dengan senyuman palsunya. Luhan tak berniat menoleh dan menyapa sedikitpun sebelum naik mendaki kereta. Dan jongin juga ada di sana, berdiri dengan pakaian serba hitam dan tatapan datarnya. Dia masih terlihat pucat, namun tak separah sebelumnya.

Xiumin dan chen tak muncul, namun luhan entah bagaimana bisa merasakan tatapan mereka dari suatu tempat. Xiumin itu menyebalkan, tapi luhan rasa gadis itu hanya bertindak selayaknya gadis yang sedang cemburu.

Hingga kereta kuda yang mereka tumpangi berjalan menjauh, luhan merasakan dorongan kuat untuk menoleh sekali lagi, dan dia melakukannya, dia menyibak tirai dan menatap ke istana.

jongin di sana, menatap lurus pada keratanya tanpa berkedip.

Luhan tercekat, apakah dia sudah gila hingga matanya berhalusinasi melihat tatapan sayu penuh kesedihan dari manik gelap pria itu sebelum dia berbalik masuk ke istana.

"ada apa?"

Luhan menggeleng pelan sebelum menutup tirai kembali ketika jongin tak ada lagi. Dia menyentuh pelan bekas cengkraman jongin di lehernya yang terasa panas dan menjalar ke pipinya.

Chanyeol menatapnya dalam diam. Sebelum mengehela nafas dan memutuskan menyusul kris ke alam mimpi.

Kereta berjalan pelan dengan gucangan-guncangan kecil, suara sorakan-sorakan orang-orang masih mengiringi mereka hingga mencapai perbatasan ibukota, barulah suasana menjadi hening, hanya terdengar bunyi tapakan kuda dan percakapan kecil prajurit di luar kereta.

Mereka tak memiliki tujuan pasti, luhan hanya mengatakan bahwa tujuannya berada searah dengan matahari terbenam dan kris memberitahu istana bahwa tujuan mereka adalah desa terdekat di barat.

Luhan tak sadar jatuh tertidur.


Goncangan keras menyentak ketiganya dari alam mimpi, luhan hampir terantuk dinding jika tak refleks menahan diri, kusirnya meminta maaf dan mengatakan bahwa dia tak sengaja menabrak batu.

Kris mengusap kepalanya yang terantuk tiang kereta sedang chanyeol berusaha keras menahan tawa.

Bruukk

Goncangan kali ini lebih besar hingga kerete sedikit oleng dan mengejutkan mereka.

Kris mengumpat lebih keras meminta agar si kusir lebih hati-hati atau kepalanya akan segera berdarah.

Namun tak ada sahutan.

Aneh, kereta mereka tak lagi bergerak dan percakapan di luar terhenti.

Luhan mengeryit menajamkan pendengaran, samar-samar terdengar suara percakapan. Tapi, percakapan itu terdengar jauh, bukan di sisi kereta mereka.

Lalu desingan pedang membela udara terdengar nyaring.

ketiganya saling menatap dengan rasa keterkejutan yang sama.

Luhan menghunus pedangnya ketika seseorang menyibak tirai di samping chanyeol dengan tiba-tiba.

"larilah nona, kita di serang bandit" si kusir datang dengan terluka di perutnya dan segera ambruk tak lama setelah menyampaikan pesannya.

Kris melompat lebih dulu, melangkahi mayat si kusir dan mengambil satu pedang dan satu tombak yang tersemat di tubuhnya, kemudian memberikan tombak ke chanyeol. dia Menatap waspada ke sekitar. pertarungan sedang terjadi antara delapan prajurit dengan puluhan orang-orang berpakaian ninja.

Hanya butuh beberapa waktu untuk bandit itu menang.

Mereka bertiga takkan mampu menangani musuh sebanyak itu sekaligus,

Kris menginstruksikan luhan dan chanyeol untuk turun dengan pelan-pelan, beruntunglah pertarungan itu berlangsung jauh di depan kereta, sehingga mereka tak sampai terlihat jika turun dari belakang.

Chanyeol hanya menyambar ransel dan sekantong koin emas dan melompat turun sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara.

Suara pertarungan masih terdengar nyaring, hampir setengah prajurit yang melawan sudah gugur. Kris menarik luhan bersembunyi di balik pepohonan dan menyusup masuk ke dalam hutan kemudian berlari.

Pohon-pohon tinggi membayangi langkah mereka, sesekali hewan-hewan melompat bersama dan menatap mereka bingung. Hutan bukanlah tempat pelarian yang sempurna, selain karena daun-daun lebat yang melindungi pandangan, akar-akar pohon yang mencuat dari tanah juga berbahaya.

Kris memimpin, memotong tumbuhan-tumbuhan yang merambat jalan mereka. luhan sibuk menghindari binatang-binatang merayap yang kadang kala berusaha meraihnya. Chanyeol? Entahlah, luhan merasa pria itu terlalu santai dan terbiasa, dia bahkan menyingkirkan seekor ular dengan satu tangan seolah itu hanyalah seutas tali.

"kami selalu melakukan ini, sebagai budak yang berusaha untuk melarikan diri, kami menjadikan medan apapun sebagai rumah" chanyeol berkata, sepertinya dia sadar dengan tatapan luhan yang terus menoleh padanya.

