.

.

.

DISCLIMER: I DO NOT OWN HARRY POTTER

.

.

.

THIS FIC ORIGINALY MINE

.

.

.

I NEVER THOUGHT THAT I WAS WRONG

.

.

.

CHAPTER 14

* * * * * D_R_A_M_I_O_N_E * * * * *

GRIMMAULD PLACE NO. 12 – 1 MINGGU SETELAH PERANG SAUDARA GRANGER.

Saat itu suasana sedang tenang dan para orde plus Daviss sedang sarapan bersama.

"Err– Daviss" panggil Leona ragu.

Daviss menengok dan menghentikan obrolan serunya dengan si kembar Weasley. Daviss menatap Leona yang tampak ragu itu dengan pandangan polos dan bingung karena gerak-gerik mencurigakan Leona.

"Oh, Godric, aku tahu kau sudah tahu apa yang akan aku katakan" kata Leona yang tak bisa mengatasi kegugupan.

Daviss masih tetap menatap dengan pandangan polos dan bingung karena tak mengerti pembicaraan Leona. Perhatian ruang makan teralih pada dua sosok itu.

"Baik, aku hanya katakan sekali dan dengan cepat, jadi dengar baik-baik" kata Leona menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Hari ini… oh, Godric, apakah ini benar-benar harus kukatakan?" kata Leona gregetan.

"Daviss, berhenti mengerjainya. Kau sudah tahu apa yang ingin kami bicarakan. Tidak ada yang menggunakan occlummency diantara kami" kata Gerald juga gregetan dengan sikap Daviss.

Daviss masih tak mengubah tampang polos nan bingungnya.

"Daviss Robert Granger!" seru Gerald tidak sabaran.

Seruan Gerald berhasil melunturkan tampang polos nan bingung ala Daviss. Daviss menghela nafas.

"Jadi?" tanya Leona ragu.

"Tidak. Aku tidak akan ikut. Dan, Yeah, Mr. Malfoy, Cissy, kalian juga boleh ikut bersama mereka" kata Daviss pada akhirnya. Lucius dan Narcissa bertukar pandang dan menghela nafas lega.

"Kau serius?" tanya Gerald tidak yakin dan cemas dengan perubahan wajah Daviss yang sekarang murung dan tak bersemangat. "Tapi selama ini kau tak pernah absen–"

"Aku tidak ingin ikut. Itu saja" sela Daviss datar.

"Kalian mau kemana, sih?" tanya Ron gregetan karena tidak mengerti arah pembicaraan ketiga orang itu.

Tidak ada yang menjawab.

"Ck, kalian aneh" kata Ron melahap makanannya.

"Mereka ingin pergi ke makam Andrew Granger. Hari ini peringatan kematian kakakku" jawab Daviss datar.

Ron langsung tersedak. Harry, Draco, Ginny, Si Kembar Weasley, Blaise, Theo, Pansy, dan Daphne menatap Daviss tak percaya. Sedangkan para golongan tua yang mengenal sosok Andrew Granger itu hanya bungkam. Daviss bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi.

"Daviss" panggil Leona cemas.

"Well, kalau kalian ingin membantuku, lebih baik kalian berhenti berpikir tentang sosok Andrew Granger. Atau mungkin lebih baik kalian menutup pikiran kalian dengan occlumency atau apalah itu" kata Daviss datar.

"Daviss" kali ini Gerald yang memanggil dengan cemas.

Daviss yang hendak keluar dan lari dari pembicaraan ini, menatap malas. Tidak bisakah orang-orang ini memberi pengertian padanya sedikit saja? Dia ingin berkabung dengan caranya sendiri!

"Kapan kau akan pulang? Maksudku, kau dan Hermione, sudah satu minggu tak bertemu sejak kalian perang dingin" kata Gerald.

"Oh, Hannah Montanna! Kau tahu Gerald, aku dan kakakku itu saat ini seperti pasangan suami–istri siap cerai. Jadi yang saat ini kami lakukan adalah adu lomba keras kepala. Aku–tidak–akan–memulai–untuk–rujuk–kembali" kata Daviss sebal dan mengeja tiap kata pada kalimat terakhirnya.

Ron, Blaise, Theo, Harry, dan si kembar Weasley tertawa terbahak-bahak mendengar perumpamaan aneh Daviss. Pansy dan Daphne tersenyum kecil. Ginny hanya geleng-geleng dan Draco mendengus.

"Demi Celine, Daviss! Kau dan Hermione bukan pasangan suami–istri siap cerai, kalian saudara kembar!" kata Gerald gregetan.

"Apapun itu! Aku takkan minta maaf duluan!" kata Daviss keras kepala.

"Kenapa kau begitu keras kepala?" tanya Gerald tidak sabaran.

"Dia lebih keras kepala dariku!" balas Daviss tidak terima.

"Oh, Mariah Carey! Kau dan Hermione sama-sama keras kepala! Jadi jangan menunjuknya!" kata Gerald tambah tidak sabar.

"Dan jangan menunjukku juga! Pokoknya aku takkan mengalah duluan! Seorang kakak yang harus mengalah pada adiknya! Aku selalu menganut paham itu, dan aku takkan mau menggantinya!" kata Daviss semakin keras kepala dan pergi keluar tanpa interupsi.

Gerald geleng-geleng kepala dan menyusul Daviss keluar. Dia masih belum selesai bicara dengan anak keras kepala satu itu. Namun ketika Gerald hendak naik ke atas menyusul Daviss, Leona menahannya.

