.

.

.


Disclaimer :

Detective Conan © Aoyama Gosho

Warning :

OOC, latar tempat pindah-pindah, kata berbelit-belit dan segala kekurangan lainnya.


Amuro melakukan apa yang dipikirkannya kemarin. Ia berdiskusi dengan anggota perwakilan lembaga yang lain tentang situasi Rena yang sekarang sedang disekap oleh Vermouth. Pada perkembangannya, semua anggota diskusi sepakat untuk tetap melaksanakan rencana penyerangan yang telah disepakati sebelumnya. Mereka bahkan menyuruh Amuro untuk tetap melakukan keinginan dari Vermouth untuk menghadiri pertemuan yang akan dilaksanakan malam nanti. Selain itu, mereka juga menasihati Amuro agar tidak perlu terlalu memikirkan nasib Rena / Kir yang ditahan oleh Vermouth. Hal ini tentu saja memancing emosi dari Amuro. Tapi untungnya, Shinichi berhasil meyakinkan dan menenangkan Amuro.

"Kau tenang saja, Amuro san. Selama rencana yang telah disepakati ini tetap berjalan, kita akan tetap mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan Rena san. Dan aku sendiri yang akan menjamin hal itu," kata Shinichi.

~OOO~

Shinichi menjelaskan sedikit perubahan pada rencana yang telah disepakati. Jujur saja ia tidak memprediksi tentang tindakan Vermouth yang menahan Rena. Tapi tidak apa-apa, lagipula rencana itu cukup dinamis untuk keadaan saat ini.

Setelah acara diskusi selesai, para peserta rapat segera pulang untuk mempersiapkan diri menjelang penyerangan ke markas Black Organization nanti malam. Walaupun begitu, ada juga yang langsung menuju ke hutan untuk melihat keadaan yang ada di sana.

~OOO~

Di hutan

Sebagian pasukan sudah bersiap di hutan tempat markas BO berada. Mereka memantau keadaan markas BO dari kejauhan dengan menggunakan teropong. Seperti yang sudah dibicarakan pada rapat 2 hari yang lalu, pengamanan yang dilakukan oleh anggota BO untuk acara ini benar-benar ketat. Setiap orang yang memasuki kawasan markas BO diperiksa identitasnya kecuali untuk para penjaga. Mereka hanya diharuskan menunjukkan semacam ID Card, setelah itu baru dipersilakan masuk.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pasukan yang datang ke tempat itu bertambah. Hal ini memang telah direncanakan agar tidak menarik perhatian dari para anggota BO yang melakukan patroli di sekitar markas BO. Ketika para pasukan di rasa sudah lengkap, pemimpin penyerangan (yang dipegang oleh Shuichi Akai) mulai melakukan briefing.

"Terima kasih untuk semua yang telah hadir di sini. Seperti yang kita ketahui, hari ini kita akan melakukan penyerangan ke gedung yang ada di sana. Gedung itu adalah salah satu markas dari Black Organization, sebuah organisasi kriminal yang besar jadi harap berhati-hati untuk nantinya. Jangan melakukan hal yang ceroboh ! Apa kalian mengerti ? Tanya Shuichi pada seluruh pasukan yang ada di sana.

"Siap mengerti."

"Baguslah kalau begitu. Untuk strategi penyerangannya, akan kita bagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari pasukan FBI, CIA, dan sebagian pasukan Kepolisian akan menyerang dari pintu depan. Sedangkan kelompok kedua yang terdiri dari pasukan PSB dan sisa dari pasukan kepolisian akan menyerang dari pintu belakang. Kita baru akan masuk bila lampu di gedung itu sudah mati semua. Itu merupakan tanda bagi kita untuk menyerang. Jangan lupa untuk memakai kacamata night vision saat menyerang. Mungkin itu saja dulu. Apa ada pertanyaan ?" Tanya Akai.

Tidak ada yang mengangkat tangan untuk bertanya, sehingga Akai melanjutkan perkataannya.

"Jika tidak ada yang bertanya, mari kita menuju ke posisi penyerangan yang berada di dekat gedung itu." Kata Akai yang langsung dipatuhi oleh semua pasukan.

~OOO~

Sementara itu...

Amuro menghadiri pertemuan anggota inti BO di lantai 7, gedung markas yang akan dijadikan target penyerangan. Perasaan was-was menghantui Amuro sejak awal ia duduk di ruangan rapat ini. Pasalnya, ia sedari tadi mendapatkan tatapan menyelidik dari Gin dan juga tatapan mengintimidasi dari Vermouth. Selain itu, hal lainnya yang membuat Amuro khawatir adalah kehadiran Rum dan Anokata di ruangan tersebut yang menandakan kalau topik pembicaraan yang akan dibahas kali sangat penting.

