AE_14
"Kau serius mau pulang hari ini?" tanya Aerith.
Malam pernikahan yang mewah itu berakhir sudah, dan pagi ini tepatnya pukul delapan pagi, baik Tifa maupun Cloud akan pulang kembali ke Midgar. Zack dan Aerith awalnya sangat menyayangkan, namun mengingat Cloud dan Tifa masih ada shooting yang harus diselesaikan, maka (terpaksa) mereka memaklumi. Zack dan Aerith ikut mengantar Cloud dan Tifa kali ini, dan rencananya mereka berdua akan kembali ke Midgar sekitar dua minggu kemudian, berhubung mereka juga berniat untuk berbulan madu.
"Iya, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Tifa, "dan lagi, aku tak mau membuat sutradara Sephiroth menunggu lebih lama lagi."
"Padahal sudah jauh-jauh kau ke sini, kemarin pestanya juga selesai jam sebelas malam," kata Aerith, "kau sungguh-sungguh tidak capek?"
"Kalau aku selalu menurut dengan rasa capekku, maka pekerjaan takkan selesai-selesai," jawab Tifa sambil tersenyum, "lagipula, aku tidak mau mengganggu bulan madu kalian berdua."
Muka Aerith langsung memerah ketika mendengar kata 'bulan madu', dan melihat itu, Zack langsung merangkul Aerith sambil tersenyum. Dasar Zack, sepertinya dia juga memikirkan definisi 'bulan madu' sebagai ... yah, malam pertama (tak disangka sebenarnya Aerith dapat berpikir sampai ke sana).
"Apa rencanamu selanjutnya, Zack?" tanya Cloud, "kau akan tetap menjadi model?"
"Aku? Yah, mungkin begitu. Sampai penghasilanku bisa mencukupi, mungkin aku akan mencoba berbisnis sendiri."
"Oh."
"Tak usah cemas, buddy. Aku sudah melakukan investasi dari dulu," jawab Zack santai, "dan aku juga mulai menabung untuk modal nanti."
"Memang kau mau bisnis apa?"
"Restoran, rencananya sih itu. Atau mungkin, aku akan membuka gym."
Cloud mengangguk-angguk, tak disangka kalau Zack bisa berpikir seserius ini, padahal biasanya dia hanya bisa bercanda.
"Ya sudahlah, lebih baik kalian langsung ke pesawat, sudah waktunya kan?" tanya Zack.
"Oh, ya," kata Cloud sambil melihat jam tangannya, "ayo Tifa."
Tifa mengangguk, dan kemudian, mereka berdua pun meninggalkan Zack dan Aerith sambil saling melambaikan tangan. Untungnya, tidak terlihat satupun paparazi di sini, soalnya kalau ada, bisa-bisa Cloud dan Tifa ketinggalan pesawat, dan itulah alasan kedua mengapa Cloud dan Tifa memilih penerbangan yang pagi. Cloud masih ingat kejadian semalam, saat dia selesai menemani keluarga Zack makan, tiba-tiba saja ada seorang paparazi yang datang menghampirinya,dan tak hanya satu, melainkan ada lima! Entah bagaimana caranya mereka bisa masuk. Pertanyaan mereka? Sudah jelas dan tak perlu diragukan lagi : 'Mr. Cloud, apakah sekarang anda sudah berpacaran dengan Ms. Tifa Lockhart?' dan 'Apakah anda memang akan menyusul menikah nanti?'
Sebagai seorang aktor profesional yang tidak ingin privasinya diketahui, Cloud hanya bisa tersenyum sambil tidak memperdulikan pertanyaan mereka. Selain tidak penting, semua itu hanya buang-buang waktu dan tenaga, apalagi Cloud bukan tipe laki-laki yang suka banyak bicara. Hal yang sama juga dialami oleh Tifa, yang kebetulan sedang mengobrol dengan Elmyra, ibu Aerith. Tetapi lain orang, lain lagi caranya. Kalau Cloud lebih memilih tersenyum dan diam, Tifa lebih memilih untuk menjawab pertanyaan para paparazi itu dengan ramah dan candaan, meskipun tentu saja dia berkata 'tidak' jika ditanya soal hubungannya dengan Cloud.
Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata salah satu acara di pernikahan ini adalah konferensi pers. Jadinya, pantas saja ada banyak sekali paparazi yang bisa masuk ke wedding hall, apalagi berita ini bisa dibilang hot berhubung Zack adalah salah satu model yang terkenal seantero negeri. Selama konferensi pers berlangsung, kebanyakan yang menjawab pertanyaan itu adalah Zack, sementara sang istri, Aerith hanya diam saja karena memang dia pemalu. Dan karena paparazi ini tidak mau rugi, selesai mewawancarai Zack dan Aerith, mereka pun langsung mewawancarai Cloud dan Tifa, yang di mata mereka terlihat 'mesra' tadi.
"Kursi kita sebelahan ya?" tanya Tifa, "kau F-1 kan?"
"Iya."
"Kuharap penerbangan tidak delay ya? Soalnya di luar mendung."
"Mendung?" Cloud mengalihkan pandangannya ke jendela, "oh ... benar juga."
"Dear passangers, Midgar Airline is about to depart. Please check your belongings and proceed to the plane."
Mendengar pengumuman barusan, Cloud dan Tifa langsung buru-buru melakukan check in dan menyerahkan barang-barangnya ke petugas untuk diantar ke bagasi pesawat. Beruntung, ternyata penerbangannya tidak delay, karena dengan begitu, mereka tidak perlu membuang-buang waktu dengan percuma. Sesaat sebelum berjalan menuju bus yang mengantar mereka ke pesawat, Cloud melihat layar televisi yang menayangkan mengenai ramalan cuaca, di sana diberitahukan, bahwa mungkin sekitar beberapa jam lagi akan ada hujan besar.
...
"Yakin nih, tidak akan turun hujan nanti?" tanya Tifa.
Mereka berdua sudah tiba d pesawat dan duduk di kursinya masing-masing sekarang. perkataan Tifa ada benarnya, padahal baru selang beberapa menit, tetapi sepertinya di luar makin mendung.
"Hm?" tanya Cloud yang sedang membaca majalah 'Enix' yang tadi dibelinya.
"Aku khawatir akan hujan nanti."
"Barusan aku sempat melihat ramalan cuaca, memang sih akan hujan, tapi beberapa jam lagi."
"Beberapa jam? Sepertinya ramalan itu salah," kata Tifa, "oh, semoga tidak hujan."
Cloud hanya tersenyum sebagai tanda untuk menanggapinya, dan setelah itu ia kembali membaca majalah. Topik yang saat itu sedang hot adalah 'PERNIKAHAN SANG MODEL DAN GADIS BUNGA', yang tentu saja adalah Zack dan Aerith. Wow, dalam waktu sehari saja berita mereka sudah langsung tersebar ke seluruh negeri, kecanggihan teknologi memang hebat. Tifa yang tadinya ingin melanjutkan percakapan dengan Cloud jadi penasaran juga dengan majalah itu, iapun mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas.
"Pernikahan sang model dan ... oh," kata Tifa.
"Ya, aku juga tak menyangka kalau secepat ini," kata Cloud sambil membalikkan halamannya, "oh."
Ternyata tak hanya berita Aerith dan Zack yang terpasang dengan gambar dan judul yang besar, tetapi juga gambar dirinya dengan Tifa, yang waktu itu sedang menarik Tifa ke dalam kerumunan. Bahkan judulnya pun tak kalah heboh, 'CLOUD-TIFA, CINTA BERSEMI?', entah mereka harus merasa sedih atau senang, atau mungkin malah campur aduk. Bahkan, jumlah halaman beritanya juga sama dengan berita Aerith dan Zack yang mencapai empat lembar (padahal Cloud sama sekali tidak bicara apa-apa), padahal berita mereka bukan berita utama.
"Mereka benar-benar tidak mau rugi ya," kata Tifa, "bahkan berita kitapun bisa sama banyaknya dengan berita utama."
"Begitulah paparazi, padahal aku tidak bicara apa-apa pada mereka," jawab Cloud.
"Attention for all passengers, our plane is going to take off shortly. Please take your seat and wear your seatbelt. Also, turn off all electronic equipment because it could disturb the electronical signal from the plane to tower. We will reach Midgar International Airport in next two hours. Please, enjoy your flight."
Cloud langsung meletakkan majalahnya dan memasangkan seatbelt, diikuti oleh Tifa. Tak lama kemudian, ada dua orang pramugari yang maju ke depan sambil memegang beberapa perlengkapan seperti rompi dan selang oksigen, bisa ditebak, mereka pasti mau mempraktekkan cara memakainya. Tetapi alih-alih memperhatikan itu, Tifa malah memperhatikan cuaca di luar jendela yang tidak menentu. Semoga saja, mereka bisa sampai ke Midgar dengan selamat.
