Disclamer: Karakter dan beberapa setting hanyalah pinjaman dari series Gundam SEED. Kesamaan tentu saja disengaja untuk kelancaran cerita ini.
.
Chapter 14
.
Dingin merambat ke telapak tangan Cagalli melalui gagang pintu alumunium yang dipegangnya erat. Dadanya berdegup kencang dan bulu kuduknya berdiri karena rasa hatinya yang penuh dengan bunga. Ruangan di balik pintu ini akan jadi saksi bisu dari semua kerja kerasnya selama ini. Dan ia bangga, semua yang ia miliki sekarang ia dapatkan tanpa bantuan ayahnya sedikit pun. Ia memejamkan matanya erat-erat, membayangkan hari harinya di dalam toko kuenya sendiri. Membuat berbagai macam roti dan kue, melihat orang-orang yang terus kembali datang ke tokonya dengan sunggingan senyum di bibir mereka. Bayangan-bayangan itu membuat Cagalli tersenyum lebar, masih dengan tangan yang menempel di gagang pintu.
"Cagalli," Suara Miriallia mengagetkannya. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang di belakangnya menunggunya untuk membuka gedung baru tempat toko kue mereka akan dibuka. Miriallia mencoba menggeser Cagalli dari depan pintu dan membuka pintu itu sendiri, tapi Cagalli tidak memberikannya dan membukanya dengan cepat sebelum Miriallia kembali mencoba menyingkirkannya dari depan pintu.
Sesaat setelah ia berhasil membuka pintu, ia mencium harum yang familiar. Harum ruangan baru. Harum ruangan yang akan menjadi masa depannya. Cahaya matahari merambat masuk melalui jendela jendela besar di sisi ruangan dan memantul ke sisi lainnya, membuat ruangan yang masih kosong terasa hangat. Cagalli membayangkan interior ruangan yang cocok untuk diletakkan di setiap sudut ruangan, yang dapat meningkatkan entusiasme pembeli, juga dirinya terhadap Bonheur.
"Cagalli," Miriallia memanggilnya lagi. Cagalli terbangun dari lamunannya dan melihat sekeliling, mencari dari mana Miriallia memanggilnya. Di sisi lain ruangan, satu pintu lain terbuka dan lampu di ruangan menyala terang.
"Ada apa Milly?" Tanya Cagalli seraya menghampirinya.
Wajah Miriallia terlihat kagum saat melihat ruangan di hadapannya. Hampir semua peralatan besar untuk membantu kegiatan mereka membuat kue sudah terpasang di sana. Pemanggang, tempat cuci piring, meja besar, lemari es, semua sudah tersedia.
Cagalli tersenyum lebar. "Aku meminta pada pemilik lama gedung ini untuk menambahkan semua ini."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Miriallia. Ia hampir menangis jika Cagalli tidak memukul lengannya. Menyadarkannya bahwa hal itu bukan sesuatu yang pantas untuk ditangisi. Apalagi di saat mereka baru saja akan memulai usahanya. Hal seperti ini baru 10 persen dari usaha mereka. Masa depan mereka masih panjang dan tidak terlihat.
"Jangan menangis sekarang, dasar bodoh." Ujar Cagalli setengah tertawa. "Menangislah ketika kita sudah berhasil membuat nama Bonheur terkenal."
ooo
Cagalli bangun dari tidurnya dengan peluh yang memenuhi seluruh tubuhnya. Seseorang membuka jendela kamarnya dan membiarkannya terpanggang sinar matahari di balik selimut tebal yang menutupinya. Ia bagun dengan rambut basah dan berantakan, dengan perban yang masih setia melilit kepalanya. Ia pun membuka selimutnya dan mengipas-ngipas dengan tangannya, menghilangkan rasa panas yang masih melekat di tubuhnya. Keringatnya yang terus bercucuran membuat tenggorokannya kering, akhirnya ia pun turun dari tempat tidurnya berjalan ke dapur dengan kaki telanjangnya.
Baru beberapa langkah ia mejauh dari tempat tidurnya, Lunamaria membuka pintu kamarnya. Ia membawakan nampan berisi makanan dan teh hangat untuk Cagalli. Lunamaria mengangkat alisnya saat mengetahui Cagalli yang sudah terbangun dari tidurnya. Seingatnya, Cagalli belum boleh bergerak banyak selama perban masih melingkar di kepalanya. Menurut dokter, itu untuk menghindari luka jahitannya kembali terbuka.
"Mau ke mana, Kak?" Tanyanya sambil menghalangi Cagalli keluar dari kamar. Lunamaria bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan Cagalli.
