Tales Of Darkness And Light
By : Razux
.
.
.
.
Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana
Chapter XIII
Kapal silphi adalah kapal yang besar dan indah. Kapal itu berwarna hitam dan memiliki tiga tiang layar yang besar. Kapal itu mulai berlayar dari kota pelabuhan Denethor menuju kerajaan Orthanc. Para awak kapal berjalan ke sana-kemari untuk membuka layar kapal dan mengangat jangkar kapal.
Natsume dan Yoichi yang berada di geladak kapal sama sekali tidak mempedulikan sekeliling mereka. Natsume duduk mendongak kepalanya menatap langit. Perasaan khawatir dan gelisah yang tiba-tiba menyerangnya dua hari yang lalu memang tidak terasa lagi. Namun, dia tetap saja tidak bisa menghapus semua perasaan khawatir dan gelisah yang ada dihatinya semenjak dia terpisah dari Mikan.
Yoichi yang dari tadi menatap laut dengan wajah tanpa ekspresi membalikkan wajahnya menatap Natsume. Kelihatannya Natsume sudah kembali seperti semula, dia tidak kelihatan marah dan menitimidasi orang yang berada di sekelilingnya lagi.
"Kak Natsume, siapa Mikan itu?" tanya Yoichi tiba-tiba. Dia sangat penasaran dengan gadis bernama Mikan yang sering disebutkan Natsume itu. Meski baru mengikuti mereka tidak lama, dia tahu, tujuan mereka semua melakukan perjalanan ke kerajaan Orthanc terburu-buru adalah untuk mencari gadis bernama Mikan dan temannya. Sepertinya kedua gadis itu ditangkap oleh perampok dan sekarang berada di kerajaan Orthanc.
"Dia….. dia adalah seorang gadis Idiot." Jawab Natsume pelan.
"Idiot?"
"Iya. Dia adalah seorang gadis paling idiot di dunia."
Yoichi sama sekali tidak mengerti jawaban Natsume itu. Jika Mikan adalah gadis paling idiot di dunia kenapa dia mencarinya. Dengan sifat dan cara pikir Natsume, seorang gadis idiot pasti merupakan type manusia yang nomor satu harus dihindarinya jika bertemu."Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, Kak Natsume?"
"Jika kau bertemu dengannya, kau akan mengerti dengan sendirinya maksud ucapanku." Ujar Natsume datar tanpa menoleh ke arah Yoichi.
Yoichi sama sekali tidak bertanya tentang Mikan lagi. Dia bisa merasakan Natsume sama sekali tidak menyukai pertanyaannya barusan. Dia akan menantikan pertemuannya dengan gadis itu dan menilai sendiri seperti apa sebenarnya gadis yang dikatakan sebagai gadis teridiot di dunia oleh Natsume.
"Kak Natsume… Kau sangat kuat. Bisakah kau mengajariku cara bertarung?" tanya Yoichi tiba-tiba sambil menatap lurus kepadanya.
Natsume menolehkan kepalanya ke arah Yoichi "Kenapa? Apakah karena kau ingin membalas perlakuan orang-orang yang selama ini menindasmu?"
Yoichi menggeleng kepalanya "Karena aku ingin menjadi kuat supaya bisa melindungi diriku sendiri dan juga aku tidak mau merepotkanmu terus, Kak Natsume."
"Apakah kau tidak membenci mereka?"
Yoichi kembali menggeleng kepalanya "Aku tidak tahu…. Aku sama sekali tidak tahu apakah aku membenci mereka, sebab yang aku tahu selama ini hanyalah membenci diriku sendiri."
Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya diam mendengar jawaban Yoichi.
"Kak Natsume…. Aku sama sekali tidak bisa mengutuk mati seseorang seperti yang dikatakan penduduk desa. Aku memiliki suatu kemampuan aneh, aku bisa melihat waktu kematian seseorang lewat mimpi. Namun, setiap kematian yang ku lihat dalam mimpi terbukti, semua orang akan menganggab akulah pelakunya. Dan juga kesialan yang selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi, membuat semua orang membenci dan menjauhi ku."
Natsume tetap diam meski mendengar penjelasan Yoichi.
"Kak Natsume, setelah mengetahui ini semua apa kau akan membenci dan menjauhi ku?" tanya Yoichi.
Natsume tersenyum kecil dan menepuk kepala Yoichi "Aku tidak membencimu dan juga, aku tidak akan menjauhimu. Aku akan mengajarimu cara bertarung dan juga aku akan mengajarimu menggunakan sihir."
