Update, 08 Februari 2017:
Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di prolog. 1k+ words, tidak termasuk notes.
Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou×Sakata Gintoki). Slight, TakaGin (Takasugi Shinsuke×Sakata Gintoki).
Tambahan peringatan: a little bit violences. Jangan bilang saya tidak memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.
Enjoy! :)
.
#
.
Bab 13 — Alasan Lain
Tadinya Hijikata mengira dia akan langsung dibawa paksa kembali ke neraka, begitu Tatsuma dan Takasugi akhirnya melihat lambang di punggungnya. Tetapi, hal yang tidak diduganya terjadi.
"Dasar kau ini, menyusahkan kami saja!" seru Tatsuma, sembari memberi tendangan bertubi-tubi.
"ADUH! AW! AW! AWWW!"
Hijikata tak bisa menghindar dan hanya bisa menerima dengan pasrah begitu Takasugi juga ikut berpartisipasi memberi tendangan di sekujur tubuhnya. Adegan kekerasan itu berdurasi lumayan lama karena Tatsuma dan Takasugi terlihat menikmati aksi bullying mereka. Seakan belum puas, keduanya bahkan menyeret Hijikata ke arah tempat tidur, dan mulai mempraktekkan adegan smackdown secara bergiliran.
"Gintoki, tolong akuuu...!" jerit Hijikata dengan suara merana. Tetapi yang dipanggil hanya duduk di lantai dan memandangnya tanpa berniat menolong, karena memang masih berada di bawah kendali Tatsuma.
"RASAKAN INI! RASAKAN!"
"WUAAA! JANGAN MENENDANG DI BAGIAN ITU! KAU BISA MENGHANCURKAN MASA DEPANKU!"
"NII-SAN, KITA KEBIRI SAJA 'ITU'-NYA!"
"TIDAAAAAK!"
.
. .
"Jadi, kenapa kau kabur dari neraka?" tanya Tatsuma dengan suara dan ekspresi serius.
Hijikata meringis begitu Gintoki—yang sudah dikembalikan Tatsuma ke keadaan semula—dengan telaten mengoleskan salep obat di bagian-bagian tubuhnya yang babak belur. "Aku masih tak menyangka kalau yang akan datang mengejarku ke dunia manusia ini adalah dua temanku saat masih kecil dulu," katanya, tak mengacuhkan pertanyaan Tatsuma. "Kalian berkonspirasi dengan ayahku?" Dia balik bertanya dengan satu alis terangkat.
"Kami tak berkonspirasi dengan ayahmu," sela Takasugi. Hijikata menoleh. "Dia yang menawari diri untuk mencarimu di dunia manusia ini." Jari telunjuk Takasugi menunjuk Tatsuma yang duduk di sampingnya. "Aku dipaksa untuk ikut mencarimu."
"Benarkah itu?" Kedua mata Hijikata memandang tak percaya ke arah Tatsuma.
Tatsuma memutar kedua bola matanya, "Jawab pertanyaanku tadi," dengusnya, "aku menunggu."
Atmosfir di sekitar mereka berubah menjadi tegang begitu Hijikata sengaja memberi jeda, sebelum dia berkata, "Aku bosan tinggal di sana."
Kedua mata Tatsuma dan Takasugi sama-sama membelalak. Terkejut. Terhenyak. Terkesima.
"Hanya itu alasanmu sampai-sampai kau kabur ke dunia manusia ini?" Kedua alis Tatsuma terangkat tinggi-tinggi. "Kau tidak tahu di dunia neraka sana semuanya gempar karena mendengar kabar kau kabur ke sini! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ayahmu, hah?"
Hijikata terdiam. Ditundukkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Tatsuma dan Takasugi.
"Kau harus kembali bersama kami, Toshi," suara Tatsuma terdengar seperti tidak ingin dibantah. "Kau harus ingat kalau kau pewaris tahta di kemudian hari. Suka atau tidak suka."
"Aku tidak mau." Dengan rahang mengatup keras, Hijikata mengangkat wajahnya, dan menatap Tatsuma dengan sorot mata dingin. "Kau atau ayahku tidak akan bisa mengubah keputusanku. Aku tidak akan kembali ke dunia neraka." Dan setelah mengatakan hal itu, Hijikata bangkit berdiri. Menyambar bajunya, sebelum melangkah menuju pintu.
Tatsuma, Takasugi, dan Gintoki terus memandangi punggung Hijikata hingga menghilang di balik pintu.
"Tidak bisakah kalian berdua memberinya waktu?" tanya Gintoki akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.
Tatsuma dan Takasugi menoleh bersamaan begitu mendengar suara pemuda perak itu.
"Sebenarnya...," Gintoki menarik napas panjang, "aku sudah berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun..."
.
. .
Angin malam yang berhembus dingin tidak membuat Hijikata menghentikan langkahnya di pinggir pantai. Pemuda itu terus berjalan dengan kedua mata menerawang dan pikiran yang berada di tempat lain. Hingga akhirnya langkahnya berhenti, dan dia menghempaskan tubuhnya untuk duduk di pasir pantai.
Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya lewat mulut, Hijikata membaringkan tubuhnya menjadi posisi tidur terlentang dengan kedua tangan yang terlipat di belakang kepala. Kedua matanya menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Deburan ombak yang terdengar menambah kesan nyaman dalam diri Hijikata untuk terus berlama-lama berbaring di sana.
Seandainya, dia dibawa kembali ke dunia neraka, dia pasti tidak akan bisa merasakan lagi kebebasan seperti hidup di dunia manusia ini. Tidak bisa lagi merasakan kebebasan untuk berteman dengan siapa saja. Tidak akan pernah...