"Well, kau tahu sendiri seberapa keras kepalanya dia. Berikan saja dia waktu untuk tenang sejenak" kata Leona mencoba menenangkan mood Gerald yang rusak seketika itu setelah adu mulut dengan Daviss.

Gerald menatap Leona dan mengerutkan kening. "Beri waktu? Dia sudah seminggu bersikap keras kepala seperti itu!"

"Kau memang yang paling dekat dengan mereka melebihi siapapun, setelah Andrew–" kata Leona canggung menyebutkan nama mantan tunangannya itu. "Tapi kau tidak berhak menentukan kapan mereka harus berbaikan, kapan mereka harus marah, kau tidak berhak mengontrol hidup mereka di setiap detiknya, Gerald" kata Leona menatap langsung pada mata hijau zamrud Gerald.

"Aku tidak berhak?" tanya Gerald kali ini nadanya kembali meninggi. "Aku sudah mengenal mereka sejak umur mereka 1 tahun, Leona! Bahkan setelah Andrew meninggal akulah yang selalu menemani mereka! Aku berhak memutuskan yang terbaik untuk mereka dan jangan pernah katakan aku tidak berhak!"

"Tidak ada yang berhak memutuskan hidup mereka, Gerald! Tidak kau, tidak Andrew, tidak orang tua mereka. Hanya mereka sendiri yang berhak memutuskan kehidupan mereka" kata Leona masih tetap tenang.

Keributan di depan ruang makan itu, berhasil menarik perhatian para orang tua yang ada di ruang makan. Sedangkan para muda–mudi itu sibuk dengan obrolan mereka sendiri. Mr. dan Mrs. Weasley, Lucius, Narcissa, Sirius, Lupin, Tonks, McGonagall, dan Snape keluar dari ruang makan untuk memeriksa keadaan dua orang yang cekcok itu.

"Hei, hei, ada apa dengan kalian, nak?" tanya Mr. Weasley cemas.

Gerald mengalihkan pandangannya kepada para penonton mereka yang baru hadir. Mrs. Weasley, Tonks, dan Narcissa tampak cemas dengan pertengkaran kedua orang itu. Leona tetap diam, terlihat sekali dia berusaha menahan tangis yang hendak keluar. Lupin, Sirius, dan Lucius hanya memandang dalam diam.

"Aku butuh udara segar" kata Gerald berbalik dan mengambil mantelnya. "Kalau kalian berniat mengunjungi makam Andrew, pergilah dengan Leona" kata Gerald dingin lalu pergi.

Suasana hening begitu pintu rumah itu ditutup Gerald dan tak ada lagi sosok pria cerewet itu di rumah itu. Semua mata kembali teralih pada Leona yang tetap diam. Leona berbalik dan hendak naik ke atas.

"Aku akan bersiap-siap" jawab Leona lirih sambil naik meninggalkan orang-orang yang bungkam itu.

* * * * * D_R_A_M_I_O_N_E * * * * *

KAMAR DRACO, DAVISS, HARRY, RON – PUKUL 10 PAGI.

Daviss sedang menatap keluar jendela dengan ion-ion negatif yang mengelilinginya. Aneh rasanya, karena Daviss bukan tipe orang yang betah berada dekat-dekat dengan ion negatif, tapi untuk saat ini dia merasa nyaman dengan ion-ion negatif disekitarnya itu. Dengan kata lain, saat ini Daviss sedang bergalau-ria.

Banyak pikiran yang berkecamuk di otak cerdas nan abnormal milik pemuda tampan Granger itu. Hari ini dia berkabung untuk Andrew, namun pikirannya juga tersita dengan sosok cantik kakaknya yang lain, Hermione Granger. Daviss menghela nafas, sebenarnya dia sudah tidak lagi marah pada kakaknya itu karena mengungkit masa lalu kelamnya itu. Seandainya Hermione mau sedikit saja mengalah dan datang ke Grimmauld Place no. 12 ini hanya untuk menjemput Daviss, tanpa pikir panjang lagi dia pasti akan menuruti kemauan kakaknya itu. Masalahnya, kakak kembarnya itu tidak kalah keras kepalanya dengan Daviss sendiri.

Daviss kembali menghela nafas. Kenapa dia dan Hermione itu terlalu mirip? Dari wajah, sikap, keras kepala, cerewet, kecerdasan, dan lain-lain. Mungkin ketidak miripan mereka bisa dihitung dengan jari, tapi kemiripan mereka sepertinya mencapai 90%.

Daviss menghela nafas untuk ketiga kalinya. Kali ini pikirannya teralih pada sosok pasangan Gerald – Leona yang baru saja bertengkar hebat karena kekeras kepalaannya dan kakaknya itu. Sedikit – banyak, Daviss agak merasa bersalah juga karena penyebab pertengkaran Gerald – Leona adalah perang dingin saudara kembar Granger ini. Daviss merasa risih dan juga muak mendengar pertengkaran yang semacam suami – istri siap cerai itu, karena sudah beberapa tahun belakangan ini –tanpa sepengetahuan Hermione– orang tua mereka sering kali bertengkar begitu pulang ke rumah. Daviss sampai heran kenapa kedua orang tuanya masih belum bercerai juga. Well, bukan berarti Daviss mengaharapkan hal itu, hanya saja rasanya jengah melihat pertengkaran seperti itu.

