Summary: "Kau tidak lihat papan nama di luar tadi?"
"Memangnya ada yang berubah?"
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan
~Review chap 13~
Vey: Ahhhh gomen terlalu padat yah? Gomenasai.. sebenarnya inti kemarin itu yang waktu di resort sih.. maaf maaf kalo terlalu padat hahahahah
River: wwwww mulai sekarang updatenya tiap hari minggu untuk semua multichap (diusahakan sih) kecuali kalo ada event tertentu diusahakan update pas hari eventnya (semoga gak ada halangan) www. Itu judulnya "Fukagyaku Replace" dari my first story.
Chi-Chan: Semua pertanyaan chi-chan akan terjawab di chapter ini wwww semoga suka yah hihihi
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
CAUSE ITS YOU
(chap 14)
"Okaeri"
Nuansa merah dan hijau mendominasi café tempat dua orang dengan warna rambut hampir sama itu bertemu. Beberapa pelayan di belakang sana berebut hanya untuk membawakan pesanan di meja keduanya. Mereka ingin melihat lebih dekat sosok malaikat yang siang itu mampir ke tempat kerja mereka bersama seorang pria yang lumayan tampan, sedikit membuat mereka minder memikirkan ada hubungan khusus di antara mereka. Tidak hanya pelayan, para pengunjung café itu juga sesekali menelan ludah takjub setiap kali wanita berparas cantik itu memainkan rambut panjang halusnya yang berwana kuning.
"Kulihat kau masih tinggal di tempatnya"
"Aku tidak bisa meninggalkannya setelah semua yang terjadi"
"Berapa?"
"…"
"Aku tanya berapa yang kau mau dengan syarat kau akan meninggalkannya?"
"Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin bersamanya"
"Kau ternyata lebih naïve dari yang kubayangkan."
"Hanya itu yang ingin Anda bicarakan? Maaf jika hanya itu…"
Asseylum mengeluarkan dua foto kecil, sama seperti yang diberikan Yuki kepada Inaho beberapa hari lalu hanya saja ukuran yang ini lebih kecil. Wanita itu mengangguk kepada Slaine, mempersilahkan Slaine untuk memegang sendiri benda itu. "Dari reaksimu sepertinya Yuki-nee tidak memberitahukan kepada kalian. Atau bisa saja dia sudah memberitahukannya kepada Inaho, tapi Inaho menyembunyikan semuanya darimu."
"Apa maksudnya ini Asseylum-san?"
"Itu foto bayi yang tengah kukandung. Bayiku bersama Inaho yang saat ini kau rebut dariku!"
"Tidak.. Ini tidak mungkin! Inaho tidak mungkin melakukannya!" ucap Slaine tersenyum tidak percaya dengan apa yang baru saja dan sedang dilihatnya.
"Kenapa tidak mungkin? Karna dia mencintaimu? Kau lupa? Beberapa waktu lalu dia bahkan melupakanmu! Ku kira kau masih ingat saat dia dengan bahagianya memperkenalkanku kepadamu sebagai tunangannya. Kau fikir tidak ada yang terjadi selama itu? Apa cinta begitu membuatmu buta?"
"Aku tidak mempercayaimu Asseylum-san.. Kau itu.."
"Apa? Karna pekerjaanku sebagai pemilik club malam? Aku akui pekerjaanku itu bukanlah pekerjaan baik. Tapi Aku tidak sebodoh itu menjual diriku kepada lelaki lain yang tidak kucintai. Tidak seperti orang yang kukenal " ucapanya menyindir Slaine karna pekerjaannya yang dulu. "Terserah kau percaya padaku atau tidak. Tapi apa kau tega membiarkan anak ini lahir tanpa ayah? Bukannya kau tau sendiri bagaimana rasanya hidup tanpa ayah kandungmu?"
