(-^Masashi Kishimoto©Naruto^-)

Rate: M, T, K+, K. author menggunakansemuajenis rate, jadijanganheran

Warning: BL, YAOI, TYPO(s), EYD, OC, OOC, Adegankasar, danbeberapa kata-kata yang kasar,

Pair SasukeUchiha X NarutoUzumaki

Don't like Don't read

JAIL

Rantaibelenggupengikatkehidupan, mengikatkupadasebuahtakdirtakterlihat. Iniahawaldarikehidupanku.Sebuahperasaan, yang merumit, yang takakutahukapanbermula, dankapanberakhirnya. Takperduli, berapatahunakuhidup, danberapa kali akudihidupkan. Ada rasa gelisah yang menghantuiku. Dan saatitu, akubarumenyadari, kalautakdir yang mengikatkuituadalah CINTA.

"Kau tak apa Hinata?" Hinata menangis. Dipeluknya Kiba kuat, membuat napas Kiba tecekak.

"Aku takut Kiba-kun. Hiks..."

DEGK...

Sebuah perasaan aneh mengembang di dada Kiba, dia merasa hangat saat memeluk gadis itu, dan itu juga dirasaan Hinata, dia merasa nyaman di pelukan Kiba.

RencanaDijalankan

Kiba sedang mondar-mandir di depan sebuah perkarangan rumah yang cukup luas. Dengan ragu dia mendekati sebuah pintu kayu darisebuah rumah yang lumayan besar, tangannya sudah gatal ingin mengedor pintu itu, tapi entah kenapa keberaniannya menghilang.

"Onii-chan?" Kiba tersentak saat dia mendengar suara seorang anak perempuan, saat dia membalikkan tubuhnya dia melihat seorang anak perempuan berambut panjang yang sedang menyandang ranselnya lengkap dengan seragam sekolah, menatapnya dengan penuh curiga.

"Nii-chan siapa?"Tanya anak itu dengan polosnya. Kiba sedikit merunduk untuk melihat lebih jelas anak itu.

"Kau siapa?" Alis anak perempuan itu terangkat.

"Aku Seharusnya yang bertanya dengan Nii-chan." Kiba tersenyum. Digaruknya tengkuknya sambil terkekeh.

"Aku Inuzuka Kiba, Hinata-nya ada?"

"Hinata-Neechan? Ada, Nii-chan teman Nee?"Kiba mengangguk. Anak perempuan itu berjalan melewati Kiba, membuka pintu tak dikunci itu.

"Bisa aku bertemu dengannya?"

"Akan aku panggilkan, Nii-chan tunggulah disini."Anak itu masuk dengan santainya kedalam rumah itu.

"Ano, apa Hinata baik-baik saja? Soalnya tadi dia tak masuk kuliah."Anak perempuan itu berhenti berjalan, ditatapnya Kiba dengan sorot mata yang datar.

"Kelihatannya tidak, setelah pulang kuliah kemarin Nee-chan langsung demam, tadi Tou-chan menyuruhnya untuk istirahat di rumah saja." Kiba mengangguk mengerti. Anak perempuan itu kembali masuk ke dalam rumahnya.

(-^Thy^-)

"Nee-chan, aku pulang."Hinata langsung menyamperi suara yang memanggilnya itu. Seorang bocah perempuan yang tersenyum kearahnya.

"Hanabi-chan."

"Ada teman Nee-chan tuh di luar."Hinata mendekat ke Hanabi.

"Siapa?"

"Gak tau." Hanabi mengangkat malas Hinata berjalan menuju ruang tamu, dia terkejut saat melihat Kiba yang sedang menunggu di depan pintu.

"Ki-Kiba-kun? Kenapa tak masuk?" Kiba Cuma tersenyum.

"Tadi aku di suruh menunggu di luar oleh anak perempuan."Jawab Kiba jujur.

"Masuklah." Hinata menyuruh Kiba Masuk, Kiba menuruti ajakan Hinata.

"Nee-chan, aku pergi dulu ya Nee-chan." Kiba dan Hinata melihat Hanabi yang sudah rapi dengan pakaian rumahnya, dia berjalan dengan tergesa-gesa.

"Mau kemana, Hanabi-chan?"

"Ada janji dengan teman." Setelah berkata begitu, Hanabi sudah menghilang dari hadapan Kiba dan Hinata.