"Aku mau minum, sebentar." Sahut Cagalli setengah sadar. Tenggorokannya rasanya sakit karena kekurangan cairan dan badannya rasanya panas dan lengket karena produksi keringat yang berlebihan.
"Kak, aku sudah membawakan minum." Lunamaria menyodorkan nampan yang ia bawa. Menunjukkan ada segelas air teh di sana.
Tangan Cagalli bergerak memegang gelas di atas nampan yang dibawa Lunamaria, "Panas," Kesadarannya masih belum penuh benar, tapi tentunya ia bisa merasakan seberapa panas minuman yang dibawakan Lunamaria. Jika meminum itu, bisa-bisa badannya tambah mendidih.
Cagalli pun akhirnya menggeser paksa Lunamaria yang masih menghalangi jalannya. Lunamaria juga tidak menyerah begitu saja untuk menghalangi Cagalli, tapi nampan yang dibawanya cukup membuatnya kesulitan dan akhirnya membuat Cagalli berhasil lolos.
"Kak!" Lunamaria berteriak. Cagalli tidak menggubris teriakannya dan itu membuat Lunamaria agak kesal, "Hei, Cagalli!" Teriaknya lagi. Kali ini ia berhasil menarik perhatian Cagalli, tapi Lunamaria cukup menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Cagalli menoleh padanya dengan tatapan yang cukup tajam karena ia dipanggil langsung dengan namanya. Lunamaria langsung menutup rapat mulutnya dan membiarkan Cagalli mengambil air minum sendiri di dapur.
Cagalli yang berjalan sempoyongan sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Sebenarnya, Cagalli sudah biasa dengan kelakuan Lunamaria, tapi sepertinya karena ia baru saja bangun tidur, emosinya masih belum stabil.
Sesampainya di dapur yang hanya 5 langkah dari kamarnya, ada Miriallia yang sedang menyantap sarapannya. Miriallia mengangkat alisnya ketika sadar Cagalli berada di dapur. Cagalli mengangkat tangannya, menyapa Miriallia yang sedang nikmat melahap sebuah telur mata sapi dari piringnya dan langsung menuju lemari. Ia mengambil satu gelas yang akan ia gunakan untuk minum. Ia mengambil air paling dingin yang ada di dispenser.
"Hei," Panggil Miriallia, "Perutmu bisa sakit kalau langsung minum air dingin." Ujar Miriallia pada Cagalli yang masih meneguk sisa air di gelasnya. Cagalli mengambil segelas air dingin lagi, kemudian menarik satu bangku di depan Miriallia.
"Tidak apa," Cagalli memejamkan matanya sambil menempelkan gelas yang mendingin ke pipinya, "Hanya air putih. Jadi tidak apa-apa."
"Baiklah." Miriallia mengangguk sambil terus menyantap makanan di piringnya. "Luna, sedang apa kau di sana?" Tanya Miriallia pada Luna yang masih merengut di depan pintu kamar Cagalli. Karena jarak kamar dan dapurnya tidak begitu jauh, ia bisa melihat Lunamaria yang masih memegang nampan di dalam kamar Cagalli.
"Sepertinya dia kesal." Cagalli menggumam sambil mengambil sepotong roti dari piring Miriallia. Miriallia melirik Cagalli yang dengan nikmatnya mengunyah roti curiannya.
"Kalian kenapa lagi?" Miriallia mendesah, "Ini masih pagi."
"Hei, Luna!" Lunamaria menoleh. Melihat ekspresi Lunamaria, Miriallia menoleh pada Cagalli, lalu memukul tangannya pelan. "Ini pasti kamu." Miriallia langsung menyalahkan Cagalli.
"Biarkan saja anak itu." Ucap Cagalli tak acuh sambil terus mengunyak makanan di mulutnya. "Nanti juga baik sendiri. Lagipula bukan masalah besar."
Miriallia mendengus, "Lunamaria!" Miriallia berteriak, membuat Lunamaria kaget.
"Apalagi sekarang?!" Tanya Lunamaria ketus, "Kau juga mau kesal padaku?"
"Kau tidak lelah berdiri di sana?" Miriallia melanjutkan makannya, mengikuti Cagalli yang tak acuh pada Lunamaria.
Lunamaria pun akhirnya menyerah dan mendekati mereka berdua. Ia mengeratkan giginya di belakang Cagalli, kesal, lalu menaruh nampan yang ia bawa di atas meja makan. Lunamaria menarik satu kursi di sebelah Miriallia dan duduk di sana. Karena rasa kesalnya, ia akhirnya menyeruput teh yang seharusnya ia berikan untuk Cagalli. Ia juga memakan makanan yang tadinya akan ia berikan untuk Cagalli. Miriallia dan Cagalli yang terus makan dan bersikap tak acuh setelah kedatangan Lunamaria di meja membuat suasana di sana jadi canggung.