Malam itu salju kembali turun, beberapa malam terakhir ini salju memang selalu turun. Instensitasnya sedang tapi mampu membuat gundukan lumayan tinggi saat pagi menjelang. Membuat para petugas pembersih salju harus keluar lebih cepat membersihkan salju-salju yang bisa menghalangi jalannya kendaraan. Slaine manatap dinding dan langit-langit kamarnya, benar-benar terlihat seperti langit cerah. Harusnya Slaine bisa merasakan bagaimana rasanya tidur di antara awan-awan berkat kerja keras Inaho mengubah warna kamar itu. Hanya saja apa yang dirasakannya malam itu tidak seperti yang dia harapkan dari dekorasi kamarnya. Kalimat-kalimat Asseylum siang tadi masih terngiang-ngiang. Slaine sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Asseylum. Tapi bagaimana jika semua yang dikatakan wanita itu benar? Bagaimana jika Inaho benar-benar ayah dari bayi yang dikandungnya? Dengan langkah gontai Slaine meninggalkan kamarnya, mengetuk pintu kamar Inaho yang lampunya masih menyala terlihat dari celah di bawah daun pintu.
"Bat? Ada apa?" Tanya Inaho yang langsung membuka pintu kamarnya. Sedikit khawatir melihat Slainenya masih belum tidur di jam selarut itu. Slaine sendiri tidak berbicara, hanya memeluk Inaho dalam diam menenggelamkan kepalanya di pundak Inaho. Inaho yang sedikit bingung mengajak Slaine masuk ke kamarnya, merapikan sedikit tempat tidurnya sebelum mempersilahkan Slaine tidur di sana. "Hei.. Ada apa?" tanya Inaho sekali lagi, kali ini dia duduk tepat di samping Slaine yang tengah berbaring menatapnya dan masih diam membisu. Jari tangannya menyisir sayang surai-surai kuning milik Slaine. Slaine masih belum mau berbicara, sekarang orang itu malah mengalihkan pandangannya ke meja kerja Inaho yang terlihat penuh dengan tumpukan berkas-berkas dan komputer yang masih menyala. "Itu bukan kerjaan yang penting. Bagiku kaulah yang penting Bat" ujar Inaho saat menyadari tatapan Slaine yang menyuruhnya menyelesaikan pekerjaannya.
"Tadi Aku bertemu Asseylum-san"
"….." Inaho diam, memandang tepat ke mata Slaine yang terlihat sedikit berawan.
"Dia memperlihatkanku dua buah foto"
"….." Inaho masih diam
"Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku Orenji? Kenapa kau menyembunyikannya?"
"Tidak ada yang kusembunyikan Bat"
"Kau tau apa yang kumaksud Orenji. Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku tentang keadaan Asseylum?"
"Karna itu tidak ada hubungannya dengan kita Bat"
"Tapi Asseylum bilang…"
"Kau lebih percaya padanya atau padaku?" Mereka kembali diam, tenggelam dalam fikirannya masing-masing. Inaho masih menyisir rambut Slaine, menatap lekat kepada wajah kusut Slaine yang terlihat sedang memikirkan banyak hal. Sementara itu Slaine menatap kosong ke arah jendela kamar Inaho yang hordenya sedikit tersingkap menampilkan kepingan-kepingan salju yang masih turun dari langit. Mereka berdua jatuh tertidur, Inaho yang duduk bersandar di kepala tempat tidur tangan kanannya masih di antara helai-helai pirang Slaine, sementara tangan kirinya memegang satu tangan Slaine. Sedangkan Slaine tertidur dengan posisi menyamping menghadap Inaho, dia bahkan menangis tanpa mengeluarkan suara dalam tidurnya.
…..
Tatapan kosong Slaine dan bulir-bulir bening dari manik hijau kebiruannya jatuh begitu saja, membasahi jari jemarinya yang tengah memotong-motong sayuran. Rumah bernuansa orange itu terlihat lebih sepi, sejak tadi tidak ada percakapan yang terjadi di antara Inaho dan Slaine padahal mereka berada di dalam ruang yang sama. Inaho melipat kedua lengannya di dada, bersandar di mulut pintu dapur memperhatikan setiap gerak gerik kecil dari kekasihnya. Slaine sendiri bukannya tidak tau atau tidak menyadari keberadaan Inaho. Hanya saja, si pirang itu tidak tau harus berbicara apa kepada Inaho. Fikirannya masih dipenuhi berbagai macam hal. Dia bahkan tidak sadar tengah mengiris tangannya sendiri sampai Inaho melempar jauh-jauh pisau yang tengah digunakannya itu. Darahnya mengalir, beberapa tetes jatuh tepat di atas papan pemotong yang sejak tadi dia gunakan.
