Baddest Male
Summary:
Park Chanyeol ialah seorang lelaki tampan yang mapan. Mansion, jaguar, dan wanita adalah hidupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uangnya. Hidupnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna sampai akhirnya Byun Baekhyun mantan kekasihnya datang dan memintanya merawat bayi mereka. Apa kau bercanda?
Rated:
T+ (dianjurkan untuk 15 tahun ke atas)
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other EXO member.
.
.
.
Malam itu semuanya berjalan begitu saja, akal sehatnya sudah tersumbat dengan alkohol yang ia konsumsi. Mereka saling memberi dan menerima. Inilah buah kecerobohannya. Baekhyun hamil.
"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil" gumamnya dengan gelisah. Baekhyun mondar-mandir di dalam kamar mandi yang sunyi. Tangannya gemetar menatap alat test pack yang memperlihatkan dua garis merah.
Tubuh Baekhyun merosot pada dinding hingga terduduk di lantai toilet. "Apa yang harus aku lakukan?"
Ia menatap lagi untuk yang kesekian kalinya hasil test pack ditangannya.
"Ya Tuhan…" erangnya putus asa.
.
.
.
Sudah tiga hari Baekhyun mencoba mengajak Chanyeol bertemu, dan semuanya sia-sia. Pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ya situasi seperti ini sering terjadi dan Baekhyun bisa memakluminya, namun tidak dengan yang ini. Ia merasa panik luar biasa, dan ia butuh bicara dengan melirik jam mungil yang terletak di meja kerjanya. Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Masih sempat baginya untuk mampir ke kantor Chanyeol dan bicara serius. Ia bisa gila apabila terus-terusan memikirkan kehamilannya tanpa solusi. Ia harus menemui Chanyeol dan bicara.
Baekhyun bergegas membereskan tas dan peralatannya. Saat tubuhnya akan bangkit dari kursi ia merasa limbung dan kepalanya di serang rasa pusing. Baekhyun memutuskan untuk duduk kembali sambil menunggu sakit kepalanya reda.
Ia ingat kalau selalu menyiapkan beberapa butir aspirin di dalam tasnya. Ia membuka kembali tasnya dan menemukan sebuah botol kecil yang berisi beberapa butir aspirin. Pikirannya tiba-tiba teringat akan kandungannya. Baekhyun memasukkan kembali botol obatnya ke dalam tas dan memilih minum teh hangat yang telah disiapkan asistennya.
Baekhyun memutuskan meninggalkan mobilnya di kantor dan pergi dengan taksi. Ia merasa tidak mampu menyetir sendiri karena keadaannya. Tanpa sengaja ia bertemu atasannya, Kris saat berjalan melewati lobby.
"Kau baik-baik saja?"
Baekhyun tersenyum "Ya pak"
"Jangan menipuku, kulit wajahmu tidak bisa berbohong. Kau pucat"
"Aku tidak apa-apa pak"
"Ngomong-ngomong bisakah kau berhenti memanggilku pak? Kita hanya berbeda dua tahun, lagipula kau pacar temanku, aku merasa aneh mendengarmu memanggilku seperti itu"
"Bagaimanapun juga kau yang menggajiku"
Kris menggangguk canggung "Ya terserah padamu saja. Oh ya,… kau akan pulang?"
"Aku harus ke kantor Chanyeol lebih dulu"
Kris mengerutkan dahinya "Kau mencari Chanyeol?"
Baekhyun mengangguk lemah. "Tapi dia tidak ada di kantor" ujar Kris.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Baekhyun tidak menaruh curiga apapun saat menginjakkan kaki di sebuah bar yang terkenal dengan banyaknya kaum jetset yang keluar masuk untuk bersenang-senang. Di kepalanya hanya ada Chanyeol dan calon bayinya.
Baekhyun menemukan Chanyeol duduk di depan meja bar sedang bercumbu dengan wanita bergaun pendek. Tangan kekasihnya meraba tubuh wanita asing itu disana-sini, seperti tidak punya rasa malu melakukannya di tempat umum seperti sekarang.
Dan saat itu Baekhyun masih ingat bagaimana caranya ia dan Chanyeol berpisah dengan buruknya. Mereka berpisah bahkan sebelum Baekhyun sempat memberitahukan soal kehamilannnya. Ia sudah terlanjur sakit hati. Dengan amarah membuncah, ia menampar Chanyeol tepat di depan banyak orang, berharap dengan begitu pria ini bisa sadar. Namun yang Baekhyun dapatkan justru sebuah penghinaan. Chanyeol dengan lantang mengatakan bahwa ia berkencan dengan Baekhyun hanya untuk bermain-main dan menyalahkan Baekhyun yang terlalu naïf.
Dengan perasaan hancur, Baekhyun berjalan keluar bar dengan langkah tegas, padahal kakinya terasa begitu lemas. Tulang-tulangnya seperti menghilang dan ia bisa jatuh kapan saja. Namun harga dirinya tidak mengijinkannya terlihat lemah. Tanpa ia tahu, Chanyeol sendiri merasa sama hancurnya, di bawah pengaruh alkohol, Chanyeol bicara seenaknya, melukai perasaan Baekhyun dan semuanya berakhir dengan begitu kejam.
Siapa sangka dua bulan setelah itu mereka dipertemukan kembali. Disaat Baekhyun mulai kembali menata hidupnya, begitu juga Chanyeol yang sudah melupakan Baekhyun sepenuhnya. Tuhan berkata lain, takdir mereka belum selesai.
Baekhyun memutuskan memberitahu Chanyeol soal kehamilannya, ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. Sengaja menguji, Baekhyun menantang Chanyeol untuk menggugurkan bayi mereka atau pria itu ingin merawatnya. Baekhyun sangat berharap lebih baik Chanyeol memberinya uang dan menyuruhnya aborsi, dengan begitu Baekhyun bisa membencinya dan melupakan pria itu seutuhnya. Lalu Baekhyun bisa pergi jauh dan membesarkan bayinya dengan tenang tanpa memerlukan pria seperti Chanyeol. Di depan Chanyeol, Baekhyun adalah wanita yang berbeda dari Baekhyun dua bulan lalu yang begitu ceroboh, kini ia berubah begitu tegas, tenang, dan tidak terburu-buru.
"Jika kau tidak ingin aku menggugurkan bayi ini, aku mau kau yang merawatnya"
"Kau bercanda? Apa kau pikir aku bisa merawatnya?"
"Bila kau ingin aku melahirkan anak ini, aku tidak keberatan, tapi jika tidak—"
"Jangan gugurkan dia"
Jawaban Chanyeol berbeda dari yang ingin Baekhyun dengar. Pria itu justru meminta Baekhyun membesarkan anak di dalam kandungannya. Dari situlah takdir bekerja. Perasaan Baekhyun yang belum sepenuhnya menghilang untuk Chanyeol, kini perlahan tumbuh semakin mekar. Namun Baekhyun takut terluka untuk yang kedua kalinya, jadi ia membangun benteng tinggi di dalam hatinya. Tidak mengijinkan Park Chanyeol masuk lagi merebut segalanya, namun apa mau dikata, pria itu selalu saja mengetuk pintunya, memanggil-manggil namanya dan memaksa Baekhyun untuk merobohkan benteng yang sudah ia bangun sendiri.