Sekali lagi luhan menoleh dengan pandangan berbeda, sebelum fokus ke depan, dia hampir lupa bahwa sebelum mereka bertemu, chanyeol dan kris telah mengalami banyak penderitaan, dan sekarang mereka mengalaminya lagi karena dirinya.

Luhan masih sibuk berfikir banyak hal dan dia menunduk hingga tak sadar ketika kris menghentikan langkah tiba-tiba, dia menubruknya. Luhan meringis dan mengusap dahinya "ada apa?"

Kris tak bergeming, di terus menatap ke depan dengan tajam, ketika luhan mengikuti arah pandangnya, dia menemukan seseorang berseragam dan berjubah perak menghadang jalur mereka.

Rambut terkuncir tinggi.

Bekas luka di pipi.

Dia adalah salah satu jendral ratu, TAO.

"sudah kuduga" kris mendengus dan menghunus pedangnya ke depan "wanita itu takkan melepas kita semudah itu"

Tao tersenyum tanpa maksud mencemooh, dia ikut menghunus pedanganya ke arah kris "seperti itulah yang mulia ratu, tak melepas unggas yang pernah ada di sarangnya"

Kris menganggkat alis "dan kami bukanlah unggas yang jinak"

"aku tau" tao meneliti kris dari atas ke bawah "tapi aku masih butuh pembuktian" setelah mengatakan itu, tao menghilang dari pandangan, luhan terbelalak, dan menatap ke sekeliling. Itu bukan hal biasa, seseorang tiba-tiba menghilang di hadapanmu, itu ajaib.

Kris mendorong luhan ke samping dan melintangkan pedang di depan kepala.

Bunyi desingan pedang bertemu pedang terdengar nyaring beserta percikan api di titik temunya. Kris berbalik dan melakukan hal yang sama kemudian berlari menjauhi sisi luhan dan melompat membelah udara, lalu tao muncul bertahan pada pohon dengan goresan segar di pipi.

"kau lumayan" bisiknya sambil mengusap darahnya yang hampir menetes.

Pertarungan kembali terjadi, yang terlihat hanyalah kris yang selalu bergerak ke sana kemari dan mengibaskan pedangnya pada udara kosong, hanya suara gesekan pedang yang menjadi saksi bahwa di sana sedang terjadi pertarungan sengit.

Tao tidak menghilang, setelah di perhatikan lebih cermat, angin terus berhembus cepat di manapun dia menyerang, dan itu adalah pedoman kris untuk mengetahu di mana daerah selanjutnya dia akan di serang. Karena gerakan tao terlalu cepat untuk dilihat dengan mata.

Namun, semakin lama gerakan tao semakin cepat dan hampir tak terprediksi lagi. kris kewalahan, beberapa kali dia hampir tersandung jatuh dan menderita banyak sobekan di bajunya namun tak satupun yang mencapai kulitnya. hingga tak lama kemudian dia terbanting menyentuh tanah dengan tao di atasnya dan ujung pedang yang gadis itu letakkan di atas lehernya "kau kalah" seringainya.

Luhan memekik meneriakkan nama kris dengan panik, dia berniat berlari dan menolong, namun chanyeol menangkap pergelangan tangannya lebih dulu.

"chanyeol?" luhan menggeram, dia tak tau apa yang sedang ada dalam pikiran pria itu hingga bisa sangat tenang meski seseorang yang dia anggap saudara akan terbunuh di depan matanya, dia hanya menampilkan wajah biasanya dan tak memiliki raut panik maupun setitik kecemasan di wajahnya.

Pria itu menggeleng tanpa kata beberapa kali, menampar luhan pada kenyataan bahwa chanyeol tak perduli pada apapun yang terjadi pada kris, dan meminta luhan untuk melakukannya juga.

Mana bisa...

Luhan menyentak pegangan chanyeol di pergelangannya dan menatapnya berang. Untuk kedua kalinya luhan merasa sangat kecewa pada chanyeol setelah yang pertama kali pria itu dan kris menjual diri demi mencari uang untuknya.

Chanyeol menghela nafas "tenanglah" ucapanya pelan, dia meraih dua pundak gadis di hadapannya dan perlahan memutarnya agar menghadap ke depan, ke arah kris dan tao.

Kondisi mereka masih sama, tao duduk di atas perut kris, namun pedangnya sudah dia singkirkan. Tao tersenyum kemenangan sedangkan kris mendengus dan menggumamkan sesuatu tentang 'berat' dan tao terlihat kesal kemudian menyingkir dengan kaki menghentak.

Tunggu dulu...tidakkah mereka terlihat terlalu akrab untuk ukuran orang yang hampir saling membunuh.

"kau serius" tao megusap luka goresan di wajahnya "aku tak perlu kau untuk menambah luka di wajahku" gerutunya.

"bukan salahku, kau hanya tak bisa menghindar dengan benar"

"hei, aku mengalahkannmu, jika kau lupa"

"benarkah, tapi aku tak melihat satu goresanpun di tubuhku"

"aku hampir menggorok lehermu, barusan"

"tapi kau tak melakukannya"

Tao menggeram dan meremas pedangnya keras "haruskah kulakukan sekarang" desisnya.