"Bat, kau. Apa yag kau lakukan?" tanya Inaho panik setelah mengambil dan melempar pisau yang dipegang Slaine tadi
"Eh? Are? Apa yang kulakukan?" jawab Slaine sembari bertanya kepada Inaho. dia menatap kosong jarinya yang masih terus mengeluarkan darah. "Orenji, apa yang kau lakukan?" tanya Slaine saat menyadari Inaho telah menghisap jarinya untuk menghentikan pendarahannya.
"Bukan aku yang melakukannya Bat. Kumohon percayalah padaku. Aku tidak pernah menyentuhnya."
"Apa kau akan meninggalkanku Orenji?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jika anak itu lahir, Apa kau akan bersamanya dan meninggalkanku Orenji?"
"Sudah berapa kali kukatakan? Itu bukan anakku, bagaimana mungkin kau kutinggalkan untuk anak yang bahkan bukan darah dagingku? Bahkan jika itu anakkupun aku tidak akan meningalkanmu." Inaho kembali memeluk Slaine, begitu pula Slaine yang semakin mengeratkan pelukannya kepada Inaho. Membayangkan mereka akan terpisah lagi membuatnya seperti kembali kehilangan tujuan hidupnya.
"Kau janji tidak akan meninggalkanku kan?"
"Aku berjanji"
~O~O~O~O~O~O~O~
Bau obat-obatan dan antiseptik menyatu di udara. Beberapa perawat berpakaian putih sibuk mondar-mandir memeriksa keadaan pasien dari kamar ke kamar. Pagi itu Slaine datang ke rumah sakit tempat Harklight dirawat. Slaine menatap nanar kepada Harklight yang sedang diperiksa di ruang perawatannya. Dua orang perawat tengah membantu Harklight yang terlihat menahan sakitnya. Beberapa kali memuntahkan sesuatu ke tempat aluminium yang dipegang salah satu perawat itu. Harklight semakin kurus, kulitnya semakin menempel di tulangnya membuatnya seperti seorang yang kekurangan gizi. Rambut hitamnya yang dulu lumayan tebal sudah tidak ada lagi, membuatnya harus memakai sebuah topi berbahan rajutan untuk mengganti rambutnya yang gugur karna kemoterapi. Setelah beberapa saat kedua perawat itu meninggalkan ruangan Harklight, menyisakan dua orang yang dulunya bersahabat itu.
"Slaine mau apa lagi ke sini? Mau memamerkan bahwa kalian sudah kembali bersama?"
"Harklight, aku tidak bermaksud…"
"Setelah Slaine tidak datang di hari pernikahan kita? Slaine fikir Harklight akan percaya?"
"Maafkan aku Harklight. Aku tidak bermaksud seperti itu. Harusnya dari awal aku tidak menerima ajakanmu menikah. Harusnya dari awal kau tidak kujadikan pelarian untuk melupakan Inaho.. harusnya …"
"Semuanya sudah terjadi Slaine. Sekalipun kalian tidak kembali bersama, kurasa Slaine juga tidak akan mau menemani orang yang hampir mati sepertiku."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu Harklight! Kau tidak akan mati! Kau akan sembuh!"
"Kau benar Slaine. Sebentar lagi aku pasti akan keluar dari penderitaan menahan sakit ini. Tapi apa kau tau? Sakit yang kuderita tidak seberapa dibandingkan sakit yang sudah kau ciptakan. Melihatmu berada di depanku seperti sekarang saja membuat sisa umurku berkurang cepat."
"Harklight. Aku benar-benar minta maaf"
"Slaine bahkan tidak salah. Untuk apa meminta maaf?"