"Sihir?"
"Ya. Kau memiliki bakat sihir yang luar biasa, Yoichi."
Yoichi tersenyum begitu mendengar ucapan Natsume. Dia sangat senang mendengar jawaban Natsume "Terima kasih, Kak Natsume."
"Ternyata kalian di sini, ya?" ujar Ruka tiba-tiba sambil berjalan kearah mereka "Sebaiknya kalian makan dulu Natsume, Yoichi. Makanan sudah di siapkan."
Natsume dan Yoichi menatap Ruka tanpa berkata apa-apa dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kau makan saja Yoichi. Aku sama sekali tidak lapar. Temui aku setelah kau siap makan, aku akan mulai mengajarimu cara bertarung dan juga sihir." Ujar Natsume tanpa menoleh ke arahnya.
Yoichi mengangguk kepalanya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Natsume menatap Yoichi yang berlari meninggalkannya. Anak itu benar-benar mirip sekali dengannya, baik itu dari segi cara berpikir, sikap maupun jalan hidup. Namun, dia juga tahu. Yoichi berbeda dengannya. Dia bukanlah makhluk terkutuk sepertinya dan juga dia tidak memiliki dosa serta takdir yang menyakitkan sepertinya.
"Natsume, kau ingin mengajari Yoichi cara bertarung dan sihir ya?" tanya Ruka yang telah berada di sampingnya sambil menatapnya.
"Iya." Jawab Natsume singkat.
Ruka tersenyum dan mendongak kepalanya menatap langit "Aku iri padamu Natsume. Kau sangat kuat sedangkan aku begitu lemah. Aku sama sekali tidak bisa melindungi Mikan dan Hotaru. Bahkan, meski aku sudah berhasil menguasai sihir mengendalikan binatang ini, aku tetap saja tidak bisa membantu. aku sama sekali tidak berguna."
Natsume membalikkan kepalanya menatapnya sejenak "Kekuatanku hanyalah untuk menghancurkan, sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan. Kekuatanmu lebih bagus, Ruka. Kekuatanmu itu sangat lembut. Namun, juga sangat kuat. Kau tidak perlu khawatir, sebab kau sama sekali bukan orang yang tidak berguna. Kita tidak akan bisa menemukan para perampok itu tanpamu."
Mendengar ucapan Natsume, Ruka sama sekali tidak bisa menahan senyum lebar di wajahnya. Dia sama sekali tidak menyangka Natsume akan berkata demikian.
Natsume kembali mendongak kepalanya menatap langit "Dan tidak ada yang perlu kau irikan dari diriku yang seperti ini, Ruka…."
Ruka terdiam begitu mendengar ucapan Natsume. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Natsume itu.
"Natsume," panggil Ruka lagi. Dia memberanikan dirinya untuk bertanya pada Natsume "Siapa kau sebenarnya? Kau sama sekali bukan manusia kan?"
Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ruka itu. Dia hanya diam membisu. Pertanyaan Ruka barusan sama sekali tidak mengagetkannya, sebab dia sudah tahu Ruka telah menyadari identitas dirinya sebenarnya.
"Menurutmu?" tanya Natsume tiba-tiba tanpa menatapnya.
"Eh! Itu… menurutku… itu.." Jawab Ruka bingung sebab dia sama sekali tidak menyangka Natsume akan bertanya seperti itu.
Natsume tersenyum. Sikap Ruka sekarang membuat dia teringat dengan Mikan. Dia menyadari di antara Mikan dan Ruka ada suatu kemiripan, kadang-kadang mereka memiliki sikap dan pemikiran yang cukup mirip. Walau dia tahu, Ruka seribu kali lipat lebih pintar daripada Mikan.
Ruka sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Natsume tersenyum, ini adalah pertama kalinya dia melihat Natsume tersenyum. Wajahnya yang jarang berekspresi sekarang tersenyum di depannya.
Melihat senyum Natsume, Ruka tertawa. Natsume adalah orang yang sangat menutup dirinya. Namun, sepertinya dia mulai membuka hatinya untuknya. Dia merasa sangat senang dan pertanyaan yang barusan ditanyakannya pun terasa tidak penting lagi. Natsume adalah temannya, siapapun dia atau makhluk apapun dia, itu sama sekali tidak penting lagi.