"Ano, dia siapamu, Hinata?" Hinata langsung memalingkan wajahnya kearah Kiba.

"Dia. Adik perempuanku. Ki-Kiba-kun."

"Oh~ eh, bagaimana keadaanmu? Tadi kenapa tak masuk kuliah? Teman-teman menanyakanmu. Apa karena peristiwa kemarin?" Hinata menggeleng. Dia menunduk dalam. "Uchiha itu keterlaluan ya?"

"Tidak kok, ak-aku yang salah, Sa-Sasuke-sama tidak salah. Itu salahku yang dengan berani mendekati Naruto-kun." Kiba tersenyum mendengarnya. Wanita ini berhati besar. Batin Kiba.

(-^Thy^-)

"Neji...!" Neji tersentak saat dia dipanggil oleh Sasuke.

"Sasuke-sama."

"Kemarilah." Neji bejalan mendekati Sasuke, dilhatnya Sasuke yang asik dengan majalanya sedang duduk santai di halaman belakang kediam Uciha itu.

"Ada apa, Sasuke-sama?"

"Kemarin aku bertemu sepupu perempuanmu, dia bersama dengan Naruto di warnet Akatsuki. Aku hampir saja membunuhnya kemarin."

"Apa?" Neji terkejut, dia tak mau Hinata terluka, Hinata adalah adik sepupu yang sangat disayangi Neji seperti adiknya sendiri, sama halnya dengan Hanabi. Dia tak mau mereka berdua terluka.

" tapi untungnnya aku ingat kalau dia sepupumu. Aku minta kau beritau dia untuk tidak mendekati Naruto lagi. Dan satu hal, aku tak mau menyakiti orang-orang terdekatmu, bagaimanapun, kau orang yang sangat aku percayai, aku tak mau kau membenciku." Neji terperanga, setelah berkata seperti itu, Sasuke pergi begitu saja.
"Sasuke-sama." Desis Neji sambil tersenyum. "Arigato."

.

.

.

"Hinata, dimana kau?"

BRUAK...

Hinata dan Kiba yang asik mengobrol kaget saat mereka mendengar dobrakan pintu pagar kediaman Hyuuga dari luar, segera Hinata dan Kiba berlari mengamperi pelaku pendobrakan.

"Neji-Nii."

SET...

Kiba tercengang saat dia melihat secara langsung Hinata dipeluk oleh seorang laki-laki berambut panjang yang dikuncir diujungnya.

"Kau tak apa-apa? Aku dengar kau bertemu dengan Sasuke-sama, apa kau dilukainya?" Hinata menggeleng, pertanyaan beruntun itu membuatnya tak tau harus menjawab apa.

"Hinata, dia siapa?" Tanya Kiba ragu, Neji melirik Kiba dengan mata yang menyipit. Mata tanpa pupil itu menatap Kiba dengan tanda tanya besar.

"Dia kekasihmu?" Neji menunjuk kearah Kiba. Bertanya dengan polosnya ke Hinata.

"Itu..., aku Cuma, ano-dia te-temanku, Neji-Nii." Neji tersenyum mendengarnya. Di elusnya kepala Hinata lembut.

"Tak aku sangkah kau sudah sangat besar. Setidaknya kau tak mendekati Naruto-san lagi. Hei kau, jaga sepupuku baik-baik. Aku mengerti kalian tak mau bicara tentang hubungan kalian, tapi aku senang."

"?" Kiba cengok, Hinata blushing, bagai mana tidak, Neji mengira mereka berpacaran, padahal tidak.

"Siapa Namamu?" Tanya Neji langsung, Kiba yang sekarang sudah duduk di ruang tamu rumah kediaman Hyuuga itu dengan seoang laki-laki didepannya dengan santai mengobrol selayaknya teman yang sudah kenal lama.

"Aku Kiba, kau?"

"Neji. Sudah lama pacaran dengan Hinata?" Kiba terlihat malu. Hinata sudah menghilang dari tadi, dia bilang akan membuatkan minuman untuk Kiba dan Neji di dapur.

"Kami hanya teman satu kampus, aku kemari Cuma mnjenguknya. Kau sendiri, bagai mana bisa kenal dengan Sasuke?"

"Dia majikanku, aku mengetahui keadaan Hinata darinya." Mata anjing Kiba membesar, tak disangkah, kalau sepupu Hinata adalah kaki tangan Uchiha Sasuke.