Mereka berdua kembali tidak bersuara, Slaine menunduk menatap ruang kosong di antara kedua kakinya. Dia masih ingin meminta maaf kepada Harklight, tapi bukannya itu percuma? Harklight bahkan tidak menganggapnya sudah melakukan kesalahan yang membuatnya harus meminta maaf. Sementara Slaine tenggelam dalam fikirannya, Harklight masih menatap kosong ke arah jendela. Dia bahkan sudah memaafkan Slaine, tapi tetap saja tindakan Slaine waktu itu masih menimbulkan bekas yang sangat dalam di hatinya. Saat dia berfikir akan menghabiskan akhir hidupnya yang hanya tinggal beberapa hari itu, Slaine justru memilih orang yang sempat melupakannya untuk beberapa waktu. Dadanya seperti terbakar, nafasnya sesak, kepalanya berputar pandangannya mulai menggelap. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Slaine yang berlari ke arahnya dengan wajah panik. Berteriak memanggil namanya, dan mengguncang-guncang tubuhnya saat berdiri di sisi tempat tidur. Pria jangkung itu sedikit melirik telapak tangannya –berlumuran darah– yang sejak tadi menutup mulutnya, batuknya tidak berhenti semakin parah dari sebelumnya. Jarak pandangnya semakin sempit, hanya sosok Slaine yang dilihatnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
….
Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala. Tubuh ringkih di pelukannya masih bergetar, menahan tangis yang sejak tadi masih belum berhenti. Sudah hampir dua jam pria bersuari kuning itu menangis, setidaknya begitulah menurut Inaho.
Inaho menatap dua buah gelas berbeda warna di depannya, orange adalah miliknya dan biru muda adalah milik Slaine. Susu coklat di dalamnya sudah dingin, tidak lagi mengepulkan asap seperti beberapa menit lalu. Sudah setengah jam Slaine berpamitan ke rumah sakit menjenguk Harklight. Dia sebenarnya ingin ikut –khawatir jika lagi-lagi Slaine bertemu dengan Asseylum– , namun Slaine melarangnya. Slaine bahkan belum memberikan kabar apa-apa kepadanya. Inaho hanya bisa meremas ponselnya tidak sabar, fikiran-fikiran buruk kembali menghantuinya apalagi mengingat sifat Slaine yang gampang bersimpati kepada orang lain. 'Bagaimana jika Slaine kembali kepada Harklight saat melihat kondisi orang itu?' dari semua fikiran negatifnya, fikiran itulah yang paling mengganggunya. 'Apakah kali ini Slaine kembali akan meninggalkannya?' Terlalu sibuk dengan fikiran itu, Inaho bahkan tidak sadar jika ponselnya tengah berbunyi. Secepat kilat dia mengangkat telpon saat akhirnya sadar mendengar nada khusus untuk panggilan dari Slaine tengah berbunyi. Detik itu juga jantungnya seperti akan meledak mendengar suara Slaine yang menangis. Ucapannya tidak jelas, tapi Inaho cukup yakin ada sesuatu buruk yang sedang dialami kekasihnya itu. Tidak menunggu Slaine menyelesaikan kalimatnya, Inaho berlari ke garasi mengendarai mobil sport orangenya meninggalkan kediamannya. Warna mobilnya cukup mencolok melaju kencang di jalan yang nyaris berwarna putih karna tertutup salju. Dia bahkan nekat beberapa kali melanggar lampu merah membuat pengendara lain terpaksa membunyikan klakson marah dan refleks menginjak rem karna ulah nekat Inaho. Dia sudah tidak memikirkan dirinya, baginya sekarang yang penting adalah cepat bertemu dengan Slaine, mencari tahu apa yang terjadi sampai membuatnya menangis seperti itu.