"Baiklah, Natsume. Lupakan saja pertanyaanku barusan. Aku akan membawakan makanan kemari. Kita makan bersama saja di sini." senyum Ruka sambil menatap Natsume dan berjalan meninggalkannya.
Natsume menatap punggung Ruka yang berjalan menjauh dan tersenyum lemah. Iri. Ruka iri kepadanya? Jika Ruka tahu siapa dia sebenarnya dan apa arti dari kekutatannya itu, dia ragu Ruka masih akan merasa iri kepadanya. Kekuatannya bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, sesungguhnya dia sangat membenci kekuatannya.
"Tidak ada yang perlu kau irikan dari diriku ini, Ruka….." Ujar Natsume pelan.
Geladak kapal Silphi menjadi tempat yang paling tepat bagi Natsume untuk mengajari Yoichi cara bertarung dan cara menggunakan sihir. Geladak kapal itu kini menjadi tempat favorit Ruka, Tsubasa, Yuu dan juga para awak kapal. Selama dua hari kapal ini berlayar, mereka semua berkumpul di geladak kapal untuk menonton Natsume melatih Yoichi.
"Angkat pedangmu lebih tinggi lagi, Yoichi. Incar titik kelemahan lawanmu." Ujar Natsume sambil menghindari serangan Yoichi.
Mereka menggunakan pedang kayu yang dipinjam dari awak kapal untuk latihan mereka.
"Percepat gerakanmu dan manfaatkan kesempatan yang ada."
Yoichi sama sekali tidak membalas ucapan Natsume dan menuruti apa yang dikatakan Natsume dengan segenap kemampuannya. Dia berusaha menyerang Natsume dengan pedang kayu ditangannya. Namun, Natsume dengan mudah menghindarnya.
"Jangan memberikan celah kepada musuh untuk menyerangmu." Ujar Natsume dan bergerak dengan cepat ke hadapan Yoichi. Dengan pedang kayu di tangannya dia memukul pedang kayu yang digenggam Yoichi sehingga terlepas dari tangannya. pedang kayu itu terlempar tinggi ke atas dan jatuh tepat di depan Tsubasa.
Natsume mengangkat pedang kayu di tangannya dan menempelkannya ke leher Yoichi "Jika aku adalah musuhmu. Maka kau sudah tidak bernyawa sekarang." Ujarnya dingin.
Ruka, Tsubasa, Yuu dan para awak kapal menelan ludah mereka melihat cara Natsume mengajari Yoichi. Natsume sama sekali bukan seorang pelatih yang lembut, dia adalah seorang pelatih yang sangat keras meskipun yang dilatihnya adalah seorang anak kecil. Dia sama sekali tidak segan-segan menyerang Yoichi dalam latihan mereka.
"Hari ini cukup sampai di sini." Ujar Natsume sambil menurunkan pedang kayu tersebut dari leher Yoichi.
Yoichi mengangguk kepalanya. Meski latihan dari Natsume sangat keras dan menyakitkan, Yoichi sama sekali tidak pernah membantah ataupun mengeluh dan itu membuat kagum semua yang ada di sana. Banyak awak kapal yang merasa tidak mampu mengikuti latihan yang dijalankan Yoichi.
"Bagaimana kalau kita bertanding sebentar Natsume," ujar Tsubasa tiba-tiba sambil memungut pedang kayu Yoichi yang berada di depannya "Kau dan aku, siapa yang lebih kuat dalam menggunakan pedang?"
Mendengar ucapan Tsubasa semua yang ada di sana sangat senang. Semua yang ada di sana tahu, Tsubasa sang pangeran kerajaan Arathorn terkenal dengan kemampuan berpedangnya yang hebat dan Natsume yang berhasil mengalahkan komandan musuh dalam perang di kota Cirrions jelas merupakan seorang ahli pedang yang tak kalah hebat. Pertarungan ini pasti akan sangat seru dan menarik untuk disaksikan.
"Hn." Natsume sama sekali tidak mempedulikan tantangan Tsubasa. Dia membalikkan badannya dan berjalan menjauh.
Tsubasa tersenyum jahil dan bergerak dengan cepat menyerang Natsume "Jangan kabur, Natsume. Pertarungan kita waktu itu terhenti, sekarang saat untuk menentukan siapa pemenangnya."
Natsume membalikkan badannya dan menangkis pedang kayu Tsubasa dengan pedang kayu di tangannya "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Bayangan."
"Jika kau berhasil mengalahkan ku, aku tidak akan mengganggu mu lagi. Namun, jika aku berhasil mengalahkanmu, panggil aku Kak Tsubasa." Ujar Tsubasa.