Akibat pertengkaran Gerald – Leona, Daviss jadi berpikir ulang untuk meminta maaf pada kakaknya itu. Sedikit menurunkan harga diri untuk kakakmu sendiri sepertinya tidak masalahkan?, begitulah pikirnya. Tapi pikiran itu langsung sirna begitu mengingat pacar Hermione yang bisexual nan genit itu. Demi Taylor Swift dan gitarnya! Kenapa kakaknya lebih membela si bisexual nan genit dan cukup tampan itu? Apa? Cukup tampan? Otakmu mulai bermasalah, Daviss! Draco Malfoy masih jauh lebih tampan dari pria bisexual itu! Tunggu, kenapa sekarang aku malah membanggakan ketampanan si Malfoy yang berhasil merebut hati kakakku –walaupun masih tidak disadari karena kebodohan kakakku– itu? Apa jangan-jangan aku menyukai si Malfoy itu? Jangan-jangan saat ini aku sudah berubah menjadi homo? Demi Britney dan semua skandalnya! Ini tidak mungkin terjadi! Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh! Jangan sampai aku benar-benar merebut pria bisexual ataupun Draco Malfoy dari kakakku! Aku tidak boleh cemburu pada kakakku sendiri!

"Hei, Mind Reader" panggil suara baritone nan seksi di belakang Daviss membuat Daviss melonjak kaget mendengarnya.

Daviss berbalik dan mendapati Draco Malfoy mengerutkan kening karena melihatnya melompat histeris seperti itu. "A-apa ma-maumu, Dra-Draco?" kata Daviss mencoba ketus namun malah semakin gugup. Oh, Zeus, kenapa kau tidak cabut saja nyawaku atau setidaknya biarkan si tampan mematikan ini pergi dari hadapanku! Atau mungkin hentikan jantungku yang berdetak 4 kali lebih cepat dari biasanya, atau mungkin biarkan aku jadi pria normal saja sudah cukup!

"Kau tampak pucat" kata Draco aneh maju selangkah menghampiri Daviss. Sontak Daviss langsung bangkit dan menjauhi Draco. Draco semakin menatap keheranan tingkah si pembaca pikiran itu. "Kau aneh"

Dan kau tampan! Oh, aku ingin mati saja rasanya, batin Daviss yang merasa dirinya semakin aneh saja. "Sebenarnya apa maumu, Malfoy?" tanya Daviss yang sekarang bisa mengendalikan nada bicaranya.

"Tidak ada, hanya ingin melihat keadaanmu. Keadaan berkabungmu lebih tepatnya" kata Draco duduk di tempat Daviss tadi. "Kau sepertinya dikelilingi dengan, apa namanya? Ah, kalau aku tak salah ingat, kau menyebutnya dengan coin-coin negatif" kata Draco merasa aneh mengucapkan perbendaharaan kata mugglenya itu.

Daviss memutar bola matanya, sangat mirip dengan Hermione. "Ion-ion negatif, maksudmu?" koreksi Daviss.

"Kau tahu apa yang kumaksud" kata Draco mendengus sebal karena Daviss – dengan tidak pentingnya – mengoreksi kata-katanya. Benar-benar mirip dengan Hermione. "Jadi bagaimana keadaanmu?"

"Masih tergolong sehat, kalau konteks yang kau gunakan adalah masih bisa menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida atau dalam kata lain, bernafas. Atau mungkin sehat dalam konteks tidak mengalami gangguan sedikitpun dalam saraf-saraf motorik dan sensorikku. Tapi aku sedang dalam keadaan tidak sehat kalau yang konteks yang kau gunakan, adanya gangguan dengan saraf-saraf neurotikku yang membuat pikiranku kacau, hatiku gundah gulana, dan munculnya ion-ion negatif disekitarku" cerocos Daviss mengeluarkan perbendaharaan kata-kata biologi dasarnya.

Draco mengerutkan kening. Dia sangat-sangat tidak mengerti dengan pembicaraan kembaran cewek yang dicintainya itu. "Intinya kau sehat atau tidak?" tanya Draco.

"Oh, Draco! kau bisa menyimpulkan sendiri! Intinya, secara fisik aku memang sehat, tapi saat ini saraf-saraf otakku sedang bermasalah!" kata Daviss gregetan.

"Well, kalau begitu, aku anggap kau masih tetap sehat" kata Draco bangkit berdiri. "Aku akan mengunjungi kakakmu, kau mau titip salam?" tanya Draco.

"Kau masih belum menyerah juga?" tanya Daviss heran.

Draco mengernyit. "Kau yang menyuruhku untuk tidak menyerah, Daviss. Dan seorang Malfoy selalu mendapatkan apa yang diinginkan"

Sesaat hati Daviss mencelos entah karena apa. Draco semakin mengernyit melihat raut kekecewaan yang tiba-tiba muncul di wajah Daviss. Menyadari hal itu, Daviss segera berkata, "Well, cukup laporkan padaku bagaimana keadaannya nanti"

Draco masih memandang Daviss heran dan aneh karena perubahan sikapnya hari ini. Namun, Draco mengangkat bahu dan pergi meninggalkan Daviss yang hanya diam menatap kepergian Draco dari kamar itu.

Daviss – entah untuk keberapa kalinya – menghela nafas panjang. Oh, Avril Lavigne, semua ini tidak boleh berkelanjutan, batin Daviss frustasi.

* * * * * D_R_A_M_I_O_N_E * * * * *

KEDIAMAN GRANGER.