Hanya sepuluh menit waktu yang dibutuhkannya untuk sampai ke rumah sakit tempat Harklight dirawat. Langkahnya panjang-panjang menyusuri koridor rumah sakit, beberapa perawat yang kebetulan berpapasan dengannya menegurnya agar tidak berlari di koridor karna membahayakan orang-orang yang ada di sana. Namun semua teguran itu tidak ada yang masuk di telinganya. Tubuhnya bergerak begitu saja memeluk Slaine yang tengah duduk bersimpuh menatap lantai di bawahnya tepat di depan ruang operasi. Ponsel putihnya tergeletak begitu saja tepat di sampingnya. Isak si pirang kembali pecah saat sadar Inaho ada di dekatnya, mendekapnya dalam agar si pirang berhenti menangis.
Akhirnya lampu merah itu mati, tanda bahwa operasi di dalam sana baru saja selesai. Dengan susah payah dan tentu saja dibantu Inaho untuk berdiri, Slaine menghadang dokter yang masih menggunakan masker. Mereka berdua bisa melihat awan gelap yang muncul di iris dokter itu, dari balik kacamata yang dia gunakan. Slaine sudah mengeleng tidak percaya, bahkan sebelum dokter itu mengucapkan sesuatu. Sementara itu, Inaho memegang pundak Slaine.
"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami" ucap sang dokter menunduk lalu meninggalkan Inaho dan Slaine.
"Tidak. Tidak. Ini bohongkan Inaho? Katakan aku sedang bermimpi! Ini bohongkan?" Slaine memukul-mukul dada Inaho tidak percaya. Inaho bungkam, hanya bisa memeluk Slaine saat dua orang perawat mendorong tempat tidur beroda yang di atasnya terbaring tubuh kaku Harklight.
~O~O~O~O~O~O~O~
Area pekuburan sudah sepi, orang-orang yang tadi berdatangan sudah pulang meninggalkan berpuluh-puluh tangkai lili putih di depan foto tersenyum si pria jangkung. Slaine masih di sana, di tempatnya sejak tadi duduk sambil memeluk kedua lututnya. Dia sudah tidak lagi menangis, mungkin air matanya sudah kering, hanya menyisakan mata sembab. Tepat di sampingnya, Inaho juga masih sama. Memegang payung untuk melindungi Slaine dari salju yang mulai berjatuhan. Inaho berjongkok, menyamakan tingginya dengan Slaine untuk memperbaiki syal putih yang melilit leher pria dengan surai kuning itu.
"Ayo kita pulang. Dia pasti tidak ingin kau jatuh sakit karna berlama-lama di tempat ini" ajak Inaho menatap foto di depan mereka. Slaine tidak menjawab hanya mengangguk lemah saat merasakan telapak tangannya yang digenggam Inaho menghangat.
"Aku turut berduka Slaine-kun"
Suara wanita itu mengalihkan pandangan Slaine yang sejak tadi masih belum melepas tatapannya dari foto Harklight. Slaine kembali gemetar, kesedihannya karna ditinggal oleh Harklight sahabat terbaiknya masih belum hilang. Saat ini Asseylum malah muncul di hadapannya, wajah angkuhnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang berduka. Tangannya mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit. Sadar akan ketakutan Slaine, Inaho langsung memegang tangan pucat itu. Mengaitkan jari jemarinya di antara ruas jari Slaine. Menatap datar kepada wanita di hadapannya layaknya orang yang tak saling mengenal.
"Ayo Bat, Kau bisa sakit jika terus berada di tempat seperti ini."
"Inaho-san. Aku tidak apa-apa jika kau mengabaikanku! Tapi bagaimana dengan anak kita yang ku kandung ini?"
"Anak kita? Aku bahkan tidak mengenalmu"
"INAHO-SAN!"
"Ayo, Bat"
Slaine berjalan melewati Asseylum, tidak hanya bergandengan tangan. Slaine bahkan memeluk lengan Inaho, memberitahukan kepada Asseylum bahwa dia tidak akan melepaskan Inaho lagi, tidak untuk kedua kalinya. Bahkan tidak untuk anak yang dikandung Asseylum. Merasa diabaikan dan direndahkan, Asseylum akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi, dengan gelap mata wanita itu mengambil pisau lipat yang memang selalu ada di dalam tasnya. Menusukkanya tepat di tengkuk Slaine sampai semua badan pisau itu tenggelam, warna merah langsung membanjiri tempat itu, diikuti oleh tubuh Slaine yang jatuh tepat di arena pekuburan. Asseylum tertawa membuang ludah tepat ke arah Slaine yang tengah bersimbah darah. Inaho tidak lagi sempat memberi pelajaran kepada Asseylum, terlalu panik melihat darah dari leher Slaine yang terus saja mengalir.