"DEMI TUHAN, HENTIKAN ARGUMEN BODOH ITU DAN JELASKAN SESUATU PADAKU" suara menggelegar yang membela kesunyian hutan belantara, burung-burung berbagai warna yang tadinya bertengger di setiap dahan dan memperhatikan pertikaian yang terjadi, terbang berhamburan ke udara dan meninggalkan suara kepakan yang bersahutan.

Tao dan kris menoleh bersamaan dengan terkejut sedangkan chanyeol menggelengkan kepala tak menyangka luhan akan menjerit hampir di samping telinganya.

Tao adalah yang pertama kali sadar ketika luhan menatap mereka satu persatu dengan wajah penasaran yang kentara, hingga kini manik caramel cair itu hanya terpaku padanya dan seolah meminta penjelasan, dia mengambil langkah sambil menanggalkan jubah perak dan seragamnya, menyisakan atasan tentop hitam dan hotpant berwarna sama yang menonjolkan lekukan tubuhnya.

Luhan semakin mengeryit tak mengerti, yang dia minta adalah menjelaskan sesuatu tentang tingkah aneh mereka, bukannya menyuruhnya menari sambil telanjang.

"boleh aku memakai salah satu gaun mu?" tao tersenyum ramah dan meanatap luhan penuh harap, dia hanya berharap luhan tak menyimpan dendam padanya dan membiarkannya berpakaian seperti ini sepanjang hari karena sesungguhnya jika itu terjadi, dia punya banyak rasa malu untuk tak memakai kembali pakaian yang dia tanggalkan tanpa berfikir.

Dia hampir melonjak kegirangan ketika luhan mengangguk ragu-ragu. Tanpa berfikir dua kali, dia melangkah ke arah chanyeol dan menerima pakaian yang pria itu sodorkan padanya setelah memberinya tatapan menyebalkan, dia menaruh jubah dan seragamnya di pundak pria itu "lakukan sesuatu dengan benda itu, aku tidap memerlukannya lagi" ucapnya.

Tao mendapati dirinya kesulitan sendiri mengenakan gaunnya, sudah sangat lama sejak terakhir kalinya dia memakai pakaian lain selain seragam jendralnya yang hanya berupa sebuah blazer berlengan panjang dan celana panjang beserta jubahnya, terlebih, memakai hanfu jauh lebih rumit dari gaun yang sering dia lihat pelayan istana kenakan. Dan sialnya, chanyeol dan kris sama sekali tak berniat membantunya. Luhan? Gadis itu jelas juga tak mengerti cara pakainya dilihat dari bagaimana gadis itu meringis kecil setiap kali dia melakukan kesalahan seolah dia mengerti bagaimana sulitnya memakai itu.

Hingga akhirnya kris mendekat dan menggantikannya mengait-ngaitkan kain-kain itu. Tao yakin, kris sangat terpaksa melakukannya karena perintah luhan karena pria itu berjalan tersungut-sungut dan bergumam kesal tak jelas padanya.

Tapi tao tak ingin membalas apapun, bagaimanapun dia memang perlu bantuan.

Chanyeol menatap keduanya sambil menggelengkan kepala, sejak dulu, dua orang itu tak pernah akur dan selalu menjadikannya korban sebagai seseorang yang berada di antara mereka, tapi dia rasa semauanya bisa terkendali sekarang, setidaknya selama luhan tak bosan menegur mereka.

tatapannya teralih pada kain-kain perak yang menumpuk di tangannya dan mulai terasa membebani. dia benci melihat benda itu terlalu dekat dengannya, selama ini dia sudah mengalami banyak pengalaman buruk dengan wanita-wanita berpakaian sama dan kini tao memberikan ini padanya lalu memintanya menyingkirkannya.

Well, dengan senang hati dia lakukan.

Bau kain terbakar yang menusuk menyadarkan luhan dari lamunannya yang sejak tadi memperhatikan interaksi kris dan tao yang terlihat terus melempar tatapan tajam tanpa kata namun di mata luhan gesture seperti itu justru memperlihatakan jika mereka telah mengenal dengan baik, dan luhan lelah berfikir kemungkinan apa hubungan mereka. dia terbelalak dengan bola mata nyaris keluar ketika pakaian tao yang berada di telapak tangan chanyeol mulai berasap dan mengeluarkan percikan api yang cepat membesar dan menelan semua kain yang bisa dihanguskannya, berubah menjadi abu hitam yang menumpuk di depan kaki chanyeol.

Dari mana api itu berasal, chanyeol bahkan tak sedang memegang pematik api saat ini, pria itu hanya tersenyum menatap sisa abu yang berada di telapak tangannya kemudian meniupnya pergi.

Tapi bukan itu yang penting saat ini.

Luhan berlari cepat kesana, menangkap pergelangan tangan chanyeol yang masih terangkat ke udara, kemudian menatapnya intens bolak-balik mencari-cari luka bakar yang pasti di akibatkan api tadi, dia sudah mempersiapkan diri untuk tak menjerit jika saja lukanya sangat parah agar tak menakuti chanyeol saat dia tak menemukan apapun selain kulit mulus tak bernoda.

Luhan membeku.

Dia jelas-jelas melihat ada api yang cukup besar menyala di atas telapak tangan chanyeol tadi.