Hermione sedang asik-asiknya berada di ruang TV menelusuri buku-buku sihir tahun ketujuhnya dan diiringi oleh alunan lembut musik klasik. Ingatan tentang sihirnya masih belum pulih benar, namun tak cukup sulit untuk kembali membangun ingatan itu.

Sudah satu minggu. Sudah satu minggu, Hermione melahap habis buku-buku sihirnya dari tahun pertama sampai tahun ketujuh untuk membangun kembali semua ingatan sihirnya, tentunya dengan bantuan Harry dan Draco. Tetapi sejak tiga hari yang lalu, hanya Draco-lah yang membantunya berlatih mantra. Harry? Dia bilang dia harus kembali memburu Hocrux, dimana Hermione sudah tahu soal itu. Jadi, sudah tiga hari ini dia dan Draco saling melempar mantra dengan kedok berlatih mantra. Namun, Hermione yakin, itu benar-benar hanya kedok. Maksudnya, Hermione tahu jelas seberapa besar kebencian diantara dia dan Draco Malfoy, dia tahu jelas Draco Malfoy memang sengaja ingin menyiksanya atau sekedar mempermalukannya dengan mantra-mantra koleksi Sang Malfoy tersohor itu.

Hermione masih tidak percaya dengan fakta berbaliknya keluarga Malfoy itu, tapi entah kenapa, saat ini timbul sedikit keraguan dalam hati Hermione. Tapi tetap saja, seandainya memang benar keluarga Malfoy sudah berbalik arah, hanya satu fakta mutlak yang tak pernah berubah. Dia dan Draco Malfoy saling membenci, dan akan terus seperti itu. Selamanya. Itu sudah final.

"Merindukanku, Granger?" tanya Draco ber-disapparate di samping Hermione membuat gadis bermata cokelat madu itu terlonjak kaget.

"MALFOY!" seru Hermione geram.

"Ya, ya, aku sudah tahu seberapa rindunya kau padaku, Granger. Tak perlu sehisteris itu" kata Draco menutup kupingnya dan seringaian khasnya masih terplester di wajah tampannya itu.

"Dengar, Ferret Pirang Idiot! Aku tidak pernah merindukanmu! Tidak akan pernah! Dan aku sudah bilang berkali-kali, Malfoy, berhenti muncul tiba-tiba begitu! Kau bisa membuatku terkena serangan jantung! Aku masih terlalu muda untuk mati, ferret!" cerocos Hermione

Hati Draco sempat mencelos karena mendengar cerocosan Hermione, apalagi di bagian 'Aku tidak pernah merindukanmu! Tidak akan pernah!'. Oh, Salazar, adakah yang bisa membuat Granger cantik ini ingat tentang apa yang pernah terjadi diantara mereka? Atau setidaknya membuat Hermione ingat tentang pernyataan cinta seorang Draco Lucius Malfoy pada si Granger satu ini.

Hermione berhenti menyerocos begitu menyadari perubahan ekspressi Draco. Dari diwarnai oleh seringaian menyebalkan nan tampan, kini berubah menjadi dingin dan datar. "Malfoy? Kau baik-baik saja?" tanya Hermione sedikit cemas. Hanya sedikit.

Seringaian menyebalkan itu kembali mengembang di wajah tampan Draco. "Mencemaskanku, eh?" cibir Draco. Hermione melotot. "Melihat seberapa cemasnya kau, hanya tinggal tunggu kata-kata 'Aku tidak pernah merindukanmu! Tidak akan pernah!' akan terhapuskan dalam konteksmu, Granger" kata Draco menirukan cara Hermione berbicara namun tak menghapuskan seringaiannya.

Hermione semakin melotot. "Sangat tidak waras, Malfoy!" kata Hermione sebal. Kata-kata itu terhapus? Tidak akan pernah, memikirkannya si ferret pirang nan menyebalkan ini saja tidak pernah, batin Hermione menggerutu. Sepertinya si Granger satu ini masih belum sadar kalau tadi dia baru saja memikirkan Draco sebelum si Malfoy junior nan tampan itu muncul. Okay, terkadang aku memikirkannya. Hanya terkadang. Sangat jarang! Itu saja!, batin Hermione meralat.

Draco menatap ratu yang bertahta di hatinya itu dengan seulas senyum hangat nan tulus, bukan seringaian menyebalkan. Sebulan yang lalu, dia tak pernah berpikir untuk bisa melihat gadis ini baik-baik saja didepan matanya ini. Sebulan yang lalu, dia sudah pasrah jika memang harus ada kata 'akhir' diantara mereka berdua. Sebulan yang lalu, dia tak pernah berani berpikir kalau masih ada kata 'masa depan' dalam hubungan mereka. Namun, kali ini dia bisa melihat gadis itu sedang berpikir keras dengan sangat menggemaskannya, dia masih bisa melihatnya terlelap, dia masih bisa melihatnya berusaha saat latihan mantra. Meski saat ini keadaannya berubah, sangat berubah. Keadaan yang tak pernah terlintas dalam benak Draco. Meski saat ini gadis itu melupakan kenangan yang terukir kuat dalam otak Draco, meski saat ini gadis itu sangat membencinya, meski saat ini Hermione sudah menjadi milik orang lain. Yeah, meski semua kini sangat berubah tidak seperti yang Draco harapkan, tapi dia takkan menyerah. Tidak, dia takkan lagi melepaskannya. Dia takkan pernah lagi melepaskan Hermionenya. Dia harus merebut kembali Hermione. Dia pasti merebut kembali gadisnya.

