Buat jaexi yang minta NC, saya kasih tapi dikiiiiiiiitttttttttttt aja nih... saya kabulkan di chapter ini ^^;
NC gagal tapi -_-
.
.
Title: Always You
Part: 14 -
Author: Shin Min Rin
Twitter: ninanutter
Tumblr: ninanutter116 (dot) tumblr (dot) com
Fandom: TVXQ. DBSK. Tohoshinki
Disclaimer: They belong to SM (Semena-Mena) Entertainment + C-Jes Entertainment
This story is a work of pure fiction
Warning: OOC. Typos. Lemon. Smutt. NC-21. STRAIGHT alias GENDERSWITCH
.
.
Cast:
Kim Jaejoong, 27 (yeoja)
Kim Junsu, 21 (yeoja)
Jung Yunho, 23 (namja)
Park Yoochun, 22 (namja)
Shim Changmin, 19 (namja)
Kim Hyunjoong, 25 (namja)
(Selain tokoh di atas, gendernya tetap)
.
.
"Jae..."
Hyunjoong memandang Jaejoong dengan pandangan mengiba. Untuk acara press conference resmi, yeoja itu mengenakan setelan jas dan rok berwarna krem yang berbaur dengan kulitnya yang seputih salju. Rambutnya digelung rapi dan kali ini dia mengenakan kacamata. Terlihat mirip sekali seperti pekerja kantoran dan bukan seorang idol.
Diamatinya baik-baik wajah Jaejoong yang sekian bulan ini menjalin hubungan dengannya. Mencoba mencari makna dari sepasang mata yang sedang berkilat-kilat karena marah tersebut. Apakah terdapat kesungguhan di dalam diri sang lead vocal. Semudah itukah Jaejoong menjalin sebuah hubungan lalu kemudian memutuskannya.
Wajah Jaejoong terlihat serius. Kedua alisnya bertaut. Sama sekali tidak ada tanda-tanda sedang bercanda. Hyunjoong bahkan merasa perlu mencari kamera tersembunyi untuk meyakinkan bahwa dia sedang tidak masuk dalam sebuah prank show.
"Kamu bukan lagi kekasihku... Kim Hyunjoong..."
Jaejoong mengucapkan kalimat itu dengan perlahan. Kedua mata doe-nya memandang lurus ke dalam mata namja yang ada di depannya. Meyakinkannya.
"Jae..."
Jaejoong mengangkat tangannya ke depan tubuhnya sebagai isyarat supaya Hyunjoong tidak berkata apa-apa lagi. "Kamu mendengar omonganku. Kita sudah putus."
"Be...benarkah?" tanya Hyunjong lagi. Hanya ingin memastikan.
Jaejoong mengangguk dengan mantap. "Ne."
Rasanya tubuh Hyunjoong mulai berkeringat dingin. Jaejoong... Hyunjoong benar-benar menyayanginya. Pengalaman Hyunjoong dengan yeoja tidak banyak. Dia hanya pernah berpacaran satu kali. Itu pun dilakukan sebelum debut karena Hyunjoong sangat sibuk setelah debut sehingga tidak ada waktu untuk menjalin hubungan. Ketika mengenal Jaejoong yang berprofesi sama seperti dirinya, Hyunjoong merasa nyaman karena Jaejoong mempunyai pengertian terhadap resiko profesinya yang mempunyai banyak penggemar yeoja. Jaejoong tidak keberatan. Bahkan waktu itu Jaejoong-lah yang pertama kali memintanya menjadi kekasih. Tapi kini? Jaejoong jugalah yang pertama kali memutuskan hubungan. Hyunjoong menghela napas.
"Apakah... ada orang lain, Jae?" tanyanya hati-hati.
Jeda sedetik sebelum Jaejoong menjawab. "Tidak ada."
"Kamu... yakin?"
"Aku selalu yakin dengan hidupku." Jaejoong bersidekap, seolah menegaskan ucapannya.
Ragu, Hyunjoong bermaksud untuk menanyakan sesuatu yang sudah dipersiapkan sejak dari rumah: apakah Jaejoong melakukan fanservice dengan Yunho. Tapi sekarang semua kata-katanya hanya terkubur dalam jati. Semua pertanyaan tidak ada gunanya lagi. Hanya cukup untuk membuat perih di hati.