Ngomong-omong soal Anokata dan Rum, Amuro baru kali ini melihat wajah asli mereka berdua. Anggota BO yang lain juga sama dengan Amuro kecuali Vermouth. Ia sudah mengenal siapa itu Anokata.

Anokata ternyata memiliki penampilan yang tidak terduga. Ia merupakan seorang pria yang berumur sekitar 55-60 tahunan (setidaknya itu menurut perkiraan Amuro). Dari wajahnya sudah terlihat kalau ia mempunyai darah campuran karena mukanya tidak mirip orang Jepang pada umumnya. Untuk tambahan, ia juga memiliki kumis yang cukup panjang.

Sedangkan Rum, perawakannya tidak jauh beda dari gosip yang beredar di wilayah internal BO. Ia memiliki badan yang tegap untuk ukuran pria berumur 50 tahunan, rambut yang sudah memutih dan memakai sebuah kacamata dengan 2 frame yang berbeda warna. 1 frame biasa dan satunya lagi frame berwarna hitam yang Amuro yakini digunakan untuk menutupi luka pada matanya.

Amuro mulai menunggu kesempatan untuk melaksanakan rencana dari Shinichi. Ia melirik ke arah jam tangannya.

'Sudah saatnya acara dimulai,' batin Amuro.

Pukul 21.00

Acara diawali dengan sambutan dari Anokata. Ia mengucapkan beberapa hal termasuk tujuannya mengundang semua anggota inti BO di sini. Tujuannya adalah untuk merayakan keberhasilan BO selama beberapa tahun terakhir. Benar-benar tujuan yang tidak diduga oleh Amuro. Ia pikir pertemuan ini untuk membahas hal-hal penting seperti misi atau sejenisnya.

Setelah sambutan selesai, acara berikutnya adalah makan-makan. Para anggota BO yang hadir di tempat itu, dijamu dengan makanan dan minuman tingkat tinggi atau bisa dibilang mewah. Amuro tidak memakan jatah makanan yang disuguhkan. Ia masih khawatir dengan keamanan dari makanan dan minumannya. Bukan tidak mungkin, Vermouth telah memasukkan racun ke dalam makanan atau minumannya tersebut.

Tindakan Amuro untuk tidak memakan jatah makanannya, membuat ia mendapat tatapan aneh dari anggota BO lainnya. Amuro lalu memikirkan jawaban untuk mengelak jika ada yang bertanya. Ketika ia sedang sibuk dengan pemikirannya, semua lampu yang ada di ruangan itu tiba-tiba mati.

'Waktunya menjalankan rencana.' Batin Amuro.

Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dan menuju ke lantai 5. Seperti rencana dari Shinichi yang diberitahukan kepada Amuro melalui pesan, sebelum ia berangkat menghadiri pertemuan ini.

Rencana dari Shinichi :

Setelah listrik dari gedung sudah berhasil dimatikan, keluarlah dari ruangan itu dan pergi ke lantai 5. Di salah satu lorong di lantai itu, kau akan menemukan seseorang yang mempunyai wajah yang mirip denganku. Temui dia. Jangan takut dia ada di pihak kita. Untuk langkah selanjutnya, dia akan membantumu menemukan ruangan tempat Rena disekap.

~OOO~

Di lain tempat...

Akai melihat lampu di gedung itu sudah mati. Ia memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang.

"Itu tandanya. Ayo semuanya serang !" Perintah Akai.

Semua pasukan bergerak maju dan mulai menyerang. Seperti dugaan, para penjaga tidak menduga akan diserang ketika keadaan gelap seperti ini. Dengan mudah, pasukan Akai bisa menerobos pintu depan. Hal yang sama juga terjadi pada pasukan PSB dan Kepolisian yang dengan mudah menerobos masuk pintu belakang dan sekarang menuju ke lantai 2.

Setelah selesai mengatasi para anggota BO yang ada di lantai 1, Akai menyuruh pasukannya untuk berhenti sejenak. Ia memikirkan strategi yang akan digunakan untuk selanjutnya.

'Jika memang keadaan terus seperti ini, hanya dibutuhkan waktu yang sebentar untuk meringkus para anggota inti BO yang ada di lantai 7, tapi bila mereka punya generator listrik cadangan maka akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai lantai 7 karena para anggota BO bisa kembali melihat posisi kami. Ketika kami selesai dengan para penjaga ada kemungkinan Big Boss dan Rum sudah melarikan diri dari atap dengan jalur udara. Apa yang sebaiknya dilakukan ?' Pikir Akai dengan keras.