"Ba-bagai mana bisa?"

"tadi Sasuke-sama yang langsung memberi tahuku."

"Maaf Neji-nii, karena aku Neji-nii pasti dimarahi Sasuke-sama." Neji tersenyum maklum saat Hinata menarukan Tiga cangkir teh hangat, lalu dia duduk disamping Neji.

"Tak apa. Kau mengenal Sasuke, Kiba?" Kiba mengangguk.

"Dia yang membuat Naruto menderita, aku pernah hampir dibunuh olehnya, Sasuke orang yang kejam."

"Kau salah, dia sebenarnya orang yang baik, hanya saja dia terlalu arogan. Aku direklut Kakashi-san untuk menjadi penjaga di rumah Uchiha, dan menjadi kaki tangan Sasuke-sama, selama 3 tahun aku selalu menjadi bawahnnya, pertama kali aku ke sana, Sasuke-sama anak yang baik dan penyayang, dia sangat mengayangi kakak laki-lakinya. Tapi lama kelamaan Sasuke-sama berubah. Setelah perubahan sika dari Itachi-sama, Sasuke-sama menjadi orang yang pemberontak. Dia tak segan-segan melakukan apapun yang dia inginkan." Jelas Neji sambil meminum sebagian tehnya.

"Termasuk melukai orang lain?" Tanya Kiba, memotong pembicaraan Neji barusan.

"Benar, Sasuke-sama itu seperti orang yang kesepian, tak jarang aku melihatnya menangis. Sorot mata Sasuke-sama sangat tajam tak seperti dulu saat aku baru bertemu dengannya. Dulu dia itu sangat ramah dan ceria, tapi sekarang dia berubah, tapi semenjak Naruto-san masuk kedalam kehidupan Sasuke-sama, aku melihat perubahan, sedikit demi sedikit Sasuke-sama kembali seperti dulu, walau jarang tapi setidaknya dia sudah mulai tesenyum saat bersama Naruto-sama."

"Neji-nii. Kenapa kau bicara seperti itu kepada kami." Tanya Hinata dengan gugup

"Supaya kalian tau, kalau Sasuke-sama tak seperti yang kalian pikirkan. Selain itu aku merasa kalau keluarga itu sedikit aneh."

"Aneh? Maksudnya?"

"Kakashi-san menyuruhku untuk menjaga Sasuke-sama, tapi dia malah menjadi kaki tangan Itachi-sama, terkadang dia menjalankan perintah Itachi-sama untuk memata-matai Sasuke-sama, memberi tau keburukan Sasuke-sama ke pada Itachi-sama."

"Kakashi itu sebenarnya siapa?" Kiba bertanya antusias, dia sedikit tertarik dengan cerita ini.

"Dia bawahan Itachi-sama, aku pernah disuruh Sasuke-sama mengawasinya. Sayangnya aku ketahuan, aku kira aku 'kan dibunuh, tapi dia malah menyuruhku pergi dan bilang agar aku harus selalu menjaga Sasuke-sama dengan nyawaku sendiri. Apa itu tak aneh? Aku kira dia membenci Sasuke-sama yang selalu berifat buruk padanya."

"Kelihatannya memang ada yang tak beres. Ah sudahlah, aku mau pulang dulu, aku besyukur Kau tak apa-apa Hinata." Hinata merona mendapatkan perhatian seperti itu dari Kiba.

"Te-terima kasih, Kiba-kun."

"Iya, Neji aku senang bisa bicara banyak denganmu. Tapi aku harus pulang."

"Hn, aku mengerti. Kiba, bisa aku titip adikku padamu saat dia berada di kampus, soalnya aku tak bisa menjanganya terus." Kiba mengangguk. Lalu pergi meninggalkan kediaman Hyuuga.

(-^Thy^-)

TRIT...TRIT...

Seorang wanita yang terlihat sudah lumayan berumur berlari dengan tergesa-gesa. Rambut panjang berwarna Merah itu terlihat berantakan. Wanita itu baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah, dan dia diganggu oleh suara deringan telpon rumahnya. Di angkatnya gagang telpon itu, menunggu sebuah suara menyapanya dari seberang sana.

"Mosi-mosi, benar ini kediaman keluarga, Namikaze?"

"Iya, ini siapa?" Jawab Kushina.

"Imouto?" Kushina kenal suara itu, dia tersenyum saat mendengar namanya dipanggil

"Nii-chan?"