.
.
.
-Baddest Male-
.
.
.
Terbuat dari apa hati itu?
Tak peduli seberapa rindu menghantamnya, sekuat apa duka menggerusnya, hati masih tetap bersikeras berdenyut. Memanggil-manggil nama yang dicintai.
Bodoh. Aku orang paling bodoh di dunia. Jatuh cinta kepada seseorang yang tidak boleh dicintai. Lelaki paling angkuh yang hanya mengetahui cara mencintai dirinya sendiri. Tahu bahwa harus berhenti mencintai. Mampu untuk berhenti mencintai. Namun, tak mau. Semata karena hati mengatakan demikian.
Dan untuk ke sekian kalinya aku jatuh ke pelukan orang yang sama. Yang melukaiku begitu banyak, tapi memberiku begitu banyak keindahan disaat yang bersamaan. Chanyeol.
Pernahkah kau merasa waktu seperti berhenti? Atau dunia tak lagi berputar? Hanya ada dirimu dan dirinya. Berdua. Saling memandang dan berpikir kalau kalian sama-sama jatuh cinta walau kenyataannya mungkin hanya Baekhyun yang berpikir demikian. Itulah yang Baekhyun rasakan sekarang. Ciuman itu entah mengapa membuatnya merasa bahwa Chanyeol mencintainya juga.
"Baiklah! Aku mengerti kalian sedang jatuh cinta!", itu adalah suara seruan seorang pengemudi mobil.
Baekhyun terhentak ke dunia nyata. Ia segera membuka mata. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah Chanyeol begitu dekat. Pria itu tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah Baekhyun lihat.
"Bisakah kalian melakukan itu di tempat lain? Mobilku harus lewat sekarang!", Chanyeol memalingkan wajah pada si pengemudi mobil yang terlihat lebih muda darinya. Bocah pengganggu.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menarik Baekhyun bersamanya untuk segera pergi dari zebracross tanpa mengucapkan maaf. Lagi pula untuk apa ia minta maaf? Mencium orang yang kau cintai bukanlah kesalahan. Chanyeol dan si pengemudi itu saling melempar tatapan sengit. Tidak ada yang ingin disalahkan satu sama lainnya. Tangan kanan Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun, sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk mengangkat lukisan konyol milik Luhan yang tadi mereka dapatkan di pameran. Baekhyun memilih menunduk sembari berjalan cepat mengikuti Chanyeol. Ia merasa malu dan ingin segera menghilang dari tempat itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya", jawab Baekhyun pelan. Sangat pelan. Namun Chanyeol masih bisa mendengarnya.
"Pipimu memerah", kata Chanyeol.
Baekhyun menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Matanya mendelik tajam pada Chanyeol. "Ini bukan karena ciumanmu. Ini karena udara dingin"
"Memangnya aku bicara apa? Aku kan tidak bilang pipimu merah karena ini" Chanyeol mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari. Tentu saja Baekhyun tahu maksudnya.
Melihat ekspresi Baekhyun yang semakin memerah membuat Chanyeol tersenyum licik. Baekhyun merasa sangat malu. Chanyeol selalu ahli dalam hal seperti ini. Membuatnya tidak bisa berkutik. Melawan orang ini hanya akan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi.
"Sudahlah, aku lelah berdebat. Aku mau pulang" Baekhyun berbalik arah memunggungi Chanyeol. Sepatu katsnya menghentak aspal dengan suara keras. Chanyeol tahu tandanya, Baekhyun merajuk.
Lelaki itu mengikuti langkah Baekhyun dengan tenang, tangannya masih menenteng pigura berukuran cukup lebar. Dalam hati Chanyeol merutuk sebal atas nama Luhan. Tidak di Korea ataupun di Jepang, gadis itu selalu berusaha merepotkannya.
"Baekhyun…"
"Baekhyun-ssi"
"Byun Baekhyun-ssi?"
Baekhyun menarik mantelnya merapat menutup dadanya. "Apa apa?" tanya Baekhyun tanpa menoleh pada Chanyeol.
"Kau marah padaku?"
"Lagi—?" Chanyeol mendesah.
"Baiklah lain kali aku tidak akan mencium bibirmu dengan sembarangan"
"Tapi jujur saja aku tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Aku menciummu karena kau mendesakku. Kau yang tidak percaya pada kata-kataku"
Baekhyun menggertakkan giginya. Matanya terpejam beberapa detik. Suhu tubuhnya panas mendengar Chanyeol membahas soal ciuman mereka. Bibir merah itu… bibir tebal itu… rasanya masih mengecap di bibirnya. Ya Tuhan apa yang ku pikirkan? Baekhyun menggeleng cepat, mengusir pikiran kotornya.
"Baekhyun, bicaralah"
"Apa kau menolak lamaranku? Apa karena ciuman yang tadi buruk?"
Baekhyun berbalik. Gerakan tiba-tiba Baekhyun cukup membuat Chanyeol terkejut.
"Akhirnya kau melihatku" ucap Chanyeol dengan hembusan nafas, seakan menunggu Baekhyun meresponnya adalah sebuah penantian yang sangat panjang.
"Bisakah kau berhenti bicara soal—"
Tatapan Baekhyun tanpa sengaja jatuh pada bibir Chanyeol. Belahan bibir itu seakan memiliki daya magnet yang begitu kuat sejak Chanyeol menciumnya tadi.
"—Ciuman"
"Kenapa? Ku pikir kau punya masalah dengan itu"
"Berhenti bicara soal 'itu' karena seseorang yang mendengarmu mungkin akan merasa terganggu"
Chanyeol menyempatkan diri melihat sekitarnya, hanya beberapa orang saja yang lewat di sekitar mereka karena jam istirahat sepertinya sudah selesai.
"Aku bicara menggunakan bahasa Korea, aku yakin orang-orang itu tidak mengerti, lagipula mereka bukanlah orang yang akan tertarik dengan pembicaraan kita"
"Tapi aku mendengarmu dan tau artinya, jadi berhentilah"
"Kau terganggu dengan itu?"
Baekhyun menutup mulut. Chanyeol yakin itu artinya jawaban Baekhyun adalah ya.
"Jadi, apa jantungmu sedang berdebar-debar?"
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Apa katamu?"
"Kau berdebar karena aku?"
"Aku? Tidak!" bantah Baekhyun. Ini terbalik dengan kondisi tubuhnya. Sejak Chanyeol secara terang-terangan bertanya soal debaran jantungnya, detaknya justru semakin menggila dan Baekhyun merasa seperti akan meledak.
"Aku tahu kau berdebar karena ciuman itu", Chanyeol tersenyum, tepatnya menyeringai. Baekhyun merasa ia sudah kalah.
"Park Chanyeol-ssi"
"Harusnya kau jawab saja ya"
"Apanya?"
"Lamaranku", ekspresi wajah Chanyeol berubah serius.