Ia melihat keadaan sekeliling dan tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

"Baiklah. Sekarang... Kudo, Sherry, Jodie, dan Camel masuklah ke lift yang ada di sana. Lift itu akan mengantar kalian sampai ke lantai 6. Setelah sampai, segera cari Big Boss dan Rum. Jangan biarkan mereka kabur dengan menggunakan jalur udara. Kalian mengerti ?" Kata Akai sambil menunjuk sebuah lift kecil yang ada di ujung kanan ruangan itu.

"Baiklah, aku mengerti. Kau bisa mengandalkan kami." Balas Camel.

Shinichi, Shiho, Jodie, dan Camel langsung menuju ke lift. Setelah lift itu naik, Akai segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak lagi menuju lantai berikutnya.

~OOO~

Di ruang pertemuan

Gin menyalakan handphone nya untuk menyinari daerah yang ada di sekitarnya. Ia berjalan menuju ke jendela yang ada di ruangan itu dan membuka kordennya. Membiarkan sinar bulan menyinari ruangan tersebut, walaupun cahayanya tidak terlalu terang. Ia mendapat sebuah pesan dari salah satu penjaga lantai 2 dan mulai membacanya. Seketika itu juga mukanya berubah masam.

"Ada apa, Gin ?" Tanya Chianti begitu melihat ekspresi muka Gin yang terlihat kesal.

"Markas ini telah diserang. Para pasukan gabungan telah menerobos masuk hingga lantai 2." Ucap Gin datar. Orang-orang yang ada di situ kaget setelah mendengar ucapan dari Gin.

"Kita tidak boleh membiarkan hal ini begitu saja, kita harus melakukan sesuatu. Chianti dan Korn, pergi ke lantai 3 dan hidupkan generator cadangan. Hadang para pasukan kepolisian yang datang lewat pintu belakang." Perintah Gin

"Ok. Dimengerti." Jawab Chianti dan Korn. Mereka berdua segera turun ke lantai 3 menggunakan lift.

"Vodka, kau cari Bourbon sampai ketemu. Bila sudah ketemu, langsung habisi saja dia," Kata Gin.

"Baik, Aniki. Kau bisa mengandalkanku." Ucap Vodka.

"Vermouth,..." Gin tidak melanjutkan perkataannya karena menyadari Vermouth sudah tidak ada di tempat.

'Cih, wanita itu selalu saja.'Batin Gin kesal.

Gin melangkah menuju almari yang ada di ruang pertemuan itu. Ia memasukkan kode rahasia pada salah satu pintu almari yang terkunci. Selang beberapa detik, pintu itu terbuka dan memperlihatkan isinya yang berupa senjata - senjata api berbagai jenis. Gin mengambil salah satu semi machine gunbeserta amunisinya. Ia menimang-nimang senjata itu sebentar. Bibirnya mengeluarkan seringaian khas.

"Time to nut up or shut up..."

~OOO~

Di lantai 5

Amuro mencari-cari sosok yang dimaksud oleh Shinichi. Amuro menggunakan kacamata Conan yang mempunyai fitur night vision dan zoom untuk menjelajah setiap ruangan yang dilalui. Ia sudah mengelilingi lantai 5 ini dan belum menemukan sosok yang dicarinya. Hingga matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda aneh di depan pintu ruangan yang belum dijelajahinya. Ia mendekat untuk memastikan benda apa itu. Setelah berada pada jarak yang cukup dekat, Amuro akhirnya bisa mengetahui kalau itu adalah tubuh manusia.

'Mungkin seorang penjaga di sini.' pikir Amuro

Ia memastikan denyut nadi orang itu dan ternyata orang itu masih hidup. Ia hanya pingsan. Amuro melewati pintu yang berada di dekat penjaga itu dan ternyata masih banyak lagi penjaga seperti tadi yang semuanya sudah dalam keadaan tertidur. Amuro menyiapkan pistolnya dalam keadaan siaga. Ia berhati-hati dalam melangkah mengikuti lorong tersebut hingga dirinya melihat seseorang sedang berdiri di dekat jendela yang ada di ujung lorong. Cahaya bulan membuat Amuro bisa melihat jelas wajah orang itu. Ia mendekat ke arahnya dan mengucapkan salam.

"Permisi.."