Tapi sesaat kemudian Miriallia menatap Cagalli, sedikit memelototi wanita berambut pirang di depannya yang benar-benar tak peduli terhadap Lunamaria. Cagalli yang sadar akan tatapan Miriallia hanya balik menatapnya dan mengangkat alisnya, menggumamkan sebuah 'apa?' di bibirnya tanpa suara. Mereka akhirnya berdebat tanpa suara dengan saling bertukar pandang.
"Kalian itu sedang apa sebenarnya?" Tanya Lunamaria yang ternyata memperhatikan gerak-gerik dua wanita yang lebih tua darinya. Miriallia menoleh ke arah Lunamaria, lalu tersenyum, sedikit memaksa.
Cagalli menekuk bibirnya ke atas, "Maaf." Ucapnya tanpa menatap Lunamaria.
"Ya, kau kumaafkan, kak." Balas Lunamaria sambil menyumpalkan selembar roti ke mulutnya.
Miriallia yang melihat mereka saling meminta maaf merasa lega, meskipun tidak ada ketulusan sedikit pun. Setidaknya mereka bisa langsung berbicara lagi. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Ia mengingat saat kedua wanita ini bertengkar hebat. Mereka bertengkar hingga berhari-hari dan dirinya pun terkena imbasnya. Ia harus menjadi perantara kedua orang ini. Akhirnya mereka berdua kembali berbaikan setelah dirinya lah yang tak sanggup menjadi penengah kedua wanita ini. Mereka berdua bekerja sama untuk membuatnya tidak marah.
"Hari ini aku ikut ke Bonheur." Ujar Cagalli tiba-tiba. Ia mengatakannya dengan santai sambil memangku tangannya.
"Eh?" Kedua perempuan di depannya kaget dengan pernyataan Cagalli yang tiba-tiba. "Tapi, Cag,"
"Tidak ada tapi."
"Kau belum boleh keluar." Miriallia menolak tegas. Dokter bilang Cagalli tidak boleh melakukan hal berat sebelum ia benar-benar pulih. Mungkin datang ke Bonheur bukan sesuatu yang berat, tapi mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Bisa saja ia ikut membantu merapihkan dan menyelesaikan masalah yang ada di sana. Semua tahu seberapa keras kepalanya wanita berambut pirang ini.
Cagalli memejamkan matanya sambil menutup telinga. Tidak mau mendengarkan apapun yang diperintah oleh Miriallia. Meskipun dokter bilang ia harus tetap istirahat dan berada di rumah selama ia belum melepas perban di kepalanya, ia akan tetap datang ke tokonya. Lagipula, yang tahu tentang dirinya adalah dirinya sendiri, bukan dokter, bukan Miriallia, Lunamaria, atau orang lain. Kemarin ia harus terus berada di rumah sakit karena infus yang masih melekat di tangannya. Ia tahu itu salah satu cara rumah sakit untuk menahan pasiennya agar mereka tidak pulang seenaknya. Bukankan pasien yang hanya terbentur tidak perlu asupan infus yang berlebihan? Alat pencernaan mereka masih berfungsi dengan baik, jadi harusnya pasien bisa berasumsi sendiri apa guna dari infus itu.
Karena ia sudah pulang dari rumah sakit, tidak akan ada yang bisa menghalanginya kali ini. Ia akan tetap pergi meskipun dokter menyuruhnya untuk tidak melakukan sesuatu yang berlebihan dan Miriallia menghalanginya untuk pergi. Ia sudah cukup sehat.
Lunamaria di situ hanya bisa memandang mereka berdua beradu argumen. Ia tidak akan bisa melawan argumen Cagalli seperti Miriallia. Selain Cagalli memang pada dasarnya adalah atasannya, ia juga bukan tipe orang yang senang menjustifikasikan dirinya bahwa ia adalah yang paling benar. Ya, memang rasanya ia sering merasa kesal pada atasan sekaligus temannya ini, tapi kadang memang diam dan mendengarkannya berbicara adalah satu-satunya cara. Untung saja Cagalli masih punya consience yang baik. Ia pun akan sadar akan kesalahannya sendiri seperti yang barusan terjadi.
"Aku tidak mendengarmu, Milly." Ucap Cagalli mengejek, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Perutku kenyang." Ujarnya lagi sambil melenggang menuju kamar.