Dari sudut matanya, Hermione dapat melihat senyum hangat Draco yang semakin membuat frekuensi detak jantungnya menjadi empat kali lebih cepat dari biasanya. Dia menyadari, itu bukan seringaian menyebalkan. Itu sebuah senyuman hangat nan tulus. Tanpa disadari, wajah Hermione merona merah.

"Puas menikmati ketampananku, Granger?" goda Draco mengganti senyum malaikatnya menjadi seringaian yang menyebalkan.

Ugh, seringaian itu lagi. Memang sangat menyebalkan, tapi kenapa si Malfoy tersohor ini masih terlihat tampan meski menyeringai begitu, sih! Ugh, lagi! Kenapa aku harus mempermasalahkan ketampanannya!

Draco mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Hermione. Hermione mendengus dan menutup buku Rune Kuno Tingkat Lanjutnya dengan sebal dan meletakannya di meja di depannya. Lalu setelah itu, Hermione beranjak pergi meninggalkan ruang TV.

Draco hanya mengikuti setiap pergerakan Hermione bahkan sampai dia menghilang dari ruangan itu. Setelah Hermione menghilang dari pandangannya, Draco menatap meja didepannya yang penuh dengan tumpukan buku. Oh, Phineas! Apa otak Hermione begitu laparnya sampai-sampai melahap buku-buku sihirnya selama 7 tahun dalam waktu satu minggu? Seharusnya dia dapat Order of Merlin karena hal ini.

"Ferret, kau sudah sarapan belum?" tanya Hermione setengah berseru dari arah dapur.

"Sudah, love, terima kasih atas tawaranmu" kata Draco menekankan pada kata 'love' yang membuat Hermione mendengus mendengarnya namun juga merona merah.

Lucu sekali, bahkan pacarnya –yang Daviss bilang seorang bisexual– tidak pernah memanggilnya dengan panggilan-panggilan sayang seperti itu. Well, Hermione awalnya tidak perduli dan tidak mempermasalahkan, tapi begitu bertemu Draco yang hampir setiap harinya memanggilnya 'love' jika sedang berdua membuat Hermione sadar arti lebih dari panggilan sayang itu.

Hermione menggeleng kuat, dia tidak boleh membanding-bandingkan Albert – kekasihnya selama satu bulan lebih – dengan Draco. Demi Josh Groban! Memangnya siapa Draco? Kenapa dia harus membandingkannya dengan Albert? Oh, Dewi Hera! Albert pacarnya, Draco musuhnya, kenapa Hermione harus membandingkan keduanya? Otakku sudah sangat bermasalah, batin Hermione.

Hermione kembali menggeleng mencoba menjernihkan pikirannya dan membuang jauh-jauh pikiran tidak warasnya tadi. Dia mencintai Albert. Hermione yakin dia mencintai Albert. Hermione sangat yakin bahwa Albert adalah pria yang selalu ada dimimpinya selama sebulan ini. Memang mimpi itu sangat samar, tapi dia ingat pria di mimpinya berambut pirang. Memang siapa lagi lelaki rambut pirang yang dikenalnya? Tidak ada. Dan Hermione langsung mencoret nama Draco Malfoy dalam list orang-berambut-pirang-yang-ada-didalam-mimpiku. Hermione bahkan lebih cepat mencoret nama Draco Malfoy daripada nama ayahnya, Lucius Malfoy. Well, selama seminggu ini, Hermione juga lumayan mulai membuka diri pada anggota orde yang membuatnya semakin cepat memulihkan ingatannya. Dan melihat sambutan hangat nan kaku dari Lucius Malfoy dan sambutan rindu yang mendalam dari Narcissa Malfoy, membuat Hermione jadi melunturkan konsep Hermione yang berkata bahwa Keluarga Malfoy tidak mungkin berpindah pihak.

Kembali pada list orang-berambut-pirang-yang-ada-didalam-mimpiku. Tentu saja Lucius sudah dicoret, dia sudah menikah dengan Narcissa. Dan demi Shakespeare dan segala karyanya yang jenius, Lucius tentu saja tak mungkin menyatakan cinta padanya! Tidak dalam mimpi sekalipun! Karena itu, nama Lucius dicoret.

Hermione kembali menghela nafas. Dia sudah berada di dapur ini selama 15 menit tanpa melakukan apa-apa karena pikirannya tersita dengan hal-hal tidak waras yang asalnya dari satu sosok berambut pirang platina bermata kelabu nan tampan, Draco Malfoy.

"Kau lama sekali" kata seorang cowok yang baru saja mengusik pikiran Hermione. Draco Malfoy, pasti akan sangat panjang umur. Hermione tersentak kaget dan berbalik menemukan Malfoy Junior itu.

"Merlin, Malfoy! Sudah kubilang jangan mengagetkanku!" seru Hermione geram.

"Salahmu sendiri karena kau menghabiskan 15 menitmu di dapur tanpa melakukan apa-apa" balas Draco.

Hermione mendengus. Lalu berbalik. Apa yang ingin dilakukannya tadi? Ah, iya, membuat dua gelas cokelat panas untuknya dan Malfoy. Draco duduk di meja makan selagi Hermione membuatkan cokelat panas untuknya.

"Mum dan Dad titip salam untukmu. Mereka bilang tidak perlu sungkan jika ingin belajar mantra dengan mereka. Mereka juga menanyakan keadaanmu" kata Draco tanpa melepaskan pandangannya pada gadis Granger yang membelakanginya itu.