"Akhirnya anda sampai juga. Anda pasti Amuro san kan? Perkenalkan saya Kuroba Kaito. Teman dari Shinichi Kudo." ucap orang itu sambil mengajak Amuro untuk berkenalan.

"Ya. Saya Amuro. Senang berkenalan denganmu." kata Amuro sambil membalas jabatan tangan dari Kaito. Dalam hati Amuro bertanya-tanya apakah orang yang ada di di depannya ini memang hanya sahabat Shinichi atau saudara kembarnya karena wajah dan perawakannya benar-benar mirip Shinichi.

"Baiklah. Kita langsung mulai saja. Sebelumnya, ini peralatan komunikasi untuk anda," kata Kaito sambil menyerahkan sebuah ear phone untuk Amuro.

"Selanjutnya, Detektif itu bilang anda sedang mencari seseorang bernama Rena Mizunashi yang disekap di salah satu ruangan yang ada di gedung ini. Apakah itu benar ?" tanya Kaito.

"Benar. Aku sudah mencarinya di seluruh ruangan yang ada di lantai 6 dan 5 tapi masih juga belum ketemu." kata Amuro.

"Kalau begitu kemungkinannya dia ada di lantai 6 ke atas atau lantai 5 ke bawah. Benar-benar menyulitkan karena banyak sekali ruangan yang ada di gedung ini. Tapi tidak apa-apa. Aku akan membantumu mencarinya Amuro san" ucap Kaito.

"Terima kasih karena sudah mau menolong. Ngomong-omong bagaimana cara kita mencarinya ?" tanya Amuro.

"Kita bisa berpencar untuk mempercepat pencarian. Aku akan mencari di lantai 4 ke bawah sedangkan Amuro-san bisa mencari di lantai 6 ke atas. Kalau aku sudah menemukannya, nanti akan ku beritahu lewat earphone itu." jelas Kaito.

"Baiklah" balas Amuro.

Mereka berdua berpencar untuk mencari Rena. Amuro mulai naik lagi ke lantai 7. Sedangkan Kaito mulai mencarinya di lantai 4.

Ia sudah menyusuri sebagian ruangan di lantai ini setelah ia mematikan pusat listrik yang ada di lantai 3. Jadinya Kaito hanya tinggal menelusuri ruangan yang belum dijelajahinya. Awalnya ia akan memulai dari pintu terakhir yang ia telusuri.

Namun hal itu tidak jadi dilakukan karena ia mendengar teriakan dari seseorang.

~OOO~

"Sialan...!" Rena berteriak putus asa karena sejak tadi ia tidak bisa meloloskan diri dari ikatan tali yang ada di kursi.

Ia sudah mencobanya beberapa kali dan usahanya selalu gagal. Rena sudah lelah mencobanya.

'Andai saja ada orang yang mau membantu,' batin Rena mulai berharap walaupun ia tahu harapan itu sulit terkabul.

Ia mendengar suara pintu terbuka tapi tidak dapat menebak siapa yang datang karena keadaan di daerah dekat pintu sangat gelap. Beruntung ia duduk di dekat jendela yang tidak ditutup kordennya sehingga ia masih bisa melihat keadaan di sekitarnya. Terdengar langkah kaki mendekat hingga akhirnya Rena berhasil melihat orang itu.

"Shinichi Kudo ?" tanya Rena untuk memastikan.

"Maaf, tapi sepertinya anda salah orang. Saya Kuroba Kaito," balas Kaito. Ia sudah maklum kalau ada orang yang memanggilnya Shinichi.

Kaito melepaskan ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Rena.

"Terima kasih, Kaito." ucap Rena.

"Sama-sama."

Kaito segera menghubungi Amuro untuk memberinya kabar tentang keberadaan Rena.

"Amuro san, aku sudah menemukan Rena san di lantai 4. Keadaannya baik-baik saja." kata Kaito.

"Syukurlah kalau begitu. Aku akan segera ke sana." Sahut Amuro.

Tepat setelah keduanya mengakhiri pembicaraan, lampu-lampu di lorong-lorong mulai menyala kembali walaupun redup.

"Gawat. Mereka sudah menyalakan generator cadangannya." Gumam Kaito.

Rena yang mendengar hal itu ingin bertanya pada Kaito, tetapi tidak jadi karena Kaito mendapat panggilan dari orang lain.

"Ada apa Detektif ? Kau ingin aku pergi ke lantai 3 untuk membantu pasukan dari Kepolisian yang sedang kesulitan ?" Tanya Kaito.