Tatapan mata Baekhyun segera beralih menatap ke arah belakang Chanyeol, lalu turun melihat ujung sepatunya. Ia tidak bisa menatap Chanyeol. Ia gentar. Pria itu mempunyai magnet kuat yang tidak dapat ditolak. Baekhyun takut akan ditarik menempel seperti benda logam. Jatuh cinta pada Chanyeol sudah cukup. Ia tidak ingin semakin jatuh dan jatuh cinta semakin dalam lagi. Ia takut tidak mau pergi jika Chanyeol sudah tidak menginginkannya lagi suatu hari nanti. Baekhyun tahu bagaimana Chanyeol, pria ini cepat merasa bosan dan ragu-ragu dalam bersikap, terkadang begitu hangat dan membuat Baekhyun merasa nyaman namun terkadang begitu dingin seperti hatinya terbuat dari bongkahan batu es.
"Kau yakin dengan perasaanmu?" tanya Baekhyun dengan suara bergetar.
"Aku sudah katakan padamu aku serius dan menginginkan pernikahan"
"Ini soal pernikahan, bukan hanya sekedar tinggal serumah"
"Mengapa kau tidak percaya padaku? Aku bilang—"
"Itu bukan cinta!" ucap Baekhyun dengan suara tegas.
Chanyeol terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak suka mendengar cara Baekhyun menghakimi perasaannya. "Bukan? Lalu apa?"
"Itu bukan cinta, kau hanya merasa kasihan padaku dan merasa perlu bertanggung jawab. Itu bukan cinta" jelas Baekhyun dengan nada dingin.
Chanyeol terperangah ketika mendengar Baekhyun menjawab pertanyaannya dengan penuh keyakinan. Bagaimana bisa Baekhyun menebak perasaannya hanya sebatas itu? Ia sudah bergelut begitu lama dengan keragu-raguannya tentang pernikahan. Disaat ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Baekhyun, wanita itu justru menyangkalnya.
Chanyeol menghela nafas. Sikap defensif yang Baekhyun berikan jelas menjawab pertanyaannya. Wanita itu mungkin masih sangat marah atas sikapnya di masa lalu dan tidak suka bertemu dengannya. Tapi Chanyeol tidak akan menyerah. Ia akan mencairkan hati Baekhyun yang beku dan membuat wanita itu menerima dirinya kembali.
Chanyeol tersenyum, membuat Baekhyun memandang pria itu dengan tatapan aneh.
"Kau lapar?"
"Apa?" tanya Baekhyun heran. Setelah mereka bicara serius, bisa-bisanya Chanyeol tersenyum sumringah seakan tidak terjadi apapun.
Chanyeol mengapit lengan Baekhyun dan menggenggam tangannya dengan erat hingga jari-jari mereka menyatu. "Kurasa kau butuh banyak karbohidrat dan protein, karena membenciku membutuhkan tenaga yang banyak. Kau tahu?"
"Apa maksudnya?"
"Aku tidak akan menyerah begitu cepat. Jadi berjuanglah untuk menolakku karena aku akan berusaha lebih keras lagi. Jadi kau butuh banyak makanan untuk mendapatkan tenaga melawanku. Bagaimana?"
"Kau ini—"
"Kau mau makan apa? Karena kita ada di Jepang bagaimana dengan sup miso? Salmon? Edamame? Sushi?"
Baekhyun menghela nafas. Ia tahu Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Baekhyun tidak ingin merusak suasana jadi ia memilih untuk makan saja.
"Aku mau kimchi"
Chanyeol menoleh cepat kearah Baekhyun dengan alis terangkat. "Bagaimana dengan Soyu Salmon? Ada restoran enak yang pernah aku kunjungi saat di Jepang dulu. Namanya—"
"Aku bilang aku ingin kimchi"
"Baiklah, tapi dimana kita bisa menemukan restoran Korea?"
"Kau yang membuat kimchinya"
"Apa?" Chanyeol memandang Baekhyun dengan ekspresi protes seakan mengatakan 'yang benar saja?'
"Bukankah tadi kau yang menawariku untuk makan?"
"Aku tidak bilang aku akan memasak untukmu"
"Tapi aku mau kau yang membuatnya"
"Kau memanfaatkanku karena aku mulai bersikap baik?"
"Ya" jawab Baekhyun tanpa ragu.
"Tidak bisakah kau melakukannya? Ini bukan mauku tapi bayimu" sambung Baekhyun.
Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan menuduh. "Aku yakin kalian berdua bersekongkol bukan?"
Baekhyun tersenyum lebar penuh kemenangan. "Mungkin"
.
.
.
Baekhyun mendorong troli sedangkan Chanyeol berjalan disampingnya. Mereka berdua terlihat serasi, seperti pasangan pengantin baru yang sedang membeli keperluan rumah tangga.
Baekhyun berhenti di stand sayuran. Ia memilih sayur sawi yang segar. Setelah mendapatkan sayur yang ia inginkan, Baekhyun mencari lobak putih yang tidak jauh dari rak sayur sawi.
"Aku tidak tahu bahan untuk membuat kimchi" ujar Chanyeol jujur.
"Lalu?"
"Aku juga tidak tahu cara membuat kimchi dan aku tidak pernah membuat makanan itu"
"Kau bisa melihat resep" jawab Baekhyun.
Baekhyun memasukan daun bawang, bawang putih dan jahe ke dalam troli. Setelah itu ia mendorong trolinya berjalan meninggalkan stand sayuran.
"Dimana tempat bubuk cabenya?" gumam Baekhyun. Chanyeol ikut melirik sekitarnya. Lalu ia menemukan lorong yang berisi rak bahan-bahan makanan.
"Ku pikir disana" ucap Chanyeol. Baekhyun tersenyum sumringah karena Chanyeol benar.
"Kita butuh saus ikan" ucap Baekhyun sambil melihat-lihat deretan rak toko.
Chanyeol membantu mencari. "Apa kita tidak butuh garam atau gula? Ku pikir itu bahan dasar" tanya Chanyeol saat menyadari keranjang belanjaannya tidak memiliki dua bahan yang tadi ia sebutkan.
"Aku yakin ibu mempunyai itu di rumah" jawab Baekhyun. Ia masih sibuk mencari. "Ah, ini dia!" Baekhyun memamerkan botol saus ikan pada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum tipis "Kurasa sebentar lagi kau benar-benar membuatku memasak kimchi"
"Tentu saja!" sahut Baekhyun riang.
.
.
.
Chanyeol membantu Baekhyun membawa plastik belanjaan ke dapur. Setelah itu mereka berdua memilah barang-barang yang sudah mereka beli.
"Sekarang kau bisa membuatnya" Baekhyun melipat kedua tangan di dada dan memberikan semua pekerjaan pada Chanyeol.
"Aku tidak punya resep" protes Chanyeol.
"Ambil ini" Baekhyun memberikan ponselnya pada Chanyeol. Di layar ponsel itu sudah tercantum cara membuat kimchi dengan panduan lengkap.
Ibu Baekhyun pergi ke lantai bawah dan menemukan Baekhyun dan Chanyeol sedang berada di dapur dengan setumpuk belanjaan.
"Kalian berbelanja?" tanya ibu Baekhyun.
"Ibu, Chanyeol bilang dia akan membuat kimchi" ujar Baekhyun penuh semangat.
Ibu Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan tidak yakin. "Kau bisa membuat kimchi?"
"Sebenarnya tidak" jawab Chanyeol kikuk.
"Lalu?" Ibu Baekhyun menatap putrinya dan Chanyeol dengan tatapan curiga.