"Baikalah kalau itu mau mu, Bayangan." Balas Natsume kesal sambil mendorong Tsubasa ke belakang dengan pedang ditangannya. Dia sebenarnya sama sekali tidak berniat meladeni Tsubasa. Namun, dia juga tahu, Tsubasa tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa maunya.
"Aku tidak akan segan-segan melawan mu, Natsume." Senyum Tsubasa. Tsubasa sebenarnya sama sekali tidak tahu berapa hebat kemampuan Natsume dalam menggunakan pedang. Dia hanya pernah melihat Natsume bertarung menggunakan tangan kosong dan sihir. Tsubasa tahu dengan pasti, dia sama sekali bukan lawan Natsume dalam kedua bidang itu.
Tsubasa melesat dengan cepat ke arah Natsume dan menyerangnya dengan pedang kayu di tanganya. Natsume dengan gesit menghindar dan balik menyerangnya.
Ruka, Yuu dan awak kapal menatap dengan penuh kagum pertarungan yang ada di depan mereka. Kemampuan mereka berdua benar-benar luar biasa, gerakan mereka sangat cepat dan sama sekali tidak memberikan celah kepada lawan.
"Kau tidak tertarik untuk menonton petarungan itu, Yoichi?" tanya Ruka kepada Yoichi yang berada di sampingnya dan Yuu. Dia merasa heran karena Yoichi sibuk menghapal mantra sihir yang diajarkan Natsume dan kelihatannya sama sekali tidak tertarik dengan pertarungan di depan matanya itu.
"Aku tidak tertarik melihat suatu pertarungan yang sudah jelas siapa pemenangnya. Tidak mungkin bayangan itu mampu mengalahkan Kak Natsume, Kak Ruka." Jawab Yoichi datar tanpa menoleh kepada Ruka.
Ruka dan Yuu yang mendengar jawaban Yoichi hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan apa-apa. Sikap cuek Yoichi benar-benar mirip sekali dengan Natsume.
Serangan Natsume yang terus menerus membuat Tsubasa kewalahan menangkis dan menghindar serangannya. "Sial tidak kusangka dia juga begini hebat dalam menggunakan pedang." pikirnya dalam hati.
Tsubasa tiba-tiba meloncat menjauh dari Natsume. Dia sudah mulai kelelahan, keringat mengalir dari dahinya dan napasnya sudah mulai terengah-engah. Natsume sama sekali tidak maju menyerangnya, dia hanya berdiri ditempatnya.
Tsubasa menatap Natsume yang berada di depannya dan menggerutu di dalam hati "Aku sudah mulai lelah, dan dia sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun tanda kelelahan."
Tsubasa tahu, jika pertarungan ini terus dilanjutkan seperti ini, maka dia pasti akan kalah. Karena itu dia memutuskan untuk melancarkan serangan terakhir pada Natsume dengan mengumpulkan segenap tenaga dan kemampuannya. Dia menggengam pedang di tangannya dengan erat dan melesat dengan cepat ke arah Natsume.
Natsume yang melihat Tsubasa melesat ke arahnya tahu. Serangan itu adalah serangan terakhir dari Tsubasa yang akan menentukan siapa pemenang dalam pertarungan itu. Dia sama sekali tidak bermaksud menghindar serangan itu, dia menerima tantangannya dan melesat maju ke arah Tsubasa. Dia sama sekali tidak berkeinginan membiarkan Tsubasa menang.
Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu menahan napas saat melihat mereka melancarkan serangan terakhir.
Tsubasa dan Natsume sama sekali tidak bergerak setelah melancarkan serangan terakhir mereka. Mereka berdua berdiri saling membelakangi tanpa mengucapkan apapun.
"Siapa pemenangnya?" Pikir semua yang ada di sana.
Semua yang ada di sana terkejut sekali karena pedang kayu yang berada di tangan Tsubasa tiba-tiba patah. Natsume membalikkan badannya dan menempelkan pedang kayu itu pada leher Tsubasa.
"Aku kalah." Ujar Tsubasa. Dia kalah telak dalam melawan Natsume. Dia telah mengerahkan segenap kemampuannya dan Natsume sama sekali belum mengerahkan segenap kemampuannya. Dia merasa sangat penasaran dalam hatinya, seberapa kuat Natsume itu sebenarnya.