Keheningan yang menyesakkan melingkupi mereka berdua. Jaejoong masih memandang Hyunjoong dengan kedua bola matanya yang tertutupi lensa bening.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, sebaiknya aku... Auch!" seru Jaejoong terkejut ketika tubuhnya disentakkan oleh Hyunjoong. Namja itu menenggelamkan wajah di lehernya.
"Le... lepaskan!"
"Tunggu! Jae! Please... kumohon... biarkan aku memelukmu untuk terakhir kali."
Kedua lengan Hyunjoong merangkul erat tubuh Jaejoong. Jaejong memejamkan mata dalam pelukan Hyunjoong. Tidak bereaksi. Tidak membalas pelukan si namja. Kedua lengannya terkulai di kedua sisi tubuhnya. Matanya terpejam. 'Maafkan aku. It had to be done.'
Hatinya terasa kebas. Tidak ada apa pun yang tersisa. Jaejoong terpaksa harus mendorong dada Hyunjoong untuk melepaskan pelukan namja itu. Hyunjoong melepaskan pelukannya dengan tidak rela. Seperti wajah anak anjing yang tersesat. Dalam kodnisi normal mungkin Jaejoong akan tertawa. Tapi kali ini dia berniat untuk sedikit memberikan 'penghargaan' terakhir kepada mantan kekasihnya.
Setelah sedikit mengangguk, Jaejoong kemudian berlalu. Hyunjoong tidak berusaha mengejarnya. Hanya menatap sosok feminin itu menjauh dengan mobilnya. Kedua kakinya terasa digantungi puluhan ton beban. Berat. Setitik air mata di pipilah yang mampu mengungkapkan semua.
.
.
Langit beranjak senja dan berwarna kemerahan. Penerangan pun mulai dinyalakan di mana-mana. Sebuah mobil Audi meluncur dengan mulus di jalanan kota Seoul yang semarak terang benderang dan penuh kendaraan. Yunho, sosok di balik kemudi itu terlihat tidak tenang. Wajah tampannya terlihat gusar. Feeling-nya mengatakan dia sebaiknya tidak pergi dulu setelah press conference. Benar saja. Dia melihat Jaejoong berpelukan dengan seorang namja di basement tempat parkir. Dari kejauhan Yunho bisa mengenali bahwa namja itu adalah Kim Hyunjoong. Rupanya dia belum putus dari namjachingu-nya.
Dadanya seolah disesaki api. Panas. Membara.
Jaejoong miliknya. Hanya miliknya. Semuanya.
"Sial! Dammit!" umpatnya tidak pada siapa-siapa. Dia memutuskan akan menanguuhkan ini dulu karena saat ini mobilnya telah sampai di halaman kantor SM. Setelah parkir, dia masuk melalui pintu khusus artis dan membungkuk kepada security yang sedang bertugas. Kakinya langsung melangkah ke sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas. Ruangan CEO SM Entertainment. Ruangan Kim Youngmin. Yunho menahan napas sebelum mengetuk pintu kaca tersebut.
Tok! Tok!
"Masuk." Sebuah suara berat terdengar dari dalam ruangan. "Duduklah." Kim Youngmin memberi tanda dengan dagunya (?) supaya Yunho duduk di depannya. "Bagaimana?" tanyanya tanpa basa basi.
Yunho langsung blank. Seharian ini dia harus menjawab pertanyaan tentang insiden Jaejoong dari rekan-rekan staf, trainee dan sesama artis SM. Belum lagi menghadapi presscon yang sangat menguras emosi dan image. Dan sekarang Youngmin tanpa pembukaan langsung bertanya tentang sesuatu.
"Tentang apa, Presiden Kim?"
"Tentu saja tentang insiden member-mu, Yunho," Youngmin menekankan kata yang mengandung makna kepemilikan itu.
Hening sejenak.
"Jangan kuatir, Presiden. Semua sudah terkendali. Kami sudah memberikan keterangan di presscon tadi." Yunho berkata dengan wajah datar.
"Bagus. Jangan sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan. Ingat perjanjian kita."