Menarik napas panjang sekali lagi, Hijikata memejamkan kedua matanya. Bisa dia rasakan angin pantai bertiup-tiup memainkan rambutnya. Hingga dia mendengar suara langkah kaki seseorang berjalan mendekatinya.
"Kau berniat tidur di tempat ini?"
Kedua kelopak mata Hijikata terbuka, dan bertatapan langsung dengan Gintoki yang sudah berdiri di sampingnya. Keduanya saling pandang dalam diam.
"Kau masih ingin sendirian? Baiklah, aku pergi." Gintoki menjawab sendiri pertanyaannya, sebelum berbalik. Namun baru saja dia akan berlalu pergi, Hijikata tiba-tiba menahan salah satu pergelangan kakinya. "Apa?" Kedua alisnya terangkat begitu menoleh ke bawah.
Tanpa berbicara, Hijikata bangkit berdiri dari posisi tidurnya, dan menarik sebelah tangan Gintoki hingga jatuh terduduk di sampingnya. "Kau akan selalu di sampingku, kan? Walau apapun yang akan terjadi nanti?"
Gintoki mengerjap. Kali ini dia benar-benar tidak bisa membaca pikiran Hijikata. Ketika bibirnya baru saja akan terbuka untuk berkata, Hijikata tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan.
"Gin..."
"Ya?"
Gintoki menunggu dengan sabar begitu dia mendengar Hijikata menarik napas panjang. Tadinya dia mengira Hijikata akan mengatakan sesuatu yang serius, tapi yang keluar dari bibir sang pangeran neraka itu malah—
"Sepertinya kau tambah gendut," tangan kanannya yang bebas memegang timbunan lemak di pinggul Gintoki, "di bagian ini."
Dan yang terjadi setelah itu adalah—Hijikata terkapar di pasir pantai dengan kedua pipi yang membekas dengan lima jari Gintoki.
.
. .
Hijikata masih belum merasakan kantuk meski jam digital di atas meja nakas sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Diliriknya Gintoki yang sejam lalu sudah tertidur sambil memunggunginya, sebelum dia merangkak turun dari atas tempat tidur.
Setelah sempat mondar-mandir di dalam kamar, Hijikata akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Tepat begitu dia baru melangkah keluar, pintu kamar di sampingnya juga terbuka, dan Tatsuma juga melangkah keluar. Keduanya saling berpandangan.
"Kebetulan sekali," Tatsuma menarik pintu kamar hingga kembali tertutup. "Ayo, bicara di luar."
Hijikata sempat tercenung, sebelum dia mengangguk.
"Jawab dengan jujur," mulai Tatsuma. "Tadi Gintoki sudah mengatakannya. Apa benar, ada alasan lainnya kenapa kau kabur dari dunia neraka?"
Hijikata membisu. Tak menyangka kalau Gintoki yang dia percayai akan menjaga rahasianya, pada akhirnya mengatakannya hal tersebut. "Jika kubenarkan, apa kau masih akan tetap membawaku kembali ke dunia neraka?"
Tatsuma berdecak, "Jawab saja!"
Hijikata kembali membisu. Kali ini dia memandang ke arah lain. "Ya, benar."
"Siapa dia?" kejar Tatsuma. "Apa dia orang yang kukenal?"
"Itu tidak penting," dengus Hijikata, sebelum dia menoleh dan menatap Tatsuma. "Misalkan, kau yang berada di posisiku. Apa yang akan kau lakukan?"
Sekarang, balik Tatsuma yang tiba-tiba membisu.
.
. .
"Gara-gara kau, kita jadi terlambat!"
"Memangnya kita sudah terlambat?"
Sang werewolf hanya menggeram tanpa menghentikan langkah kakinya yang menyurusi koridor panjang tanpa jendela. Sementara yang berjalan beriringan di sampingnya, sang vampire terus memasang wajah tak berdosa.
Kedua makhluk itu akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kembar besar yang dijaga oleh dua pengawal di samping pintu.
"Kami kemari untuk bertemu dengan Tuan Putri Otae," kata sang werewolf dengan nada serius.
Kedua pengawal itu mengangguk hampir bersamaan, sebelum membuka pintu. Mempersilakan kedua tamu tuan putri mereka untuk masuk.
"Kenapa kalian datang terlambat, hm?" Suara sinis sang tuan putri langsung terdengar dari sofa panjang tempat dia merebah seperti Cleopatra.
Sang werewolf sontak berlutut dengan satu kaki, diikuti sang vampire. "Maafkan atas keterlambatan kami, Tuan Putri Otae. Kami bersedia menerima hukuman atas keterlambatan kami," kata sang werewolf mewakili suara partner-nya.
"Kalian beruntung karena aku sedang tidak ingin memberi hukuman," sepasang matanya menatap kedua bawahannya itu bergiliran, "Aku memanggil kalian berdua kemari untuk kuberi perintah."
Sang werewolf dan sang vampire saling melirik lewat ekor mata begitu sang tuan putri sengaja memberi jeda.
"Kalian berdua harus bisa membawa Pangeran Toshi kembali ke dunia neraka. Kalau tidak—" sang putri melanjutkan dengan sudut bibir yang terangkat angkuh, "—nyawa kalian sebagai gantinya."
.
.
.
Bersambung...
Jeanne's notes:
Terima kasih bagi yg sudah meninggalkan apresiasi di Bab 12:
Reiran kateshiro; LYX99; Ushijima Rio; Hijikata Rinki.
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di Bab 14~ :)