"Cag!" Mirallia teriak kesal, namun Cagalli malah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Kak..." Lunamaria tertawa getir pada Miriallia yang kesal dan hampir melempar sendal rumahnya ke arah Cagalli.
ooo
Cagalli sudah menebak kalau Miriallia akan menolak dan menghalanginya saat ia mengatakan ia ingin ke pergi ke tokonya. Miriallia dan Lunamaria sudah pergi terlebih dahulu setelah berpamitan secara paksa. Mereka benar-benar menghalanginya untuk pergi ke sana sampai-sampai mereka berpesan pada sekuriti untuk menjaganya agar tidak keluar dari apartemen.
Mereka pikir, apartemen ini milik siapa? Cagalli menyeringai. Ia bisa saja mengelabuhi sekuriti apartmen dan pergi. Harusnya mereka lebih percaya padanya, seseorang yang memang memiliki satu unit apartemen di gedung ini. Ia pun memantapkan diri untuk tetap pergi ke Bonheur.
Keluar dari kamarnya, ia melihat seorang sekuriti yang datang menyapanya. Sempat pula sekuriti itu melarang Cagalli pergi karena pesan Miriallia dan karena ia melihat perban yang melingkar di kepalanya meski sudah ia tutupi dengan topi. Setelah beberapa menit memberikan basa basi yang luar biasa basi pada sekuriti itu, ia pun akhirnya lolos dan berhasil keluar dari apartemennya. Hidungnya mencium harum matahari, jalan, dan harum khas kota December. Yang lebih penting lagi, ia bisa menghirup harum kebebasan.
Selama perjalanan menuju halte bus, ia bertemu dengan beberapa orang yang ia kenal. Beberapa dari mereka menyapanya dan memintanya untuk mampir sebentar ke sana. Ia pun tersenyum dan sedikit melambaikan tangannya. Ia memberikan sebuah balasan pada mereka bahwa ia sedang buru-buru. Ya, Cagalli cukup akrab dengan orang-orang di sekitar apartemennya. Setelah tinggal bertahun-tahun di apartemen ini, tentunya banyak orang yang mengenalnya. Apalagi dengan fitur wajah dan kulitnya yang berbeda dari orang-orang asli daerah itu, pasti akan sangat mudah untuk mengenalnya.
Saat melihat bus yang akan ia naiki datang, ia berlari kecil agar tidak ketinggalan. Ia harus menunggu 15 menit lagi untuk bus selanjutnya dan ia malas menunggu karena cuaca yang cukup terik. Meskipun udaranya cukup sejuk, matahari berada tepat di atas kepala. Ia tidak mau terpanggang lagi seperti tadi pagi.
ooo
Di dalam Bonheur yang dililit garis polisi, Miriallia, Lunamaria dan Shinn mengumpulkan barang-barang yang sekiranya berharga dan masih bisa digunakan. Makser menutupi wajah mereka untuk berjaga-jaga jika ada debu yang masuk ke dalam saluran pernapasan mereka. Sarung tangan yang sudah menghitam pun melindungi tangan mereka dari bahaya benda tajam yang tersembunyi. Mereka baru saja benar-benar memulai merapihkan Bonheur hari ini karena beberapa hari yang lalu ada inspeksi polisi dan mereka belum boleh masuk ke dalam tkp, meskipun mereka adalah pemilik dari gedung tersebut. Sayangnya, polisi masih mencari kemungkinan penyebab kebakaran. Dan dari sekian gedung yang terbakar, Bonheur dan dua gedung di sampingnya adalah yang terparah. Jadi tentu saja polisi banyak menyelidiki tiga gedung yang berderetan ini.
"Shinn, tolong bantu Lunamaria menggeser lemari itu." Pinta Miriallia pada Shinn yang sudah selesai mengerjakan tugasnya.
"Baik." Jawab Shinn sigap.
Miriallia sungguh bersyukur ada Shinn di saat seperti ini. Dia bisa membantu mereka untuk melakukan hal-hal berat yang tidak bisa mereka lakukan. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sedikit kasiha dengan Shinn. Baru saja masuk Bonheur beberapa minggu, ia kemungkinan sudah harus meninggalkan Bonheur lagi karena mereka pun belum tahu apa yang akan mereka lakukan pada gedung ini. Biaya pemugaran gedung pasti akan sangat mahal karena hampir semua alat-alat terbakar dan seluruh sudut toko rusak terbakar. Dirinya dan Cagalli butuh waktu beberapa tahun untuk membuka toko ini.
Semua biaya mereka kumpulkan dari kerja keras mereka bekerja sebagai pattissier dan membuka pesanan kue... Hampir semua habis terbakar.
Miriallia mendesah pasrah. Apapun yang sudah terjadi tidak bisa diubah, kan? Siapa pula yang harus ia salahkan jika kondisinya mendadak seperti ini. Bahkan dirinya tahu Bonheur terbakar setelah seseorang yang tinggal di dekat Bonheur memberitahunya.
