Luhan dan Sehun sedikit merenggang akhir-akhir ini karena suatu masalah yang bisa dikatakan serius. Beberapa kali Sehun mencoba menjelaskan semuanya pada Luhan. namun Luhan masih saja belum bisa menerima semua yang dikatakan oleh Sehun.

"Dengarkan aku sayang, semua panggilan telpon, surat, foto dan bukti DNA yang datang beberapa hari berturut-turut ke rumah kita adalah palsu. Aku sangat –"

"Cukup Sehun! Bagaimana kau bisa menolak kenyataan ini jika semua memang menunjukkan hal benar" elak Luhan sambil menata semua pakaiannya di sebuah koper besar. Luhan memang lebih dulu mengepak semua pakaian dan segala keperluan anak-anaknya.

Sehun telah menghalangi kegiatan istrinya ini namun apa daya, Luhan berteriak di depan wajahnya dan menyingkirkan tubuhnya mnejauh dari koper-kopernya. Dan jika Sehun berani mendekat, Luhan tak segan utnuk melempar apa saja yang ada di dekatnya.

"Sungguh aku tak melakukannya Luhan. kau tau bukan jika aku hanya mencintaimu"

"Kau bahkan memiliki banyak sekali wanita di sampingmu. Mana aku tahu kau memiliki hubungan atau tidak dengan salah satu dari mereka" elak Luhan sambil menyeka air matanya.

"Aku memang lelaki seperti itu sebelum aku mengenalmu. Tapi sekarang aku hanya milikmu" Luhan tak menggubris omongan Sehun, ia lebih memilih men-resletingkan kopernya yang penuh dengan baju-bajunya.

"Aku tak bisa mempercayaimu saat ini. masih ada waktu untuk membuktikan semuanya sebelum sidang perceraian kita terjadi" tentu ucapan Luhan membuat Sehun harus membulatkan mata sipitnya. Perceraian? Ia bahkan tak pernah membayangkan ia akan berpisah dengan Luhan kecuali saat mereka akan meninggal nantinya.

"Mwo? Aku tak mau Luhan! kau jangan gila seperti ini! Kau tak berpikir dengan Haowen dan Yujie?" bentakan keras Sehun terdengar bersamaan dengan menetesnya air mata Luhan. Luhan berbalik dan menatap sayu suaminya.

"Dan karena aku memikirkan anakku itulah, maka aku harus meninggalkanmu" ucap Luhan sambil menyeret kedua koper besarnya itu keluar kamarnya. Namun dengan cepat Sehun menahan lengan kecil Luhan.

"Apa maksudmu?"

"Aku tak yakin Haowen maupun Yujie ingin tinggal dengan saudara tirinya. Dan aku juga tak yakin anak-anakku akan betah tinggal bersama Ibu tirinya" dihempaskannya tangan Sehun. Bukan, bukan hanya Luhan yang sakit ketika berbicara seperti itu. namun Sehun pun merasa sakit mendengar ucapan istirnya.

.

AN: halo sudah lama aku ga ngelanjutin ff ini karena aku masih sibuk sama tugas dan beberapa kegiatan aku lainnya. Kali ini aku datang bawa potongan konflik hehe

Kenapa aku bawa potongan konflik, karena aku Tanya sama kalian enaknya cerita dengan konflik ini harus dilanjutin apa ngga. Aku ragu soalnya aku kan ga pengen ada konflik berat gitu di ff ini hehe. Jadi saran ya semuanya. Kalo banyak yang lanjut ya bakal aku lanjut kok hehe