"Aku ingin kimchi, bu. Tapi aku mau Chanyeol yang membuatnya"
Nyonya Byun menghela nafas. Ia ingat putrinya sedang mengandung. Mungkin ini hormon kehamilannya yang membuatnya ingin sesuatu yang aneh. Bagaimana bisa ia menyuruh CEO perusahaan besar yang harusnya berurusan dengan uang dan bisnis beralih menjadi sibuk di dapur dengan sawi putih dan saus cabai.
"Kau butuh bantuan?" tanya ibu Baekhyun pada Chanyeol.
Baekhyun terkejut mendengarkan ibunya begitu juga Chanyeol. Setahu mereka ibu Baekhyun tidak menyukai Chanyeol.
"Ibu mau membantu Chanyeol?"
"Kenapa? Bukankah dia bilang tidak bisa membuat kimchi?"
Chanyeol berusaha menghentikan Ibu Baekhyun karena merasa tidak enak. "Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri"
"Keluarkan sawinya" ucap Ibu Baekhyun.
"Ya?" ulang Chanyeol.
"Aku bilang keluarkan sayur sawinya setelah itu cuci dengan air bersih"
Chanyeol menatap Baekhyun, namun wanita itu hanya mengendikkan bahunya menyerah.
"Aku tidak ingin merepotkan, jadi—"
"Setelah itu kau bisa merendamnya dalam larutan air garam" ucap Nyonya Byun.
"Tapi, kimchi tidak akan selesai hanya dalam satu malam. Setidaknya butuh waktu dua hari untuk fermentasi" ujar Ibu Baekhyun memperingatkan.
"Aku sudah membahasnya dengan Chanyeol tadi. Ini kimchi spesial, aku ingin ini selesai dalam satu hari"
Nyonya Byun mengernyit. "Kalau begitu namanya bukan kimchi tapi salad sayur" ejek Nyonya Byun atas permintaan aneh Baekhyun.
Baekhyun tidak peduli, ia tetap ingin menyebutnya kimchi.
.
.
.
Alarm Baekhyun berbunyi setelah enam jam merendam sawi dalam air garam. Baekhyun segera berlari keluar kamar untuk mencari Chanyeol. Dari ruang tengah, dapur, hingga toilet namun Chanyeol tidak ada. Baekhyun pergi ke lantai atas mencari ibunya dan menemukan wanita paruh baya itu sedang menggunting daun kering pada tanamannya yang berada di balkon kamar.
"Apa yang ibu lakukan?" tanya Baekhyun basa-basi.
"Kau tentu bisa melihat Baekhyun-ah" jawab Nyonya Byun tanpa menoleh.
"Apa ibu melihat Chanyeol?"
Nyonya Byun meletakkan guntingnya lalu memindahkan pot bunga mawarnya berjejer dengan tanaman lain. Ia tersenyum melihat tanaman-tanaman cantiknya.
"Bukankah tadi dia bersama suamiku?"
Baekhyun mengernyit, "Ibu melihatnya dimana?"
Ibu Baekhyun beralih menatap putrinya yang tampak tak sabaran. "Mengapa kau mencari pria itu?"
"Ini sudah lewat enam jam bu, Chanyeol harus melumuri sawinya dengan bumbu" jawab Baekhyun.
Nyonya Byun tersenyum, menganggap putrinya lucu. "Kau mencarinya hanya karena kimchimu?"
"Ya" jawab Baekhyun. Ia tidak mengerti mengapa ibunya tersenyum lebar disaat ia bertanya dengan serius.
"Kau bisa mencarinya di taman belakang. Ibu pikir mereka masih berada disana"
"Baiklah" Baekhyun berbalik, berjalan kearah pintu untuk keluar kamar, tapi kakinya tiba-tiba berhenti. Ia kembali menoleh pada ibunya.
"Ibu" panggilnya dengan suara agak keras.
"Ada apa?" tanya Nyonya Byun bingung.
"Mengapa ibu mau membantu Chanyeol tadi?"
Nyonya Byun mengambil semprotan air lalu sibuk memberi semprotan makanan pada tanamannya. "Kau tidak suka ibu membantunya?"
"Bukan begitu, tapi setahuku ibu kan—tidak menyukai Chanyeol" ucap Baekhyun pelan, berusaha hati-hati agar ibunya tidak salah paham.
"Itu tergantung bagaimana dia bersikap"
"Apa maksud ibu?"
Nyonya Byun meletakkan semprotan air. Ia memperhatikan bunga-bunganya tanpa menoleh pada Baekhyun. "Ibu tidak bilang kalau ibu menyukainya, tapi selama ia bersikap baik di rumah ini, terutama padamu, ibu juga akan bersikap baik padanya"
"Chanyeol tidak seburuk yang ibu pikirkan"
"Kau lagi-lagi membelanya. Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" tanya Nyonya Byun dengan agak jengkel karena Baekhyun terus membela Chanyeol.
Baekhyun menghela nafas. "Dia bahkan melamarku tadi"
Hening. Walau hanya lima detik, tapi Baekhyun benci suasana ini. Terlalu canggung. "Ibu?"
"Kau menerimanya?"
Baekhyun menunduk lalu menggeleng pelan. "Tidak"
Nyonya Byun menghembuskan nafas berat. Entah ekspresinya menyatakan rasa lega atau justru sebaliknya, Baekhyun tidak dapat menebaknya.
"Apa keputusanmu? Kau akan membesarkan anak itu sendiri tanpa ayahnya?"
"Awalnya aku berpikir begitu bu, namun sekarang aku tidak tahu apakah masih sanggup melakukannya atau tidak" jawab Baekhyun dengan suara parau.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba menerimanya? Anak itu butuh ayah Baekhyun, dan hanya Chanyeol yang bisa menjadi sosok itu. Itu bayi kalian, tentu kalian berdua yang mempunyai tanggung jawab merawatnya, bukan hanya kau"
Nyonya Byun maju mendekati putrinya, membelai rambut putri kesayangannya dengan sayang. Seketika itu juga Baekhyun memeluk ibunya dengan erat. Matanya berkaca-kaca. Beban yang ia rasa begitu berat kini mulai terasa ringan karena ia bisa berbagi dengan ibunya.
"Aku masih menunggu bu" ujar Baekhyun dengan suara gemetar.
Nyonya Byun mengelus punggung Baekhyun dengan lembut. "Apa yang kau tunggu?"
"Chanyeol. Aku menunggu dia bisa mencintaiku dan bayi ini dengan tulus, bukan karena rasa kasihan"
"Baekhyun—"
Baekhyun mulai terisak, ia menenggelamkan kepalanya di bahu ibunya. Rasnaya begitu hangat dan Baekhyun merasa dilindungi saat bersandar disana. "Maafkan aku bu, maafkan aku" ucap Baekhyun penuh rasa bersalah. Ia merasa bersalah karena menjadi satu-satunya anak keluarga ini namun sangat mengecewakan.
Nyonya Byun berusaha menenangkan Baekhyun dengan terus mengelus punggungnya dengan sayang. "Berhentilah menangis, bayimu mungkin sedang ketakutan sekarang" ucap ibu Baekhyun dengan tersenyum. Ia membuat Baekhyun berdiri tegak lalu menghapus air mata putrinya.
"Sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini?"