Dia mendongak mencari tatapan chanyeol dan menemukan raut wajah pria itu penuh dengan rasa bersalah. "aku akan menjelaskannya" bisiknya.

luhan melepas genggemannya dan mundur selangkah "sebaiknya begitu" dia tiba-tiba saja merasa ingin marah, menyadari dua orang terdekatnya mungkin saja menyimpan banyak rahasia besar yang tak dia ketahui.

.

.

.

.


Victoria menatap lantai keramik di bawah singgasananya tajam, sudah hampir seharian penuh dia terus melakukannya seolah benda itu akan meleleh di bawah tatapan amarahnya, Atau mungkin dia sedang merencanakan untuk melelehkan orang yang telah membuatnya murka.

Kemarin victoria mendengar kabar bahwa luhan tak di temukan di kereta bersama semua harta-harta hadiah dari istana, keadaan kereta kudanya porak-poranda dan seluruh prajurit mati dengan cara mengenaskan, penduduk di ibukota mendengungkan menyayangkan luhan yang menjadi korban bandit dan mungkin saja sudah terbunuh.

Namun pikiran victoria berbeda, senyumnya berkembang ketika membayangkan tao telah berhasil menjalankan misi dan mungkin sedang menunggu seluruh penghuni istana terlelap agar dia dapat membawa luhan masuk tanpa diketahui orang lain.

Victoria berjanji akan memberikan tao hadiah besar yang bahkan tak akan gadis itu bayangkan ketika dia pulang nanti.

Namun, harapan tinggal harapan, semalaman dia menunggu hingga pagi menyingsing, tao tak juga kembali membawa kabar gembira yang dia nantikan. Dalam pikiraanya berkecamuk kemungkinan bahwa tao mati terbunuh oleh luhan atau dikalahkan dan terluka di suatu tempat. Dan victoria tak ingin menyia-nyiakan jendralnya yang berharga.

Segera victoria memerintahkan orang-orang pilihan untuk mencari keberadaan tao.

"tao adalah seorang penghianat" adalah kata pertama yang amber katakan setelah keheningan yang lama. Gadis itu setelah sekian lama tak pernah menjejakkan kaki di istana tiba-tiba datang dan meminta bertemu denganya.

"apa karena kau kehilangan pedangmu maka kini kau mencoba berkata buruk tentang rekanmu dan mencoba merebut posisinya" victoria tersenyum miring "pemikiran bodoh yang licik"

Amber bersujud menyentuhkan jidatnya pada lantai "hamba tidak berani yang mulia, saya adalah seorang jendral yang kehilangan martabatnya tak lagi pantas berdiri di sisimu, tapi saya juga tidak bisa membiarkan anda mempercayai seorang penghianat yang hina"

"apa yang kau lihat?" victoria menopang dagu "sehingga kau berfikir dia telah menghianatiku"

"saya melihatnya, di suatu desa bersama dua budak gadis itu, mereka bercakap-cakap sangat akrab, karena waktu itu gadis itu tak ada di sana, aku berfikir bahwa dia telah mati pada saat pertarungan koloseum namun, ketika aku kembali ke ibukota, desas-desus mengatakan bahwa anda sedang mencari jejak gadis itu yang terserang bandit. Saat itulah aku sadar, anda tak mungkin melepaskan gadis itu begitu saja hanya karena dia memenangkan pertarungan, anda pasti telah memerintahkan seseorang membunuhnya atau membawanya kembali diam-diam" amber mendongak, sinar ambisi membias di matanya "dan tao ada di sana, berjalan bersama dua budaknya tanpa mengenakan seragam prajuritnya. Apalagi yang bisa melintas dalam otakku selain tao melarikan diri bersama mereka dan meninggalkan sisimu yang mulia"

Victoria merasa darahnya mendidih, dia terbiasa untuk tak meragukan kesetiaan para jendralnya, dia meyakini bahwa tak satupun dari mereka yang berani menghianatinya namun perkataan amber menggoyahkannya, orang-orang suruhannya pun tak ada yang menemukan keberadaan tao.

"kau tau keadaan apa yang akan menimpamu jika kau berkata omong kosong padaku, bukan?"

"nyawaku adalah milikmu, yang mulia"

Amber adalah orang yang ambisius, dari semua jendralnya, victoria paling mewaspadai kelakuan wanita berpenampilan pria itu, dia kadang berfikir berapa banyak rencana licik yang melekat di dalam kepalanya, namun di sanalah dia menemukan bakatnya, si pemikir yang licik, amber tak memiliki kekuatan spiritual apapun dalam tubuhnya, dia murni seorang manusia yang berotak iblis yang medapatkan kekuatan lebih dari pedang jiwanya. Sayang sekali dia kehilangan kehormatan itu oleh orang yang paling victoria benci.

Dia menarik salah satu pedang yang tersampir di sisi lengan singgasananya, menatapnya dalam di genggamannya, menyalurkan beberapa energi ke dalamnya hingga berubah bentuk sesuai keinginan. Kemudian melemparnya ke hadapan amber dan mendarat mengenai lutut gadis itu.

Amber memperhatikan benda itu lama, sebelum menyadari bagaimana pedang itu sangat familiar, dia mendongak dengan raut terkejut dan bingung, bagaimana bisa pedangnya yang telah memiliki tuan baru berada pada sang ratu.