...
"... ud"
"Cloud."
Cloud perlahan-lahan membuka matanya, dan ketika ia sudah sepenuhnya sadar, yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Tifa, yang sedang berusaha membangunkannya. Cloud meregangkan tubuhnya, dan ketika ia melihat ke arah jendela, yang dia lihat hanyalah pemandangan berupa warna abu-abu yang sepertinya cukup pekat.
"Hm," Cloud mengucek matanya, "kenapa ... Tifa?"
"Sudah mau sampai, jadi lebih baik kau bersiap-siap."
Sekejap, pemandangan di luar pun berubah, meski masih dipenuhi warna abu-abu yang juga adalah awan mendung, tetapi setidaknya tidak sepekat tadi, dan dia juga sudah bisa melihat pemandangan di luar. Hujan ternyata sudah turun membasahi wilayah Midgar, dan itu adalah tanda kalau perkataan ramalan cuaca tadi memang benar, tak hanya itu, cucaca yang mulai memburuk ini juga membuat pesawat suka berguncang, hal yang sebenarnya biasa dialami pesawat jika melintas dalam kondisi cuaca yang buruk.
"Attention passangers, we are going to landing shortly. Please remain in your seat."
Sekitar lima belas menit kemudian, pesawat yang dinaiki oleh Cloud dan Tifa mendarat di bandara dengan selamat. Setelah turun dari pesawat, mereka menaiki bus dan tiba di dalam bandara tak lama kemudian. Setelah Cloud dan Tifa mengambil barang mereka masing-masing, mereka berdua langsung melakukan langkah cepat menuju ke pintu keluar untuk mencari taksi, rasanya mereka ingin sekali cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing, untuk istirahat dan segera tidur. Ketika jarak mereka dengan pintu keluar sudah dekat, tiba-tiba saja Tifa merasakan ada getaran di kantongnya, yang sudah pasti berasal dari handphone nya.
"Oh, damn," kata Tifa saat melihat layar handphone nya.
"Dari siapa?"
Tifa terdiam.
"Siapa?"
Tifa menghela nafas, "Reno."
"Reno?"
"Iya," kata Tifa, "entah apa urusannya."
"Yah, meski hubunganmu dengan dia sedang buruk, dia kan tetap manajermu," kata Cloud.
Tifa tidak menjawab, membiarkan handphone nya terus merengek minta diangkat.
"Mungkin ada urusan penting."
Tifa menatap Cloud sesaat dengan tatapan sedikit kesal, namun akhirnya dia memutuskan untuk menjawabnya.
"Halo?"
...
"Kau tidak jadi pulang akhirnya," kata Cloud.
Cloud dan Tifa berjalan di sebuah lorong berwarna putih yang dipenuhi oleh banyak sekali petu—perawat yang sedang berlalu lalang, ada yang membawakan obat, ada juga yang mendorong gerobak yang berisi makanan. Mereka berdua sedang berada di rumah sakit sekarang, sambil membawa buket bunga mawar beserta buah-buahan, Cloud berjalan mengikuti Tifa menuju ke lift. Tifa bilang, ruangan tempat ibunya dirawat berada di lantai delapan, yang juga adalah ruangan VIP.
"Begitulah, sudah lama juga aku tidak menjenguk ibuku," kata Tifa, "dan kau tak perlu repot-repot, Cloud."
"Tidak apa, tidak sopan kalau aku tidak membawakan sesuatu ke sini."
"Terserah kau deh."
"Ngomong-ngomong, Reno bicara apa denganmu?"
"Reno? Dia bilang setelah aku selesai shooting video klip ini, aku ada tumpukan jadwal segunung," kata Tifa, "khasnya dia."
"Dan sayangnya, aku masih belum mendapat manajer yang baru."
Tifa tertawa kecil mendengarnya, dan memang, Elena dengan seenaknya mengundurkan diri sebagai manajer yang (bagi Cloud) super duper menyebalkan. Mencari penggantinya juga tidak mudah, karena Cloud adalah artis terkenal, jadinya harus mencari manajer yang berpengalaman dan pandai mengatur waktu. Karena salah-salah, jadwal Cloud bisa berantakan. Konon katanya, Rufus sedang berjuang keras dalam mencari calon yang cocok.