"Ibu" ucap Baekhyun dengan nada merajuk.
"Bukankah tujuanmu tadi mencari Chanyeol? Temukan dia dan buat kimchinya. Jangan menangis lagi"
Baekhyun menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Kenapa aku jadi cengeng begini?" gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.
Nyonya Byun hanya tersenyum, sesekali ia mengelus rambut Baekhyun sampai putri satu-satunya itu berhenti menangis.
.
.
.
Tuan Yamada dan Chanyeol berdiri di taman belakang, menghirup udara segar. Chanyeol melirik Tuan Yamada dengan perasaan campur aduk, ia mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengungkap kebenaran. Ia adalah tipe orang yang tidak suka menyimpan kebohongan, jadi sebelum ia kembali ke Korea, Chanyeol ingin semuanya menjadi jelas sehingga ia tidak perlu kembali dengan rasa bersalah.
Chanyeol sudah menjelaskan semuanya. Tujuannya ke Jepang hingga kehamilan Baekhyun. Namun sudah setengah jam ia berdiri disini dan Tuan Yamada tidak mengatakan apapun. Pria paruh baya itu hanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
Chanyeol tiba-tiba merasa menyesal, tidak seharusnya ia memberikan berita mengejutkan ini secara mendadak. Tuan Yamada pasti kaget, sama halnya seperti Ibu Baekhyun saat pertama kali mendengarnya. Marah, kecewa, tidak percaya. Chanyeol bahkan sudah siap bila harus dipukul karena ia memang bersalah.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku benar-benar minta maaf" ucap Chanyeol dengan suara rendah. Ia sudah mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, mungkin lebih dari sepuluh kali.
Tuan Yamada akhirnya menatap Chanyeol untuk pertama kalinya setelah suasana canggung yang berlangsung lebih dari tiga puluh menit.
"Aku tidak tahu harus meresponmu seperti apa" ucap Tuan Yamada.
Chanyeol mengernyit, tidak mengerti. Namun Tuan Yamada kembali melanjutkan, "Aku memang sudah menganggap Baekhyun seperti putri kandungku sendiri walaupun ia bukan anak biologisku. Aku hanya ingin melihatnya bahagia, itu saja. Fakta bahwa kalian mempunyai hubungan dan juga akan mempunyai anak, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia memang putriku, tapi aku bukanlah ayah kandungnya, aku tidak yakin apakah aku berhak menghakimi kalian berdua."
Tuan Yamada menatap Chanyeol lurus-lurus. "Kalian sudah dewasa, dan aku ingin melihat kedewasaan kalian berdua, terutama kau sebagai seorang pria. Aku ingin tahu keputusan apa yang akan kau ambil jika kau tahu situasi Baekhyun seperti sekarang. Ini terserah padamu dan Baekhyun. Kalian berdua melakukannya, dan kalian harus menerima resikonya. Sekarang tinggal pilihan kalian akan mengambil jalan yang mana untuk menghadapi resiko tersebut."
"Kau yakin mau bertanggung jawab atas bayi itu?" tanya Tuan Yamada dengan tegas.
"Aku yakin" jawab Chanyeol tidak kalah tegas.
"Dan kau akan bertanggung jawab atas perasaanmu pada Baekhyun? Putriku"
"Aku—"
"Park Chanyeol!" suara nyaring Baekhyun terdengar keras memanggil namanya. Wanita itu sudah kembali ceria, atau tepatnya memaksakan diri untuk ceria dan terlihat tegar. Chanyeol dan Tuan Yamada serentak menghadap Baekhyun. Wanita bertubuh kecil itu dengan langkah besar-besar berjalan diatas rumput hijau segera mendekat kearah Chanyeol dan ayahnya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol.
Baekhyun memandang Chanyeol dan ayahnya secara bergantian. "Mengapa ekspresimu dan ayah sangat kusut? Kalian membicarakanku?"
Tuan Yamada tersenyum lebar, berusaha menutupi pembicaraannya dan Chanyeol. "Ya, kami membicarakanmu"
Baekhyun melotot kaget, "Benarkah? Pasti kalian membicarakan hal buruk tentangku kan?"
"Sedikit" ujar Tuan Yamada dengan senyuman cemerlang. "Benar kan Chanyeol?"
Chanyeol menatap Tuan Yamada dengan bingung, ia bahkan bicara tergagap karena tidak tau harus menjawab apa yang benar. "Ah—ya"
"Sudah kuduga" dengus Baekhyun. Wanita itu beralih menatap Chanyeol, "Bukankah kau berjanji akan membuat kimchi?" tanyanya. Chanyeol mengangguk malas.
"Ayo ke dapur dan cepat selesaikan" seru Baekhyun.
Chanyeol menghela nafas "Kau masih menginginkannya? Bukankah tadi kau sudah makan daging panggang?"
"Daging panggang dan kimchi itu berbeda" protes Baekhyun.
"Aku benar-benar mual mengingat kimchi, apa morning sick-mu itu menular?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mendelik pada Chanyeol, ia menatap ayahnya khawatir. Ia masih belum tahu kalau Chanyeol sudah memberitahukan semuanya pada ayahnya. "Kau ini bicara apa?" tanya Baekhyun, berdalih.
Tuan Yamada tersenyum, bersikap biasa di depan Chanyeol dan Baekhyun. "Kalian tidak ke dapur? Ayah juga ingin mencoba kimchi-nya, sudah lama ayah tidak mencicipi makanan Korea" ujar Tuan Yamada.
Baekhyun segera menarik Chanyeol untuk mengikutinya. "Aku dan Chanyeol akan membuatnya, ayah bisa menunggu disini" katanya. Dan setelah itu Chanyeol hanya pasrah Baekhyun menariknya menuju dapur.
Tuan Yamada tersenyum di belakang mereka. Ia tahu Chanyeol dan Baekhyun hanya memerlukan waktu untuk membuat semuanya berjalan baik-baik saja. Ia percaya pada Chanyeol dan putrinya. Ia percaya bahwa mereka berdua bisa mengambil keputusan terbaik tanpa campur tangannya.
.
.
.
Chanyeol sudah siap dengan sarung tangan plastik yang diberikan ibu Baekhyun, sedangkan Baekhyun menunggu di meja makan yang masih berada di sekitar dapur. Ia mengucapkan kata "Fighting!" setiap Chanyeol menoleh padanya. Ekspresi pria itu benar-benar tidak terlihat baik, namun Baekhyun justru menyukainya.
Chanyeol ingin protes, namun ia memilih diam. Bukankah tadi Baekhyun bilang akan membantunya? Namun yang ada wanita itu hanya duduk sambil menonton tanpa memberikan kontribusi apapun selain berceloteh tidak sabar untuk menyantap kimchi buatannya. Harusnya Chanyeol merasa kesal, tapi entah kenapa ia justru merasa senang Baekhyun duduk disana dan memperhatikannya.
Nyonya Byun mengambil sawi dari rendaman air garam lalu meletakkannya dalam sebuah wadah berbentuk cekung. Tanpa sadar Nyonya Byun tersenyum melihat Chanyeol dan Baekhyun yang hanya bertukar padangan sengit, seakan di kedua pasang mata mereka ada laser yang berusaha membuat wajah masing-masing berlubang.