Sang Presiden memang tidak pernah berbasa basi dalam berbicara. Straight to the point. Dan tidak suka dibantah. Jadi jarang ada orang yang bicara panjang lebar dengannya karena semua pembicaraan langsung pada intinya saja. Yunho mengangguk dan keluar ruangan Youngmin. Menyandarkan punggung pada sebuah dinding di luarnya. Menghembuskan napas. Ketika pertama kali terpilih sebagai leader DBSK, dia tidak menyangka akan terlibat dalam urusan seperti ini.
Cukup sudah semua hal ini dalam sehari.
Teringat sesuatu, Yunho langsung menganbil handphone dari dalam saku celananya. Menghubungi seseorang yang merupakan salah satu hartanya yang paling berharga di dunia.
.
.
I need you tonight
I need you right now
I know deep within my heart
It doesn't matter if it's wrong or right
I really need you tonight
Jaejoong membuka pintu apartemennya dengan tergesa-gesa karena bel yang tak kunjung berhenti. Tetangga kadang menjadi sesuatu yang mengganggu, apalagi jika dia sangat ingin beristirahat seperti saat ini meski jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan tidak tidur di dorm dan meninggalkan Junsu sendirian. Paling nanti Yoochun-lah yang akan menemaninya.
Dirinya sendiri sudah siap beranjak tidur. Piama hangat serta kaus kaki dan secangkir coklat panas menjadi teman wajib sebelum tidur.
Jantungnya serasa hampir meloncat keluar ketika melihat siapa yang memencet bel. Sosok Yunho yang tinggi besar seolah memenuhi pintu apartemennya yang kecil. Sosoknya yang mengenakan baju yang sama seperti ketika presscon tadi: kemeja resmi berwarna coklat dan celana putih. Kedua lengannya digulung sebatas siku. Rambutnya coklatnya yang panjang diikat sembarangan. Karena tidak mengenakan make up, Jaejoong bisa melihat dengan jelas bekas luka di pipi kiri Yunho. Tapi itu tidak mengurangi pesonanya, bahkan semakin mempertegas kharismanya.
Sangat tampan. Sangat manly. Banyak diidolakan oleh fans maupun sesama idol.
Dan sangat dipuja oleh Jaejoong meski tidak pernah tersampaikan.
Wajah Jaejoong tiba-tiba memerah. Bagai terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Bibirnya sedikit terbuka tapi tidak ada satu patah kata pun yang bisa keluar. Tiba-tiba gugup dan menggosokkan telapak tangannya ke bajunya.
"I need you."
Tanpa berkata lebih jauh lagi, Yunho membopong Jaejoong ke kamar si yeoja dan meletakkannya di ranjang. Perlahan dibukanya piama sutra itu. Jaejoong tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Wajahnya semakin memerah ketika Yunho membukanya perlahan.
"Sepertinya kamu tahu aku akan datang. Sudah bersiap-siap rupanya, hmmm?"
Jaejoong memicingkan mata, merasa sedikit aneh. Yunho bernapas dengan berat dan berbau sangat tajam. Sebagai seorang pecinta alkohol, Jaejoong bisa menebak dengan tepat bahwa Yunho -yang tidak biasa minum- sedang mabuk berat.
"Tunggu. Kamu mabuk, Yun."
Jaejoong mencekal pergelangan tangan Yunho yang hendak membuka celana piamanya. Cepat-cepat dirapikannya atasan piama yang hampir terbuka. Mencoba untuk duduk ketika Yunho malah mendorong bahunya sehingga Jaejoong terhempas kembali ke ranjang. Jaejoong mengaduh dengan kaget dan tidak menyangka.
"Kamu menolakku?" tanyanya dengan suara rendah sambil mencengkeram bahu Jaejoong yang terhimpit ke ranjang.
"Yunho, kamu sedang mabuk," ulang Jaejoong sambil mendorong dada Yunho yang berada di atasnya. Tapi gerakan itu seolah tidak mempengaruhi Yunho. Buktinya dia sama sekali tidak berkutik. Sekarang tangannya malah melepas ikat pinggang yang dikenakannya sedangkan tangan yang satunya memegang kedua pergelangan tangan Jaejoong. Karena tangannya cukup besar, jadi mudah saja baginya untuk mencengkeram kedua pergelangan tangan Jaejoong yang mungil.