"Masih seperti dulu, masih memanggilku Nii-chan, seharusnya panggil namaku saja."Kushina terkikih.

"Ada apa menelpon? Tumben sekalI Nii-chan menelpon?"

"Aku hanya kangen dengan kau dan keluargamu. Bagai mana keadaan Naruto dan Minato?"

"Kami sekeluarga baik, Nii-chan sendiri? Aku khwatir dengan Niichan, sudah lama aku tak mendengar kabar Nii-chan. Apa kau akan ke Konoha untuk melihat kami?" Raut wajah Kushina menjadi muram, dimainkannya tali telponnya. Hatinya sangan gursang.

"Maaf, aku masih belum bisa kembali k eKonoha, lagi pula di sini aku merasa lebih tenang, bukannya Naruto sering mengunjungiku setiap libur semester."

"Iya, tapi aku terkadang susah ingin beretemu Nii-chan, Konoha ke tempat Nii-chan sangat jauh, butuh sehari semalam untuk sampai kesana, aku ingin Nii-chan kembali Ke Konoha, setidaknnya dengan begitu Nii-chan bisa bekumpul dengan kami."

"Aku hanya ingin hidup tenang, lagi pula aku tak mau membawa kalian ke dalam masalahku."

"Nii-chan, sebenarnya orang itu sudah meninggal sejak lama, maaf aku baru mengasih tahu mu, aku tak akan pernah keberatan dengan hubungan kau dan orang yang kau cintai itu."

"Kau tau dari mana kabar itu?"

"Masalah meninggalnya orang itu, aku mendengar desas-desusnya. Nii-chan, kapan-kapan baliklah ke Konoha. Aku menunggu."

"Hmm, baik. Sudah dulu ya, aku banyak pekerjaan. Nati akan aku hubungi lagi."

"Iya, jaga dirimu baik-baik, Iruka-nii."

"Iya, kau juga."

TIT...

Hubungan itu terputus. Sejenak Kushina memandang gagang telpon itu.

"Nii-chan. Aku selalu ingin yang terbaik untukmu."

(-^Thy^-)

Naruto berjalan sedikit tergesa di sebuah koridor sekolah. Dengan langkah cepat dia menuju ruang guru di sekolah itu.

"Maaf, apa saya bisa bertemu Asuma-san?" Tanya Naruto ke seluruh penghuni ruangan itu, seorang laki-laki yang sedang merokok berjalan mendekati Naruto.

"Saya Asuma, Anda Naruto-san? Itachi-sama sudah memberi tau saya kalau Anda akan datang hari ini." Asuma mengulurkan tangannya ke depan Naruto, Naruto membala salaman itu.

"Aku Uzumaki Naruto, salam kenal, mulai seminggu kedepan akulah wali Sasuke Uchiha." Asuma tertawa mendengarnya. Naruto terlihat bingung.

"Ada yang lucu?" Tanya Naruto tersinggung, karena Asuma mentertawakannya.

"Tidak, aku hanya terkejut saja, aku kira Anda sudah dewasa, ternyata masih mudah. Oh iya, ayo duduk, Naruto-san!" Asuma berjalan masuk kedalam sebuah ruangan, di bukanya pintu agar Naruto bisa masuk, lalu dipersilahkannya Naruto untuk duduk di sebuah sofa yang lumayan besar.

"Begini, aku disuruh Itachi-sama menanyakan Sasuke, bagaimana cara belajarnya, prestasinya, dan kelakuannya?" Naruto menjelaskan maksud kedatangannya, sebenarnya Asuma sudah tau, tapi dia tak ambil pusing.

"Prestasi Sasuke sudah baik, lagi pula Sasuke anak yang cepat sekali mengerti, otak jenius Uchihanya menurun dengan baik, hanya saja Sasuke bermasalah dengan kelakuan dan sikapnya pada Guru. Banyak guru yang merasa tak diperhatikan saat mengajar, selain itu, Sasuke sering melukai guru-gurunya, sering membolos. Tapi akhir-akhir ini aku melihat peningkatan pada sikapnya, dia sudah mau masuk dengan rajin, walaupun ujung-ujungnya kekantin saat guru menjelaskan pelajaran. " Naruto menghela napas, tidak menyangkah, Sasuke senakal itu. dia mengira anak itu tak banyak bermasalah, ternyata Sasuke biang onar juga di sekolahnya.