"Kau sungguh tidak pernah membuat kimchi?"
Suara Ibu Baekhyun membuyarkan konsentrasi Chanyeol yang sedang adu pandang dengan Baekhyun, ia segera menatap Nyonya Byun. "Anda bicara apa?"
"Aku tanya apakah kau tidak pernah membuat kimchi?"
"Ya" jawab Chanyeol pelan.
Ibu Baekhyun menoleh kearah Baekhyun, "Kau akan tetap duduk disana tanpa membantu?"
Baekhyun segera menegakkan tubuhnya.
"Kau bisa mencampur bahan ini kan?" Nyonya Byun menyodorkan bahan-bahan ke atas meja Baekhyun.
Baekhyun menaikkan sebelah alisanya menatap bahan-bahan itu. "Ibu, ini tugas Chanyeol", protesnya.
"Chanyeol tidak pernah membuatnya, jadi kau yang melakukannya. Lagipula ini tugasmu untuk memasak"
"Ibu!" Baekhyun memandang ibunya heran. "Justru karena dia tidak pernah melakukannya, suruh dia melakukannya agar dia tahu caranya. Mengapa ibu menyuruhku? Ini sama saja aku yang membuat kimchinya"
"Dia laki-laki, untuk apa membuat kimchi?" jawab Nyonya Byun. "Begini saja, kau yang campur bahannya, dan Chanyeol yang akan melumuri bahannya ke dalam sayur sawi. Adil kan?"
"Tetap saja tidak adil" balas Baekhyun tidak terima.
"Bekerjasamalah!" ucap Nyonya Byun. Baekhyun hanya bisa diam dan menurut. Ia mengambil blender dan melakukannya dengan terpaksa.
Disamping Nyonya Byun, Chanyeol tersenyum aneh. Ia terlihat senang melihat Baekhyun memasang tampang merajuk namun tetap melaksanakan perintah ibunya. Siapa yang menyangka di umur sedewasa ini Baekhyun masih menjadi anak manis di depan ibunya?
"Kau bilang kau tidak bisa membuat kimchi kan?" tanya Ibu Baekhyun penasaran.
Chanyeol mengangguk smabil menjawab ya.
"Tapi bagaimana kalau kau ingin makan kimchi? Kau membelinya? Menurutku kimchi buatan rumah adalah yang terbaik"
"Aku tidak begitu menyukai kimchi, tapi biasanya ibu dari teman serumahku membawakannya untukku. Aku juga punya sepupu, ibunya sering mengirimiku kimchi" jawab Chanyeol.
"Oh, aku juga mendengar itu dari Baekhyun kalau ada orang lain yang tinggal denganmu. Tapi mengapa kau tidak meminta ibumu saja yang membuatkannya? Aku yakin ibumu bisa—"
"Tidak, dia tidak akan pernah melakukannya" jawab Chanyeol dingin. Ekspresi pria itu berubah kaku.
Nyonya Byun menatap Chanyeol "Aku tebak ibumu seorang wanita karir yang sibuk"
"Bukan, dia seorang pianis yang punya banyak waktu luang" ujar Chanyeol.
Nyonya Byun dan Chanyeol saling bertatapan "Benarkah?" tanya ibu Baekhyun pada akhirnya.
Chanyeol mengangguk dengan tatapan kosong. Ia kemudian tersenyum pahit, "Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasa makanan buatan ibuku. Dia pergi saat aku masih kecil, dan tidak pernah kembali sampai sekarang. Bisa dibilang kalau aku tidak punya ibu."
Nyonya Byun terpaku di tempatnya berdiri. Ia menoleh sekilas kearah Baekhyun yang sibuk membuat bumbu. Setelah yakin Baekhyun tidak mendengarnya, ia kembali menatap Chanyeol. "Maaf, aku tidak tahu kalau—"
Chanyeol memaksakan senyumnya. "Tidak apa-apa, anda hanya bertanya dan aku menjawabnya."
"Kau baik-baik saja?" tanya Nyonya Byun khawatir.
Chanyeol tersenyum, lalu mengangguk. "Aku baik-baik saja. Memangnya alasan apa yang membuatku tidak baik?"
Nyonya Byun mengangguk kecil. "Baguslah jika kau merasa seperti itu."
"Chanyeol-ssi"
"Ya?"
"Baekhyun adalah putriku dan kalian berdua berhubungan dengan baik, jika kau mau, kau bisa menganggapku ibumu seperti Baekhyun"
Chanyeol menatap Nyonya Byun terkejut. Ia mengira baru saja salah dengar ataupun salah paham dengan maksud wanita paruh baya ini. "Aku bisa menganggap anda sebagai ibuku?"
Nyonya Byun mengangguk, tersenyum canggung pada Chanyeol. "Kau keberatan?"
Chanyeol membeku, ia menatap Baekhyun yang sedang sibuk lalu menatap Nyonya Byun secara bergantian. "Aku tidak tahu apa pantas mendapatkan ini. Aku bahkan sudah mengecewakan anda karena membuat Baekhyun—"
Nyonya Byun segera menggenggam tangan Chanyeol erat "Maafkan aku atas insiden di restoran waktu itu"
Chanyeol segera teringat peristiwa dimana Ibu Baekhyun marah besar setelah tahu kondisi Baekhyun dan menampar wajahnya di depan umum begitu juga dengan Baekhyun yang harus pulang dengan basah kuyup. Chanyeol sadar betul ia pantas mendapatkannya. "Anda tidak bersalah, itu semua salahku"
Nyonya Byun menghembuskan nafas panjang. "Tidak, aku juga bersalah. Aku harusnya mendengar penjelasanmu dan Baekhyun, tapi aku terlalu gelap mata dan bersikap kasar. Aku harap kau mengerti. Kau tahu aku seorang ibu dan aku tidak mungkin baik-baik saja setelah mendengar putriku hamil di luar pernikahan."
"Anda tidak bersalah apapun, aku memang pantas mendapatkannya. Saat itu aku maish belum mengerti bagaimana perasaanku sendiri, tapi mulai sekarang aku akan berusaha melindungi Baekhyun dan bayiku."
Nyonya Byun tersenyum. "Besok kalian kembali ke Korea, aku harap kau bisa melindungi Baekhyun dengan baik. Baekhyun adalah putriku, begitu juga kau adalah putraku. Aku bisa mempercayakan Baekhyun padamu kan?"
Chanyeol menatap nanar wanita di depannya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan seorang ibu. Bukan ibunya yang sebenarnya, tapi ia bisa mendapatkan sosok itu kembali.
"Apa aku bisa menganggap anda sebagai ibuku?"
Nyonya Byun mengangguk, "Tentu saja jika kau tidak keberatan. Mulai sekarang aku akan membuatkan kimchi untukmu jika kau mau."
Chanyeol merasakan perasaan hangat, seakan salah satu tempat dingin yang kosong di sudut hatinya terisi kembali dengan nama baru. Bukan berarti ia melupakan ibu kandungnya, ia bahkan mengingatnya setiap waktu. Berharap ibunya kembali dan menjemputnya, namun hingga kini yang ia dapat hanya angan kosong. Ibunya tidak pernah kembali. Tidak akan kembali.