Miriallia menggelengkan kepalanya. Mencoba membuang pikiran-pikiran tak baik yang hanya membuatnya terpuruk dan kembali fokus membersihkan sisa-sisa barang yang terbakar.
"Permisi." Miriallia mendengar seseorang datang ke Bonheur. Ia menengok orang yang baru saja datang yang ternyata sudah masuk ke dalam Bonheur melewati puing puing gosong yang berserakan.
"Tolle," Miriallia menepuk tangannya, menghilangkan debu yang menempel di sarung tangannya. "Ada apa?"
"Apa kau sedang sibuk?" Tanyanya.
"Tidak begitu. Hanya membersihkan puing puing ini." Jawab Miriallia. "Ada apa?" Miriallia balik bertanya.
"Ikut aku sebentar."
Miriallia memiringkan kepalanya bingung, tapi ia tetap mengikuti laki-laki berambut coklat itu sambil melepas sarung tangannya yang kotor. Ia memasukkannya ke dalam kantung celemek yang ia pakai. Seraya mengikuti Auel, ia mengecek wajahnya di jendela jendela gedung yang selamat dari lahapan api. Ia hanya bisa tersenyum pahit saat sadar wajahnya yang kotor penuh dengan coreng hitam. Wajahnya cukup tidak pantas untuk keluar dari toko tanpa mencuci muka. Tapi hal itu bukan masalah sekarang. Yang membuatnya bertanya-tanya adalah ke mana Tolle akan mengajaknya dan kenapa?
"Ke mana sebenarnya kau membawaku?" Tanya Miriallia. Tolle tidak menjawab. Ia malah memberikan saputangan birunya kepada Miriallia. Miriallia menyipitkan matanya lalu merubah pandangannya pada Tolle. Tidak yakin dengan maksud dari apa yang pria itu lakukan.
"Bersihkan dulu wajahmu." Ujar Tolle sambil kembali menyodorkan sapu tangannya. "Mukamu penuh dengan bekas arang." Lanjutnya.
"Yang benar?" Tanya Miriallia meyakinkan. Tolle mengangguk. "Terima kasih." Miriallia akhirnya menerima sapu tangan yanng ditawarkan Tolle. Ia pun mengelap kotoran di wajahnya sambil sekali-kali mengitip wajahnya di jendela yang mereka lewati.
"Apa kau mau berhenti sebentar?" Tanya Tolle tiba-tiba di tengah perjalanan.
"Untuk apa?" Tanya Miriallia.
"Membersihkan wajahmu." Jawabnya.
"Boleh," Miriallia mengangguk kemudian menghentikan langkahnya di depan jendela yang cukup jernih untuknya berkaca.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" Miriallia kembali bertanya pertanyaan yang sama kepada laki-laki yang sekarang berdiri di sampingnya. Tolle memberi tahu bagian pipi Miriallia yang masih kotor dengan menunjuk pipinya sendiri.
"Cagalli," Jawab Tolle. Nama itu membuat Miriallia berhenti mengelap wajahnya. Setahunya, Cagalli berada aman di rumah, tapi memang tidak bisa dipungkiri Cagalli itu keras kepala dan bisa saja ia nekat pergi ke sini.
"Ada apa dengan Cagalli?" Tanya Miriallia. "Jangan membuatku panik."
"Itulah kenapa aku tidak memberitahumu dari tadi." Tolle mendesah pelan.
Miriallia mengernyitkan alisnya. Tatapannya cukup tajam saat mendengar alasan Tolle tidak memberitahunya di saat pertama ia mengajaknya. Sepertinya hal ini cukup serius sampai ia tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi pada Cagalli saat ini. Di mana pula wanita itu sekarang berada?
Miriallia memasukkan sapu tangan Tolle ke dalam kantongnya sebelum selesai ia membersihkan wajahnya. "Sekarang antarkan aku kepada Cagalli." Ia pun melangkahkan kakinya sebelum Tolle sadar akan dirinya yang diselimuti oleh rasa panik.
"E—hei!" Tolle menangkap lengan Miriallia. "Jangan seperti ini." Katanya menenangkan, "Aku harap kau menenangkan dulu emosimu." Tolle mengendurkan pegangan tangannya di lengan Miriallia. Ia menepuk-nepuk lengannya pelan, mencoba menghilangkan rasa paniknya. "Cagalli tidak dalam bahaya. Tenanglah."