"Kamu mau apa?" bisik Jaejoong dengan sedikit takut. Kedua matanya melebar melihat Yunho tengah menindihnya sambil memegang sebuah ikat pinggang. "Lepaskan tanganku!" teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dari Yunho yang berada di atas tubuhnya.
Percuma saja. Sekarang Yunho berhasil mengikatkan kedua pergelangan tangannya ke sandaran ranjang. Yunho memundurkan tubuhnya sehingga hanya menduduki kaki Jaejoong.
"Pergi!" Jaejoong memohon. Air matanya mulai merebak. Ketakutan melihat Yunho seperti ini. Dia tidak pernah kasar. Tidak pernah menduduki tubuhnya dengan liar seperti sekarang ini.
Bret!
"Aahh~!"
Jaejoong merasakan hembusan udara dingin mengenai kulitnya ketika Yunho membuka paksa atasan piamanya. Dua buah kancingnya terlepas dengan kasar dari tempatnya. Tubuhnya hanya bisa menggeliat-geliat ketika Yunho membuka lebar atasan piama yang masih dikenakan Jaejoong. Karena kedua tangan Jaejoong terikat di sandaran ranjang, jadi piama tidak terlepas total dari tubuhnya. Meski demikian, udara dingin pendingin ruangan yang berhembus mengenai dada dan perutnya tetap membuatnya menggigil. Kedua pucuk nipple payudaranya mulai mengeras.
Yunho tidak berhenti sampai situ. Ketika turun dari tubuh Jaejoong, dengan sekali tarikan (?) dia melepas bawahan piama Jaejoong sekaligus lingerie yang dikenakannya. Secara refleks Jaejoong merapatkan pahanya tapi tidak bisa karena Yunho menahan kedua paha Jaejoong dengan masing-masing kakinya.
"Aghh!"
Jaejoong kesakitan ketika kakinya dibuka dengan paksa. Tapi rasa sakit itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang datang kemudian. Yunho memasuki dirinya dengan sekali sentak. Tanpa pemanasan. Tanpa peringatan.
"AARRGGHH!"
Air matanya meluncur semakin deras. Rasa panas dan perih menjadi satu.
"HENTIKAN, YUNHO! HENTIKAN! SAKIT!" teriaknya sambil meronta.
Tapi Yunho seolah tidak mendengar. Dia terus saja melakukan penetrasi sambil menahan tubuh Jaejoong supaya berhenti meronta. Ketika Yunho sudah selesai, Jaejoong kembali berteriak, "Hentikan!"
Plaakk~~~
Suara tamparan mengenai pipi Jaejoong sehingga membuat tangisnya berhenti seketika. Bukan tamparan dengan telapak tangan tapi Yunho memukulnya dengan genggaman tangannya. Jaejoong langsung merasakan ngilu di tulang pipinya. Air matanya kembali merembes keluar. Tubuh dan hatinya telah tersakiti oleh namja yang dicintainya ini.
Shock. Tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini. Ditolehkannya kepala kepada Yunho yang wajahnya memerah.
"Itu... hukuman buatmu... PENGKHIANAT!" teriak Yunho tiba-tiba. Membuat Jaejoong semakin membeku.
"Aku... tidak mengkhianatimu, Yunho." Jaejoong menggeliat-geliat, berusaha melepaskan diri. Tetap saja percuma. Tenaga Yunho jauh lebih besar darinya. Apalagi Yunho juga belum keluar dari tubuhnya.
"Lantas berpelukan dengan Kim Hyunjoong di tempat parkir itu kamu bilang apa hah?"
"Aku tidak..."
Ucapan Jaejoong terhenti karena tiba-tba Yunho ambruk menimpa tubuhnya. Diam tidak bergerak kecuali bernapas.
"Yu... Yunho..."
Sepertinya efek alkohol mulai bekerja padanya. Jaejoong tidak bisa apa-apa karena tubuh Yunho menutupi tubuhnya. Dengan perlahan dicobanya untuk menutup mata. Semoga tidak bermimpi buruk malam ini.