"Aku akan coba menasehatinya, dan memberi tahu Itachi-sama, terimakasih atas pemberitahuannya, Asuma-san."

"Itu sudah kewajibanku sebagai wali kelas. Naruto-san, kalau boleh tau, kau siapannya Sasuke? Kenapa Itachi tak menyuruh Kakashi-san yang datang, soalnnya biasanya Itachi-san lah yang datang untuk bertanya tentang keadaan Sasuke disekolah."

"Kakashi-san? Dia sering kemari?" Asuma mengagguk

"Iya. Dia sering kemari? Ada yang salah?"

"Ah, tidak. Saya permisi dulu, Asuma-san." Setelah berjabat tangan, Naruto pergi meninggalkan Asuma.

(-^Thy^-)

"Kakashisering kemari menanyakan Sasuke? Kalau memang Kakashi sering kemari, kenapa harus aku yang disuruh datang ke sekolahan ini?" Naruto melamun sambil berjalan, dia tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang di koridor sekolah itu.

BUAK…

"Maaf, aku tak sengajah." Naruto menunduk-nunduk meminta maaf dengan orang yang baru saja di tabraknnya. Sama-sama tak terjatuh, tapi tubuh Naruto lumayan merasakan nyerih.

"Dobe?"

"Heh?" Naruto mendongak, mendapatkan sepasang onyx yang menatapnnya dengan bingung "Teme?" balasnya, dia terkejut saat tau siapa orang yang ditabraknnya tadi. Uchiha Sasuke kekasih sekaligus orang yang harus bertanggung jawab atas alasan Naruto membolos di jam kuliahnnya hari ini.

"Sedang apa kau di sekolahanku? Mau memata-mataiku?" Naruto mengembungkan pipinya, ditariknya wajahnya sehingga tak menatap Sasuke.

"Kau kira aku penguntit. Aku lagi menjalankan tugas dari Itachi, dia menyuruhku menjadi wali mu selama seminggu."

"Tak biasannya."

"Aku juga bingung."

.

.

.

(-^di tempat yang sama^-)

"Sasuke-kun? Naruto-nii." Ujar perempuan berambut pink dari kejauhan.

"Jadi ini maksudnya, Itachi-sama." Perempuan berambut pink itu berjalan mendekat kearah Sasuke dan Naruto.

"Sasuke-kun. Kencan yuk?" Perempuan itu memeluk Sasuke dari belakang, di peluknya pinggang Sasuke erat. Membuat Naruto cemburu.

"Sakura, apa-apaan kau?" Sasuke berusaha melepaskan pelukan Sakura. Di lepaskannya tangan gadis itu dengan kasar.

"Kita kencan seperti biasa." Jawabnya, hijau bening milik Sakura melihat Naruto yang sedang memasang wajah masam kearahnnya. Dia tersenyum kearah pemuda itu. "Naruto-nii, sedang apa disini?" Naruto terkaget saat Sakura menyapanya.

"Sakura-chan, gak ada apa-apa kok, kebetulan Itachi-sama menyuruhku memantau keadaan Sasuke saja." Jawab Naruto apa adanya. Sakura kembali memeluk Sasuke. Kali ini dengan mesra

"Sasuke-kun, ayolah, kita kencan. Kau ini denganku kenapa begitu sih, manislah sedikit."

"Ano, Sakura-chan, kau pacar Sasuke?" Sasuke menjeliti Naruto saat bertanya seperti itu, dia tak mengira kalau Naruto akan bertanya seperti itu.

"Memangnnya kenapa, Naruto-nii?" Tanya Sakura, seolah dia sama sekali tak tau kalau Naruto dan Sasuke sepasang kekasih.

"Gak, hanya saja kalian sdikit mesrah." Jawab Naruto dengan nada sebal. Sasuke yang memiliki otak jenius Cuma menyeringai, dia tau Naruto cemburu, dan itu berarti Naruto memang menyayanginya.

"Iya, kami pacaran, sudah pernah tidur berdua lagi."

"Hei-" begitu Sasuke hendak mengeluarkan protes, Sakura segera mencium Sasuke tepat di bibirnya, membuat tubuh Naruto menegang tak lama kemudian melemas.