"Lalu?" Tanya Miriallia yang sudah sedikit tenang. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi pada Cagalli. Pikiran dan perasaannya sangat tidak bersahabat dengannya saat ini. Apalagi karena kejadian beberapa hari ini dan desas desus yang terus terdengar tentang Cagalli. Ya, inti masalahnya adalah kejadian tidak beruntung beberapa hari yang lalu, tapi hal itu kemudian dibumbui bumbu-bumbu yang tidak sedap. Dan ini sangat tidak menguntungkan untuk Cagalli. Apalagi dengan kebersamaannya dengan Athrun saat itu. Tapi jika Tolle bilang Cagalli baik-baik saja, ia mungkin sedikit lega.
"Ikut saja aku." Katanya pelan dengan nada yang cukup meyakinkan. "Dia ada di kedai kopi nenek."
ooo
Baru beberapa menit ia berjalan keluar dari bus, beberapa orang yang ia kenal menghampirinya. Sai, Arthur, dan tiga orang lainnya datang dan mengajaknya untuk berbicara. Ekspresi mereka saat bertemu dengannya terlihat tidak begitu baik, agak sedikit ada aura tidak menyenangkan terpancar dari mereka. Ia merasa ajakan mereka lebih tepat dianggap sebagai ajakan untuk interogasi daripada ajakan mengobrol biasa. Untungnya, di tengah perjalanan mereka, mereka berpapasan dengan Heine. Heine yang tidak sengaja melihatnya bersama dengan lima orang pria pun mengikuti mereka. Meskipun Cagalli tidak merasa terancam dengan kelima pria yang ingin mengajaknya bicara ini, Cagalli merasa sedikit lega ketika Heine mengikutinya.
Sekarang ia duduk salah satu meja bundar yang disediakan di kedai kopi Nenek Toto, dikelilingi oleh lima pria yang matanya terfokus padanya. Heine membantu nenek untuk membawakan satu nampan berisi enam cangkir kopi untuk mereka minum. Satu persatu cangkir diberikan kepada mereka, meskipun cangkir itu hanya menjadi sebuah pajangan di atas meja. Setelah selesai membagikan kopi, Heine duduk di meja di samping mereka, hanya mendengarkan apa yang kelima pria itu dan Cagalli bicarakan.
Cagalli duduk di sana sambil memegangi cangkir kopi hangat di depannya. Ia mendengar tiap kata yang keluar dari mulut mereka, terutama dari Arthur dan Sai. Mereka membeberkan semua desas-desus yang sedang hangat di telinga orang-orang sekitar. Cagalli tidak menyangka kalau ia bisa merasakan hal seperti ini juga. Terkena gosip skandal dengan Athrun. Ia menggaruk pelipisnya dengan satu jari telunjuknya sambil mencerna apa yang mereka katakan, mencari celah di bagaimana dan kenapa itu semua bisa terjadi.
"Jadi, kalian menuduhku 'menjual' tanah dan gedung di sini secara sepihak kepada Zala?" Tanya Cagalli memastikan. Ia tidak percaya dengan anggapan sebelah mata orang-orang di depannya ini. Heine yang dari tadi mendengarkan hanya mengelus dagunya sambil berpikir. Sepertinya ia juga tahu dengan masalah ini, tapi ia tidak mau ikut menuduh Cagalli.
Mereka diam. Tidak ada yang berani mengangkat suara sampai Arthur, orang yang tertua di sana menjawab.
"Mungkin." Jawab Arthur singkat. "Kami juga tidak mau begitu saja percaya padamu." Ia diam sejenak, "Semua ini terjadi tidak mungkin tanpa penyebab, 'kan?" Arthur mencoba memancing Cagalli dengan pernyataannya yang cukup ambigu.
Cagalli memejamkan matanya. Ia memutar otaknya, mencari argumen yang tepat untuk menjawab ucapan Arthur. Tapi belum selesai ia berpikir, Sai mulai berbicara. Mendukung Arthur yang bahkan hanya berbicara tanpa dasar yang pasti.
"Karena itu kami bertanya padamu, Cagalli." Ujar Sai. "Semua ini demi meluruskan apa yang sedang dibicarakan banyak orang." Lanjutnya. "Kurasa kejadian saat kebakaran itu membuat orang-orang menyimpulkan kesimpulan mereka sendiri tentang hubunganmu dengan anak dari Patrick Zala itu."
"Dia hanya menolongku saat itu!" Nada Cagalli mulai meninggi. Emosinya mulai tidak stabil saat mendengar tuduhan dari orang-orang hanya karena satu insiden itu. Bukankah menolong orang yang sedang tidak berdaya bukan sebuah hal yang aneh? Kenapa harus dikaitkan dengan hal seperti itu?