"Ya. Mereka sedang kesulitan menghadapi para penjaga di lantai 3 karena ada 2 sniper yang membantu para penjaga itu," jelas Shinichi.

"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Jawab Kaito.

Kaito menatap ke arah Rena.

"Rena san, aku harus pergi sekarang. Kau tunggu saja di sini. Amuro san akan segera datang ke sini." Kata Kaito.

"Jadi Amuro masih hidup ?" Tanya Rena.

"Ya, dia masih hidup." Jawab Kaito.

Rena menghela nafas lega begitu mendengar jawaban dari Kaito. Dalam hati ia bersyukur karena Amuro masih diberi keselamatan.

"Kalau sudah, saya pamit pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi, Rena san." Kata Kaito sambil melangkah menuju ke pintu.

"Sampai jumpa."

~OOO~

Amuro sedang menuruni tangga sampai lantai 6. Ia lega sekaligus senang begitu mendengar kabar dari Kaito yang mengatakan kalau Rena sudah ditemukan dan keadaannya baik-baik saja.

Amuro berhenti berjalan ketika ia sudah hampir sampai di ujung lorong lantai 6 karena seorang pria berbadan besar sedang berdiri di sana sambil mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah Amuro. Pria itu adalah Vodka.

"Mau pergi ke mana, Bourbon ? Lawanmu sekarang adalah aku." Ucap Vodka.

Amuro mengeratkan pegangan pada pistol yang dibawanya.

'Sepertinya ini tidak akan mudah,' batin Amuro.

~OOO~

Rena menunggu kedatangan Amuro dengan gelisah. Sejak tadi ia mondar-mandir keliling ruangan. Rena baru berhenti ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Rena menoleh ke arah suara dan wajahnya langsung berubah serius begitu melihat siapa yang masuk.

"Rupanya kau telah berhasil meloloskan diri ya, Kir ?" Kata Vermouth.

Vermouth menutup pintunya kembali dan menguncinya dari dalam. Ia membuang kuncinya sembarangan ke ujung ruangan.

"Apa maumu, Vermouth ?"Tanya Rena.

"Kau ingin tahu apa keinginanku ? Keinginanku masih sama seperti kemarin, Kir. Tapi karena Bourbon berhasil melarikan diri dan lolos dari jebakan racun yang aku persiapkan, maka akan ku ubah metode yang ku gunakan untuk memenuhi keinginanku itu. Akan ku buat kau menderita dengan tanganku sendiri." Ucap Vermouth.

"Coba saja kalau kau bisa." Balas Rena sambil menyiapkan kuda-kuda untuk bertarung.

~OOO~

Sementara itu, Akai dan pasukannya berhasil menerobos sampai ke lantai 3. Mereka baru akan naik ke lantai 4, sebelum akhirnya mereka dikejutkan oleh serangan mendadak dari atas tangga. Beberapa orang bersenjatakan SMG menembaki mereka dengan membabi buta. Akai terpaksa memerintahkan pasukannya untuk mundur dan mencari tempat berlindung.

Akai sempat menoleh ke arah orang-orang itu dan matanya sempat tertuju ke arah salah satu orang yang sepertinya adalah pemimpin dari orang-orang itu. Ia sedang memegang semi machine gun dan memakai topi hitam. Orang itu adalah Gin. Sepertinya untuk kali ini kemampuan antara Akai dan Gin benar-benar akan teruji.

Selain itu, Akai juga merasakan firasat jika keadaan teman-teman dan rekannya yang lain, sama seperti dirinya sekarang. Tapi ia tidak terlalu ambil pusing dengan firasat itu karena ia yakin kalau semuanya pasti akan berjuang dengan kemampuan terbaiknya.

Pertarungan untuk menentukan nasib orang banyak baru akan dimulai sekarang.

To be Continue


Author Note

Slow update lagi...sudah 11 hari nggak update

Kali ini aku benar-benar mentok ide untuk melanjutkan fic ini, sudah beberapa hari ini aku berusaha membuat chapter ini dan gagal. Baru kemarin aku dapat ide lagi untuk melanjutkan fic ini dan sepertinya aku akan buat kelanjutannya dalam waktu dekat, agar idenya tidak hilang lagi.

Bagaimana dengan chapter kali ini ? Semoga para pembaca tidak terlalu bingung dalam membaca chapter ini karena latar tempatnya pindah-pindah. Tadinya mau aku buat 1 tempat saja, tapi sepertinya ceritanya tidak akan seru kalau latarnya cuma 1 tempat.

Terima kasih untuk para pembaca yang sudah memberikan review untuk cerita ini.

Akhir kata, review please...