"itu hanya duplikat, aku membuatnya semirip mungkin dengan milikmu, kau juga bisa mendapatkan kekuatan yang sama persis dengan dulu, namun, duplikat tetaplah duplikat yang takkan sekuat aslinya, pedang itu tak memiliki jiwa yang bisa terus mengikutimu, kau akan kehilangan kekuatannya ketika kau tak menyentuhnya"

Amber menatap tak percaya, harapannya melambung tinggi. Apakah ini artinya, dia telah menjadi jendral kembali.

"gunakan waktumu sebaik mungkin, bawa tao kembali dan buktikan bahwa perkataanmu benar kemudian akan ku tarik kau kembali ke sisiku" victoria bangkit dan melangkah pergi setelahnya.

"perintahmu adalah mutlak untukku, yang mulia" amber memastikan suaranya terdengar oleh ratu sebelum wanita itu mengjhilang di balik pintu.

.

.

.

.


Mereka adalah pemberontak, sekumpulan siluman dan manusia yang beraliansi untuk menggulingkan ratu victoria. Terbentuk pertama kali setelah ramalan tentang kedatangan sang putri di perdengarkan untuk pertama kali, namun penantian mereka memakan waktu yang sangat lama, manusia-manusia mati termakan usia dan para siluman melemah karena kekurangan jiwa, keadaan mereka menjadi rumit karena anggota yang semakin berkurang.

Umur manusia tak lama dan siluman tak bisa memulihkan diri hanya dengan makanan manusia. Mereka hanya akan punah jika menjadi seperti itu.

Kemudian, gagasan tentang persilangan manusia dan siluman muncul, mereka memerlukan seseorang yang berumur panjang dan mampu bertahan tanpa jiwa.

Kris, tao, dan chanyeol adalah salah satu anak persilangan, mereka tumbuh sebagai manusia dan makan layaknya manusia, selain itu mereka memiliki kekuatan dan umur lebih lama dari gen siluman. Mereka sejahtera, yang perlu mereka lakukan hanya melatih anak-anak mereka agar semaki kuat dan siap ketika di perlukan.

Mereka menamai perkumpulan mereka sebagai klan xian, yang memiliki arti manusia berumur panjang.

Namun, kondisi itu tak berlangsung lama. malam itu sedang purnama ketika darah menjadi karpet merah di desa mereka. pasukan ratu menemukan mereka dan membantai habis seluruh klan tanpa belas kasih dan meninggalkan kobaran api yang menyalan-nyala.

malam itu kris dan tao bertengkar dan meninggalkan banyak luka di tubuh masing-masih dan chanyeol harus bertanggung jawab mengobati jika tak ingin kena marah juga. Mereka tak pulang hingga menjelang malam, tao menangis dan kris merajuk.

Umur mereka masih sebelas tahun, anak-anak nakal yang tak tau apa-apa ketika asap tebal membumbung tinggi di balik bukit, mereka berpegangan tangan, tertawa kadang saling mengejek kemudian mereka bernyanyi, sebuah nyanyian ceria yang segera menjadi menyedihkan ketika menemukan rumah mereka menghitam dan roboh. Bau busuk daging yang terbakar menjadi alarm tangisan mereka ketika sadar bahwa mereka hidup dan yang lainnya mati.

Hukum menyentuh mereka ketika mengenal dunia luar, tao di bawa ke istana setelah wajahnya di rusak sedangkan kris dan chanyeol menjadi budak. Derajat mereka boleh berbeda, namun tujuan mereka masih sama.

Menggulingkan ratu victoria.

"jadi kalian setengah manusia dan setengah siluman?"

Kris dan chanyeol mengangguk bersamaan.

"aku phoenix" chanyeol menjawab sebelum luhan bertanya "namun tak memiliki kekuatan terlahir kembali, aku hanya bisa memiliki apinya"

Luhan berdecak kagum ketika chanyeol mengendalikan bola-bola api di tangannya. Kini perhatiannya beralih ke kris.

Kris berdecak "aku naga—bukan berarti aku bisa mengeluarkan api dari mulutku" ujarnya sebal ketika luhan membelalak dan menghindari wajahnya ketia dia berbicara "anggap saja kekuatanku dan chanyeol sama" luhan baru mengerti ketika kris melakukan hal yang sama persis dengan chanyeol.

Giliran tao, gadis itu tak segera menjawab, dia hanya menatap luhan beberapa waktu sebelum membuang muka "aku berbeda dari mereka, aku satu-satunya dari klan xian yang bukan siluman"

"apa maksudmu?"

"ibuku seorang elf" tao menghela nafas, bercerita tentang darah elf-nya tak pernah menjadi menyenangkan, di masa lalu, memorinya tentang anak-anak lain buruk karena dia adalah satu-satunya yang berbeda, hanya kris dan chanyeol yang ingin berteman dengannya. Meski para orang tua menyayanginya dengan baik dan menganggapnya spesial, tao hanya merasa asing dan sendirian.

tepukan pelan di bahunya dari chanyeol yang tersenyum menenangkan menyadarkannya bahwa salah satu yang membuat kenangannya semakin buruk adalah karena dirinya tak mampu menyelamatkan siapapun padahal dia seharusnya bisa melakukan sesuatu.