"Lagi pula kenapa bukan kalian yang menolongku? Apa aku bisa memilih siapa yang akan menolongku saat itu?!" Cagalli melebarkan matanya sambil memukul meja berkali-kali untuk menegaskan tiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Apa kalian akan membiarkanku memiliki luka lebih dari ini?!" Lanjut Cagalli sambil menunjuk perban di kepalanya. Mereka semua kembali terdiam. Kali ini tidak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Heine yang berada tidak jauh dari Cagalli menepuk pundaknya untuk menenangkannya.
Cagalli menarik napas yang sangat panjang lalu mengeluarkannya berasama dengan emosi yang memenuhi dadanya.
Sesaat setelah itu, pintu masuk terbuka. Datanglah wanita dan pria berambut coklat bersama, Miriallia dan Tolle. Semua mata tertuju pada mereka berdua yang dalam waktu cepat berada di samping mereka. Tolle duduk di samping Heine setelah ia menyapanya, sedangkan Miriallia berdiri di samping Cagalli dengan tangan kanannya menepuk-nepuk pundak Cagalli pelan.
"Kenapa kalian membawanya ke sini seperti membawa seorang maling?" Tanya Miriallia pada lima pria di depannya. "Apa kalian tidak punya sopan santun? Menginterogasi orang yang sedang dalam pemulihan dengan cara seperti ini. Bahkan perban di kepalanya masih belum dibuka." Miriallia tersenyum menyindir, "Para gentleman ini."
Arthur mendengus mendengar sindiran Miriallia, "Kau membela Cagalli meskipun dia salah?" Ujarnya balik menyindir Miriallia.
Miriallia mengerutkan alisnya. Giginya bergemeletuk, kesal. Apakah ia harus mempercayai dan menyetujui pertanyaan mereka, padahal ia tahu betul Cagalli tidak akan melakukan hal seperti itu. Lagipula tuduhan tanpa berdasar mereka sungguh membuat kepalanya panas.
"Menurut kalian, berapa tahun aku mengenalnya?" Tanya Miriallia. Cagalli mendongak melihat Miriallia yang berdiri di sampingnya. Ia menepuk tangan Miriallia yang berada di pundaknya, mencoba untuk menenangkannya, meskipun dirinya sendiri belum bisa tenang karena kata-kata yang masuk ke telinganya. Ia merasa seperti darah panasnya merambat pada Miriallia seketika setelah ia datang.
"A—" Sai membuka mulutnya, tapi gagal karena Cagalli lebih dahulu mengeluarkan suaranya.
"Aku akan menghubungi Zala sekarang." Mereka semua tersentak. Kaget dengan kata-kata yang barusan keluar dari mulut Cagalli. "Ada apa?" Tanya Cagalli menantang. Mau bagaimana pun juga, tanpa ada penjelasan langsung dari Athrun, semua ini tidak bisa diluruskan. Lagipula, pesannya belum mendapatkan jawaban dari pria berambut biru itu meskipun ia sudah mengirimkan pesan berkali-kali.
"Kalian tidak percaya padaku, 'kan?" Cagalli mengambil ponselnya dari sakunya, kemudian menghubungi kontak Athrun. "Maka dari itu aku akan meneleponnya. Untuk mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan olehnya." Cagalli memencet tombol louspeaker dan mengeraskan volume ponselnya. Nada sambung terus terdengar sampai lima putaran yang akhirnya berhenti dan digantikan oleh suara seorang pria.
"Cagalli." Kata Athrun melalui telepon. Suaranya terdengar sedikit lirih. "Kau sudah sehat?" Tanya Athrun. Suaranya terdengar setengah khawatir dan caranya bertanya terdengar sangat akrab. Mungkin orang-orang yang mencurigainya ini bukannya menjadi lebih percaya, malah lebih mencurigainya karena cara mereka berbicara antara satu sama lain.
"Apakah kau sudah kelihangan kemampuanmu untuk membaca, Athrun Zala?" Tanya Cagalli yang kesal karena pesannya sama sekali tidak dijawab, tapi sekarang pria itu malah bertanya hal seperti itu. Seharusnya ia bertanya ketika dirinya pertama kali mengirimkan pesan padanya.
Cagalli mengedarkan matanya pada orang-orang di sekitarnya. Mata mereka fokus pada gerak-gerik Cagalli dan telinganya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Cagalli sadar Arthur mengerutkan alisnya, tanda ia tidak suka mendengar basa basi dari Cagalli dan hanya ingin segera mendengar kejelasan dari dirinya dan Athrun.
"Aku butuh bertemu denganmu." Ucap Cagalli singkat pada intinya.
"Ada apa?" Tanya Athrun. Pertanyaan itu membuatnya menepuk dahinya, menggeleng sambil menghela napas. Ia yakin ia sedang mengulur waktu dan memutar pembicaraan tertentu.