"Maaf, mungkin aku menganggu kalian, aku permisi." Naruto segera meninggalkan Sasuke dan Sakura yang masih bergandengan. Sasuke sudah berteriak memanggil Naruto, tapi tangan Sakura yang menahannya membuatnya tak bisa bergerak.

"Lepaskan aku, Sakura!" setelah mendapatkan satu death glare Sasuke, Sakura langsung melepaskan pelukannya, Sasuke segera mengejar Naruto, dia tau kalau telambat sedikit saja, hubungannya bisa berantakan dengan Naruto akibat salah paham.

"Oi~, Dobe, tunggu!" Naruto berhenti tepat didepan motornya, dia berbalik dan melihat Sasuke yang berlari mengejarnya. Tak lama kemudian Sasuke berhenti dan langsung memeluknya. Naruto yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu langsung mengerjab matanya beberapa kali, tak percaya apa yang dirasakannya, dilihatnya sekeliling pakiran di sekolah itu, hanya beberapa siswa yang lewat sambil terbengong melihat pemandangan langkah itu.

"Apa-apaan kau ini, kau tak lihat, ini tempat umum, Teme!"

"Aku tau, tapi aku ingin." Sasuke tambah mengeratkan pelukannya, tak dihiraukannya Naruto yang sudah memohon untuk dilepaskan. Putus asa, Naruto mengijak kaki Sasuke, membuat Sasuke dengan reflek melepas pelukannya.

"Kau sudah gila ya? aku tak mau jadi bahan tontonan di tempat ini." Gursang Naruto, dia berbalik dan segera menaiki motornya.

"Dobe, tunggu!"

"Apa lagi?"

"Kau cemburu?"

"Dengan Sakura? Tidak tuh, lagian dia 'kan pacarmu, kenapa aku harus cemburu." Setelah memasang helemnya, Naruto menghidupakn mesin motor dan tancap gas dari tempat itu.

(-^Thy^-)

Sudah seminggu Naruto menjadi wali Sasuke, dan sekarang saatnya dia melaporkan apa yang dia dapat dari Asuma-sensei pada Itachi.

"Informasi apa yang kau dapat dari, Asuma?"

"Dia bilang kelakuan Sasuke sudah lumayan, lagi pula dia sudah sedikit menurut walau masih harus di paksa."

"Wah~jadi benar, adikku sangat menurut padamu dibandingkan padaku." Itachi menyeringai, dilihatnya Naruto yang mengangguk ragu.

"Saya mau memberitau anda sesuatu, apa boleh, Itachi-sama?"

"Katakan!"

"Saya mau membatalkan semua perjanjian kita, dan saya ingin anda tau kalau saya benar-benar menyukai Sasuke. Saya Cuma mau anda mengizinkan saya tetap di Konoha. Lagi pula saya tak mau meninggalkan teman dan kuliah saya." Itachi yang tadinya duduk, berdiri dengan santai lalu berjalan ke arah Naruto dan menepuk bahunya.

"Hei~ kau yang berjanji, jadi jangan diingkari. Lagi pula aku sama sekali tak menyukai hubungan kalian, apa untungnya buatku kalau aku mengizinkan kalian pacaran, HAH~?"

"Itu…, aku…,"

"Aku rasa semuanya sudah selesai, pergilah dari hadapanku!" Naruto mengikuti perintah Itachi, dia berjalan meninggalkan ruangan itu.

"Brengsek, sudah aku duga. Ini pasti terjadi. Dasar Haruno tak berguna." Itachi mengepal tangannya, mengebrak meja dengan keras. Diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan, mata onyxnya menangkap ponsel hitamnya yang tergeletak di atas meja di sudut ruangan ambilnya ponsel itu dan menekan beberapa nomor di sana.

"A-ada apa, Itachi-sama."

"Haruno, dimana kau? Apa yang kau lakukan hah? Kau sama sekali tak berguna, sekarang datang ke mensionku, aku mau bicara denganmu."

"Baiklah."

Hubungan itu terputus. Itachi semakin frustasi dengan apa yang dia hadapi, dia tak tau bagai mana cara melepaskan Sasuke dari Naruto dan menurut padanya.

"Ini jalan terakhir, kalau ini tak berhasil, akan aku lenyapkan anak itu." Itachi tertawa tak terkontrol.

(-^Thy^-)

Haruno Sakura, gadis malang ini sekarang sedang berdiri di depan Itachi yang menatapnya dengan murkah.

"Mau bicara apa lagi kau, hah?"