"Well, sampaikan salamku dan juga terima kasihku pada mereka" jawab Hermione tak bisa menutupi nada riangnya. "Dan katakan aku baik-baik saja, jika konteks yang mereka gunakan adalah aku masih tetap bertahan hidup padahal anak tunggal mereka melempar mantra padaku setiap harinya" jawab Hermione sarkastik.

Draco mendengus. Oh, Abraxas! Apakah dia memang harus menderita karena kisah cintanya dengan gadis yang super menyebalkan ini?

"Jadi, bagaimana dengan dia?" tanya Hermione berbalik dengan dua gelas cokelat panas yang dibawanya.

"Dia?" tanya Draco mengulang cara Hermione berbicara sambil menerima cokelat panas dari Hermione.

Hermione memutar bola matanya dengan sebal. "Kau tahu siapa yang kumaksudkan, Malfoy" kata Hermione tidak sabaran. Draco mengangkat sebelah alisnya. Tentu saja Draco tahu siapa yang Hermione maksudkan, dia hanya senang menggoda gadis itu. "Daviss! Aku bicara soal Daviss!" kata Hermione gregetan.

"Oh, Daviss" kata Draco seolah-olah baru mengerti arah pembicaraan Hermione. Hermione mendengus sebal. "Yeah, adikmu yang satu itu berkata, 'secara fisik aku memang sehat, tapi saat ini saraf-saraf otakku sedang bermasalah'" jawab Draco menirukan kata-kata Daviss.

"Apa dia sakit?" tanya Hermione cemas.

"Secara fisik atau batin?" tanya Draco.

"Malfoy!" seru Hermione tidak sabaran.

"Sudah kubilang, dia sehat secara fisik, tapi pikirannya sedang bermasalah. Jadi golongkan saja dia ditengah-tengah antara sakit dan sehat" kata Draco malas.

Hermione terdiam begitu mendengar hal itu. Draco juga hanya diam menunggu apa yang akan gadis itu katakan.

Hening cukup lama sampai Draco teringat pertengkaran Gerald – Leona – Daviss tadi pagi yang cukup menghebohkan. Draco menatap Hermione yang tampak berpikir keras sambil menatap cokelat panasnya. Apa dia harus memberitahukan Hermione?

Bunyi telepon membuyarkan suasana hening diantara keduanya. Hermione tersadar dari pikirannya dan dengan malas menuju ke telepon rumahnya. Draco hanya menatap peregerakan Hermione dalam diam. Melihat gadis itu berbicara dengan senyum sumringah dengan benda muggle yang tak dikenalnya sambil terdengar suara samar seorang cowok dari benda itu. Hati Draco kembali mencelos, rasanya sampai saat ini pun dia tak bisa menerima ada seseorang yang memiliki gadisnya. Dia tidak rela. Dia sangat tidak rela sampai-sampai dia berpikir untuk merapalkan kutukan tidak termaafkan pada Albert atau siapapun nama cowok itu. Dia benci cowok itu. Tapi tidak, dia tidak adakan menggunakan cara bar-bar seperti itu. Rencana licik lebih terdengar tepat untuknya, lebih memuaskannya, lebih terasa seperti seorang Malfoy.

Hermione kembali duduk didepan Draco dengan senyum sumringahnya. Draco hanya menatap dengan wajah datar dan masam. Menyadari ekspressi wajah Draco, senyum Hermione langsung lenyap dari wajah cantik itu.

"Bisakah kau tidak menghancurkan sedikit kebahagiaanku dengan wajah masam nan menyebalkanmu itu, Malfoy" komentar Hermione sebal.

"Sayang sekali, Princess, aku sedang tidak enak hati saat ini" kata Draco sebal dan bangkit berdiri. "Ayo latihan" kata Draco datar dan pergi dari ruang makan.

Hermione mengerutkan kening. Ada apa lagi dengan ferret pirang satu ini? Apa aku baru saja melakukan kesalahan padanya?, Batin Hermione bertanya-tanya. Princess? Ugh, kenapa ferret pirang Malfoy ini tidak pernah sadar kalau panggilan-panggilan sayangnya benar-benar bisa membuat orang salah mengerti, gerutu Hermione dalam hati namun tak bisa menyembunyikan rona wajahnya.

Princess… satu kata begitu terngiang dalam otak Hermione. Terasa begitu… benar dan dé jàvu. Ada sesuatu yang mengusik pikiran Hermione ketika mendengar kata itu. Kata itu berbeda dengan panggilan-panggilan sayang seorang Draco Malfoy. Berbeda, sangat berbeda rasanya ketika Draco memanggilnya dengan love, darling, dan lainnya. Princess, terasa begitu berbeda. Terasa begitu spesial. Terasa begitu… ah, Hermione bahkan tak bisa menggambarkannya sama sekali. Hermione menggelengkan kepalanya, kenapa dia semakin memikirkan Draco setiap harinya?

"Granger, kau ingin berlatih atau tidak? Kalau tidak, aku akan kembali ke Grimmauld Place" kata Draco malas dari ruang latihan.

Hermione mendengus sebal. Kenapa, sih, ferret pirang itu suka sekali menjatuhkan harapan orang? Kadang aku berpikir sebenarnya mana yang Malfoy yang sebenarnya? Dia seperti… ah, lupakan. Untuk apa sih selalu memikirkan dia! Pikir Hermione yang berbelit-belit.