"Ayo Cloud, lift nya hampir penuh tuh," kata Tifa sambil menunjuk lift yang berada tak jauh darinya.
"Oh, iya."
Melihat lift yang kelihatannya sudah hampir penuh, Cloud dan Tifa langsung berlari sekencang-kencangnya, mengagetkan perawat dan para penjenguk yang ada di dalam. Tifa hanya membalas tatapan kaget mereka semua dengan senyum, dan setelah itu jari telunjuknya langsung menekan tombol angka delapan, sambil berusaha menarik nafas karena habis berlari.
"Hei, mereka itu artis kan?" bisik salah satu perawat ke perawat lain.
"Sepertinya begitu, astaga, aku suka sekali dengan Cloud Strife! Kau tahu? Aku mengoleksi posternya sampai laciku penuh!" jawab perawat itu, sambil bisik-bisik juga tentunya.
Tifa menahan tawa mendengarnya, dan tentu saja dia bisa mendengarnya, ruangan lift ini kan kecil. Sementara Cloud, dia berlagak tidak mendengar dan membetulkan posisi kacamatanya.
"Kalau kakakku, dia suka sekali mengoleksi film-film yang ada Tifa Lockhartnya," bisik perawat itu lagi, "bahkan ketiga filmnya sampai dia beli! Yang asli pula! Tak hanya itu, bahkan sampai didownload lagi ke komputernya!"
"Kalau aku sih, adik laki-lakiku yang suka sekali dengannya. Aku ingat betul kalau di dinding kamarnya tertempel poster-poster Tifa Lockhart sampai dindingnya penuh!"
Kali ini giliran Cloud yang menahan tawanya, dan Tifa hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas sebagai tanda kalau ia berpikir 'sialan'. Setelah empat menit mendengar para perawat menggosip akhirnya mereka sampai juga di lantai delapan, dengan langkah terburu-buru, Tifa langsung berjalan keluar lift tanpa berbicara sepatah katapun, diikuti Cloud.
"Ternyata Ms. Lockhart memang banyak penggemarnya ya?" sindir Cloud.
"Hei ... diamlah."
Cloud mengangkat kedua bahunya, dan terus mengikuti Tifa berjalan sampai mereka berhenti di depan kamar yang dipintunya terdapat angka 803. Tifa mengetuk pelan pintu itu sekitar tiga kali lebih dulu, dan setelah itu barulah dia masuk.
"Halo kaa-san," kata Tifa, "bagaimana keadaan kaa-san sekarang?"
"Oh, halo Tifa! Sudah lebih baik sekarang. Tumben sekali kau sempat datang?"
"Iya, aku baru pulang dari pesta pernikahan temanku, jadi sekalian saja aku ke sini. Oh ya, aku juga bawa teman."
"Teman?"
Tifa menatap Cloud yang ada di luar, "masuklah Cloud."
Cloud mengangguk, dan setelah itu dia memasuki ruangan sambil membetulkan posisi buket bunga yang dipegangnya agar tidak jatuh. Ketika Cloud menutup pintu dan mengalihkan tatapannya, Cloud melihat sosok seorang wanita paruh baya dengan rambut sebahu berwarna hitam, kulitnya yang putih jadi semakin pucat karena sedang sakit, bola matanya berwarna cokelat seperti Tifa, tubuhnya yang kurus berbalut baju dari rumah sakit, dan juga ... cantik. Seandainya rambut wanita ini lebih panjang dan tidak ada garis-garis halus di beberapa titik di wajahnya, pasti sulit untuk membedakannya dengan Tifa. Yah, ibu dan anak memang mirip, dan kelihatannya Tifa mewarisi kecantikannya itu dari ibunya.
"Oh," ibu Tifa cukup terkejut ketika melihat Cloud.
"H—halo bibi," kata Cloud sambil membungkukkan badan.
"Wow, baru kali ini aku kedatangan seorang artis terkenal untuk menjengukku."
"Ibu, anakmu ini juga artis," gumam Tifa.
"Tifa, kenapa kau tidak memberitahu kaa-san kalau kau sudah punya pacar?"
Mata Tifa melebar, "A-apa? Dia bukan pacarku!"
"Ah, masa sih? Jarang-jarang loh kau bawa temanmu, laki-laki pula. Aerith saja baru sekali ke sini."
"Ta—tapi dia bukan-"
"Jangan bohong, fu fu fu."
"K—kaa-san!"