"Ano…, aku minta maaf Itachi-sama, aku benar-benar tak tahu bagai mana melakukannya." Pena yang ada di tangan Itachi terbelah dua. Sakura meneguk ludahnya dengan pasra. Dia pasti mati sekarang. Itulah pikirannya.

"Dasar itu punya otak gak? Cobalah berfikir, aku heran bagai mana kau tak bisa menjalankan tugas semudah itu."

"Maaf 'kan saya."

"Maaf? Ceh, kau benar-benar tak berguna, Cuma merayu Sasuke saja tak becus, kau Cuma cukup merayunya, aku heran, kenapa kau begitu bodoh sih, menyesal aku menyuruhmu melakukan ini semua, kalau ujung-ujungnya tak berhasil." Sakura hampir menangis saat itu, digenggamnya jepolnya dengan erat, hanya untuk mengusir rasa takutnya saat ini. Kakashi memandang Sakura dengan perasaan ibah, dia kasihan pada gadis itu, gadis sebaik Sakura harus menerima hal seperti ini.

"Aku benar-benar tak bisa. Maaf. Hiks…hiks…,"

Itachi tercekak, Sakura yang menangis membuatnya bingung. Kali ini posisi berputar, bukan Sakura yang merasa bersalah, tapi Itachi yang merasa bersalah melihat perempuan itu menangis, dia merasa menyesal karena telah mengasari gadis itu.

"Sudahlah, sekarang aku mau Tanya, kenapa kau tak bisa melakukannya?" nada bicara Itachi melembut, Kakashi sedikit terkejut mendengarnya, jarang sekali dia mendengar nada bicara seperti itu selama 3 tahun ini.

"Karena, Sasuke menatapku seolah ingin membunuhku setiap dia berjalan melewatiku, sebenarnya aku berhasil membuat mereka bertengkar… Hiks, tapi Cuma pertengkaran kecil, Hiks…, maaf Itachi-sama." Itachi berjalan mendekati Sakura yang menunduk tak berani memandangnya. Saat tangan putih Itachi hendak menyentuh kepala pink Sakura, Kakashi sudah terlebih dahulu merangkul Sakura yang terisak takut.

"Sudahlah. Itachi-sama tak marah padamu." Ujar Kakashi.

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, aku bukan anak kecil lagi. Kakashi-san." Kakashi terkikih mendengarnya, dilepasnya rangkulan itu. lalu melihat keadaan Sakura yang terlihat lebih baik, walau masih sedikit terisak.

"Maaf, mungkin aku terlalu kasar padamu." Sakura terkaget saat dia menerima sebuah elusan lembut mendarat di rambutnya, dia mendongak mendapatkan Itachi yang tersenyum kepadanya. Perasaanya menghangat. Wajah Sakura memerah. Bukan hanya Sakura. Kakashi cengok tak mempercayai apa yang dilihatnya. Seorang Uchiha Itachi yang terkenal dingin, tegas dan sangan menjunjung Uchiha itu bisa tersenyum.

"Itachi-sama?" Itachi memandang Sakura dengan serius kembali.

"Apa?"

"Arigato, Itachi-sama." Sakura tersenyum manis kearah Itachi. Dia terlihat sangat baik saat ini, setelah menangis tadi, hijau Sakura yang tadinya mendung sekarang cerah.

"Iya. Kalau tak ada kepentingan lagi, kau bisa pulang."

"Baiklah, aku permisi." Sakura membungkuk, berjalan melewati Kakashi yang memandangnya sambil tersenyum.

"Sakura, apa kau mau aku antar?" Sakura menggelang. Lalu berjaln kembali meninggalkan Kakashi dan Itachi.

"Dia gadis yang manis ya, Itachi-sama?"

"Ternyata kau berfikir begitu juga, Kakashi?"

"Wah~ kau menyukainya?" Tanpa ragu Kakashi menanyakannya dengan Itachi. Itachi tersenyum lalu berjalan mendekati Kakashi.

"Entahlah." Jawab Itachi santai.

(-^Thy^-)

"Kau?" Sakura berhenti saat dia tak sengaja berpas-pasan dengan Sasuke saat menuruni tangga. Sakura menunduk, semenjak seminggu ini Sakura berusaha mendekati Sasuke, dia ingin Naruto cemburu, tapi memang dasar niat pertama Sakura tak ingin merusak hubungan SasuNaru itu. jadinya Sakura tak bisa membuat mereka berpisah.