Dan sekarang ia mendapat kesempatan merasakan hadirnya seorang ibu lagi. Di tempat ini ia bisa mendapatkan arti sebuah keluarga. Baekhyun membawanya ke tempat ini. Dimana ia bisa merasakan angan yang selama ini ia anggap hanya angan kosong. Baekhyun mengajaknya merasakan arti sebuah keluarga lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Dan Chanyeol sadar sekarang betapa ia sangat bersyukur mengenal Byun Baekhyun.
-Baddest Male-
Luhan duduk di atas meja kerja Chanyeol, ia menggapai beberapa kertas disana dan membacanya karena mulai bosan. Ia mulai meringis melihat deretan tabel dengan angka ataupun grafik penjualan yang membuat matanya sakit.
"Sehun, apa kau tidak gila membaca ini setiap hari?"
"Hm"
Luhan memutar kepalanya ke kanan untuk melihat Sehun. "Kau sudah bilang pada Chanyeol soal lukisan manga yang aku inginkan?"
"Hm"
Luhan memasang ekspresi cemberut lalu menoleh kearah Sehun yang duduk di sofa dengan laptop di atas mejanya. Ekspresi pria itu tampak begitu serius.
"Kau sangat sibuk?"
"Hm"
"Sangat sangat sangat sibuk?"
"Ya"
Luhan melompat turun dari meja lalu berlari kecil duduk di sebelah Sehun. Ia melingkarkan tangannya di lengan Sehun lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. Matanya lurus menatap layar laptop seperti Sehun.
"Apa kau masih lama?" tanya Luhan.
"Chanyeol meninggalkan banyak pekerjaan padaku. Aku harus menyelesaikan laporan ini jika tidak ingin dipecat oleh sepupumu itu"
Luhan mendengus kesal. "Sehun, aku bosan" rengek Luhan. "Sudah tiga hari kita hanya kencan di ruangan kerja Chanyeol. Bisakah kita makan siang di luar? Aku benci kantor ini"
"Hari ini tidak bisa, aku harus menyelesaikan ini" jawab Sehun tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada deretan angka di laptopnya.
"Bukankah besok Chanyeol sudah kembali ke Korea?" tanya Luhan.
"Ya begitulah"
"Kau harus mengambil cuti setelah dia kembali. Kita bisa liburan bersama. Bagaimana kalau kau meminta satu bulan cuti?"
Sehun tertawa sumbang, "Satu bulan?"
Luhan mengangkat kepalanya lalu menatap Sehun dan mengangguk antusias. "Bagaimana menurutmu?"
Sehun akhirnya sudi menatap Luhan. Ia mengelus rambut coklat madu Luhan dengan lembut "Kau ingin aku cuti atau apa? Jika aku cuti satu bulan siapa yang akan menggantikanku? Aku yakin Chanyeol pasti tidak akan memberiku cuti satu bulan tapi selama-lamanya. Dia sudah pasti memecatku."
Luhan mengerucutkan bibirnya, memasang ekspresi merengek. "Kita butuh liburan Sehun-ah. Chanyeol sudah merampas hakmu sebagai pegawai. Kau tidak bisa berkencan dan hanya bekerja. Ini tidak adil untuk kita."
"Setidaknya dia membayarku dengan angka yang layak"
"Kau lagi-lagi membelanya. Sebenarnya apa yang sudah Chanyeol lakukan hingga kau begitu memihaknya? Apakah dia menyelamatkan dunia di kehidupan yang sebelumnya?"
"Mungkin saja" jawab Sehun sembari tersenyum.
Luhan merasa kesal. Ia menatap Sehun sengit. "Aku membencimu!"
Luhan segera bangkit dari sofa, namun Sehun sudah menarik tangannya hingga ia kembali duduk. Dan kejadiannya begitu cepat. Sehun mencium pipinya lalu tersenyum dengan senyuman termanis yang membuat wajah Luhan merona merah seperti tomat busuk.
"Ka—kau menciumku!" Luhan menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan lalu mendelik dengan mata lebar.
Sehun menahan senyum lebarnya dan menatap Luhan. Menurutnya kekasihnya itu lucu. "Kenapa ekspresimu begitu? Apa itu ciuman pertamamu?"
"Apa? T—tidak! Tentu saja tidak" bantah Luhan dengan berbohong.
"Sungguh?"
Luhan membuka telapak tangannya dan bicara. "Mengapa kau memojokkanku?"
Sehun tersenyum lebar lalu memegang kedua pipi Luhan dengan telapak tangannya yang besar. "Maafkan aku membuatmu bosan, aku janji setelah Chanyeol kembali, aku akan menemanimu kemanapun kau pergi"
"Kau berjanji?"
Sehun mengangguk "Aku berjanji padamu"
"Sekarang lebih baik kau pulang, aku tidak tahu kapan pekerjaan ini akan selesai"
Luhan menggeleng cepat "Aku akan menemanimu"
"Bukankah kau bilang kalau kau membenciku?" balas Sehun.
Luhan berdehem keras, ia mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku akan keluar membeli kopi untukmu" ucap Luhan bersemangat. Sehun baru saja akan bicara, tapi Luhan sudah menahannya.
"Kau ingin kopi apa?"
"Hm, americano"
"Perusahaan ini punya mesin kopi bukan? Aku akan kembali dengan cepat" jawab Luhan.
Gadis itu berlari ke arah meja Chanyeol dan mengambil tasnya. Ia berjalan cepat namun berhenti di depan pintu membuat Sehun menatap punggung Luhan bingung.
"Kau ketinggalan sesuatu?"
Luhan membalik tubuhnya dan menatap Sehun dengan jarak yang cukup jauh. "Jangan menciumku mendadak seperti tadi. Kau membuatku malu" Luhan menghembuskan nafas, pipinya kembali memerah. Secepat yang ia bisa, Luhan menghilang untuk melarikan diri.
Sehun menggeleng pelan sambil tersenyum. "Ah, kenapa dia bisa semanis itu?" gumamnya saat Luhan sudah menghilang.
Sehun baru saja akan melanjutkan pekerjaannya, namun ponselnya sudah berdering, meminta pemiliknya untuk segera menjawabnya.
"Halo?"
"Tuan Oh Sehun?"
"Ya, dengan siapa saya bicara?"
"Aku Park Yoonchul"
Sehun spontan berdiri dan bersikap sopan, seakan-akan ia sedang berhadapan langsung dengan orang yang menelponnya. "Oh Direktur, ada perlu apa anda menghubungi saya?"
"Kudengar Chanyeol pergi ke Jepang, apa yang dia lakukan disana?"
Jantung Sehun bergemuruh kencang. Ada apa ayah Chanyeol menelponnya? Dan darimana orang ini tahu Chanyeol pergi ke Jepang? Apa dia memiliki mata-mata? Sehun memijat pelipisnya, kepalanya pusing tiba-tiba. Chanyeol bisa memecatnya jika membocorkan pada ayahnya sendiri kalau ia ke Jepang untuk menemani Baekhyun.
"Tuan Park Chanyeol sedang mengadakan rapat dengan investor asing" Sehun ingin membenturkan kepalanya setelah mengatakan kebohongan itu.
"Benarkah?"
"Ya, itulah yang aku tahu"
"Aku harap kau sedang bicara jujur padaku"
Sehun menelan ludah dengan gugup. "Tentu saja direktur"
"Bisakah aku minta tolong padamu?"