"dia seorang peri waktu, salah satu ras peri yang kuat diantara elf lainnya" kris adalah yang melanjutkan cerita yang seharusnya tao selesaikan "seperti namanya, mereka bisa mengendalikan waktu namun bukan berarti mereka bisa mengendalikan jagad raya, mereka memiliki batasan yang harus mereka perhatikan jika tak ingin mati karena kekuatan mereka sendiri" tao tersenyum ketika kris ikut menepuk pundaknya sekali "jangan menyesali apapun yang sebenarnya memang tak mampu kau lakukan"

Tao mengangguk. Dia kemudian menoleh pada luhan kemudian membungkuk dalam "maafkan kami karena menyembunyikan ini sangat lama, kami hanya belum memiliki waktu yang tepat untuk memberitahumu, selain itu kris dan chanyeol harus terlihat seperti budak manusia sungguhan jika tak ingin ratu memperlakukan mereka sebagai ancaman"

"aku tau" luhan balas tersenyum.

"kita harus bergerak sekarang sebelum matahari terbenam, hutan bukan tempat yang ramah di malam hari" kris bangkit dan menarik ransel dari genggaman chanyeol dan menyampirkannya di pundak "tujuan kita searah matahari terbenam, bukan?"

Luhan mendongak terkejut, darimana kris tau itu...

"rumor tentang 'hutan kabut' sudah menjadi konsumsi umum untuk semua budak, di sana adalah tujuan untuk semua pemberontak, satu-satunya petunjuk untuk tempat itu adalah matahari terbenam"

"tapi tempat itu bahkan tak ada di dalam peta"

"jadi karena itukah kau ke perpustakaan di tengah malam" luhan mengangguk samar, kris menghela nafas "hutan itu di beri nama hutan kabut karena takkan ada yang bisa menemukannya bahkan di peta sekalipun, keberadaannya seolah tertutupi kabut tebal dan takkan ada yang bisa menemukannya jika tak benar-benar berniat berada di dalamnya karena siapapun yang melangkah ke dalamnya takkan mampu kembali sebelum bendera perang berkibar"

Baiklah, kris tau sebanyak ini, dan luhan menyesal tak menanyainya lebih dulu.

"apa victoria juga tau?"

"tentu saja, dia gila mencari tempat itu namun tak pernah di temukan" tao mengerling jenaka pada luhan "kau takkan bisa membayangkan bagaimana lucunya wajahnya ketika tak satupun utusannya yang pernah kembali"

"seperti yang kris katakan, hutan itu takkan menerima siapapun yang bukan sekutu" chanyeol berajalan menyusul langkah kris "entah berapa banyak yang telah menunggumu di dalam sana"

Luhan ikut bersama tao dengan hati lebih ringan, suatu masalah memang tak harus dia selesaikan sendirian.

.

.

.

.


Awan kelabu menggantung berat di bawah langit, gemuruh hujan mengetuk-ngetuk pendengaran, kai menatap dari balik jendela, butiran-butiran bening yang berlomba jatuh dan pecah membentur apapun.

kekeringan berakhir, hujan lebih sering menyapa dan tersambut oleh gelakan ceria seluruh penduduk kerajaan, yang kai yakini akan segera mengeluh dan mengutuk air yang menggenangi lahan mereka nantinya.

Seperti itulah manusia, hanya siap menerima semua keuntungan dan menolak kerugian yang sebenarnya di hasilkan dari keuntungan itu sendiri. Mereka selalu menginginkan sesuatu yang sempurna namun tak berfikir apakah yang sempurna itu sebenarnya memang ada...

"apa yang kau fikirkan?" kai segera membungkuk dalam ketika victoria bergabung di sisinya, mengenakan gaun putih polos yang hanya akan dia gunakan di dalam kamar.

"tidak ada, yang mulia" dia kembali menatap keluar jendela. Tak menyadari tatapan yang victoria lemparkan padanya secara diam-diam.

"kurasa, tao sudah menghianatiku" ucapnya setelah keheningan yang lama, tak sedikitpun raut yang tergambar di wajah kai, pria itu hanya menoleh sambil mengangkat alis sebagai pertanda bahwa dia masih menyimak dan merasa terkejut dengan berita itu "dia menunjukkan taringnya padaku dan berlutut di hadapan gadis itu" kai hanya mengangguk sekaerli sebagai pertanda dia sudah mengerti.

Victoria tersenyum tipis, seperti itulah kai, berjalan seperti boneka sepanjang hari, menerima semua perintah yang dia berikan tanpa penolakan dan tak mengeluh ketika dia terluka berat. Terkadang dia berfikir bahwa dia memiliki manekin berjalan.

Tak apa, baginya hal itulah yang dia inginkan, karena dengan begitu, kai takkan memiliki potensi meninggalkannya.

Dia berjalan mendekat dengan perlahan, kai hanya melirik sekilas dan membiarkannya melingkarkan lengan di pinggangnya "jangan mencoba untuk lari dariku, aku adalah hidupmu, tanamkan itu dalam ingatan dan hatimu kai-ah, kau adalah milikku seutuhnya"

"aku tau yang mulia" kai kembali menatap jauh ke luar jendela, pada matahari yang mulai berbayang di balik awan dan sebuah pelangi yang tipis terlihat "nyawa dan hidupku seluruhnya adalah milikmu"

.