"Granger!" seru Draco tidak sabaran.

"Ya, ya, Mr. Malfoy" kata Hermione malas sambil menyeret kakinya menuju ruang latihan.

*_*_*_*TBC*_*_*_*

AUTHOR'S NOTE:

Terima kasih sebanyak-banyak bagi yang sudah mereview dan mengapresiasi fict serta author ini:

Nafau Chance, Megan Seleras, Ochan Malfoy, CN Bluetory, mella-chan, Guest 1, atacchan, widy, megu takuma, Dramione or lovaphobia, CullenMalfoy, Claire, shizyldrew, Guest 2, Anda Azza, Guest 3, aprilcouple, ErVa Sabaku, Guest 4, Rose Whistersky, Zean's Malfoy, SpiritSky, sitara1083, guest 5, adeirmasuryaninst, cla99, reader, dindagale, MizuumiYuki, DeAng, Dremloxys, LunaWood1911, Yanchan, Rhena001, Evelope, TaintedIris, Cilla, Reachel, Just Ana, Fuuchi, Poetry-Fuwa, Madge Undersee, Vira C.M, Lumpsci, CJ, LovyS, Tsurugo De Lelouch, BloodFeather20641, taintedIris, Just Ana, Fu, GiaMione, Nounaxx, Rukaga Nay, Lumostotalus, SparkSomniA0321, WatchFang, Andini Visencia.

Tanpa kalian apalah arti fict ini :')

Huwaaaaa, lagi-lagi author update siput :'( maklum, sudah masuk kuliah dan terlalu banyak organisasi dikampus. Alhasil, author jadi mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) deh. Maafkan author yah. Maaaaaaaaaaaf, sekali :'(

Author juga berharap memiliki waktu libur panjang dan hanya focus menyelesaikan fict ini, namun sayang, waktu tak mengijinkan :'(

Author sempat merasa down dan ingin mendiscontinued fic ini, karena chapter sebelumnya sepertinya sudah mengecewakan pembaca. Maaaaaaaaaaaaaap banget banget, yah :'(

Semoga Chap ini tidak mengecewakan para pembaca dan Dimohon jangan bosan-bosan dukung author yang satu ini, yah. :')

Untuk review-ers (dengan atau tanpa acc FFN) dibales disini, yah :D

Untuk BloodFeather20641: makasih reviewnya :D :D :D Author senang sekali begitu bisa menangkap feel pembaca :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

taintedIris: makasih reviewnya :D :D :D huwaaaaaa boring, yah? *nangis dipojokan* author akan sebisa mungkin memperbaikinya, deh :'( Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Just Ana: makasih reviewnya :D :D :D Walah? Seneng liat Draco galau? Wkwkwkwkwk jangan begitulah, kasian dia itu :D Kenapa saingan Draco bisexual? Errrr, kenapa, ya? Khukhukhukhu *muncul tanduk iblis* wkwkwkwkwk :D Pokoknya, keep RnR, yah :D dan Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Dramione or Lovaphobia: makasih reviewnya :D :D :D Author juga kangen lova :'3 Author gak setega itu, kok, ama Draco. salahkan mr. nasib yang suka mempermainkan mereka. Semoga mereka benar-benar happy ending, yah :') dan Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Ochan Malfoy: makasih reviewnya :D :D :D Author sangat-sangat bersyukur memiliki pembaca yang selalu bersemangat untuk mereview seperti Ochan :') ehehehehehe, maap kalau chapter sebelumnya mengecewakan dan update siput. Semoga chapter ini tidak semengecewakan chapter kemarin walaupun updatenya super siput :'( Duo Granger memang sudah ditakdirkan untuk ribut dimanapun, kapanpun, dan apapun yang mereka bicarakan. Hehehehehe :D dan Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Atacchan: makasih reviewnya :D :D :D Huwaaaaa, tuhkan, memang chapter kemaren itu parah banget :'( semoga chapter ini tak separah chapter kemarin :') Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Reader: makasih reviewnya :D :D :D huwaaaa, author juga kasian ama nasib dramione kita ini. Semoga mr. nasib berhenti mempermainkan mereka, yah *senyum bijak*. Makasih untuk semangatnya, semangat darimu sangat-sangat berpengaruh bagi author :') Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

sitara1083: makasih reviewnya :D :D :D aih, author juga gemes sama kamu *eh wkwkwkwkwkwwkwk. Maap, ya, kalo author update siput kuadrat. Uhuhuhuhu, author akan segera perbaiki :'( dan jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

dremloxys: makasih reviewnya :D :D :D happy ending? Err, semoga mr. nasib mendengarkan semua harapan pembaca :D um, tapi kalo dibilang nanti fans author tambah banyak… sepertinya akan dipertimbangkan. Wkwkwkwkw *digaplok* Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Rose Whistersky: makasih reviewnya :D :D :D waduh, author ditimpuk lagi *ambil tameng* wkwkwkwkwkwk. Memang author sengaja tidak mengexpose besar-besaran, karena si bisex itu hanya peran lewatan yg dihadirkan mr. nasib untuk menambah drama dalam balada cinta dramione kitah ini *author sedang berkicau* wkwkwkwkwk. Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