Tsubasa menghela napas. Keinginannya untuk memiliki Natsume di dalam pasukannya menjadi semakin kuat. Semenjak pertemuan pertama mereka, dia telah sangat tertarik kepadanya. Kekuatan dan sihir Natsume sungguh luar biasa, dia akan menjadi sekutu yang luar biasa kuat dalam perang yang tengah berlangsung ini. Karena itulah dia berani menawarkan kekayaan, kehormatan dan juga kedudukan padanya saat dia meminta bantuannya saat perang di kota Radiata. Dia tidak mungkin akan membiarkan orang dengan bakat luar biasa seperti ini pergi begitu saja, walau pada akhirnya Natsume menolak semua yang ditawarkannya.
"Tepati janjimu itu, bayangan." Ujar Natsume sambil menurunkan pedang kayu yang menempel di lehernya.
"Baiklah." Balas Tsubasa.
"Benarkan. Kak Natsume sama sekali tidak mungkin kalah dari bayangan itu." Ujar Yoichi tiba-tiba mengagetkan Ruka dan Yuu yang dari tadi terkesikma menonton pertarungan mereka berdua.
Tiba-tiba para awak kapal yang berada di sana bertepuk tangan.
"Hebat!"
"Luar biasa!"
"Pertrarungan yang luar biasa sekali!"
Natsume sama sekali tidak mempedulikan tepuk tangan maupun teriakan para awak kapal itu, dia berjalan menuju tempat Ruka, Yuu dan Yoichi.
"Natsume, tunggu!" panggil Tsubasa "Siapa kau sebenarnya?"
Natsume berhenti begitu mendengar pertanyaan Tsubasa itu, dia kembali menolehkan kepala ke belakang menatapnnya.
Tsubasa sebenarnya sangat penasaran dengan siapa Natsume itu sebenarnya. Dia yakin sekali Natsume sama sekali bukan orang biasa. Kekuatan, sikap, pembawaan dan kharisma yang kadang ditunjukkan Natsume sama sekali bukan sesuatu yang dimiliki oleh seorang rakyat biasa. Walau dia juga tidak bisa mempungkiri adanya sikap yang sangat kejam dan gila dalam dirinya seperti saat dia meghadapi para perampok yang menculik Mikan dan Hotaru.
"Bukankah kau mengatakan jika aku menang dalam pertarungan itu, kau tak akan menggangu ku lagi, bayangan." Ujar Natsume tanpa ekspresi.
"Eh! Bukan seperti…" Balas Tsubasa cepat. Namun, kalimatnya itu terpotong dengan suara teriakan meminta pertolongan beberapa orang.
Semua yang ada di sana membalikkan kepalanya menatap suara teriakan tersebut. Mereka melihat tiga orang sedang mengapung di atas laut dengan berpegangan pada sebuah papan.
Tsubasa segera memerintahkan para awak kapal itu untuk menolong mereka. Sedangkan Natsume dengan cueknya berjalan ke arah Yoichi.
"Aku sudah menghapal semua mantra yang kau ajarkan padaku, Kak Natsume." Ujar Yoichi sambil menatap Natsume saat dia duduk di sampingnya.
"Bagus, Yoichi. Tunjukkan sihir-sihir itu padaku setelah urusan di depan kita ini selesai." Balas Natsume sambil menatap Ruka, Tsubasa, Yuu dan para awak kapal yang sibuk menyelamatkan ketiga orang itu.
Yoichi mengangguk kepalanya.
Natsume sama sekali tidak mengalami kesulitan besar saat melatih Yoichi. Dia adalah anak yang sangat pintar. Apa yang diajarkan oleh Natsume dapat diserapnya dengan cepat dan baik. Natsume yakin sekali anak ini pasti akan menjadi sangat kuat kelak.
"Terima kasih! Terima kasih banyak karena telah menolong kami!" Ujar ketiga orang yang ditolong mereka saat menapakkan kaki ke dalam geladak kapal silphi. Mereka bertiga kelihatan sangat lelah dan juga ketakutan.
Tsubasa menanyakan pada mereka dari mana asal mereka dan juga mengapa mereka bisa terombang-ambing di tegah laut ini.
"Kami adalah pedagang dari kerajaan Orthanc. Kapal kami berlayar dari kota pelabuhan Farrim di Orthanc menuju kota pelabuhan Denethor. Namun, dua hari yang lalu kami terjebak di dalam badai."
"Badai?" tanya Tsubasa.