.

.

.


"baiklah, aku ulangi sekali lagi" luhan berdehem dan menatap ke depan dengan serius "salam kenal, namaku luhan, namamu siapa?"

suara jangkrik terdengar sangat nyaring.

Chanyeol berulang kali berusaha menahan tawanya, namun berakhir dengan lemparan tatapan maut dari luhan karena dia mengeluarkan tawa kecil meski ia telah menggigit bibir hingga hampir berdarah.

Ingin rasanya dia menjadi seperti kris yang bisa melampiaskan tawanya hanya dengan tersenyum tipis, dengan begitu dia hanya perlu memunggunginya dan gadis itu takkan tau.

"hentikan saja, kau takkan berhasil dengan cara itu" tao melempar tatapan mencela "kau fikir dia bisa mengerti dengan bahasa seperti itu"

Luhan berdiri cepat dengan kesal, api sederhana beriak pelan ketiak angin dari jubah luhan meniupnya "lalu kau ingin aku bagaimana, tiba-tiba saja kau menyurhku untuk berkomunikasi dengan sebuah pedang, apa itu masuk akal?" dia mengayun-ayunkan pedangnya di hadapan tao yang menatapnya tanpa kedip "dan sekarang kau bilang benda ini takkan mengerti dengan caraku, lalu bagaimana aku bisa bicara dengannya, atau apakah kalian punya bahasa pedang tersendiri?"

"karena itulah kau takkan bisa berhasil, karena kau masih menganggapnya sebagai benda mati dan melupakan fakta bahwa dia punya jiwa"

"kau fikir aku akan mengajak sebuah pedang berkenalan jika aku tak menganggapnya punya jiwa"

"kau mungkin berkata seperti itu, tapi pada kenyataannya, hatimu tak benar-benar menerima fakta itu dan masih berfikir sebuah pedang tak mungkin bisa berkomunikasi dengan pemiliknya"

Luhan berdecak sebal dan menghentakkan kaki sebelum pergi dari tempat itu tanpa mengatakan apa-apa.

"biarkan dia" tao melirik pada chanyeol dan kris yang sudah bangkit dan berniat mengejar luhan "dia perlu sendiri untuk memahami maksudku"

"dia masih pemula, jangan terlalu menekannya" kris melirik.

"lalu kau ingin aku seperti apa?, membiarkannya melakukan hal konyol sepanjang hari padahal itu jelas-jelas takkan berhasil"

"kau bisa mengajarinya perlahan" chanyeol duduk ke tempat semula, di tengah-tengah kris dan tao.

Tao menghela nafas dan memejamkan mata setelah menyandarkan punggungnya ke pohon "karena inilah dia tak meningkat sama sekali saat bersama kalian, kalian terlalu memanjakannya"

Kris benar-benar berniat menyerang jika saja chanyeol tak cepat menahannya. Dan baru melepasnya setelah dia lebih tenang. Tidak benar-benar melepasnya sebenarnya, karena kris lah yang menyentak pegangan chanyeol dan mengambil jarak duduk cukup jauh.

Tao tiba-tiba membuka mata dan menatap sekeliling dengan waspada "matikan apinya" bisiknya. Dia bangkit menghunuskan pedang.

Sekali kibasan tangan chanyeol, api yang menyala, redup tanpa air.

Dalam kegelapan, Suara ringkikan kuda mendekat "itu amber" dan mereka lari berpencar setelah menyusun rencana.

.

.

.

.


Luhan sangat marah tentu saja, tao tiba-tiba saja mengatakan bahwa di masih belum benar-benar mengusai pedang amber jika hanya mampu memanggilnya karena sesungguhnya itu adalah sifat alami si pedang untuk mengikuti tuannya, pedang itu katanya bahkan memiliki nama dan bisa berkomunikasi dengan pemiliknya dan jika luhan berhasil melakukan itu maka kekuatan yang ada dalam pedang bisa menjadi miliknya.

Dia memang tak begitu percaya, namun selama dua hari dia sudah melakukan hal itu ribuan kali, mengajak sebuah pedang berbicara layaknya pedang, itu sangat memalukan namun luhan tetap melakukannya karena dia fikir dia akan berhasil.

Dan gadis panda itu merusak moodnya dengan mengatakan bahwa dia takkan berhasil dengan caranya.

Jika begitu mengapa dia tak mengatakannya dari awal saja.

"bikin kesal saja" luhan mendudukkan diri di bebatuan di sisi sungai, menatap pantulan bulan setengah di dalam air yang jernih.

Kebisingan dari desa di seberang hutan masih terdengar sama, suara ringkikan kuda dan percakapan. Di sana pasti jauh lebih hangat dari pada hutan gelap yanga hanya berlampu bulan, tapi mereka tak ingin mengambil resiko di temukan prajurit suruhan ratu victoria, karena menurut tao, ratu pasti sangat marah dengan penghianatannya dan mungkin saja sudah memasang gambarnya juga bayaran tinggi untuk kepalanya.