…..
Mega kembali menampakkan dirinya, dengan lembut Inaho merapikan surai kuning Slaine yang kembali memanjang dan menutup kelopak mata Slaine yang belum juga mau menunjukkan lagi manik hijau kebiruan di dalam sana. "Sudah saatnya kita memotong rambutmu lagi Bat" Kulitnya menjadi lebih pucat, tidak pernah lagi terkena sinar matahari. Berbagai macam alat medis menempel di tubuhnya sejak tujuh tahun lalu.
"Hari ini sudah hari ke 2650 kau tidak berbicara padaku. Apa kau membenciku?" Inaho memegang tangan kiri Slaine, menciumnya selembut mungkin agar tidak menyakiti tubuh yang terlelap itu. "Tadi dokter kembali menyarankanku untuk melepas semua alat ini darimu. Merelakanmu, agar kau tidak tersiksa lebih lama. Hei Bat, apa aku menyiksamu? Apa tindakanku ini membuatmu sakit?" Inaho kembali mengelus pipi Slaine. Kembali menanyakan hal sama entah yang keberapa ratus kalinya selama tujuh tahun terakhir. "Maafkan aku Bat, aku tidak akan bisa merelakanmu. Bahkan jika seumur hidupku aku harus berbicara denganmu yang tertidur seperti ini, itu sudah cukup bagiku." Wajahnya terlihat murung, membuatnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Rahang bawahnya mengeras, tanda bahwa selama tujuh tahun ini dia benar-benar melalui hal berat dalam hidupnya. Tapi sekali lagi, semua rasa sedihnya hilang saat menatap wajah tentram Slaine yang tertidur.
"Maaf tuan Kaizuka, kami harus melakukan pemeriksaan sore kepada Tuan Troyard" seorang perawat menginterupsi Inaho yang saat itu masih tidak berhenti menatap Slaine seperti hari-hari sebelumnya. Inaho mengangguk, memegang tangan Slaine sayang sebelum mengambil tempat di ujung terjauh ruangan agar dia tidak mengganggu para perawat itu. Tepat saat tangannya akan melepaskan genggamannya, Inaho dan perawat yang ada di sana melihat tangan Slaine sedikit bergerak. Balas menggenggam tangan Inaho. Inaho memandang perawat yang ada di sana tidak percaya, ekpresi pertama yang dikeluarkan Inaho setelah tujuh tahun mereka mengenal pria bersuari coklat itu.
"Bat, kau mendengarku? Kau mendengarkukan?" Inaho tidak sabar menciumi tangan kekasihnya itu, lupa akan kehadiran para perawat yang memandangnya sedikit bingung.
"Tuan Kaizuka, bisa saja itu hanya kebetulan. Tenanglah sedikit" ucap salah satu perawat itu tidak tega mengganggu kebahagian Inaho. "Kami akan memanggil dokter untuk memastikan keadaan tuan Troyard. Jadi kami mohon tenanglah sedikit."
…..
Inaho berdiri sambil merentangkan kedua tangannya lebar tepat di ujung dua besi yang dijadikan Slaine sebagai pegangan. Wajah putih Slaine tampak memerah, hasil dari terlalu memaksakan diri. Nafasnya sedikit putus-putus saat akhirnya berada di pertengahan jalan. Saat dia kembali melihat Inaho yang masih tidak merubah posisinya, tenaga Slaine yang tadinya habis kembali terisi penuh. Di sampingnya seorang dokter ahli terapi tidak berhenti memberinya semangat agar kali ini Slaine bisa sampai ke ujung dengan usahanya sendiri. Tiga langkah lagi Slaine akhirnya sampai di tempat Inaho, namun keringat di tangannya membuat pegangannya pada besi menjadi licin. Kurang dari sedetik sampai dirinya akan mencium lantai rumah sakit keras, untunglah Inaho dengan sigap menangkapnya. Slaine tertawa dengan wajah bersemu merah saat menyadari posisi memalukannya, jatuh di dekapan Inaho.