"Iya. Badai yang sangat kuat. Kapal kami karam dan kami terseret dalam ombak." Jawab salah satu pedagang itu sambil gemetar mengingat kejadian yang baru saja mereka hadapi.
"Tenanglah. Anda sudah selamat dan juga badainya juga telah berlalu. Anda tidak perlu takut lagi." Ujar Ruka sambil menyerahkan selimut kepada ketiga orang itu.
"Terima kasih." Ujar para pedagang itu.
"Kalian pasti lapar, aku akan meminta koki kapal untuk menyiapkan makanan untuk kalian." Tambah Yuu sambil tersenyum.
Ketiga pedagang itu sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mereka benar-benar berterima kasih kepada penolong mereka.
Natsume yang mendengar penjelasan para pedagang itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Badai besar tiga hari yang lalu. Namun, badai ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Mikan. Para perampok yang menculik Mikan menggunakan jalur darat, mereka sama sekali tidak mungkin terperangkap dalam badai itu.
"Badai, ya? Memang tidak dapat di hindari. Semuanya, perhatikan laut baik-baik, mungkin masih ada orang yang selamat dari badai itu." Perintah Tsubasa.
"Sebenarnya ada yang aneh dengan badai ini." Ujar salah satu pedagang itu tiba-tiba.
Semua yang ada di sana membalikkan wajahnya menatap para pedagang itu lagi.
"Maksud mu?" tanya Tsubasa bingung.
"Kapal kami terjebak dalam badai itu pada malam hari. Badai itu sangat kuat dan kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Kami bertiga yang terombang-ambing di dalam laut sebenarnya sama sekali tidak mengira bisa melalui badai itu hidup-hidup lagi. Tapi…"
"Tapi apa?" tanya Yuu penasaran.
"Saat kami sudah menyerah tiba-tiba kami melihat cahaya putih dari depan kami."
Mendengar penjelasan pedagang itu. Natsume yang dari tadi cuek segera membalikkan kepalanya ke arah pedagang itu.
"Cahaya putih? Tidak mungkin…" Pikirnya.
"Cahaya putih itu semakin lama semakin kuat dan menyilaukan mata, sehingga kami semua terpaksa menutup mata. Cahaya itu sama sekali tidak berlangsung lama. Saat kami membuka mata cahaya itu telah lenyap begitu juga dengan badai yang ada."
"Cahaya putih?" Tanya semua yang ada di sana binggung. Mereka sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan para pedagang itu.
"Iya, Cahaya putih yang menyi…" Jawab salah satu pedagang itu. Namun, sebelum kalimatnya itu terselesaikan Natsume telah berada di depannya mengcengkeram kerah bajunya dan mengagetkan semua yang ada di sana.
" Apa maksud ucapanmu barusan?" Tanya Natsume dengan suara tinggi.
"Aku… aku tidak tahu…." Jawab pedagang itu terbata-bata karena terkejut.
"Jawab pertanyaanku, apa maksudmu dengan cahaya putih?" Tanya Natsume lagi dengan penuh kemarahan.
Pedagang itu merasa sangat ketakutan sekarang begitu juga dengan semua yang ada di sana. Semua yang ada di sana bisa merasakan dengan jelas kemarahan Natsume, walau tidak ada seorangpun yang tahu alasan mengapa Natsume tiba-tiba marah seperti itu .Tak ada yang berani menghentikan apa yang dilakukan Natsume sekarang, mereka semua hanya diam menatap Natsume karena ketakutan begitu juga dengan Ruka, Tubasa, Yuu dan Yoichi.
"Aku tidak tahu… cahaya itu tiba-tiba muncul dan menghilang….. hanya saja cahaya itu terasa sangat hangat dan lem…lembut….." Jawab pedagang itu gemetar sambil menatap Natsume.
Mendengar jawaban pedagang itu. Natsume melepaskan cengkeramannnya " Cahaya putih yang menghentikan badai dan terasa sangat hangat dan lembut. Tidak Mungkin…. Tidak mungkin…." Gumam Natsume pelan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Para perampok yang menculik Mikan tidak menggunakan jalur darat seperti informasi yang didapatkan Yuu. Informasi itu salah. Mereka menggunakan jalur laut dan terperangkap dalam badai tiga hari yang lalu. Cahaya putih yang dilihat para pedagang itu pasti cahaya yang berasal dari Mikan. Telah terjadi sesuatu pada Mikan.
"Mikan…" Panggil Natsume pelan, perasaan takut dan gelisah yang sangat kuat kembali menyelimutinya.