"A-anu, bibi," kata Cloud menyela, "ini, sedikit hadiah dariku."
"Oh, terima kasih ya Cloud, kau baik sekali," kata ibu Tifa sambil menerima buket bunga dari Cloud, "aku sungguh bahagia kalau kau jadi menantuku."
Cloud hampir saja menjatuhkan buah-buahan yang dibawanya, dan seketika, wajahnya langsung memerah. Sang ibu hanya tertawa ketika melihat secara langsung reaksi Cloud, dia bilang, ternyata seorang artis yang dikenal cool pun bisa gugup juga.
"Kaa-san, sudah minum obat belum? Kok bungkusannya masih utuh?"
"Ah, buat apa sih?"
"Ya supaya kaa-san sembuh! Masa tidak diminum?"
"Iya iya," jawab ibu Tifa, "tak kusangka kau bisa bawel juga seperti sobo-mu."
Tifa hanya bisa menghela nafas ketika mendengarnya, sang ibu memang begitu, suka sekali menggoda dan mengejeknya. Cloud hanya bisa tersenyum melihat keakraban mereka, dan juga iri, karena dia tidak bisa bercanda ria dengan ibunya sebebas yang Tifa lakukan, mengingat ibunya sudah meninggal ketika dia masih kecil.
"Oh, Cloud-san, coba ceritakan tentang dirimu," kata ibu Tifa, "aku ingin mendengarnya langsung darimu."
"H—hah?"
"Ceritakan tentang dirimu, seperti ... orang tuamu mungkin."
Selama di ruangan itu, Cloud seolah sedang diinterogasi oleh polisi, tetapi, ini versi halusnya. Ibu Tifa, yang ternyata bernama Yukako, adalah seseorang yang ramah dan ceria. Meski sekarang dia sedang sakit berat, tetapi entah kenapa dia selalu bisa mencairkan suasana, malah bisa dibilang, dia jauh lebih tegar dan ceria dibandingkan Cloud dan Tifa. Sampai-sampai, mereka bisa terus mengobrol sampai empat jam lebih, eh bukan, lebih tepatnya, sampai mendapat teguran dari seorang perawat karena jam berkunjung mereka berdua sudah habis.
"Ya sudah deh, kami pulang dulu ya kaa-san," kata Tifa sambil berdiri, "kapan-kapan kami akan berkunjung lagi."
"Oke," jawab Yukako, "hati-hati ya."
Cloud dan Tifa mengangguk dan melambaikan tangan pada Yukako, sampai pintu akhirnya ditutup kembali. Yukako menatap kepergian putrinya dengan senyum, sambil berpikir, sepertinya putri semata wayangnya itu telah menemukan seseorang yang benar-benar dapat ia andalkan. Terakhir kali, dia terus mendengar putrinya mengeluh terus-terusan mengenai manajernya yang sangat protektif padanya, itupun sudah sekitar beberapa bulan yang lalu.
"Ukh!"
Tiba-tiba saja, Yukako merasakan ada sesuatu yang bergejolak sangat kuat pada dirinya, dan dia tidak bisa lagi menahannya lebih lama lagi. Yukako menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulut dan meredam suara batuknya yang agak keras, dan sekitar lima menit kemudian, barulah batuk yang menyiksa itu berhenti. Saat Yukako membuka kedua matanya yang tadi terpejam, ia dikejutkan oleh cairan merah yang membasahi telapak tangan dan selimutnya, sesuatu yang kental dan berwarna merah, yaitu darah.
"Astaga!"
Yukako langsung mengambil berlembar-lembar tisu yang ada di sampingnya dan mengelap sebisa mungkin noda darah di tubuh dan kasurnya. Dia memang sengaja mati-matian menahan batuknya selama berbincang-bincang dengan Cloud dan Tifa tadi, sikapnya yang ceria dan suka bercanda, sebenarnya semua itu adalah aktingnya, untuk menyembunyikan fakta bahwa kondisi tubuhnya semakin memburuk. Yukako masih ingat betul perkataan dokter Zangan beberapa hari yang lalu, dimana saat itu ia berkata, kalau kemungkinan besar kanker Yukako sudah bertambah parah.
"Oh dewa, apakah ... apakah aku tidak bisa bertahan lagi?"
Akhirnya chapter ini selesai juga, maaf ya kalau misalnya chapter ini kurang bagus. Mohon read and review. Oh ya, sobo itu artinya nenek.