Sehun merasakan sesuatu tidak berjalan baik. Ia harap ini bukanlah permintaan yang akan membuat posisinya serba salah. "Apa yang bisa saya bantu?"
"Suruh seseorang pergi ke bandara untuk menjemput tamuku"
"Baik, tapi bisakah anda memberitahu saya siapa nama tamu anda tersebut?"
"Lee Ji Eun, ia baru saja datang dari Amerika"
"LEE—JI—EUN?" tanya Sehun terbata-bata. Ia gemetar saat menyebut nama itu. Seakan nama itu memiliki kutukan menakutkan.
"Ya, dia anak Direktur Tak. Kau ingat kan?"
"Ah—tentu saja aku ingat. Sangat ingat"
"Aku bisa mengandalkanmu kan?"
"Ya direktur. Aku akan melakukannya"
"Baiklah kalau begitu"
Sehun jatuh lemas di sofa. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan sembarangan. Pria itu meremas rambut coklatnya dengan frustasi.
"Kenapa pria itu tiba-tiba menghubungiku? Aku bisa gila! Dan apa katanya tadi? Lee Ji Eun? Ya Tuhan, Chanyeol pasti akan membunuhku" geram Sehun.
Luhan masuk tanpa mengetuk pintu. Alisnya naik sebelah melihat Sehun menunduk, terlihat frustasi karena menarik-narik rambutnya sendiri. Bukankah tadi ia masih baik-baik saja? Kekasihnya itu bahkan sempat menggodanya.
Luhan berjalan kearah Sehun dan meletakkan dua gelas kopi di samping laptop.
"Sehun, kau kenapa?" Luhan mengelus punggung Sehun khawatir.
Sehun melihat Luhan. Kulit wajahnya yang putih berubah merah seakan aliran darahnya dengan cepat mengalir ke kepalanya dan ingin meledak.
"Kau baik-baik saja?" tanya Luhan cemas.
"Luhan, karirku akan hancur" Sehun rasanya ingin menangis.
"Jangan konyol"
"Sungguh, aku akan berakhir"
"Ada apa?"
"Jika aku mendengarkan pamanmu, Chanyeol akan memecatku. Tapi jika aku tidak mendengar pamanmu dan menuruti Chanyeol, pamanmu yang akan memecatku. Apapun yang aku lakukan akan membuatku dipecat"
"Kau ini bicara apa?"
"Bagaimana ini? Cicilan rumah dan mobilku bahkan belum lunas"
Luhan menghela nafas. "Bicaralah yang benar agar aku mengerti"
Sehun berusaha menenangkan dirinya sendiri walau itu tetap saja gagal. "Direktur Park Yoonchul, yaitu ayah Chanyeol, pamanmu, sekaligus bosku memintaku menjemput seseorang di bandara. Tapi bila Chanyeol tahu aku terlibat, aku mungkin akan ditendang dari pekerjaanku. Tapi jika aku tidak menjalankan perintah Direktur, pamanmu itu pasti akan memecatku juga."
"Aku tidak mengerti, siapa yang harus kau jemput di bandara?"
"Lee Ji Eun. Kau tahu kan? Lee Ji Eun!" ucap Sehun dengan nada tinggi.
Luhan terlihat terkejut. "Lee Ji Eun yang itu?"
"Ya, Lee Ji Eun tunangan Chanyeol."
Luhan menganga tak percaya "Daebak!" serunya.
"Apanya yang hebat? Hanya karena nama itu aku akan segera dipecat" geram Sehun.
"Kenapa orang itu kembali setelah tiga tahun menghilang? Apa dia benar-benar akan menikah dengan Chanyeol?"
"Kau bercanda?"
"Bukankah mereka berdua sudah bertunangan?"
Sehun memutar mata, lelah. "Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Wanita itu mengandung anak Chanyeol"
Luhan mengangguk, ekspresinya berubah prihatin. "Ah, kau benar. Sekarang aku penasaran bagaimana nasib Byun Baekhyun"
Sehun menatap Luhan heran. "Apa maksudmu?"
"Lee Ji Eun sudah kembali, maka Byun Baekhyun akan T-A-M-A-T" Luhan menggerakkan tangan di sekitar lehernya.
"Chanyeol tidak akan memilih Ji Eun, aku yakin. Wanita itu sudah meninggalkannya"
Luhan menggeleng prihatin menatap Sehun. "Tuan Oh, sepertinya kau belum tahu seperti apa dunia bisnis. Paman sudah pasti mendukung Chanyeol dan Ji Eun menikah, wanita itu punya enam persen saham Emperal Group. Sedangkan Baekhyun?"
Luhan menghela nafas berat. "Sekarang aku mulai khawatir pada Byun Baekhyun" ucapnya sedih.
"Aku harus menghubungi Chanyeol sekarang juga" Sehun mencari ponselnya. Saat ia berhasil menggapainya, Luhan dengan kejam merampasnya. "Tidak!" titah Luhan.
Sehun meringis "Luhan, ini penting"
"Apa kau tega menghancurkan liburan mereka? Sekarang ataupun besok, Chanyeol tetap akan tahu Lee Ji Eun kembali. Jadi jangan membebaninya sekarang. Biarkan dia menghabiskan hari terakhirnya di Jepang dengan tenang."
Sehun menghela nafas panjang. Menyerah. Kalah. "Setelah ku pikir-pikir, aku tidak menyukai Lee Ji Eun itu."
-000-
-000-
-000-
TBC
-000-
-000-
-000-
Lama tidak berjumpa!
Mungkin sebagian dari kalian mulai lupa ceritanya gara-gara saya yang update-nya kelamaan huhu maaf –bow—
Salahkan ujian semester yang memaksa saya kesurupan belajar, mood bikin ff pun hilang.
Sekarang saya liburan semester satu bulan nih. Wiiiw!~
Jadi bisa melanjutkan ff ini lagi.
Maaf mungkin chapter ini kependekan untuk ukuran hiatus yang lama. Saya mengerti. Tapi apa mau dikata inspirasi cuma nyampe sini aja.
Untuk chapter ini ada cast baru yang akan bikin konflik memanas. Welcome to Lee Ji Eun. Sekedar bocoran aja, cewek misterius ini tunangan Chanyeol dan mereka tunangan atas dasar cinta bukan karena paksaan pihak kedua orangtua, tapi karena sesuatu dan lain hal, jadilah mereka berpisah untuk waktu yang lama. Lebih lanjut akan diceritakan di chapter selanjutnya.
Sebenarnya saya mau selesaiin ff ini dengan cepat, menikahkan Baekhyun dan Chanyeol lalu hidup bahagia selamanya, tapi selama hiatus saya memikirkan hal-hal baru dan alur cerita jadi berubah. Jadi mohon maaf kalau mereka belum bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
Terimakasih buat review kalian yang sangat membangun. Banyak kritik membangun yang membuat saya bisa intropeksi diri dan banyak saran yang membantu saya mendapat inspirasi. Terimakasih!
Terimakasih juga buat para siders, saya yakin kalian adalah readers yang pengen review hanya saja tertunda karena suatu hal. Makasih udah mendukung walaupun dalam 'silent'
Thank you all!