"Okaeri Bat"
"Tadaima Orenji. Maaf membuatmu menunggu sangat lama"
"Melihatmu seperti sekarang sudah lebih dari cukup membayar semua waktu yang kuhabiskan menunggumu" Inaho mencium kening Slaine sayang, memegang bekas luka tepat di leher belakang Slaine.
Inaho terlihat panik, ikut berlari mendorong tempat tidur beroda yang digunakan Slaine. Di depannya seorang dokter juga terlihat tidak kalah paniknya,saat melihat leher Slaine yang masih mengeluarkan darah. Inaho hanya bisa menggenggam liontin milik Slaine, berdoa tidak berdaya meminta kepada Tuhan agar Slaine baik-baik saja. Sebuah pesan singkat yang diterimanya sedikit mengganggu konsentrasinya. Dengan malas dia membuka pesan yang ternyata dari kakaknya itu.
From: Yuki
Title: [untitle]
Subject: Kami berhasil menangkap Asseylum, akan kami pastikan dia tidak akan lolos begitu saja. Kuharap Slaine-kun juga baik-baik saja.
Inaho mematung, tidak bergerak sedikitpun menunggu operasi di dalam sana berjalan lancar. Kembali dia menyebut nama Slaine berulang kali dengan suara nyaris tidak terdengar. Beberapa jam lalu, mereka berdua masih di rumah meminum susu coklat hangat. Mereka masih bertengkar kecil karna Slaine tidak mau memakai cincin yang sudah disiapkan Inaho, tidak sampai mereka benar-benar sudah menikah.
Dokter yang sejak tadi berada di dalam ruangan yang sama dengan Slaine akhirnya keluar, mengajak Inaho ke ruangannya untuk membicarakan hal yang cukup penting.
"Dia kehilangan banyak darah membuat otaknya sempat mati sesaat , terlebih tusukan itu melukai sarafnya. Dengan sangat menyesal, mungkin dia tidak akan sadar selamanya."
"Apa maksud anda dokter?"
"Dia masih hidup, hanya saja dia tertidur. Jika kami mencabut alat-alat medis di tubuhnya, dia akan meninggalkan dunia ini. Pilihan ada di tangan anda. Ingin mengakhiri penderitaannya atau menjaganya di dunia ini dengan keadaan koma."
"Lakukan apa saja untuk membuatnya sadar, akan kubayar berapapun"
"Ini bukan soal uang Tuan Kaizuka. Ini tentang keinginannya sendiri untuk hidup. Ada banyak kasus koma, mereka bisa bangun dalam beberapa jam, hari, bulan bahkan bertahun-tahun. Itu semua tergantung pasiennya."
"Kalau begitu buat dia berada di dunia ini. Aku tidak peduli dia sadar atau koma, asalkan aku bisa melihatnya itu sudah cukup."
"Tapi bukannya itu hanya akan menyiksanya?"
"Kau membawaku ke sini untuk bertanya pendapatkukan? Maka lakukan apa yang kukatakan"
Inaho meninggalkan ruangan itu, kembali menemui Slaine yang tertidur lelap di ruang ICU. Inaho menciumi tangan putih Slaine lembut "kata dokter kau tertidur, tidur yang sangat lelap. Aku tau kau membutuhkan istirahat Bat, tapi jangan terlalu lama tertidur, banyak hal yang menunggu kita bukan?"
"Rumah ini sama sekali tidak berubah orenji, masih terlalu berwarna orange". Slaine memandang takjub pada rumah Inaho. Di belakangnya Inaho mendorong pelan kursi roda yang diduduki Slaine memasuki rumah mereka.