"Jangan pura-pura bodoh, Athrun."
Athrun terdengar sedikit menggumam dan suara dari ponselnya tiba-tiba menghilang. Cagalli menyipitkan matanya. Sambungan telepon mereka belum terputus, tapi ia tidak bisa mendengar suara apapun dari sana.
"Cagalli, nanti aku hubungi lagi." Ujar Athrun yang kemudian menutup teleponnya secara sepihak.
"HEI!" Cagalli berteriak. Ia ingin protes pada Athrun, tapi sambungan teleponnya sudah terlanjur diputus. Ia hampir melempar teleponnya jika Miriallia tidak menahannya.
"Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan, nona Cagalli?" Arthur melipat tangannya sambil bersandar dengan ekspresi yang menantang. "Kami butuh klarifikasimu secepatnya. Atau..."
Cagalli mengernyitkan alisnya, "Atau apa?" Tanya Cagalli balik menantang.
"Atau hal yang tidak menyenangkan bisa saja terjadi."
"Hah, lagipula kau tidak akan percaya padaku. Apapun yang kukatakan padamu." Cagalli memutar matanya. Tidak peduli dengan ancaman Arthur padanya.
Ia berdiri dari tempat duduknya. Tersenyum sinis kepada kelima pria di depannya yang mencoba mengancamnya. Hanya sebuah ancaman kosong yang tidak berarti untuknya. Bahkan jika orang-orang ini melakukannya pun, ia bisa dengan mudah menuntut mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik.
"Ayo pergi." Ajak Cagalli. Cagalli menarik tangan Miriallia, mengajaknya untuk keluar dari kerumunan pria yang menginterogasinya. Mereka terlihat sedikit tersinggung dengan kelakuan Cagalli, tapi yang paling terlihat jelas adalah Arthur. Orang-orang akan terlihat sangat baik di dalam kondisi biasa, tapi di saat krisis seperti ini, pasti orang-orang akan memihak sisi yang paling menguntungkan.
"Heine, terima kasih sudah menemani." Ucap Cagalli sebelum ia pergi keluar. "Oh, Tolle juga. Terima kasih sudah membawa Miriallia ke sini."
Mereka pun pergi meninggalkan orang-orang yang masih terbakar rasa kesal.
ooo
Miriallia dan Cagalli berjalan dalam diam. Mereka dalam situasi yang cukup canggung dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Untuk Cagalli, ia sangat berterimakasih saat melihat Miriallia datang untuk membelanya. Siapa lagi yang akan membelanya seperti itu? Tapi, yang masih ia pikirkan adalah kenapa Miriallia tidak memberitahukan masalah ini padanya secepat mungkin. Kemungkinan ia tidak ingin membebaninya saat ia sedang tidak dalam kondisi yang baik secara fisik, tapi kodisinya tidak begitu parah dan hal ini masih bisa ia tangani bahkan di dalam keadaan seperti ini. Di sisi lain, Miriallia terlihat bersalah tapi ia tidak mengatakan apapun pada Cagalli. Mungkin ia tidak mau memperpanjang masalah dengan Cagalli, karena itu ia tidak mengatakan apapun sebelum Cagalli memulai.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Cagalli menghentikan langkahnya. Miriallia pun ikut berhenti setelah sadar teman berambut pirangnya telah menghentikan langkahnya. Ia diam sejenak kemudian menatap Miriallia.
"Aku akan menemu Athrun."
"Cag," Miriallia ragu dengan apa yang barusan ia dengar. "Sekarang? Apa kau yakin?" Tanyanya meyakinkan Cagalli.
"Masalah ini tidak akan selesai jika aku tidak menyelesaikannya." Jawabnya tegas.
"Tapi..."
"Aku tidak apa-apa. Kembalilah ke Bonheur. Aku bergantung padamu Milly." Cagalli tersenyum lalu pergi setelah menepuk pundak Miriallia pelan untuk mencoba membuatnya tidak khawatir.
ooo
A/N:
Halo!
Setelah minggu kemarin bolos, hari ini aku balik lagi~
Untuk yang sudah menunggu, membaca, dan mungkin hanya sekedar mampir, terima kasih. That means a lot. E tapi boleh dong minta jejaknya juga.
Kak Titania546 terima kasih dukungannya! Tolong doakan Cagalli dan Athrun bisa hidup bahagia sampai akhir cerita ya, kak hehe. ((:
Kak Fuyu jangan bosen bosen mampir ya, kak! Maaf sering lama bales PM wkwk. Buka FFn agak ribet, harus pake vpn dulu huhu.