Luhan menghela nafas, dia menatak pada pedang perak yang sedikit berkilat di bawah sinar bulan "sebenarnya bagaimana caranya berkomunikasi denganmu" menumpukan dagu kelutut "kau tahu, ini sulit bagiku, untuk percaya bahwa pedang sepertimu bisa bicara, namun bukan berarti aku tak percaya kau punya jiwa, bagaimanapun, kau sudah menyelamatkanku beberapa kali, karena itu bisakah kau membantuku dan membuat ini lebih mudah?"

Hening.

Tidak berhasil.

Luhan menyembunyikan wajahnya, berkali-kali dia menghela nafas "dia benar, aku takkan mungkin berhasil" dia menggeleng-geleng pelan "kau sudah memilih tuan yang salah, aku bahkan tak mengerti mengapa kau memilihku, terlepas dari aku yang mengalahkan amber, kau seharusnya bersama seseorang yang lebih—

"apa kau sedang melempar kesalahan padaku?"

Luhan tersentak, dia bangkit cepat dan menarik pedangnya, dan menatap sekeliling dengan waspada "siapa di sana?" teriaknya.

Hening beberapa saat sebelum suara helaan nafas terdengar, luhan berjengit, jika sebuah helaan nafas pelan saja dia bisa mendengarnya, orang itu pasti sangat dekat "apa maksudmu siapa, kau bicara padaku sejak tadi"

Luhan berputar lagi, suara itu sangat dekat seolah bergema di otaknya, tapi dia tak menemukan apapun, tidak juga merasakan keberadaan seseorang.

"aku adalah benda yang sedang kau acungkan saat ini" suara itu lagi, dan benda yang dia acungkan?

Luhan terbelalak ketika sadar, dia cepat-cepat menarik pedangnya dan menatapnya dekat hingga dia bisa melihat samar pantulan dirinya "tidak mungkin" bisiknya.

Sura tawa terdengar pelan "salam kenal, namaku Bian, pedang jiwa dengan kelebihan berkamuflase dan kecepatan, dan aku tak pernah salah ketika memilih seorang tuan"

Luhan tak mengatakan apapun lagi, dia segera melompat turun dan berlari cepat dengan kegembiraan membuncah, dia akan memamerkan ini pada tao dan menyombong sedikit.

Dia mengeryit bingung dan menghentika larinya ketika dia tak melihat kedipan api di manapun, padahal dia yakin tak pergi begitu jauh hingga bisa tersesat, dia yakin masih melihat api itu ketika di bibir sungai.

Luhan berniat berteriak ketika seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang, dia memberontak tentu saja, dia menendang dan menyikut namun orang itu kuat dan menyeretnya ke balik pepohonan.

"ssst luhan-ah, ini aku, chanyeol" barulah luhan berhenti memberontak.

"kau mengagetkanku"

"maaf, tapi ini gawat, pasukan istana ada di sini"

"apa? Dimana?" luhan berjengit hampir mengeluarkan suara yang keras jika chanyeol tak kembali membekap mulutnya.

"kris dan tao sedang mengalihkan perhatian mereka, dan mereka ingin aku membawamu pergi dari sini terlebih dulu" jelasnya

"kita meninggalkan mereka?" luhan meoleh tak percaya, meski yang bisa dia lihat hanyalah siluet chanyeol dalam gelap, tapi dia bisa merasakan rasa cemas yang pria itu rasakan.

"aku tau ini gila, tapi kami sudah berjanji akan bertemu di kota seberang" chanyeol menarik lengannya "jangan cemas, kris dan tao mungkin terlihat tak akur, tapi mereka adalah kombinasi yang kuat ketika bertarung"

Luhan tak mengatakan apapun lagi ketika chanyeol menariknya berlari pelan-pelan di hutan yang gelap.

dua hari ketenangan dalam pelarian mereka telah berakhir hari ini, dan luhan menyesal karena mereka harus berpisah jalan seperti ini.

'Kris dan tao, berjanjilah bahwa kalian akan baik-baik saja' luhan mengumandangkan itu dalam kepalanya.


T

.

.

.

B

.

.

.

C

.

.

.

SAYA SUDAH BERUSAHA UNTUK UP LEBIH CEPAT DEMI KALIAN, SEMOGA KALIAN SUKA :):)

PAIRNYA UDAH TERUNGKAP, KAILU, DAN SAYA SUDAH MENULISKANNYA DALAM WARNING SEJAK CHAP AWAL BAHWA FIC INI BUKAN HUNHAN, JADI BAGI YANG MERASA GAK SUKA DENGAN PAIRNYA, GAK USAH BACA, AKU MENGERTI PERASAAN KALIAN KOK.

LUHAN PUNYA KELEBIHAN/KEKUATAN APA NGGAK? JAWABANNYA, PUNYA KOK, SALAH SATU YANG TERUNGKAP ADALAH KEABADIAN, MESKIPUN BAKAL HILANG KALAU DIA JATUH CINTA. DAN KEKUATAN LAINNYA GAK MUNGKIN MUNCUL TIBA-TIBA DAN LUHAN BISA LANCAR MENGGUNAKAN, BAGAIMANA PUN LUHAN AWALNYA PERCAYA BAHWA DIA HANYA MANUSIA BIASA, KARENA ITU UNTUK MEMBANGKITKAN KEKUATANNYA JUGA BUTUH PROSES KAN.

TERIMA KASIH ATAS SUPPORTNYA...

.

.

.

REVIEW PLEASE