CullenMalfoy or Vira C.M: makasih reviewnya :D :D :D reviewmu bagaikan jerami di tengah jarum *lebay* ehehehehe, author sangat terharu kalau baca reviewan yang membangkitkan semangat menulis author. Hiks hiks hiks :'D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Fuuchi: makasih reviewnya :D :D :D wkwkwkwk, emang kasian si Draco dimainin sesuka hati ama mr. nasib. Lebih baik kita berdoa supaya semua baik-baik saja :D :D :D sayang sekali author belum mau membuka rencana licik Draco. mungkin next chap sepertinya #upskeceplosan wkwkwkwkwk. Makasih banget untuk tidak bosan mendukung author, sekali lagi jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Zean's Malfoy: makasih reviewnya :D :D :D Asek, Daviss dikangenin bukan authornya, nih? hehehehehehe *ngarep* | *Daviss joget-joget* | (apasih ini? Abaikan, abaikan :D) battle lagi ato engga? Hm, biarkan itu menjadi rahasia yang terbuka dengan sendirinya :D hehehehehe author semangat 45 ngupdatenya cuman waktunya sama sekali tidak semangat 45, hiks hiks :'( Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Cla99: makasih reviewnya :D :D :D Huwaaaaa, makasih, Claaaa atas pengertiannya. Hiks hiks hiks. Author akan secepat mungkin menyesuaikan dan update kilat lagi. Doakan, yah :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Fu: makasih reviewnya :D :D :D Huwaaa. Ternyata diluar terlihat jelek, yah. Bisa kasih tau kesalahanya? Biar author bisa perbaiki :') makasih apresiasinya :'D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Yanchan: makasih reviewnya :D :D :D author juga kasian ama Draco. Hm, author juga semakin penasaran deh, rencananya di Malfoy junior satu itu :D kita tunggu aja kelanjutannya, yah :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

LovyS: makasih reviewnya :D :D :D Hm, Daviss lebih menonjol, yah? Next chap author akan segera perbaiki, deh :D buat Daviss nemuin cinta sejatinya? Kalo itu terserah mr. nasib maunya gimana, deh :D dan yep, Daviss chara buatan author sendiri. Hehehehehehe. Eniwei, Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Tsurugi De Lelouch: makasih reviewnya :D :D :D makasih dukungannya, Ka Wulanz :D :D ehehehehe, kakak satu ini mengerti saja deh posisiku :') sulit rasanya dengan semua kesibukan ini. Hiks hiks hiks *curcol* | *abaikan* mari kita saling mendukung dan Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

GiaMione: makasih reviewnya :D :D :D salam kenal juga, GiaMione :D :D :D wkwkwkwkwk kamu suka 1D juga kah? Ehehehehehe author juga suka *loh kok jadi ngomongin 1D* | *abaikan*. Maap yah, author update siput kuadrat. Huhuhuhu, waktu masih tak mau kompromi dengan author :'( semoga mr. waktu sudah mau kompromi jadi author bisa update kilat *ngacir ngerengek sama mr. waktu*. Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Shizyldrew: makasih reviewnya :D :D :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

CJ: makasih reviewnya :D :D :D wkwkwkwkw, cie berpindah hati dari Draco ke Daviss. Wkwkwkwk, contoh dong si Draco, si Hermione udah di tangan cowok lainpun dia masih tetap setia (setiap tikungan ada, maksudnya) #PLOOK! Ehehehehehe *ngelus-elus pipi*. Walah, kamu Maba? Fokus, dek! I-ni-sia-tif! *dengan nada kakak-kakak kelas yang bagian marah-marah* wkwkwkwkwk. Semangat, dek, kuliahnya :D dan (walaupun terlambat) Selamat datang di dunia perkuliahan :D :D :D. Also, Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D, ketchup asem (tomat, maksudnya) dari author with love :D :D :D

Nounaxx: makasih reviewnya :D :D :D Yeah! Semoga mr. nasib mendengar jeritan hati kita bersama-sama! Mr. Nasib, buat dramione kita ini happy end dongs, please please please*ngerengek ala drama* (Lebay dan gak jelas banget author satu ini) - *abaikan*. And then, Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Poetry-fuwa: makasih reviewnya :D :D :D wkwkwkwk, sesama senior mesti memberi dukungan :D mau bisa bentakin maba atau bagian membela maba pada akhirnya itu hanya sebuah skenario turun temurun *oops ngebuka aib* wkwkwkwkwk. Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Rukaga Nay: makasih reviewnya :D :D :D selamat datang di fict ini :D :D :D Yes, yang ini juga pindah hati. Khukhukhukhu, saingin muja-muja Draco jadi berkurang *tanduk iblis* wkwkwkwk #PLOOOK :D kita berdoa saja mr. nasib mendengar doa kita untuk membuat kisah ini happy end *senyum bijak*. Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Lumostotalus: makasih reviewnya :D :D :D huwaaa, hati author juga keiris melihat balada cinta penuh drama dari Dramione kita ini. Huhuhuhu, semoga mr. nasib sudah bosan mempermainkan mereka dan menyatukan mereka secepatnya, yah *senyum bijak andalan author* :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

SparkSomniA0321: makasih reviewnya :D :D :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Aprilcouple: makasih reviewnya :D :D :D maap banget kamu juga harus nunggu lama untuk chapter ini. Semoga chap ini lebih baik dari sebelumnya :') Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

WatchFang: makasih reviewnya :D :D :D author juga merasa aneh kalo yang berburu hocrux blaise – ron –theo makanya author tidak ceritakan lebih lanjut. Hehehehehe. Daaan jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

Andini Vinsencia: makasih reviewnya :D :D :D Jangan bosan-bosan dukung author yah :D :D :D

See you next chappie :D :D :D