"Sasuke-kun."

"Sedang apa kau disini?, kau menemui Orang itu? cih, sudahku duga. Ini rencana kalian 'kan? Dasar perempuan tak tau diri, seharusanya kau tak menggangu kehidupanku lagi." Sasuke berujar pedas. Walau sakit, tapi Sakura sudah terbiasa mendengarnya. Mengingat dia sudah pernah menjadi pacar Sasuke, jadi dia tau betul anak ini.

"Maaf. Aku tak bermak_"

"Jangan pernah menemui Naruto lagi, kalau kau masih menemuinya, jangan harap kau akan hidup tenang." Sasuke berlari menaiki tangga meninggalkan Sakura yang terduduk lemas.

"Apa salahku Kami-sama."

.

.

.

.

TBC

Seperti biasa. Maaf kalau ada typo, eyd dan kawan-kwannya.

Balas repyu

-Chary Ai TemeDobe

Makasih sudah merepyu… Shino? Tapi… tapi, Shino kelihatnnya gak ada filing dg Hinata. Kalau ShikaKiba, kelihatannya gak ada deh, soalnya pasangan yaoi nya di fict ini Cuma SasuNaru, ama KakaIru.

-Ukkychan

Makasih sudah merepyu dan sarannya.^^

-icha22madhen

Makasih sudah merepyu. Maaf- maaf kalau Itachi kyak orang gila (dikeroyok FG+FC Itachi), kapan lagi lihat orang ganteng pisikopat (?)

-ichikoyuuki

Makasih sudah merepyu. Makasih sarannya. Nanti Kaka akan ngaku kok kalau dia paman ItaSasu, tapi blumsekarang, dan pasti Happy ending.

-Chiraeru el Zuwet

Makasihs udah merepyu. Makasih sarannya. Mungkin memang akan ada KibaHina deh.

-Vipris

Makasih sudah , Mugi minta maaf sebenarnya mau nulis ItaSaku, bukan ItaNaru, soalnya Mugi perna bilang gak bakal ada pair , itu salah ketik. Makasih sarannya.

-Fujoshi Nyasar

Makasih sudah merepyu. Maaf itu mugi salah ngetik, bukan ItaNaru, kok, maaf benar-benar salah ngetik tuh. (Pundung). Pasti di updet yang imagination.

-muthiamomogi

Makasih sudah merepyu imouto. Pertama sih rada pusing juga masangi Konan dengan Dei, tapi waktu Nee lihat gambarnya di go**le. Kalau di lihat pake pipet mereka cocok kok.(Dibomdeidara).Lagian di fic ini pasangan yaoi Cuma SasuNaru ama KakaIru.

-Anisa Love Sasunaru

Makasih sudah merepyu. Makasih sarannya^^

-Uchiha Uzumaki HatakeHotaru

Maksih sudah merepyu .Maaf updet ? Wah senpai bisa baca pikiran Mugi yak? Memang akan ada sedikit ItaSasu, tapiCuma sedikit.

-Arale L ryuuzaki

Makasih sudah merepyu. Maaf lama dan pendek. Makasih sarannya yak^^

-Fi suki suki

Makasih sudah merepyu imouto. Sudah nee updet nih. Hehehe^^

10

Makasih sudah merepyu. Salam kenal^^, pokonya kalau mau tau tunggu aja kelanjutan fic ini *digampar*

-aka yamada

Makasih sudah merepyu. Salam kenal ^^, makasih sarannya, jangan, Itachi gak boleh mate dulu, bisa gak selesai nih fic kalau dia tewas. HOHOHO..

-Szhoka

Makasih sudah merepyu. Maaf gak ada lemon. Hmm, mungkin gak aka nada lemon untuk kedapannya, Ita mau mugi pasangi ama Saku. Soalnya kalau ita yaoi, entar cerita ini bisa berubah. Hehe…

Maksih yang sudah merepyu. Dan sarannya akan mugi tampung (mang apaan?).

Makasih banyak, gak nyangka fic butut kayak gini banyak yang suka.

Sasu: GR lo

Mugi: Biarin

Naru: sudah teme, ayo repyu fic ini…

Mugi: iiya, repyufic Mugiya..*PyukNaru*

Minna maaf kalau ada repyunya yang gak dibalas…

REVIEW PLEASE ^^