"Berarti kau bodoh karna tidak memperhatikan perubahannya"
"Haah?"
"Kau tidak lihat papan nama di luar tadi?"
"Memangnya ada yang berubah?"
"Cepatlah sembuh dan lihat sendiri" Inaho kembali mendaratkan kecupannya di surai kuning Slaine "Kamarmu juga tidak berubah, yah sekalipun kau sama sekali tidak lagi membutuhkannya"
"A-apa maksudmu?"
"Mulai malam ini kau akan tidur di kamarku. Akhirnya setelah lebih dari tujuh tahun kita akan tidur bersama lagi. Kau tau bagaimana rasanya tidur di rumah seluas ini seorang diri selama tujuh tahun?"
"Mana kutahu. Aku kan tidak pernah punya rumah seluas ini"
"Kalau begitu mulai sekarang kau akan punya. Hanya saja tidak sendiri karna kau akan bersamaku"
"Bo-bodoh! Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu Orenji!"
"Aku benar-benar merindukan wajah malumu itu, Bat. Ayo kita masuk, kau harus banyak makan makanan bergizi seperti telur." Inaho kembali mendorong kursi roda itu. Slaine tertawa memegang lengan Inaho yang ada di belakangnya. Dengan wajah sedikit merah, Slaine menarik lengan Inaho. membuat Inaho terpaksa harus berdiri di samping kursi roda Slaine. Sebuah kecupan ringan di daratkan Slaine tepat di bibir Inaho.
"I love you Orenji'
"Love you too Bat"
…..
"Ka..Ka… Ya.. Mama, cara membaca plat nama ini bagaimana?" Tanya seorang anak berumur 4 tahun kepada ibunya yang berjalan di depan rumah bernuansa orange yang cukup besar itu.
" 'Kaizuka Troyard', sampai di rumah nanti mama akan menceritakan kisah mereka yang tinggal di dalam sana. Kisah tentang perjuangan menemukan orang berharga dalam hidup, Kisah tentang pengorbanan harta bahkan waktu yang sangat lama. Kisah yang nyaris seperti dongeng pengantar tidur" Wanita berumur 29 tahun itu mengusap sayang kepala anaknya, menuntunnya kembali ke rumah mereka.
~END~
OWARI
Akhirnya tamat.. tamat~~~ /sebar bunga/ maksa banget yah endingnya? Gomenasai.. jadi kalau ada yang nanya 'terus Asseylumnya gimana?' Oke saya jawab di sini Asseylumnya itu mati, dia bunuh diri di penjara. Tadinya mau buatin sedikit partnya, tapi diri ini terlalu malas (gamparan keras). Dan anak itu bukan anaknya Inaho! Seingatku di cerita ini Inaho hanya satu kali nyium Asseylum itupun dia gak niat jadi bisa saya pastikan itu bukan anak Inaho! Inaho tidak akan pernah mengkhianati Slaine selama yang buat cerita itu saya! (kecuali kalau Inahonya di jebak itu cerita lain lagi /kemudian ingat salah satu oneshot ahh sudahlah) itu anak orang entah siapa, saya juga gak peduli (digampar fans Asseylum). 'Lah anak yang lewat sama mamanya itu siapa?' itu orang lewat doang, biar pada tau plat nama di rumah itu yang tadinya cuma Kaizuka jadi 'Kaizuka Troyard '. Semoga gak ada hole plot selama cerita ini publish (berdoa). Saya benar-benar berterima kasih kepada yang selalu menyempatkan diri membaca, dan mereview. Dan kepada beberapa yang bahkan menambahkan saya di list pertemanan mereka di twitter dan line (berhubung hp saya masih rusak saya jadi jarang buka line kecuali lewat pc /itupun kalo lagi ada kuota modem doang/ jadi mohon maaf jika slow respon). Terima kasih banyak. Semoga ke depannya kalian tidak bosan membaca cerita-cerita yang saya buat. Sampai jumpa di story lainnya. Sekali lagi terima kasih banyak (kasih kissu satu-satu) hahahaha chuuuuuu~~~~