.
.
Keesokan paginya Jaejoong bangun dengan perasaan hangat karena tubuhnya berselimut. Ikatan di tangannya pun sudah terlepas dan dia tidur dengan normal semalaman. Satu yang berbeda, dia merasakan panas tubuh seseorang di punggungnya. Sebuah lengan melingkari perut Jaejoong dengan erat. Yunho. Namja itu menginap sepanjang malam di apartemennya. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Meski mereka tidur bersama, tapi Yunho tidak pernah sekali pun menginap. Setelah selesai, dia biasanya langsung pergi.
Setelah pagi ini, Jaejoong tidak tahu lagi harus berlaku seperti apa di hadapan Yunho. Semua ini akan membuatnya tambah canggung lagi. Pertama Yunho memberinya cincin, lalu kemarin malam Yunho memukulnya ketika mereka bercinta. Apa arti cincin itu? Apakah Jaejoong bernilai bagi Yunho? Tapi lalu YUnho memperlakukannya dengan kasar semalam dan menuduh Jaejoong sebagai pengkhianat.
'Aku tidak pernah berkhianat pada siapapun, Yunho. Aku tidak pernah berkhianat padamu karena aku tidak pernah menjalin hubungan denganmu. Kita hanya saling bertukar kehangatan ranjang tanpa komitmen apa pun... ' pikir Jaejoong dengan sedih.
Semua sangat membingungkan. There's so many questions to answer.
Oh, rasanya Jaejoong mau menangis lagi.
"Rupanya kamu sudah bangun."
Jaejoong menahan napas. Bagaimana Yunho bisa tahu?
Seolah menjawab pertanyaan Jaejoong yang tidak terucap, Yunho berujar, "Tarikan napasmu berubah."
Kali ini Jaejoong benar-benar menarik napas dan membalikkan tubuh, bersiap menghadapi namja yang menemaninya semalam.
.
~ TBC ~
.
.
Author's zone
May.28.2012
.
Untung chapter depan, saya mau minta tolong para readers, boleh? ^^
Diluar kebiasaan, khusus untuk chapter 15 author membuka sesi request :
1) I'm asking you to decide the storyline for the next chappie, guys ^^
2) Caranya? Readers silahkan menulis quote [kutipan] lagu DBSK yang sekiranya sesuai untuk kelanjutan chapter ini. Lagu DBSK yang reader sukai juga boleh. Cukup menulis sebagian quote/kutipan dan English translation saja, dan BUKAN keseluruhan liriknya.
3) Boleh versi Korea atau versi Jepang selama itu lagu DBSK/TVXQ/Tohoshinki.
4) Tulis di kotak review. Contoh: untuk chapter 15 reader pingin NC (-_-!), jadi tulislah kutipan lirik Mirotic dan English trans-nya
neon nareul weonhae neon naege bbajyeo neon naege michyeo
he eonal su eobseo I got you- Under my skin
neon nareul weonhae neon naege bbajyeo neon naege michyeo
neon na-ye no ye I got you- Under my skin
You want me, you've fallen for me, you're crazy for me
You can't break out, I got you~ Under my skin
You want me, you've fallen for me, you're crazy for me
You are my slave, I got you~ Under my skin
[Korean version]
5) Tidak semua request saya kabulkan. Mungkin hanya beberapa saja, nanti saya yang akan menyesuaikan ^^ Oleh karena itu, tulislah kutipan lirik lagu DBSK yang kalian anggap paling sesuai untuk jalan cerita di chapter 15 nanti. Siapa tahu nanti akan saya pertimbangkan ^^
6) Reader tidak perlu sampai menuliskan dialog, scene dan plot. Itu semua nanti tetap menjadi hak author untuk menuliskannya. Reader hanya perlu menuliskan quote/kutipan lagu dan English translation saja.
7) Dilarang request Mirotic, karena Mirotic sudah author jadikan contoh :D
Kenapa chapter 15? Simpel, karena angka 5 yang merupakan angka "keramat" bagi DBSK.
Selain menuliskan request kalian, jangan lupa kasih review juga untuk chapter 14 ini yah ^^
.
-Nina-
